• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktek Jual Beli Pohon Santigi di Desa Karang Dima

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

B. Praktek Jual Beli Pohon Santigi di Desa Karang Dima

B. Praktek Jual Beli Pohon Santigi di Desa Karang Dima Kecamatan

kesepakatan dan tawar-menawar antara penjual dan pembeli maka terjadilah traksaksi tersebut. Ada tiga sistem penjualan pohon Santigi yaitu dengan cara pemesanan, borongan, dan eceran. Adapun Para pihak yang melakukan praktek jual beli pohon Santigi yaitu:

Tabel 2.2

Pelaku Jual Beli Pohon Santigi di Desa Karang Dima

No Nama Penjual Nama Pembeli

1 Syaifudin Edi

2 Budi Jaseri

3 Heri Sumardi

4 Jaseri Wayan Suryawan

5 Andre Mardiansyah Sugeng Praminto

6 Jumawal Sugeng Wardoyo

7 Supardi Subandi

8 Samsudin Marjuni

9 Diman Hasan

10 Agus Setiawan Put Hariyadi

11 Trihat Mando

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan bapak Syaifudin sebagai penjual sekaligus pemburu pohon Santigi, menurutnya jual beli pohon Santigi adalah:

“Jual beli Bonsai (tanaman hias) yang dilakukan antara penjual dan pembeli.

Dalam transaksi ini, para pihak melakukan tawar-menawar untuk menentukan harga pohon tersebut, pembeli akan menawarkan harga yang menurutnya sesuai dengan kondisi pohon dan tidak hanya pembeli saja yang bisa menawarkan harga, tetapi kembali lagi kepada penjual apakah sepakat dengan penawaran tersebut, Jika penjual sepakat maka terjadilah traksaksi jual beli pohon Santigi. Jika tidak, penjual akan memberikan alasan mengapa tidak menyetujui dengan harga yang ditawarkan pembeli.”45

45 Syaifudin, Wawancara, Desa Karang Dima, 20 Mei 2019.

Hal yang sama juga diungkapkan olehbapak Sumardi selaku pembeli pohon Santigi dalam wawancara dengan peneliti, ia mengatakan bahwa:

“Saya terlebih melakukan tawar menawar untuk menentukan harga, dan tentunya saya akan menawarkan harga yang menurut saya sesuai dengan kualitas pohon tersebut.Tidak jarang pihak penjual akan meminta harga yang lebih karena ada beberapa faktor, diantaranya adalah proses pengambilan pohon Santigi dari alam yang sulit serta kualitas pohon yang menjanjikan prospek yang bagus dimasa depan. Saya memutuskan untuk membeli pohon Santigi yang baru diburu atau baru diambil dari alam karena harga pohonnya yang bisa dikatakan masih murah atau terjangkau, yaitu berkisar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah), Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) atau Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah). Karena akan berbeda apabila saya membeli pohon Santigi yang telah hidup, maka harganya bisa mencapai Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) bahkan mencapai Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) per pohonnya.”46

Lebih lanjut bapak Sumardi juga menyatakan bahwa :

“Untung rugi dalam transaksi jual beli bakalan pohon Santigi merupakan hal biasa yang dialami, baik itu bagi penjual ataupun saya selaku pembeli.Karena pada dasarnya jual beli ini dilakukan dengan unsur spekulasi atau untung- untungan.Dengan demikian kita selaku pembeli harus berani mengambil resiko apabila membeli pohon santigi yang baru diambil dari alamnya, karena apabila pohon yang kita beli itu hidup maka Alhamdulillah, sebaliknya apabila pohon yang kita beli itu mati maka harus bersabar.”47

Hal senada juga diungkapkan oleh bapak Jumawal selaku pemburu atau penjual pohon santigi, bahwa:

“Sepulang berburu pohon yang saya dapat pernah dihargai sebesar Rp.

500.000,- (lima ratus ribu rupiah) namun saya tolak dan saya memilih untuk menanam sendiri pohon tersebut. 6 (enam) bulan setelah pohon itu hidup, pohon tersebut ditawar seharga Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah) oleh orang dari Bima dan saya jual. Saya merasa beruntung dan bersyukur karena tidak menjualnya ketika masih baru didapat dari alamnya.”48

46 Sumardi, Wawancara, Desa Karang Dima, 21 mei 2019.

47Ibid.

