Lafal atau Lambang dalam Periwayatan Hadis 4.
Pada umumnya Lafal-lafal untuk menyampaikan hadis itu dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu :(1) Lafadz meriwayatkan hadis dari bagi para rawi yang mendengar langsung dari gurunya. Lafaz-lafaz itu tersusun sebagai berikut:(ﺎﻨﻌﻤﺴ - ﺕﻌﻤﺴ ) = aku /kami telah mendengar seseorang; (ﺎﻨﺜﺩﺤ -ﻰﻨﺜﺩﺤ)=seseorang telah menyampaikan hadis kepadaku/kami; (ﺎﻨﺭﺒﺨﺃ- ﻰﻨﺭﺒﺨﺃ) = seseorang telah mengabarkan kepadaku/kami ; (ﺎﻨﺄﺒﻨﺃ-ﻰﻨﺄﺒﻨﺃ) = seseorang telah menceritakan kepadaku/ kami; (ﺎﻨﻠ ﻝﺎﻗ - ﻰﻠ ﻝﺎﻗ) = seseorang telah berkata kepadaku/kami; (ﺎﻨﻠﺭﻜﺫ- ﻰﻠﺭﻜﺫ) = seseorang telah menuturkan kepadaku/kami; (2) Lafal riwayat bagi rawi yang mungkin mendengar sendiri atau tidak mendengar sendiri, yaitu : ﻯﻭﺭ
= ( diriwayatkan oleh ); ﻰﻜﺤ = (dihikayatkan oleh); ﻥﻋ = (dari) ; ﻥﺃ = ( bahwasanya) ; ﺉﺭﻘ = ( di bacakan ).
Hadis Mu’an’an dan Hadis Mu’annan 5.
Dalam meriwayatkan hadis seringkali menggunakan lafal‘an (ﻥﻋ ) artinya dari, dan lafal anna ( ) artinya bahwasanya, yang dalam periwayatan menggunakan lafad ‘an, maka hadisnya
disebut hadis mu’an’an dan perawinya disebut mu’an’in.
sedangkan jika yang digunakan lafad anna, maka hadisnya disebut hadis muannan dan perawinya disebut muannin.
Menurut Ima>m Bukha>ri>, Ibn al-Madi>ni>, dan para mutaqaddimin, hadis yang diriwayatkan dengan cara tersebut di atas, agar dapat dihukumi sebagai hadis muttasil harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 16\ (1) Si mu’an’in/
muannin bukan seorang mudallis, (2) Si mu’an’in/ muannin harus pernah berjumpa dengan guru yang pernah memberi hadis padanya. Persyaratan ini disebut dengan “ishtirat al- liqa>’”.
Menurut Ima>m Muslim, hendaknya si mu’an’in/ mu’annin itu harus hidup semasa dengan orang yang pernah memberinya.
Persyaratan ini disebut dengan “istiratu al-mu’asharah”, sedangkan menurut sebagian ulama yang lain, si mu’an’in/
muannin harus diketahui dengan yakin, bahwa ia benar-benar menerima hadis tersebut dari gurunya.
Istilah-istilah yang Berhubungan dengan Sumber Pengutipan 6.
Hadis
Pengetahuan tentang istilah-istilah yang terdapat didalam Ulumul Hadis sangat membantu dalam memahami Ilmu Hadis itu sendiri Terutama ketika melakukan penelitian hadis, istilah-istilah tersebut ada yang berhubungan dengan generasi periwayat, kegiatan periwayatan, kepakaran dan jumlah hadis yang diriwayatkan, serta dengan sumber pengutipan hadis. \17 Di dalam Ilmu Hadis dikenal beberapa istilah yang berhubungan dengan sumber pengutipan, yaitu:
Menurut Ibn H}ajaral-‘Asqala>n>i dalam kitab
a. Bulugh al-
Mara>m dan Muh}ammad Ibn Isma>il al-S}an’a>ni> dalam kitab Subul al Sala>m sebagai sharah} dari Bulugh al-Mara>m: (1)
