• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adapun asas-asas dalam Hukum Perikatan Islam

BAB III PEMBAHASAN

B. Analisis Tinjauan Fiqh Muamalah Terhadap Praktek Jual Beli

4. Adapun asas-asas dalam Hukum Perikatan Islam

a. Asas Ilahiyah

Hubungan muamalah yang terjalin antara sesama manusia sejatinya merupakan perkara yang bertujuan untuk mencari dan mencapai keridhaan Allah swt. Asas Ilahiyah bertujuan agar para pihak yang melakukan perikatan haruslah menghadirkan perasaan bahwa segala tingkah laku dan perbuatan yang dilakukan tidak akan luput dari pengawasan Allah swt.83 Dengan demikian, setiap perbuatan yang dilakukan manusia akan senantiasa memperoleh balasan dari Allah swt.

82 Abu Dáwúd al-Sijistáni, Sunan Abi Dáwúd, Jilid II (Bairut-Lebanon: Dar Al-Kotob Al- Ilmiyah, 2011), hlm. 461.

83 Gemala, Hukum Perikatan, hlm. 31.

sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur‟an surat al-Zalzalah (99) ayat 7 dan 8 yang menegaskan bahwa:





























Artinya: “Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zárrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zárrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”84

b. Asas Kebebasan

Para pihak memiliki kebebasan untuk melakukan perjanjian, baik itu tentang objek perjanjian dan segala ketentuan yang diatur di dalamnya.Kebebasan menentukan syarat dan ketentuan perjanjian ini dibenarkan selama tidak bertentangan dengan ketentuan syariat Islam.

Tujuan asas ini adalah untuk menjaga agar tidak terjadi kezaliman bagi para pihak dikarenakan oleh ketentuan yang telah dibuat pada awal akad.85 Akan tetapi dalam praktiknya terdapat oknum penjual yang melakukan kecurangan atau penipuan dengan cara memotong ulang setiap batang dan akar pohon agar terlihat seperti pohon yang baru diburu atau diambil dari alam, sehingga menimbulkan kerugian yang nyata bagi pihak pembeli.

84Departemen, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, hlm. 599.

85 Abdul, Hukum Ekonomi, hlm. 75.

c. Asas Kesetaraan

Asas ini memberikan landasan bahwa kedua belah pihak, baik itu pemilik modal dan pengelola mempunyai kedudukan yang sama satu sama lain, yaitu sebagai partnership atau rekan kerja. Asas ini menunjukkan bahwa di antara para pihak yang berakad mempunyai kedudukan yang setara.86

Asas ini menunjukkan bahwa di antara para pihak yang berakad masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sehingga satu sama lain dapat saling melengkapi, yang mana dalam hal inipenjual memiliki pohon dan pembeli memiliki uang.

Asas ini memungkinkan para pihak untuk bermusyawarah terlebih dahulu dalam menentukan isi perjanjian, agar isi perjanjian benar-benar sesuai dengan kehendak para pihak yang sebelumnya diperoleh dari kegiatan tawar menawar guna mencapai kata sepakat.

d. Asas Keadilan

Dalam pelaksanaana perjanjian yang telah disepakati oleh para pihak harus mengutamakan keadilan agar tidak ada pihak yang dizalimi atau dirugikan.87 Meskipun perikatan jual beli ini merupakan transaksi yang lumrah dan sudah biasa diterapkan oleh masyarakat Desa Karang Dima, akan tetapi tidak menutup kemungkinan bagi para pihak untuk menerima perubahan terhadap ketentuan dan isi perjanjian yang dibuatnya guna mengarah pada ketentuan yang lebih baik dan berkeadilan. Sebagaimana

86Muhammad, Konstruksi Mudharabah, hlm. 54.

87Ibid., hlm. 78.

dijelaskan oleh Allah swt.di dalam al-Qur‟an surat al-„Araf (7) ayat 29 yang berbunyi:



































Artinya: “Katakanlah, “Tuhanku menyuruh supaya berlaku adil.”

Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya.Kamu akan di kembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”88

Adil merupakan nilai dasar yang belaku dalam kehidupan sosial dan keadilan adalah pusat orientasi dalam interaksi antar sesama manusia. Jika keadilan dilanggar, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam pergaulan hidup. Sebab satu pihak akan dirugikan atau terzalimi.

e. Asas Kerelaan atau Kesepakatan

Asas ini menyatakan bahwa semua perikatan yang dilakukan oleh para pihak harus didasarkan pada kerelaan para pihak yang membuatnya.Kerelaan para pihak yang berkontrak adalah jiwa setiap kontrak yang islami dan dianggap sebagai syarat terwujudnya semua transaksi. Kerelaan merupakan sikap batin yang abstrak, sehingga untuk mengetahuinya harus dilakukan dengan ijab kabul yang dibuat secara jelas dan rinci.89

88Departemen, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, hlm. 153.

