• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Kecamatan Ulujadi Kelompok 1

N/A
N/A
Adam Malik

Academic year: 2025

Membagikan "PDF Kecamatan Ulujadi Kelompok 1"

Copied!
206
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

LAPORAN FAKTA DAN ANALISIS KECAMATAN ULUJADI

STUDIO PERENCANAAN

Disusun oleh Kelompok 1:

NURHILAL FAUZIA F23118003

AGNES OKTAVIA F23118005

AMANDA VERINA F23118048

NURARAHMI FITRASARI F23118057

AGUS FERNANDO F23118074

AHMAD ALGIFARI F23118089

TONI SETIYAWAN F23118105

RISTASYA WINI GASONG F23118109 MAYANG PUSPITA SARI F23118168

UNIVERSITAS TADULAKO FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH KOTA

TAHUN 2021

(3)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan Laporan Fakta dan Analisis di Kecamatan Ulujadi.

Laporan ini disusun dengan maksimal sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kami sebagai mahasiswa untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Studio Perencanaan.

Kami sebagai manusia biasa menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini, baik dari segi susunan kalimat, tata bahasa maupun isi. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati, Kami selaku penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga Laporan Fakta dan Analisis ini dapat menambah ilmu pengetahuan , bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan berguna untuk menambah ilmu dalam proses perkuliahan.

Palu, 17 Desember 2020

Penyusun Kelompok 1

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR PETA ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan dan Sasaran ... 2

1.2.1 Tujuan... ... 2

1.2.2 Sasaran……... ... 2

1.3 Ruang Lingkup ... 2

1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah Makro ... 3

1.3.2 Ruang Lingkup Wilayah Mikro ... 3

1.4 Sistematika Pembahasan ... 3

BAB II TINJAUAN LITERATUR ... 5

2.1 Kebijakan ... 5

2.1.1 Arahan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 ... 5

2.1.2 Kedudukan Kawasan Perencanaan Dalam Konstelasi Kebijakan Penataan Ruang Wilayah ... 8

2.1.3 Kebijakan Terkait Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palu ... 9

2.1.4 Kebijakan Dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Kecamatan Ulujadi Dalam Kota Palu ... 9

2.1.5 Tinjauan RTRW Kota Palu ... 14

2.2 Tinjauan Literatur ... 15

2.2.1 Analisis Struktur Internal BWP ... 15

(5)

2.2.2 Analisis Sistem Penggunaan Lahan ... 24

2.2.3 Analisis Kedudukan dan Peran BWP dalam Wilayah yang lebih luas ... 24

2.2.4 Analisis Fisik dan Lingkungan ... 27

2.2.4.1 Analisis Kemampuan Lahan (SKL) ... 27

2.2.4.2 Analisis Kemampuan Pengembangan Lahan ... 30

2.2.5 Analisis Sosial Budaya dan Kependudukan ... 30

2.2.6 Analisis Ekonomi dan Sektor Unggulan ... 31

2.2.7 Analisis Transportasi dan Pergerakan ... 34

2.2.8 Analisis Prasaranan dan Sarana ... 37

2.2.9 Analisis Lingkungan Binaan ... 41

BAB III GAMBARAN UMUM ... 49

3.1 Kondisi Penggunaan Lahan Eksisting ... 49

3.1.1 Jenis Penggunaan Lahan ... 49

3.1.2 Status Lahan... 49

3.2 Kondisi Fisik dan Lingkungan ... 52

3.2.1 Kondisi Administrasi Geografis ... 52

3.2.2 Topografi ... 54

3.2.3 Kondisi Geologi ... 56

3.2.4 Klimatologi ... 58

3.2.5 Hidrologi ... 61

3.3 Kondisi Sosial Budaya dan Kependudukan ... 63

3.3.1 Demografi ... 63

3.3.2 Sosial Budaya ... 64

3.4 Kondisi Ekonomi ... 64

3.4.1 Pertanian ... 65

(6)

3.4.2 Industri dan Energi ... 70

3.4.3 Perdagangan dan Jasa ... 74

3.4.4 Pertambangan ... 78

3.5 Kondisi Transportasi dan Pergerakan ... 80

3.5.1 Prasarana Transportasi ... 80

3.5.2 Sarana Transportasi ... 81

3.6 Kondisi Prasarana ... 84

3.6.1 Sistem Penyediaan Air Bersih ... 84

3.6.2 Sistem Penyediaan Listrik ... 86

3.6.3 Sistem Drainase dan Pengendalian Banjir ... 86

3.6.4 Sistem Persampahan ... 87

3.9.1. Telekomunikasi ... 88

3.9.2. Sistem Irigasi ... 90

3.7 Kondisi Sarana ... 92

3.7.1 Pendidikan ... 92

3.7.2 Kesehatan ... 95

3.7.3 Peribadatan ... 97

3.7.4 Perdagangan dan jasa ... 99

3.8 Kondisi Lingkungan Binaan ... 100

3.8.1 Kondisi Jalur Pedestrian ... 100

3.8.2 Kondisi RTH dan RTNH ... 101

3.8.3 Kondisi Cagar Budaya ... 103

BAB IV ANALISIS ... 104

4.1 Analisis Struktur Internal BWP ... 104

4.1.1 Analisis Sistem Pusat Pelayanan ... 104

(7)

4.1.3 Analisis Intensitas Pengembangan Ruang Pada Seluruh BWP ... 114

4.2 Analisis Penggunaan Lahan ... 115

4.3 Analisis Kedudukan dan Peran BWP Dalam Wilayah Yang Lebih Luas ... 118

4.3.1 Analisis Kedudukan dan keterkaitan social budaya dan demografi BWP pada wilayah yang lebih luas ... 118

4.3.2 Analisis Kedudukan Dan Keterkaitan Ekonomi BWP Pada Wilayah Yang Lebih Luas ... 118

4.3.3 Analisis kedudukan dan keterkaitan sistem prasarana wilayah perencanaan dengan wilayah yang lebih luas ... 119

4.3.4 Analisis kedudukan dan keterkaitan aspek lingkungan BWP pada wilayah yang lebih luas ... 120

4.3.5 Analisis kedudukan dan keterkaitan aspek pertahanan dan keamanan BWP ... 121

4.3.6 Analisis kedudukan dan keterkaitan aspek pendanaan BWP ... 121

4.3.7 Analisis spesifik terkait Kekhasan wilayah ... 121

4.4 Analisis Fisik dan Lingkungan ... 123

4.4.1 Analisis Kemampuan Lahan (SKL) ... 123

4.4.2 Analisis Kemampuan Pengembangan Lahan ... 157

4.5 Analisis Sosial Budaya dan Kependudukan ... 159

4.5.1 Aspek Sosial Budaya ... 159

4.5.2 Kependudukan ... 161

4.6 Analisis Ekonomi dan Sektor Unggulan ... 164

4.7 Analisis Transportasi dan Pergerakan ... 170

4.7.1 Sistem Kegiatan ... 170

4.7.2 Sistem Jaringan ... 172

4.7.3 Sistem Pergerakan ... 174

(8)

4.7.4 Sistem Kelembagaan... 175

4.8 Aspek Prasarana dan Sarana ... 177

4.8.1 Analisis Prediksi Kebutuhan Sarana ... 177

4.8.2 Analisis Kebutuhan Prasarana ... 180

4.9 Analisis Kondisi Lingkungan Binaan ... 187

4.9.1 Analisis Jalur Pedestrian ... 187

4.9.2 Analisis Kebutuhan RTH dan RTNH ... 188

4.9.3 Analisis Cagar Budaya... 192

(9)

DAFTAR PETA

Peta 3. 1 Penggunaan Lahan ... 51

Peta 3. 2 Batas Administrasi ... 53

Peta 3. 3 Topografi ... 55

Peta 3. 4 Geologi... 57

Peta 3. 5 Curah Hujan ... 60

Peta 3. 6 Hidrologi ... 62

Peta 3. 7 Kawasan Pertanian ... 67

Peta 3. 8 Peternakan ... 69

Peta 3. 9 Kawasan Industri ... 71

Peta 3. 10 Kawasan Listrik ... 73

Peta 3. 11 Persebaran Perdagangan dan Jasa ... 77

Peta 3. 12 Pertambangan ... 79

Peta 3. 13 Jaringan Transportasi ... 83

Peta 3. 14 Jaringan Air Bersih ... 85

Peta 3. 15 Jaringan Telekomunikasi ... 89

Peta 3. 16 Jaringan Irigasi ... 91

Peta 3. 17 Persebaran Pendidikan ... 94

Peta 3. 18 Persebaran Kesehatan ... 96

Peta 3. 19 Persebaran Pendidikan ... 98

Peta 3. 20 Ruang Terbuka Hijau ... 102

Peta 4. 1 Peta Kewenangan Jalan ... 110

Peta 4. 2 Peta Kondisi Jalan ... 113

Peta 4. 3 Peta Kesesuaian Lahan ... 117

Peta 4. 4 Peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Morfologi ... 124

Peta 4. 5 Peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kemudahan Dikerjakan ... 128

