• Tidak ada hasil yang ditemukan

Album Menari Dengan Bayangan

Dalam dokumen PEMAKNAAN LIRIK LAGU EVALUASI (Halaman 59-64)

BAB II PROFIL PENELITIAN

2.2 Album Menari Dengan Bayangan

44

Selain berprofesi sebagai penyanyi, Baskara juga sempat berprofesi sebagai brand manajer pada suatu perusahaan label rekaman Double Deer Records. Setelah memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di Double Deer Record, Baskara bersama dengan rekan-rekan yang lainnya membangun sebuah perusahaan label rekaman sendiri yang diberi nama dengan Sun Eater Coven. Dan ia juga merupakan founding father serta CEO BagiKata.

45

akan ada salah satu lagunya yang menjadi motor penggerak aksi massa pada kalangan mahasiswa, di Hindia ini Baskara malah menghadirkan sebagai sesosok manusia yang biasa-biasa saja, yang punya rasa lelah, rasa cemas, rasa tertekan bahkan sampai punya rasa depresif. Pada album perdananya ini Hindia menjalin kerja sama dengan para produser musik yang bisa dibilang sering di bawa oleh beberapa musisi indie di Indonesia, diantaranya adalah Ibnu Dian, Petra Sihombing, Adhe Ario, Rizky Indrayadi, Yosugi, Rayhan Noor, Wisnu Ikhsantama.

Pada album ini, kontemplasi yang digambarkan Hindia mengadopsi dari problematika atau permasalahan pada kehidupan yang bisa dibilang sangat melekat dengan kita semua sebagai umat manusia. Namun pada lagu-lagu Hindia, bukan termasuk lagu-lagu yang terbilang kontra dengan semua itu. Justru pada lirik serta lagu yang digarap oleh Hindia seringkali diibaratkan sebagai obat yang menenangkan pendengarnya, sebagai teman yang datang pada saat-saat patah atau menyerah lalu seakan-akan lagu itu mengucapkan kepadamu, “sudah tak apa, kamu itu tidak sendirian, kok. Jangan menyerah ya!.” Seperti itu kurang lebihnya pesan-pesan yang ingin diutarakan oleh Hindia sehingga kegelisahan dari para pendengarnya jadi merasa terwakilkan dan tersampaikan melalui lirik-lirik dari lagu-lagu Hindia.

Single “Evakuasi” menjadi lagu pembuka yang pantas pada album ini.

Hiruk-pikuk dari masyarakat urban menjadi sebuah tujuan utama yang cukup menggelisahkan bagi seorang Hindia. Dia terlihat begitu cemas, muram, sekaligus pasrah. Seolah-olah mencoba bangun dari kesedihan, Lagu single “Besok

46

Mungkin Kita Sampai” pun kembali dengan menyampaikan problematika atau permasalahan anak-anak muda yang masih diombang-ambingkan nasib yang kurang baik. Tetapi sering kali dihadapi oleh tuntutan hidup dari banyak aspek kehidupan. Lagu ini digarap dengan membawa nada-nada yang terkesan optimistis namun tetap saja masih terdengar pasrah dan cemas khas Hindia.

Selanjutnya ada single “Jam Makan Siang”, “Dehidrasi”, “Untuk apa/Untuk apa?”, apabila ketiganya disambungkan secara makna tentu saja akan menjadi suatu lagu yang tepat sebagai teman untuk menemani jam makan siang, seakan-akan seperti bentuk obrolan dengan teman atau rekan yang membahas sebuah hubungan, impian-impian yang sempat sirna, bahkan juga membahas segala kejenuhan tentang aktivitas apa yang selama ini sedang dilakukan.

