TINJAUAN LITERATUR
Peta 3. 3 Topografi
Kondisi Geologi
Kondisi geologi Kecamatan Ulujadi ini terdiri dari jenis batuan yang beragam, yakni aluvium, formasi tinombo ahlburg, granit dan granodiorit, dan molosa celebes sarasin dan sarasi.
Aluvium (dari bahasa Latin alluvius , dari alluere , "untuk membasuh") adalah tanah yang gembur, tidak dikonsolidasi (tidak disemen bersama ke dalam batuan padat) atau sedimen, yang telah terkikis, dibentuk kembali oleh air dalam beberapa bentuk, dan diresepkan dalam suatu pengaturan. Aluvium biasanya terdiri dari berbagai bahan, termasuk partikel halus dari lumpur dan tanah liat dan partikel pasir dan kerikil yang lebih besar.
Formasi Tinombo Ahlburg merupakan rangkaian yang tersingkap luas, baik di pematang timur maupun barat. Batuan ini menindih kompleks batuan metamorf secara tidak selaras. Di dalamnya terkandung rombakan yang berasal dari batuan metamorf. Endapan itu terdiri dari serpih, batupasir, konglomerat, batugamping, rijang radiolarian dan batuan gunungapi, yang diendapkan di lingkungan laut.
Granit adalah sangat sulit, granular, rock kristal beku yang sebagian besar terdiri dari kuarsa, mika, dan feldspar dan sering digunakan sebagai bangunan batu. Granodiorit adalah batuan beku intrusif kasar yang mengandung kuarsa dan plagioklas, dan yang memiliki komposisi di antara granit dan diorite.
Molasa Celebes Sarasin dan Sarasin terdapat pada ketinggian lebih rendah pada sisi-sisi kedua pematang, menindih Formasi Tinombo dan kompleks batuan metamorf secara tidak selaras, mengandung rombakan yang berasal dari formasi-formasi lebih tua, dan terdiri dari konglomerat, batupasir, batulumpur, batugamping-koral, dan napal, yang semuanya hanya mengeras lemah.
Klimatologi
Berdasarkan data yang tercatat pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diketahui bahwa sepanjang tahun 2019, curah hujan di Kecamatan Ulujadi dan sekitarnya mempunyai puncak pada bulan Juli 359 mm, kemudian pada bulan-bulan lain curah hujan lebih rendah bahkan pada bulan Desember yang hanya mencapai 5 mm. Jika melihat data curah hujan yang bersumber dari peta RTRW Kota Palu 2018-2038 dapat diketahui bahwa curah hujan di wilayah Kecamatan Ulujadi terklasifikasikan atas lima kategori, yakni 3,28 - 4,10 mm/hari, 4,10 - 4,92 mm/hari. 4,92 - 5,74 mm/hari, 5,74 - 6,56 mm/hari, dan 6,56 – 7,38 mm/hari.
Suhu udara ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Pada tahun 2019 berkisar antara 27,1ºC sampai 29,2ºC dengan rata- rata suhu udara sebesar 28,2ºC. Suhu udara terendah terjadi pada bulan juni, sedangkan tertinggi pada bulan November.
Selama tahun 2019 kelembaban udara tertinggi 85,9 persen terjadi pada bulan Juni dan terendah 70,7 persen terjadi pada bulan November. Sementara penyinaran matahari paling banyak 92 persen terjadi pada bulan September dan paling sedikit 43 persen terjadi pada bulan Januari.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel klimatologi berikut ini.
Tabel 2 Klimatologi Kecamatan Ulujadi
Bulan
Curah Hujan (mm)
Suhu Udara (ºC)
Kelembaban Udara (%)
Penyinaran Matahari
(%)
Januari 36 28,2 76,2 43
Februari 15 28,4 71,5 68
Maret 359 27,8 75,2 71
April 94 27,8 77,8 59
Mei 41 28,3 78,6 75
Juni 214 27,1 85,9 58
Juli 11 27,4 79,6 65
Agustus 8 28,3 73,7 88
September 30 28,7 71,6 92
Oktober 86 28,5 73 81
November 24 29,2 70,7 76
Desember 5 28,7 74 54
Rata-rata 76,9 28,2 75,6 69,2
Sumber : BPS Kota Palu, 2020
Hidrologi
Secara hidrologis, di Kota Palu terdapat air tanah bebas yang tersimpan pada lapisan akuifer yang tersusun dari kerakal, kerikil, pasir kasar sampai pasir halus. Air tanah bebas ini terdiri dari air tanah dangkal dan air tanah dalam. Secara keseluruhan ketersediaan dan produktivitas air tanah di Kecamatan Ulujadi tidak merata karena sangat tergantung pada faktor iklim, geologi, morfologi, vegetasi dan tata guna lahan.