Peta 4. 6 Peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Pembuangan Limbah ... 132

Peta 4. 7 Peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Drainase ... 136

Peta 4. 8 Peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Terhadap Bencana Alam .... 140

Peta 4. 9 Peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Ketersediaan Air ... 144

Peta 4. 10 Peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kestabilan Lereng ... 148

(10)

Peta 4. 11 Peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kestabilan Pondasi ... 152

Peta 4. 12 Peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Erosi ... 156

Peta 4. 13 Peta Kemampuan Pengembangan Lahan Kecamatan Ulujadi ... 158

Peta 4. 14 Peta Pusat Kegiatan Kecamatan Ulujadi ... 171

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Ketentuan Teknis Hirarki Jalan ... 20

Tabel 2 Klimatologi Kecamatan Ulujadi ... 58

Tabel 3 Jumlah dan Kepadatan Penduduk ... 63

Tabel 4 Luas Panen dan Produksi Tanaman Bahan Makanan ... 66

Tabel 5 Banyaknya Ternak menurut jenisnya ... 68

Tabel 6 Banyaknya Usaha Industri menurut Golongan ... 70

Tabel 7 Banyaknya Penggunaan Listrik Menurut Desa/Kelurahan dan Jenis Penggunaan Listrik ... 72

Tabel 8 Banyaknya Desa/Kelurahan menurut Keberadaan Penerangan Jalan Utama Desa/Kelurahan ... 72

Tabel 9 Banyaknya Sarana Pemasaran ... 74

Tabel 10 Sarana dan Prasana Ekonomi menurut Desa/Keluruhan dan jenisnya 75 Tabel 11 Banyaknya Sarana Hotel/Losmen ... 76

Tabel 12 Kondisi Jalan Darat Antar Kelurahan Menurut Kelurahan ... 80

Tabel 13 Penyediaan Fasilitas Pendidikan... 92

Tabel 14 Penyediaan Fasilitas Kesehatan ... 95

Tabel 15 Penyediaan Fasilitas Peribadatan ... 97

Tabel 16 Sarana Pemasaran ... 99

Tabel 17 Sarana Pertokoan ... 100

Tabel 18 Sarana Perhotelan ... 100

Tabel 19 Fasilitas di Kecamatan Ulujadi ... 104

Tabel 20 Data Awal Perhitungan Skalogram ... 105

Tabel 21 Analisis Hirarki Sakalogram ... 105

Tabel 22 Hasil Perhitungan Bobot Tiap Sarana ... 106

Tabel 23 Orde hirarki pusat pelayanan dengan Indeks Sentralitas Marshall .... 107

Tabel 24 Ordo Hirarki Pusat Pelayanan Dengan Indeks Sentralitas Marshall . 107 Tabel 25 Kewenangan Jalan di Kecamatan Ulujadi ... 109

Tabel 26 Hirarki Jalan di Kecamatan Ulujadi ... 111

Tabel 27 Simpangan Pemanfaatan Lahan ... 116

Tabel 28 SKL Kemudahan Dikerjakan ... 126

Tabel 29 SKL Pembuangan Limbah ... 130

(12)

Tabel 30 SKL Drainase ... 134

Tabel 31 Terhadap Bencana Alam ... 138

Tabel 32 SKL Ketersediaan Air ... 142

Tabel 33 SKL Kestabilan Lereng ... 146

Tabel 34 SKL Kestabilan Pondasi ... 150

Tabel 35 SKL Erosi ... 154

Tabel 36 Tabel Proyeksi Penduduk 20 Tahun Kedepan di Kecamatan Ulujadi ... 161

Tabel 37 Kepadatan Penduduk 20 Tahun Kedepan di Kecamatan Ulujadi ... 163

Tabel 38 Analisis LQ Kota Palu Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2015-2019 ... 164

Tabel 39 Analisis LQ Kota Palu Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2015-2019 ... 165

Tabel 40 Analisis Shift share Kota Palu Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2015- 2019 ... 166

Tabel 41 Analisis Shift share Kota Palu Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2015- 2019 ... 167

Tabel 42 Kondisi Jalan antar Kelurahan di Kecamatan Ulujadi ... 173

Tabel 43 Sarana Transportasi antar Kelurahan di Kecamatan Ulujadi ... 174

Tabel 44 Kondisi Jumlah Jenis Sistem Sarana Jaringan Transportasi antar Kelurahan di Kecamatan Ulujadi ... 174

Tabel 45 Jumlah Jembatan di Kecamatan Ulujadi ... 175

Tabel 46 Proyeksi Penduduk Kecamatan Ulujadi ... 177

Tabel 47 Proyeksi Penduduk Tiap Kelurahan ... 177

Tabel 48 Proyeksi Fasilitas Pendidikan Kecamatan Ulujadi ... 178

Tabel 49 Proyeksi Fasilitas Kesehatan Kecamatan Ulujadi ... 178

Tabel 50 Proyeksi Fasilitas Peribadatan Kecamatan Ulujadi ... 179

Tabel 51 Proyeksi Fasilitas Perdagangan dan Jasa Kecamatan Ulujadi ... 180

Tabel 52 Proyeksi Kebutuhan Telekomunikasi ... 181

Tabel 53 Proyeksi Produksi Sampah ... 183

Tabel 54 Proyeksi Kebutuhan Air ... 184

(13)

Tabel 56 Kebutuhan Lebar Jalur Pedestrian ... 187

Tabel 57 Kebutuhan RTH Berdasarkan Luas Wilayah ... 189

Tabel 58 Kebutuhan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk ... 190

Tabel 59 Koefisien Dasar Hijau Kecamatan Ulujadi ... 191

Tabel 60 Kebutuhan RTH dan RTNH ... 191

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Kondisi Jalan ... 81

Gambar 2 Terminal Tipo ... 82

Gambar 3 Pelabuhan TNI AL ... 82

Gambar 4 Sistem Penyediaan Air ... 84

Gambar 5 Sistem Penyediaan Listrik... 86

Gambar 6 Drainase ... 86

Gambar 7 Sistem Persampahan ... 87

Gambar 8 Telekomunikasi ... 88

Gambar 9 Pendidikan ... 93

Gambar 10 Sarana Kesehatan ... 95

Gambar 11 Peribadatan ... 97

Gambar 12 Perdagangan dan Jasa ... 100

Gambar 13 Lapangan Sepak Bola ... 101

Gambar 14 Makam Pue Njid ... 103

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang pada pasal 14, telah mengatur bahwa perencanaan tata ruang menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang. Sementara itu, hirarki rencana tata ruang dimaksud meliputi mulai dari RTRWN, RTRWP, RTRW Kab/kota. Untuk rencana rinci tata ruang sebagia mana dimaksud dalam pasal 14 UU No.26 tahun 2007 tersebut dan terdiri atas: a. rencana tata ruang pulau / kepulauan dan rencana tata ruang kawasan strategis nasional; b.

rencana tata ruang kawasan strategis provinsi dan c. rencana detail tata ruang Kab/kota dan rencana tata ruang kawasan strategis Kab/kota.

Ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 Pasal 59 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang menetapkan bahwa setiap RTRW kabupaten/kota harus menentukan bagian dari wilayah kabupaten/kota yang perlu disusun RDTR nya.

Pertimbangan penetapan kawasan yang akan disusun RDTR harus merupakan kawasan perkotaan atau kawasan strategis kabupaten/kota. RDTR berfungsi sebagai kendali mutu pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota berdasarkan RTRW, acuan untuk kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari kegiatan pemanfaatan ruang yang diatur dalam RTRW, acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang, acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang, dan acuan dalam penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). Selanjutnya sebagai ketentuan intensitas pemanfaatan ruang di setiap wilayah yang sesuai dengan fungsinya perlu ditetapkan kawasan yang diprioritaskan, kemudian disusun program pengembangan kawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang pada tingkat BWP atau Sub BWP.

Kota Palu adalah Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia., berbatasan dengan Kabupaten Donggala di sebelah barat dan Utara, Kabupaten Sigi di sebelah selatan, dan Kabupaten Parigi Moutong di sebelah timur. Kota Palu merupakan kota lima dimensi yang terdiri atas lembah, lautan, sungai, pegunungan, dan teluk. Koordinatnya adalah 0,35 – 1,20 LU dan 120 – 122,90 BT. Kota Palu dilewati oleh garis Khatulistiwa. Dengan jumlah 8 kecamatan dan 45 kelurahan yang salah satunya adalah Kecamatan Ulujadi.

(16)

Kecamatan Ulujadi merupakan pemekaran dari kecamatan Palu Barat pada tahun 2012, Kecamatan Ulujadi memiliki Jenis tanah yang termasuk lempung berpasir.

