• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

L. Alir Penelitian

69

Gambar 22 Bagan Alir Penelitian

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengujian Karakteristik Agregat

Sebelum melakukan pembuatan sampel silinder dan balok maka dilakukan pengujian terhadap karakteristik agregat halus dan agregat kasar terlebih dahulu. Pengujian agregat halus dan kasar ini disesuaikan dengan Standar Nasional Indonesia yang berlaku. Pengujian ini bertujuan untuk mendapatkan agregat yang baik untuk campuran beton.

1. Pengujian Karakteristik Agregat halus a. Pengujian Berat Isi Pasir

Pengujian berat isi pasir terdiri atas 2 yaitu berat isi pasir padat dan berat isi pasir gembur. Pengujian berat isi pasir didapatkan dari berat pasir dibagi dengan volume literan. Dari hasil pengujian, maka dapat dilihat pada table berikut.

Tabel 13 Berat isi Padat Agregat Halus

No Berat Isi Padat Pengujian (gram) Keterangan

I II III

1 Berat Liter + Pasir (b)

1660 1705 1733 2 Berat Literan (a) 245 245 245 3 Volume Liter 1000 1000 1000 4 Berat Isi 1,41 1,46 1,48

Rata - Rata 1,45

(Sumber : Hasil Pengujian)

Tabel 14 Berat Isi Gembur Agregat Halus

No Berat Isi Gembur Pengujian (gram) Keterangan

I II III

1 Berat Liter + Pasir (b)

1650 1655 1653 2 Berat Literan (a) 245 245 245 3 Volume Liter 1000 1000 1000 4 Berat Isi 1,40 1,41 1,40

Rata - Rata 1,40

(Sumber : Hasil Pengujian)

71

Dari hasil pengujian berat isi gembur dan padat agregat halus, didapatkan hasil untuk berat isi gembur 1,40 Kg/L dan untuk berat isi padat 1,45 Kg/L. Menurut SNI 03-4804-1998 bahwa syarat mutu berat isi untuk pembuatan campuran beton adalah 1,4 – 1,9 Kg/L.

Jadi untuk pengujian berat isi gembur dan padat untuk campuran beton telah memenuhi syarat yang ditetapkan dan dapat digunakan dalam pembuatan campuran beton.

b. Berat jenis dan Penyerapan Agregat Halus

Pengujian berat jenis dan penyerapan agregat halus dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 15 Berat Jenis Agregat Halus

No Berat Jenis Pengujian (gram)

Keterangan

I II III

1

Berat Pasir

SSD (S) 500 500 500

2

Berat Tabung

+ Air (B) 1965 1965 1965

3

Berat Tabung + Air + Pasir

(C)

2263 2264 2264

4 Berat Jenis 2,47 2,48 2,48

Rata - Rata 2,483457301

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dari pengujian dan analisis data berat jenis agregat halus yang telah dilakukan, didapatkan hasil berat jenis agregat halus rata rata 2,48. Menurut SNI 1970:2008 bahwa syarat mutu berat jenis dalam campuran beton adalah 1,6 – 3,2. Maka dari pengujian dan analisis data yang telah dilakukan, berat jenis agregat halus telah memenuhi syarat dalam pembuatan campuran beton.

Tabel 16 Penyerapan Agregat Halus No Penyerapan

Agregat Halus

Pengujian (gram)

Keterangan

I II III

1

Berat Pasir

SSD (S) 500 500 500

2

Berat Pasir

Oven (A) 484 485 484

𝑆 βˆ’ 𝐴

𝐴 π‘₯ 100 3 Penyerapan 3,30 3,09 3,30

Rata - Rata 3,23

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dari hasil pengujian didapatkan daya serap agregat halus 3,23%.

Menurut SNI 1969:2008 syarat mutu maksimal daya serap agregat halus adalah 5%. Maka dari hasil pengujian penyerapan agregat halus memenuhi syarat mutu dalam pembuatan campuran beton.

c. Kadar Air Agregat Halus

Pengujian kadar air agregat halus terdiri atas kadar air nyata dan kadar air ssd (kering permukaan). Hasil dari pengujian kadar air dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 17 Kadar Air Nyata Agregat Halus No Kadar Air

Nyata

Pengujian (gram)

Keterangan

I II III

1

Berat

Awal (w1) 100 100 100 2

Berat

Oven (w2) 93 94 95 𝑀1 βˆ’ 𝑀2

𝑀2 π‘₯ 100%

3 Kadar Air 7,52 6,38 5,26

Rata - Rata 6,39

(Sumber : Hasil Pengujian)