48 Jumawal,Wawancara, Desa Karang Dima, 22 Mei 2019.

Bapak Budi juga mengatakan bahwa:

“Bapak Edi pernah datang ke rumah ketika saya pulang berburu, saat itu saya membawa pulang 5 (lima) pohon Santigi, setelah melihat pohon hasil buruan saya kemudian bapak Edi memberikan uang Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) dan mengatakan saya ambil pohon ini dan ini. Namun karena saya dan bapak Edi sudah berteman lama dan beliau juga sering membantu saya, terpaksa saya mengiyakan hal itu. Padahal kedua pohon yang diambil oleh bapak Edi saat itu merupakan buruan terbaik saya saat itu dan pohon tersebut memiliki prospek ke depan yang menjanjikan.”49

Hal serupa juga pernah dialami oleh bapak Marjuni yang mengatakan:

“Bapak Marjuni juga pernah mengambil 1 (satu) pohon buruan saya dengan meninggalkan uang senilai Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) diberugak rumah saya.”50

Pernyataan di atas juga dibenarkan oleh bapak Edi yang mengungkapkan bahwa:

“Saya memang pernah melakukan pembelian seperti itu, dari 2 (dua) pohon yang saya beli dari bapak Budi tersebut 1 (satu) hidup dan yang 1 (satu) lagi mati.Apabila dibilang rugi yang jelas rugi, tapi karena saya suka dengan pohon itu jadi saya beranikan diri untuk mengambil risiko itu.Sehingga apabila pohon yang saya beli itu mati maka saya harus bersabar.”51

Bapak Marjuni juga menuturkan:

“Pohon yang saya beli dari bapak Ribut itu mati, mungkin penyebabnya karena bapak Ribut yang tidak ikhlas melepas pohonnya sehingga dia mendoakan agar pohon itu mati ketika saya membawa pohon itu pulang ke rumah, saya menyadari kalau saya salah. Namun di luar hal itu, saya menyadari bahwa hidup dan mati adalah kuasa Tuhan”52

49 Budi,Wawancara, Desa Karang Dima, 19 Mei 2019.

50 Ribut,Wawancara, Desa Karang Dima, 19 Mei 2019.

51 Edi, Wawancara, Desa Karang Dima, 19 Mei 2019.

52 Marjuni,Wawancara, Desa Karang Dima, 19 Mei 2019.

Setelah para pihak melakukan transaksi jual beli, maka pihak penjual dan pembeli harus memenuhi hak dan kewajibannya masing-masing, sebagaimana yang diungkapkan oleh Agus Setiawan sebagai penjual bahwa:

“Ketika melakukan tawar menawar dengan pihak pembeli dan sudah terjadi kesepakatan dengan harga transaksi tersebut, maka pihak pembeli biasanya menyerahkan uang tunai kepada saya selaku penjual dan saya langsung menyerahkan pohon Santigi kepada pembeli.”53

Penyerahan pohon Santigi yang dijadikan sebagai objek jual beli tersebut dilakukan dengan cara pihak pembeli mendatangi pihak Pemburu atau penjual, atau pihak penjual yang mendatangi pihak pembeli guna menawarkan pohon Santigi yang akan dijadikan bonsai. Agar menarik banyak pembeli maka penjualan pohon Santigi dilakukan secara langsung (bertemu langsung antara penjual dan pembeli).

Agar menarik banyak pembeli maka penjualan pohon Santigi dilakukan secara langsung (bertemu langsung antara penjual dan pembeli). Jual beli pohon Santigi ini dilakukan dengan tiga sistem, yaitu:

1. Jual beli pohon Santigi dengan sistem eceran.

Jual beli pohon Santigi dengan sistem eceran yaitu pihak pembeli langsung menemui pihak penjual ataupun sebaliknya pihak penjual yang akan menemui dan menawarkan pohon Santigi yang ia miliki kepada pembeli, pembeli dapat memilih pohon Santigi yang menurutnya bagus dan indah. Harga yang ditawarkan pembeli biasanya sesuai dengan kondisi atau

53 Agus Setiawan, Wawancara, Desa Karang Dima, 22 Mei 2019.

kualitas pohon Santigi, meskipun demikian penjual tetap mempunyai hak untuk menentukan harga pohon itu sendiri.