Sehingga membuat Kecamatan Ulujadi menjadi kecamatan dengan aktivitas penggalian terbesar di Kota Palu yang terletak di Kelurahan Watusampu dan Buluri. (Bappeda Kota Palu.2014). Dengan adanya aktivitas tersebut maka sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan lingkungan hidup. Selain itu, adanya zonasi rawan bencana menetapkan beberapa kawasan di Kecamatan Ulujadi masuk dalam zona merah. Dengan adanya aturan zonasi tersebut maka perlu dilakukan kesesuaian penggunaan lahan.permasalahan yang muncul di Kecamatan Ulujadi yang disebabkan oleh beberapa faktor utama yaitu Aktifitas penggalian dan ketidaksesuaian penggunaan lahan. Dari kedua faktor tersebut menimbulkan permasalahan baru seperti rusaknya infrastruktur jaringan penghubung, kurangnya perealisasian kebijakan pemerintah terkait peruntukan lahan dll.

Tujuan dan Sasaran Tujuan

Tujuan penulisan ini adalah untuk menyusun laporan fakta dan analisis wilayah perencanaan yang akan digunakan sebagai bahan untuk menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Ulujadi Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah.

Sasaran

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, sasaran yang akan dicapai sebagai berikut:

1. Menyusun sistematika penulisan laporan fakta dan analisis

2. Mengkompilasikan hasil analisis kondisi eksternal dan internal wilayah perencanaan.

3. Merumuskan potensi dan permasalahan wilayah perencanaan

4. Menyusun strategi perencanaan tata ruang wilayah perencanaan dengan menggunakan analisis SWOT

Ruang Lingkup

Ruang lingkup wilayah terbagi menjadi dua yaitu ruang lingkup wilayah studi

(17)

Ruang Lingkup Wilayah Makro

Ruang lingkup wilayah studi makro yaitu Kota Palu, Kota Palu merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi tengah yang wilayah administrasinya berbatasan dengan kabupaten donggala di bagian timur, utara dan barat, kabupaten sigi di bagian selatan, dan parigi moutong di bagian timur. Sebagian besar wilayah Kota Palu merupakan kawasan dataran lembah dan teluk palu.

Ruang Lingkup Wilayah Mikro

Ruang lingkup wilayah studi mikro yaitu Kecamatan Ulujadi, Kecamatan Ulujadi adalah salah satu dari 8 kecamatan di Kota Palu. Kecamatan Ulujadi memiliki luas wilayah 40,25 km² dengan jumlah penduduk 28.190 jiwa pada tahun 2018. Kecamatan ulijadi sendiri terletak 9 km dari pusat kegiatan Kota Palu.

Sistematika Pembahasan

Adapun sistematika pembahasan yang digunakan di dalam penyampaian dokumen Laporan fakta dan analisis Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Ulujadi serta Peraturan Zonasinya.

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, rung lingkup pekerjaan dan sistematika pembahasan laporan.

BAB II TINJAUAN KEBIJAKAN

Bab II menjabarkan tinjauan kebijakan lokasi perencanaan yaitu kebijakan Kota Palu dalam RTRW Provinsi Sulawesi Tengah, kebijakan RDTR kecaatan Ulujadu dalam konstelasi regional.

BAB III GAMBARAN UMUM

Bab III menjabarkan kondisi profil wilayah Kecamatan Ulujadi dalam konstelasi regional serta karakteristik wilayah perencanaan dan deskripsi wilayah regional.

BAB IV ANALISA

Bab IV berisikan mengenai analisa-analisa sebagai dasar

(18)

analisa yang digunakan adalah untuk penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Ulujadi, Seperti Analisa Kebijakan, Analisa Ekonomi, Analisa Kependudukan dan Analisa Lain nya yang dianggap perlu dalam mendukung Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Ulujadi.

(19)

BAB II

TINJAUAN LITERATUR

Tinjauan Kebijakan

Arahan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007

Rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pembangunan dalam memanfaatkan ruang serta dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanfaaan ruang, sehingga pemanfaatan ruang dalam pelaksanan pembangunan selalu sesuai dengan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota.

Rencana tata ruang kabupaten/kota dan rencana pembangunan jangka panjang daerah merupakan kebijakan daerah yang saling mengacu. Penyusunan rencana tata ruang wilayah kabupaten mengacu pada rencana pembangunan jangka panjang kabupaten/kota begitu juga sebaliknya.

Dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang pada pasal 25, pasal 26, dan pasal 28 menyebutkan bahwa :

1. Penyusunan rencana tata ruang wilayah kabupaten mengacu pada:

a. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi;

b. Pedoman dan petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang; dan c. Rencana pembangunan jangka panjang daerah.

2. Penyusunan rencana tata ruang wilayah kabupaten harus memperhatikan:

a. Perkembangan permasalahan provinsi dan hasil pengkajian implikasi penataan ruang kabupaten;

b. Upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi kabupaten;

c. Keselarasan aspirasi pembangunan kabupaten;

d. Daya dukung dan daya tamping lingkungan hidup e. Rencana pembangunan jangka panjanng daerah;

f. Rencana tata ruang wilayah kabupaten yang berbatasan; dan

(20)

g. Rencana tata ruang kawasan strategis kabupaten.

Sementara dalam pasal 26 berisi :

3. Rencana tata ruang wilayah kabupaten memuat :

a. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten;

b. Rencana struktur wilayah kabupaten yang meliputi sistem perkotaan di wilayahnya yang terkait dengan kawasan perdesaan dan sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten, dimana dalam ayat penjelasan disebutkan struktur ruang wilayah kabupaten merupakan yang dikembangkan untuk mengintergrasikan wilayah kabupaten selain untuk melayani kegiatan skala kabupaten yang meliputi sistem jaringan transportasi, sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan telekomunikasi, dan sistem jaringan sumber daya air, termasuk seluruh daerah hulu bendungan atau waduk dari daerah aliran sungai. Dalam rencana tata ruang wilayah kabupaten digambarkan sistem pusat kegiatan wilayah kabupaten dan perletakan jaringan prasarana wilayah yang menuruut ketentua peraturan perundang-undangan pengembangan dan pengelolaannya merupakan kewenangan pemerintah daerah kabupaten.

Rencana struktur ruang wilayah kabupaten memuat rencana struktur ruang yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi yang terkait dengan wilayah kabupaten yang bersangkutan.

c. Rencana pola ruang wilayah kabupaten yang meliputi kawasan lindung kabupaten dan kawasan budi daya kabupaten sebagaimana disebutkan dalam ayat penjelasan bahwa pola ruang wilayah kabupaten merupakan gambaran pemanfaatan ruang wilayah kabupaten, baik untuk pemanfaatan yang berfungsi lindung maupun budi daya yang belum ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi.

Rencana pola ruang wilayah kabupaten memuat rencana pola ruang yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi yang terkait dengan wilayah kabupaten yang bersangkutan.

(21)

d. Penetapan kawasan strategis kabupaten. Kawasan strategis kabupaten/kota adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkung kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan;

e. Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan;dan

f. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang berisi ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan intensif dan disinsentif, serta arahan sanksi.

4. Rencana tata ruang wilayah kabupaten menjadi pedoman untuk:

a. Penyusunan perencana pembangunan jangka panjang daerah;

b. Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah;

c. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah kabupaten;

d. Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan antar sector;

e. Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi;dan f. Penataan ruang kwasan strategis kabupaten.

5. Rencana tata ruang wilayah kabupaten menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembbangunan dan administrasii pertanahan.

6. Jangka waktu rencana tata ruang wilayah kabupaten adalah 20 (dua puluh) tahun.

7. Rencana tata ruang wilayah kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.

8. Dalam kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau perubahan batas territorial negara, wilayah provinsi, dan/atau wilayah kabupaten yang ditetpkan dengan Undang-Undang, rencana tata ruang wilayah kabupapten ditinjau kembali lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.

9. Rencana tata ruang wilayah kabupaten ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten.

Pasal 28 :

Ketentuan perencanaan tata ruang wilayah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, Pasal 26, dan Pasal 27 berlaku mutatis mutandis untuk

(22)

perencanaan tata ruang wilayah kota, dengan ketentuan selain incian dalam Pasal 26 ayat (1) ditambahkan;

a. Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau;

b. Rencana penyediaan dan pemandaatan ruang terbuka nonhijau;dan

c. Rencana penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki, angkutan umum, kegiatan sector informal, dan ruang evakuasi bencana, yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi wilayah kota sebagai pusat pelayanan sosial ekonomi dan pusat pertumbuhan wilayah.