89 Abdul, Hukum Ekonomi, hlm. 79.

Apabila asas kerelaan ini tidak terpenuhi, maka perikatan yang dibuat tersebut telah dilakukan dengan cara yang batil atau tidak benar.

Dalam sebuah hadits juga diterangkan bahwa:

ِزيِزَعْلاُدْبَعاَنَ ث ،ٍدمَُُ ُنب ُناَوْرَماَنَ ث ،ىِقْشَمدلا ِديِلَوْلا ُنب ُسابَعْلااَنَ ثدَح ْنَع ،ٍدمَُُ ُنب

ُلوُسَر َلاَق :ُلْوُقَ ي ىِرْدُْْاٍدْيِعَساَبَأ ُتْعََِ :َلاَق ،ِهيِبَأ ْنَع ،ِِِ َدَمْلا ٍحِلاَص ُنب َدُواَد .ََ ٍضاَرَ ت ْنَع ُعْيَ بْلااََِإُ :ملَسَو ِهْيَلَع ُهّللا لَص ِهّللا

Artinya: “Telah menceritakan kepadaku „Abbas Ibnu Walid Dimasyqi, menceritakan kepadaku Marwan Ibnu Muhammad, menceritakan kepadaku „Abdul „Aziz Ibnu Muhammad, dari Dawud Ibnu Shálih al-Madi, dari bapaknya, berkata telah mengabarkan dari Abása‟id al-Khudri, berkata Rasulullah saw bersabda bahwa

“Jual beli dilakukan atas dasar kerelaan.” (HR. Ibnu Majah).90

f. Asas Kemaslahatan

Dengan asas kemaslahatan dimaksudkan bahwa akad yang dibuat oleh para pihak bertujuan untuk mendatangkan kemaslahatan bagi mereka, dan tidak boleh menimbulkan kerugian atau keadaan yang memberatkan.91. g. Asas Tertulis dan Kesaksian

Asas lain yang perlu dilakukan ketika mengadakan perjanjian usaha adalah harus tertulis disertai kehadiran para saksi untuk menjaga para pihak agar selalu ingat atas isi perjanjian yang telah dibentuk, guna tidak terjadi permasalahan dikemudian hari. Namun sejatinya hukum Islam juga membolehkan para pihak untuk melakukan perjanjian secara lisan.92

90 Majah, Sunan Ibnu, hlm. 30.

91 Syamsul, Hukum Perjanjian, hlm. 90.

92Ibid., hlm. 17.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka transaksi jual beli yang dilakukan antara penjual dan pembeli merupakan akad yang sah. Namun pada transaksi tersebut terdapat ketentuan yang telah melanggar beberapa asas dalam hukum perikatan Islam yang mengakibatkan perjanjian kerja sama tersebut termasuk dalam jenis akad yang fasid.

BAB IV PENUTUP

A.Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Praktik jual beli pohon Santigi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: pertama eceran, kedua borongan dan ketiga pemesanan.

2. Tinjauan fiqh muamalah terhadap praktek jual beli pohon Santigi dapat dibenarkan dalam hukum Islam karena sudah memenuhi rukun dan syarat jual beli. Namun demikian, karena ada praktik ketidakjelasan atau gharar di dalamnya menyebabkan praktik jual beli tersebut mejadi tidak bolah atau menjadi haram.

B. Saran

1. Saran- saran untuk pembeli

Kepada para pembeli pohon Santigi hendaknya mengetahui apa dampak negatif dari pembelian pohon Santigi karena pohon Santigi merupakan bonsai yang tingkat kehidupannya cukup rawan. Berhubungan dengan masalah-masalah yang sering terjadi dalam praktek jual beli pohon Santigi sebaiknya pihak pembeli lebih berhati-hati untuk membeli pohon Santigi yang baru diambil dari alamnya.

71

2. Saran-saran untuk penjual

Kepada pihak penjual hendaknya berlaku jujur dan adil, dan berkatalah dengan perkataan yang benar sebab Allah swt. memberi berkah kepada orang yang seperti itu. Dan sebaliknya perilaku yang tidak jujur dan adil adalah perbuatan yang tidak di berkahi Allah swt.

DAFTAR PUSTAKA

Afifuddin dan Saebani Ahmad Beni, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

Pustaka Setia, 2012.

