BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
H. Hasil Pengujian Kuat Geser Beton
I. Pembahasan
Penelitian ini di lakukan di Laboratorium Bahan Bangunan Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang.
Penelitian di laboratorium ini dimulai dari pemeriksaan karakteristik agregat halus maupun kasar, hasil pengujian karakteristik agregat ini telah memenuhi standar mutu SNI yang berlaku untuk bahan campuran beton. Setelah selesei pengujian agregat dilanjutkan dengan pembuatan benda uji.
Pembuatan benda uji untuk proses pengadukan menggunakan mixer dapat dilihat pada lampiran pembuatan benda uji. Untuk pembuatan benda uji ini telah dihitung kebutuhan bahan yang diperlukan dengan mix design
121
berdasarkan SNI 03-2834-2000. Setelah diaduk, secepat mungkin dilakukan uji slump. Pengujian slump ini turun seiring penambahan persentase abu bonggol jagung. Hal ini dikarenakan penambahan abu bonggol jagung yang dapat mengurangi air di dalam pembuatan benda uji.
Setelah dilakukannya pembuatan benda uji, selanjutnya akan dilakukan perawatan benda uji dengan merendam benda uji selama 28 hari di dalam bak Laboratorium Bahan Bangunan Universitas Negeri Padang.
Setelah beton berumur 28 hari maka dilakukan pengujian. Pengujian kuat tekan beton di dapatkan berkurang seiring penambahan abu bonggol jagung.
Persentase penurunan penambahan abu bonggol jagung 5%, 10% dan 15%
yaitu 4%, 16% dan 39%. Persentase penurunan maksimum terjadi pada persentase penambahan abu bonggol jagung 15%. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak penambahan abu bonggol jagung maka mutu beton yang dimiliki akan semakin rendah dapat dilihat pada nilai slump beton. Nilai slump beton semakin rendah yang membuat beton semakin kental. Pada penambahan abu bonggol jagung pada persentase 5% dan 10% masih berada pada kuat tekan rencana yaitu 20,22 Mpa dan 23,21 Mpa.
Selanjutnya dilakukan pengujian kuat lentur beton, pengujian kuat lentur beton ini mengalami kenaikan daripada kuat lentur beton normal.
Persentase kenaikan uji kuat lentur beton penambahan abu bonggol jagung 5%, 10% 15% yaitu 14%, 7% dan 43%. Kenaikan persentase kuat lentur maksimum terjadi pada penambahan abu bonggol jagung 15%. Pengujian kuat lentur beton ini tidak hanya dipengaruhi oleh penambahan abu bonggol jagung. Akan tetapi juga pada retak beton yang terjadi. Jika beton retak pada bagian tumpuan atau di 1/3 L (5% Tepi) maka nilai kuat lentur yang didapatkan akan kecil. Retak di 1/3 L (5%) ini terjadi pada balok ABJ 5% dan 15% yang membuat nilai kuat lentur semakin kecil. Pada balok ABJ 5%, salah satu balok tidak digunakan disebabkan oleh retak pada 1/3 L (5% tepi) sehingga nilai kuat lentur menjadi kecil. Dapat disimpulkan bahwa nilai uji kuat lentur dipengaruhi oleh penambahan abu bonggol jagung dan retakan
yang terjadi.
Selanjutnya yaitu uji kuat geser, pengujian kuat geser ini dapat dihitung berdasarkan eksperimen dan teori. Menurut SNI 2847:2019 nilai kuat geser dipengaruhi oleh kuat tekan rencana. Pada nilai kuat geser ini tidak dipengaruhi oleh penambahan abu bonggol jagung. Kadar kenaikan penambahan abu bonggol jagung 5%, 10% dan 15% yaitu 0%. Hal ini disebabkan oleh nilai kuat geser menurut SNI 2847:2019 hanya dipengaruhi oleh kuat tekan rencana.
Pada nilai kuat geser eksperimental didapatkan penurunan nilai kuat geser pada persentase penamabahan ABJ 5% dan 15%. Sedangkan pada penambahan ABJ 10% mengalami kenaikan yaitu sebesar 4% dibandingkan dengan beton normal. Maka dapat dilihat bahwa pada kuat geser, abu bonggol jagung berpengaruh terhadap kenaikan nilai kuat geser. Kenaikan kuat geser maksimum terjadi pada penambahan ABJ 10%.
Gambar 80 Perbandingan Persentase Kuat Tekan, Lentur dan geser (Sumber : Hasil Pengujian)
Persen kenaikan dan penurunan dapat dilihat pada grafik diatas.
Kenaikan persen terjadi pada kuat lentur dari balok kontrol yaitu 14%, 7%
123
dan 43%. Dan penurunan persen terjadi pada kuat tekan yaitu -4%, -16%
dan -39%. Pada kuat tekan penambahan ABJ 5% dan 10% masih berada diatas kuat tekan rencana yaitu 20 Mpa. Sedangkan pada nilai kuat geser kenaikan terjadi pada penambahan ABJ 10% dan turun pada penamabahan ABJ 5% dan 15%
Maka dari itu dapat disimpulkan dari pengujian kuat tekan, lentur dan geser. Pada kuat tekan beton kenaikan ABJ 5% dan 10% masih berada pada kuat tekan rencana atau memenuhi persyaratan. Pada nilai kuat lentur mengalami kenaikan pada penambahan ABJ 5%, 10% dan 15%.
