BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan
2.4.2 Diagnosa Keperawatan
2.4.2.1 Analisa Data
31
2) Fase ekspirasi memanjang
3) Pola napas abnormal (mis. takipnea, bradipnea, hiperventilasi, kussmaul, cheyne-stokes).
Gejala dan Tanda Minor : Subjektif : Ortopnea Objektif :
1) Pernapasan pursed-lip 2) Pernapasan cuping hidung
3) Diameter thoraks anterior-posterior meningkat 4) Ventilasi semenit menurun
5) Kapasitas vital menurun 6) Tekanan ekspirasi menurun 7) Tekanan inspirasi menurun 8) Ekskursi dada berubah
2. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi
Definisi : Ketiadaan atau kurangnya informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu.
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif : Menanyakan masalah yang dihadapi.
Objektif :
1) Menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran
2) Menunjukkan persepsi yang keliru terhadap masalah Gejala dan Tanda Minor
Subjektif : -
33
Objektif :
1) Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat
2) Menunjukkan perilaku berlebihan (mis. apatis, bermusuhan, agitasi, histeria)
3 (D.0001) Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Hipersekresi Jalan Napas
Definisi : Ketidakmampuan membersihkan secret atau obstruksi atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten.
4 (D.0001) Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Hipersekresi Jalan Napas
Definisi : Ketidakmampuan membersihkan secret atau obstruksi atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten.
Gejala dan Tanda Mayor:
Subjektif : (tidak tersedia) Objektif :
1) Batuk tidak efektif atau tidak mampu batuk
2) Sputum berlebih /obstruksi di jalan napas (pada neonatus) 3) Mengi, wheezing dan/atau ronchi kering
Gejala dan Tanda Minor : Subjektif :
1) Dispnea 2) Sulit bicara 3) Ortopnea
Objektif : 1) Gelisah 2) Sianosis
3) Bunyi napas menurun 4) Frekuensi napas berubah 5) Pola napas berubah
2.4.2.3 Menentukan Prioritas Masalah
Dalam suatu keluarga, perawat dapat menemukan masalah lebih dari satu diagnosis keperawatan keluarga. Oleh karena itu perawat perlu menentukan prioritas terhadap diagnosis keperawatan keluarga yang ada dengan menggunakan skala prioritas asuhan keperawatan keluarga.
Proritas masalah adalah penentuan prioritas urutan masalah dalam merencanakan penyelesaian masalah keperawatan melalui perhitungan skor. Skala ini memiliki empat kriteria, masing – masing kriteria memiliki skor dan bobot yang berbeda disertai dengan pembenaran atau alasan penentuan skala tersebut.
1) Kriteria pertama : sifat masalah dengan skala aktual (skor 3), risiko (skor 2) dan wellness (skore 1) dengan bobot 1, pembenaran sesuai dengan masalah yang sudah terjadi, akan terjadi atau kearah pencapaian tingkat fungsi yang lebih tinggi.
2) Kriteria kedua : Kemungkinan masalah dapat di ubah dengan skala mudah (skor 2), sebagian (skor 1), dan tidak dapat (skor 0) dengan bobot 2.
Pembenaran di tunjang dengan data pengetahuan (pengetahuan klien atau keluarga, teknologi, dan tindakan untuk (menangani masalah yang ada), sumber daya keluarga (dalam bentuk fisik, keuangan, dan tenaga) sumber
35
daya perawat (pengetahuan, ketrampilan, dan waktu), dan sumber daya masyarakat (dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam masyrakat dan sokongan masyarakat).
3) Kriteria pertama : sifat masalah dengan skala aktual (skor 3), risiko (skor 2) dan wellness (skore 1) dengan bobot 1, pembenaran sesuai dengan masalah yang sudah terjadi, akan terjadi atau kearah pencapaian tingkat fungsi yang lebih tinggi.
4) Kriteria kedua : Kemungkinan masalah dapat di ubah dengan skala mudah (skor 2), sebagian (skor 1), dan tidak dapat (skor 0) dengan bobot 2.