Anwar Syamsul, Hukum Perjanjian Syariah. Jakarta: Rajawali Pers, 2010.

Al-Sijistáni Dawud Abu, Sunan Abi Dáwúd, Jilid II. Bairut-Lebanon: Dar Al-Kotob Al- Ilmiyah, 2011.

Aziz Abdul dan Azzam Muhammad, Fiqh Muamalat. Jakarta: Amzah, 2010.

Djuwaini Diyauddin, Pengantar Fiqh Muamalah. Yogyakarta: Pustaka Belajar,2008.

Ghazly Rahman Abdul, dkk, Fiqh Muamalat. Jakarta: Prenadamedia Group, 2010.

Gunawan Imam, Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara, 2015.

Majah Ibnu Al-Ímam, Sunan Ibnu Majah. Jilid III. Bairut Lebanon: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2009.

Mardani, Hukum Ekonomi Syari‟ah. Jakarta: Kencana, 2012.

Masadi A. Ghufron, Fiqh Muamalah Kontekstual. Jakarta: Rajawali Pers, 2002.

Mudjib Abdul, Kaidah-Kaidah Ilmu Fiqih (al-Qowa‟idul Fiqhiyyah). Jakarta: Kalam Mulia, 2016.

Narbuko Cholid dan Achmadi Abu, Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara, 2015.

Nawawi Ismail, Fiqh Muamalah. Bogor: Ghalia Indonesia, 2012.

Qasim Amrizal, Pengamalan Fiqh I. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2014.

Ruslan Rosady, Metode penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta:

Rajawali Pers, 2006.

Sabiq Sayyid, Fiqh al-Sunah. Juz III. Jakarta: Cakrawala Publishing, 2009.

Sayid Salim bis Kamal Malik Abu, Shahih Fikih Sunnah. Jilid IV, ter. Khairul Amru Harahap dan Faisal Saleh. Jakarta: Pustaka Azzam, 2007

Sugeng Wardoyo, Wawancara, Desa Karang Dima Sumbawa, 29 Desember 2018.

Suhendi Hendi, Fiqh Muamalah. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.

Tafsir Al-Qura‟an Al- Karim, Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al- Qur‟an, 2016.

Zuhdi Harfin Muhammad, Muqaranah Mazahib Fil Muamalah. Mataram:

Sanabil, 2015.

LAMPIRAN

PEDOMAN WAWANCARA INFORMAN

Identitas penjuan/pembeli pohon Santigi

Nama :

Umur :

Pekerjaan :

Alamat/kelurahan :

Daftar pertanyaan :

1. Dimana bapak/ibu melakukan jual beli pohon Santigi ? 2. Kapan dilakukan jual beli pohon Santigi ?

3. Sudah berapa lama bapak/ibu melakukan transaksi seperti ini ? 4. Apakah ada surat perjanjian dalam praktek jual beli pohon Santigi ?

5. Apakah ada pihak lain yang bersangkutan saat melakukan transaksi selain penjual dan pembeli ?

6. Bagaimana cara transaksi jual beli pohon Santigi ?

7. Bagaimana praktik jual beli pohon Santigi di Desa Karang Dima ? 8. Mengapa bapak/ibu memilih melakukan jual beli pohon Santigi ? 9. Apa keuntungan yang bapak/ibu dapatkan dari jual beli pohon Santigi ? 10. Adakah kerugian dalam melakukan transaksi jual beli pohon Santigi ?

11. Jika ternyata pohon Santigi mati, apakah ada resiko yang didapatkan oleh bapak/ibu?

PEDOMAN WAWANCARA INFORMAN PENDUKUNG

Nama :

Umur :

Pekerjaan :

Alamat/kelurahan : Bertindak sebagai :

Daftar pertanyaan :

1. Apakah bapak/ibu mengetahui tentang adanya praktik jual beli pohon Santigi yang terjadi di Desa Karang Dima ?

2. Sejak kapan bapak/ibu mengetahui tentang adanya praktik jual beli pohon Santigi yang terjadi di Desa Karang Dima ?

3. Apakah praktik jual beli pohon Santigi masih terus dilakukan ?

4. Bagaimana tanggapan bapak/ibu mengenai praktik jual beli pohon Santigi yang terjadi di Desa Karang Dima ?

5. Apakah bapak/ibu mengetahui adanya hukum Islam yang terkait dengan jual beli pohon Santigi ?

6. Sejauh ini apakah ada permasalahan yang terjadi terkait jual beli pohon Santigi ?

Dokumen terkait