Sedangkan pada kuat geser mengalami kenaikan pada penambahan ABJ 10%. Penurunan kuat tekan dipengaruhi karna semakin banyak penambahan ABJ maka beton akan semakin kental dan menyebabkan kurangnya mutu beton. Pada pengujian kuat lentur terjadi kenaikan disebabkan karna pada nilai kuat lentur tidak hanya dipengaruhi oleh beban akan tetapi juga karna patahan yang terjadi. Sedangkan pada nilai kuat geser terjadi kenaikan pada penambahan ABJ 10%. Pada penelitian ini tidak hanya dipengaruhi oleh penambahan ABJ akan tetapi juga dipengaruhi dari proses pembuatan sampel. Pembuatan sampel balok menggunakan cetakan dari kayu yang menyebabkan benda uji menjadi tidak rata akibat lendutan dari kayu yang digunakan terus menerus.
Sehingga pada saat pengujian membuat balok mengalami patah di tumpuan 5%. Sehingga membuat hasil nilai kuat lentur menjadi kecil dan akan menyebabkan turunnya rata – rata nilai pengujian kuat lentur. Oleh sebab itu salah satu dari balok pengujian kuat lentur tidak digunakan.
Hubungan dari pengujian kuat tekan, lentur dan geser yaitu pada penamabahan ABJ di 10% dapat menaikkan nilai kuat tekan, lentur dan geser. Walaupun pada kuat tekan tetap mengalami penurunan akan tetapi tetap berada di atas kuat tekan rencana yaitu 20 Mpa. Pada kuat lentur mengalami kenaikan di penambahan ABJ 10% dan pada kuat geser juga mengalami kenaikan pada penambahan ABJ 10%.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Pengujian kuat tekan beton mengalami penurunan kekuatan pada penambahan ABJ 5%, 10% dan 15%. Pada beton normal nilai kuat tekan yaitu 24,08 Mpa. Sedangkan pada penambahan ABJ mengalami penurunan yang signifikan yaitu 23,21 Mpa, 20,22 Mpa, dan 14,7 Mpa.
Namun, pada 5% dan 10% masih berada pada nilai kuat tekan rencana 2. Pengujian kuat lentur beton mengalami kenaikan pada penambahan ABJ
5%, 10% dan 15%. Untuk beton normal mendapatkan nilai kuat tekan 1,45 Mpa. Pada penambahan ABJ 15% mengalami nilai kuat lentur maksimum dengan nilai 2,07 MPa. Nilai kuat lentur tidak hanya dipengaruhi oleh penambahan ABJ akan tetapi juga dipengaruhi oleh patahan yang terjadi.
3. Pengujian kuat geser secara teori tidak ada pengaruh terhadap ABJ serta patahan yang terjadi. Namun secara eksperimen, penambahan ABJ mengalami kennaikan pada persentase 10% dan turun pada persentase 5% dan 15%.
4. Untuk nilai optimum pada pengujian kuat tekan berada pada penambahan ABJ 5%. Pada pengujian kuat lentur, nilai optimum penambahan ABJ berada pada 15%. Untuk pengujian kuat geser nilai optimum penambahan ABj berada pada 10%. Akan tetapi dari semua pengujian penambahan ABJ naik pada penambahan 10%.
B. Saran
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, ada beberapa saran untuk peneliti selanjutnya yaitu.
1. Pembakaran ABJ sebaiknya dilakukan di tempat yang tertutup.
125
3. Perlunya perhitungan rumus empiris terhadap perbandingan kuat geser eksperimen dengan teori .
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standardisasi Nasional. 2002. “Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. SNI 03-2847-2002.” Bandung: Badan
Standardisasi Nasional, 251.
———. 2011a. “SNI 1974-2011 Cara Uji Kuat Tekan Beton Dengan Benda Uji Silinder.” Badan Standardisasi Nasional Indonesia, 20.
———. 2011b. “SNI 4431-2011 Cara Uji Kuat Lentur Beton Normal Dengan Dua Titik Pembebanan.” Badan Standar Nasional Indonesia, 16.
Civil, Paulus, Engineering Journal, Maria Prisila, Hederanti Itu, Herman Parung, and Junus Mara. 2021. “Study Pemanfaatan Abu Bonggol Jagung Sebagai Bahan Substitusi Semen Untuk Beton Normal” 3 (4): 558–69.
Hastjarjo, T Dicky. 2019. “Rancangan Eksperimen-Kuasi.” Buletin Psikologi 27 (2):
187. https://doi.org/10.22146/buletinpsikologi.38619.
Igbal, Muhammad, M D J Sumajouw, Reky S Windah, and Sesty E J Imbar. 2013.
“Pengujian Geser Balok Beton Bertulang Dengan Menggunakan Sengkang Konvensional.” Jurnal Sipil Statik 1 (2): 65–69.