73

Tabel 18 Kadar Air SSD Agregat Halus No Kadar Air

SSD

Pengujian (gram)

Keterangan

I II III

1

Berat Awal

(w1) 100 100 100

2

Berat Oven

(W2) 98 97 97

𝑀1 βˆ’ 𝑀2

𝑀2 π‘₯ 100%

3 Kadar Air 2,04 3,09 3,09

Rata - Rata 2,74

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, didapatkan hasil kadar air nyata agregat halus 6,39 % dan untuk kadar air agregat halus dalam kondisi SSD 2,74 %. Menurut SNI 1971:2011 syarat mutu untuk kadar air berkisar antara 2% - 8%. Maka dari itu pengujian kadar air yang telah dilakukan sudah memenuhi syarat mutu dalam pembuatan campuran beton.

d. Kadar Lumpur Agregat Halus

Pengujian kadar lumpur dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 19 Hasil Pengujian Kadar Lumpur Agregat Halus

No Kadar Lumpur Agregat Halus

Pengujian (gram)

Keterangan

I II III

1 Berat Awal 100 100 100

2 Berat Oven(p) 96 97 96 100 βˆ’ 𝑝

100 π‘₯ 100%

3 Kadar Lumpur 4,16 3,09 4,16

Rata - Rata 3,80

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dari hasil pengujian agregat halus didapatkan kadar lumpur agregat halus 3,8 %. Menurut SNI 03-4142-1996 kadar lumpur yang terkandung dalam agregat halus maksimal adalah 5%. Maka dari hasil pengujian yang telah dilakukan, agregat halus ini telah memenuhi syarat mutu kadar lumpur agregat halus.

e. Analisis Ayakan Agregat Halus

Pengujian anaisis ayakan agregat halus didapatkan dari penimbangan berat agregat halus yang tertinggal pada tabel berikut.

Tabel 20 Hasil Analisis Ayakan Agregat Halus Ayakan

(mm)

Berat Tertahan (gr)

Jumlah Tertahan (%)

% kumulatif Tertahan

(%)

lolos (%)

4,75 38 3,8 3,8 96,2

2,36 120 12 15,8 84,2

1,18 122 12,2 28 72

0,6 267 26,7 54,7 45,3

0,3 184 18,4 73,1 26,9

0,15 230 23 96,1 3,9

pan 39 3,9 100 0

1000 100 271,5

Modulus Kehalusan 2,715

(Sumber : Hasil Pengujian)

Hasil analisis ayakan agregat halus di atas didapatkan dengan persamaan sebagai berikut.

Jumlah Tertahan (%) = π΅π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘›

π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π΅π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘› π‘₯ 100 % (%) Kumulatif

Tertahan

= % Jumlah Tertahan + % Tertahan

(%) Kumulatif Lolos = 100% - Kumulatif Tertahan Modulus Kehalusan

(Fm)

= π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ πΎπ‘’π‘šπ‘’π‘™π‘Žπ‘‘π‘–π‘“ π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘› 100

Dari hasil pengujian diatas maka didapatkan gradasi agregat halus pada zona ke 3 berdasarkan tabel 13 yaitu batas gradasi butiran pasir. Modulus kehalusan yang didapatkan pada pengujian ini adalah 2,715. Menurut SNI 03-1968-1990 syarat mutu modulus kehalusan agregat halus berkisar antara 2,2-3,1. Maka analisis ayakan agregat halus ini sudah memenuhi syarat mutu yang telah ditetapkaan dan dapat digunakan pada campuran pembuatan beton.

75

Gambar 23 Grafik Analisis Ayakan Agregat Halus (Sumber : Hasil Pengujian)

Dari hasil pengujian analisis ayakan agregat halus didapatkan batas gradasi pada zona 2 yang dapat dilihat pada gambar 23.

f. Zat Organik Agregat Halus

Pada hasil pengujian zat organik agregat halus ini dengan merendam agregat halus menggunakan larutan Natrium Oksida (NaOH) selama 24 jam dan membandingan warna larutan dengan alat tes standar warna. Dari hasil perbandingan agregat halus terhadap alat tes standar warna, diketahui agregat halus ini berada pada warna No.3. Menurut SNI 2816:2014 standar warna zat organik agregat halus adalah No.3. Maka zat organik agregat halus ini telah memenuhi standar mutu dan dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan beton.