Pembenaran di tunjang dengan data pengetahuan (pengetahuan klien atau keluarga, teknologi, dan tindakan untuk (menangani masalah yang ada), sumber daya keluarga (dalam bentuk fisik, keuangan, dan tenaga) sumber daya perawat (pengetahuan, ketrampilan, dan waktu), dan sumber daya masyarakat (dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam masyrakat dan sokongan masyarakat).
5) Kriteria ketiga : Potensial masalah untuk dicegah dengan skala skor tinggi (skor 3) cukup (skor 2), dan rendah (skor 1) dengan bobot 1. Pembenaran di tunjang dengan data kepelikan dari masalah yang berhubungan dengan penyakit atau masalah. Lamanya masalah (waktu masalah itu ada), tindakan yang sedang dijalankan (tindakan yang tepat dalam memperbaiki masalah), dan adanya kelompok yang sangat peka menambah potensi untuk mencegah masalah.
6) Kriteria keempat : Menonjolnya masalah dengan skala segera (skor 2), tidak perlu segera (skor 1), dan tidak dirasakan (skor 0) dengan bobot 1
pembenaran ditunjang dengan data persepsi kelurga dalam melihat masalah yang ada. Untuk lebih jelasnya skala dalam menentukan prioritas dapat dilihat dalam tabel.
Tabel 2.1 Skoring Prioritas Masalah
NO Kriteria Score Bobot Nilai Pembenaran
1. Sifat masalah
a. Aktual 3 1
b. Resiko 2
c. Tinggi 1
2. Kemungkinan masalah dapat
2 Diubah
a. Tinggi 2
b. Sedang 1
c. Rendah 0
3. Potensi masalah untuk dicegah
1
a. Mudah 3
b. Cukup 2
c. Tidak Dapat 1
4. Menonjolnya masalah
a. Masalah dirasakan dan perlu 2 1 segera ditangani
b. Masalah dirasakan 1
c. Masalah tidak di rasakan 0
(sumber : Padila, 2016)
Keterangan :
Total Skor didapatkan dengan :
Skor (total nilai kriteria) x Bobot = Nilai Angka tertinggi dalam skor
37
Cara melakukan Skoring adalah : a. Tentukan skor untuk setiap kriteria
b. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan dengan bobot c. Jumlah skor untuk semua kriteria
d. Tentukan skor, nilai tertinggi menentukan urutan nomor diagnosa keperawatan keluarga.
2.4.3 Rencana Asuhan Keperawatan
Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan pada pasien Asma Bronkial berdasarkan (SIKI, 2018) dan (SLKI, 2018)
DIAGNOSA KEPERAWATAN SLKI SIKI
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) Definisi :
Inspirasi dan atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ....x24 jam diharapkan keluarga mampu merawat klien dengan pola nafas kembali efektif, meliputi :
Dengan kriteria luaran : Pola Napas
1. Ventilasi semenit dari menurun menjadi meningkat
2. Ekspirasi dari menurun menjadi meningkat 3. Teakanan inspirasi dari menurun menjadi
meningkat
4. Dispnea dari meningkat menjadi menurun 5. Pemanjangan fase ekspirasi dari meningkat
menjadi menurun
6. Frekuensi napas dari memburuk menjadi membaik
7. Kesulitan bernapas dari memburuk menjadi membaik
Intervensi Utama : Manajemen Jalan Napas Observasi :
1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
2. Monitor bunyi napas tambahan (mis.
gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kering) Terapeutik :
1. Posisikan semi-Fowler atau Fowler 2. Berikan minum hangat
3. Berikan oksigen, jika perlu Edukasi :
1. Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari, jika tidak kontra indikasi
2. Ajarkan teknik batuk efektif Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian bronkhodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu
39
Defisit pengetahuan (D.0111) Definisi :
Ketiadaan atau kurangnya informasi yang berkaitan dengan topik tertentu.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...x24 jam diharapkan keluarga mampu memahami masalah dan pengetahuan meningkat, meliputi :
Dengan kriteria luaran : Tingkat pengetahuan
1. Keluarga dan klien mampu memahami tanda dan gejala asma
2. Keluarga dan klien mampu memahami penyebabdari asma
3. Keluarga dan klien mampu memahami pencegahan dari asma
4. Keluarga dan klien mampu memahami penanganan asma
Intervensi Utama : Edukasi Kesehatan Observasi :
1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
2. Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat
Terapeutik :
1. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
2. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
3. Berikan kesempatan untuk bertanya Edukasi :
1. Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
2. Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat 3. Ajarkan stratergi yang dapat digunakan untuk
meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
(D.0001) Definisi :
Ketidakmapuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan nafas tetap paten.