Kedudukan Kawasan Perencanaan Dalam Konstelasi Kebijakan Penataan Ruang Wilayah

Kebijakan Terkait RTRWN

Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional mencakup beberapa bagian yang dikaji, yaitu meliputi:

1. Keterkaitan antara kawasan perdesaan dan perkotaan dapat diwujudkan dengan pengernbangan kawasan agropolitan;

2. Pada wilayah pulau yang luas kawasan berfungsi lindungnya harus rnencapai 30% (tiga puluh persen) dari luas wilayah yang ada;

3. Kawasan budidaya yang dikernbangkan bersifat saling rnenunjang satu sama lain;

4. Kawasan strategis Nasional adalah kawasan yang menjadi tempat kegiatan perekonomian yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Nasional dan/atau menjadi tempat kegiatan pengolahan sumber daya strategis seperti kawasan pertambangan dan pengolahan migas, radioaktif, atau logam mulia;

5. Dikembangkannya prasarana dan sarana pendukung seperti jaringan jalan, air bersih, jaringan listrik, dan telekomunikasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut dan di kawasan sekitarnya;

6. Strategi mengembangkan dan mempertahankan kawasan budi daya pertanian pangan dilaksanakan, antara lain, dengan mempertahankan lahan sawah beririgasi teknis di kawasan yang menjadi sentra produksi pangan Nasional;

(23)

7. Pengembangan kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan di ALKI, ZEE Indonesia, dan/atau landas kontinen didasarkan pada hak berdaulat atas sumber daya alam yang terkandung di dalamnya berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut Internasional;

8. Adanya daya dukung lingkungan dan daya tampung lingkungan;

9. Pemanfaatan ruang secara vertikal pemanfaatan ruang secara kornpak; serta 10. Kegiatan penunjang adalah kegiatan yang turut menunjang atau mendukung

terselenggaranya suatu kegiatan atau kegiatan utama yang memanfaatkan sumber daya alam dan/atau teknologi strategis kegiatan turunan adalah kegiatan yang memanfaatkan hasil atau produk dari kegiatan utama sebagai input produksinya.

Kebijakan Terkait Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palu Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang, memuat :

Struktur pemanfaatan ruang wilayah menggambarkan rencana sistem pusat pelayanan permukiman perdesaan dan perkotaan serta sistem perwilayahan di Kota Palu. Rencana struktur ruang willayah Kota Palu merupakan kerangka sistem pusat- pusat pelayanan kegiatan kota yang berhierarki dan satu sama lain dihubungkan oleh sistem jaringan prasarana wilayah kota yang dikaitkan dengan kearifan budaya lokal kota sebagaimana tercermin dalam konsep ruang berdasarkan filosofi

“souraja” .

Rencana stuktur wilayah Kota Palu menjadi arahan pembentuk sistem pusat- pusat pelayanan wilayah kota yang memberikan layanan bagi wilayah kota serta arahan perletakan jaringan prasarana wilayah kota sesua dengan fungsi jaringannya yang menunjang keterkaitan antar pusat-pusat pelayanan kota.

Kebijakan Dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Kecamatan Ulujadi Dalam Kota Palu

Kebijakan dan strategi penataan ruang di dalam ruang lingkup wilayah Kecamatan Ulujadi yang diatur di dalam kebijakan tata ruang skala kota antara lain terdiri dari beberapa hal sebagai berikut.

(24)

Palu

Kebijakan dan Strategi Penetapan Struktur Ruang Wilayah Kota

A. Kebijakan pengembangan struktur ruang, memuat :

Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Kota Palu meliputi : a. Kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang;

1. Pembentukan pusat pelayanan kota yang berhirarki mengikuti bentuk dasar Kota Palu sebagai kota teluk dengan konsep arsitektur souraja

2. Pembangunan sistem jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu guna mendukung wujud Kota Palu sebagai kota teluk; dan

3. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem prasarana guna mendukung wujud Kota Palu sebagai kota teluk berwawasan lingkungan.

b. Kebijakan dan strategi pola ruang; dan

c. Kebijakan dan strategi kawasan strategis kota.

Adapun yang berkaitan dengan pengembangan Kecamatan Ulujadi di dalam dokumen

A. Rencana Sistem Jaringan sarana Prasarana Wilayah Kota, meliputi :

 Rencana pengembangan jaringan jalan eksisting sebagai jalan arteri sekunder meliputi ruas jalan lingkar luar Segmen Palupi-Pengavu- Silae-Watusampu.

 Jaringan jalan nasional sebagai jalan kolektor primer di Kota Palu meliputi ruas: Jl Watusampu (Taman Ria)-Ampera (batas Kab Donggala), Jl Hasanuddin I, Jl Gajah Mada, Jl. Imam Bonjol, Jl.

Diponegoro, dan Jl Malonda.

 Rencana pengembangan terminal Tipe B, Terminal Tipo sebagai terminal Tipe B di Kecamatan Palu Barat yang melayani Angkutan Kota Antar Propinsi (AKAP) dan Angkutan Kota (ANGKOT)

 Rencana pengembangan jembatan timbang baru di Kelurahan Watusampu

 Rencana jaringan trayek angkutan penumpang dan barang di Kota Palu meliputi Watusampu – Terminal Tipo – Terminal Kota

(25)

 Rencana pengembangan pelabuhan Rencana Pelabuhan AL Watusampu Diatur secara khusus Terkait dengan pertahanan dan keamanan dan Pelabuhan Kapal Tongkang angkutan Sirtu Taipa dan Watusampu

B. Rencana Sistem jaringan Prasarana Lainnya, meliputi :

 Sistem jaringan listrik yang direncanakan mencakup Bangunan pembangkit; (PLTD, PLTU, PLTS, PLTMH), pembangkit listrik tenaga diesel di Kelurahan Silae

 Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi C. Rencana sistem jaringan Sumber daya Air

 Wilayah Sungai di wilayah Kota Palu meliputi : Sungai Tipo, Sungai Watusampu, Sungai Buluri, Sungai Tawaeli

 Jaringan irigasi di wilayah Kota Palu meliputi : Daerah Irigasi Donggala Kodi

 Sumber air baku untuk air bersih meliputi: Check Dam Sungai Uve Numpu di Kelurahan Donggala Kodi

 Rencana Sistem Jaringan Air Minum

 Rencana Sistem Jaringan Air Limbah

 Rencana Sistem Drainase

Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pola Ruang Wilayah Kota Palu

Rencana pola ruang wilayah Kota Palu merupakan rencana distribusi peruntukan ruang dalam wilayah kota yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan rencana peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.

Rencana pola ruang wilayah Kota Palu berfungsi:

a. Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah kota;

b. Mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukan ruang;

c. Sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka menengah lima tahunan untuk 20 (dua puluh) tahun; dan

d. Sebagai dasar pemberian izin pemanfaatan ruang pada wilayah kota.

(26)

Adapun yang berkaitan dengan pengembangan Kecamatan Ulujadi di dalam dokumen

A. Rencana Kawasan Lindung

 Rencana Kawasan Hutan Lindung

 Kawasan Perlindungan Setempat Sempadan mata air adalah kawasan kurang lebih 200 meter dari sumber mata air diterapkan pada: mata air Yoega dan Koeloe di Kelurahan Donggala Kodi

B. Rencana Ruang terbuka hijau

Rencana Ruang Terbuka Hijau Kota Palu sekurang-kurangnya 30 % dari luas wilayah kota dengan ketentuan sekurang-kurangnya 20 % Ruang Terbuka Hijau Publik dan sekurang-kurangnya 10 % Ruang Terbuka Hijau Privat.

1. Daerah penyangga hutan lindung seluas + 208 ha

2. Lapangan terbuka hijau terdapat di Palu Utara, Palu Timur, Palu Selatan dan Palu Barat seluas + 60 Ha.

C. Rencana pengembangan RTH Kota Palu untuk mencapai sekurang-kurangnya 30 persen dari luas wilayah kota, yaitu sekurang- kurangnya 20 persen RTH Publik dan sekurang - kurangnya 10 persen meliputi:

 Pengembangan taman RT dan RW yang akan disidtribusikan pada pusat unit-unit pengembangan perumahan;

 Pengembangan taman kota yang akan diditribusikan di setiap Kelurahan dan Kecamatan pada wilayah Kota Palu;

 Pengembangan hutan kota di Kelurahan Kawatuna Kecamatan Palu Selatan seluas +100 ha dan kebun raya di Kecamatan Palu Utara seluas +200 ha;

dan

 Pengembangan fungsi-fungsi kawasan lindung lainnya menjadi ruang terbuka hijau.

D. Rencana Kawasan Rawan Bencana Alam

 Kawasan Rawan Tanah Longsor Wilayah-wilayah yang teridentifikasi rawan longsor adalah wilayah sebelah barat Silae, Kabonena dan Donggala Kodi, hulu sungai Watutela, dan tebing bukit di Poboya.

 Kawasan Rawan Banjir

(27)

E. Kawasan Peruntukan Pariwisata

 Kawasan peruntukkan pariwisata budaya direncanakan.

 Makam Pue Njidi di Kelurahan Kabonena

 Kawasan Pantai Teluk Palu Kelurahan Silae

 Kawasan hutan lindung Salena

 Pantai Tumbelaka dan Pantai Niki di Kelurahan Tipo

Kebijakan dan Strategi Penetapan Kawasan Strategis Wilayah Kota Palu

Kawasan strategis kota merupakan bagian wilayah kota yang penataan ruangnya diprioritaskan, karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kota di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan.

