• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriteria Pemimpin

BAB II TINJAUAN UMUM PEMIMPIN

B. Kriteria Pemimpin

Keenam, jaminan atas keamanan kehormatan dan harga diri mereka, baik yang terkait dengan nama baik, nasab, susila, dan lainnya.

Ketujuh, jaminan dari berbagai macam gangguan lainnya, baik yang berasal dari umat Islam ataupun dari orang Kâfirlainnya.24

27

barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali Karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Ali Imran [3]:28)

2. Sehat jasmani dan rohani, jujur, serta memiliki kemampuan

Seorang pemimpin negara harus kuat, yaitu sehat jasmani dan rohani, atau sehat fisik dan mental, jujur (dapat dipercaya) dan berani, serta memiliki kemampuan yaitu berilmu dan memiliki wawasan yang luas.27 Syarat ini dapat ditemukan dalam firman Allah dalam surah Al-Qasas [28]: 26 yang berbunyi sebagai berikut:























“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya".” (QS. Al-Qasas [28]:

26

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa sesungguhnya orang yang paling baik dipekerjakan adalah orang yang kuat lagi terpercaya. Selanjutnya Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah [2]: 247

























































































“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." mereka menjawab:

"Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak

27 Muchlis M. Hanafi (ed), Al-Qur‟an dan Kenegaraan (Tafsir al-Qur‟an Tematik),

h. 194

mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" nabi (mereka) berkata:

"Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]:

247

Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa seorang yang akan memimpin negara itu hendaklah:

a. Mempunyai kekuatan fisik, memiliki kesehatan jasmani dan rohani, sehingga mampu untuk melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pemimpin negara.

b. Menguasai ilmu pengetahuan yang luas, mengetahui letak kekuatan rakyat dan kelemahannya, sehingga dapat memimpin dengan penuh bijaksana.

c. Bertakwa kepada Allah agar mendapat taufik dan hidayahNya untuk mengatasi segala kesulitan yang tidak mungkin diatasinya sendiri, kecuali dengan taufik dan hidayah-Nya.28

3. Adil dan profesional.

Seorang pemimpin negara harus seorang yang adil dan profesional.

Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang memiliki integritas moral yang tinggi, menjauhkan diri dari melakukan dosa, selalu memihak pada kebenaran, serta menghindari dari perbuatan yang hina.29 Allah SWT. berfirman dalam surah Sad [38]: 26































































“Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu Khalîfah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.

Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan

28 Muchlis M. Hanafi (ed), Al-Qur‟an dan Kenegaraan (Tafsir al-Qur‟an Tematik),

h.196

29 Muchlis M. Hanafi (ed), Al-Qur‟an dan Kenegaraan (Tafsir al-Qur‟an Tematik),

h. 198

29

mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shad[38]: 26)

Kemudian pemimpin negara yang profesional adalah pemimpin negra yang betul-betul memiliki keahlian, kecakapan, dan kemampuan untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin negara.30

4. Bertanggung jawab dan amanah.

Allah SWT. berfirman dalam surat An-Nisa[4]: 58





















































“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik- baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa [4]: 58)

Dalam ayat ini mewajibkan kepada setiap muslim baik pemimpin negara, para pejabat, atau lainnya yang memikul amanat, agar melaksankannya dengan jujur, baik amanat yang diterimanya dari Allah, maupun amanat yang diterimanya dari sesama manusia. Dalam islam, amanat merupakan sesuatu yang harus dipelihara karena kelak akan dipertanggungjawabkannya kepada Allah.31

5. Berani dan tegas

Pemimpin negara harus memiliki keberanian untuk melindungi wilayah kekuasaannya dan untuk mempertahankannya dari serangan musuh, berani meluruskan bawahannya yang berbuat zalim, berani bertindak tegas kepada siapapun diantara rakyat yang melanggar hukum meskipun dengan berbuat demikian ia rentan di benci dan dimusuhi oleh pihak-pihak yang anti terhadap tindakan tegas yang di

30 Muchlis M. Hanafi (ed), Al-Qur‟an dan Kenegaraan (Tafsir al-Qur‟an Tematik),

h. 203

31 Muchlis M. Hanafi (ed), Al-Qur‟an dan Kenegaraan (Tafsir al-Qur‟an Tematik),

h. 205-206

ambilnya itu.32 Berkenan dengan syarat ini Allah berfirman dalam surat Al-Maidah [5]: 54













































































“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki- Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”

(QS. Al-Maidah [5]: 54)

