• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

Dalam dokumen Keperawatan-2020-Rita Anita.pdf (Halaman 36-39)

3.2 Hipotesis

Hipotesa merupakan pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya, maka perlu diuji kebenarannya. Hipotesa adalah dugaan terhadap hubungan antara dua variabel atau lebih, atas dasar definisi di atas dapat diartikan bahwa hipotesa adalah jawaban atau dugaan sementara yang harus diuji kebenarannya (Siregar, S.

2018). Berdasarkan pertimbangan dari variable penelitian tersebut, maka penelitian menarik hiotesa sebagai berikut:

a) Ada hubungan antara pengetahuan terhadap perilaku managemen kebersihan mulut.

b) Ada hubungan antara sikap terhadap managemen kebersihan mulut 3.3 Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional No Variable Definisi

Operasional

Cara Ukur Hasil Ukur

Skala Ukur 1. Pengetahuan Pengetahuan

adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu

Menjawab Kuesioner B no 1-14

menggunakan skala Gutman Jawaban benar diberinilai 1 Jawaban salah diberi nilai 0

Tingkat Pengetahu an Baik >

50%

Tingkat Pengetahu an Kurang baik ≤ 50%

Ordinal

2. Sikap Sikap adalah perasaan mendukung atau memihak maupun

perasaaan tidak

mendukung pada suatu obyek

Menjawab kuesioner C no 1-14

menggunakan skala Likert Pertanyaan Favorable:

sangat setuju (5), setuju(4), tidak tahu (3) tidak setuju (2) sangat tidak

Sikap Positif jika hasil

> 50%

Sikap Negatif Jika hasil

≤ 50%

Ordinal

(sambungan)

Setuju (1) pertanyaan Unfavorable:

sangat tidak setuju(5), tidak setuju (4), tidak tahu (3) setuju (2), sangat setuju (1).

3 Perilaku Perilaku merupakan respon atau reaksi

seseorang terhadap stimulus (rangsangan) dari luar

Menjawab kuisioner D no 1-14

menggunakan skala Likert pertanyaan Favorable:

selalu (3), jarang (2), tidak pernah (1),

pertanyaan Unfavorable:

tidak pernah (3) jarang (2) selalu (1).

Perilaku baik jika nilai > 50 Perilaku

kurang baik jika nilai ≤ 50

Ordinal

Sumber: Data olaha Peneliti, 2019

BAB IV

METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Menetapkan metode penelitian harus mempertimbangkan kesesuaian metode dengan masalah penelitian dan pertanyaan penelitian, guna didapatkan data yang dipercaya benar (Syaefullah, 2015).

Desain penelitian adalah model atau metoda yang digunakan peneliti untuk melakukan suatu penelitian yang memberikan arahan terhadap jalannya penelitian yang berdasarkan tujuan dan hipotesis penelitiannya (Dharma, 2011).

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif, dalam penelitian dilakukan menggunakan rancangan penelitian kuantitatif dengan metode penelitian cross sectional. Menurut Sugiono (2017), metode korelasi adalah metode bertautan atau metode penelitian yang berusaha menghubungkan antara satu unsur/elemen dengan unsur/elemen yang lain untuk menciptakan bentuk dan wujud baru, yang berbeda dengan sebelumnya.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian adalah Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jl. S. Parman Kav 84 - 86, Slipi, Jakarta Barat. Penelitian dilakukan mulai bulan juli 2019 sampai dengan juli 2020, dimulai dari penyusunan proposal penelitian pada bulan juli 2020, sidang Proposal bulan September 2019, pengajuan izin Etik bulan maret 2020, pengambilan sampel april – juni 2020, pengolahan data dan penyusunan laporan Juni - Juli 2020.

4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi

Dalam Sugiyono (2017) mengungkapkan populasi merupakan generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai

kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien kanker nasofaring yang sedang menjalani radiasi eksterna loko-regional di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit kanker Dharmais Jakarta dalam rentang waktu 3 (tiga) bulan terakhir mulai dari April - Juni 2020, dengan total populasi sebanyak 45 responden.