Seperti yang diungkapkan oleh bapak Andre Mardiansyah selaku pihak penjual dan pemburu pohon Santigi, ketika peneliti melakukan wawancara dengannya, bapak Andre Mardiansyah mengatakan bahwa:

“Pohon Santigi banyak digemari oleh masyarakat terutama masyarakat di Desa Karang Dima, ada yang sengaja berburu pohon Santigi untuk dijadikan koleksi dan ada juga yang mencari pohon Santigi untuk dijual dengan tujuan mencari keuntungan. Pohon Santigi banyak digemari oleh masyrakat karena dapat dijadikan bonsai yang indah dan bernilai ekonomis, maka dari itu banyak sistem penjualan pohon Santigi yang dilakukan untuk memenuhi keinginan si penjual dan si pembeli, yaitu dengan sistem borongan bagi yang ingin menjualnya kembali, ada yang langsung menjual pohon Santigi dengan sistem eceran, dan bisa juga melalui pemesanan dengan cara pihak pembeli memesan kepada pihak penjual untuk berburu pohon Santigi, dan pihak pembeli menunggu si pemburu tersebut di rumahnya.”54

Bapak Jaseri juga menyampaikan hal serupa bahwa:

“Saya pernah menjual sebuah bakalan pohon Santigi seharga Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) kepada bapak Wayan Suryawan, setelah ditanah oleh bapak Wayan pohon tersebut hidup, dan setahun kemudian pohon tersebut laku terjual dengan harga Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah).55

Hal tersebut juga dibenarkan oleh bapak Wayan Suryawan yang mengatakan bahwa:

“Saat bapak Jaseri pulang berburu, saya membeli 1 (satu) pohon perolehannya seharga Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah). Setahun kemudian teman saya dari Bali berkunjung ke rumah dan menawar pohon tersebut seharga Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah).56

54 Andre Mardiansyah, Wawancara, Desa Karang Dima, 26 Mei 2019.

55 Jaseri, Wawancara, Desa Karang Dima, 20 Mei 2019.

56 Wayan Suryawan, Wawancara, Desa Karang Dima, 20 Mei 2019.

2. Jual beli pohon Santigi dengan sistem borongan

Jual beli semacam ini biasanya dilakukan dalam jumlah yang banyak.Diantara para pembeli pohon Santigi mengakui bahwa pembelian dalam jumlah yang banyak harganya lebih murah dibandingkan dengan harga pohon Santigi yang dibeli dengan sistem eceran. Tetapi tidak jarang pembelian pohon Santigi dengan sistem borongan dapat mendatangkan resiko kerugian yang jauh lebih besar dikarenakan tidak semua pohon Santigi yang dibelinya dapat hidup kembali ketika ditanam.

Seperti yang diungkapkan oleh bapak Sugeng Praminto, yang pernah membeli pohon Santigi dengan sistem borongan, ia mengatakan bahwa:

“Saya pernah membeli pohon Santigi dengan sistem borongan, saat itu jumlah pohon yang saya beli berjumlah 20 buah dan keseluruhannya senilai Rp. 10.000.000,- (sepuluh puluh juta rupiah). Saat itu yang hidup hanya 5 pohon saja. Dikatakan rugi, ya jelas rugi. Namun itu sudah menjadi konsekuensi yang harus saya terima. Karena memang tidak ada jaminan bahwa pohon yang baru diambil dari alam tersebut akan dapat hidup ketika ditanam kembali, karena pohon juga merupakan makhluk hidup, jadi masalah hidup dan mati adalah kuasa Tuhan.”57

Bapak Wayan Suryawan juga menyakatan bahwa :

“Saya pernah membeli bahan bonsai secara borongan dari Sulawesi, karena bonsai Santigi yang berasal dari Sulawesi terkenal dengan Santigi karangnya yang sangat bagus dan memiliki prospek yang menjanjikan. Akan tetapi, dari sekian banyak pohon yang saya beli hanya 3 sampai 4 pohon saja yang hidup. Setelah saya perhatikan ternyata sebagian dari pohon yang saya beli telah kering saat sampai di Sumbawa.”58

3. Jual beli pohon Santigi dengan sistem pemesanan

Dalam jual beli semacam ini, pembeli pada awalnya mendatangi penjual ke rumahnya dan menyuruh si penjual atau pemburu untuk

57 Sugeng Praminto, Wawancara, Desa Karang Dima, 20 Mei 2019.

58 Wayan Suryawan, Wawancara, Karang Dima, 25 Mei 2019.

mengambil pohon Santigi di alamnya. Sebelum penjual mengambil pohon Santigi dialamnya, si penjual dan si pembeli melakukan tawar-menawar untuk menentukan harga pohon Santigi yang akan diambilnya. Namun sebelumnya pihak pembeli telah memberikan uang bensin (transportasi) dan uang makan pada pihak penjual (pemburu), setelah melakukan kesepakatan dan memutuskan harga pohon Santigi yang akan diambilnya tersebut barulah si penjual pergi untuk mengambil atau berburu pohon Santigi.