6. Cinta kebenaran dan musyawarah

Pemimpin yang cinta kebenaran adalah pemimpin yang benar dalam segala urusannya dan selalu memerintahkan para pembantu, keluarga, dan rakyatnya untuk selalu benar dalam perkataan, perbuatan, niat dan cara berpikir. Disamping cinta kebenaran, pemimpin juga harus cinta pada musyawarah. Pemimpin negara harus bermusyawarah dengan lembaga-lembaga, para pejabat yang terkait terutama dalam masalah daruriyat dan hajiyat. Daruriyat adalah kebutuhan-kebutuhan primer yang terdiri dari memlihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Sedangkan hajiyat adalah kebutuhan-kebutuhan mendesak yang mana bila tidak terwujudkan tidak sampai mengancam keselamatan, namun akan mengalami kesulitan33. Berkenaan dengan musyawarah ini Allah berfirman dalam surat Ali Imran[3]: 159.

32 Muchlis M. Hanafi (ed), Al-Qur‟an dan Kenegaraan (Tafsir al-Qur‟an Tematik),

h. 206

33 Muchlis M. Hanafi (ed), Al-Qur‟an dan Kenegaraan (Tafsir al-Qur‟an Tematik),

h. 208

31































































“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran [3]: 159)

Di samping syarat pemimpin negara yang disimpulkan di atas, kiranya perlu juga dikemukan sebagai perbandingan syarat- syarat kepala negara yang dirumuskan oleh para ahli tata negara islam, baik yang hidup di zaman klasik (650-1250 M), pertengahan (1250-1800 M), maupun kontemporer (1800 M- sekarang). Mewakili para ahli tata negara Islam zaman Klasik, pada pembahasan ini penulis akan menyajikan lima orang ulama, yaitu (1) Ibn Abi Rabi‟

yang hidup di masa Khalîfah kedelapan dinasti Bani Abbas, al- Mu‟tashim (218-227 H / 833-841 M), (2) Al-Farabi (257-339 H / 870- 950 M), (3) Imam Abu Bakar al-Baqilani (w. 403 H / 1013 M), (4) Al-Mawardi (364-450 H / 975-1059 M), (5) Al-Ghazali (450-505 H / 1058-1111 M). Sementara untuk zaman pertengahan dikemukan pendapat dua orang ulama, yaitu : (1) Ibnu Taimiyah (661-728 H / 1262-1328 M), dan (2) Ibn Khaldun (732-808 H / 1332-1406 M).

Sedangkan untuk zaman Kontemporer penulis mengajukan empat orang ulama, yaitu : (1) Hasan Ismail Hudaibi ketua umum al-Ikhwan al-Muslimin dari tahun 1948-1954 M, (2) al-Maududi (1903-1979 M),

Menurut Ibnu Abi Rabi‟ (w.841 M.) calon kepala negara islam harus memenuhi enam syarat sebagai berikut : (1) harus anggota keluarga raja, dan mempunyai hubungan nasab yang dekat dengan raja sebelumnya, (2) memiliki aspirasi yang luhur, (3) mempunyai pandangan yang mantap dan kokoh, (4) memiliki ketahanan dalam

mengahadapi kesukaran/tantangan, (5) mempunyai kekayaan yang banyak, dan (6) memiliki pembantu-pembantu yang setia.34

Suatu hal yang cukup menarik, bahwa berbeda dengan kebanyakan pemikir-pemikir politik islam, dia tidak menjadikan keturunan Quraisy sebagai salah satu syarat untuk dapat menduduki jabatan Khalîfah atau kepala negara. Baginya cukup kalau calon raja itu seorang anggota keluarga dekat dengan raja sebelum dia. Sikap

“lunak” Ibnu Abi Rabi ini mungkin disebabkan oleh karena dinasti Abbasyiah semasa pemerintahan Khalîfah Mu‟tashim masih sedemikian kokoh, sehingga tidak terbayangkan jabatan kepala negara dapat jatuh kepihak lain diluar keturunan Abbas, yaitu salah satu cabang dari Bani Hasyim, salah satu komponen terkemuka dari suku Quraisy. Ibnu Abi Rabi‟ tidak menyinggung pula cara pengangkatan para kepala negara, pleh karena sebagaimana semasa kekuasaan Umawiyah dalam “kamus politik” Abbasiyah tidak ada sistem lain kecuali turun-temurun, bahkan lebih ketat dan kental.35