2. Pengujian Agregat Kasar a. Berat Isi Agregat Kasar

Pengujian berat isi agregat kasar ini terdiri atas berat isi agregat kasar SSD dan nyata. Hasil pengujian berat isi agregat kasar ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 21 Berat Isi Padat Agregat Kasar

No Berat Isi Padat Pengujian (gram)

Keterangan

I II III

1

Berat Liter +

Kerikil (b) 8065 7990 8085 2 Berat Literan (a) 766 766 766

𝑏 βˆ’ π‘Ž π‘‰π‘œπ‘™π‘’π‘šπ‘’ πΏπ‘–π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›

3 Volume Liter 5000 5000 5000

4

Berat Isi

Gembur 1,45 1,44 1,46

Rata - Rata 1,45

(Sumber : Hasil Pengujian)

Tabel 22 Berat Isi Gembur Agregat Kasar No Berat Isi

Gembur

Pengujian (gram)

Keterangan

I II III

1

Berat Liter +

Kerikil (b) 7770 7775 7780 2

Berat Literan

(a) 766 766 766 𝑏 βˆ’ π‘Ž

π‘‰π‘œπ‘™π‘’π‘šπ‘’ πΏπ‘–π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›

3 Volume Liter 5000 5000 5000 4 Berat Isi 1,40 1,40 1,40

Rata - Rata 1,40

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dari hasil pengujian berat isi agregat kasar yaitu 1,45 Kg/L untuk berat isi SSD dan 1,40 Kg/L untuk berat isi gembut. Menurut SNI 03- 4804-1998 bahwa syarat mutu berat isi agregat kasar untuk pembuatan campuran beton adalah 1,4 – 1,9 Kg/L. Maka dari hasil pengujian, agregat kasar ini telah memenuhi syarat mutu berat isi dan dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan beton.

b. Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar

Hasil pengujian berat jenis dan penyerapan agregat kasar dapat dilihat pada tabel berikut ini.

77

Tabel 23 Berat Jenis Agregat Kasar

No Berat Jenis Pengujian (gram)

Keterangan

I II III

1

Berat Kerikil

SSD (B) 3000 3000 3000

2

Berat Keranjang + Agregat dalam Air (C)

1868 1869 1870 𝐡

𝐡 βˆ’ 𝐢 4 Berat Jenis 2,65 2,65 2,65

Rata - Rata 2,65

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dari hasil pengujian pada tabel diatas, didapatkan berat jenis agregat kasar 2,65. Menurut SNI 1969:2008 syarat mutu berat jenis agregat kasar berkisar 1,6 – 3,2. Maka berat jenis agregat kasar telah memenuhi syarat mutu yang telah ditentukan.

Tabel 24 Penyerapan Agregat Kasar No

Penyerapan Agregat

Kasar

Pengujian (gram)

Keterangan

I II III

1

Berat Kerikil

SSD (A) 3000 3000 3000

2

Berat Kerikil

Oven (B) 2940 2950 2940 𝐴 βˆ’ 𝐡

𝐡 π‘₯ 100 %

3 Penyerapan 2,04 1,69 2,04

Rata - Rata 1,92

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dari hasil pengujian pada tabel diatas, didapatkan daya serap agregat kasar 2,65. Menurut SNI 1969:2008 syarat mutu daya serap agregat kasar berkisar 1,6 – 3,2. Maka daya serap agregat kasar telah memenuhi syarat mutu yang telah ditentukan.

c. Kadar Air Agregat Kasar

Kadar air agregat kasar adalah perbandingan antara berat air yang terkandung di dalam agregat kasar dengan agregat kasar dalam keadaan kering oven yang dinyatakan dalam persen. Hasil pengujian

kadar air agregat kasar dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 25 Kadar Air SSD Agregat Kasar No

Kadar Air SSD Agregat

Kasar

Pengujian (gram)

Keterangan

I II III

1

Berat Awal

(W1) 250 250 250

2

Berat Oven

(W2) 245 244 245

𝐴 βˆ’ 𝐡

𝐡 π‘₯ 100 %

3 Kadar Air 2,04 2,45 2,04

Rata - Rata 2,18

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dari tabel diatas dapat dilihat hasil pengujian kadar air agregat kasar 2,18 %. Menurut SNI 1971:2011 syarat mutu kadar air agregat kasar berkisar 2% - 8%. Maka agregat kasar ini telah memenuhi syarat mutu kadar air yang telah ditetapkan.

