BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teoritik
2. Jual Beli
Jual beli atau perdagangan dalam istilah fiqh disebut al-ba‟i yang menurut etimologi berarti menjual atau mengganti.23Dikatakan ba‟a asy- syaia jika dia mengeluarkannya dari hak miliknya, dan ba‟ahu jika dia membelinya dan memasukannya kedalam hak miliknya. Demikian juga dengan perkataan syara‟ artinya mengambil dan syara‟ yang berarti menjual.24
21 Ghufron, Fiqh Muamalah…,hlm. 103-104.
22Ibid., hlm. 108.
23 Abdul Rahman Ghazly, dkk, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2010), hlm. 67.
24 Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 23.
b. Dasar Hukum Jual Beli 1) Al-Quran
Artinya:“Padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba(QS. Al-Baqarah 275).
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, sebab jual beli harus menguntungkan antara kedua belah pihak (pembeli dan penjual), karena riba sangat merugikan salah satu pihak.25
2) Dalam sebuah hadits juga diterangkan bahwa:
ِلَوْلا ُنب ُسابَعْلااَنَ ثدَح ،ٍدمَُُ ُنب ِزيِزَعْلاُدْبَعاَنَ ث ،ٍدمَُُ ُنب ُناَوْرَماَنَ ث ،ىِقْشَمدلا ِدي
َلاَق :ُلْوُقَ ي ىِرْدُْْاٍدْيِعَساَبَأ ُتْعََِ :َلاَق ،ِهيِبَأ ْنَع ،ِِِ َدَمْلا ٍحِلاَص ُنب َدُواَد ْنَع َ بْلااََِإُ :ملَسَو ِهْيَلَع ُهّللا لَص ِهّللا ُلوُسَر .ََ ٍضاَرَ ت ْنَع ُعْي
Artinya:“Telah menceritakan kepadaku „Abbas Ibnu Walid Dimasyqi, menceritakan kepadaku Marwan Ibnu Muhammad, menceritakan kepadaku „Abdul „Aziz Ibnu Muhammad, dari Dawud Ibnu Shálih al-Madi, dari bapaknya, berkata telah mengabarkan dari Abása‟id al-Khudri, berkata Rasulullah saw bersabda bahwa “perniagaan dilakukan atas dasar kerelaan.” (HR. Ibnu Majah).26
25 Tafsir Al-Qura‟an Al- Karim…, hlm. 129-130.
26Al-Ímam Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah. Jilid III, (Bairut Lebanon: Dar al-Kotob al- Ilmiyah, 2009), hlm. 30.
c. Rukun dan Syarat Jual Beli 1) Rukun Jual Beli
Rukun jual beli ada tiga, yaitu:
a. Pelaku traksaksi, yaitu penjual dan pembeli.
b. Objek traksaksi, yaitu harga dan barang.
c. Akad (traksaksi), yaitu segala tindakan yang dilakukan kedua belah pihak yang menunjukkan mereka sedang melakukan traksaksi, baik tindakan itu berbentuk kata-kata maupun perbuatan.
Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, unsur jual beli ada tiga, yaitu:
a. Pihak-pihak. Pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian jual beli terdiri atas penjual, pembeli, dan pihak lain yang terlibat dalam perjanjian tersebut.
b. Objek. Objek jual beli terdiri atas benda yang berwujud dan benda yang tidak berwujud, yang bergerak maupun benda yang tidak bergerak.
c. Kesepakatan. Kesepakatan dapat dilakukan dengan tulisan, lisan dan isyarat.
2) Syarat Sahnya Jual Beli
Suatu jual beli tidak sah bila tidak terpenuhi dalam suatu akad.
Ada enam syarat, yaitu:
a. Saling rela antara kedua belah pihak.
b. Pelaku akad adalah orang yang dibolehkan melakukan akad, yaitu orang yang telah baliq, berakal, dan mengerti.
c. Harta yang menjadi objek transaksi telah dimiliki sebelumnya oleh kedua belah pihak.
d. Objek transaksi adalah barang yang dibolehkan dalam agama.
e. Objek jual beli diketahui oleh kedua belah pihak saat akad.
f. Harga harus jelas saat transaksi.27 d. Khiyar Dalam Jual Beli
Makna khiyar berarti boleh memilih antara dua, apakah akan meneruskan jual beli atau mau mengurungkannya (membatalkannya).
Fungsi khiyar menurut syara‟ adalah agar kedua orang yang berjual beli
dapat memikirkan dampak positif negatif masing-masing dengan pandangan ke depan,supaya tidak terjadi penyesalan dikemudian hari yang disebabkan merasa tertipu atau tidak adanya kecocokan dalam membeli barang yang telah dipilih.
Khiyar terbagi menjadi tiga, yaitu khiyar majlis, khiyar syarat, dan khiyar „aib.
1) Khiyar Majlis
Artinya antara penjual dan pembeli boleh memilih akan melanjutkan jual beli atau membatalkannya. Selama keduanya masih ada dalam satu tempat, khiyar majlis boleh dilakukan dalam berbagai jual beli.
