PARLEMEN, DEMOKRASI, DAN KORUPSI DALAM PANDEMI
4.3. MENGURAI CHECKS AND BALANCES DALAM PROSES LEGISLASI DI INDONESIA
4.3.1. Absennya Checks and Balances dalam Legislasi Masa Pandemi
Perlunya mekanisme checks and balances dalam tata kelola pe- merintahan sering kali dikaitkan dengan konsep klasik pem- bagian cabang kekuasaan (separation of powers) yang diutarakan oleh Montesquieu. Alasannya, setiap cabang kekuasaan, teru- tama legislatif dan eksekutif, berkepentingan untuk mening- katkan pengaruhnya dalam pemerintahan, baik dengan me- ngikis kompetensi dari kewenangan badan lain, atau dengan
21 Sulardi, “Mewujudkan Checks and Balances dalam Penyusunan Undang-Undang”, Masalah-Masalah Hukum, Jilid 42, No. 2, 2013. Tautan: https://bit.ly/3hgNJVK.
22 Al Atok, “Checks and Balances dalam Pembentukan Undang-Undang dengan Sistem Bikameral di 5 (Lima) Negara Kesatuan”, Jurnal Legislasi Indonesia, Vol 13, No. 3, 2016. Tautan: https://bit.ly/3joBx81.
memperluas kewenangannya untuk hal-hal yang tidak diatur secara spesifik dalam konstitusi.23
Pergerakan cabang eksekutif dan legislatif terkait kewenan- gan mereka masing-masing telah memicu respons cabang ke- kuasaan lain, yakni cabang yudisial, yang menentang pengu- rangan pengaruh relatif mereka. Upaya pengendalian timbal balik di antara kekuasaan pemerintah inilah yang saat ini kita kenal dengan checks and balances. Dalam kerangka konstitu- sional, peran dari lembaga yudisial adalah untuk menjaga ke- seimbangan kekuasaan dengan cabang-cabang lain sekaligus meredam penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh cabang-cabang lain.
Checks and balances diwujudkan dengan jalan lembaga legislatif mengawasi arah kebijakan pemerintah, rancangan serta realisasi anggaran negara, dan dalam kerangka legislasi bersama lembaga eksekutif membahas suatu rancangan Undang-Un- dang. Rancangan anggaran negara dan Undang-Undang diim- plementasikan oleh eksekutif dengan pengawasan oleh legisla- tif. Sementara itu, lembaga yudisial memutus perkara terkait pengujian suatu peraturan perundang-undangan.
Hubungan antara eksekutif dan legislatif menentukan karakter politik nasional dan sistem politik yang lebih luas, khususnya jika dikaitkan dengan legislasi. Pembahasan bersama suatu RUU antara DPR dan pemerintah dapat menjadi salah satu batu uji bagaimana pelaksanaan checks and balances DPR
23 Nadia Fiorino dan Fabio Padovano, “Judicial Branch, Check and Balances and Political Accountability”, makalah pada seminar yang diadakan oleh Center for Economics of Institutions of the University of Roma Tre and at the 2001 Annual Meeting of the European Public Choice Society, DOI: 10.1023/A:1022347908667.
terhadap pemerintah dalam legislasi. Bivitri Susanti dkk. meng- artikan legislasi sebagai proses sekaligus produk; merupakan salah satu mekanisme dalam pengelolaan kenegaraan dan ke- masyarakatan.24 Oleh karena itu, legislasi semestinya mampu menggambarkan kekuatan-kekuatan yang memegang kemudi kekuasaan, arus ide yang dominan, hingga kepentingan politik yang ada, dan ke mana arahnya.25
Namun, legislasi yang berjalan akhir-akhir ini, khususnya pada periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi, menunjuk- kan kuatnya dominasi eksekutif dibandingkan legislatif. Kondi- si pemerintah yang didukung oleh mayoritas partai politik di DPR berpotensi mengikis fungsi kontrol DPR terhadap peme- rintah. Namun, di lain pihak, presiden sebagai kepala pemer- intahan tertawan dalam kepentingan partai politik pendukung- nya di DPR.26
Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) mencatat absennya pelaksanaan mekanisme kontrol dari bebe- rapa kondisi.27 Pertama, upaya partai koalisi yang membagikan kursi pimpinan kepada oposisi di parlemen. Kedua, proses pem- bahasan dan pengesahan suatu RUU sangat cepat tanpa me- nyerap aspirasi masyarakat secara optimal. Dalam pembahasan- nya, tidak tampak adanya perbedaan pendapat ataupun kritik
24 Bivitri Susanti dkk., Catatan PSHK tentang Kinerja Legislasi DPR 2005, Jakarta:
PSHK, 2006, hlm. 14.