d. Kadar Lumpur Agregat Kasar

Hasil pengujian kadar lumpur dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 26 Kadar Lumpur Agregat Kasar No Kadar Lumpur

Agregat Kasar

Pengujian (gram)

Keterangan

I II III

1 Berat Awal 250 250 250

2 Berat Oven (p) 249 248 247

3 Kadar Lumpur 0,4 0,8 1,2

Rata - Rata 0,8

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dari hasil pengujian kadar lumpur agregat kasar didapatkan 0,8 % kadar lumpur yang terkandung di dalam agregat kasar. Menurut SNI 03 – 4141:2008 syarat mutu kadar lumpur berkisar 0,2% - 1%. Maka agregat kasar ini telah memenuhi syarat mutu kadar lumpur yang telah ditetapkan.

79

e. Analisis Ayakan Agregat Kasar

Hasil pengujian analisis ayakan agregat kasar sebagai berikut.

Tabel 27 Analisis Ayakan Agregat Kasar ayakan (mm)

Berat Jumlah % Kumulatif

Tertahan Tertahan Tertahan Lolos

(gr) (%) (%) (%)

25 0 0 0 100

19,1 680 13,6 13,6 86,4

12,5 1623 32,46 46,06 53,94

9,5 2407 48,14 94,2 5,8

4,75 275 5,5 99,7 0,3

2,36 - 0 100 0

1,18 - 0 100 0

0,6 - 0 100 0

0,3 - 0 100 0

0,15 - 0 100 0

Pan 15 0 100 0

Total 5000 99,7 753,56

Modulus Kehalusan 7,5356

(Sumber : Hasil Pengujian)

Hasil analisis ayakan agregat halus di atas didapatkan dengan persamaan sebagai berikut.

Jumlah Tertahan (%) = π΅π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘›

π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π΅π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘› π‘₯ 100 % (%) Kumulatif

Tertahan

= % Jumlah Tertahan + % Tertahan

(%) Kumulatif Lolos = 100% - Kumulatif Tertahan

Gambar 24 Grafik Pengujian Analisis Ayakan Agregat Kasar (Sumber : Hasil Pengujian)

Pada grafik analisis ayakan agregat kasar dapat dilihat bahwa agregat kasar pada pengujian ini tertahan pada ayakan No. 19,1.

Menurut SNI 03-1968-1990 modulus kehalusan agregat kasar berkisar 6,5 – 7,5. Dari hasil pengujian didapatkan modulus kehalusan agregat kasar adalah 7,5. Maka agregat kasar ini telah memenuhi standar analisis ayakan agregat kasar.

f. Kekerasan Agregat Kasar dengan Los Angeless

Pengujian kekerasan agregat ini didahului dengan analisis ayakan agregat kasar yang bertujuan untuk menentukan jumlah bola baja dan jumlah putaran pada mesin los angeless. Agregat kasar terbanyak tertahan pada ayakan 9,5 mm sehingga pengujian ini menggunakan bola baja yang berjumlah 11 buah. Hasil pengujian kekerasan agregat kasar dapat dilihat pada tabel berikut.

81

Tabel 28 Hasil Pengujian Kekerasan Agregat Kasar

Perlakuan Berat Ket.

Berat tetap (A) 5000 A-B

x 100%

Di los angeless (B) 3985 A

Keausan 20,3 %

(Sumber : Hasil Pengujian)

Tabel 29 Daftar Gradasi dan Berat Benda Uji

(Sumber : SNI 2417:2008)

Dari hasil pengujian kekerasan agregat kasar didapatkan angka keuasan 20,3 %. Menurut SNI 2417:2008 nilai keausan agregat maksimal adalah 40 %. Maka pengujian kekerasan agregat ini telah sesuai sengan syarat mutu yang telah di tetapkan dan dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan beton.

B. Rekapitulasi Hasil Pengujian Karakteristik Agregat 1. Rekapitulasi Pengujian Agregat Halus

Tabel 30 Rekapitulasi Hasil Pengujian Agregat Halus.

