• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keperawatan-2020-Rita Anita.pdf

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Keperawatan-2020-Rita Anita.pdf"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Masalah Penelitian

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

LANDASAN TEORI

Konsep Dasar Kanker Nasofaring

  • Definisi Kanker Nasofaring
  • Etiologi dan Faktor Resiko Kanker Nasofaring
  • Manifestasi Klinis
  • Patofisiologi
  • Pemeriksaan Penunjang
  • Penatalaksanaan

Kanker nasofaring adalah karsinoma yang terjadi di nasofaring (daerah tenggorokan dan belakang hidung) yang menunjukkan bukti diferensiasi skuamosa mikroskopis atau ultrastruktural ringan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, n.d.). Gejala yang muncul pada kanker nasofaring dapat berupa: telinga penuh, tinnitus, otalgia, hidung tersumbat, lendir bercampur darah.

Table 2.1 Pedoman Modalitas Terapi Kanker Nasofaring  Stadium Dini  Stadium  I
Table 2.1 Pedoman Modalitas Terapi Kanker Nasofaring Stadium Dini Stadium I
  • Pengetahuan
  • Sikap (attitude)
  • Perilaku

Ada dua faktor yang dapat mempengaruhi perubahan sikap (Notoadmodjo, 2014). a) Faktor internal, berasal dari individu itu sendiri. Sikap positif, kecenderungan tindakan adalah mendekati, seperti,. mengharapkan objek tertentu, sikap negatif, kecenderungan untuk menjauh, penghindaran, kebencian, penolakan terhadap objek tertentu. a) Sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari (learnability) dan dibentuk dari pengalaman dan praktek selama perkembangan individu dalam hubungannya dengan objek.

Konsep Dasar Radoterapi

  • Definisi radiasi eksterna
  • Indikasi Radiasi Pada Kanker Nasofaring
  • Tehnik Radiasi Eksterna pada Kanker Nasofaring
  • Efek samping Radiasi Eksterna pada Kanker Nasofaring

Radioterapi kuratif definitif berarti bahwa pasien menerima radioterapi sendiri, baik radiasi sinar eksternal atau dalam kombinasi dengan brakiterapi sebagai pengobatan restoratif (tambahan). Teknik radiasi eksternal untuk kanker nasofaring menurut Pedoman Pengobatan Kanker Nasofaring Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (n.d) meliputi: Radiasi konvensional 2D Radiasi konformal 3D. Efek samping radiasi sinar eksternal disebabkan oleh pemberian radiasi dosis tinggi yang tidak hanya membunuh sel kanker, tetapi juga merusak sel sehat di sekitarnya.

Efek samping akut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksternal adalah: perubahan kulit (dermatitis), mucositis, Xerostomia, perubahan rasa (Sourati et al., 2017). Efek samping yang terlambat dapat terjadi pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksternal: fibrosis jaringan lunak, trismus, xerostomia persisten, gangguan pendengaran (hearing loss), osteoradionecrosis, temporolobnecrosis (jika lobus temporal termasuk dalam bidang radiasi). Penatalaksanaan oral hygiene pada pasien yang menerima radiasi eksternal, sebagaimana dijelaskan oleh National Cancer Institute (2016) bahwa perawatan oral hygiene yang dapat dilakukan oleh pasien sebelum radiasi eksternal dimulai, selama dan setelah radiasi eksternal selesai adalah sebagai berikut: a) Untuk skrining gigi yang harus dilakukan, sebelum radiasi eksternal dimulai, kondisi mulut harus sesehat mungkin.

Gambar  2.1 KERANGKA TEORI  Kanker Nasofaring Radiasi Eksterna
Gambar 2.1 KERANGKA TEORI Kanker Nasofaring Radiasi Eksterna

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

Kerangka Konsep

Hipotesis

Definisi operasional

Pada penelitian ini dilakukan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pengelolaan kebersihan gigi dan mulut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 77,8% pasien memiliki perilaku manajemen kebersihan mulut yang baik selama pasien menjalani radiasi eksternal. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sikap terhadap perilaku pengelolaan kebersihan rongga mulut pada pasien kanker nasofaring dan radiasi eksternal, dengan nilai P sebesar 0,000.

Hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pengelolaan kebersihan rongga mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksternal di fasilitas radioterapi RS Kanker Dharmais Jakarta. Penatalaksanaan oral hygiene pada pasien kanker nasofaring yang menjalani radiasi eksternal bertujuan untuk meminimalkan efek samping yang terjadi. Untuk melihat hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pengelolaan kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksternal.

METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

Desain Penelitian

Dalam menentukan metode penelitian perlu diperhatikan kesesuaian metode dengan masalah penelitian dan pertanyaan penelitian, agar diperoleh data yang diyakini kebenarannya (Syaefullah, 2015). Desain penelitian merupakan model atau metode yang digunakan peneliti untuk melakukan penelitian yang mengarahkan jalannya penelitian berdasarkan tujuan dan hipotesis penelitian (Dharma, 2011). Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif, dimana penelitian dilakukan dengan menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan metode penelitian cross-sectional.

