MENGURAI UNDANG-UNDANG
2.6. UNDANG-UNDANG TENTANG CIPTA KERJA Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja
2.6.2. Kontroversi Perubahan Materi dan Pengabaian Prosedur
Kerja, UU Minerba juga ikut direvisi oleh Komisi VII DPR dan diketok palu pada 12 Mei 2020.
Revisi sebuah Undang-Undang melalui dua proses secara paralel dalam masa sidang yang sama menunjukkan adanya tumpang tindih dalam agenda legislasi. Meskipun pendekatan multisektor dalam proses pembentukan Undang-Undang ada- lah suatu hal yang baik, tetapi dalam kasus revisi UU Minerba yang terjadi adalah inkonsistensi lantaran pembahasan tersebut dilakukan secara terpisah; satu dilakukan oleh Komisi VII dan yang lain oleh Badan Legislasi dalam kerangka RUU Cipta Kerja.
2.6.2. Kontroversi Perubahan Materi
negatif yang akan timbul pada saat Undang-Undang diberlaku- kan. Contoh-contoh terkait isu ketenagakerjaan, lingkungan, dan minerba di atas menjadi bukti bahwa kompleksitas materi RUU tetap tidak mengubah sikap pemerintah dan DPR untuk menyelenggarakan proses pembahasan menjadi lebih partisipa- tif.
Belum selesai dengan sejumlah isu bermasalah tersebut, materi soal perpajakan tiba-tiba masuk di beberapa hari terak- hir masa pembahasan. Perubahan atas UU Pajak Penghasilan, UU Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Pen- jualan atas Barang Mewah, UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, serta UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menambah jumlah regulasi yang direvisi, dari 79 menjadi 80 Undang-Undang. Hingga akhirnya, draf RUU Cipta Kerja disetujui menjadi Undang-Undang oleh pemerintah dan DPR pada 5 Oktober 2020.
Patut dicatat bahwa materi revisi empat Undang-Undang bidang perpajakan tersebut tidak berasal dari Naskah Akademik UU Cipta Kerja yang disampaikan pemerintah kepada DPR bulan Februari 2020. Materi itu berasal dari draf RUU yang berbeda, yakni RUU Ketentuan Umum dan Fasilitas Perpajak- an untuk Penguatan Perekonomian yang juga didesain dalam bentuk omnibus. Dengan demikian, kedua draf RUU itu se- sungguhnya memiliki landasan sosiologis, filosofis, serta yuridis yang berbeda satu sama lain, sehingga sulit untuk menganalisis keduanya sebagai satu kesatuan dalam UU Cipta Kerja.
Dari segi kepatuhan terhadap asas-asas hukum pun, se- jumlah materi dalam UU Cipta Kerja terbilang bermasalah.
Beberapa indikator dasar pembentukan perundang-perundang- an yang mensyaratkan partisipasi publik dan ketaatan terhadap
prinsip hukum umum, seperti peraturan yang lebih rendah tidak boleh mengatur peraturan yang lebih tinggi, terlihat di- langgar sejak tahap penyusunan hingga pembahasan.
Pelanggaran prinsip tersebut, misalnya, tergambar dalam Pasal 170 yang menyatakan bahwa presiden dapat membentuk Peraturan Pemerintah untuk mengubah Undang-Undang yang materinya bertentangan dengan UU Cipta Kerja. Contoh lain, Pasal 166 mengatur bahwa presiden dapat menerbitkan Pera- turan Presiden untuk membatalkan Peraturan Daerah. Padahal, mekanisme pembatalan Peraturan Daerah oleh pemerintah pusat telah dinyatakan inkonstitusional oleh Mahkamah Kon- stitusi melalui Putusan Nomor 56/PUU-XIV/2016 terkait uji materi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pe- merintahan Daerah.