16 Ibid, 222-223.
17 Nawir Yuslem, Ulumul Hadis (PT Mutiara Sumber Widya, 2001), 175
Akhrajahu al-Sab’ah. Artinya hadis yang disebutkan, diriwayatkan oleh tujuh ulama atau perawi hadis, yaitu Bukhari, Muslim, Abu Dawu>d, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan Ibn Majjah dan Ima>m Ah}mad; (2) Akhrajahu al- sittah. Maksudnya hadis yang disebutkan diriwayatkan oleh enam orang perawi hadis, yaitu: Bukha>ri>, Muslim, Abu> Dawu>d, al-Tirmi>dzi>, al-Nasa>’i, dan Ibn Majjah;
(3) Akhrajahu al-khamsah atau disebut juga Akhrajahu al-Arba’ah wa Ahmad. Maksudnya adalah matan hadis tersebut diriwayatkan oleh lima orang imam hadis, yaitu:
Abu> Dawu>d, al-Tirmidzi, al-Nasa>’i, dan Ibn Majjah dan Imam Ahmad; (4) Akhrajahu al-Arba’ah atau Akhrajahu As}h}a>b al-Sunan. Bahwa matan hadis tersebut diriwayatkan oleh empat orang imam hadis yang menyusun kitab-kitab sunan, yaitu: Abu> Dawu>d, al-Tirmi>dzi>, al-Nasa>’i, Ibn Majah; (5) Akhrajahu al-T{ala>t}ah. Maksudnya, adalah bahwa matan hadis yang telah disebutkan diriwayatkan oleh tiga orang imam hadis, yaitu: Abu Dawu>d, al- Tirmidzi, al-Nasa>’i; (6) Mut}t}afaq ‘Alaihi dan Akhrajahu al-Bukha>ri> wa Muslim Maksudnya matan hadis tersebut diriwayatkan oleh Bukha>ri> dan Muslim. Perbedaannya kalau Mut}t}afaq ‘Alaihi sanad terakhirnya (sahabat) bertemu, sedangkan kalau Akhrajahu al-Bukha>ri> wa Muslim sanadnya berbeda pada tingkatan sahabat atau tidak bertemu. Istilah Akhrajahu al-Bukha>ri> wa Muslim ini sama dengan Rawa>hu al-Shakha>n, Akhrajahu al- Shaikha>n, atau Rawa>hu Bukha>ri> wa Muslim; (7).
Akhrajahu al-Jama’ah. Maksudnya, bahwa matan hadis tersebut diriwayatkan oleh jemaah ahli Hadis.
Menurut Ibn Taimiyah. Sebagaimana yang dijelaskan b.
oleh al-Shauka>ni didalam Nailal-Aut}ar, terdapat beberapa perbedaan. diantaranya Rawa>hu al-Jama>’ah adalah sama dengan Akhrajahu al-Sab’ah.Sedangkan Mut}t}afaq ‘Alaih, menurutnya adalah Bukha>ri>, Muslim dan Ah}mad.
Sheikh Mans}ur ‘Ali Nas}if di dalam
c. al-Taj al-Ja>mi’.
Beliau memberi rumusan sebagai berkut: (1) Akhrajahu al-khamsah adalah Bukha>ri>, Muslim, Abu> Dawu>d, al- Tirmi>dzi>, al-Nasa>’i; (2) Akhrajahu al-Arba’ah adalah Bukha>ri>, Muslim, Abu> Dawu>d dan al-Tirmi>dzi>; (3) Akhrajahu As}h}a>b al-Sunan adalah diriwayatkan oleh tiga orang yaitu Abu> Dawu>d, al-Tirmi>dzi>, Al-Nasa>’i; (4).
Akhrajahu al-T{ala>t}ah adalah Bukha>ri>, Muslim, dan Abu>
Dawu>d.
Penulisan Huruf
7. Ha’ (ح) dalam Periwayatan Hadis.
Dalam kitab S}ah}i>h} Muslim dan Sunan Abi> Da>wu>d penulisan huruf ha’ (ح) dalam periwayatan hadisnya jumlahnya banyak, namun dalam kitab-kitab hadis lainnya kadang-kadang juga ada. Penempatan tanda huruf ha’ (ح) ini ada di tengah-tengah sanad, dan juga pada pertemuan dua sanad.