No Jenis Pengujian Hasil Syarat Mutu Standar 1 Berat Isi 1,45 1,4 - 1,9 SNI 03-4804-1998 2 Berat Jenis 2,48 1,6 - 3,2 SNI 1970:2008 3 Penyerapan 3,23 Maks 5 % SNI 1970-2008 4 Kadar Air 2,74 3 - 5 % SNI 03-1971-2011 5 Kadar Lumpur 3,80 Max 5 % SNI 03-1971-1990

6

Analisis Ayak % Lolos Zona 2 SNI 03-1968-1990

4,75 (No.4) 96,2 90 - 100

2,36 (No.8) 84,2 75 - 100

1,18 (No.16) 72 55 - 90

0,6 (No.30) 45,3 35 - 59

0,3 (No.50) 26,9 8 - 30,

0,15 (No.100) 3,9 0-10

Pan 0

Fm 2,715 2,2 - 3,1 SNI 03-1968-1990 7 Zat Organik No 3 Standar No 3 SNI 2816-2014 (Sumber : Hasil Pengujian)

Tabel 31 Rekapitulasi Hasil Pengujian Agregat Kasar

No Jenis Pengujian Hasil Syarat Mutu Standar 1 Berat Isi 1,45 1,4 - 1,9 SNI 03-4804-1998 2 Berat Jenis 2,65 1,6 - 3,2 SNI 1970:2008 3 Penyerapan 1,92 0,2 - 2 % SNI 1970-2008 4 Kadar Air 2,18 2 - 8 % SNI 03-1971-2011 5 Kadar Lumpur 0,8 0,2 - 1 % SNI 03-4141:2008

6

Analisis Ayak % Lolos Batas atas dan bawah

SNI 2417-2008

25 (I inc) 100 - 100

19,1 (3/4 Inc) 90 - 100

12,5 (1/2 Inc) 20 - 55

9,5 (3,8 Inc) 0 - 15

4,75 (No.4) 0 - 5

Pan 0

7 Keausan 20,3 Maks 40% SNI 2417-2008

(Sumber : Hasil Pengujian)

83

C. Mix Design

Pembuatan mix design berdasarkan SNI 03-2834-2000. Data – data yang digunakan sebagai berikut.

Tabel 32 Hasil Rekapitulasi Mix Design

No URAIAN Tabel/Grafik

Nilai Perhitungan

1 Kuat tekan disyaratkan

Ditetapkan 20 Mpa

(28 hari) 5% cacat K=1,64

2 Deviasi Standar

Diketahui 7 Mpa

3 Nilai Tambah (margin) 11,48 Mpa

4 Kuat Tekan Rata2 Target (1)+(3) 31,48 Mpa

5 Jenis Semen

Ditetapkan

Tipe 1/PCC

6 Jenis Agregat Halus Pasir

Jenis Agregat Kasar Batu Pecah

7 FAS Bebas Tabel 2, Grafik 1/2 0,55

8 FAS Max Tabel 4 SNI 0,6

9 Slump

Ditetapkan 60-180 mm

10 Ukuran agregat max 20 mm

11 Kadar Air Bebas Tabel 3 SNI 204,9 kg/m3

12 Kadar Semen (11) / 7 372,55 kg/m3

13 Kadar Semen Max Ditetapkan 372,55 kg/m3

14 Kadar Semen Min Tabel 3 SNI 325 kg/m3

15 FAS Penyesuain - 0,55

16 Gradasi Agregat Halus Grafik 3-6 Sni Zona 2

17

Gradasi Agregat

kasar/gabungan tabel 7, grafik 7-12 setelah uji bahan

18 Persen Agregat Halus grafik 13-15 43%

19 Berat Jenis Relatif/gabungan Diketahui 2,58

20 Berat Isi Beton Grafik 16 2331,25 kg/m3

21 Kadar Agregat Gabungan 20 - (12+11) 1753,80 kg/m3

22 Kadar Agregat Halus 18 x 21 747,56 kg/m3

23 Kadar Agregat Kasar 21-22 1006,25 kg/m3

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Dari mix design diatas dapat ditentukan banyaknya kebutuhan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan beton. Kebutuhan bahan yang akan digunakan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 33 Kebutuhan Bahan Silinder 15 x 30 cm Vol.

Silind er Ο€rΒ²t

Bahan

Banyak Benda

Uji

Jenis Campuran (kg) ABJ 0%

(3 buah silinder

)

ABJ 5% (3 buah silinde r)

ABJ 10% (3

buah silinder

)

ABJ 15% (3

buah silinder

)

Total

0,005 299

Air

12

3,79 3,79 3,79 3,79 15,19

Semen 6,90 6,90 6,90 6,90 27,63

Ag

Kasar 18,66 18,66 18,66 18,66 74,64

Ag

Halus 13,86 13,86 13,86 13,86 55,45

ABJ 0 0,34 0,69 1,03 2,07

(Sumber : Hasil Perhitungan)

Tabel 34 Kebutuhan Bahan Balok 15 x 15 x 53 cm Vol.

