• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Bivariat

Dalam dokumen Keperawatan-2020-Rita Anita.pdf (Halaman 50-53)

BAB V HASIL PENELITIAN

5.2 Analisa Bivariat

5.1.6 Distribusi frekuensi perilaku manajemen kebersihan mulut

Tabel 5.6 Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Manajemen Kebersihan Mulut Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna

di Instalasi Radioterapi RS. Kanker Dharmais Jakarta bulan April – Juni 2020

Perilaku Frekuensi (n) Persentase (%)

Kurang Baik 10 22,2

Baik 35 77,8

Total 45 100,0

Sumber: Hasil Pengolahan dengan SPSS 24

Tabel diatas menunjukkan 77,8% responden memiliki perilaku manajemen kebersihan mulut dengan baik baik.

5.3.1 Hubungan pengetahuan terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut

Tabel 5.7 Hubungan Pengetahuan terhadap Perilaku Manajemen Kebersihan Mulut Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna

di Instalasi Radioterapi RS Kanker Dharmais Jakarta bulan April – Juni 2020

Pengetahuan

Perilaku

Total P-Value Kurang Baik Baik

% N % N % N

Kurang baik 57,1 8 42,9 6 100 14

0,002

Baik 6,5 2 93,5 29 100 31

Total 22,2 10 77,8 35 100 45

Sumber: Hasil Pengolahan dengan SPSS 24

Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang antara pengetahuan terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker dharmais Jakarta, dengan P Value 0,002

5.3.2 Hubungan sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut

Tabel 5.8 Hubungan Sikap terhadap Perilaku Manajemen Kebersihan Mulut Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna

di Instalasi Radioterapi RS. Kanker Dharmais Jakarta bulan April – Juni 2020

Sikap

Perilaku

Total

P-Value Kurang Baik Baik

% N % N % N

Negatif 80,0 8 20,0 2 100 10

0,000

Positif 5,7 2 94,3 33 100 35

Total 22,2 10 77,8 35 100 45

Sumber: Hasil Pengolahan dengan SPSS 24

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker dharmais Jakarta, dengan P-value 0,000.

BAB VI PEMBAHASAN

Pembahasan hasil penelitian dimulai dari analisa univariat sampai analisa bivariat, dengan membandingkan antara hasil penelitian dengan teori serta penelitian yang terkait. Penelitian ini merupakan penelitian tentang hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dengan jumlah sampel sebanyak 45 responden, pasien kanker nasofaring yang sedang menjalani radiasi eksterna. Sistematika hasil penelitian ini dibagi menjadi interpretasi hasil, implikasi keperawatan dan keterbatasan penelitian.

6.1 Interpretasi Hasil

6.1.1 Interpretasi hasil univariat 6.1.1.1 Data demografi

Dari data demografi didapatkan hasil mayoritas responden berada pada rentang usia 40-49 tahun sebanyak 33,3%, dan responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 77,8%, sedangkan responden dengan mayoritas pendidikan SMA sebanyak 48,9%.

Menurut Sunaryo (2013), perilaku seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor genetik atau endogen yang merupakan modal untuk kelanjutan perilaku, salah satunya jenis kelamin, perilaku pria atas dasar pertimbangan rasional atau akal sedangkan wanita atas dasar emosional.

Penelitian yang dilakukan di India oleh Sharda et al., (2013) menyatakan bahwa secara statistik jenis kelamin tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku kesehatan gigi dan mulut.