Setelah dilakukan perawatan ....x24 jam diharapkan jalan nafas tetap paten, meliputi : Luaran Utama :
Bersihan Jalan Napas Kriteria hasil :
1. Batuk efektif dari menurun menjadi meningkat
2. Produksi sputum dari meningkat menjadi menurun
3. Adanya suara nafas mengi dari meningkat menjadi menurun
4. Adanya suara nafas wheezing dari meningkat menjadi menurun
Intervensi Utama : Latihan Batuk Efektif Observasi :
1. Identifikasi kemampuan batuk 2. Monitor adanya retensi sputum
3. Monitor tanda dan gejala infeksi saluran nafas Terapeutik :
1. Atur posisi semi-Fowler atau Fowler
2. Pasang perlak atau bengkok di pangkuan pasien 3. Buang sekret pada tempat sputum
Edukasi :
1. Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif 2. Anjurkan tarik napas dalammelalui hidung
5. Dispnea yang semula meningkat menjadi menurun
6. Kegelisahan dari menurun menjadi meningkat 7. Frekuensi napas dari memburuk menjadi
membaik
8. Pola napas dari memburuk menjadi membaik
selama 4 detik, ditahan selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mencucu (dibulatkan) selama 8 detik
3. Anjurkan mengulangi tarik napas dalam hingga 3 kali
4. Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik napas dalam yang ke-3
Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika perlu
Luaran Tambahan : Kontrol Gejala Kriteria Hasil :
1. Kemampuan memonitor munculnya gejala secara mandiri dari menurun menjadi meningkat
2. Kemampuan memonitor lama bertahannya gejala dari menurun menjadi meningkat 3. Kemampuan memonitor keparahan gejala
dari menurun menjadi meningkat
4. Kemampuan memonitor frekuensi gejala dari menurun menjadi meningkat
5. Kemampuan memonitor variasi gejala dari menurun menjadi meningkat
6. Kemampuan melakukan tindakan pencegahan dari menurun menjadi meningkat 7. Kemampuan melakukan tindakan untuk
mengurangi gejala dari menurun menjadi meningkat
8. Mendapatkan perawatan kesehatan saat gejala bahaya muncul dari menurun menjadi meningkat
9. Mencatat hasil pemantauan gejala dari menurun menjadi meningkat
10. Kemampuan melaporkan gejala dari
Intervensi Pendukung : Latihan Batuk Efektif Observasi :
1. Identifikasi kemampuan batuk 2. Monitor adanya retensi sputum
3. Monitor tanda dan gejala infeksi saluran napas 4. Monitor input dan output cairan (mis. jumlah
dan karakteristik) Terapeutik :
1. Atur posisi semi-Fowler atau Fowler
2. Pasang perlak dan bengkok di pangkuan pasien 3. Buang sekret pada tempat sputum
Edukasi :
1. Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif 2. Anjurkan tarik napas melalui hidung selama 4
detik, ditahan selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mencucu (dibulatkan ) selama 8 detik
3. Anjurkan mengulangi tarik napas dalam hingga 3 kali
4. Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik napas dalam yang ke-3
41
menurun menjadi meningkat Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika perlu
Manajemen Asma Observasi :
1. Monitor frekuensi dan kedalaman napas 2. Monitor monitor tanda dan gejala hipoksia
(mis. gelisah, agitasi, penurunan kesadaran) 3. Monitor bunyi napa tambahan
4. Monitor saturasi oksigen Terapeutik :
1. Berikan posisi semi-Fowler 30-45º 2. Pasang oksimetri nadi
3. Lakukan penghisapan lender, jika perlu
4. Berikan oksigen 6-15 L via sungkup untuk mempertahankan SpO2: >90%
Edukasi :
1. Anjurkan meminimalkan ansietas yang dapat meningkatkan kebutuhan oksigen
2. Ajarkan teknik pursed-lip breathing
3. Ajarkan mengidentifikasi dan menghindari pemicu (mis. debu, bulu hewan, serbuk bunga, asap rokok, polutan udara, suhu lingkungan ekstrem, alergi makanan)
Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian bronchodilator sesuai indikasi (mis. albuierol, metaproterenol) 2. Kolaborasi pemberian obat tambahan jika tidak
responsif dengan bronkodilator (mis.