Rencana kawasan strategis merupakan penetapan kawasan yang di dalamnya berlangsung kegiatan yang mempunyai pengaruh besar terhadap :

a. tata ruang di wilayah sekitarnya

b. kegiatan lain di bidang sejenis dan kegiatan di bidang lainnya; dan c. peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penetapan kawasan strategis Kota Palu meliputi:

a. kawasan strategis pertumbuhan ekonomi;

b. kawasan strategis sosial budaya; dan c. kawasan strategis lingkungan hidup

Adapun yang berkaitan dengan pengembangan Kecamatan Ulujadi di dalam dokumen

A. Kawasan Strategis Pertumbuhan Ekonomi :

Rencana kawasan strategis Kota Palu dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi meliputi:

 Kawasan wisata Pantai Teluk Palu di Kelurahan Silae dan Kelurahan Lere B. Kawasan Strategis Aspek Lingkungan

Rencana kawasan strategis Kota Palu dari sudut kepentingan daya dukung lingkungan hidup meliputi:

 kawasan hutan Lindung di Kelurahan Buluri

(28)

Tinjauan RTRW Kota Palu

Rencana Struktur Ruang Kawasan

Rencana struktur ruang wilayah Kota Palu merupakan kerangka tata ruang wilayah bagi Kecamatan Ulujadi yang tersusun atas gabung beberapa pusat sarana prasarana yang tersebar dan menjadi fokus pengembangan wilayah yang akan direncanakan dan saling berhierarki satu sama lain membentuk arah rencana struktur ruang yang sesuai dengan kondisi eksisting wilayah Kecamatan Ulujadi.

Pengembangan sistem sarana prasarana yang menjadi fokus perencanaan adalah merupakan simpul pelayanan bagi sektor ekonomi masyarakat yang ada di Kecamatan Ulujadi. Rencana struktur ruang wilayah Kecamatan Ulujadi menggambarkan potensi dari sarana prasarana yang bisa dikembangkan dan memberikan layanan baik bagi masyarakat yang tinggal dikawasan tersebut ataupun masyarakat diluar kawasan Kecamatan Ulujadi yang menggunakannya sebagai sistem pusat pelayanan dalam aspek sarana prasarana dan menjadi sarana penghubung yang membentuk serta mengintegrasikan kesatuan antar wilayah kabupaten.

Rencana Sistem Jaringan sarana Prasarana Wilayah

Rencana struktur ruang wilayah Kecamatan Ulujadi memfokuskan pada pengembangan sistem jaringan sarana prasarana melihat dari potensi yang ada di Kecamatan Ulujadi serta tata letak wilayahnya sendiri. Melihat potensi serta kondisi penggunaan lahan yang ada di Kecamatan Ulujadi maka fokus perencanaan yang dilakukan adalah berupa rencana jaringan transportasi jalan, terminal, pelabuhan, rencana jembatan penghubung, dan jaringan angkutan barang serta penumpang.

Pengembangan jaringan sarana prasarana di Kecamatan Ulujadi ini diwujudkan berdasarkan arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palu dan pemanfaatan lahan yang ada, serta menjadi wilayah atau kawasan yang menyediakan prasarana sebagai penghubung antar kabupaten serta provinsi wilayah atau kabupaten.

Rencana Sistem Jaringan Prasarana Lainnya

Rencana struktur ruang wilayah Kecamatan Ulujadi untuk pengembangan prasarana lainnya adalah merupakan pengembangan serta penyediaan jaringan

(29)

Kecamatan Ulujadi ini menerima penyaluran listrik yang layak dan merata serta jaringan telekomunikasi yang baik dikarenakan masih ada beberapa wilayah yang menggunakan listrik PLN, non PLN, dan ada yang sama sekali belum menerima atau menggunakan jaringan listrik.

Rencana Jaringan Sistem Sumber Daya Air

Rencana struktur ruang wilayah Kecamatan Ulujadi untuk pengembangan jaringan sistem sumber daya air yang menjadi fokus pengembangan di wilayah Kecamatan Ulujadi adalah pengembangan yang dilakukan dengan melihat potensi sumber daya air yang tersebar di sekitaran wilayah Kecamatan Ulujadi dan bisa dikembangkan guna kebutuhan setiap masyarakat diwilayah Kecamatan Ulujadi terpenuhi secara merata. Pengembangan sistem sumber daya air yang dilakukan adalah berupa rencana pengembangan Sumber air baku untuk air bersih, jaringan irigasi, Rencana Sistem Jaringan Air Minum, Rencana Sistem Jaringan Air Limbah, Rencana Sistem Drainase.

Tinjauan Literatur

Analisis Struktur Internal BWP

Analisis struktur internal kawasan BWP dilakukan untuk merumuskan kegiatan fungsional sebagai pusat dan jaringan yang menghubungkan antarpusat di dalam BWP ruang dari RTRW Kabupaten/Kota ke RDTR. Analisis struktur internal kawasan perkotaan didasarkan pada kegiatan fungsional di dalam kawasan perkotaan tersebut, pusat-pusat kegiatan, dan sistem jaringan yang melayaninya.

Analisis struktur internal kawasan perkotaan didasarkan pada kegiatan fungsional di dalam kawasan perkotaan tersebut, pusat-pusat kegiatan,dan sistem jaringan yang melayaninya. Analisis struktur internal kawasan perkotaan membagi kawasan perkotaan berdasarkan homogenitas kondisi fisik, ekonomi, dan sosial budaya, serta menggambarkan arahan garis besar intensitas ruang dan arahan pengembangannya di masa datang. Analisis struktur internal BWP meliputi sebagai berikut :

(30)

Analisis Sistem Pusat Pelayanan

Analisis sistem pusat pelayanan dirumuskan berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari publikasi-publikasi suatu lembaga atau instansi kemudian dihitung menggunakan analisis Skalogram dan Indeks Sentralitas Marshall. Untuk kepentingan perencanaan maka wilayah harus dapat dibagi (partitioning) atau dikelompokan (grouping) ke dalam satu kesatuan agar bisa dibedakan dengan kesatuan lain. Begitupun untuk konteks perwilayahan yang ada di Kecamatan Ulujadi diperlukan adanya suatu perencanaan guna mengembangkan struktur ruang kewilayahannya. Perencanaan merupakan usaha menetapkan suatu tujuan dan memilih langkah – langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.

(Robinson Tarigan:2005).

a. Analisis Skalogram

Analisis skalogram merupakan suatu alat analisis yang digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu daerah (dalam hal ini kelurahan) dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dengan menggunakan analisis skalogram dapat ditentukan hierarki kecamatan-kecamatan berdasarkan kelengkapan fasilitasnya. Kelemahan dari analisis skalogram adalah tidak mempertimbangkan frekuensi setiap jenis fasilitasnya. Oleh karena itu, untuk menentukan kecamatan sebagai pusat pertumbuhan tidak hanya berdasarkan keberadaan setiap jenis fasilitasnya tetapi juga dengan mempertimbangan frekuensinya.

b. Analisis indeks Sentralitas Marshall

Indeks Sentralitas digunakan untuk melihat kemampuan pelayanan suatu pusat ditinjau jumlah unit fasilitas yang terdapat pada pusat pelayanan. Nilai keterpusatan dapat diperoleh dari jumlah total bobot masing-masing jenis fasilitas dikalikan jumlah fasilitas tersebut. Prinsip pembobotan suatu fasilitas dilakukan dengan cara membagi nilai sentralitas gabungan (100) dengan jumlah fasilitas yang terdapat di seluruh pusat pelayanan, jadi semakin besar jumlah suatu fasilitas maka bobotnya akan semakin kecil, demikian pula sebaliknya (Rondinelli, 1985). Pusat- pusat pelayanan tersebut selanjutnya dikelompokkan secara interval berdasarkan nilai sentralitas.

(31)

Keterangan :

C = bobot t dari atribut suatu fasilitas

t = nilai sentralitas gabungan, dalam hal ini 100 T = jumlah total atribut fasilitas

Analisis Sistem Jaringan Jalan 1. Kewenangan jalan

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan dan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan, maka kewenangan/status jalan umum dikelompokkan sebagai berikut:

a. Jalan Nasional b. Jalan Provinsi c. Jalan Kabupaten d. Jalan Kota e. Jalan Desa

Pengertian dari masing-masing status jalan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Jalan Nasional

Jalan Nasional merupakan Jalan arteri dan Jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antar ibu kota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol. Penyelenggaraan Jalan Nasional merupakan kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, yaitu di Direktorat Jenderal Bina Marga yang dalam pelaksanaan tugas penyelenggaraan jalan nasional dibentuk Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional sesuai dengan wilayah kerjanya masing-masing. Sesuai dengan kewenangannya, maka ruas-ruas jalan nasional ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam bentuk Surat Keputusan (SK) Menteri PUPR.

(32)

b. Jalan Provinsi

Merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang terbagi menjadi

a) Jalan Kolektor Primer menghubungkan ibu kota provinsi dengan ibu kota kabupaten/kota dan jalan strategis provinsi.

b) Jalan Strategis Provinsi.

c. Jalan Kabupaten

Merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang terdiri dari:

a) Jalan Kolektor Primer yang tidak termasuk jalan nasional dan jalan provinsi,

b) Jalan Lokal Primer menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibu kota kecamatan, antar ibu kota kecamatan, ibu kota kabupaten dengan pusat desa ,

c) Jalan Sekunder wilayah kabupaten, dan d) Jalan Strategis kabupaten.