Pengabaian prinsip juga terjadi dalam konteks partisipasi publik. Rapat-rapat pembahasan yang bersifat terbuka hanya dapat diakses melalui akun milik DPR pada kanal media daring YouTube ataupun platform rapat virtual Zoom. Kedua jalur itu dipilih DPR untuk mengurangi mobilitas maupun interaksi fisik dalam situasi pandemi Covid-19. Namun, pilihan format pertemuan yang terbatas tersebut mengakibatkan semakin ter- batas pula akses sejumlah pemangku kepentingan tertentu, misalnya kelompok penyandang disabilitas dan kelompok ma- syarakat adat, untuk dapat terlibat dalam proses pembahasan.95
95 Alfian Putra Abdi, “UU Cipta Kerja Cermin Negara Tak Ramah ke Penyandang Disabilitas”, tirto.id, 17 Oktober 2020. Tautan: https://bit.ly/3g89nwl. Terakhir diakses pada 15 April 2021. Lihat juga, R. Yando Zakaria, “Omnibus Law untuk Masyarakat Adat”, Majalah Tempo, edisi 7 Desember 2019. Tautan:https://bit.ly/3wYn6vK.
Terakhir diakses pada 15 April 2021.
Terlebih lagi, sejumlah rapat acap kali berlangsung tertu- tup dan dilaksanakan di ruang-ruang hotel, sehingga semakin menjauhkan proses pembahasan dari kalangan pemangku ke- pentingan yang sejatinya amat terdampak langsung dari UU Cipta Kerja. Ruang pelibatan yang sejak semula sudah terbatas, ditambah situasi pandemi, membuat proses pembahasan seolah- olah menciptakan dinding tinggi yang tak tertembus oleh me- reka yang terpinggirkan.96
Seakan-akan melengkapi proses penyusunan dan pemba- hasan yang mencederai prinsip-prinsip pembentukan Undang- Undang, pendekatan keamanan yang dilakukan aparat penegak hukum terhadap demonstrasi penolak RUU Cipta Kerja pun semakin tak terkendali.97 Selain melakukan kekerasan terhadap demonstran di berbagai kota di Indonesia, aparat penegak hu- kum juga melakukan ancaman kepada pelajar yang turun ke jalan menolak RUU Cipta Kerja.98
Pengabaian terhadap prosedur kembali terjadi menjelang persetujuan bersama dalam rapat paripurna DPR dan pemerin- tah tanggal 5 Oktober 2020. Seluruh Anggota Fraksi Partai Demokrat, yang bersama Fraksi PKS menolak menyetujui RUU itu, walk-out dari ruang sidang. Dalam situasi tidak tercapai- nya musyawarah mufakat seperti itu, Pasal 308 ayat (3) Peratur-
96 Abdi, loc. cit. Lihat juga, R. Yando Zakaria, “Omnibus Law untuk Masyarakat Adat”, Majalah Tempo, edisi 7 Desember 2019. Tautan:https://bit.ly/3wYn6vK. Terakhir diakses pada 15 April 2021.
97 BBC News, “Omnibus Law: Demo tolak UU Cipta Kerja di 18 provinsi diwarnai kekerasan, YLBHI: ‘Polisi melakukan pelanggaran’, bbc.com, 9 Oktober 2020.
Tautan: https://bbc.in/3tk7pwD. Terakhir diakses pada 15 April 2021.
98 Riyan Setiawan, “Cara Polisi & Pemerintah Ancam Pelajar yang Terlibat Demo Ciptaker”, tirto.id, 16 Oktober 2020. Tautan: https://bit.ly/3gcr268. Terakhir diakses pada 15 April 2021.
an Tata Tertib DPR telah memberikan jalan keluar berupa mekanisme pengambilan keputusan berdasarkan suara terba- nyak. Namun, pimpinan rapat justru mengabaikan penolakan dan aksi walk-out tersebut dan tetap menyatakan bahwa DPR menyetujui RUU Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.99
2.6.3. Naskah yang Terus Berubah