BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
D. Anak Putus Sekolah
1. Pengertian Putus Sekolah
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan terdapat dalam undang-undang No.
23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjelaskan bahwa anak adalah siapa saja yang belum berusia 18 tahun dan termasuk anak yang masih didalam kandungan yang berarti segala kepentingan akan
26
pengupayaan perlindungan terhadap anak sudah dimulai sejak anak tersebut berada dalam kandungan hingga berusia 18 tahun.
Anak putus sekolah adalah keluar dari sekolah sebelum waktunya atau sebelum lulus (Ali Imron, 2015;159). Putus sekolah dipandang sebagai masalah pendidikan dan sosial yang amat serius selama beberapa dekade terakhir ini. Dengan meningkatnya sekolah sebelum lulus, banyak individu putus sekolah yang tidak mendapatkan pendidikan yang cukup sehingga kesejahteraan ekonomi dan sosialnya menjadi terbatas sepanjang hidup sebagai orang dewasa.
Pendidikan diperlukan dalam upaya pembinaan dan pengembangan potensi, minat dan bakat generasi muda. Oleh sebab itu, remaja harus mendapatkan perhatian khusus dam pendidikan dan partisipasi dalam masyarakat agar mereka dapat meneruskan perjuangan bangsa dan pembangunan kreativitas mereka melalui pendidikan.
Menurut Sugianto (2017) menjelaskan bahwa pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan manusia untuk membina dan membangun kepribadian sesuai dengan nilai-nilai yang ada dilingkup masyarakat dan didalam kebudayaan yang berlaku. Setiap individu tidak terkecuali remaja tentunya ingin memperoleh pendidikan agar dapat mencapai cita-cita.
Diperlukan usaha, sarana dan prasarana untuk memperoleh pendidikan.
Namun kenyataannya untuk memenuhi kondisi tersebut tidak mudah dengan berbagai kendala dan keterbatasan yang ada pada sebagian individu, keluarga maupun masyarakat. Ketika kendala tersebut tidak dapat diselesaikan maka akan menyebabkan remaja putus sekolah.
Padahal sekolah merupakan salah satu sarana untuk memperoleh
pendidikan, pengetahuan dan pengalaman yang menunjang kehidupan di masa mendatang.
2. Faktor-Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah
Putus sekolah menjadi masalah yang cukup serius. Putus sekolah merupakan jurang yang menghambat anak untuk mendapatkan haknya.
a. Faktor internal
1) Malas atau kurang minat bersekolah
Menurut Desca (2015) penyebab anak putus sekolah diutamakan karena rasa minat untuk bersekolah tidak ada (malas).
Ada kemauan dari dalam diri anak untuk bersekolah yang sangat kurang, karena kemampuan belajarnya yang rendah. Karena faktor kejenuhan, kebosanan untuk bersekolah.
Percaya dirinya yang sangat jauh darinya, serta karena keluarga dan perhatian orang tua menjadikan alasan untuk meninggalkan sekolah.
Menurut Wassahua ( 2016) yang menyebabkan anak putus sekolah adalah rendahnya atau kurangnya minat untuk bersekolah, rendahnya minat anak dapat disebabkan oleh perhatian orang tua yang kurang dan ada pengaruh dari lingkungan luar. Adapun anak putus sekolah karena merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya
28
b. Faktor eksternal 1) Ekonomi keluarga
Tingkat kemiskinan yang masih tinggi diIndonesia mempengaruhi anak untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Walaupun pemerintah sudah membuat pembebasan biaya sekolah, namun kebutuhan perlengkapan sekolah yang begitu banyak seperti tas, sepatu, buku, seragam dan lainnya membuat sulit mencukupi kebutuhan anaknya dalam menempuh pendidikan yang mengakibatkan putus sekolah.