4.3.2 Sampel

Pengambilan sampel pada penelitian ini, menggunakan tehnik Total Sampling. Total Sampling merupakan bagian dari non- probability sampling dimana jumlah sampel sama dengan jumlah populasi. Pertimbangan dilakukan total sampling adalah jumlah populasi yang kurang dari 100, sehingga dilakukan pengambilan data dari seluruh populasi (Sugiyono, 2017).

Sampel dalam penelitan ini semua pasien kanker Nasofaring yang sedang menjalani radiasi loko-regional di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker dharmais, yang memenuhi kriteria inklusi, dan tidak memenuhi kriteria eksklusi.

4.4 Kriteria Penelitian 4.4.1 Kriteria inklusi

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah Pasien kanker nasofaring pada semua stadium yang sedang menjalani radiasi eksterna di Instalasi Radioterapi RS Kanker Dharmais Jakarta:

a) Pasien kanker nasofaring yang sedang menjalani radiasi loko- regional

b) Berusia 20 tahun keatas.

c) Tidak sedang kesakitan

d) Bersedia menjadi responden peneliti 4.4.2 Kriteria eksklusi

Kriteria eksklusi pada sampel responden adalah:

a) Pasien kanker nasofaring yang menjalani radiasi akibat metastase

b) Usia kurang dari 20 tahun.

c) Pasien dengan keadaan umum yang buruk 4.5 Instrumen dan Tehnik Pengumpulan Data

4.5.1 Instrumen penelitian

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner (angket)

a) Lembar kuisioner tentang karakteristik responden meliputi: usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan.

b) Lembar kuisioner pengetahuan, sikap, perilaku (manajemen kebersihan mulut)

c) Computer menggunakan program SPSS for Windows Versi 24 sebagai alat untuk menganalisa data.

4.5 2 Tehnik pengumpulan data

Data penelitian diperoleh dari pengumpulan data primer. Sebelum melakukan pengumpulan data primer dilakukan kajian etik terlebih dahulu dengan tujuan memberikan kepastian melindungi kepada responden. Sebelum pengumpulan data primer, responden diberikan penjelasan tentang manfaat dari penelitian ini. Kemudian responden menandatangani lembar persetujuan responden (informed concernt), sebagai bentuk persetujuan dari responden untuk mengikuti penelitian yang akan dilakukan

4.6 Langkah-Langkah

Pengumpulan data dilakukan secara langsung, melalui kuesioner.

Tahapan yang dilalui sebagai berikut:

a) Peneliti mengajukan permohonan izin kepada Kepala Program Studi Keperawatan Universitas Binawan Jakarta.

b) Surat izin yang telah dikeluarkan oleh Dekan Keperawatan Universitas Binawan Jakarta digunakan peneliti untuk melakukan penelitian

c) Peneliti mengajukan surat permohonan pengambilan data penelitian dari Universitas Binawan Jakarta, kepada fihak manajemen RS Kanker Dharmais Jakarta..

d) Peneliti membuat surat permohonan pengajuan Ethical Clearance di rumah sakit Kanker Dharmais Jakarta, pengambilan sampel dilakukan setelah ada surat lolos kaji etik (Ethical Clearance).

e) Pengambilan data dilakukan oleh peneliti dengan menyebar kuesioner dan mendampingi responden dalam menjawab pertanyaan serta menjelaskan apabila terdapat pertanyaan yang kurang jelas.

f) Setelah semua data diisi lengkap, kemudian data dikumpulkan untuk dilakukan pengecekan dan pengolahan data pada tahap selanjutnya.