Prednisolone, methylprednisolone, aminophylline)
Pemantauan Respirasi Observasi :
1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas
2. Monitor pola napas (seperti bradipnea, takipnea, hiperventilasi, Kussmaul, Cheyne- Stokes, Biot, ataksik)
3. Monitor kemampuan batuk efektif 4. Monitor adanya produksi sputum 5. Monitor adanya sumbatan jalan napas 6. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru 7. Auskultasi bunyi napas
8. Monitor saturasi oksigen 9. Monitor nilai AG D 10. Monitor hasil x-ray toraks Terapeutik :
1. Aturinterval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi :
1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan 2. Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
43
2.4.4 Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan perwujudan dari intervensi keperawatan meliputi tindakan yang telah direncanakan. Pelaksanaan tindakan keperawatan pada pasien dengan Asma Bronkial secara teoritis mengacu pada teori sesuai dengan diagnosis keperawatan yang diangkat. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan ini penulis menemukan beberapa faktor penunjang diantaranya adalah respon klien yang baik, mudah menerima saran perawat, keluarga bersikap kooperatif dan terbuka serta tanggapan yang baik dari keluarga kepada penulis dalam memberikan informasi yang berhubungan dengan klien (Nurarif, 2015).
2.4.5 Evaluasi
Evaluasi adalah pengukuran keefektifan pengkajian, diagnosis, perencanaan, dan implementasi. Klien adalah fokus evaluasi. Langkah-langkah dalam mengevaluasi asuhan keperawatan adalah menganalisis respon klien, mengidentifikasi faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan atau kegagalan, dan perencanaan untuk asuhan di masa depan (Somantri, 2016).
Perumusan evaluasi formatif meliputi empat komponen yang dikenal dengan istilah SOAP, yaitu :
2.4.4.1 S (Subjektif) : perkembangan keadaan yang didasarkan pada apa yang dirasakan, dikeluhkan, dan dikemukakan klien.
2.4.4.2 (Objektif) : perkembangan yang bisa diamati dan diukur oleh perawat atau tim kesehatan lain.
2.4.4.3 A (Analisis) : penilaian dari kedua jenis data (baik subjektif maupun objektif) apakah berkembang kearah perbaikan.
2.4.4.4 P (Perencanaan) : rencana penanganan klien yang didasarkan pada hasil analisis diatas yang berisi melanjutkan perencaan sebelumnya apabila keadaan atau masalah belum teratasi.
45
Faktor Intrinsik Faktor Ekstrinsik
Faktor Pencetus serangan asma bronkial
Antigen merangsang IgE di sel mast, maka terjadi Reaksi antigen &
antibody
Polusi udara : CO, asap rokok, parfume Emosional : takut, cemas, stress
Fisik : cuaca dingin perubahan temperatur
Infeksi : parainfluenza virus, pneumonia, mycoplasmal Iritan : kimia
Aktivitas yang berlebihan alergen (debu, serbuk-serbuk,
bulu binatang)
Penyempitan Jalan Nafas
2.5 Kerangka Masalah
Sumber : Nurarif & Kusuma (2017)
Inflamasi Sekresi
Edema mukosa Bronkospasme
Mengeluarkan mediator sel mast (mediator kimiawi) Histamine,
Bradikinin, Prostaglandin
Defisit Pengetahuan
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Kurang terpaparnya
informasi
Batuk, Sesak napas, Wheezing, Pola Napas Tidak Efektif
BAB 3 TINJAUAN KASUS
Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien Asma Bronkial maka penulis menyajikan satu kasus yang penulis amati mulai tanggal 06 Maret 2021 sampai dengan 08 Maret 2021 dengan data pengkajian pada tanggal 06 Maret 2021 pada pukul 09.00 WIB.