2) Kondisi lingkungan tempat tinggal
Lingkungan tempat tinggal anak mempengaruhi terjadinya kegiatan dan proses belajar atau pendidikan. Lingkungan tempat tinggal anak atau lingkungan masyarakat ini dapat berperan dan ikut serta di dalam membina kepribadian anak- anak ke arah yang lebih positif.
Menurut Waidi (2019) bahwa anak putus sekolah adalah karena ekonomi yang membuat orang tua tidak bisa membiayai anaknya, ada juga karena pola fikir orang tua yang kurang mengetahui pentingnya pendidikan, jarak lokasi rumah ke sekolah yang jauh dan akses jalur menuju sekolah juga transportasi kendaraan yang kurang memadai.
Menurut Suyanto (2016) bahwa penyebab anak putus sekolah adalah seseorang siswa dikatakan putus sekolah
apabila ia tidak dapat menyelesaikan program suatu sekolah secara utuh yang berlaku sebagai suatu sistem Penyebab anak putus sekolah menurut Ali Imron (2015:159) yaitu :
a) Ketidakmampuan mengikuti pelajaran. Ini menjadi penyebab peserta didik merasa berat untuk menyelesaikan pendidikannya. Oleh karena itu, mereka ini perlu mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan peserta didik kebanyakan.
b) tidak memiliki biaya untuk bersekolah. Ini banyak terjadi di daerah pedesaan. Di pedesaan jangankan biaya pendidikan untuk kebutuhan sehari-hari saja peserta didik bersama keluarga merasa tidak cukup
c) Sakit parah. Ini menyebabkan siswa tidak sekolah sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Lantaran sudah jauh tertinggal dengan peserta didik lainnya maka kemudian ia lebih memilih tidak bersekolah.
d) Anak-anak terpaksa bekerja. Pada negara-negara berkembang jumlah pekerja anak sangat banyak. Tidak jarang, anak-anak ini juga bekerja pada sektor formal yang terikat oleh waktu atau aturan. Waktu yang ditetapkan oleh perusahaan tempat kerja berbenturan dengan waktu sekolah. Oleh karena itu, lambat laun ia tidak dapat sekolah lagi karena harus bekerja.
e) Membantu orang tua diladang. Di daerah agraris dan kantong kemiskinan putra laki-laki di pandang sebagai
30
pembantu terpenting ayahnya untuk bekerja di ladang, untuk membantu di ladang dibutuhkan waktu yang relatif banyak sehingga seringkali menjadikan peserta didik tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah
f) Dikeluarkan dari sekolah. Hal ini terjadi karena yang bersangkutan memang sudah tidak mungkin dapat di didik lagi.
3. Dampak Putus Sekolah
Beberapa dampak yang akan dialami atau diterima baik bagi anak itu sendiri, masyarakat dan bangsa dimasa yang akan datang. Beberapa dampak anak putus sekolah sebagai berikut.
a. Menambah jumlah pengangguran b. Kerugian bagi masa depan anak c. Menjadi beban orang tua
d. Menambah kemungkinan terjadinya kenakalan anak dan tindak kejahatan dalam kehidupan sosial bermasyarakat
Individu putus sekolah tidak mendapatkan pendidikan yang layak sehingga kesejahteraan ekonomi dan sosialnya menjadi terbatas sepanjang hidupnya ketika menjadi orang dewasa. Remaja yang melangkah keluar dari tangga pendidikan jauh sebelum mereka mencapai tingkat yang professional, akan membuat remaja harus menggunakan cara mereka sendiri untuk mencapai pekerjaan.
Kondisi kehidupan yang harus dihadapi setelah mengalami putus sekolah, antara lain adalah keterbatasan pengetahuan, keterbatasan akses informasi, keterbatasan akses sosialisasi, dan kesempatan kerja
yang terbatas karena tidak mempunyai ijazah sebagai syarat administrasi.
Kondisi tersebut mengakibatkan remaja yang mengalami putus sekolah tidak percaya diri untuk melakukan aktivitas tertentu karena merasa tidak mempunyai bekal pengetahuan, tidak mempunyai harga diri.