• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ali Imran [3]: 28

Dalam dokumen PDF Pemimpin Non-muslim Dalam Prespektif Al- (Halaman 85-112)

BAB IV AYAT-AYAT TENTANG PEMIMPIN NON-MUSLIM DALAM

1. Ali Imran [3]: 28

























































“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali Karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran [3]: 28)

a. Penafsiran Nawawi al-Bantani

Tidaklah orang-orang mukmin mengangkat orang-orang kafir sebagai Auliyâ‟ dengan memutus hubungan dengan orang mukmin, yakni janganlah orang-orang mukmin berpihak kepada orang-orang kafir, baik secara terpisah maupun secara bersekutu dengan orang-orang mukmin. Akan tetapi sesungguhnya yang boleh bagi orang mukmin adalah mengangkat orang mukmin sebagai Auliyâ‟ dan mencintai sesamanya. Ketahuilah keberadaan orang mukmin yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin itu ada tiga macam kemungkinan, pertama orang mukmin tersebut ridha dengan

72

kekafiran orang kafir tersebut dan mengangkatnya sebagai pemimpin karena kekafirannya. Dan ini dilarang, karena sesungguhnya ridho atas kekafiran adalah kafir. Kedua, ber-mu‟asyarah (berhubungan) dengan bagus dalam dunia secara dhohir (kasat mata) dan ini tidak dilarang. Ketiga, condong kepada orang kafir dan saling membantu dan tolong-menolong, baik disebabkan karena ada hubungan keluarga atau disebabkan karena adanya rasa cinta beserta keyakinan bahwasanya agama orang kafir tersebut adalah bathil, dan ini tidak menyebabkan ia menjadi kafir, akan tetapi sesungguhnya hal ini adalah terlarang karena sesungguhnya hal seperti ini bisa mendorong dia menganggap bagus agama orang kafir dan ridho kepada agamanya. Hal itu bisa mengeluarkan dia dari keIslamannya dan ayat ini merupakan ancaman dari Allah.1

Dan barang siapa yang melakukan hal tersebut, yakni berpihak dan menolong orang-orang baik dengan memutus hubungan dengan orang mukmin maupun tetap menjaganya maka tidaklah dia yakni orang tersebut berada di dalam wilayahnya Allah. Kecuali mereka yang bersiasat untuk menjaga diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, yakni janganlah kalian mengambil orang-orang kafir sebagai penolongmu baik secara dhohir maupun bathin didalam tingkah apapun kecuali tingkah bersiasat untuk membela diri dari orang kafir yang artinya Allah melarang kamu sekalian untuk bersiasat terhadap orang kafir kecuali orang-orang kafir tersebut berada dalam posisi yang menang atau orang mukmin tersebut berada didalam kaum kafir, maka orang mukmin tersebut berpura-pura kafir secara lisan tetapi hatinya tetap beriman kepada Allah untuk membela diri tanpa menghalalkan darah yang haram atau harta yang haram atau hal-hal lain yang yang diharamkan, dan tanpa menunjukkan kepada orang kafir atas kejelekan atau kelemahan orang muslim.2

Dan bersiasat kepada orang kafir untuk membela diri itu harus disertai dengan rasa takut untuk di bunuh dan dengan niat yang benar.

Di riwayatkan dari Hasan sesungguhnya ia telah berkata Taqiyah (bersiasat) itu boleh bagi orang mukmin sampai hari kiamat nanti, karena sesungguhnya membela diri itu wajib hukumnya sebisa mungkin.

Al-Hasan berakata bahwa Musailamah al-Kadzab berhasil menangkap dua orang yang berasal dari kalangan sahabat Rasulullah

1 Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi (Banten), Tafsir al-Munir

(Marah Labid), jilid 2, terj. Bahrun Abu Bakar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2011), h.

