• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aksi Nyata: Mari, Merancang Mapel PKL Bersama Industri/Dunia Kerja!

Anda diminta untuk melakukan refleksi terkait materi pembelajaran mata pelajaran PKL di SMK. “Bentuk pembelajaran pada mata pelajaran PKL seperti apa yang menurut Anda memiliki peluang untuk dikembangkan di sekolah Anda, buatlah rencana aksi nyata pengembangan prinsip pembelajaran dan asesmen mata pelajaran PKL”

NOTE Tugas Aksi Nyata:

1. DOKUMEN Aksi Nyata yang telah dilakukan pada topik ini silakan disimpan pada drive sendiri dalam bentuk .pdf

2. Salah satu Aksi Nyata TERBAIK akan diunggah pada Jurnal Pembelajaranku di akhir modul mata kuliah PPA SMK

NOTE Jurnal Pembelajaranku:

[Judul Tema ‘Jurnal Pembelajaranku’]

1. Buatlah praktik baik atas materi prinsip pembelajaran dan asesmen pembelajaran mata pelajaran PKL!

2. Mintalah umpan balik secara tertulis pada mitra yang terlibat (peserta didik/guru/mitra lainnya) dengan menggunakan cara sendiri atau metode yang tersedia di perpustakaan berikut (Perpustakaan Belajar).

3. Simpanlah sementara dokumentasi berupa:file .pdf pada DRIVE PRIBADI

Catatan: ‘Jurnal Pembelajaranku’ adalah kumpulan dokumentasi dari seluruh tugas yang ada di setiap topik dalam satu modul. Guru/peserta dapat melakukan tugas secara kolaborasi. Namun, guru harus menuliskan refleksi/deskripsinya masing-masing sesuai dengan peran dan pengalaman yang didapatkan saat melakukan tugas tersebut.

Refleksi personal adalah bagian penting dari proses pembelajaran.

Latihan Pemahaman

Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar atas pertanyaan berikut ini!

1. Apa yang Anda pahami tentang mata pelajaran Praktik Kerja Lapangan pada Kurikulum Merdeka?

a. Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah pembelajaran bagi peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) yang dilaksanakan melalui praktik kerja di dunia kerja dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh dunia kerja sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

b. Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah pembelajaran bagi peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) yang dilaksanakan melalui observasi dunia kerja dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan kerja.

c. Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah kegiatan wajib bagi peserta didik berupa kegiatan belajar pada tempat kerja langsung di Industri sesuai dengan kompetensi keahlian untuk menguatkan soft skill dan hard skill yang dibutuhkan oleh lulusan SMK.

d. Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah kegiatan wajib bagi peserta didik berupa kegiatan belajar pada tempat kerja langsung di Industri sesuai dengan kompetensi keahlian untuk menguatkan kognitif yang dibutuhkan oleh lulusan SMK.

e. Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah kegiatan yang tidak diwajibkan bagi peserta didik berupa kegiatan belajar pada tempat kerja langsung di industri sesuai dengan kompetensi keahlian untuk menguatkan soft skill dan hard skill yang dibutuhkan oleh lulusan SMK.

2. Apa landasan hukum pelaksanaan PKL di SMK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?

a. Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada kurikulum merdeka ditetapkan sebagai mata pelajaran (kegiatan intrakurikuler) berdasarkan Permendikbudristek Nomor 156/M/2022 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. PKL ditetapkan sebagai kelompok mata pelajaran kejuruan sehingga memiliki karakteristik mata pelajaran.

b. Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada kurikulum merdeka ditetapkan sebagai mata pelajaran (kegiatan intrakurikuler) berdasarkan Permendikbudristek Nomor

262/M/2022 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. PKL ditetapkan sebagai kelompok mata pelajaran kejuruan sehingga memiliki karakteristik mata pelajaran.

c. Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada kurikulum merdeka ditetapkan sebagai mata pelajaran (kegiatan intrakurikuler) berdasarkan Permendikbudristek Nomor 56/M/2022 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. PKL ditetapkan sebagai kelompok mata pelajaran kejuruan sehingga memiliki karakteristik mata pelajaran.

d. Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada kurikulum merdeka ditetapkan sebagai mata pelajaran (kegiatan intrakurikuler) berdasarkan Permendikbudristek Nomor 262/M/2022 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. PKL ditetapkan sebagai program pemagangan peserta didik di industri.

e. Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada kurikulum merdeka ditetapkan sebagai mata pelajaran (kegiatan intrakurikuler) berdasarkan Permendikbudristek Nomor 262/M/2022 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. PKL ditetapkan bukan sebagai kelompok mata pelajaran kejuruan sehingga tidak memiliki karakteristik mata pelajaran.