Anamnesa di peroleh dari klien dan keterangan dari keluarga.
3.1 Pengkajian 3.1.1 Data Umum 3.1.1.1 Identitas Pasien
1) Kepala Keluarga (KK) : Tn. A
2) Alamat : Wirogunan rt 03/ rw 06, Kota Pasuruan 3) Pekerjaan KK : Pedagang
4) Pendidikan KK : SLTP 5) Komposisi keluarga : 3.1.1.2 Komposisi Anggota Keluarga
Tabel 3.1 Komposisi Anggota Keluarga
N Nama Jenis o
Kelamin
Hubungan
Keluarga Umur Pekerjaan Pendidikan 1. Tn.A
(Klien) Laki-laki Suami 49 Wiraswasta SLTP
2. Ny.K Perempuan Istri 48 Ibu Rumah
Tangga SD
3. Tn.P Laki-laki Anak 25 Karyawan
Swata SMA
4. Nn.S Perempuan Anak 22 Karyawan
Swasta SMA
47
Genogram
Gambar 3.1 Genogram Klien Keterangan :
: Laki-Laki : Meninggal : Perempuan : Klien
: Tinggal serumah : Hubungan dalam keluarga : Garis keturunan
3.1.1.3 Tipe Keluarga
Tabel 3.2 Tipe Keluarga
Pasien Tipe Keluarga The nuclear family (keluarga inti)
Suku Bangsa Tn. A berasal dari suku jawa dan Ny. K juga berasal dari suku jawa. Jadi keluarga Tn. A berasal dari suku jawa dan bahasa yang digunakan sehari-hari adalah Bahasa Jawa.
Agama Islam
3.1.1.4 Status Sosial Ekonomi Keluarga
Tabel 3.3 Status Sosial Ekonomi Keluarga
Status sosial ekonomi keluarga Pasien
Jumlah pendapatan perbulan ± Rp. 2.500.000;
Sumber pendapatan perbulan Sumber pendapatan berasal dari hasil kerja Tn.A dan dan pemberian dari anak pertamanya
Jumlah pengeluaran perbulan ± Rp. 1.000.000; sesuai dengan kebutuhan Aktivitas rekreasi keluarga Tn.A mengatakan jika tidak ada kegiatan semua
anggota keluarga biasanya menikmati sarana hiburan dirumah yaitu televisi.
3.1.3 Data Lingkungan
Ruang Keluarga
Kamar Mandi Dapur
Kamar 3 Ruang
sholat Kamar 2
Ruang Tamu Ventilasi
Kamar 1
Pintu
3.1.2 Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga Tabel 3.4 Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
Tahap Perkembangan Pasien
Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tn.A mengatakan anak pertamanya sudah berusia 25 tahun dan sudah bekerja, sedangkan anak keduanya berusia 22 tahun. Jadi perkembangan keluarga saat ini adalah tahap perkembangan dewasa dan dewasa muda.
Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Keluarga Tn.A saat ini sudah memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembangan saat ini.
Riwayat kesehatan keluarga saat ini
Tn.A mengatakan sesak nafas, mengi, batuk dan kesulitan bernafas setelah melakukan aktivitas terlalu berat.
Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
Tn.A mengatakan sebelumnya sudah beberapa kali mengalami hal yang sama dan klien memiliki riwayat penyakit turunan asma dan alergi terhadap debu. Keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit menular .