85 2

Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi (Banten), Tafsir al-Munir (Marah Labid), jilid 1, h. 85

Saw. kemudian ia berkata pada salah satu dari mereka ―apakah kamu bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?‖ maka sahabat tersebut menjawab ―iya, iya, iya,‖, kemudian Musailamah Al-Kadzab bertanya kembali ―apakah kamu bersaksi bahwa saya adalah utusan Allah?‖ ia menjawab ―iya‖, maka Musailamah al- Kadzab meninggalkannya dan mendatangi sahabat yang lain, kemudian berkata ―apakah kamu bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?‖ maka sahabat tersebut menjawab ―iya‖, kemudian Musailamah Al-Kadzab bertanya kembali ―apakah kamu bersaksi bahwa saya adalah utusan Allah?‖ ia menjawab ―saya adalah orang yang bisu, saya adalah orang yang bisu, saya adalah orang yang bisu, ‖ maka Musailamah pun mendekatinya dan membunuhnya.3

Kemudian sampailah kabar tersebut kepada Nabi Muhammad Saw. dan bersabda ―adapun orang yang di bunuh ini pergi bersama keyakinan dan imannya, maka selamatlah baginya, sedangkan yang lain, dia menerima rukhsah Allah dan tiada beban tanggung jawab terhadap dirinya‖.4

Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya, yakni Zat-nya yang maha suci dalam bertaqiyah. Dan hanya kepada Allah kembalimu yakni tempat kembalimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap-Nya, janganlah kamu menjerumuskan dirimu terhadap murka-Nya dengan melanggar hukum-hukum-Nya. 5

b. Penafsiran Quraish Shihab

Ayat ini melarang orang orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong mereka, karena jika seorang mukmin menjadikan mereka penolong, itu berarti sang mukmin dalam keadaan lemah. Itu konsekuensi paling sedikit. Jangan jadikan mereka penolong, kecuali kalau ada kemaslahatan kaum muslimin dari pertolongan itu, atau paling sedikit tidak ada keraguan yang dapat menimpa kaum muslimin dari pertolongan itu.6

Kata ( ) kafir biasa dipahami dalam arti siapa yang tidak memeluk agama Islam. Makna ini tidak keliru, tetapi perlu diingat

3 Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi (Banten), Tafsir al-Munir

(Marah Labid), jilid 1, h. 341

4 Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi (Banten), Tafsir al-Munir

(Marah Labid), jilid 1, h. 342

5 Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi (Banten), Tafsir al-Munir

(Marah Labid), jilid 1, h. 343

6 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 72

74

bahwa al-Qur‘an menggunakan kata kafir dalam berbagai bentuknya untuk banyak arti, puncaknya adalah pengingkaran terhadap wujud atau keesaan Allah, disusul dengan keengganan melaksanakan perintah atau menjauhi larangan-Nya walau tidak mengingkari wujud dan keesaan-Nya, sampai kepada tidak mensyukuri nikmat-Nya, yakni kikir. Bukankah Allah memperhadapkan Syukur dengan kufur untuk mengisyaratkan bahwa lawan syukur, yakni kikir adalah kufur?

Dan ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan7:

Atas dasar itu dapat dikatakan bahwa kufur adalah segala aktifitas yang bertentangan dengan tujuan agama; dan dengan demikian walaupun ayat ini turun dengan konteks melarang orang- orang beriman menjadikan orang Yahudi atau Nasrani sebagai pemimpin yang diberi wewenang menangani urusan orang-orang yang beriman, tetapi larangan itu mencakup juga orang yang dinamai muslim yang melakukan aktifitas yang bertentangan dengan tujuan ajaran agama Islam. Larangan ini adalah karena kegiatan mereka secara lahiriyah bersahabat, menolong, dan membela umat Islam, tetapi pada hakikatnya dengan halus mereka menggunting dalam selimut. Adapun kerjasama dalam bidang yang menguntungkan kedua belah pihak, khususnya masalah keduniaan yang menguntungkan itu pun hendaknya memprioritaskan orang-orang yang beriman, sebagaimana dipahami dari lanjutan ayat yang mengaitkan larangan tersebut dengan penjelasan tambahan, yakni dengan meninggalkan orang-orang mukmin.8