3. Pelaksanaan mata pelajaran PKL mengacu pada panduan yang ditetapkan oleh pemimpin unit utama yang membidangi pendidikan vokasi sebagai berikut:

a. Pada program SMK 3 tahun, PKL dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XII selama 3 bulan atau 9 minggu dengan asumsi 46 JP per minggu. Sedangkan pada program SMK 4 tahun, PKL dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XIII selama 10 bulan atau antara 27 sampai dengan 28 minggu dengan asumsi 46 JP per minggu.

b. Pada program SMK 3 tahun, PKL dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XII selama 6 bulan atau 18 minggu dengan asumsi 46 JP per minggu. Sedangkan pada program SMK 4 tahun, PKL dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XIII selama 6 bulan 18 minggu dengan asumsi 46 JP per minggu.

c. Pada program SMK 3 tahun, PKL dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XII selama 6 bulan atau 18 minggu dengan asumsi 46 JP per minggu. Sedangkan pada program SMK 4 tahun, PKL dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XIII selama 10 bulan atau antara 27 sampai dengan 28 minggu dengan asumsi 46 JP per minggu.

d. Pada program SMK 3 tahun, PKL dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XII selama 6 bulan atau 18 minggu dengan asumsi 46 JP per minggu. Sedangkan pada program SMK 4 tahun, PKL dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XII selama 10 bulan atau antara 27 sampai dengan 28 minggu dengan asumsi 46 JP per minggu.

e. Pada program SMK 3 tahun, PKL dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XI selama 6 bulan atau 18 minggu dengan asumsi 46 JP per minggu. Sedangkan pada program SMK 4 tahun, PKL dilaksanakan secara blok dan direncanakan pelaksanaannya di kelas XIII selama 10 bulan atau antara 27 sampai dengan 28 minggu dengan asumsi 46 JP per minggu.

4. Berdasarkan pernyataan berikut, yang merupakan perencanaan PKL sebagai mata pelajaran pada implementasi kurikulum merdeka adalah...

a. Perencanaan PKL dijabarkan dari Kompetensi Dasar mapel PKL yang dilaksanakan oleh SMK bersama dunia kerja diturunkan menjadi tujuan pembelajaran (TP), dan alur tujuan pembelajaran (ATP), serta modul ajar (MA).

Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan rumusan target kompetensi yang dikuasai peserta didik setelah melaksanakan PKL. Berdasarkan TP, sekolah bersama dunia kerja mengidentifikasi potensi pekerjaan/kompetensi yang ada di dunia kerja untuk penyusunan ATP PKL yang akan dilaksanakan. Adapun modul ajar dapat berupa informasi atau dokumen kerja sesuai kebijakan dunia kerja tempat PKL.

b. Perencanaan PKL dijabarkan dari Capaian Pembelajaran (CP) mapel PKL yang dilaksanakan oleh SMK bersama dunia kerja diturunkan menjadi tujuan pembelajaran (TP), dan alur tujuan pembelajaran (ATP), serta modul ajar (MA).

Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan rumusan target kompetensi yang dikuasai peserta didik setelah melaksanakan PKL. Berdasarkan TP, sekolah bersama dunia kerja mengidentifikasi Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran untuk penyusunan ATP PKL yang akan dilaksanakan. Adapun modul ajar dapat berupa informasi atau dokumen kerja sesuai kebijakan dunia kerja tempat PKL.

c. Perencanaan PKL dijabarkan dari Capaian Pembelajaran (CP) mapel PKL yang dilaksanakan oleh SMK bersama dunia kerja diturunkan menjadi tujuan

pembelajaran (TP), dan alur tujuan pembelajaran (ATP), serta modul ajar (MA).

Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan rumusan target kompetensi yang dikuasai peserta didik setelah melaksanakan PKL. Berdasarkan TP, sekolah bersama dunia kerja mengidentifikasi potensi pekerjaan/kompetensi yang ada di dunia kerja untuk penyusunan ATP PKL yang akan dilaksanakan. Adapun modul ajar dapat berupa informasi atau dokumen kerja sesuai kebijakan Direktorat SMK.

d. Perencanaan PKL dijabarkan dari Capaian Pembelajaran (CP) mapel PKL yang dilaksanakan oleh SMK bersama dunia kerja diturunkan menjadi tujuan pembelajaran (TP), dan alur tujuan pembelajaran (ATP), serta modul ajar (MA).

Tujuan Pembelajaran (TP) merupakan rumusan target kompetensi yang dikuasai peserta didik setelah melaksanakan PKL. Berdasarkan TP, sekolah bersama dunia kerja mengidentifikasi potensi pekerjaan/kompetensi yang ada di dunia kerja untuk penyusunan ATP PKL yang akan dilaksanakan. Adapun modul ajar dapat berupa informasi atau dokumen kerja sesuai kebijakan dunia kerja tempat PKL.

e. Perencanaan PKL dijabarkan dari Capaian Pembelajaran (CP) mapel PKL yang dilaksanakan oleh SMK bersama dunia kerja diturunkan menjadi tujuan pembelajaran (TP), dan alur tujuan pembelajaran (ATP), serta modul ajar (MA).

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) merupakan rumusan target kompetensi yang dikuasai peserta didik setelah melaksanakan PKL. Berdasarkan TP, sekolah bersama dunia kerja mengidentifikasi peralatan yang ada di dunia kerja untuk penyusunan ATP PKL yang akan dilaksanakan. Adapun modul ajar dapat berupa informasi atau dokumen kerja sesuai kebijakan dunia kerja tempat PKL.

5. Yang termasuk perencanaan penempatan peserta didik pada praktik kerja lapangan yang dilakukan Sekolah adalah …

a. (1) melakukan identifikasi Capaian Pembelajaran (CP) berdasarkan kebutuhan konsentrasi keahlian dan potensi dunia kerja menjadi tempat PKL, (2) melakukan penjajakan dengan dunia kerja untuk mengetahui potensi kerja sama untuk tempat PKL, (3) penempatan peserta didik pada pelaksanaan PKL disesuaikan dengan kompetensi peserta didik serta pekerjaan yang akan dilaksanakan, (4) melakukan pemetaan untuk penempatan peserta didik serta guru pengampu, (5) tempat pelaksanaan PKL di dunia kerja, teaching factory (TeFa) dan tempat lainnya yang relevan dengan konsentrasi keahlian peserta didik.

b. (1) melakukan identifikasi dunia kerja berdasarkan kebutuhan konsentrasi keahlian dan potensi dunia kerja menjadi tempat PKL, (2) melakukan penjajakan dengan dunia kerja untuk mengetahui potensi kerja sama untuk tempat PKL, (3)

penempatan peserta didik pada pelaksanaan PKL disesuaikan dengan kompetensi peserta didik serta pekerjaan yang akan dilaksanakan, (4) melakukan pemetaan untuk penempatan peserta didik serta guru pengampu, (5) tempat pelaksanaan PKL di dunia kerja, teaching factory (TeFa) dan tempat lainnya yang relevan dengan konsentrasi keahlian peserta didik.

c. (1) melakukan identifikasi dunia kerja berdasarkan kebutuhan konsentrasi keahlian dan potensi dunia kerja menjadi tempat PKL, (2) melakukan penjajakan dengan dunia kerja untuk mengetahui potensi kerja sama untuk tempat PKL, (3) penempatan peserta didik pada pelaksanaan PKL disesuaikan dengan ketersediaan dunia kerja tempat PKL, (4) melakukan pemetaan untuk penempatan peserta didik serta guru pengampu, (5) tempat pelaksanaan PKL di dunia kerja, teaching factory (TeFa) dan tempat lainnya yang relevan dengan konsentrasi keahlian peserta didik.

d. (1) melakukan identifikasi jumlah dunia kerja berdasarkan kebutuhan jumlah peserta didik yang akan melaksanakan PKL, (2) melakukan penjajakan dengan dunia kerja untuk mengetahui potensi kerja sama untuk tempat PKL, (3) penempatan peserta didik pada pelaksanaan PKL disesuaikan dengan kompetensi peserta didik serta pekerjaan yang akan dilaksanakan, (4) melakukan pemetaan untuk penempatan peserta didik serta guru pengampu, (5) tempat pelaksanaan PKL di dunia kerja, teaching factory (TeFa) dan tempat lainnya yang relevan dengan konsentrasi keahlian peserta didik.

