BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
E. Penelitian Terdahulu
yang terbatas karena tidak mempunyai ijazah sebagai syarat administrasi.
Kondisi tersebut mengakibatkan remaja yang mengalami putus sekolah tidak percaya diri untuk melakukan aktivitas tertentu karena merasa tidak mempunyai bekal pengetahuan, tidak mempunyai harga diri.
32
dan cukup sulit untuk menemukan solusi sebagai pemecahan dari fenomena masalah tersebut.
Banyak penyebab faktor-faktor yang menjadi penyebab dari masalah ini seperti faktor internal yang merupakan faktor dari siswa sendiri, dan juga eksternal yang berasal dari keluarga dan pengaruh lingkungan. Saat ini masih banyak kita jumpai kasus anak putus sekolah khususnya di bangkuh pendidikan dasar. Tujuan dari penelitian berikut adalah mengetahui faktor yang menjadi penyebab tingginya putus sekolah pada pelajar.
Metode kualitatif ini dipilih untuk memberikan pemahaman dan visual secara mendalam mengenai penyebab dari tingginya fenomena. Dalam menghimpun data, digunakan metode wawancara dari partisipan, dan studi pustaka dengan cara mempelajari data sekunder yang berupa dokumen, arsip, hasil riset hasil penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya
Mahardi (2018) Pembinaan, Dinas Sosial, Anak Jalanan, Dramaturgi Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini ada tiga yakni pelaksanaan pembinaan di Kampung Anak Negeri, evaluasi program pembinaan dan pembinaan anak jalanan dan anak putus sekolah di Kampung Anak Negeri dalam kajian dramaturgi.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam menganalisis Peran Dinas Sosial Dalam Pembinaan Anak Jalanan dan Anak Putus Sekolah (Studi Kasus di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kampung Anak Negeri Kelurahan Wonorejo Kecamatan Rungkut Kota Surabaya) ialah teori Dramaturgi Erving Goffman.
Hasil penelitian ini ditemukan bahwa : (1) Dinas Sosial Surabaya bagian dari tata pemerintah Kota Surabaya mempunyai misi menuntaskan masalah kesejahteraan sosial khususnya anak jalanan dan anak putus sekolah. Karenanya dibentuk UPTD Kampung Anak Negeri sebagai tempat pembinaan untuk anak jalanan dan anak putus sekolah.
Pembinaan tersebut meliputi bimbingan mental spiritual, kedisiplinan, kemandirian, jasmani, sosial, minat, dan kognitif. (2) Kendala dan evaluasi dilakukan Kampung Anak Negeri bertujuan untuk mengetahui permasalahan serta keberhasilan pembinaan terhadap anak jalanan dan anak putus sekolah. Dan bila anak telah selesai dan berhasil menjalani kegiatan pembinaan, Kampung Anak Negeri akan membantu memberikan akses dan fasilitas bagi anak tersebut. (3) Dramaturgi harus dilakukan saat pelaksanaan pembinaan anak jalanan dan anak putus sekolah, jalanan yang menjadi asal anak-anak menambah tenaga ekstra yang harus dikeluarkan dalam pembinaan. Dramaturgi termasuk dalam strategi yang digunakan oleh pembina atau pembimbing dalam membina anak jalanan di Kampung Anak Negeri.
Satriani (2016) Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kenyataannya pemerataan yang didapatkan anak putus sekolah belum sepenuhnya merata. Karena pemerintah dalam memberikan seleksi dalam penerimaan peserta pelatihan secara bertahap dan keterbatasan daya tampung.
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan saran untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat khususnya anak putus sekolah pemerintah daerah harus cepat tanggap, berkoordinasi, dengan instansi
34
pemerintah lainnya dalam mengatasi permasalahan yang terjadi mengenai pelaksanaan program pengentasan anak putus sekolah agar bisa menjamin kesejahteraan masyarakat.