Penelitian yang dilakukan oleh Wiyatini (2012), menunjukkan hasil pada usia 45 tahun atau lebih yang memiliki sikap kurang dalam pencegahan penyakit gigi menunjukkan prevalensi periodontitis lebih tinggi dari pada yang memiliki sikap baik. Sikap merupakan

suatu evaluasi yang positif dan negatif, serta melibatkan emosional seseorang dalam menanggapi objek sosial, artinya bila hasilnya positif maka seseorang akan cenderung mendekati objek, dan sebaliknya bila sikapnya negatif cenderung menjauhi objek (Rahayu et al., 2016)

Menurut Sondang (2004) dalam bukunya menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin besar kemauannya untuk memanfaatkan pengetahuan dan keterampilannya terhadap sesuatu (Rosita dan Widyaningsih. 2017)

penelitian yang dilakukan oleh Basuni et al., 2014 menyatakan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh terhadap statuskesehatan mulut diketahui indeks kebersihan mulut yang paling baik terdapat pada tingkat pendidikan SMA dan indeks kebersihan mulut yang paling buruk terdapat pada responden yang tidak sekolah (Sodri et al., 2018) 6.1.1.2 Variabel pengetahuan manajemen kebersihan mulut

Notoadmojo (2014) Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.

Peran penting pengetahuan pasien kanker nasofaring dalam manajemen kebersihan mulut, merupakan salah satu faktor keberhasilan perawatan dalam pengobatan radioterapi, untuk meminimalkan efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan.

Edukasi merupakan bagian dari asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien kanker nasofaring yang akan menjalani radiasi eksterna. Hasil penelitian ini menunjukkan 68,9% pasein kanker nasofaring yang sedang menjalani radiasi eksterna memiliki tingkat pengetahuan tentang manajemen kebersihan mulut dengan baik, hal ini dapat disebabkan karena, edukasi tentang manajemen kebersihan mulut diberikan secara terus menerus, sebelum, dan selama pasien menjalani radiasi eksterna. Stimulus yang diberikan secara terus

menerus akan merangsang seseorang untuk melakukan sesuatu.

Pengetahuan (Kognitif) merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

Sedangkan 31,1% pasien dengan pengetahuan manajemen kebersihan mulut yang kurang baik, hal ini bisa disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan pasien dalam menerima edukasi. Tingkat pendidikan yang rendah, sumber informasi yang kurang, latar belakang budaya yang berbeda, pengalaman terhadap sakit sehingga pasien tidak dapat mengingat atau menyimpan informasi yang diberikan, bisa juga disebabkan karena kecemasan terhadap program terapi yang akan dijalani.

Sejalan dengan penelitian Rosita, dan Widyaningsih (2017). Hal penting yang perlu diperhatikan bahwa tingkat pengetahuan pasien terkait pengobatan yang dijalani merupakan salah satu aspek dalam membangun kemauan dan kemampuan pasien. Sehingga pasien mengikuti saran-saran medis, menjalankan radioterapi sesuai dengan yang direncanakan, mematuhi jadwal konsultasi medis, serta menyelesaikan tindak lanjut medis sesuai dengan rekomendasi.

.

6.1.1.3 Variabel sikap manajemen kebersihan mulut

Menurut Notoadmodjo (2014), sikap merupakan reaksi yang masi tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan bertindak. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.

Hasil penelitian ini menunjukkan 77,8% pasien memiliki sikap yang positif terhadap manajemen kebersihan mulut. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor interna yaitu pasien sudah menerima dan memilih manajemen kebersihan mulut sebagai suatu kebutuhan yang harus dilakukan selama menjalani radiasi eksterna. Sedangkan faktor eksterna didapat dari pengalaman yang didapat dari diri sendiri maupun orang lain selama pasien menjalani radiasi eksterna. Sejalan

dengan Penelitian dipakistan menyatakan semakin lama seseorang menderita penyakit, maka individu tersebut akan mempunyai pengalaman yang lama tentang penyakitnya (Anwar et al., 2012).

Sikap merupakan kecenderungan yang belum disertai tindakan nyata, meskipun sikap sering di asumsikan sebagai predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, tetapi sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tindakan nyata tidak hanya ditentukan oleh sikap semata, tetapi oleh berbagai faktor eksternal lainnya. Sedangkan 22.2% pasien memiliki sikap yang negatif, hal ini dapat disebabkan karena kurangnya stimulus untuk merubah dan membentuk sikap. Dapat juga disebabkan karena kurangnya motivasi serta informasi yang didapat, atau kondisi sakit yang dapat menyebabkan pasien memiliki sikap yang negatif. (Notoadmodjo, 2014)

6.1.1.4 Variabel perilaku manajemen kebersihan mulut

Menurut Notoadmodjo (2014), pengertian perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.

