• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adat Minangkabau

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Tinjauan Teori dan Konsep

2. Deiksis

4.3 Adat Minangkabau

Adat adalah landasan bagi kekuasaan para Raja dan Penghulu, yang dipakai dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari. Semua peraturan hukum dan perundang-undangan disebut Adat, dan landasannya adalah tradisi yang diwarisi secara turun-temurun.

Adat Minangkabau adalah peraturan dan undang-undang atau hukum adat yang berlaku dalam kehidupan sosial masyarakat Minangkabau, terutama yang bertempat tinggal di Ranah Minang atau Sumatera Barat. Dalam batas tertentu, adat Minangkabau juga dipakai dan berlaku bagi masyarakat Minang yang berada di perantauan di luar wilayah Minangkabau.

Datuk yang dalam dialek Minang dilafalkan "Datuak", adalah gelar adat yang diberikan kepada seseorang melalui kesepakatan suatu kaum atau suku yang ada di wilayah Minangkabau (provinsi Sumatra Barat sekarang) dan selanjutnya disetujui sampai ke tingkat rapat adat oleh para tokoh pemuka adat setempat (Kerapatan Adat Nagari biasa disingkat dengan KAN).

Di dalam halnya gelar kehormatan atau gelar kepenghuluan (datuk) dapat diberikan dalam tiga tingkatan:

a. Gelar yang diwariskan dari mamak ke kemenakan. Gelar ini merupakan gelar pusaka kaum. Gelar ini disebut sebagai gelar yang mengikuti kepada perkauman yang batali darah.

b. Gelar yang diberikan oleh pihak keluarga ayah (bako) kepada anak pisangnya, karena anak pisang tersebut memerlukan gelar itu untuk menaikkan status sosialnya atau untuk keperluan lainnya. Gelar ini hanya gelar panggilan, tetapi tidak mempengaruhi konstelasi dan mekanisme kepenghuluan yang

telah ada di dalam kaum. Gelar ini hanya boleh dipakai untuk dirinya sendiri, seumur hidup dan tidak boleh diwariskan kepada yang lain; anak apalagi kemenakan. Bila si penerima gelar meninggal, gelar itu akan dijemput kembali oleh bako dalam sebuah upacara adat. Gelar ini disebut sebagai gelar yang berdasarkan batali adat.

c. Gelar yang diberikan oleh raja Pagaruyung kepada seseorang yang dianggap telah berjasa menurut ukuran-ukuran tertentu.

Gelar ini bukan gelar yang difungsikan sebagai penghulu di dalam kaumnya sendiri, karena gelar penghulu sudah dipakai oleh penghulu kaum itu, tetapi gelaran itu adalah merupakan balasan terhadap jasa-jasanya. Gelaran ini disebut secara adat disebabkan oleh batali suto. Gelar ini hanya boleh dipakai seumur hidupnya dan tidak boleh diwariskan. Bila terjadi sesuatu yang luar biasa, yang dapat merusakkan nama raja, kaum, dan nagari, maka gelaran itu dapat dicabut kembali.

Di Minangkabau, gelar adat khususnya gelar datuk diwariskan menurut garis ibu (matrilineal). Tetapi ada juga beberapa gelar di Padang Pariaman dan Kota Padang yang diwariskan menurut garis bapak (patrilineal)

Sebelum gelar ini disandang seseorang, mesti dilakukan suatu upacara adat atau malewakan gala (Bahasa Minang), dengan sekurangnya memotong seekor kerbau dan kemudian diadakan jamuan

makan. Dan jika calon Datuk tersebut tidak mampu untuk mengadakan acara tersebut, maka dia tidak berhak untuk menyandang gelar Datuk tersebut.

Pewarisan gelar Datuk dalam tradisi Minangkabau, berbeda dengan tradisi Melayu yang lain, gelar Datuk dapat diwariskan menurut sistem matrilinial. Bila seorang Datuk meninggal dunia, gelar Datuk tersebut dapat diberikan kepada saudara laki-lakinya, atau keponakan (kemenakan) yang paling dekat hubungan kekerabatannya dari garis ibu.

Sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat Minangkabau adalah kekerabatan matrilineal (menurut garis keturunan ibu). Garis keturunan matrilineal ini menempatkan perkawinan menjadi persoalan.

Dalam urusan kekerabatan, mulai dari mencari pasangan hidup, membuat persetujuan/perjanjian dalam pertunangan dan perkawinan sampai pada urusan akad nikah.

Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan, melainkan sistem itu dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka dan sawah ladang.

Bahkan dengan adanya hukum faraidh dalam pembagian harta menurut Islam, harta pusaka kaum tetap dilindungi dengan istilah “pusako

tinggi”, sedangkan harta yang boleh dibagi dimasukkan sebagai “pusako randah”.

Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya. Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan Minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan.

Sampai sekarang, pada setiap individu laki-laki Minang misalnya, kecenderungan mereka menyerahkan harta pusaka, warisan dari hasil pencahariannya sendiri kepada anak perempuannya yang seharusnya dibagi menurut hukum faraidh. Anak perempuan itu nanti akan menyerahkan kepada anak perempuannya pula. Begitu seterusnya.

Menurut alam pikiran orang Minangkabau, perkawinan yang ideal adalah perkawinan antara keluarga dekat, seperti perkawinan antara anak dan kemenakan, perkawinan demikian lazim disebut sebagai pulang ka mamak atau pulang kabako. Perkawinan di Minangkabau bersifat eksogami, yang berarti jika perkawinan itu melahirkan keturunan, maka anak tersebut akan menjadi keluarga ibunya. Kedua belah pihak atau salah satu pihak dari yang menikah itu telah lebur ke dalam kaum kerabat pasangannya.

Menurut struktur masyarakat Minangkabau setiap orang adalah warga kaum dan anggota sukunya. Walaupun sudah melakukan perkawinan. anak yang lahir dari perkawinan menjadi anggota kaum isterinya. Suami tidak memegang kekuasaan atas anak dan isterinya.

Berdasarkan garis keturunan matrilineal hubungan kekerabatan yang paling dekat adalah hubungan ibu dengan anak. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan cenderung lebih dekat dengan orang tua perempuan daripada orang tua laki-laki.

Peranan seorang perempuan di Minangkabau banyak. Ibu sebagai bundo kanduang, ibu sebagai limpapeh rumah nan gadang, dan ibu sebagai amban puruak. Selain itu saudara perempuan dari ibu juga dipanggil dengan sebutan ibu atau lebih tepatnya mande. Mande tuo (Mak Tuo) untuk sebutan kakak dari ibu dan mande ketek (Mak etek) untuk sebutan adik dari ibu. Tradisi orang Minangkabau yang suka merantau juga menjadikan seseorang memiliki ibu di daerah rantaunya, yang biasa dipanggil mande angkek.

Seorang laki-laki di Minangkabau melaksanakan dua fungsi. Di satu pihak dia adalah sebagai ayah dari anak-anaknya sedangkan di pihak lain dia adalah seorang mamak dari kemenakan. Hubungan antara mamak berfungsi sebagai pendidik dan pembimbing kemenakan.

C. Kerangka Pikir

Novel menggambarkan kehidupan manusia yang disusun melalui rangkaian peristiwa untuk mengungkapkan sisi kehidupan para tokoh cerita. Dalam novel banyak tokoh cerita yang terlibat, baik tokoh utama maupun tokoh pendamping. Dari rangkaian peristiwa yang dialami tokoh maka terjalinlah plot/alur. Peristiwa dalam cerita dapat diketahui dari percakapan yang dilakukan tokoh.

Dialog yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita menjadi cerminan keterlibatan seseorang dalam kegiatan berbahasa. Ketika seorang tokoh menjadi pembicara, maka pada saat itu dia berperan sebagai pronomina orang pertama. Ketika dia mendengarkan pembicaraan tokoh lain maka pada saat yang sama dia berperan sebagai pronomina orang kedua.

Demikian juga, ketika seorang tokoh tidak terlibat dalam pembicaraan atau sedang menjadi objek pembicaraan maka dia menjadi pronomina orang ketiga.

Dalam tulisan ini, penulis meneliti jenis deiksis persona yang digunakan oleh setiap tokoh dalam novel Siti Nurbaya dan novel Memang Jodoh karya Marah Rusli. Penulis mengungkap deiksis atau kata ganti yang digunakan untuk menyatakan pronomina orang I, II, dan III yang ada dalam kedua novel tersebut.

Secara sederhana kerangka pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Karya Sastra

Prosa Drama

Puisi

Siti Nurbaya Memang Jodoh

Deiksis

Deiksis Tempat

Deiksis Persona II Deiksis

Waktu

Analisis

Deiksis Persona III Deiksis

Persona I

Deiksis Persona

Temuan

Deiksis Wacana Deiksis

Sosial

Dokumen terkait