Sedangkan fungsinya menyingkat sanad, dan untuk tah}}
wi>l (berpindah) dari satu sanad ke sanad yang lain. Bahkan diantara ulama, ada yang berpendapat bahwa huruf ha’ (ح) ini artinya “hadis”. Seperti mereka menyebutkan: “al-hadi>th” ( ﺚﻳﺪﳊﺍ) mereka menulisnya: ha’ (ح). Dalam S}ah}i>h} al-Bukha>ri>
sebagian ada yang mengira bahwa tanda tersebut asalnya kha’ (خ) sehingga maksudnya adalah “Al Bukha>ri>”, yang maksudnya sanad tersebut kembali kepadanya.
Rangkuman
Rawi hadis adalah orang yang menukil, memindahkan atau 1.
menuliskan hadis dengan sanadnya. Syarat perawi hadis adalah thiqah (‘a>dil dan d}a>bit})
Periwayatan (transmisi) hadis adalah kegiatan penerimaan 2.
dan penyampaian hadis (tah}ammul wa al-‘ada>’). Syarat penerima hadis: (a) cermat (d}abit})}; (b)berakal sempurna; (c) tamyiz. Syarat menyampaikan hadis sama dengan persyaratan
perawi hadis.
Proses Transmisi (periwayatan) hadis: (a). masa Nabi:
3.
dengan cara natural artinya sewaktu ada masalah beliau menyelesaikannya; dengan lisan dan perbuatan dihadapan orang banyak dengan tempat dan waktu tidak terbatas;
berbentuk tulisan, (b) masa sahabat mengalami penyedikitan riwayat, karena perhatian umat difokuskan pada Alquran (terutama masa kekalifahan Abu> Bakar dan Umar) dan Abu>
Bakar mensyaratkan untuk mendatangkan saksi jika sahabat menyampaikan hadis yang tidak populer. Sedang masa khalifah Usman kondisi tidak dapat dibendung lagi dengan meluasnya wilayah pemerintahan, meskipun kebijakan Usman juga memperketat periwayatan hadis. Di masa Ali kondisi politik semakin kacau yang sekaligus mempengaruhi pula kondisi periwayatan hadis, karena hadis banyak didorong untuk meligitimasi kepentingan politik masing-masing.
Maka khalifah Ali mensyaratkan bagi perawi hadis untuk bersumpah bahwa yang disampaikan itu benar-benar dari Rasulullah; (c) masa tabi’in. Tabi’in karena tidak bertemu Rasul, maka jika meriwayatkan hadis harus meng-isnad-kan (menyandarkan) kepada sahabat.
Macam-macam periwayatan: (a)
4. al-sima>’; (b) al-qira>’ah ‘ala>
al-shai>kh; (c) al-ija>zah; (d) al-muna>walah; (e) al-kita>bah; (f) al-i’la>m; (g) al-was}iyyah; (h) al-waja>dah.
Hadis
5. mu’an’an yaitu hadis yang lambang (s}ighat) nya pakai ‘an (ﻦﻋ), sedangkan hadis mu’annan adalah hadis yang lambang (s}ighat) nya pakai ‘anna .
Beberapa istilah sumber pengutipan:
6.
Ibn Hajar al-Asqala>ni> dan : (1)
a. akhrajahu> sab’ah: (2)
akhrajahu> al-sittah; (3) akhrajahu> khamsah; (4) akhrajahu>
arba’ah; (5) akhrajahu> thala>thah; (6) mut}t}afaq ‘alaihi;
(7) akhrajahu> al-jama>ah.
Ibn Taimiyyah cara menulis pengutipan: (1)
b. Rawa>hu al-
Jama>’ah, adalah sama dengan Akhrajahu al-Sab’ah; (2) Muttafaq ‘Alaih, menurutnya adalah Ah}mad, Bukha}ri} dan
Muslim.
Sheikh Mans}ur ‘Ali Nas}if : (1)
c. Akhrajahu al-khamsah :
Bukha>ri>, Muslim, Abu> Dawu>d, al-Tirmi>dzi>, Al-Nasa>’i;
(2) Akhrajahu al-Arba’ah : Bukha>ri>, Muslim, Abu> Dawu>d dan al-Tirmi>dzi>; (3) Akhrajahu Ashab al-Sunan : Abu>
Dawu>d, Al-Tirmi>dzi>, al-Nasa>’i; (4) Akhrajahu al- T{ala>t} ah : Bukha>ri>, Muslim, dan Abu> Dawu>d.