Gambar 3.2 Denah Rumah Tabel 3.5 Karakteristik Rumah
Pasien Karakteristik Rumah
Karakteristik tetangga dan komunitas
Tn.A mengatakan sebagian besar tetangganya warga asli lingkungan Pasuruan. Tn.A mengatakan sering berkumpul dengan tetangganya hanya untuk berbincang atau yang lainnya. Mayoritas mata pencaharian tetangga sekitar rumah Tn.A adalah pedagang, wirausaha, Guru, dan pegawai swasta. Fasilitas umum yang terdapat di lingkungan rumah Tn.
A yaitu terdapat Posyandu dan musholla.
Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Tn.A menempati rumahnya yang sekarang selama ± 35 tahun dan tidak memiliki keinginan untuk berpindah tempat.
Perkumpulan keluarga dan interaksi dalam masyarakat
Keluarga Tn.A selalu mengikuti kegiatan pengajian disekitar daerah rumahnya. Tn.A juga sering berkumpul dengan anak-anaknya. Interaksi yang terjalin antara keluarga Tn.A dengan tetangganya sangat baik.
Sistem pendukung keluarga
Tn.A mengatakan semua anggota keluarga mempunyai kartu jaminan kesehatan yaitu BPJS.
49
3.1.4 Struktur Keluarga
Tabel 3.6 Struktur Keluarga
Pasien
Struktur peran Tn.A berperan sebagai kepala keluarga dan Ny.K berperan sebagai wakil kepala keluarga.
Nilai atau norma keluarga
Keluarga Tn.A selalu memegang teguh nilai – nilai agama Islam, dan keluarga juga ditekankan untuk menjaga silaturahmi dengan saudara – saudara dan tetangga setempat.
Pola komunikasi keluarga
Tn. A mengatakan keluarga biasa berkomunikasi menggunakan Bahasa Jawa, jika ada masalah maka keluarga akan berdiskusi dan menyelesaikan dengan musyawarah.
Struktur kekuatan keluarga
Tn.A mengatakan bahwa pengambilan keptusan dalam keluarga dilakukan dengan cara bermusyawarah seluruh anggota keluarga.
Tn.A selaku kepala keluarga memiliki kekuatan untuk mengendalikan dan mempengaruhi anggota keluarga untuk merubah perilaku.
3.1.5 Fungsi keluarga
Tabel 3.7 Fungsi Keluarga
Pasien
Fungsi ekonomi Kebutuhan pokok dalam keluarga terpenuhi dari penghasilan Tn.A dan juga pemberian dari anak pertamanya setiap satu bulan sekali.
Fungsi
mendapatkan status sosial
Seluruh anggota keluarga Tn.A biasanya sering membantu ketika tetangganya ada yang mempunyai hajatan atau sebagainya, keluarga Tn.A dapat bersosialisasi, toleransi antar sesama dan juga anak keluarga Tn.A yang pertama biasanya sering mengikuti kegiatan pemuda dilingkungannya.
Fungsi pendidikan Tn.A hanya menempuh pendidikan SMP saja, dan dua anaknya hanya menempuh pendidikan SMA. Tn.A juga selalu mengingatkan kepada keluarga bahwa kita tidak boleh meremehkan pendidikan karena pendidikan itu sangat penting.
Fungsi sosialisasi Keluarga selalu mengajarkan perilaku yang baik pada anak- anak dan berpartisipasi jika ada kegiatan masyarakat.
Fungsi pemenuhan kesehatan
Kemampuan keluarga dalam mengenal kesehatan : Keluarga Tn.A mengerti apabila Tn.A mengalami penyakit asma, namun keluarga kurang paham betul tentang tanda dan gejala penyebab, serta pencegahan asma Tn. A.
Fungsi religious Tn.A mengatakan bahwa keluarga selalu berpegang teguh kepada agamanya yaitu Islam dan selalu berdoa ketika sedang mengalami musibah serta selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan. Keluarga Tn.A juga rajin beribadah.
Fungsi rekreasi Tn.A mengatakan jarang untuk pergi rekreasi, anak-anaknya juga sedang sibuk bekerja. Jadi untuk rekreasi biasanya hanya berkumpul pada akhir pekan di rumah ataupun di luar rumah.