4.7 Tehnik Pengumpulan Data

Data yang telah diperoleh dari proses pengumpulan data disederhanakan kedalam bentuk tabel-tabel, kemudian data diolah menggunakan program computer. Proses pengolahan data menggunakan computer ini terdiri dari beberapa langkah

4.7.1 Editing

Meneliti kembali apa yang telah diisi oleh resonden, jika masi ada data yang kurang lengkap atau kurang jelas, maka peneriti akan melakukan konfirmasi ulang kepada responden yang bersangkutan.

4.7.2 Koding

Pengelompokan data serta memberi kode atau nilai pada pertanyaan-pertanyaan yang diberikan, untuk mempermudah dalam memasukkan dan menganalisa data. Kemudian tiap-tiap variabel dikategorikan sesuai dengan skor atau nilainya. Skor atau nilai untuk masing-masing variabel sebagai berikut:

4.7.2.1 Pengetahuan manajemen kebersihan mulut

Pemberian nilai: jawaban benar diberi nilai (1), jawaban salah diberi nilai (0). Kemudian data dikategorikan: Baik dengan total skor > 50% , dan Kurang baik, dengan total skor

≤ 50%

4.7.2.2 Sikap manajemen kebersihan mulut

Item Favorable: jawaban Sangat setuju diberi nilai (5), setuju (4), tidak tahu (3), tidak setuju (2), Sangat tidak setuju (1). Item Unfavorable: jawaban sangat setuju (1), setuju (2), tidak tahu (3), tidak setuju (4), sangat tidak setuju (5).

Kemudian data dikategorikan: Positif dengan total skor .>

50%, dan Negatif dengan total skor ≤ 50%

4.7.2.3 Perilaku manajemen kebersihan mulut

Item fovourabel: selalu diberi nilai (3), jarang (2), tidak dipernah (1). Item unfavourabel: tidak pernah diberi nilai (3), jarang (2), selalu (1). Kemudian data dikategorikan: perilaku baik dengan total skor > 50%, dan perilakuKurang baik dengan total skor ≤ 50%.

4.7.3 Entry

Menginput atau memasukkan semua data yang telah diperoleh kedalam program komputer untukselanjutnya dianalisa lebih lanjut.

4.7.4 Cleaning

Memeriksa kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan kode data yang akan diolah sehingga bisa dilakukan koreksi, data yang sudah dimasukkan kemudian diolah lebih lanjut.

4.8 Uji Validitas dan Reliabilitas 4.8.1 Uji validitas

Kuesioner penelitian dikatakan berkualitas jika sudah terbukti validas dan reliabilitasnya. Uji validitas digunakan untuk mengetahui kevalidan dan kesesuaian kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini. Konsep dasar pengambilan keputusan uji validitas adalah jika

> dari , dan nilai signifikansi < 0,05. Uji validitas Penelitian ini menggunkan rumus :

∑ ∑ ∑

√{ ∑ ∑ }{ ∑ ∑ }

Keterangan:

= Koefisien korelasi = Skor butir

Y = Skor total N = Jumlah subyek 4.8.2 Uji reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan setelah item kuesioner dinyatakan valid.

Uji reliabilitas dilakukan untuk melihat apakah kuesioner memiliki konsistensi jika pengukuran dengan kuesioner tersebut dilakukan secara berulang. Konsep dasar pengambilan keputusan uji reliabilitas jika nilai Cronbach’s Alpha > 0,60. Uji reliabilitas penelitian ini menggunakan rumus

Keterangan

= reliabilitas yang dicari = jumlah pertanyaan yang diuji

∑ = jumlah varian skor tiap-tiap item = varians total

Uji validitas dan reliabilitas pada penelitian ini dilakukan di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dengan sampel sebanyak 15 responden. Pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan dengan bantuan computer menggunakan program SPSS for Windows Versi 24. Uji validitas pada masing-masing variabel X1 (pengetahuan), X2 (sikap), Y (perilaku), memiliki nilai >

0,4821 dan α < 0,05 maka dapat dikatakan bahwa instrumen penelitian

ini telah valid. Hasil masing-masing variabel dapat dilihat pada lampiran 2.