Memiliki perbedaan dengan lagu-lagu Hindia yang sebelumnya yang lebih menyampaikan tema tentang suasana pada kesibukan kegiatan sehari-hari yang sering terjadi dari pagi hari hingga pada sore hari, pada lagu selanjutnya ini Hindia memberikan unsur suasana pada malam hari, seperti ketika sedang beristirahat atau yang lebih dikenal dengan istilah overthinking time atau pada jam-jam yang bisa diblang rawan overthinking, single “Secukupnya”, yang unjuk gigi pada film Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini seolah membangunkan kita terhadap hal-hal buruk itu pasti terjadi, pemikiran yang negatif pun pasti akan muncul serta semua umat manusia pun bisa mengalami hal yang serupa. Perasaan yang sedih itu pun pasti akan menghampiri setiap orang, bahwa tidak ada salahnya untuk kita mencoba memeluk kesedihan tersebut namun tidak larut didalam kesedihan itu. Dapat dibilang lagu ini disebut menjadikan yang paling

47

pahit maknanya pada album ini, pembawaan yang kembali terdengar lelah, capek tetapi diiringi dengan instrumen-instrumen elektronik yang menghentak, mampu menciptakan kesan suasana kesedihan yang namun dirayakan. Hindia ingin mengutarakan kepada para pendengarnya jikalau merasa sedih dan lelah itu adalah sebuah kewajaran yang pasti akan dihadapi dan dirasakan oleh setiap manusia, tetapi jangan sampai kita terlalu larut didalam kesedihan itu sendiri karena kita akan masih menghadapi hari esok serta hari-hari selanjutnya yang akan menanti kita untuk melewatinya.

Perasaan optimis ini pun kembali tampak pada beberapa lagu terakhir didalam album Menari Dengan Bayangan. Yaitu lagu “Rumah ke Rumah” yang maknanya membahas tentang perpindahan hati yang pernah bersinggah pada seseorang, „rumah‟ didalam lagu ini dianalogikan sebagai hati atau sesuatu yang pasti dan wajar terjadi di berbagai apapun kondisinya harus tetap diberikan apresiasi.

Ada juga lagu dengan judul “Membasuh” yang menggaet mantan vokalis dari band indie yang bernama Banda Neira, yaitu Rara Sekar. Single ini pun hadir sebagai bentuk keikhlasan yang paling tinggi, bahwa walaupun sedang merasa kekurangan tetapi sebisa mungkin harus tetap memberi. Lalu muncullah lagu

“Mata Air” sebagai sebuah lagu pengingat jikalau hidup itu bukanlah arena balap maupun jalan raya, oleh karena itu didalam hidup tidak perlu untuk saling mendahului dalam perjalanannya, semua sudah ada porsinya.

48

Single “Evaluasi” hadir seolah-olah menjadi penutup pada album “Menari Dengan Bayangan” dengan kembali lagi mengingatkan kepada para pendengarnya agar bangkit dari keterpurukan yang sedang menghampiri, supaya tetap menjalankan hidup seperti biasanya terlepas dari semua hal yang pernah dialami, bahwasannya hari esok dan hari selanjutnya masih ada dan harus dilewati walaupun hari ini sedang terasa berat bahkan sedih.

Karya yang diciptakan oleh Hindia ini memiliki keunikan, salah satunya yaitu dengan hadirnya 3 skit ataupun sebuah pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang berbeda-beda. Tiga skit itu ikut serta menjadi suatu bagian pada album „Menari Dengan Bayangan‟ justru seolah seperti sebuah penyempurna dari makna yang hangat dan berperan sebagai penopang atas pesan-pesan yang akan diutarakan oleh Hindia. “Voice Note Anggra”, “Wejangan Mama”, serta

“Wejangan Caca” muncul dalam bentuk voice over yang mengandung pesan dari beberapa orang-orang terdekat dari sosok Baskara. Kemunculan tiga skit ini seakan-akan menampilkan bahwasannya ada suatu cerita kisah dari tiap orang, bahwasannya ada orang-orang yang sudah pasti mengambil peranan didalam hidup kita serta membuat hidup kita menjadi lebih mempunyai banyak warna, bahwasannya tiap-tiap individu itu mempunyai caranya tersendiri untuk menunjukkan semua perasaannya, kekhawatirannya, lalu rasa bangga kepada orang terdekatnya.

49

Dalam dokumen PEMAKNAAN LIRIK LAGU EVALUASI (Halaman 59-64)