Penyelenggaraan Jalan Kabupaten merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten. Ruas-ruas jalan kabupaten ditetapkan oleh Bupati dengan Surat Keputusan (SK) Bupati.

d. Jalan Kota

Jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di dalam kota. Jalan kota merupakan kewenangan Pemerintah Kota. Ruas- ruas jalan kota ditetapkan oleh Walikota dengan Surat Keputusan (SK) Walikota.

e. Jalan Desa

Jalan Desa adalah jalan lingkungan primer dan jalan lokal primer yang tidak termasuk jalan kabupaten di dalam kawasan perdesaan, dan merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antar permukiman di dalam desa.

(33)

2. Hirarki Jalan

Untuk menentukan hierarki jalan perlu dipahami mengenai definisi jalan dan fungsinya. Berikut ini beberapa definisi terkait dengan hierarki jalan menurut UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan:

a) Sistem jaringan jalan primer merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat pusat kegiatan.

b) Sistem jaringan jalan sekunder merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat dalam kawasan perkotaan.

c) Jalan arteri merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.

d) Jalan kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk yang dibatasi.

e) Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

f) Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.

(34)

Ketentuan teknis tentang dimensi per hierarki jalan yang dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan sebagai berikut:

Tabel 1 Ketentuan Teknis Hirarki Jalan

Hierarki jalan Rumaja Rumija Ruwasja Kecepatan

Arteri Primer ≥ 11 Meter 25 Meter ≥15 meter ≥60 Km/Jam Kolektor Primer ≥ 9 Meter 25 Meter ≥ 10 Meter ≥ 40 Km/Jam Kolektor Sekunder ≥ 9 Meter 25 Meter ≥ 5 Meter ≥ 20 Km/Jam Lokal Primer ≥ 7,5 Meter 15 Meter ≥ 7 Meter ≥ 20 Km/Jam Lokal Sekunder ≥ 7,5 Meter 15 Meter ≥ 3 Meter ≥ 10 Km/Jam Lingkungan Primer ≥ 6,5 Meter 11 Meter ≥ 5 Meter ≥15 Km/Jam

Lingkungan

Sekunder ≥ 6,5 Meter 11 Meter ≥ 2 Meter ≥ 10 Km/Jam Sumber : UU No 38 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006

Keterangan:

Rumaja : Ruang manfaat jalan Rumija : Ruang milik jalan

Ruwasja : Ruang pengawasan jalan

Sumber: SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan

(35)

Sumber: SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan

Analisis Intensitas Pengembangan Ruang

Analisis intensitas pemanfaatan ruang merupakan ketentuan teknis tentang kepadatan zona terbangun yang disyaratkan pada zona tersebut dan diukur melalui Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), dan Koefisien Dasar Hijau (KDH). Intensitas pemanfaatan ruang diatur dalam Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi.

a. Koefisien Dasar Bangunan

Koefisien Dasar Bangunan (KDB) atau dalam bahasa inggrisnya Building Covered Ratio (BCR), adalah angka persentase perbandingan antara luas lantai dasar bangunan tehadap luas lahan/sebidang tanah (persil) yang dikuasai. Standar KDB di suatu kawasan berbeda pada masing-masing wilayah. Tujuan diberlakukannya KDB antara lain untuk:

(36)

Menciptakan Ruang Terbuka Hijau (RTH);

Menjaga kelestarian daerah resapan air; dan

Membatasi ketinggian bangunan maksimal yang boleh didirikan.

Ketentuan-ketentuan dalam penghitungan KDB adalah sebagai berikut:

1. Perhitungan luas lantai bangunan adalah jumlah luas lantai yang diperhitungkan sampai batas dinding terluar;

2. Luas lantai ruangan beratap yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding yang tingginya lebih dari 1,20 m di atas lantai ruangan tersebut dihitung penuh 100%;

3. Luas lantai ruangan beratap yang bersifat terbuka atau yang sisi-sisinya dibatasi oleh dinding tidak lebih dari 1,20 m di atas lantai ruangan dihitung 50%, selama tidak melebihi 10% dari luas denah yang diperhitungkan sesuai dengan KDB yang ditetapkan;

4. Teras tidak beratap yang mempunyai tinggi dinding tidak lebih dari 1,20 m di atas lantai teras tidak diperhitungkan sebagai luas lantai;

5. Dalam perhitungan KDB luas tapak yang diperhitungkan adalah yang dibelakang GSJ;

6. Untuk pembangunan yang berskala kawasan (superblock), perhitungan KDB adalah dihitung terhadap total seluruh lantai dasar bangunan dalam kawasan tersebut terhadap total keseluruhan luas kawasan.

Rencana intensitas bangunan meliputi rencana kepadatan, ketinggian, perpetakan dan sempadan bangunan untuk menciptakan lingkungan kota yang serasi dan nyaman untuk dihuni.

b. Koefisien Lantai Bangunan

Koefisien Lantai Bangunan (KLB) atau dalam bahasa inggrisnya Floor Area Ratio (FAR) merupakan perbandingan antara total luas lantai bangunan terhadap luas lahan/bidang tanah yang dapat dibangun. Koefisien Lantai Bangunan merupakan angka perbandingan antara jumlah seluruh luas lantai seluruh bangunan gedung terhadap luas tanah perpetakan/daerah perencanaan. Ketinggian bangunan ini juga berkaitan dengan penataan bangunan sehingga diperlukan arahan ketinggian bangunan yang disesuaikan dengan kondisi fisik kawaasan. Hal-hal

(37)

Daya dukung tanah,

Daya dukung lingkungan (kepadatan bangunan, utilitas air bersih dan lain sebagainya),

Faktor-faktor khusus, misalnya batasan ketinggian di kawasan perencanaan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi,

Harga tanah yang semakin tinggi.

c. Koefisien Dasar Hijau

Berdasarkan PP RI Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung bahwa Koefisien Daerah Hijau (KDH) adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan.

Koefisien dasar hijau merupakan prosentase perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan yang diperuntukkan bagi pertamanan/ penghijauan dengan luas tanah daerah perencanaan. KDH ditetapkan sesuai dengan peruntukkan dalam rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan. RTH yang termasuk dalam KDH sebanyak mungkin diperuntukkan bagi penghijauan/penanaman di atas tanah.

Dengan demikian area parkir dengan lantai perkerasan masih tergolong RTH sejauh ditanami pohon peneduh yang ditanam di atas tanah, tidak di dalam wadah/

container kedap air. KDH tersendiri dapat ditetapkan untuk tiap-tiap klas bangunan dalam kawasan-kawasan bangunan, dimana terdapat beberapa kelas bangunan dan kawasan campuran. KDH minimal 10% pada daerah sangat padat/ padat. KDH ditetapkan meningkat setara dengan naiknya ketinggian bangunan dan berkurangnya kepadatan wilayah.

(38)

Analisis Sistem Penggunaan Lahan

Analisis sistem penggunaan lahan dilakukan untuk mendetailkan pola ruang dari RTRW Kabupaten/Kota ke RDTR. Analisis sistem penggunaan lahan didasarkan pada kondisi fisik kawasan perencanaan, kondisi eksisting, status lahan, dan kerentanan terhadap risiko bencana.

Analisis penggunaan lahan pada kawasan perencanaan akan difokuskan pada jenis penggunaan lahan sesuai dengan arahan rencana pola ruang Kota Palu berdasarkan dokumen peraturan/perencanaan tersebut dengan dilakukan pengkajian. Pengkajian dilakukan terhadap dokumen RTRW dan kebijakan lainnya yang terkait dengan studi identifikasi pemanfaatan lahan di Kecamatan Ulujadi.

Simpangan pemanfaatan ruang di Kecamatan Ulujadi dinilai dengan memperlihatkan kesinambungan antara RTRW terkait dengan pemanfaatan lahan di Kecamatan Ulujadi. Dalam menganalisis simpangan pemanfaatan lahan, digunakan data yang berasal dari muatan perda RTRW yaitu pola ruang dan data eksisting pemanfaatan lahan.

Analisis Kedudukan dan Peran BWP dalam Wilayah yang lebih luas Analisis BWP pada wilayah yang lebih luas, dilakukan untuk memahami kedudukan dan keterkaitan BWP dalam sistem regional yang lebih luas dalam aspek sosial, ekonomi, lingkungan, sumber daya buatan atau sistem prasarana, budaya, pertahanan, dan keamanan. Sistem regional tersebut dapat berupa sistem kota, wilayah lainnya, kabupaten atau kota yang berbatasan, pulau, dimana BWP tersebut dapat berperan dalam perkembangan regional

1. Analisis Kedudukan dan Keterkaitan Sosial-Budaya Dan Demografi BWP Pada Wilayah Yang Lebih Luas;

Analisis sosial secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sebuah skema tentang interaksi antar faktor dalam rangka memecahkan masalah sosial. Secara lebih rinci analisis sosial berusaha untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang: Situasi sosial, hubungan struktural, kultural (budaya), dan historis (sejarah) sehingga memungkinkan menangkap dan memahami realitas sosial yang

(39)

dihadapi serta hubungannya dengan wilayah yang lebih luas dan memiliki keterkaitan dengan wilayah perencanaan.