Berbeda dengan Ibn Abi Rabi‟, Al-Farabi (w. 950 M.) menyebutkan bahwa kepala negara yang utama itu haruslah seseorang yang memiliki dua belas kualitas luhur, diantaranya adalah: (1) lengkap anggota badannya, (2) baik daya pemahamannya, (3) tinggi intelektualitasnya, (4) pandai mengemukakan pendapatnya dan udah dimengerti uraiannya, (5) pecinta pendidikan dan gemar mengajar, (6) tidak loba atau rakus dalam hal makanan, minuman dan wanita, (7) pecinta kejujuran dan pembenci kebohongan, (8) berjiwa besar dan berbudi luhur, (9) tidak memandang penting kekayaan dan kesenangan-kesenangan duniawi yang lain, (10) pencinta keadilan dan pembenci perbuatan zalim, (11) tanggap dan tidak sukar diajak menegakkan keadilan dan sebaliknya sulit untuk melakukan atau menyetujui tindakan keji dan kotor, dan (12) kuat pendirian terhadap hal-hal yang menurutnya harus dikerjakan, penuh keberanian, tinggi antusiasme, bukan penakut dan tidak berjiwa lemah atau kerdil.36

Oleh karena itu sangat jarang ada orang yang memiliki semua kualitas luhur tersebut, kalau terdapat lebih dari satu, maka menurut Farabi yang diangkat menjadi kepala negara seorang saja, sedangkan yang lain menanti gilirannya. Tetapi kalu misalnya tidak terdapat

34 Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta: UI Press, 1993), cet. 5, h. 48

35 Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, h. 48.

36 Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, h. 56

33

seorangpun yang memiliki secara utuh dua belas atribut tersebut, pemimpin negara dapat dipikul secara kolektif antara sejumlah warga negara yang termasuk kelas pemimpin. Misalnya “presidium” negara itu diketuai oleh seorang yang memiliki kebijaksanaan dan kearifan, beranggotakan seorang pecinta keadilan, seorang pemikir yang tangguh, seorang pembicara ulung, seorang ahli ilmu perang dan sebagainya, dengan catatan bahwa kalau terdapat cukup jumlah warga negara yang memiliki tiap kualitas tadi, tetapi tidak seorangpun yang memiliki kearifan, maka negara itu tetap tidak mempunyai raja, padahal suatu negara tanpa raja tidak akan tahan lama dan akan mengalami kehancuran. Bagi Farabi kepala yang memimpin negara yang utama atau bahagia itu adalah sekaligus seorang guru, penuntun dan pengelola, karena tidak semua orang secara fitri mengetahui tentang cara mencapai kebahagiaan, dan tidak perlu semua orang mengerti tentang hal-hal yang harus atau perlu diketahui. Oleh karena itu dibutuhkan adanya guru dan penuntun.37

Dengan rincian yang berbeda, Imam Abu Bakar al-Baqilani (w. 1013 M.) mengemukakan lima syarat kepala negara Islam, yaitu : (1) keturunan Quraisy asli, (2) harus memiliki ilmu pengetahuan yang luas, (3) harus memiliki pengetahuan yang dalam mengenai urusan perang, kemiliteran dan pasukan tempur, (4) harus mampu melindungi wilayah dan membela rakyat serta mampu melakukan pembalasan terhadap orang yang berbuat dhalim dan membela orang yang teraniayah denga segala kepentingan yang menyangkut urusan umat, (5) harus orang yang tidak lemah hati, tidak gampang iba dalam menegakkan hukum pidana.38

Dengan uraian yang berbeda, al-Mawardi (w.1059 M.) mengemukakan tujuh syarat kepala negara Islam, diantaranya adalah:

(1) sikap Adil dengan segala persyaratannya, (2) ilmu pengetahuan yang memadai untuk ijtihad, (3) sehat pendengaran, penglihatan dan lisannya, (4) utuh anggota-anggota tubuhnya, (5) wawasan yang memadai untuk mengatur kehidupan rakyat dan mengelola kepentingan umum, (6) keberanian yang memadai untuk melindungi rakyat dan mengenyahkan musuh, (7) keturunan Quraisy.39

37 Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, h. 57

38 Yusuf Musa, Politik dan Negara dalam Islam, terj. Thalib dari Nidhamul Hukmi

fil Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1990), h. 68

39 Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, h. 64

Dengan rincian yang berbeda pula, Al-Ghazali (w.1111 M.) mengemukakan sepuluh syarat kepala negara Islam, yaitu: (1) dewasa atau Aqil baligh, (2) otak yang sehat, (3) merdeka dan bukan budak, (4) laki-laki, (5) keturunan Quraisy, (6) pendengaran dan penglihatan yang sehat, (7) kekuasaan yang nyata, (8) hidayah, (9) ilmu pengetahuan, dan (10) wara‟ (kehidupan yang bersih dengan kemampuan mengendalikan diri, tidak berbuat hal-hal yang terlarang dan tercela).40