Siti (2017) Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pengelolaan di PKBM Bustanul Muslimin yaitu meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. (2) Upaya PKBM Bustanul Muslimin dalam membina masyarakat putus sekolah yaitu: menyelenggarakan program kesetaraan (paket A, B, dan C), Life Skile, KBU, mendirikan program pembelajaran yang beragam, mempersiapkan fasilitas yang memadai, serta mempersiapkan tenaga pendidik yang semi terampil. (3) Penghambat dan pendorong PKBM Bustanul Muslimin dalam membina masyarakat putus sekolah yaitu, faktor penghambat dalam pelaksanaan program di PKBM Bustanul Muslimin meliputi kurangnya kesadaran warga belajar untuk rajin berangkat, sumber dana untuk keterampilan yang terkadang kurang, dan pendistribusian hasil usaha yang terkadang sulit. Sedangkan faktor pendorongnya yaitu ketersediaannya tempat belajar, antusias warga untuk belajar serta kesadaran tutor untuk mengajar.
Rosa (2019) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) dalam mengatasi anak putus sekolah di kecamatan suhaid. Pengelolaan PKBM Dalam Mengatasi anak putus sekolah meliputi: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber penelitian ini adalah ketua PKBM atau pengelola tutor PKBM .
Metode pengumpulan data menggunakan wawancara untuk menunjukkan keabsahan data maka digunakan teknik pengamatan lapangan dan trianggulasi sumber data. Pengumpulan data yang digunakan dengan cara ,menggali informasi yang sama dari sumber data yang berbeda dengan sumber data, diantaranya PKBM atau pengelola dan tutor. Data yang diperoleh di analisis secara kualitatif dengan tahapan pengumpulan data, reduksi data, pengajian data dan penarikan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan PKBM dalam mengatasi anak putus sekolah dengan tahapan menyusun kepengurusan PKBM, melakukan sosialisasi, pentingnya pendidikan, menentukan program yang akan dilaksanakan oleh PKBM.
Wardania (2020) angka putus sekolah selalu bertambah setiap tahun dan banyak faktor yang menyebabkan anak memutuskan untuk berhenti sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab anak putus sekolah di Desa Tumbang Kaminting Kecamatan Bukti Santui. Penelitian ini merupakan penelitian deskriftif yang melakukan analisis data bertahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan dengan melakukan wawancara kepada anak putus sekolah sebagai subjek penelitian.
Dan untuk uji keabsahan data menggunakan teknik triagulasi dan teman sebaya subjek penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebab anak putus sekolah karena sakit parah dan karena sekolah dianggap tidak menarik.
Edi syukur (2016) komparasi pemahaman konsep bangun datar siswa antara yang diajar dengan model pembelajaran advance organizer dengan peta konsep dan model pembelajaran yang mengadopsi teori van. Jenis
36
penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui hasil belajar, aktivitas dan respons siswa terhadap model pembelajaran advance organizer dengan peta konsep dan modal pembelajaran yang mengadopsi teori van hiele pada pokok bahasan bangun datar khususnya segiempatkelas Vll SMPN 2 Sinjai Timur, (2) mengetahui bagaimana pemahaman konsep bangun datar siswa antara yang diajar dengan model pembelajaran advance organizer dengan peta konsep dan model pembelajaran yang mengadopsi teori van hiele.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMPN 2 Sinjai Timur dan sampai terdiri dari dua kelas keduanya sebagai kelas eksperimen yang dipilih menggunakan teknik purposive rondam sampling.
Data yang dikumpulkan terdiri dari data atas hasil belajar siswa, data aktivitas siswa dalam pembelajaran dan data respons siswa terhadap perangkat dan pembelajaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor hasil belajar matematika siswa pada kelas eksperimen 1 dengan mean 20,36 dan standar deviasi 2,164 mencapai tingkat ketuntasan secara klasikal sebesar 89,29%, serta aktivitas siswa dalam pembelajaran berada pada kategori aktif dan respons siswa terhadap perangkat dan pembelajaran adalah positif.
Secara umun disimpulkan bahwa model pembelajaran advance organizer dengan peta konsep untuk diterapkan dikelas VII SMPN 2 Sinjai Timur dengan kategori cukup efektif. Secara umum disimpulkan bahwa model pembelajaran yang mengadopsi teori Van Hiele untuk diterapkan di kelas VII SMPN 2 Sinjai Timur dengan kategori cukup efektif.
Hasil uji hipotesis pada taraf signifikan dengan uji menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pemahaman konsep bangun datar siswa antara yang diajar dengan model pembelajaran advance organizer dengan peta konsep dan model pembelajaran yang mengadopsi teori Van Hiele.