Hasil penelitian ini menunjukkan 77,8% pasien memiliki perilaku manajemen kebersihan mulut yang baik selama pasien menjalani radiasi eksterna. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan tentang manfaat yang didapat, kerugian yang diterima apabila pasien berperilaku manajemen kebersihan mulut yang buruk. Sedangkan 22,2% pasien memiliki perilaku kurang baik dalam manajemen kebersihan mulut, bisa disebabkan karena kurangnya faktor pendukung, perbedaan latar belakang yang meliputi: kebiasaan, budaya dan sosial ekonomi (Azwar, 2011). Responden berasal dari seluruh Indonesia yang memiliki kebiasaan, nilai budaya serta sosial ekonomi yang beragam, sehingga dapat memengaruhi cara berperilaku seseorang sesuai dengan norma-norma yang ada. Faktor lainnya yang mempengaruhi perilaku kesehatan adalah faktor internal yang meliputi

tingkat kecerdasan, emosional dan jenis kelamin (Notoadmodjo, 2014). Pengetahuan dapat berkaitan erat dengan pendidikan, terdapat responden dengan pendidikan sekolah Dasar sebanyak 15,6%.

Pengetahuan merupakan dasar terbentuknya suatu prilaku. Seseorang dikatakan kurang pengetahuan apabila dalam kondisi tidak mampu untuk mengenal dan menjelaskan serta menganalisa suatu keadaan.

(Sari et al., 2018)

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu et al., 2016. Perilaku kesehatan dipengaruhi oleh faktor internal meliputi pengetahuan, persepsi, emosi, motivasi, sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan fisik maupun non fisik. Pengetahuan atau kognitif merupakan ranah yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan kesehatan gigi akan mendasari sikap yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam memelihara kebersihan gigi dan mulut

6.1.2 Interpretasi hasil bivariat

6.1.2.1Hubungan pengetahuan terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut

Notoadmodjo (2014) dalam penelitiannya mengungkapkan perilaku yang didasari oleh pengetahuan, akan lebih langgeng dibandingkan dengan perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan antara pengetahuan terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna, dengan nilai P-Value 0.002. dimana pasien yang memiliki pengetahuan yang baik, akan berdampak positif untuk melakukan perilaku yang baik pula.

Penelitian di Ghana menyatakan bahwa pasien yang memiliki pengetahuan lebih baik tentang efek samping pengobatan cenderung untuk patuh menjalani pengobatan hingga akhir (Kyei et al., 2015)

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rosita dan Widyaningsih (2017), menyatakan bahwa pengetahuan pasien mengenai aspek-aspek penting pengobatan yang dijalani akan berdampak terhadap kekonsistenan perilaku berobat pasien.

Sehingga aspek-aspek penting pengobatan menjadi hal yang perlu dipahami pasien.

Pasien yang banyak mempunyai sumber informasi dapat memberikan peningkatan terhadap pengetahuan. Edukasi yang diberikan selama pasien menjalani radiasi ekterna, bertujuan meningkatkan pengetahuan pasien menjadi lebih baik sehingga pasien memahami pentingnya perilaku manajemen kebersihan mulut dengan baik pula. Status kesehatan mulut yang optimal dapat meminimalkan efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan.

6.1.2.2 Hubungan sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut

Notoadmodjo (2014) sikap positif seseorang terhadap kesehatan memungkinkan tidak berdampak langsung pada perilaku kesehatan orang tersebut menjadi positif, tetapai sikap negatif terhadap kesehatan hampir pasti berdampak pada perilakunya.

Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan antara sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna, dengan nilai P- Value 0.000. Salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap perilaku seseorang adalah faktor sosio psikologis. Faktor sosio psikologis ini terdiri dari sikap, emosi, kepercayaan, kebiasaan dan kemauan. Sikap relatif menetap lebih lama dari pada emosi dan pikiran (Notoadmojo, 2014)

Sejalan dengan Penelitian yang dilakukan oleh Rahayu, Widiati dan Widyanti (2016) menyatakan, sikap dikatakan sebagai respon evaluatif, yang hanya timbul apabila individu dihadapkan pada

stimulus yang menghendaki adanya reaksi. Sikap dapat merupakan suatu pengetahuan yang disertai kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan itu. Hasil penelitian menunjukkan antara sikap dan perilaku terhadap pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut berpengaruh signifikan terhadap kesehatan periodontal pra lansia (p=0,001).

6.2 Implikasi Keperawatan

Penelitian yang berjudul hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna di Instalasi Radioterapi Rumah sakit Kanker dharmais Jakarta ini menyatakan hasil bahwa terdapat hubungan yang antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut. Semakin baik pengetahuan dan sikap positif seseorang, akan semakin berpengaruh terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut dengan baik pula. Manajemen kebersihan mulut yang baik, adalah kunci utama dalam menjaga status kesehatan mulut yang optimal selama pasien menjalani radiasi eksterna. Pemberian edukasi sebelum, selama dan sesudah radiasi berakhir merupakan upaya preventif dan promotif, dalam meminimalkan efek samping yang mungkin timbul selama radiasi dan peningkatan status kesehatan mulut jangka panjang.

Radiasi pada daerah kepala dan leher terutama kanker nasofaring memiliki efek samping yang serius pada masalah kesehatan mulut dan gigi. Meskipun saat ini terapi radiasi sudah sangat canggih, tetapi masih terdapat efek samping yang sangat signifikan. Terdapat langka-langka sederhana apabila diambil tepat waktu akan mengurangi dampak radiasi pengion, pada jaringan keras dan lunak mulut.

Terutama pada kelenjar, gigi saliva. Langkah-langkah tersebut antara lain:

menghilangkan sumber-sumber infeksi, berkumur-kumur, pemberian flouridasi, hidrasi, menstimulasi kelenjar air liur. Langkah ini dapat mengurangi keparahan akibat radiasi dan mengurangi besarnya efek samping setelah radiasi (Mirjalili, 2016)

Dalam BC Cancer (2018) menyebutkan Perawatan mulut yang baik sangat mendasar dalam mencegah dan mengurangi potensi komplikasi oral dari terapi

kanker. Perawatan mulut yang baik meliputi: semua tindakan gigi, periodontal dan jaringan lunak, yang akan membantu seseorang mempertahankan kesehatan mulut yang optimal. Untuk pasien kanker menjaga kesehatan mulut yang optimal sangat sulit, dengan adanya efek samping dari perwatan kanker. Pasien harus mendapat edukasi tentang efek samping yang mungkin timbul sebelum memulai perawatan.

Menjaga Kebersihan mulut secara optimal sebelum selama dan setelah perawatan.

Praktisi harus memberikan rekomendasi yang disesuaikan untuk pasien.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kadrianto et al., (2015) mengatakan seharusnya semua pasien kanker diberikan edukasi sebelum terapi dimulai, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, serta menghindari infeksi sekunder selama pengobatan kanker. Pasien harus menjalani perawatan gigi pra radiasi seperti scalling, dan pencabutan gigi yang tidak bisa direstorasi. Prosedur ini harus dilakukan untuk setiap pasien yang akan menjalani radioterapi, sehingga dapat meminimalkan komplikasi oral selama atau setelah pengobatan. Manajemen oral hygiene yang tepat akan mempengaruhi hasil perawatan dan kualitas hidup.

Sebuah penelitian retrospektif yang dilakukan di India oleh Alvarez et al., (2018), pada pasien tumor kepala dan leher yang mendapatkan terapi radioterapi, khemoterapi atau kombinasi keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan protokol manajemen radioterapi, untuk mempelajari status kesehatan mulut jangka panjang. Semua pasien diberikan protokol perawatan untuk memastikan kondisi mulut yang baik sebelum pengobatan dimulai, untuk meminimalkan komplikasi lokal dan sistemik selama dan setelah perawatan dan menetapkan langkah-langkah yang dapat diadopsi untuk mengurangi efek samping.