Menurut Sugiono (2017), metode korelasi adalah metode atau metode penelitian yang menghubungkan satu unsur/elemen dengan unsur/unsur lain untuk menciptakan bentuk dan bentuk baru, yang berbeda dari yang sebelumnya.

Lokasi dan Waktu

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah pasien kanker nasofaring yang menjalani penyinaran eksternal lokal di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta dalam 3 (tiga) bulan terakhir dari bulan April sampai Juni 2020, dengan jumlah populasi sebanyak 45 responden. Total sampling adalah bagian dari non-probability sampling dimana jumlah sampel sama dengan jumlah populasi. Pertimbangan pengambilan sampel total adalah jumlah populasi kurang dari 100, sehingga data dikumpulkan dari seluruh populasi (Sugiyono, 2017).

Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien kanker nasofaring yang menjalani penyinaran lokoregional di fasilitas radioterapi RS Kanker Dharmais yang memenuhi kriteria inklusi dan bukan kriteria eksklusi.

Kriteria Penelitian

Instrumen dan Tehnik Pengumpulan Data

Langkah-langkah

Tehnik Pengumpulan Data

Kemudian data dikategorikan: perilaku baik dengan skor total > 50% dan perilaku buruk dengan skor total ≤ 50%. Memasukkan atau memasukkan semua data yang diperoleh ke dalam program komputer untuk analisis lebih lanjut. Memeriksa kembali kesalahan kode data yang akan diproses agar dapat dilakukan koreksi, dan data yang dimasukkan kemudian diproses lebih lanjut.

Uji Validitas dan Reliabilitas

Dengan uji reliabilitas dapat diketahui apakah kuesioner konsisten jika pengukuran dengan kuesioner dilakukan beberapa kali. Uji validitas dan reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta dengan sampel sebanyak 15 responden. Uji reliabilitas masing-masing variabel memiliki nilai cronbach’s alpha : X1 (Pengetahuan) 0,884, X2 (Sikap) 0,988 dan Y (Perilaku) 0,961 sehingga dapat disimpulkan bahwa alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini reliabel.

Tehnik Analisa Data

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan praktik kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksternal di stasiun radioterapi RS Kanker Dharmais Jakarta, dengan nilai P sebesar 0,002. Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap terhadap pengelolaan kebersihan rongga mulut pada pasien kanker nasofaring dengan penyinaran eksternal di stasiun radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dengan nilai P sebesar 0,000. Penelitian ini merupakan kajian tentang hubungan pengetahuan dan sikap terhadap tatalaksana oral hygiene pada pasien kanker nasofaring yang menjalani terapi penyinaran sinar eksternal di setting radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dengan jumlah sampel sebanyak 45 responden, pasien kanker nasofaring yang menjalani perawatan eksternal. radiasi sinar. .

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksternal, dengan nilai P sebesar 0,002. Semakin baik pengetahuan dan sikap positif yang dimiliki seseorang maka akan semakin mempengaruhi perilaku pengelolaan kebersihan gigi dan mulut yang baik. Manajemen kebersihan mulut yang baik adalah kunci terpenting untuk mempertahankan status kesehatan mulut yang optimal selama pasien menjalani radiasi eksternal.

HASIL PENELITIAN

Analisa Univariat

Analisis univariat dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-masing variabel yang diteliti yaitu karakteristik umur responden, jenis kelamin responden dan tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap dan perilaku pengelolaan kebersihan gigi dan mulut.

Tabel 5.2Distribusi Responden berdasarkan  Jenis Kelamin Pasien Kanker  Nasofaring dengan Radiasi Eksterna di Instalasi Radioterapi
Tabel 5.2Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna di Instalasi Radioterapi

Analisa Bivariat

Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor internal, yaitu pasien telah menerima dan memilih perawatan kebersihan mulut sebagai keharusan untuk dilakukan di bawah radiasi eksternal. Penelitian dengan judul hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pengelolaan kebersihan gigi dan mulut pada pasien kanker nasofaring dan radiasi eksternal di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pengelolaan kebersihan gigi dan mulut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian terkait, atau lebih khusus lagi terkait dengan manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksternal.

Yang dapat memberikan manfaat berupa peningkatan pengetahuan, dan sikap yang berdampak pada perubahan perilaku yang positif terkait manajemen kebersihan mulut selama pasien menjalani radiasi pancaran eksternal. Manfaat yang Anda peroleh dengan mengikuti penelitian ini adalah peningkatan pengetahuan dan sikap serta perilaku positif tentang pengelolaan kebersihan gigi dan mulut. FORMULIR PERSETUJUAN/PENOLAKAN SETELAH PENJELASAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa saya telah menerima informasi penjelasan yang detail dan telah memahami penelitian yang akan dilakukan oleh RITA ANITA dengan judul “Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pengelolaan kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksternal di instalasi radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta”.