e. (1) melakukan identifikasi dunia kerja berdasarkan kebutuhan konsentrasi keahlian dan potensi dunia kerja menjadi tempat PKL, (2) melakukan penjajakan dengan dunia kerja untuk mengetahui potensi kerja sama untuk tempat PKL, (3) penempatan peserta didik pada pelaksanaan PKL disesuaikan dengan kompetensi peserta didik serta pekerjaan yang akan dilaksanakan, (4) melakukan pemetaan untuk penempatan peserta didik serta guru pengampu, (5) tempat pelaksanaan PKL di dunia kerja, namun tidak boleh dilaksanakan pada teaching factory (TeFa) sekolah.

6. Pembekalan peserta didik sebelum melaksanakan PKL dilaksanakan dalam dua bentuk, yaitu …

a. (1) pembelajaran reguler dipersiapkan oleh seluruh mata pelajaran intra dan kokurikuler yang dilaksanakan pada kelas X dan XI, (2) pembekalan sebelum keberangkatan direncanakan secara khusus oleh sekolah dan dunia kerja.

b. (1) pembelajaran reguler dipersiapkan oleh seluruh mata pelajaran intra dan kokurikuler yang dilaksanakan pada kelas XI dan XII, (2) pembekalan sebelum keberangkatan direncanakan secara khusus oleh sekolah dan dunia kerja.

c. (1) pembelajaran reguler dipersiapkan oleh seluruh mata pelajaran intra dan kokurikuler yang dilaksanakan pada kelas XI, (2) pembekalan sebelum keberangkatan direncanakan secara khusus oleh sekolah dan dunia kerja.

d. (1) pembelajaran reguler dipersiapkan oleh seluruh mata pelajaran intra dan kokurikuler yang dilaksanakan pada kelas X dan XI, (2) pembekalan sebelum keberangkatan direncanakan secara khusus oleh sekolah dan dunia kerja.

e. (1) pembelajaran reguler dipersiapkan oleh seluruh mata pelajaran intra dan kokurikuler yang dilaksanakan pada kelas X dan XI, (2) pembekalan sebelum keberangkatan direncanakan secara khusus oleh sekolah.

7. Pada Kurikulum Merdeka, PKL merupakan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik di dunia kerja. Diantara pernyataan berikut, yang merupakan pelaksanaan PKL adalah …

a. (1) PKL pada konsentrasi keahlian berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dilaksanakan secara daring dengan pengawasan dari dunia kerja; (2) PKL pada konsentrasi keahlian yang tidak berbasis TIK dilaksanakan secara luring; (3) Pada keadaan tertentu seperti bencana alam, bencana non-alami, dan kondisi geografis tertentu yang membuat PKL secara luring tidak memungkinkan, PKL dapat diganti dengan pembelajaran produktif; (4) Apabila PKL tidak memungkinkan dilaksanakan, sekolah dapat menyelenggarakan bentuk pembelajaran lain pengganti PKL yaitu kegiatan kewirausahaan dan pembelajaran berbasis proyek berdasarkan kebutuhan dunia kerja yang dapat bekerja sama dengan teaching factory yang ada di SMK atau di SMK sekitarnya.

b. (1) PKL pada konsentrasi keahlian berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dilaksanakan secara daring dengan pengawasan dari dunia kerja; (2) PKL pada konsentrasi keahlian yang tidak berbasis TIK dilaksanakan secara luring; (3) Pada keadaan tertentu seperti bencana alam, bencana non-alami, dan kondisi geografis tertentu yang membuat PKL secara luring tidak memungkinkan, PKL dapat ditiadakan; (4) Apabila PKL tidak memungkinkan dilaksanakan, sekolah dapat menyelenggarakan bentuk pembelajaran lain pengganti PKL yaitu kegiatan kewirausahaan dan pembelajaran berbasis proyek berdasarkan kebutuhan dunia kerja yang dapat bekerja sama dengan teaching factory yang ada di SMK atau di SMK sekitarnya.