27 Mardani, Fiqh Ekonomi Syari‟ah, (Jakarta: Kencana, 2012) , hlm. 193.
2) Khiyar syarat
Khiyar syarat yaitu penjualan yang didalamnya disyaratkan sesuatu, baik oleh penjual maupun pembeli, seperti seseorang berkata,”
saya jual rumah ini dengan harga Rp. 100.000.000, 00.Dengan syarat khiyar selama tiga hari.
3) Khiyar aib(cacat)
Arti khiyar aib menurut ulama fiqh adalahkeadaan yang membolehkan salah seorang yang berakad memiliki hak untuk memiliki, hal untuk membatalkan atau dijadikannya ketika ditemukan aib(kecacatan) dari salah satu yang dijadikan alat tukar-menukar yang tidak diketahui pemiliknya waktu akad.
Dengan demikian penyebab khiyar aib adalah cacat pada barang yang diperjualbelikan atau harga, karena kurang nilainya atau tidak sesuai dengan maksud, atau orang yang berakad tidak meneliti kecacatannya ketika akad berlangsung.28
e. Jual Beli Ghahar 1). Pengertian Gharar
Gharar dapat diartikan sebagai ketidakpastian/ketidakjelasan.
Unsur ini juga dilarang dalam Islam. Gharar atau disebut juga taghriir adalah sesuatu dimana terjadi incomplete information karena adanya uncertainty to both parties (ketidakpastian dari kedua belah pihak yang bertransaksi). Gharar ini terjadi bila kita mengubah sesuatu yang
28Ibid, hlm. 76-79.
seharusnya bersifat pasti (certain) menjadi tidak pasti (uncertain).
Gharar dapat terjadi dalam empat hal, yaitu:
a. Kuantitas
Gharar dalam kuanlitas terjadi dalam kasus ijon, dimana penjual menyertakan akan membeli buah yang belum tampak dipohon seharga X. dalam hal ini terjadi ketidakpastian mengenai beberapa kuantitas buah yang dijual, karena memang tidak disepakati sejak awal. Bila panennya 100 Kg, harganya Rp X juga.
b. Kualitas
Contoh gharar dalam kualitas adalah seorang peternak menjual anak sapi yang masih dalam kandungan induknya. Dalam kasus ini terjadi ketidakpastian dalam hal kualitas ibjek traksaksi, karena tidak ada jaminan bahwa anak sapi tersebut akan lahir dengan sehat tanpa cacat, dan dengan spesifikasi kualitas tertentu.
Bagaimanapun kondisi anak sapi yang nanti lahir (walaupun terlahir dalam keadaan mat misalnya) harus diterima oleh si pembeli dengan harga yang sudah disepakati.
c. Harga
Gharar dalam harga terjadi bila, misalnya bank syariah menytakan akan memberikan pembiayaan murabahah rumah 1 tahun dengan margin 20% atau 2 tahun dengan margin 40%, kemudian disepakati oleh nasabah. Ketidakpastian terjadi karena harga yang disepakati tidak jelas, apakah 20% atau 40%.Kecuali bila nasabah
menyatakan” setuju melakukan transaksi murabahah rumah dengan margin 20% dibayar 1 tahun,” maka barulah tidak terjadi gharar.
d. Waktu penyerahan.
Contoh gharar dalam waktu penyerahan terjadi bila seseorang menjual barang yang hilang misalnya, seharga X dan disetujui oleh pembeli.Dalam kasus ini terjadi ketidakpastian mengenai waktu penyerahan, karena si penjual dan pembeli sama-sama tidk tahu kapankah barang yang hilang itu dapat ditemukan kembali.
Keempat bentuk gharar diatas, keadaan sama-sama rela yang dicapai bersifat sementara, yaitu sementara keadaan msih tidak jelas bagi kedua belah pihak. Di kemudian hari, yaitu ketika keadaan tidak jelas, salah satu pihak ( pejual atau pembeli) akan merasa terzalimi, walaupun pada awalnya tidak demikian.
Gharar terjadi dalam beberapa keadaan berikut:
1. Ketika barang yang menjadi objek transaksi tidak diketahui apakah ia ada atau tidak.
2. Apabila ia ada, tidak diketahui apakah ia dapatdiserahkan kepada pembelinya atau tidak.
3. Ketika ia berakibat pada identifikasi macam atau jenis benda yang menjadi objek transaksi.
4. Ketika ia berakibat pada kualitas, identitas, atau syarat-syarat perlunya.
5. Ketika ia berhubungan dengan tanggal pelaksanaan dimasa mendatang.
2). Hubungan gharar dengan maisir
Gharar adalah salah satu bentuk maisir, karena maisir terbagi dua, yaitu:
a. Maisir yang diharamkan karena mengandung unsur qimar, seperti diatas. Ini berarti maisir semakna dengan gharar.
b. Permainan yang diharamkan sekalipun tidak disertai pembayaran uang. Selain ulama salaf ditanya tentang maisir, dia menjawab”
segala bentuk permainan yang melalaikan shalat dan zikrullah adalah maisir. Pendapat ini diperkuat oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim serta mereka menukilnya dari mayoritas ulama.29