Pembeli akan tetap menunggu di rumah penjual sebelum penjual pulang dengan membawa pohon Santigi yang baru diambilnya dari alam, setelah pohon Santigi diambil dari alamnya dan dibawa kerumah si penjual maka pembeli harus membeli pohon tersebut bagaimanapun keadaannya dengan harga yang telah disepakati.

Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh bapak Hardiman yang pernah menjual pohon Santigi dengan sistem pemesanan, ia mengatakan bahwa:

“Banyak yang melakukan jual beli pohon Santigi dengan sistem pemesanan termasuk saya, saya pernah berburu dan menjual pohon Santigi, saya diminta oleh pihak pembeli untuk berburu dan mengambil pohon Santigi di alamnya dan pembeli tersebut menunggu saya pulang dengan membawa pohon Santigi yang baru diambil dari alam, sebelumnya kami telah melakukan tawar-menawar untuk menentukan harga pohon Santigi yang akan saya ambil dari alam.”59

Bapak syaifuddin juga menuturkan:

“Saya pernah melakukan transaksi jual beli pesanan, saat itu saya berburu dengan diberi bekal berupa uang bensin dan uang makan oleh teman dari Jawa. Ketika itu pohon Santigi buruan saya ditawar seharga Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta) oleh bapak Jaseri. Akan tetapi karena terlebih dahulu

59 Hardiman, Wawancara, Desa Karang Dima, 20 Mei 2019.

saya telah membuat kesepakatan dengan teman saya yang di Jawa, saya tidak dapat menjualnya kepada bapak Jaseri, sebab saya telah terikat dengan janji yang saya buat dengan teman yang dari Jawa, sehingga saat itu pohon buruan saya laku terjual dengan harga Rp. 18.000.000,- (delapan belas juta).60

Pernyataan bapak Syaifuddin di atas juga dibenarkan oleh bapak Jaseri :

“Saat itu buruan bapak Syaifuddin saya tawar Rp.25.000.000,- (dua puluh lima juta), tapi setelah saya diberi tau oleh bapak Syaifuddin mengenai alasannya tidak melepas pohon tersebut kepada saya, saya hanya bisa pasrah”61

Berdasarkan hasil wawancara diatas, maka dapat diketahui bahwa proses terjadinya praktek jual beli pohon Santigi dilakukan dengan beberapa sistem penjualan yaitu, menggunakan sistem eceran, sistem borongan, dan sistem pemesanan. Untuk menentukan harga pohon Santigi yang akan dijual, pihak penjual dan pihak pembeli melakukan tawar-menawar, apabila harga sudah disepakati oleh pihak penjual dan pihak pembeli, maka pihak pembeli akan menyerahkan uang tunai kepada pihak penjual dan penjual akan menyerahkan pohon Santigi terebut kepada pihak pembeli.

Untuk lebih jelasnya mengenai pelaksanaan praktek jual beli Pohon Santigi, Peneliti dapat menguraikan mengenai faktor-faktor penyebab masyarakat di Desa Karang Dima melakukan transaksi jual beli pohon Santigi yaitu:

a. Adanya kebutuhan kedua belah pihak

Pelaksanaan praktek jual beli pohon Santigi dilakukan karena pihak penjual dan pembeli sama-sama saling membutuhkan. Dimana,

60 Syaifuddin,Wawancara, Desa Karang Dima, 20 Mei 2019.

61 Jaseri,Wawancara, Desa Karang Dima, 20 Mei 2019.

pihak penjual yang menjual pohon Santigi kepada pihak pembeli dikarenakan dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan pembeli akan membeli pohon Santigi tersebut kepada penjual untuk dirawat dengan harapan jika dijual kembali kepada calon pembeli yang lain akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi,danuntuk pohon Santigi yang telah hidup dan dirawat dengan baik dapat dijual kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi. Seperti yang diungkapkan bapak Put Hariyadi sebagai penjual segaligus pembeli, ia mengatakan bahwa:

“Saya saya pernah menjual pohon Santigi kesayangan saya kepada pihak pembeli karena pada saat itu saya sangat membutuhkan uang untuk keperluan rumah tangga.”62

Hal di atas selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Tuan Edi yang mengatakan bahwa:

“Sebelum membeli pohon, saya biasanya memperhatikan kemungkinan hidup dari pohon tersebut dan juga tingkat prospek atau kualitas pohon apabila hidup saat saya tanam, kedepannya akan memiliki nilai ekonomis yang tinggi bila saya menjualnya kembali.”63

b. Adanya keinginan untuk mengoleksi pohon Santigi

Pihak pembeli yang membeli pohon Santigi berlomba-lomba untuk merawat pohon Santigi yang dibelinyakarena tujuannya selain untuk dijual kembali, pembelian pohon Santigi ini dilakukan agar pembeli dapat merawat dan dapat dijadikan sebagai bonsai yang indah.