25 Ibid.
26 Kartika Saraswati, “Refleksi Sistem Pemerintahan Indonesia dalam Legislasi”, hukumonline.com, 2 November 2020. Tautan: https://bit.ly/3aljydl. Terakhir diakses pada 19 April 2021.
27 Sania Mashabi, “Formappi: DPR Sekarang Hampir Sama dengan Era Orde Baru”, kompas.com, 25 Juni 2020. Tautan: https://bit.ly/3e8oAuI. Terakhir diakses pada 17 Januari 2021.
atas suatu RUU yang diajukan oleh pemerintah. DPR dinilai sebagai lembaga yang memberikan legitimasi atas kebijakan pemerintah tanpa menjalankan fungsi kontrol.
PSHK menyoroti proses legislasi yang minim checks and balances, setidaknya, terhadap tiga Undang-Undang: (1) Un- dang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Perppu Kebijakan Keuangan Penanganan Pandemi Covid-19; (2) Un- dang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas UU Minerba; dan (3) UU Cipta Kerja.
Dalam mengatur kesiapan negara menghadapi pandemi Covid-19, Presiden Jokowi mengeluarkan suatu Perppu yang berfokus pada perekonomian. Perppu itu diterima oleh DPR secara aklamasi tanpa mempertimbangkan menguatnya ke- wenangan presiden terkait perubahan postur anggaran dalam APBN. Sementara itu, Perkumpulan Masyarakat Anti Korup- si Indonesia (MAKI), Yayasan Bintang Solo Indonesia 1997, dan tiga organisasi lainnya mengajukan permohonan uji mate- riil atas Perppu itu di MK.28
Pemohon beralasan, Perppu tersebut tidak memenuhi pa- rameter adanya “kegentingan yang memaksa” sebagaimana ditentukan dalam Putusan MK Nomor 138/PUU-VII/2009.
Selain itu, para pemohon juga menilai Perppu membuka pe- luang defisit anggaran di atas 3% Produk Domestik Bruto (PDB) tanpa menentukan batasan maksimalnya. Secara lang- sung, ketentuan itu akan membatasi daya ikat kewenangan DPR untuk memberikan persetujuan APBN. Para pemohon
28 “Pemerintah Akui Sahkan Perppu Penanganan Covid-19 Menjadi Undang-Undang”, mkri.id, 20 Mei 2020. Tautan: https://bit.ly/3tAHBMQ. Terakhir diakses pada 17 Januari 2021.
juga beranggapan bahwa ketentuan Pasal 27 ayat (1) Perppu membuka potensi tindak pidana korupsi.29
Dari sisi DPR, Fraksi PKS menjadi satu-satunya dari sem- bilan fraksi di DPR yang menolak Perppu dengan alasan po- tensi pelanggaran konstitusi, yakni kekuasaan pemerintah da- lam penetapan APBN yang mereduksi kewenangan DPR. Pasal 23 UUD 1945 mengatur bahwa kedudukan dan status APBN adalah Undang-Undang yang ditetapkan setiap tahun dengan mekanisme Rancangan APBN (RAPBN) dan harus diajukan presiden untuk dibahas dan disetujui oleh DPR. Presiden PKS Sohibul Iman meminta DPR tidak menjadi tukang stempel pada semua kebijakan pemerintah dan harus bersikap kritis dan rasional sebagai kekuatan penyeimbang pemerintah.30 Kondisi itu, menurut Zainal Arifin Mochtar, menunjukkan matinya oposisi di parlemen.31
Tak jauh berbeda, dalam pembahasan RUU Minerba, pro- ses yang berjalan juga menunjukkan tidak berjalannya fungsi checks and balances. RUU Minerba merupakan salah satu RUU yang dibahas dengan menggunakan mekanisme carry over.