Fungsi reproduksi Tn.A mempunyai dua orang anak yaitu laki-laki dan perempuan.
Fungsi afeksi Tn.A selalu memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya tanpa membeda – bedakan, semuanya saling menyayangi satu sama lain. Hubungan keluarga terlihat harmonis dan ikatan kekeluargaan sangat erat.
3.1.6 Stress dan Koping Keluarga
Tabel 3.8 Stress dan Koping Keluarga
Pasien Stressor jangka pendek
dan panjang
- Stressor jangka pendek : Tn.A bingung bila asmanya kambuh dan menghambat pekerjaannya.
- Stresor jangka panjang : Tn.A memikirkan biaya untuk kehidupan sehari – hari.
Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Tn.A mengatakan jika istri atau anak-anaknya melihat tanda-tanda kelelahan pada beliau, mereka langsung menyuruh Tn.A langsung menghentikan aktivitas dan beristirahat karena keluarga tahu bila tidak di ingatkan terkadang beliau suka mengabaikannya.
Strategi koping yang dugunakan
Tn.A mengatakan beliau hanya berpasrah diri kepada Allah SWT, tetap berdoa dan ikhtiar terhadap penyakit yang diderita dan berusaha untuk tetap menjaga kesehatannya Strategi adaptasi
disfungsional
Bila Bila mendapatkan masalah keluarga Tn.A ada beberapa anggota keluarganya yang marah ataupun menangis, tetapi itu hanya sesaat saja, ketika masalah dipecahkan secara bersama-sama dan masalah terselesaikan dengan baik, anggota keluarga Tn.A selalu saling memaafkan agar tidak menimbulkan masalah lebih lanjut dan melupakan masalah yang sudah terselesaikan tadi
3.1.7 Pemeriksaan Kesehatan Tiap Individu Anggota Keluarga Tabel 3.9 Pemeriksaan Fisik Keluarga
Data Tn. A (Klien)
Riwayat penyakit sekarang Asma Keluhan yang dirasakan
saat ini
Sesak nafas, mengi, batuk dan kesulitan bernafas setelah melakukan aktivitas terlalu berat.
Tanda dan gejala Sesak nafas, mengi, batuk.
Kepala dan rambut Bentuk kepala simetris, kulit kepala tidak ada lesi dan tidak ada benjolan. Rambut bersih berwarna hitam dan tidak berbau. Wajah simetris. Bentuk hidung simetris, tidak ada lesi dan tidak ada pernapasan cuping hidung.
Mukosa bibir lembab, tidak cyanosis, tidak ada lesi, gigi tampak agak kuning.
Mata Bentuk mata simetris, konjungtiva tidak anemis, pupil isokor, sclera tidak ikterik, ketajaman penglihatan baik.
Telinga Bentuk telinga simetris, tidak ada serum, dan ketajaman pendengaran baik.
Leher Tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan tiroid.
Thorax/Dada dan fungsi pernapasan
Bentuk dada simetris, irama pernapasan irregular, wheezing (+), frekuensi nafas : 28x/menit.
Integumen (Kulit) Kulit teraba hangat, warna kulit sawo matang, lembab, turgor kulit elastis, dan tidak ada kelainan pada kulit Tanda-tanda vital Kesadaran compos mentis
TD : 110/80mmHg RR : 28x/menit N : 90x/menit S : 36,7oC
Ekstremitas Ekstremitas atas tampak normal, ekstremitas bawah normal. Tidak ada oedem .
51
3.1.8 Harapan keluarga
Tabel 3.10 Harapan Keluarga
Pasien
Harapan keluarga Tn.A berharap agar keluarganya tetap diberikan kesehatan sehingga dapat selalu berkumpul dengan anak-anaknya. Dan beliau berharap agar anak-anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang layak agar dapat hidup yang sejahtera dan bahagia. Tn.A juga berharap agar penyakitnya tidak sering kambuh dan diberi kesehatan selalu agar tidak menyusahkan istri dan anak-anaknya serta bisa beraktivitas.