2. Analisis Kedudukan dan Keterkaitan Ekonomi BWP Pada Wilayah Yang Lebih Luas;

Pertumbuhan suatu sektor tidak terlepas dari sektor lainnya. Oleh karena itu perlu dipahami besarnya kaitan masing-masing sektor secara vertikal, baik terhadap sektor-sektor dibagian hulu maupun dibagian hilir. Parameter-parameter makro tersebut dapat dijadikan pedoman dalam menyusun urutan prioritas sektor yang menjadi unsur determinan dalam perencanaan wilayah ekonomi. Sejalan dengan itu, salah satu faktor yang dipandang mampu memberi gambaran kondisi suatu wilayah dapat ditelaah dari sisi perekonomian wilayahnya. Namun gambaran ini pada hakekatnya adalah suatu performa yang statis, dan tentunya suatu wilayah akan mengalami perubahan sesuai dengan kapasitas wilayah yang bersangkutan untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan.

Lebih jauh, upaya untuk menelaah "keterkaitan antar sektor" dalam suatu perekonomian wilayah dapat ditempuh melalui serangkaian teori yang lazim dikenal dengan teori perencanaan pembangunan wilayah. Teori ini pada dasarnya berupaya menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi terhadap suatu wilayah dengan menekankan pada hubungan antara sektor-sektor yang terdapat dalam perekonomian tersebut dan kekuatan-kekuatan pendorong yang berasal dari suatu sektor ke sektor lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Demikian pula pendekatan ini berusaha menjelaskan perubahan wilayah dalam jangka pendek (5 tahun) serta memperkirakan implikasinya bagi keputusan ekonomi.

3. Analisis Kedudukan dan Keterkaitan Sistem Prasarana Wilayah Perencanaan Dengan Wilayah Yang Lebih Luas

Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan, kawasan, kota atau wilayah (spatial space) sehingga memungkinkan ruang tersebut berfungsi sebagaimana mestinya. Infrastuktur metujuk pada sistem fisik yang menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas publik yang lain yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi (Grigg,1988 dalam Kodoatie,2005:8).

(40)

Fungsi prasarana adalah untuk melayani dan mendorong terwujudnya lingkungan permukiman dan lingkungan usaha yang optimal sesuai dengan fungsinya, upaya memperbaiki lingkungan membutuhkan keseimbangan antar tingkat kebutuhan masyarakat (Diwiryo,1996 dalam Juliawan, 2015:6)

4. Analisis Kedudukan Dan Keterkaitan Aspek Lingkungan (Pengelolaan Fisik Dan SDA) BWP Pada Wilayah Yang Lebih Luas Rencana pola ruang wilayah kota adalah rencana distribusi peruntukan ruang wilayah kota yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan budidaya kota, dirumuskan dengan kriteria salah satunya mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup wilayah kota. Dengan beberapa kebijakan yang diterapkan seperti pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup, pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup serta penetapan dan pengembangan kawasan strategis kota, dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi dan dari sudut kepentingan peletarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkunga hidup.

5. Analisis Kedudukan Dan Keterkaitan Aspek Pertahanan Dan Keamanan BWP;

Sesuai Undang-Undang RI No 34 Tahun 2004, Hankamrata adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta, yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, berkesinambungan dan berkelanjutan untuk menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan melindungi keselamatan segenap bangsa dari setiap ancaman.

6. Analisis Kedudukan Dan Keterkaitan Aspek Pendanaan BWP

Dalam arahan pemanfaatan ruang wilayah kota perwujudan rencana yang dijabarkan ke dalam indikasi program utama kota dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan sampai akhir tahun perencanaan (20 tahun) diantaranya berfungsi sebagai arahan untuk sector dalam penyusunan program utama (besaran, lokasi, sumber pendanaan, instansi pelaksana dan waktu pelaksanaan). Indikasi program

(41)

yang merupakan kunci dalam pencapaian tujuan penataan ruang, serta acuan sector dalam menyusun rencana strategis beserta besaran investasi.

7. Analisis Spesifik Terkait Kekhasan Kawasan

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, wilayah adalah ruang yan merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkaan administratif dan/ aspek fungsional.

Kekhasan wilayah terbagi atas dua, yakni wilayah formal (Uniform regional) berdasarkan keseragaman atau homogenitas dan wilayah fungsional (Nodal Region) berdasarkan heterogen. Wilayah formal adalah Wilayah yang dicirikan berdasarkan keseragaman atau homogenitas tertentu. Misalnya berdasarkan kriteria fisik atau alam maupun kriteria sosial budaya.

1. Wilayah formal berdasarkan kriteria fisik didasarkan pada kesamaan topografi, jenis batuan, iklim, dan vegetasi. Misalnya wilayah pegunungan kapur (karst), wilayah beriklim dingin, dan wilayah vegetasi mangrove.

2. Wilayah formal berdasarkan kriteria sosial budaya misalnya wilayah suku Banjar, wilayah industri tekstil, dan wilayah pertanian sawah basah.

Wilayah fungsional adalah Wilayah yang dicirikan dengan kegiatan yang saling berhubungan antara beberapa pusat kegiatan secara fungsional. Namun secara fungsional saling berhubungan dalam memenuhi kebutuhan hidup di setiap wilayah.

Analisis Fisik dan Lingkungan Analisis Kemampuan Lahan (SKL)

Analisis fisik dasar yang menjadi dasar analisis sektor-sektor lain adalah analisis kemampuan lahan. Analisis ini terdiri dari Satuan Kemampuan Lahan (SKL) yaitu SKL morfologi, SKL kemudahan dikerjakan, SKL kestabilan lereng, SKL kestabilan pondasi, SKL Ketersediaan air, SKL untuk drainase, SKL terhadap erosi, SKL pembuangan limbah, serta SKL terhadap bencana alam.

1. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Morfologi

SKL morfologi ini digunakan untuk mengetahui bentuk bentang alam/morfologi pada suatu wilayah atau kawasan perencanaan yang mampu untuk

(42)

dikembangkan sesuai dengan fungsinya. Untuk menentukan satuan kemampuan lahan morfologi atau SKL Morfologi, terdapat beberapa data yang dibutuhkan yaitu data morfologi dan kemiringan lereng. Setelah mendapatkan data tersebut, dilakukan skoring atau memberikan nilai pada masing-masing data menggunakan aplikasi argis atau Arc Map lalu menggunakan analisis overlay, kemudian didapatkan skor akhir dari kedua data tersebut. Data yang digunakan dalam SKL ini adalah data tingkart kelerengan, jenis batuan serta penggunaan lahan.

2. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kemudahan Dikerjakan

SKL Kemudahan Dikerjakan ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kemudahan suatu wilayah perencanaan atau BWP untuk dikerjakan, terutama dalam hal penggalian serta penimbunan dalam proses pembangunan. Data yang digunakan dalam SKL Kemudahan Dikerjakan ini adalah merupakan penggabungan data tingkat kelerengan, jenis batuan serta penggunaan lahan.

3. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Pembuangan Limbah

SKL Pembuangan Limbah ini dilakukan untuk mengetahui daerah-daerah mana saja dalam lingkup BWP bisa digunakan sebagai lokasi penampungan akhir dan pengolahan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair. Data yang digunkan dalam SKL Pembuangan Limbah ini adalah data morfologi, tingkat kelerengan, ketinggian, jenis batuan, hidrologi, serta penggunaan lahan.

4. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Drainase

SKL ini dihitung untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam mengalirkan air hujan secara alami. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan genangan yang akan timbul. SKL ini akan menunjukan daerah-daerah yang cenderung tergenang pada musim penghujan. Data yang digunakan pada SKL ini adalah data morfologi, tingkat kelerengan, ketinggian, jenis batuan, penggunaan lahan, serta klimatologi.

5. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Terhadap Bencana Alam

SKL Terhadap Bencana Alam ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan di suatu wilayah saat mengalami bencana alam untuk mengurangi dampak kerugian serta korban akibat bencana tersebut. Data yang digunakan dalam SKL ini adalah data morfologi, tingkat kelerengan, ketinggian,

(43)

6. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Ketersediaan Air

SKL Ketersediaan Air ini dihitung untuk mengetahui tingkat ketersediaan air guna pengembangan kawasan, mengingat ketersediaan air yang baik menjadi salah satu syarat dalam pengembangan kawasan permukiman. SKL ini juga dapat menunjukan kawasan mana saja yang memiliki potensi air yang baik sehingga dalam pembangunan daerah tersebut tidak boleh merusak atau mengganggu sumber daya air yang ada. Data yang digunakan dalam SKL ini adalah data tingkat kelerengan, jenis batuan, sebaran hidrologi, penggunaan lahan serta klimatologi.

Ketersediaan air di wilayah kajian tergolong tinggi. Hal ini mendukung untuk pengembangan wilayah. Namun dalam pemanfaaatannya harus memperhatikan lingkungan agar tidak terjadi ekspoitasi air secara besar-besaran.

7. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kestabilan Lereng

SKL ini dihitung untuk mengetahui seberapa besar tingkat kemantapan lereng suatu wilayah dalam menerima beban untuk dikembangkan. Hal ini terkait dengan SKL berikutnya yaitu SKL kestabilan pondasi. Setelah dilakukan perhitungan maka akan diketahui daerah-daerah mana saja yang berlereng cukup aman dikembangkan serta daerah mana yang tidak aman. Data yang digunakan dalam SKL ini adalah data morfologi, tingkat kelerengan, jenis batuan, curah hujan, air tanah, serta penggunaan lahan.

8. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Kestabilan Pondasi

SKL Kestabilan Pondasi ini dihitung untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan suatu wilayah untuk mendukung pembangunan bangunan berat terutama dalam pengembangan pusat-pusat kegiatan. Data yang digunakan dalam SKL ini adalah data tingkat kestabilan lereng, jenis tanah, jenis batuan, serta penggunaan lahan.

9. Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Terhadap Erosi

SKL Terhadap Erosi ini dihitung untuk mengetahui tingkat keterkikisan serta ketahanan tanah terhadap erosi di suatu wilayah. Data yang digunakan dalam SKL ini adalah data morfologi, tingkat kelerengan, jenis batuan, hidrologi, serta penggunaan lahan.

Erosi berarti mudah atau tidaknya lapisan tanah terbawa air atau angin.

Satuan Kemampuan Lahan (SKL) Terhadap Erosi merupakan satuan untuk

(44)

mengetahui tingkat keterkikisan tanah di wilayah atau kawasan perencanaan, mengetahui ketahanan lahan terhadap erosi, memperoleh gambaran batasan pada masing-masing tingkatan kemampuan terhadap erosi. Mengetahui daerah yang peka terhadap erosi dan perkiraan pengendapan hasil erosi tersebut pada bagian hilir.

Erosi yang ada pada umumnya adalah sangat rendah bahkan tidak ada erosi.

Hal ini mendukung untuk pengembangan tanah produktif pertanian. Erosi juga dapat mengakibatkan penurunan tingkat peresapan air oleh lapisan tanah sehingga erosi harus dihindari. Salah satu cara untuk mengurangi tingkat erosi adalah dengan pengembangan yang tidak bersifat eksploitatif yaitu dengan tidak mengubah secara besar-besaran fungsi alam eksistingnya seperti hutan.

Analisis Kemampuan Pengembangan Lahan

Analisis kemampuan pengembangan lahan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kemampuan lahan suatu wilayah untuk dikembangkan.

Analisis kemampuan pengembangan lahan menunjukan bagaimana suatu wilayah mampu mendukung pembangunan. Analisis kemampuan pengembangan lahan dapat digunakan sebagai acuan analisis berikutnya. Analisis kemampuan pengembangan lahan didapatkan dari perhitungan SKL-SKL yang sebelumnya sudah dilakukan diatas. SKL-SKL tersebut kemudian dikalikan dengan bobot yang ditentukan berdasarkan seberapa besar pengaruh SKL tersebut terhadap pengembangan kawasan.

Analisis Sosial Budaya dan Kependudukan

Analisis sosial budaya dilakukan untuk mengkaji kondisi sosial budaya masyarakat yang mempengaruhi pengembangan wilayah perencanaan seperti elemen-elemen kota yang memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi (urban heritage, langgam arsitektur, landmark kota) serta modal sosial dan budaya yang melekat pada masyarakat (adat istiadat) yang mungkin menghambat ataupun mendukung pembangunan, tingkat partisipasi/peran serta masyarakat dalam pembangunan, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, dan pergeseran nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat setempat.

(45)

Dalam menganilisis aspek sosial budaya, maka perlu diperhatikan bagaimana kebiasaan adat istiadat di wilayah tersebut, lembaga adat dan juga hukum pidana adat yang berlaku.

Adapun analisis kependudukan adalah analisis yang digunakan untuk memperkirakan jumlah penduduk yang akan datang dengan menggunakan rumus proyeksi penduduk serta kepadatan penduduk, Proyeksi penduduk merupakan perkiraan jumlah penduduk di masa yang akan datang dan analisis kepadatan penduduk adalah analisis yang digunakan untuk menunjukkan banyaknya penduduk yang tinggal dalam satu kilometer persegi wilayah. Sehingga dengan adanya hasil proyeksi tersebut dapat ditentukan jumlah kebutuhan sarana dan prasrana wilayah yang dapat melayani penduduk yang tinggal pada wilayah perencanaan.

Analisis Ekonomi dan Sektor Unggulan

Dalam menentukan sektor unggulan, maka ada beberapa metode analisis yang dapat digunakan, seperti analisis shift share dan LQ. Adapun penjelasan mengenai analisis tersebut sebagai berikut :

1. Analisis Shift share

Analisis shift share adalah analisis yang dilakukan untuk mengetahui perubahan dan pergeseran sektor tertentu pada perekonomian regional maupun lokal dibandingkan dengan perekonomian nasional dalam dua atau lebih kurun waktu tertentu. Kemudian untuk penggunaan dari analisis shift share ini sendiri dapat dispesifikasikan menjadi 2 yaitu untuk menganalisis dan mengetahui pergeseran dan peranan perekonomian di daerah serta Untuk menganalisis perubahan-perubahan berbagai indikator kegiatan.

Dengan analisis Shift-share dapat dijelaskan bahwa perubahan suatu variabel regional siatu sektor di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi oleh pertumbuhan nasional, bauran industri, dan keunggulan kompetitif (Bendavid-Val, 1983; Hoover, 1984).

(46)

Dij = Nij + Mij + Cij Keterangan:

Dij: perubahan suatu variabel regional sektor i di wilayah j dalam kurun waktu tertentu

Nij: komponen pertumbuhan provinsi/nasional sektor i di wilayah j Mij: bauran industri sektor i di wilayah j

Cij: keunggulan kompetitif sektor i di wilayah

Pertumbuhan ekonomi referensi provinsi atau nasional (national growth effect) merupakan share atau kontribusi komponen sektor i pada daerah yang diatasnya atau nasional terhadap pertumbuhan sektor i di daerah yang bersangkutan Pergeseran proporsional (proporsional shift) atau yang disebut juga pengaruh bauran industri (industry mix) menunjukkan perubahan relatif kinerja suatu sektor di daerah tertentu terhadap sektor yang sama di referensi provinsi atau nasional.

Dengan ketentuan jika Mij Positif maka pertumbuhan sektor i lebih cepat dibandingkan sektor sejenis di tingkat daerah yang diatasnya. Jika Mij Negatif maka pertumbuhan sektor i lebih lambat di bandingkan sektor sejenis di tingkat daerah yang di atasnya.

Pergeseran diferensial (differential shift) atau yang disebut juga pengaruh keunggulan kompetitif memberikan informasi dalam menentukan seberapa jauh daya saing industri daerah (lokal) dengan perekonomian yang dijadikan referensi.

Dengan ketentuan jika Cij positif maka sektor i memiliki daya saing yang lebih tinggi dibandingkan sektor sejenis di tingkat daerah yang diatasnya. Jika Cij negative maka sektor i memiliki daya saing yang lebih rendah dibandingkan dengan sektor sejenis di tingkat daerah yang di atasnya.

 Pengaruh pertumbuhan ekonomi referensi Nij = Eij x rn

 Pergeseran proporsional (proportional shift) atau pengaruh bauran industri

Mij = Eij (rin – rn)

 Pengaruh keunggulan kompetitif

Gambar

Tabel 2 Klimatologi Kecamatan Ulujadi
Tabel 3 Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Tabel 6 Banyaknya Usaha Industri menurut Golongan
Tabel 10 Sarana dan Prasana Ekonomi menurut Desa/Keluruhan dan jenisnya  Kelurahan  Minimarket/Swalayan  Toko  Kios/Warung  Jumlah  Donggla Kodi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Peta Jaringan Jalan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang 88 Gambar 136.. Peta Jaringan Transportasi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota

Muatan Rencana Tata Ruang Tujuan, Kebijakan dan Strategi Konsep Pengembangan Kawasan Arahan Pemanfaatan Ruang Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pengelolaan Kawasan

Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah yang selanjutnya disingkat RTRW Provinsi Jawa Tengah adalah arahan kebijaksanaan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah daerah

Rencana Tata Ruang Wilayah sendiri dimulai dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang disebut RTRWN dengan skala minimal 1:1.000.000 yaitu arahan kebijakan dan

Distribusi intensitas pemanfaatan lahan Kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Karawang mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Karawang dan rencana zonasi di

Muatan Rencana Tata Ruang Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Konsep Pengembangan Arahan Pemanfaatan Ruang Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pengelolaan

Muatan Rencana Tata Ruang Tujuan, Kebijakan dan Strategi Konsep Pengembangan Kawasan Arahan Pemanfaatan Ruang Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pengelolaan Kawasan

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung Tahun 2011-2031.. Kemampuan lahan dan pemanfaatan ruang pulau bunaken