Kecamatan Ulujadi dialiri sungai yang mengalir di setiap kelurahan, yaitu Sungai Buvu Mpemata yang berada di kelurahan Donggala Kodi yang panjangnya sekitar 2 km, sungai Lamala yang berada di Kelurahan Watusampu sedangkan Sungai Ngolo yang mengalir di Kelurahan Silae, Tipo dan Buluri yang panjangnya berkisar 1 km.
Kondisi Sosial Budaya dan Kependudukan
Aspek kependudukan merupakan salah satu aspek penting dalam penyusunan dan perencanaan laporan fakta dan analisis Kecamatan Ulujadi yang digunakan sebagai acuan penyusunan RDTR.
Demografi
Tabel 3 Jumlah dan Kepadatan Penduduk
No Kelurahan Luas (km2) Jumlah Penduduk Kepadatan penduduk Per km2
01 Donggala Kodi 2,36 10.365 4.391
02 Kabonena 2,27 3.913 1.723
03 Silae 2,23 5.202 2.332
04 Tipo 5,70 3.455 606
05 Buluri 14,45 3.478 241
06 Watusampu 13,14 2.209 168
Jumlah 2019 40,25 28.613 710
Sumber : BPS Kota Palu, 2020
Setiap tahun penduduk di Kecamatan Ulujadi bertambah menurut proyeksi Badan Pusat Statistik, tahun 2015 jumlah penduduk di Kecamatan Ulujadi berkisar 26.883 jiwa, tahun 2016 berjumlah 26.883 jiwa, tahun 2017 berjumlah 27.319 jiwa, tahun 2018 berjumlah 27.763 jiwa dan pada tahun 2019 berjumlah 28.613 jiwa.
Adapun wilayah terpadat di Kecamatan Ulujadi adalah Kelurahan Donggala Kodi dengan kepadatan penduduk sebesar di mana dengan total luasan sebesar 2,36 km2 diisi oleh sekitar 10.365 jiwa penduduk. Sehingga tingkat kepadatannya mencapai 4.391 jiwa/km2. Wilayah Kelurahan Donggala Kodi tersebut juga merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak dalam skala Kecamatan Ulujadi. Hal ini wajar mengingat wilayah Kelurahan Donggala Kodi adalah kawasan dengan penggunaan lahan permukiman terbesar di Kecamatan Ulujadi dan merupakan kelurahan yang paling dekat dengan pusat perdagangan dan jasa Kecamatan Palu Barat. Untuk wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk terendah adalah Kelurahan Watusampu di mana memiliki wilayah seluas 13,14 km2
dengan jumlah penduduk sekitar 2.209 jiwa sehingga memiliki kepadatan rata-rata sebesar 168 jiwa/km2.
Sosial Budaya
Data dan informasi terkait kondisi sosial budaya penting untuk diketahui agar hasil penyusunan rencana dapat diterima oleh masyarakat serta tidak bertentangan dengan adat istiadat, kebiasaan, dan norma sosial di wilayah perencanaan yakni Kecamatan Ulujadi.
Mayoritas penduduk Kecamatan Ulujadi seperti halnya penduduk Kota Palu merupakan suku Kaili. Suku Kaili juga mempunyai adat istiadat sebagai bagian kekayaan budaya di dalam kehidupan sosial, memiliki hukum adat sebagai aturan dan norma yang harus dipatuhi, serta mempunyai atran sanksi dalam hukum adat.
Salah satu kerajinan masyarakat suku Kaili adalah menenun sarung. Ini merupakan kegiatan para wanita di daerah Tipo, Watusampu, Wani, Tawaeli, Palu Dan Donggala. Sarung tenun ini dalam bahasa Kaili disebut buya sabe, tetapi oleh masyarakat umum sekarang dikenal dengan sarung Donggala.