Maulana, Septian. 2017. “Pengaruh Subtitusi Semen Dengan Abu Cangkang Kerang Lokan (Galolnia Expansa) Dan Penambahan Serat Sabut Kelapa Terhadap Kuat Tekan Beton.” FROPIL (Forum Profesional Teknik Sipil) 5 (Vol 5 No 2 (2017): FROPIL (Forum Profesional Teknik Sipil)): 108–23.
Resti, Dena, Atnic Amelysta, Debby Ratna Djuita, Fairuz Nuruzzahra, Firnanda Nur, Nadya Carolina, Putri Pandjaitan, Rifko Satrio Rahmadani, and Sman Sukabumi. n.d. “Pemanfaatan Limbah Bonggol Jagung Menjadi Bio-Oil Sebagai Sumber Bahan Bakar Alternatif.”
Saputra, Ashar, and Djoko Sulistyo. 2019. “Karakteristik Yang Dimiliki Beton Menjadi Penggunaan Material Tersebut Dalam Dunia Infrastuktur .
Kombinasi Antara Material Perkembangan Teknologi Untuk Menghasilkan Struktur Bangunan Yang Memiliki Kekuatan Yang Tinggi . Balok Beton Beberapa Kegagalan Ter” XV (2).
SNI 03-2834-2000. 2000. “SNI 03-2834-2000: Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal.” Sni 03-2834-2000, 1–34.
SNI 15-0129-2004. 2004. “Semen Portland Putih.” Badan Standardisasi Nasional, 10.
DPU, 1990, SK SNI-03-1969-1990: Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Kasar, Departemen Pekerjaan Umum Yayasan Badan Penerbit PU, Bandung.
Mulyono, T., 2004, Teknologi Beton, Penerbit Andi, Yogyakarta.
Nugraha, P., 2007, Teknologi Beton, CV. Andi Offset, Yogyakarta.
Tjokrodiljo, Kardiyono. 2007. Beton dan Batu Buatan Untuk Bangunan. Biro Penerbit KMTS FT UGM : Yogyakarta.
Nawy, E. G.. 1990. Beton Bertulang Suatu Pendekatan Dasar. Jakarta: Erlangga.
127
LAMPIRAN LAMPIRAN 1. SURAT TUGAS PEMBIMBING
LAMPIRAN 2 PENGUJIAN BAHAN 1. Berat Isi Agregat
a. Agregat Halus
Pasir diketuk dengan alat ketuk Pasir yang telah di ketuk kemudian ditimbang b. Agregat Kasar
Kerikil yang telah di ketuk ditimbang beratnya 2. Berat Jenis dan Penyerapan
a. Agregat Halus
Pasir yang telah direndam kemudian Pasir SSD ditandai dengan jatuh 1/3 di keringkan sampai mendapatkan SSD
129
Timbang Pasir 500gr Isi piknometer dengan air lalu timbang
Masukkan pasir kedalam piknometer Keluarkan pasir lalu keringkan lalu timbang
b. Agregat Kasar
Kerikil yang sudah direndam lalu Timbang kerikil 3000 gr di keringkan sampai SSD
Masukkan kerikil ke dalam Gantungkan lalu timbang keranjang besi
3. Kadar Air
a. Agregat Halus
Dapatkan Pasir SSD Timbang 100 gram
Keringkan lalu timbang
131
b. Agregat Kasar
Lap kerikil hingga SSD Timbang 250gram
Kerimgkan Lalu timbang 4. Kadar Lumpur
a. Agregat Halus
Pasir yang telah di oven lalu timbang Rendam pasir selama 60 menit
Keringkan lalu timbang
b. Agregat Kasar
Keringkan kerikil Timbang 250 gr
Cuci, keringkan dan timbang 5. Analisis Ayakan
a. Agregat Halus
Ayak menggunakan mesin ayak lalu timbang di setiap ayakan
133
b. Agregat Kasar
Setelah di ayak lalu timbang per ayakan tertahan 6. Zat Organik Agregat Halus
Standar warna no 3
7. Keausan Agregat Kasar
Hidupkan mesin tekan tombol on ayak kerikil lalu timbang
8. Proses pembakaran abu bonggol jagung
Pengambilan limbah bonggol jagung Pembakaran bonggol jagung
Abu bonggol jagung di saring menggunakan saringan No. 100 9. Pembuatan benda uji
Timbang bahan Masukkan bahan ke mesin
Aduk Keluarkan beton dari mesin
135
Uji slump Masukkan ke dalam cetakan 10. Pengujian Benda Uji
Sampel silinder yang telah berumur 28 hari
Sebelum Pengujian Kuat Tekan Sesudah Pengujian Kuat Tekan
Sebelum Pengujian Kuat Geser Sesudah Pengujian Kuat Geser
Sebelum Pengujian Kuat Lentur Sesudah Pengujian Kuat Lentur
137
LAMPIRAN 3 CATATAN KONSULTASI DOSEN
139
LAMPIRAN 4 MIX DESIGN
141
143