Uji reliabilitas pada masing-masing variabel memiliki nilai Cronbach’s Alpha : X1 (pengetahuan) 0,884, X2 (sikap) 0,988 dan Y (perilaku) 0,961 Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini reliable.

4.9 Tehnik Analisa Data 4.9.1 Analisa univariat

Analisas univariat ini digunakan untuk memberikan gambaran umum terhadap hasil penelitian. Data usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap, perilaku manajemen kebersihan mulut, dalam bentuk tablel distribusi frekuensi, yang menghasilkan distribusi dan frekuensi dari tiap variable, dengan menggunakan rumus:

Keterangan

X = Nilai presentasi

n = Nilai yang diperoleh dari kelompok N = Jumlah responden

4.9.2 Analisa bivariat

Analisa bivariate dilakukan terhadap dua variabel yang diduga atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2015). Dalam penelitian ini analisa bivariate dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square, uji chi-square digunakan untuk menguji hipotesa bila dalam populasi terdiri atas dua atau lebih kelas, dimana datanya berbentuk kategorik. Rumus Chi-Square seperti dibawah ini (Sugiyono, 2017)

Mencari Chi-square dengan rumus:

Keterangan :

= Nilai Chi Square = Frekuensi yang di observasi = Frekuensi yang diharapkan

Dasar pengambilan keputusan pada uji Chi-Squere berdasarkan taraf signifikasi yaitu α (0,05):

a) Apabila P ≥ 0,05 Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut

b) Apabila P ≤ 0,05 maka Ha diterima, berarti ada hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut.

.

Ketentuan yang berlaku pada uji chi-square yaitu:

a) Bila tabelnya 2 x 2, dan tidak ada nilai expected count kurang dari 5, maka uji yang dipakai sebaiknya “Continuity Correction

b) Bila tabel 2 x 2 , dan terdapat nilai expected count lebih dari 5, maka uji yang dipakai adalah “Fisher’s Exact test

c) Bila tabelnya lebih dari 2 x 2, maka digunakann uji “Person Chi Squarae

Rancangan awal penelitian ini menggunakan uji chi-square.

Sehubungan dengan Table kontingensi yang digunakan 2x2 tetapi tidak memenuhi syarat seperti diatas, yaitu terdapat sel dengan nilai frekuensi harapan kurang dari 5 dan lebih dari 20%, maka uji yang digunakan adalah “Fisher Exact Test”.

BAB V

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian ini dibagi atas dua bagian: analisa univariat, yaitu karaktristik usia responen, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap dan perilaku manajemen kebersihan mulut. Analisa bivariat, yaitu menghubungakna antara variabel pengetahuan, dan sikap terhadap perilaku manajemen kebersiahan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dengan jumlah sampel sebanyak 45 responden.

5.1 Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan bertujuan untuk mengetahui distribusi rekuensi dari masing-masing variabel yang diteliti, yaitu karakteristik usia responden, jenis kelamin responden, dan tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap, serta perilaku manajemen kebersihan mulut.

5.1.1 Distribusi frekuensi usia

Tabel 5.1 Distribusi Responden berdasarkan Usia Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna di Instalasi Radioterapi RS.Kanker Dharmais

Jakarta bulan April – Juni 2020

Usia Frekuensi (n) Persentase (%)

20-29 Tahun 6 13.3

30-39 Tahun 9 20,0

40-49 Tahun 15 33,3

50-59 Tahun 11 24,4

60-69 Tahun 3 6,7

70-79 Tahun 1 2,2

Total 45 100,0

Sumber: Hasil Pengolahan dengan SPSS 24

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan 33,3% responden berusia 40-49 tahun.