Hubungan kekerabatan masyarakat suku Kaili sangat tampak kerjasamanya pada kegiatan-kegiatan pesta adat, kematian, perkawinan dan kegiatan bertani yang disebut sintuvu ( Kebersamaan/gotong royong).
Selain suku Kaili, Kecamatan Ulujadi juga didiami oleh suku Bugis,Jawa, Melayu, sehingga sering dijuluki nusantara, yang mayoritas terdapat di kelurahan Donggala Kodi, Kabonena dan Silae.
Kondisi Ekonomi
Konsep perencanaan kota tidak luput dari aspek ekonomi karena aspek ekonomi merupakan suatu indikator yang menunjukkan tingkat kesejahteraan dan perkembangan sebuah daerah. Dari sektor perekonomian dapat diketahui berbagai sektor/subsektor yang turut andil atau memiliki pengaruh besar terhadap tingkat perekonomian dan juga tingkat kesejahteraan masyarakat.
Secara umum, pembahasan sektor-sektor kegiatan ekonomi ini merupakan pembahasan terkait aktivitas warga/masyarakat di wilayah perencanaan sehubungan dengan tingkat pergerakan perekonimian. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil
survey lapangan di wilayah perencanaan, aktivitas perekonomian di wilayah Kecamatan Ulujadi didominasi oleh 4 macam kegiatan utama yaitu, pertanian, perdagangan dan jasa, perindustrian dan pertambangan.
Pertanian
Konsep perencanaan kota tidak luput dari aspek ekonomi karena aspek ekonomi merupakan suatu indikator yang menunjukkan tingkat kesejahteraan dan perkembangan sebuah daerah. Dari sektor perekonomian dapat diketahui berbagai sektor/subsektor yang turut andil atau memiliki pengaruh besar terhadap tingkat perekonomian dan juga tingkat kesejahteraan masyarakat.
Secara umum, pembahasan sektor-sektor kegiatan ekonomi ini merupakan pembahasan terkait aktivitas warga/masyarakat di wilayah perencanaan sehubungan dengan tingkat pergerakan perekonimian. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil survey lapangan di wilayah perencanaan, aktivitas perekonomian di wilayah Kecamatan Ulujadi didominasi oleh 4 macam kegiatan utama yaitu, pertanian, perdagangan dan jasa, perindustrian dan pertambangan.
A. Pertanian Tanaman Pangan
Pertanian tanaman pangan di wilayah Kecamatan Ulujadi, didominasi oleh guna lahan berupa sawah, sisanya adalah pertanian jenis tanaman yang meliputi jagung, ubi kayu, kacang tanah, kacang hijau dan ubi jalar.
Dari masing-masing luas pertanian tanaman pangan di Kecamatan Ulujadi memiliki Tanaman padi sawah luas panennya (ha) adalah 0 dan luas tanam (ha) 0, pada tahun 2018 warga Kecamatan Ulujadi menanam padi sawah luas panennya (ha) 18,5, dan luas tanamnya (ha) 19,4, jagung luas panennya (ha) 124,8 dan luas tanamnya (ha) 162,4, kacang tanah luas panennya (ha) 6,5 dan luas tanamnya (ha) 6,6, ubi kayu luas panennya (ha) 1,0 dan luas tanamnya (ha) 1,0 sedangan ubi jalar luas panenya (ha) 1,0 dan luas tanamnya (ha) 1,0.
Untuk lebih jelasnya mengenai luasan lahan pertanian yang terdapat di Kecamatan Ulujadi, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4 Luas Panen dan Produksi Tanaman Bahan Makanan No. Tanaman Pangan Luas Panen (Ha) Luas Tanam (Ha)
1. Padi Sawah 18,5 19,4
2. Jagung 124,8 162,4
3. Kacang Tanah 6,5 6,6
4. Kacang Hijau - -
5. Ubi Kayu 1,0 1,0
6. Ubi Jalar 1,0 1,0
Sumber: Dinas Pertanian Kota Palu Tahun 2020
B. Peternakan
Selain aktivitas pertanian tanaman pangan, kegiatan sektor pertanian yang dominan adalah kegiatan peternakan. Adapun jenis ternak yang terdapat di wilayah perencanan dibagi ke dalam dua kategori, yaitu ternak besar dan ternak unggas. Untuk ternak besar meliputi sapi, kerbau, kuda, babi dan kambing sedangkan untuk ternak unggas terdiri dari ayam kampung, ayam ras, dan itik.