Jika demikian, Barang siapa berbuat seperti itu, yakni menjadikan orang kafir menjadi wali, niscaya dia tidak dengan Allah sedikit pun. Kata ―itu” yang merupakan kata yang menunjukkan sesuatu yang jauh, memberi isyarat jauhnya perbuatan tercela ini dari sikap keimanan serta kesadaran akan kekuatan, kebesaran, dan pertolongan Allah, yang seharusnya melekat pada diri setiap orang yang beriman. Jika itu dilakukan, maka yang bersangkutan tidak berada dalam posisi yang menjadikan dia wajar dinamai berada dalam kewalian, perlindungan dan pertolongan Allah karena siapa saja yang berteman musuh Allah atau dengan sengaja melakukan tindakan yang merugikan penganut agama Allah, dia adalah musuh Allah dan, dengan demikian, dia tidak akan memperoleh pertolonganNya sedikitpun. Ayat ini tidak menyatakan dengan tegas ―tidak berada dalam kewalian Allah sedikit pun‖. Kata ―kewalian‖ tidak disebut

7 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, h. 72

8 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, h. 72-73

untuk mengisyaratkan bahwa yang bersangkutan bukan hanya untuk memperoleh kewalian, tetapi tidak memperoleh sedikit apa pun dari Allah karena dia bagaikan telah meninggalkan Zat Allah dengan seluruh sifat-sifatNya, bukan hanya dalam kedudukanNya sebagai wali terhadap orang-orang yang beriman.9

Memang, manusia bermacam-macam, kondisi yang dihadapi pun beraneka ragam. Di sisi lain, pencapaian kepentingan perjuangan memerlukan siasat, karena itu Allah Swt. memberi pengecualian.

Yakni, bahwa larangan tersebut berlaku dalam seluruh situasi dan kondisi, kecuali dalam situasi dan kondisi siasat memelihara dari guna menghindar dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka.10

Pengecualian ini oleh ulama disitilahkan dengan nama Taqiyah. Ayat ini membenarkan adanya Taqiyah. Menurut Muhammad Sayyid Thanthawi, taqiyah adalah upaya yang bertujuan memlihara jiwa atau kehormatan dari kejahatan musuh. Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa musuh yang dihadapi seorang muslim ada dua macam: pertama, permusuhan yang didasari oleh perbedaan agama.

Dan kedua, permusuhan yang motivasinya adalah kepentingan duniawi, seperti harta dan kekuasaan. Atas dasar itu taqiyah pun terbagi atas dua kategori. Seorang muslim bila tidak bebas melaksanakan ajaran agamanya pada suatu wilayah, dia hendaknya meninggalkan wilayah itu ke tempat yang memungkinkan dia melaksanakannya dengan aman. Dia wajib berhijrah. Ini berdasarkan firman Allah (QS. An-Nisa [4]: 97-98).

Orang yang tidak dapat meninggalkan wilayah yang tidak memberinya kebebasan melakukan ajaran agamanya dikecualikan oleh ayat ini. Ia diizinkan melakukan taqiyah kalau jiwa dan sesuatu yang amat berharga baginya terancam. Dia dibenarkan untuk tetap berada dalam wilayah itu, dan berpura-pura mengikuti kehendak yang mengancamnya selama darurat, sambil mencari jalan untuk menghindar dari pemaksaan. Ini pun oleh sementera ulama dinilai hanya berupa Rukhshah, yakni izin. Akan lebih baik jika dia tegar dan menolak ancaman itu.11

Adapun jika musuh yang dihadapi dan mengancam itu dimotivasi oleh duniawi, dalam hal ini ulama berbeda pendapat menyangkut kewajiban berhijrah. Ada yang mewajibkan dan ada yang