62 Put Hariyadi, Wawancara, Desa Karang Dima, 20 Mei 2019.

63 Edi,Wawancara, Desa Karang Dima, 20 Mei 2019.

Banyak dari mereka yang membeli pohon Santigi dengan sistem borongan karena mempunyai keinginan untuk mengoleksi pohon tersebut.Seperti yang dikatakan bapak Wayan Suryawan, ia mengatakan bahwa:

“Saya pernah membeli pohon Santigi dengan sistem borongan, karena hobi saya menanam dan merawat pohon Santigi, saya membeli pohon Santigi 1 trek dengan harga Rp 90.000.000.00 juta, tetapi pada saat itu pohon Santigi yang berhasil saya hidupi hanya 1, dan saya merasa sangat menyesal. Terlebih lagi saat mendengan kabar bahwa ternyata dari sekian banyak pohon Santigi yang saya beli tersebut dicampur dengan pohon yang merupakan buruan lama atau telah kering (mati).”64

c. Transaksi jual beli pohon Santigi merupakan kebiasaan masyarakat di Desa Karang Dima

Kebiasaan melakukan praktek jual beli pohon Santigi sudah dilakukan sejak dulu oleh masyarakat di Desa Karang Dima dan sampai saat ini kebiasaan jual beli pohon Santigi tersebut masih dilakukan, sebagaimana yang diungkapkan oleh bapak Sugeng Wardoyo salah satu masyarakat di Desa Karang Dima yang sering menyaksikan praktek jual beli pohon Santigi, bapak Sugeng Wardoyo mengatakan bahwa:

“Di Desa Karang Dima, trasaksi jual beli pohon Santigi sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat disini,karena banyak yang ingin mencari keuntungan yang sebanyak-banyaknya dari pohon Santigi yang indah sehingga masyarakat disini senantiasa berburu dan mengambil pohon Santigi di pesisir pantai atau di tebing-tebing pantai dengan tujuan untuk dijual kembali.Tidak jarang juga pihak pemburu atau penjual melakukan kecurangan yang memang disengaja dalam transaksi jual beli ini. Yang mana saat si pemburu awalnya memutuskan untuk menanam sendiri pohon hasil buruannya, namun karena tidak kunjung mengeluarkan tunas, akan tetapi kambium (kulit pohon) pohon masih terlihat basah.

64 Wayan Suryawan, Wawancara, Desa Karang Dima, 24 Mei 2019.

Kemudian si pemburu memotong kembali setiap batangnya agar seolah- olah terlihat seperti buruan yang baru, untuk kemudian ditawarkan kepada pembeli.”65

Hal serupa juga disampaikan olehbapak Mando selaku pembeli sekaligus penjual pohon Santigi di Desa Karang Dima, ia mengatakan bahwa:

“Saya sudah berbonsai selama 10 tahun. Berdasarkan pengalaman saya melihat banyak permaslahan yang terjadi akibat jual beli tersebut, salah satunya adalah mengenai adanya penipuan dalam transaksi jual beli pohon Santigi yang dilakukan penjual agar menarik banyak pembeli, dalam prakteknya, pihak penjual menawarkan pohon Santigi kepada pihak pembeli yang ingin membeli pohon Santigi tersebut, penjual terkandang menipu calon pembeli dengan mengatakan bahwa pohon Santigi yang dijualnya itu baru diambil dari alamnya dan akan tumbuh, padahal pohon Santigi yang dijualnya itu adalah pohon Santigi yang telah mati, dengan menghalalkan segala cara penjual mengubah pohon Santigi yang telah mati seperti pohon Santigi yang baru diambil dari alam.”

d. Mencari keuntungan sebanyak-banyaknya

Masyarakat di Desa Karang Dima sering kali berburu dan menjual pohon Santigi untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, karena tidak jarang pohon Santigi yang telah hidup akan dinilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Maka dari itu, masayarakat di Desa Karang Dima lebih memilih mencari dan berburu sendiri di pesisir pantai. Setelah pengambilan pohon Santigi di tebing atau di pesisir dengan menggunakan beberapa alat, si pemburu membawa pulang dan menanam pohon Santigi tersebut, untuk pohon Santigi yangbaru di buru baisanya membutuhkan waktu 1 (satu) sampai dengan 2 (dua) bulan untuk memastikan apakah pohon Santigi yang ditanamnya hidup atau mati.