Namun, berdasarkan catatan rapat yang ada,32 mekanisme per- syaratan carry over tidak terpenuhi karena pada periode DPR
29 Ibid.
30 Haryanti Puspa Sari, “PKS Nilai Perppu Covid-19 Berpotensi Munculkan
Otoritarianisme”, kompas.com, 23 April 2020. Tautan: https://bit.ly/3efinNr. Terakhir diakses pada 19 April 2021.
31 Zainal Arifin Mochtar, “Elegi Hukum dan Pemerintahan”, mediaindonesia.com, 21 Desember 2020. Tautan: https://bit.ly/3suNdH9. Terakhir diakses pada 17 Januari 2021
32 Badan Legislasi DPR, “Kronologis Proses Penyusunan hingga Pembahasan RUU Perubahan atas UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”, dpr.go.id, 15 Mei 2020. Tautan: https://bit.ly/3x70B80. Terakhir diakses pada 19 April 2021.
2014–2019 DIM RUU itu yang disampaikan pemerintah belum pernah dibahas satu kali pun.
Tidak ketatnya pelaksanaan mekanisme kontrol dalam legislasi RUU Minerba diperparah dengan minimnya partisi- pasi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam pembahasan yang dilakukan pada awal merebaknya pandemi Covid-19.
Keterlibatan DPD dalam pembahasan RUU Minerba merupa- kan amanat Pasal 22D UUD 1945 dan Pasal 249 Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3).33 Selain itu, Putusan MK Nomor 92/
PUU-X/2012 menyatakan bahwa apabila RUU diajukan oleh DPR, maka presiden dan DPD mengajukan DIM. Namun, dalam proses pembahasan RUU Minerba, DPD tidak menyu- sun dan menyampaikan DIM kepada DPR.
Tak lengkap menguraikan ketidakoptimalan pelaksanaan mekanisme checks and balances dalam proses legislasi tanpa menyebutkan perjalanan RUU Cipta Kerja menjadi Undang- Undang. Secara gamblang, publik dapat melihat UU Cipta Kerja memuat substansi pengaturan yang tidak sesuai dengan judul, membentuk ratusan aturan delegasi yang bertentangan dengan semangat deregulasi, serta menyelipkan ketentuan per- pajakan yang sebelumnya tidak pernah dibahas.34
Dari sisi proses, kilatnya pembahasan, pelaksanaan rapat yang dilakukan di masa reses dan di luar jam kerja, serta tidak terpublikasikannya draf yang sedang dibahas, telah menutup
33 Ahmad Redi, “Menguji Konstitusionalitas UU Minerba”, kontan.co.id, 15 Mei 2020.
Tautan: https://bit.ly/3e9eXfg. Terakhir diakses pada 19 April 2021.
34 Nabila Jusuf, “Selain Cipta Kerja, ada tiga omnibus law lain yang menunggu disahkan. Apa layak diteruskan?”, theconversation.com, 16 Oktober 2020. Tautan:
https://bit.ly/3dwiuVG. Terakhir diakses pada 19 April 2021.
ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses le- gislasi.35 Pemerintah dan DPR seakan-akan berlari sambil ber- gandengan tangan dalam memuluskan perjalanan RUU Cipta Kerja menjadi Undang-Undang, mengabaikan luasnya peno- lakan masyarakat lewat berbagai medium: mulai dari diskusi, petisi, rilis media, hingga aksi unjuk rasa.
Proses legislasi ketiga RUU tersebut menunjukkan apa yang disebut Nancy Bermeo sebagai fenomena pembalikan demokra- si (democratic backsliding). Apabila di masa lampau penunggang- an pemerintahan lazim dilakukan melalui kudeta; beberapa waktu belakangan, proses penunggangan dilakukan menggu- nakan institusi-institusi demokrasi dari aktor-aktor demokrasi itu sendiri.36
4.3.2. Menumpu Legislasi pada Lembaga Yudisial