9 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, h. 73

10 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, h. 73-74

11 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, h. 74-75

76

tidak mewajibkan. Di sisi lain, sementara ulama memasukkan dalam izin melakukan taqiyah untuk menghadapi orang-orang zalim atau fasik dengan berbasa-basi terhadap mereka—baik dengan ucapan maupun senyum—dalam rangka menampik kejahatan mereka atau memelihara kehormatan sang muslim. Untuk kasus semacam ini, basa-basi itu dibenarkan dengan syarat tidak mengakibatkan pelanggaran terhadap prinsip ajaran Islam.12

Allah memperingatkan kamu (baik yang beriman tetapi menjadikan orang-orang kafir sebagai wali maupun orang-orang kafir yang mengancam orang-orang beriman, demikian pula yang ber- taqiyah bukan pada tempatnya, atau siapapun yang berencana melanggar perintah Allah) terhadap diri-Nya, yakni siksa-Nya.

Memang kata ―siksa-Nya‖ tidak disebutkan di sini, sebagaimana sebelum ini kata kewalian tidak juga disebut dalam rangkaian kalimat, niscaya ia tidak dengan Allah sedikit pun. Itu untuk menekankan bahwa siksa tersebut sungguh berat dan pedih. Seakan-akan ayat ini menyatakan bahwa yang menangani hal ini adalah Allah sendiri secara langsung, tidak mendelegasikannya kepada yang lain. Ini tidak sulit karena hanya kepada Allah tepat kembali segala sesuatu.13 c. Analisis Komparatif

Menurut Nawawi al-Bantani mengenai surat Ali Imran [3]: 28 bahwasanya menjadikan orang kafir sebagai penolong terdapat tiga kemungkinan. Pertama, ber-mu‟asyarah (berhubungan) dengan bagus dalam urusan duniawi dan hal ini diperbolehkan. Kedua, condong kepada orang kafir dan saling membantu dan tolong-menolong ,baik disebabkan karena ada hubungan keluarga atau disebabkan karena adanya rasa cinta beserta keyakinan bahwasanya agama orang kafir tersebut adalah bathil, dan ini tidak menyebabkan ia menjadi kafir, akan tetapi sesungguhnya hal ini adalah terlarang karena sesungguhnya hal seperti ini bisa mendorong dia menganggap bagus agama orang kafir dan ridho kepada agamanya. Hal itu bisa mengeluarkan dia dari keIslamannya. Ketiga, orang mukmin tersebut ridha dengan kekafiran orang kafir dan mengangkatnya sebagai wali karena kekafirannya. Dan ini haram hukumnya karena sesungguhnya ridho atas kekafiran adalah kafir. Barang siapa yang melakukan hal ini maka dia berada diluar wilayahnya Allah.

12 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, h. 75

13 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, h. 75-76

Larangan diatas dikecualikan ketika seorang muslim bersiasat untuk menjaga diri dari orang kafir (Taqiyah), taqiyah ini diperbolehkan ketika kaum kafir lebih banyak dari kaum muslim, atau kaum muslim berada di wiliyah orang kafir, tanpa menghalalkan darah yang haram atau harta yang haram atau hal-hal lain yang yang diharamkan, dan tanpa menunjukkan kepada orang kafir atas kejelekan orang muslim. dan di syarat juga orang muslim tersebur mempunyai rasa takut untuk di bunuh dan dengan niat yang benar beserta tetapnya iman.

Quraish Shihab dalam penafsiran ayat ini tidak jauh berbeda dengan pendapat Nawawi al-Bantani, hanya saja dalam menafsirkan makna taqiyah Quraish Shihab lebih luas penjabarannya, ia menukil dari pendapat Sayyid Thanthawi, bahwa taqiyah adalah upaya yang bertujuan memelihara jiwa atau kehormatan dari kejahatan musuh.