Tabel 5.7 Hubungan Pengetahuan  terhadap Perilaku  Manajemen   Kebersihan Mulut Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna
Tabel 5.7 Hubungan Pengetahuan terhadap Perilaku Manajemen Kebersihan Mulut Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna

PEMBAHASAN

Interpretasi Hasil

Peran penting pengetahuan pasien kanker nasofaring dalam pengelolaan kebersihan rongga mulut merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam pengobatan radioterapi, untuk meminimalisir efek samping yang mungkin muncul selama pengobatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 68,9% pasien kanker nasofaring yang menjalani radiasi eksternal memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang manajemen kebersihan mulut. Sementara 31,1% pasien memiliki pengetahuan yang buruk tentang manajemen kebersihan mulut, hal ini mungkin disebabkan oleh faktor yang mempengaruhi kemauan pasien untuk menerima pendidikan.

Hal ini disebabkan adanya keyakinan tentang manfaat yang diperoleh, kerugian yang diterima jika pasien melakukan tatalaksana kebersihan mulut yang buruk. Sedangkan 22,2% pasien memiliki perilaku kurang baik dalam pengelolaan kebersihan rongga mulut, yang mungkin disebabkan oleh kurangnya faktor pendukung, perbedaan latar belakang yang meliputi: kebiasaan, budaya dan sosial ekonomi (Azwar, 2011). Edukasi yang diberikan selama pasien menjalani external beam radiation bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien menjadi lebih baik sehingga pasien memahami pentingnya perilaku pengelolaan kebersihan mulut yang baik.

Implikasi Keperawatan

Perawatan mulut yang baik meliputi: semua prosedur gigi, periodontal, dan jaringan lunak yang akan membantu seseorang menjaga kesehatan mulut yang optimal. Bagi penderita kanker, menjaga kesehatan rongga mulut yang optimal sangatlah sulit, dengan efek samping pengobatan kanker. Semua pasien diberikan protokol pengobatan untuk memastikan kondisi mulut yang baik sebelum memulai pengobatan, untuk meminimalkan komplikasi lokal dan sistemik selama dan setelah pengobatan, dan untuk menentukan tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi efek samping.

Manfaat penilaian oral harus dijelaskan dengan pentingnya menjaga kesehatan mulut yang baik selama perawatan. Membersihkan mulut, gigi, gusi dan lidah sangat penting karena kesehatan mulut yang baik dapat meminimalkan munculnya mucositis akibat radiasi. Tujuan yang diharapkan dari semua penelitian di atas adalah kesehatan gigi dan mulut yang optimal, sebelum, selama dan setelah perawatan, meminimalkan efek samping yang terjadi dan menjaga kesehatan gigi dan mulut dalam jangka panjang.

Keterbatasan Penelitian

KESIMPULAN DAN SARAN

Pemahaman pasien yang baik tentang efek samping dan manajemen kebersihan mulut dapat memengaruhi kepatuhan pasien selama radiasi sinar eksternal. Survei ini akan memakan waktu 15-20 menit dan Anda adalah orang yang memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam survei ini. Semua data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kegiatan penelitian ini.

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menegaskan sepengetahuan saya bahwa subjek yang menandatangani formulir persetujuan setelah menerima penjelasan ini telah menerima penjelasan lengkap dalam bahasa yang dimengerti oleh subjek dan memahami dengan jelas sifat, risiko dan manfaat berpartisipasi dalam penelitian ini. . Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa saya telah menjelaskan prosedur penelitian ini kepada subjek dan subjek telah menyetujuinya.

Gambar

Table 2.1 Pedoman Modalitas Terapi Kanker Nasofaring  Stadium Dini  Stadium  I
Gambar  2.1 KERANGKA TEORI  Kanker Nasofaring Radiasi Eksterna
Tabel 3.1 Definisi Operasional  No  Variable  Definisi
Tabel 5.1 Distribusi Responden berdasarkan Usia Pasien Kanker Nasofaring  dengan Radiasi Eksterna di Instalasi Radioterapi RS.Kanker Dharmais
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtyas, 2011 mengenai hubungan antara pengetahuan dan perilaku menjaga kebersihan genetalia eksterna

Berangkat dari hasil-hasil penelitian tersebut, peneliti pun ingin mengetahui bagaimana gambaran riwayat tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien

Tujuan penulisan ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku ibu tentang kebersihan gigi dan mulut anak balita, khususnya di

4.2.10 Pengetahuan, Sikap, Dan Perilaku Responden Mengenai Apa Yang Harus Dilakukan Untuk Menjaga Kebersihan Gigi Dan Mulut Selama Memakai Alat Ortodontik

Hasil penelitian Grzadiel menunjukkan bahwa EPID dapat digunakan untuk mengukur dosis radiasi dengan nilai gamma indeks 0,212 sampai 0,484 untuk masing-masing pasien

Kesimpulan dari penelitian ini adalah: Semakin baik pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut, semakin baik status kesehatan periodontal

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtyas, 2011 mengenai hubungan antara pengetahuan dan perilaku menjaga kebersihan genetalia eksterna

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai hubungan pengetahuan, sikap dan tindakan kesehatan gigi dan mulut terhadap kebersihan gigi dan mulut