65Sugeng Wardoyo, Wawancara, Desa Karng Dima, 25Mei 2019.

Sebagaimana yang diungkapkan bapakMando salah seorang masyarakat di Desa Karang Dima yang biasa membeli bakalan pohon Santigi, ia mengatakan bahwa:

“Para penjual pohon Santigi seringkali berburu dan mengambil pohon Santigi di alamnya dengan menggunakan beberapa alat berupa penggali, gunting dahan, dan gergaji.Alasan penjual mengambil pohon Santigi yang masih berada dialamnya karena jika membeli pohon Santigi yang telah hidup harganya lebih tinggi, maka dari itu masyarakat di Desa Karang Dima lebih memilih untuk mengambil sendiri pohon tersebut di alamnya.

Namun di sisi lain terkadang bagi orang yang memang memiliki kesibukan kerja tersendiri seperti saya, maka saya lebih memilih untuk membeli pohon dari para pemburu.”66

e. Tidak memahami konsep jual beli yang sesuai menurut hukum Islam Tidak semua orang Islam memahami konsep jual beli yang sesuai menurut hukum Islam, begitu juga dengan masyarakat di Desa Karang Dima.Karena transaksi jual beli ini telah terjadi sejak lama, sehingga masyarakat menganggapnya adalah hal yang biasa oleh masyarakat di Desa Karang Dima. Seperti hasil wawancara dengan bapak Bukhori selaku tokoh agama di Desa Karang Dima, ia mengatakan bahwa:

“Walaupun sebagaian besar masyarakat di Desa Karang Dima beragama Islam, namun tidak semuanya mengerti dan memahami tentang tata cara jual beli menurut hukum Islam, karena itu, masyarakat banyak yang melakukan traksaksi jual beli walaupun terdapat resiko dalam transaksi jual beli tersebut, yang akan menimbulkan kerugian ataupun penyesalan bagi para pihak. Karena pada jual beli ini didasari oleh spekulasi dari pihak pembeli ketika memutuskan untuk membeli pohon yang diinginkannya, maka dengan itu pembeli harus siap dengan risiko yang akan diterimanya dikemudian hari. Hal ini hampir serupa dengan jual beli Ijon, dimana pihak pembeli memutuskan untuk membeli buah yang masih di atas pohon atau membeli buah yang belum layak panen.”67

66 Mando, Wawancara, Desa Karang Dima, 25 Mei 2019.

67 Bukhori,Wawancara, Desa Karang Dima, 15 Mei 2019.

Bapak H. Silas Arifin selaku imam masjid di Desa Karang Dima juga mengatakan:

“Menanggapi permasalahan mengenai transaksi jual beli pohon Santigi yang terjadi khususnya di Desa Karang Dima, menurut saya bahwa dalam jual beli ini mengandung unsur pertaruhan untung dan rugi.Karena yang menjadi objek dalam jual belinya adalah pohon Santigi yang baru diambil dari alamnya, yang tidak ada jaminan bahwa pohon tersebut apakah akan hidup atau justeru akan mati saat ditanam kembali ke dalam pot.”68

Bapak H. Jafaruddin Darmuji selaku ketua pembangunan masjid di Desa Karang Dima juga mengungkapkan:

“Pada transaksi jual beli pohon Santigi yang terjadi di Desa Karang Dima, baik itu pada penjual ataupun pembeli seolah-olah ingin mendahuli takdir Allah swt.saya mengatakan demikian karena secara tidak langsung para pihak khususnya pembeli yang telah berani mengambil keputusan bersifat spekulasi, hal ini serupa dengan praktik mengundi nasib, apakah kedepannya mereka akan memperoleh keuntungan atau kerugian.”69

68 H. Silas Arifin, Wawancara, Desa Karang Dima, 15 Mei 2019.

69Jafaruddin Darmuji, Wawancara, Desa Karang Dima, 15 Mei 2019.

Dokumen terkait