Manfaat dari penilaian oral perlu dijelaskan akan pentingnya menjaga kesehatan mulut yang baik selama perawatan.

Penelitian yang dilakukan oleh Liu et al, 2017 melihat hubungan antara kesehatan mulut dan risiko kanker nasofaring. Frekuensi menyikat gigi yang lebih sering dapat dikaitkan dengan risiko kanker nasofaring yang lebih rendah. Hasil studi keseluruhan menyebutkan bahwa kesehatan mulut yang buruk dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Zhang et al., (2015) yang bertujuan untuk mengetahui hubungan, mikrobiota oral dan karies irradiasi, membuat sebuah

kuisioner tentang kebiasaan kebersihan mulut, kebiasaan diet, penggunaan produk fluoride, penggunaan air liur buatan.

Penelitian yang dilakukan oleh Friemel, et al., (2016) menyatakan kebiasaan kebersihan mulut yang buruk merupakan faktor risiko independen untuk terjadinya head and neck squamous cell carcinoma (HNSCC). Perawatan gigi yang baik terdiri dari kunjungan ke dokter gigi, perawatan gigi dan pemakaian benang gigi.

Mengevaluasi relevansi prognostik kebiasaan kebersihan mulut terhadap kelangsungan hidup pasien head and neck squamous cell carcinoma (HNSCC).

Dari semua hasil penelitian diatas selaras dengan panduan penatalaksanaan kanker nasofaring oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, n.d. yang menganjurkan kepada pasien karsinoma nasofaring yang mendapatkan radiasi eksterna untuk selalu menjaga kebersihan mulut, untuk meminimalkan efek samping dan meningkatkan kualitas kesehatan mulut yang baik jangka panjang.

Manajemen kebersihan mulut yang dilakukan pada semua penelitian diatas selaras dengan panduan dalam National Cancer Institute (2016) yang menganjurkan bahwa selama pasien menjalani radiasi eksterna, manajemen kebersihan mulut yang harus diperhatikan antara lain: menjaga kelembaban rongga mulut, karena salah satu efek samping dari radiasi eksterna adalah xerostomia, air liur menjadi kental dan gangguan menelan, sehingga dengan kelembaban mulut yang baik dapat meningkatkan rasa nyaman pasien. Membersihkan mulut, gigi, gusi dan lidah, sangat penting dilakukan karena kondisi kesehatan mulut yang baik dapat meminimalkan munculnya mukositis akibar radiasi. Menghindari rongga mulut dari trauma, seperti memperhatikan makanan yang dikonsumsi merupakan upaya untuk menghindari terjadi mukositis yang lebih parah. Menghindari makanan atau minuman yang terlalu manis, merupakan upaya mencegahan untuk mengurangi risiko kerusakan gigi. Tujuan yang diharapkan dari semua penelitian diatas adalah kesehatan mulut yang optimal, sebelum, selama dan setelah perawatan, sehingga dapat meminimalkan efek samping yang timbul dan menjaga kesehatan mulut jangka panjang.

6.3 Keterbatasan Penelitian

Pengajuan izin etik di rumah sakit pada penelitian ini pada masa pandemik Covid-19, dan dimulainya work from Home sehingga terjadi keterlambatan dalam mengeluarkan surat izin etik. Pengambilan sampel yang dilakukan pada masa pandemi Covid-19, harus memperhatikan protokol kesehatan sesuai dengan anjuran gugus tugas Covid-19, salah satunya sosial distancing, dengan mengatur waktu kedatangan pasien, sehingga tidak terjadi penumpukan pasien yang sedang menunggu untuk di lakukan radiasi.