Yang dimaksud denagn kekuasaan yang nyata (syarat ke tujuh) adalah tersedianya bagi raja perangkat yang memadai, termasuk angkatan bersenjata dan kepolisian yang tangguh, yang dapat digunakan untuk memaksakan keputusan-keputusannya terhadap mereka yang hendak menentangnya, menindas pembengkang dan pembasmi pemberontak. Yang diartikan dengan hidayah (syarat ke delapan) adalah daya pikir dan daya rancang yang kuat dan ditunjang oleh kesediaan bermusyawarah, mendengarkan pendapat serta nasihat orang lain. Tentang ilmu pengetahuan (syarat ke sembilan) yang harus dimiliki oleh calon kepala negara tidak seberat yang di syaratkan oleh kebanyakan ulama yang lain. Menurut para ulama itu jabatan kepala negara tidak dapat disandang oleh seseorang yang ilmunya belum sedemikian tinggi sehingga mampu berijtihad dan memberikan fatwa dalam bidang syariah. Menurut Ghazali syarat tersebut tidak terdapat baik dalam al-Qur‟an maupun dalam hadis. Yang terdapat dalam Nash hanyalah syarat keturunan Quraisy. Nash yang dimaksud adalah sabda Nabi Muhammad Saw., yang berbunyi sebagai berikut:

“Para imam (kepala negara) itu (harus) dari (suku) Quraisy.”

(HR. Ahmad)

Adapun persyaratan yang lain sudah dicukupi oleh syarat- syarat Imamah, khususnya nomor 2,3,6,7,8 dan 10. Tanpa syarat- syarat tersebut tidak mungkin seseorang diangkat menjadi kepala negara. Bagi Ghazali syarat mampu berijtihad dan memberikan fatwa bidang syariah tidak perlu, dan tidak termasuk sifat yang harus dimiliki oleh seorang kepala negara. Cukup kiranya kalau kepala negara memiliki budi pekerti atau akhlak yang luhur dan wira‟i, yang memungkinkan dia mengembalikan segala masalah hukum dan syariah islam kepada para ulama dan cendikiawan terpandai yang hidup pada zamannya, dan dia mengambil keputusan-keputusan pada

40 Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, h. 78.

35

bidang hukum berdasarkan pendapat dan saran mereka. Kemudian Ghazali menyatakan bahwa Khalîfah dari dinasti Abbasiyah yang memerintah pada waktu Ghazali hidup Mustashhir, memenuhi sepuluh syarat tersebut seluruhnya.41

Berbeda dengan para ahli tata negara Islam zaman klasik, Ibnu Taimiyah (w. 1328 M.) yang hidup di zaman pertengahan menyatakan, seorang calon kepala negara Islam itu hanya harus memenuhi dua syarat, yaitu (1) memilki kejujuran atau dapat dipercaya (Amanah), (2) memiliki kekuatan atau kecakapan (Quwwah). Pendapat ini didasarkan pada dua ayat Al-Qur‟an.

Pertama, pada surat al-Qashash ayat 26 berbunyi sebagai berikut:























“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya".” (QS. Al-Qashash [28]

:26).

Kedua, surat Yusuf ayat 54 yang berbunyi sebagai berikut :































“Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar Aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja Telah bercakap-cakap dengan Dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari Ini menjadi seorang yang berkedudukan Tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".” (QS. Yusuf [12] : 54)

Berbeda dengan pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun (1406 M.) yang juga hidup di zaman pertengahan, menyebutkan lima syarat kepala negara Islam, yaitu : (1) berpengetahuan luas, (2) Adil, (3)

41 Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, h. 79.

mampu mengemban tugas sebagai kepala negara, (4) sehat badan serta utuh semua panca indranya, dan (5) dari keturunan Quraisy.42 Berbeda dengan para ahli tata negara Islam zaman klasik dan zaman pertengahan, Hasan Ismail Hudaibi, ketua umum al-Ikhwan al- Muslimin periode 1948-1954 yang hidup di zaman kontemporer, mengajukan lima syarat kepala negara Islam, yaitu: (1) beragama Islam, (2) dewasa, (3) laki-laki, (4) sehat jasmani, dan (5) sudah mencapai tingkat mujtahid.43

Senada dengan pendapat Hasan Ismail Hudaibi, Abul A‟la Al-Maududi (w. 1979 M.) juga mengemukakan empat syarat kepala negara Islam, yaitu: (1) harus seorang muslim, (2) harus seorang laki- laki, (3) harus dalam keadaan waras dan dewasa, (4) warga negara Islam.44

Dokumen terkait