5.1.2 Distribusi frekuensi jenis kelamin

Tabel 5.2Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna di Instalasi Radioterapi

RS. Kanker Dharmais Jakarta bulan April – Juni 2020 Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentase (%)

Laki-laki 35 77.8

Perempuan 10 22.8

Total 45 100,0

Sumber: Hasil Pengolahan dengan SPSS 24

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa 77.8% responden berjenis kelamin laki-laki.

5.1.3 Distribusi frekuensi pendidikan

Tabel 5.3Distribusi Responden berdasarkan Pendidikan Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksternadi Instalasi Radioterapi

RS. Kanker Dharmais Jakartabulan April – Juni 2020

Sumber: Hasil Pengolahan dengan SPSS 24

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan 48,9% responden berpendidikan SMA.

Pendidikan Frekuensi (n) Persentase (%)

SD 7 15.6

SMP 10 22.2

SMA 22 48.9

DIPLOMA 4 8.9

SARJANA 2 4.4

TOTAL 45 100,0

5.1.4 Distribusi frekuensi pengetahuan manajemen kebersihan mulut

Tabel 5.4 Distribusi Responden berdasarkan Pengetahuan Manajemen Kebersihan Mulut pada Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna

di Instalasi Radioterapi RS Kanker Dharmais Jakarta bulan April – Juni 2020

Pengetahuan Frekuensi (n) Persentase (%)

Kurang baik 14 31,1

Baik 31 68,9

Total 45 100,0

Sumber: Hasil Pengolahan dengan SPSS 24

Tabel diatas menunjukkan 68,9 % responden dengan pengetahuan manajemen kebersihan mulut yang baik.

5.1.5 Distribusi frekuensi sikap manajemen kebersihan mulut

Tabel 5.5 Distribusi Responden berdasarkan Sikap Manajemen Kebersihan Mulut pada Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna

di Instalasi Radioterapi RS. Kanker Dharmais Jakarta bulan April – Juni 2020

Sikap Frekuensi (n) Persentase (%)

Negatif 10 22.2

Positf 35 77.8

Total 45 100,0

Sumber: Hasil Pengolahan dengan SPSS 24

Tabel diatas menunjukkan 77.8% pasien dengan sikap manajemen kebersihan mulut yang positif

5.1.6 Distribusi frekuensi perilaku manajemen kebersihan mulut

Tabel 5.6 Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Manajemen Kebersihan Mulut Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna

di Instalasi Radioterapi RS. Kanker Dharmais Jakarta bulan April – Juni 2020

Perilaku Frekuensi (n) Persentase (%)

Kurang Baik 10 22,2

Baik 35 77,8

Total 45 100,0

Sumber: Hasil Pengolahan dengan SPSS 24

Tabel diatas menunjukkan 77,8% responden memiliki perilaku manajemen kebersihan mulut dengan baik baik.

5.2 Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan variabel independen (pengetahuan dan sikap) terhadap variabel dependen (perilaku manajemen kebersihan mulut) pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna di Instalasi Rasioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta. Terdapat hipotesa yang akan diuji apakah ada hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku manjemen kebersihan mulut pada pasein kanker nasofaring dengan radiasi eksterna.

5.3.1 Hubungan pengetahuan terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut

Tabel 5.7 Hubungan Pengetahuan terhadap Perilaku Manajemen Kebersihan Mulut Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna

di Instalasi Radioterapi RS Kanker Dharmais Jakarta bulan April – Juni 2020

Pengetahuan

Perilaku

Total P-Value Kurang Baik Baik

% N % N % N

Kurang baik 57,1 8 42,9 6 100 14

0,002

Baik 6,5 2 93,5 29 100 31

Total 22,2 10 77,8 35 100 45

Sumber: Hasil Pengolahan dengan SPSS 24

Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang antara pengetahuan terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker dharmais Jakarta, dengan P Value 0,002

5.3.2 Hubungan sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut

Tabel 5.8 Hubungan Sikap terhadap Perilaku Manajemen Kebersihan Mulut Pasien Kanker Nasofaring dengan Radiasi Eksterna

di Instalasi Radioterapi RS. Kanker Dharmais Jakarta bulan April – Juni 2020

Sikap

Perilaku

Total

P-Value Kurang Baik Baik

% N % N % N

Negatif 80,0 8 20,0 2 100 10

0,000

Positif 5,7 2 94,3 33 100 35

Total 22,2 10 77,8 35 100 45

Sumber: Hasil Pengolahan dengan SPSS 24

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker dharmais Jakarta, dengan P-value 0,000.