c. (1) PKL pada konsentrasi keahlian berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dilaksanakan secara daring dengan pengawasan dari dunia kerja; (2) PKL pada konsentrasi keahlian yang tidak berbasis TIK dilaksanakan secara luring; (3) Pada keadaan tertentu seperti bencana alam, bencana non-alami, dan kondisi geografis tertentu yang membuat PKL secara luring tidak memungkinkan, PKL dapat dilakukan secara daring dengan kesepakatan dan persetujuan tertulis dari dunia kerja; (4) Apabila PKL tidak memungkinkan dilaksanakan, sekolah dapat menyelenggarakan bentuk pembelajaran lain pengganti PKL yaitu kegiatan pengayaan pada pembelajaran praktik di bengkel.

d. (1) PKL pada konsentrasi keahlian berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dilaksanakan secara daring dengan pengawasan dari dunia kerja; (2) PKL pada konsentrasi keahlian yang tidak berbasis TIK dilaksanakan secara luring; (3) Pada keadaan tertentu seperti bencana alam, bencana non-alami, dan kondisi geografis tertentu yang membuat PKL secara luring tidak memungkinkan, PKL dapat dilakukan secara daring dengan kesepakatan dan persetujuan tertulis dari dunia kerja; (4) Apabila PKL tidak memungkinkan dilaksanakan, sekolah dapat menyelenggarakan bentuk pembelajaran lain pengganti PKL yaitu kegiatan ekstra kurikuler.

e. (1) PKL pada konsentrasi keahlian berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dilaksanakan secara daring dengan pengawasan dari dunia kerja; (2) PKL pada konsentrasi keahlian yang tidak berbasis TIK dilaksanakan secara luring; (3) Pada keadaan tertentu seperti bencana alam, bencana non-alami, dan kondisi geografis tertentu yang membuat PKL secara luring tidak memungkinkan, PKL dapat dilakukan secara daring dengan kesepakatan dan persetujuan tertulis dari dunia kerja; (4) Apabila PKL tidak memungkinkan dilaksanakan, sekolah dapat menyelenggarakan bentuk pembelajaran lain pengganti PKL yaitu kegiatan kewirausahaan dan pembelajaran berbasis proyek berdasarkan kebutuhan dunia kerja yang dapat bekerja sama dengan teaching factory yang ada di SMK atau di SMK sekitarnya.

8. Dalam pelaksanaan PKL, guru pembimbing PKL dapat terdiri dari …

a. unsur guru mata pelajaran kejuruan (termasuk matematika, bahasa inggris, kewirausahaan dan IPAS) dan guru mata pelajaran umum.

b. unsur guru mata pelajaran kejuruan (termasuk matematika, bahasa inggris, kewirausahaan dan mata pelajaran pilihan), tidak melibatkan guru mata pelajaran umum.

c. unsur guru mata pelajaran kejuruan (termasuk matematika, bahasa inggris, kewirausahaan dan mata pelajaran pilihan) dan guru dari industri.

d. unsur guru mata pelajaran kejuruan (termasuk matematika, bahasa inggris, kewirausahaan dan mata pelajaran pilihan) dan guru mata pelajaran umum.

e. unsur guru mata pelajaran kejuruan (termasuk matematika, bahasa inggris, kewirausahaan dan bahasa indonesia) dan guru mata pelajaran umum.

9. Kegiatan Kewirausahaan yang menjadi pengganti PKL terbagi menjadi dua skema yaitu …

a. (1) Kewirausahaan yang baru akan berjalan (startup) harus sesuai dengan konsentrasi keahlian peserta didik di SMK, dibimbing oleh guru produktif.

Adapun TP, ATP, MA mapel PKL disusun oleh guru produktif; (2) Kewirausahaan yang sudah berjalan oleh peserta didik dapat diakui sebagai pengganti PKL dan harus sesuai konsentrasi keahlian peserta didik atau setidaknya sejalan dengan program keahlian. Kewirausahaan yang dimaksud minimal telah berjalan selama satu tahun yang dibuktikan dengan pembukuan dan bukti permintaan (pemesanan) dari konsumen. Adapun TP, ATP, dan MA disusun oleh guru proyek kreatif kewirausahaan bersama praktisi kewirausahaan.