Selanjutnya, ia membagi musuh seorang muslim menjadi dua macam:

pertama, permusuhan yang didasari oleh perbedaan agama. Dan kedua, permusuhan yang motivasinya adalah kepentingan duniawi, seperti harta dan kekuasaan. Kemudian atas dasar itu taqiyah pun terbagi atas dua kategori yang sesuai dengan pembagian musuh di atas, oleh karena itu penulis mengatakan Quraish Shihab lebih luas dalam menafsirkan taqiyah.

2. Surat an-Nisa[4]: 139































“(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu?

Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

a. Penafsiran Nawawi al-Bantani

Yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu?

Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.Yakni sesungguhnya orang-orang munafik yang menjadikan orang Yahudi sebagai teman sejawat mereka, dan sebagaian orang munafik berkata kepada sebagian yang lain. Apa yang di bawa nabi Muhammad tidaklah sempurna, maka berpihaklah kamu kepada orang-orang

78

Yahudi. Kemudian berkatalah mereka sesungguhnya keluhuran adalah milik mereka, apakah orang-orang munafik itu mencari keluhuran terhadap orang Yahudi yang kuat? Maka sesungguhnya kekuatan yang sempurna hanyalah milik Allah, dan setiap orang selain Allah dengan Allah memberi kekuasaan maka dia akan berkuasa dan dengan Allah memberinya kemuliaan maka dia akan mulia. Dan kemuliaan yang ada pada diri Rasulullah Saw. dan pada orang mukmin tidaklah akan ada kecuali dari Allah Swt maka sesungguhnya kemuliaan adalah milik Allah semata.14

b. Penafsiran Quraish Shihab

Mereka yang menjadikan orang-orang kafir Auliyâ‟, yakni teman-teman penolong serta pendukung mereka dan tempat mereka menyimpan rahasia. itu mereka lakukan dengan meninggalkan orang- orang mukmin yang mantap imannya. Apakah mereka yakni orang- orang munafik itu mencari dengan penuh kesungguhan kekuatan di sisi mereka orang-orang kafir itu? Sungguh, mereka sangat bodoh karena sesungguhnya kekuatan milik Allah semaunya. Jika demikian, orang-orang munafik itu hanya akan mendapatkan kehinaan dan kelemahan. 15

Kata ( ) „izzah terambil dari akar kata yang maknanya berkisar pada kekukuhan, kekuatan, dan kemantapan. Kata kerjanya dapat berarti mengalahkan, atau sangat jarang, atau sedikit, bahkan tidak ada samanya atau tidak dapat dibendung oleh yang berencana membendungnya dan tidak dapat diraih oleh yang meraihnya.

Makna-makna itu dapat dinisbahkan kepada Allah Swt. Dia mengalahkan, juga tidak ada samaNya dan Dia tidak dapat dibendung oleh yang berencana membendung-Nya dan tidak dapat diraih oleh yang ingin meraih-Nya.16

Imam Ghazali menetapkan tiga syarat yang harus terpenuhi untuk menyandang sifat itu. Pertama, peranan yang sangat penting lagi sedikit sekali wujud yang sama dengannya. Kedua, sangat dibutuhkan. Dan ketiga, sulit diraih atau disentuh. Allah adalah Zat yang Maha Berperanan, tanpa wujud-Nya tidak akan ada wujud, tanpa bantuan-Nya tidak akan ada bantuan. Allah Swt. bukan hanya sedikit

14 Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi (Banten), Tafsir al-Munir

(Marah Labid), jilid 1, h. 168

15 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, h.763

16 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, h.764

wujud yang sama dengan-Nya, Dia bahkan tidak ada sama-Nya, walau dalam benak atau imajinasi. Dia tidak dapat diraih atau dijangkau karena tidak ada yang mengenal Allah sebenar-benar pengenalan kecuali Diri-Nya sendiri.17