Balok pxlxt

Bahan

Banya k Benda

Uji

Jenis Campuran (kg) ABJ 0%

(2 buah balok)

ABJ 5%

(2 buah balok)

ABJ 10% (2

buah balok)

ABJ 15% (2

buah balok)

Total

0,01192 5

Air

24

6,10 6,10 6,10 6,10 73,30 Seme

n 11,10 11,10 11,10 11,10 133,27

Ag

Kasar 29,99 29,99 29,99 29,99 359,98 Ag

Halus 22,28 22,28 22,28 22,28 267,43

ABJ 0,55 1,11 1,66 9,99

(Sumber : Hasil Perhitungan) D. Hasil Uji Slump

Hasil nilai slump dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 35 Hasil Uji Slump Silinder dan Balok No Benda uji Silinder Balok

1 Normal 120 120

2 5% ABJ 110 110

3 10% ABJ 90 100

4 15% ABJ 80 90

(Sumber : Hasil Pengujian)

Perencanaan nilai slump berada pada rentang 60 – 180 mm. Dari hasil

85

pengujian diatas didapatkan nilai slump berada pada rentang 60 – 180 mm.

Maka nilai slump yang didapatkan masuk ke dalam rentang perencanaan nilai slump. Dapat dilihat pada tabel bahwa nilai slump menurun terhadap penambahan abu bonggol jagung. Hal ini membuktikan bahwa semakin banyak penggunaan abu bonggol jagung membuat adukan beton semakin kental.

Gambar 25 Grafik Nilai Slump Beton (Sumber : Hasil Pengujian)

Dari grafik diatas dapat dilihat perbandingan nilai slump beton silinder dengan nilai slump benda uji balok. Dapat disimpulkan semakin meningkatnya kadar ABJ maka nilai slump akan semakin rendah. Hal ini disebabkan karna penambahan ABJ dapat mengurangi air di dalam beton sehingga membuat nilai slump semakin kecil.

E. Hasil Pengujian Berat Jenis Beton

Berikut ini adalah analisis data hasil pengujian berat jenis beton.

Tabel 36 Berat Benda Uji

No Benda Uji Berat Benda Uji (kg) Rata-rata

(kg) Pengujian

I II III

1

Normal 12,21 12,19 12,19 12,20

TEKAN 5% ABJ 12,40 12,49 12,22 12,37

10% ABJ 12,38 12,41 12,32 12,37 15% ABJ 11,8 12,12 12,05 12,02 2

Normal 29,00 29,20 29,10 29,10

GESER 5% ABJ 29,00 28,50 28,80 28,76

10% ABJ 28,70 28,70 28,80 28,73 15% ABJ 28,90 28,70 28,50 28,70 3

Normal 29,60 29,10 29,00 29,35

LENTUR 5% ABJ 28,80 28,50 28,80 28,65

10% ABJ 28,50 28,50 28,00 28,50 15% ABJ 28,90 28,80 28,50 28,85 (Sumber : Hasil Pengujian)

Tabel 37 Berat Jenis Benda Uji

No Pengujian Benda Uji Volume Berat Jenis 1 Tekan

(Silinder)

Normal

0,0053

2303 kg/m3

5% ABJ 2335 kg/m3

10% ABJ 2335 kg/m3

15% ABJ 2268 kg/m3

2 Geser (Balok)

Normal

0,01193

2440 kg/m3

5% ABJ 2412 kg/m3

10% ABJ 2410 kg/m3

15% ABJ 2407 kg/m3

3 Lentur (Balok)

Normal 2461 kg/m3

5% ABJ 2403 kg/m3

10% ABJ 2390 kg/m3

15% ABJ 2419 kg/m3

(Sumber : Hasil Pengujian)

87

Tabel 38 Rata – Rata Berat Jenis Benda Uji No RATA-RATA BERAT JENIS BETON

1. Normal = 2401 kg/m3

2. 5% = 2383 kg/m3

3. 10% = 2378 kg/m3

4. 15% = 2365 kg/m3

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dapat dilihat dari hasil pengujian tabel diatas bahwa rata – rata berat jenis beton berkisar antara 2365 kg/m3 – 2401 kg/m3. Menurut SNI 03-2834- 2000 berat jenis beton normal berkisar antara 2200kg/m3 – 2500kg/m3.