b. (1) Kewirausahaan yang baru akan berjalan (startup) dan tidak harus sesuai dengan konsentrasi keahlian peserta didik di SMK, dibimbing oleh guru mata pelajaran proyek kreatif kewirausahaan dan praktisi kewirausahaan yang disetujui oleh kepala sekolah. Adapun TP, ATP, MA mapel PKL disusun oleh guru pembimbing; (2) Kewirausahaan yang sudah berjalan oleh peserta didik dapat diakui sebagai pengganti PKL dan harus sesuai konsentrasi keahlian peserta didik atau setidaknya sejalan dengan program keahlian. Kewirausahaan yang dimaksud minimal telah berjalan selama satu tahun yang dibuktikan dengan pembukuan dan bukti permintaan (pemesanan) dari konsumen. Adapun TP, ATP, dan MA disusun oleh guru proyek kreatif kewirausahaan bersama praktisi kewirausahaan.

c. (1) Kewirausahaan yang baru akan berjalan (startup) harus sesuai dengan konsentrasi keahlian peserta didik di SMK, dibimbing oleh guru mata pelajaran proyek kreatif kewirausahaan dan praktisi kewirausahaan yang disetujui oleh kepala sekolah. Adapun TP, ATP, MA mapel PKL disusun oleh guru proyek kreatif kewirausahaan bersama praktisi kewirausahaan; (2) Kewirausahaan yang sudah berjalan oleh peserta didik dapat diakui sebagai pengganti PKL dan harus sesuai konsentrasi keahlian peserta didik atau setidaknya sejalan dengan program keahlian. Kewirausahaan yang dimaksud minimal telah berjalan selama

satu tahun yang dibuktikan dengan pembukuan dan bukti permintaan (pemesanan) dari konsumen. Adapun TP, ATP, dan MA disusun oleh guru proyek kreatif kewirausahaan bersama praktisi kewirausahaan.

d. (1) Kewirausahaan yang baru akan berjalan (startup) harus sesuai dengan konsentrasi keahlian peserta didik di SMK, dibimbing oleh guru mata pelajaran proyek kreatif kewirausahaan dan praktisi kewirausahaan yang disetujui oleh kepala sekolah. Adapun TP, ATP, MA mapel PKL disusun oleh guru proyek kreatif kewirausahaan bersama praktisi kewirausahaan; (2) Kewirausahaan yang sudah berjalan oleh peserta didik dapat diakui sebagai pengganti PKL dan harus sesuai konsentrasi keahlian peserta didik atau setidaknya sejalan dengan program keahlian. Kewirausahaan yang dimaksud minimal telah berjalan selama satu tahun yang dibuktikan dengan pembukuan dan bukti permintaan (pemesanan) dari konsumen. Adapun TP, ATP, dan MA disusun oleh guru pembimbing bersama praktisi kewirausahaan.

e. (1) Kewirausahaan yang baru akan berjalan (startup) harus sesuai dengan konsentrasi keahlian peserta didik di SMK, dibimbing oleh industri dan praktisi kewirausahaan yang disetujui oleh kepala sekolah. Adapun TP, ATP, MA mapel PKL disusun oleh guru proyek kreatif kewirausahaan bersama praktisi kewirausahaan; (2) Kewirausahaan yang sudah berjalan oleh peserta didik dapat diakui sebagai pengganti PKL dan harus sesuai konsentrasi keahlian peserta didik atau setidaknya sejalan dengan program keahlian. Kewirausahaan yang dimaksud minimal telah berjalan selama satu tahun yang dibuktikan dengan pembukuan dan bukti permintaan (pemesanan) dari konsumen. Adapun TP, ATP, dan MA disusun oleh guru produksi.

10. PKL dalam negeri dimulai dengan adanya perjanjian kerja sama antara satuan pendidikan (SMK) dengan dunia kerja yang tertuang dalam naskah kerja sama.

Naskah kerja sama ini menjadi dokumen penting sebagai acuan dalam …

a. menjalankan program PKL dan segala sesuatu hal terkait pelaksanaannya harus tertuang dalam naskah kerja sama itu, di antaranya adalah jangka waktu pelaksanaan PKL, jumlah jam PKL setiap hari, hak dan kewajiban sekolah, hak dan kewajiban dunia kerja, hak dan kewajiban peserta didik PKL, jangka waktu berlakunya perjanjian kerja sama, dan kesepakatan terkait pelanggaran terhadap perjanjian kerja sama.

b. menjalankan program PKL dan segala sesuatu hal terkait pelaksanaannya harus tertuang dalam naskah kerja sama itu, di antaranya adalah jangka waktu pelaksanaan PKL, jumlah jam PKL setiap hari, hak dan kewajiban sekolah, hak