Instrument penelitian ini secara keseluruhan adalah kuisioner yang dibangun oleh penulis berdasarkan literature yang ada. Kelemahan dari instrument menggunakan kuisioner adalah, bahwa pertanyaan dalam kuisioner berbetuk tertutup dan terstruktur sehingga tidak membuka peluang untuk dikemukakannya jawaban lain oleh responden. Alasan yang lebih mendalam tidak akan ditemukan karena tidak adanya instrument yang memungkinkan jawaban menjadi lebih mendalam. Dengan pengumpulan data melalui kuisioner yang diisi sendiri oleh respopnden, maka kelemahannya adalah kemungkinan terdapat perbedaan persepsi sehingga jawaban dari respponden cenderung memilih jawaban ideal yang sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Terbatasnya kepustakaan dan jurnal-jurnal yang spesifik pada perawatan onkologi radiasi, merupakan salah satu penyebab pembanding dalam pembahasan penelitian ini menjadi kurang spesifik. Berdasarkan keterbatasan tersebut, diharapkan agar peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian yang serupa, dengan pembahasan yang lebih spesifik.

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:

7.1.1 Sebagian besar responden memiliki pengetahuan menajemen kebersihan mulut dengan baik.

7.1.2 Sebagian besar responden memiliki sikap positif terhadap manajemen kebersihan mulut

7.1.3 Sebagian besar responden dengan perilaku manajemen kebersihan mulut yang baik.

7.1.4 Terdapat hubungan yang antara pengetahuan terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna dengan P-Value 0.002.

7.1.5 Terdapat hubungan yang antara sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna dengan P-Value 0.000.

7.2 Saran

7.2.1 Bagi Pasien

Diharapkan pasien kanker nasofaring yang sedang menjalani radiasi eksterna tidak ragu untuk bertanya dan menyampaikan masalah yang timbul selama perawatan sehingga petugas bisa memberikan edukasi sesuai dengan masalah yang dihadapi selama perawatan.

7.2.2 Bagi Perawat

Sebelum memberikan edukasi perlu memperhatikan kesiapan pasien dalam menerima informasi, sehingga edukasi yang diberikan dapat diterima dengan baik. Penggunaan media leaflet atau booklet sebagai panduan pasien dalam melakukan perawatan selama menjalani radiasi eksterna. Leaflet atau

booklet akan sangat membantu pasien dalam melakukan perawatan manajemen kebersihan mulut secara mandiri.

7.2.3 Bagi Rumah sakit

Rumah sakit diharapkan mengembangkan standar prosedur operasional yang spesifik tentang edukasi pada pasien dengan radiasi. Serta memfasilitasi ketersediaan leaflet atau booklet yang dapat digunakan sebagai panduan dalam memberikan edukasi.

7.2.4 Peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian terkait, atau yang lebih spesifik berhubungan dengan manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna.

DFTAR PUSTAKA

Alvarez, P. B., sayains, M. P., Alves, M. G. O., Torrerira, M. G., iruegas. M. E. P., Carrion, A. B., Carcia, A. G. (2018) Dental Manajemen prior To Radiation Therapi In Patiens With Head and Neck Cancer, Indian Journal of Cancer 55(3), P 251-256

American Cancer Society. What is nasoparingeal cancer?. American Cancer Sosiety, Agustus 12, 2018

Anwar, M., Green, J., & Norris, P. (2012). Health Seeking Behavior in Pakistan : A Narrative Review of The Existing Literature, The Royal Society of Public Health.

Jurnal Public Health 507-517

Azizah, N. Hanriko, R. Ramkita, N., 2017. Hubungan antara Konsumsi Ikan Asin, Ikan/ Daging Asap, dan makanan Berkaleng dengan Karsinoma Nasofaring, Jurnal kesehatan dan argomedicine. Vol 4(2) (2017)

Azwar, 2011. Sikap Manusia Teori dan pengukurannya eds – 4. Jakarta: Pustaka pelajar, 2011

BC Cancer Oral Oncology-Dentistry, (2018, Maret). Vancouver, Canada : BC Cancer Budiharto. Pengantar Ilmu Perilaku Kesehatan dan Pendidikan Kesehatan Gigi.