Sehingga beton yang telah diuji ini termasuk ke dalam beton normal. Dilihat dari berat jenis beton terhadap penambahan abu bonggol jagung tidak mempengaruhi berat jenis beton. Besar kecilnya nilai berat jenis beton dipengaruhi dari bahan penyusun beton terutama agregat kasar dan agregat halus.

F. Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton

Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur beton 28 hari. Hasil dari pengujian kuat tekan beton dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 39 Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton Benda Uji fc' dan

umur

Kuat Tekan (MPa)

fc' Rata- rata (MPa) Normal

fc' 20 Mpa, 28

hari

24,92

24,08 23,41

23,92 5% ABJ

22,99

23,21 23,04

23,61 10% ABJ

21,64

20,22 19,31

19,71 15% ABJ

14,20

14,69 15,29

14,60 (Sumber : Hasil Pengujian)

Dari hasil pengujian di atas, dapat dilihat bahwa kuat tekan rata – rata

beton normal yaitu 24,08 Mpa sedangkan beton dengan penambahan abu bonggol jagung 5%, 10% dan 15% yaitu 23,21 Mpa, 20,22 Mpa, dan 14,69 Mpa. Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak penambahan abu bonggol jagung, maka kuat tekan semakin mengalami penurunan. Penurunan yang paling terlihat signifikan terjadi pada penambahan 15% abu bonggol jagung.

Akan tetapi pada penambahan abu bonggol jagung 5% dan 10% masih mencapai nilai kuat tekan rencana yaitu 20 Mpa.

Gambar 26 Grafik Kuat Tekan Beton (Sumber : Hasil Pengujian)

89

G. Hasil Pengujian Kuat Lentur Beton

Hasil pengujian Kuat lentur beton akan dilampirkan pada tabel berikut.

Tabel 40 Hasil Pengujian Kuat Lentur No Benda

uji

Beban L

(mm) a

Lebar Tinggi Kuat Lentur (MPa)

Rata- Rata (MPa) P (N)

b (mm)

h (mm) 1 0%

20220 450 205,3 167,3 1,58

1,45 18860 450 226,5 165,7 1,37

18920 450 200,5 174,7 1,39 2 5% 18640 450 181,8 160,0 1,80

1,65 16100 450 174,8 166,0 1,50

3 10%

12220 450 152,8 170,0 1,25

1,54 16380 450 185,8 161,5 1,52

19420 450 161,0 170,7 1,86 4 15% 22140 450 160,3 171,3 2,12

2,07 20840 450 161,3 169,7 2,02

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dari hasil pengujian kuat lentur didapatkan bahwa pada balok normal atau tanpa penambahan abu bonggol jagung didapatkan kuat lentur sebesar 1,45 Mpa. Pada penambahan ABJ 5%, 10% dan 15% mendapatkan kuat lentur 1,65 Mpa, 1,54 Mpa dan 2,07 Mpa. Pada penambahan ABJ 15% terjadi kenaikan maksimum kuat lentur. Nilai kuat lentur tidak hanya dipengaruhi oleh ABJ akan tetapi juga dipengaruhi oleh patahan. Kenaikan persentase penambahan ABJ pada 5%, 10% dan 15% yaitu 14%, 7% dan 43%. Maka dari hasil pengujian yang telah dilakukan bahwa terjadi kenaikan kuat lentur pada penambahan ABJ 5% dan 10% dan 15%

Tabel 41 Perbandingan Kuat Lentur dengan Abu Lainnya Kadar

ABJ

Abu Bonggol Jagung (MPa)

Abu Cangkang Lokan (MPa)

Abu Kulit Kopi (MPa)

Normal 1,45 1,47 2

5% 1,65 1,69 1,8

10% 1,54 1,81 1,4

15% 2,07 1,51 1,3

Sumber : (Hasil Pengujian), (Hidayat,2022), (Islami,2022)

Dari hasil tabel diatas dapat dilihat bahwa penambahan abu

maksimum terjadi pada abu bonggol Jagung di 15%. Dan nilai kuat lentur penambahan abu minimum terjadi pada abu kulit kopi di 15%. Abu bonggol jagung mengandung SiO2 yang lebih tinggi dibandingkan dengan abu cangkang lokan dan abu kulit kopi. Dapat disimpulkan bahwa abu cangkang lokan lebih efektif untuk meningkatkan kuat lentur beton

Gambar 27 Grafik Kuat Lentur Beton (Sumber : Hasil Pengujian) Berikut adalah dokumentasi uji kuat lentur.