Jika itu semua menjadi milik-Nya, tidak tersisa lagi „izzah bagi selain-Nya kecuali jika Dia yang Maha Mulia dan kuat itu menganugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Bila orang- orang munafik mencari kekuatan dan kemuliaan kepada orang-orang kafir, jika mereka mendapatkannya maka itu adalah kekuatan dan kemuliaan palsu karena Allah tidak menganugerahkan kemuliaan kecuali kepada mereka yang taat kepada-Nya. Mereka berkata:

―Kekuatan hanyalah milik Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang- orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.18 c. Analisis Komparatif

Dalam ayat ini imam Nawawi dan Qurais Shihab sama-sama melarang orang mukmin mengangkat orang kafir sebagai Auliyâ‟

(teman-teman penolong serta pendukung dengan tujuan untuk mencari kemuliaan seperti hal nya yang dilakukan oleh orang munafik. Quraish Shihab menukil pendapat Imam Ghazali bahwasanya suatu dzat dikatakan ‗izzah apabila memenuhi tiga syarat , Pertama, peranan yang sangat penting lagi sedikit sekali wujud yang sama dengannya. Kedua, sangat dibutuhkan. Dan ketiga, sulit diraih atau disentuh. Jika itu semua menjadi milik-Nya, tidak tersisa lagi „izzah bagi selain-Nya kecuali jika Dia yang Maha Mulia dan kuat itu menganugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

3. Surat an-Nisa [4]: 144





































“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang- orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?” (QS. An-Nisa [4]: 144)

17 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, h. 764

18 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an,

vol.2, h. 764-765

80

a. Penafsiran Nawawi al-Bantani

Wahai orang-orang yang beriman secara sembunyi- sembunyi dan terang-terangan, janganlah kalian menjadikan orang- orang kafir yakni orang yang berjuang dalam kekafiran atau orang yang kafir dengan terang-terangan, sebagai teman setiamu dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kalian semua menginginkan wahai orang-orang mukmin yang mukhlish . memberi alasan yang jelas bagi Allah untuk menyiksamu?- yakni apakah kalian menginginkan dengan kalian mengangkat orang kafir sebagai pemimpin, kalian menjadikan orang ahli agamanya Allah ( Rasul dan umatnya) bukti nyata / hujjah yang jelas atas kemunafikannya kalian?, karena sesungguhnya mengangkat orang kafir sebagai pemimpin adalah pertanda yang paling jelas atas kemunafikan.19

Pendapat yang lain mengatakan bahwa makna ayat diatas adalah wahai orang yang beriman secara terang-terangan saja yaitu Abdullah bin Ubay dan para sahabatnya , janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi sebagai teman setiamu untuk kamu mintai sarannya dengan meninggalkan orang-orang mukmin yang mukhlis. Apakah kalian menginginkan atas apa yang kalian lakukan itu sebagai alasan Rasulullah untuk membunuh kalian?.

Pendapat yang lain menyebutkan bahwa Dan dikatakan juga apakah kalian menginginkan untuk menjadikan hak Allah didalam menghukum kalian, bukti yang nyata atau hujjah yang jelas sebab kalian berteman setia terhadap orang-orang Yahudi?.20

b. Penafsiran Quraish Shihab

wahai orang-orang yang mengaku beriman, baik pengakuan benar maupun bohong, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir Auliyâ‟ teman-teman akrab tempat menyimpan rahasia, serta pembela dan pelindung kamu dengan meninggalkan persahabatan dan pembelaan orang-orang mukmin. Maukah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah untuk menyiksamu atau bukti yang jelas bahwa kamu benar-benar bukan orang-orang beriman?

19 Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi (Banten), Tafsir al-Munir

(Marah Labid), jilid 1, h. 169

20 Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi (Banten), Tafsir al-Munir

(Marah Labid), jilid 1, h. 169

Dalam dokumen PDF Pemimpin Non-muslim Dalam Prespektif Al- (Halaman 85-112)

Dokumen terkait