BAB VI PEMBAHASAN

Pembahasan hasil penelitian dimulai dari analisa univariat sampai analisa bivariat, dengan membandingkan antara hasil penelitian dengan teori serta penelitian yang terkait. Penelitian ini merupakan penelitian tentang hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku manajemen kebersihan mulut pada pasien kanker nasofaring dengan radiasi eksterna di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dengan jumlah sampel sebanyak 45 responden, pasien kanker nasofaring yang sedang menjalani radiasi eksterna. Sistematika hasil penelitian ini dibagi menjadi interpretasi hasil, implikasi keperawatan dan keterbatasan penelitian.

6.1 Interpretasi Hasil

6.1.1 Interpretasi hasil univariat 6.1.1.1 Data demografi

Dari data demografi didapatkan hasil mayoritas responden berada pada rentang usia 40-49 tahun sebanyak 33,3%, dan responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 77,8%, sedangkan responden dengan mayoritas pendidikan SMA sebanyak 48,9%.

Menurut Sunaryo (2013), perilaku seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor genetik atau endogen yang merupakan modal untuk kelanjutan perilaku, salah satunya jenis kelamin, perilaku pria atas dasar pertimbangan rasional atau akal sedangkan wanita atas dasar emosional.

Penelitian yang dilakukan di India oleh Sharda et al., (2013) menyatakan bahwa secara statistik jenis kelamin tidak berpengaruh signifikan terhadap perilaku kesehatan gigi dan mulut.

Penelitian yang dilakukan oleh Wiyatini (2012), menunjukkan hasil pada usia 45 tahun atau lebih yang memiliki sikap kurang dalam pencegahan penyakit gigi menunjukkan prevalensi periodontitis lebih tinggi dari pada yang memiliki sikap baik. Sikap merupakan

suatu evaluasi yang positif dan negatif, serta melibatkan emosional seseorang dalam menanggapi objek sosial, artinya bila hasilnya positif maka seseorang akan cenderung mendekati objek, dan sebaliknya bila sikapnya negatif cenderung menjauhi objek (Rahayu et al., 2016)

Menurut Sondang (2004) dalam bukunya menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin besar kemauannya untuk memanfaatkan pengetahuan dan keterampilannya terhadap sesuatu (Rosita dan Widyaningsih. 2017)

penelitian yang dilakukan oleh Basuni et al., 2014 menyatakan bahwa tingkat pendidikan berpengaruh terhadap statuskesehatan mulut diketahui indeks kebersihan mulut yang paling baik terdapat pada tingkat pendidikan SMA dan indeks kebersihan mulut yang paling buruk terdapat pada responden yang tidak sekolah (Sodri et al., 2018) 6.1.1.2 Variabel pengetahuan manajemen kebersihan mulut

Notoadmojo (2014) Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.

Peran penting pengetahuan pasien kanker nasofaring dalam manajemen kebersihan mulut, merupakan salah satu faktor keberhasilan perawatan dalam pengobatan radioterapi, untuk meminimalkan efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan.

Edukasi merupakan bagian dari asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien kanker nasofaring yang akan menjalani radiasi eksterna. Hasil penelitian ini menunjukkan 68,9% pasein kanker nasofaring yang sedang menjalani radiasi eksterna memiliki tingkat pengetahuan tentang manajemen kebersihan mulut dengan baik, hal ini dapat disebabkan karena, edukasi tentang manajemen kebersihan mulut diberikan secara terus menerus, sebelum, dan selama pasien menjalani radiasi eksterna. Stimulus yang diberikan secara terus

menerus akan merangsang seseorang untuk melakukan sesuatu.