1. Balok 1 ABJ 5%

Sebelum balok diuji, atur perletakkan balok terlebih dahulu sesuai dengan perletakkan yang telah digambar pada balok. Setelah itu atur beban dan tekan balok sampai balok patah. Beban maksimum pada balok ini 18,64 kN. Pada balok ini terjadi patah di 1/3 bentang tengah sehingga dihitung dengan persamaan rumus 2. Nilai kuat lentur pada balok ini sebesar 1,8 MPa dengan lebar lintang patah arah horizontal 181,8 mm dan arah vertikal 160 mm.

91

Gambar 28 Balok 1 ABJ 5% Sebelum Pengujian (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 29 Balok ABJ 1 5% Setelah Pengujian (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 30 Grafik ABJ 5A (Sumber : Hasil Pengujian)

2. Balok 2 ABJ 5%

Sebelum balok diuji, atur perletakkan balok terlebih dahulu sesuai dengan perletakkan yang telah digambar pada balok. Setelah itu atur beban dan tekan balok sampai balok patah. Beban maksimum pada balok ini 16,1 Mpa. Pada balok ini terjadi patah di 1/3 bentang tengah sehingga dihitung dengan persamaan rumus 2. Nilai kuat lentur pada balok ini sebesar 1,5 MPa dengan lebar lintang patah arah horizontal 174,8 mm dan arah vertikal 166 mm.

Gambar 31 Balok 2 ABJ 5% Sebelum Pengujian (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 32 Balok 2 ABJ 5% Sesudah Pengujian (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

93

Gambar 33 Grafik ABJ 5B (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 34 Grafik ABJ 5%

(Sumber : Hasil Pengujian)

Dari grafik dapat dilihat beban maksimum berada pada balok 1 yaitu 18,64 kN dengan terjadi patah di 1/3 bentang tengah sehingga dihitung dengan persamaan rumus 2. Nilai kuat lentur pada balok ini sebesar 1,8 MPa dengan lebar lintang patah arah horizontal 181,8 mm dan arah vertikal 160 mm.

3. Balok 1 ABJ 10%

Sebelum balok diuji, atur perletakkan balok terlebih dahulu sesuai dengan perletakkan yang telah digambar pada balok. Setelah itu atur beban dan tekan balok sampai balok patah. Beban maksimum balok ini

12,22 kN. Pada balok ini terjadi patah di 1/3 bentang tengah sehingga dihitung dengan persamaan rumus 2. Nilai kuat lentur pada balok ini sebesar 1,25 MPa dengan lebar lintang patah arah horizontal 152,8 mm dan arah vertikal 170 mm.

Gambar 35 Balok 1 ABJ 10% Sebelum Pengujian (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 36 Balok 1 ABJ 10% Sesudah Pengujian (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

95

Gambar 37 Grafik ABJ 10A (Sumber : Hasil Pengujian) 4. Balok 2 ABJ 10%

Sebelum balok diuji, atur perletakkan balok terlebih dahulu sesuai dengan perletakkan yang telah digambar pada balok. Setelah itu atur beban dan tekan balok sampai balok patah. Beban maksimum balok ini 16,38 kN. Pada balok ini terjadi patah di 1/3 bentang tengah sehingga dihitung dengan persamaan rumus 2. Nilai kuat lentur pada balok ini sebesar 1,52 MPa dengan lebar lintang patah arah horizontal 185,8 mm dan arah vertikal 161,5 mm.

Gambar 38 Balok 2 ABJ 10% Sebelum Pengujian (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 39 Balok ABJ 10% Sesudah Pengujian (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 40 Grafik ABJ 10B (Sumber : Hasil Pengujian) 5. Balok 3 ABJ 10%

Sebelum balok diuji, atur perletakkan balok terlebih dahulu sesuai dengan perletakkan yang telah digambar pada balok. Setelah itu atur beban dan tekan balok sampai balok patah. Beban maksimum pada balok ini 19,42 kN. Pada balok ini terjadi patah di 1/3 bentang tengah sehingga dihitung dengan persamaan rumus 2. Nilai kuat lentur pada balok ini sebesar 1,86 MPa dengan lebar lintang patah arah horizontal 161 mm dan arah vertikal 170 mm.

97

Gambar 41 Balok 3 ABJ 10% Sebelum Pengujian (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 42 Balok 3 ABJ 10% Sesudah Pengujian (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 43 Grafik ABJ 10C (Sumber : Hasil Pengujian)

Dokumen terkait