Tabel 5 Banyaknya Ternak menurut jenisnya
No. Jenis Ternak Tahun
2014 2015 2016 2017 2018
1 Sapi 738 789 853 853 660
2 Kerbau - - - - -
3 Kuda 26 24 7 7 7
4 Kambing 16.117 16.158 7.480 7.480 4.828
5 Domba 165 169 - - -
6 Ayam Buras 37.024 44.704 2.019 21.704 6.204 7 Ayam Ras 640.300 638.461 - 177.000 177.000
8 Itik - 450 - 450 450
Sumber: Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kota Palu Tahun
Industri dan Energi
Perusahaan dari energi atau usaha industri adalah suatu unit (kesatuan) usaha yang melakukan kegiatan ekonomi, bertujuan menghasilkan barang atau jasa, terletak pada suatu bangunan atau lokasi tertentu, dan mempunyai catatan administrasi tersendiri mengenai produksi dan struktur biaya serta ada seorang atau lebih yang bertanggung jawab atas usaha tersebut.
Industri
Berdasarkan kriteria tersebut maka industri yang terdapat di Kecamatan Ulujadi adalah tergolong ke dalam industri kecil dan kerajinan rumah tangga seperti penggilingan padi, penggilingan kopi, penggilingan/pemarut kelapa dan pembuatan anyaman. Usaha perbengkelan yang terbanyak di Kecamatan Ulujadi adalah Kelurahan Donggala Kodi berjumlah 23 usaha, yang kedua Kelurahan Tipo sebanyak 14 usaha, dan yang ketiga adalah Kelurahan Kabonena sebanyak 8 usaha, dan yang terkecil adalah Kelurahan Silae sebanyak 5 usaha dan Kelurahan Buluri 5 usaha. Sedangkan Kelurahan Watusampu berjumlah 6 usaha. Jumlah industri yang terdapat di Kecamatan Ulujadi disajikan pada Tabel berikut.
Tabel 6 Banyaknya Usaha Industri menurut Golongan
Perusahaan Industri Tahun
2015 2016 2017 2018 2019
Besar - - - - 2
Sedang 10 12 11 13 6
Kecil 15 17 17 20 6
Mikro 163 165 167 169 132
Jumlah 188 194 197 202 146
Sumber : Kantor Kelurahan Ulujadi dan BPS Kota Palu Tahun 2020
Energi
Keberadaan tenaga listrik sebagai sarana penerangan adalah merupakan kebutuhan yang sangat penting di tengah-tengah masyarakat, hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya jumlah pelanggan listrik dari tahun ke tahun sebagaimana disajikan pada Tabel berikut.
Tabel 7 Banyaknya Penggunaan Listrik Menurut Desa/Kelurahan dan Jenis Penggunaan Listrik
No. Desa/Kelurahan Penggunaan Listrik Bukan Pengguna Listrik PLN Non PLN Jumlah
1. Donggal Kodi 2834 32 2866 10
2. Kabonena 1936 0 1936 0
3. Silae 1866 0 1866 0
4. Tipo 1078 53 1131 3
5. Buluri 988 10 998 4
6. Watusampu 777 0 777 0
Ulujadi 9479 95 9574 17
Sumber : BPS Kota Palu dalam angka tahun 2020, Pendataan Potensi Desa (Podes) Tabel 8 Banyaknya Desa/Kelurahan menurut Keberadaan Penerangan Jalan Utama
Desa/Kelurahan
Penerangan Jalan Utama 2014 2018 2020
Sumber penerangan Jalan Utama Listrik Pemerintah
Listrik Non Pemerintah Non Listrik
- - -
3 3 -
2 4 -
Sumber : BPS, Pendataan Potensi Desa (Podes) tahun 2014, 2018, dan 2020