Penulisan huruf h}a’ (
7. ح) dalam periwayatan hadis terletak tengah-tengah sanad, dan juga pada pertemuan dua sanad, yang fungsinya untuk meringkas sanad-sanadnya, dan juga untuk memindahkan dari satu sanad ke sanad yang lain, dan disebut h}a’ tah}wi>l.
Evaluasi Soal
Mengapa seorang perawi hadis dibutuhkan seorang 1.
wara’(melaksanakan adab dan akhlak yang terpuji) dan d}a>bit}
?
Dalam penerimaan (tah}ammul) hadis diperbolehkan masih 2.
kafir, anak-anak (tamyiz), tapi untuk pelupa justru tidak diperbolehkan. Jelaskan!
Hadis di bawah ini, apakah sanadnya bersambung atau tidak?
3.
Jelaskan dengan argumentasinya
ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﺢﻴﺤﺻ ١٣
ﺎﻨﹶﺛﺪﺣ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﺐﻴﻌﺷ ﺎﻧﺮﺒﺧﹶﺃ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﻥﺎﻤﻴﹾﻟﺍ ﻮﺑﹶﺃ ﺎﻨﹶﺛﺪﺣ :
ﱠﻥﹶﺃ ﻪﻨﻋ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ ﹶﺓﺮﻳﺮﻫ ﻲﹺﺑﹶﺃ ﻦﻋ ﹺﺝﺮﻋﹶﺄﹾﻟﺍ ﻦﻋ ﺩﺎﻧﺰﻟﺍ ﻮﺑﹶﺃ ﻰﱠﻠﺻ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﹶﻝﻮﺳﺭ
ﹶﻥﻮﹸﻛﹶﺃ ﻰﺘﺣ ﻢﹸﻛﺪﺣﹶﺃ ﻦﻣﺆﻳ ﺎﹶﻟ ﻩﺪﻴﹺﺑ ﻲِﺴﹾﻔﻧ ﻱﺬﱠﻟﺍﻮﹶﻓ ﹶﻝﺎﹶﻗ ﻢﱠﻠﺳﻭ ﻪﻴﹶﻠﻋ ﻪﱠﻠﻟﺍ
ﻩﺪﹶﻟﻭﻭ ﻩﺪﻟﺍﻭ ﻦﻣ ﻪﻴﹶﻟﹺﺇ ﺐﺣﹶﺃ
Jelaskan hadis dibawah ini (
4. Bulu>gh al-Mara>m) dari sisi perawi terakhirnya atau sumber pengutipannya! Dan Buktikan!
ﷲﺍ ﻰﹼﻠﺻ ﷲﺍ ﹸﻝﻮﺳﺭ ﹶﻝﺎﹶﻗ :ﹶﻝﺎﹶﻗ ﺎﻤﻬﻨﻋ ُﷲﺍ ﻲﺿﺭ ﻥﺎﻤﻴﹾﻟﺍ ﹺﻦﺑ ﹶﺔﹶﻔﻳﹶﺬﺣ ﻦﻋ ﻲﻓ ﺍﻮﹸﻠﹸﻛﹾﺄﺗ ﹶﻻﻭ ،ﺔﻀﻔﹾﻟﺍﻭ ﹺﺐﻫﱠﺬﻟﺍ ﺔﻴﹺﻧﺁ ﻲﻓ ﺍﻮﺑﺮﺸﺗ ﹶﻻ :ﻢﱠﻠﺳﻭ ﻪﻴﹶﻠﻋ
ﺪﻟﺍ ﻲﻓ ﻢﻬﹶﻟ ﺎﻬﻧﹺﺈﹶﻓ ،ﺎﻤﹺﻬﻓﺎﺤﺻ
ﻪﻴﹶﻠﻋ ﻖﹶﻔﺘﻣ .ﺓﺮﺧﻵﺍ ﻲﻓ ﻢﹸﻜﹶﻟﻭ ،ﺎﻴﻧ .
Jelaskan haruf h}a’ (
5. ح) yang ada di tengah-tengah sanad hadis ini! Dan Buatkan suatu skema periwayatan hadis tersebut!