Jakarta: EGC; 2010. h. 17–21.

Bray, Freddie, Jacques Ferlay, Isabelle Soejomataram, Rebecca I. Siegel, Lindsey, A. Torre, and Ahmed Jemal Global Cancer Statistic 2018: Globocan Estimates Of Incidence and Mortality Worklwide for 36 Cancer in 185 countries.”

Cancer Jurnal for Clinicans 68 (2018): 394-424

Budiman. Riyanto, A., 2013. Kapita selekta Kuisioner Pengetahuan dan Sikap dalam Penelitian Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika

C. Halperin, Edward, David E. Wazer, Carlos A. Perez, and Luther W, Brady. 2013.

Perez and Brady’s Principle and Practice of Radiation oncology, 6. Philadelphia:

Lippincott Wiliam and Wilkins.

Dharma, M. Sopiyudin, 2011. Metodelogi Penelitian Keperawatan. Jakarta;Trans Info Media, 2011

Fremel, J., Foraita, R., Gunther, K., Heiback, M., Gunther, F., Pflueger, M., … Aharens, W., (2016, Maret 11), Preteatment Oral hygiene Habits and Survival of Head nd

Neck Squamous Cell Carsinoma (HNSCC) Paatients, BMC Oral health, 16(33), doi: 10.1186/s12903-016-0185-0

International Conference and Exhibition on Dentistry & Oral care, (2020, April 18).The supportive Oral measures Precending Radiation Therapi in Patients Diagnosed with Nasopharingeal Carsinoma. Oral Helath and dental Management

Liu, Z., Chang, E. C., Liu, Q., Cai, Y., Zhang, Z., Chen, G.,…Ye, W.,(2017, Agustus 1) Oral Hygiene and Riskof Nasopharingeal Carsinoma a populasi based case control study in China. Cancer Epidemiologi Biomarkers doi: 10.1158/1055-9965 Epi- 16-0149

Kadrianto,T.H. & Neogroho, H. S. (2015). Dentist Role In Diagnosis And Management of Oral involvement of Nasopharyngeal Carsinoma; serial Case Report, Journal of dentistry Indonesia 22(1), p.29-36

Kyei, K A., Vormawor, R., Opoku, S Y., & Vanderpuye V. (2015). Knowledge, Attitudes, and Perceptions of Head and Neck Radiotherapy in Ghana. World Journal of Epidemiology and Cancer Prevention Volume 6(6)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, n.d. Panduan Penatalaksanaan Kanker Nasofaring, Jakarta: Menkes RI, n.d

Mirjalili, N. (2016, April). The Supportive Oral Measures Diagnosed With Nasopharyngeal Carsinoma, The Internatonal Conferensce And Exhubition on Dentistry And Oral care

National Cancer Institute. (2016). Radiation Therapi and You. support for pleople with cancer.

Notoadmojo, S. 2014. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta; Rineka Cipta, 2014.

Notoadmojo, S. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni . Jakarta; Rineka Cipta, 2011.

Notoadmojo, S. 2015. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta; Rineka Cipta, 2015.

Rahayu, C. Widiati,S. Widyanti,N. 2016. Hubungan antara Pengetahuan, Sikap dan Perilaku terhadap Pemeliharaan Kebersihan Gigi dan Mulut dengan Status Kesehatan Periodental Pra Lansia

Rosita, I. Widyaningsih, S. 2017. Gambaran Tingkat Pengetahuan tentang Radoterapi pada Pasien Kanker Nasofaring. Indonesia jurnal ofKeperawatan. 2017:

http;//ejournal-s1.undip.ac.id/ diakses 20 september 2019

Sari, D. S. Arina, Y. M. D., Ermawati, T. 2015 Hubungan Pengetahuan Kesehatan Gigi

Dalam dokumen Keperawatan-2020-Rita Anita.pdf (Halaman 50-53)

Dokumen terkait