Pengetahuan (Kognitif) merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

Sedangkan 31,1% pasien dengan pengetahuan manajemen kebersihan mulut yang kurang baik, hal ini bisa disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan pasien dalam menerima edukasi. Tingkat pendidikan yang rendah, sumber informasi yang kurang, latar belakang budaya yang berbeda, pengalaman terhadap sakit sehingga pasien tidak dapat mengingat atau menyimpan informasi yang diberikan, bisa juga disebabkan karena kecemasan terhadap program terapi yang akan dijalani.

Sejalan dengan penelitian Rosita, dan Widyaningsih (2017). Hal penting yang perlu diperhatikan bahwa tingkat pengetahuan pasien terkait pengobatan yang dijalani merupakan salah satu aspek dalam membangun kemauan dan kemampuan pasien. Sehingga pasien mengikuti saran-saran medis, menjalankan radioterapi sesuai dengan yang direncanakan, mematuhi jadwal konsultasi medis, serta menyelesaikan tindak lanjut medis sesuai dengan rekomendasi.

.

6.1.1.3 Variabel sikap manajemen kebersihan mulut

Menurut Notoadmodjo (2014), sikap merupakan reaksi yang masi tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan bertindak. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.

Hasil penelitian ini menunjukkan 77,8% pasien memiliki sikap yang positif terhadap manajemen kebersihan mulut. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor interna yaitu pasien sudah menerima dan memilih manajemen kebersihan mulut sebagai suatu kebutuhan yang harus dilakukan selama menjalani radiasi eksterna. Sedangkan faktor eksterna didapat dari pengalaman yang didapat dari diri sendiri maupun orang lain selama pasien menjalani radiasi eksterna. Sejalan

dengan Penelitian dipakistan menyatakan semakin lama seseorang menderita penyakit, maka individu tersebut akan mempunyai pengalaman yang lama tentang penyakitnya (Anwar et al., 2012).

Sikap merupakan kecenderungan yang belum disertai tindakan nyata, meskipun sikap sering di asumsikan sebagai predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, tetapi sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tindakan nyata tidak hanya ditentukan oleh sikap semata, tetapi oleh berbagai faktor eksternal lainnya. Sedangkan 22.2% pasien memiliki sikap yang negatif, hal ini dapat disebabkan karena kurangnya stimulus untuk merubah dan membentuk sikap. Dapat juga disebabkan karena kurangnya motivasi serta informasi yang didapat, atau kondisi sakit yang dapat menyebabkan pasien memiliki sikap yang negatif. (Notoadmodjo, 2014)

6.1.1.4 Variabel perilaku manajemen kebersihan mulut

Menurut Notoadmodjo (2014), pengertian perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.

Hasil penelitian ini menunjukkan 77,8% pasien memiliki perilaku manajemen kebersihan mulut yang baik selama pasien menjalani radiasi eksterna. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan tentang manfaat yang didapat, kerugian yang diterima apabila pasien berperilaku manajemen kebersihan mulut yang buruk. Sedangkan 22,2% pasien memiliki perilaku kurang baik dalam manajemen kebersihan mulut, bisa disebabkan karena kurangnya faktor pendukung, perbedaan latar belakang yang meliputi: kebiasaan, budaya dan sosial ekonomi (Azwar, 2011). Responden berasal dari seluruh Indonesia yang memiliki kebiasaan, nilai budaya serta sosial ekonomi yang beragam, sehingga dapat memengaruhi cara berperilaku seseorang sesuai dengan norma-norma yang ada. Faktor lainnya yang mempengaruhi perilaku kesehatan adalah faktor internal yang meliputi

Dalam dokumen Keperawatan-2020-Rita Anita.pdf (Halaman 36-39)

Dokumen terkait