• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN HASIL

6.2 Analisa Hasil Pengujian

6.2.3 Analisa Hasil Pengujian Ke-3

Berdasarkan pengujian pada tabel 6.5 dan tabel 6.6 dapat di analisa pada tabel 6.11 dan tabel 6.12.

Tabel 6.25 Pengujian ke-3 Forward Chaining Pen

gujia n

Input Gejala

Diag nosa Rule

Diagnos a Forward

Kese suaian 1 - Kulit terdapat

lapisan berwarna putih,kuning sampai merang jingga

- Kulit yang terlapisi menjadi kering dan mati

- Kekurangan unsur hara

- Bercak cokelat dari ujung daun

- Daun induk gugur

Rule 22 Rule

19 Rule

24

Penyakit busuk daun (P22)

Penyakit jamur upas (P19)

Penyakit fisiologis (P24)

Sesua i Sesua

i Sesua

i

Pada tabel 6.11. Analisa hasil pengujian ke-3 forward chaining terdapat gejala yang di inputkan yaitu, kulit terdapat lapisan berwarna putih,kuning sampai merang jingga, kulit yang terlapisi menjadi kering dan mati, kekurangan unsur hara, bercak cokelat dari ujung daun, dan daun induk gugur, rule yang terealisasikan rule 22, 19 dan rule 24 hasil diagnosa dari rule tersebut dengan metode forward menghasilkan penyakit busuk daun, penyakit jamur upas, dan penyakit fisiologis dengan tingkat kesesuaian yaitu sesuai.

Tabel 6.26 Pengujian ke-3 Backward

98

Pen gujia

n

Input Gejala &

Penyakit

Dia gnos

a Rule

Diagnosa Backward

Kese suaian 1 - Kulit terdapat

lapisan berwarna putih,kuning sampai merang jingga

- Kulit yang terlapisi menjadi kering dan mati

- Kekurangan unsur hara

- Bercak cokelat dari ujung daun

- Daun induk gugur

- Penyakit busuk daun

- Penyakit jamur upas

-Penyakit fisiologis

Rul e 22

Rul e 19

Rul e 24

- Penyakit busuk daun (P22)

dengan persentase 100%

- Penyakit jamur upas (P19)

dengan persentase 100%

-Penyakit fisiologis (P24) dengan Persentase 100%

Sesu ai

Sesu ai

Sesu ai

Pada tabel 6.12. Analisa hasil pengujian ke-3 backward chaining terdapat beberapa gejala dan penyakit yang di inputkan yaitu, kulit terdapat lapisan berwarna putih,kuning sampai merang jingga, kulit yang terlapisi menjadi kering dan mati, kekurangan unsur hara, bercak cokelat dari ujung daun, daun induk gugur, - penyakit busuk daun, penyakit jamur upas, dan penyakit fisiologis, rule yang terealisasikan rule 22, 12, dan rule 24, hasil diagnosa metode backward menghasilkan penyakit busuk daun (P22) dengan persentase 100%, penyakit

99

jamur upas (P19) dengan persentase 100%, dan penyakit fisiologis (P24) dengan Persentase 100% dengan tingkat kesesuaian yaitu sesuai.

6.4 Pengujian Kemudahan Penggunaan Sistem

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah aplikasi sistem pakar yang sudah dibuat mudah digunakan oleh user. Pengujian ini menggunakan kuesioner untuk mengetahui tanggapan responden terhadap aplikasi yang di implementasikan. Untuk 7 pertanyaan diberikan kepada 15 responden. Form hasil dari pengujian sistem yang telah dilakukan oleh 15 responden ada di Lampiran.

Hasil dari pengujian kemudahan sistem oleh 15 responden adalah sebagai berikut:

Tabel 6.27 Hasil Pengujian Kemudahan Sistem No

. Pertanyaan Y

a

Tida k 1.

Apakah aplikasi ini membantu anda dalam proses diagnosa penyakit pada tanaman teh?

15

2.

Apakah aplikasi ini membantu dalam memberikan informasi mengenai penyebab munculnya penyakit pada tanaman teh?

15

3. Apakah anda mudah

mengoperasikan aplikasi ini? 14 1

4. Apakah fitur yang dimiliki aplikasi

ini sudah sesuai dengan fungsinya? 15 5. Apakah fitur yang dimiliki aplikasi

ini mudah dipahami? 14 1

6. Apakah aplikasi ini sudah

memberikan solusi yang tepat? 15 7. Apakah tampilan aplikasi ini sudah

sesuai dengan keinginan anda? 13 2

Tabel 6.28 Nilai Bobot

Ya 2

Tidak 1

100

Tabel 6.29 Prosentase Nilai

Jawaban Keterangan

0% - 50% Tidak

51% - 100% Ya

Dari data yang didapat diatas, kemudian diolah dengan cara mengkalikan setiap point jawaban dengan bobot yang sudah ditentukan dengan tabel bobot nilai. Maka hasil perhitungan jawaban responden sebagai berikut:

1. Pertanyaan Pertama

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah responden 15 yang menjawab Ya (2) = 15 x 2 = 30. Sedangkan responden yang menjawab Tidak (1) = 0 x 1 = 0. Total Skor = 30 + 0 = 30. Maka penyelesaian akhir adalah 2 x 15 = 20, 1 x 15 = 15. Jadi 30 / 30 x 100 = 100% Kategori “Ya”.

2. Pertanyaan Kedua

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah responden 15 yang menjawab Ya (2) = 15 x 2 = 30. Sedangkan responden yang menjawab Tidak (1) = 0 x 1 = 0. Total Skor = 30 + 0 = 30. Maka penyelesaian akhir adalah 2 x 15 = 30, 1 x 15 = 10. Jadi 30 /30 x 100 = 100% Kategori “Ya”.

3. Pertanyaan Ketiga

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah responden 14 yang menjawab Ya (2) = 14x 2 = 28. Sedangkan 1 responden yang menjawab Tidak (1) = 1 x 1 = 1. Total Skor = 28 + 1 = 29. Maka penyelesaian akhir adalah 2 x 15 = 30, 1 x 15 = 15. Jadi 29 / 30 x 100 = 96,6% Kategori “Ya”.

4. Pertanyaan Keempat

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah responden 15 yang menjawab Ya (2) = 15 x 2 = 30. Sedangkan responden yang menjawab Tidak (1) = 0 x 1 = 0. Total Skor = 30 + 0 = 30. Maka penyelesaian akhir adalah 2 x 15 = 30, 1 x 15 = 10. Jadi 30 /30 x 100 = 100% Kategori “Ya”.

5. Pertanyaan Kelima

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah responden 14 yang menjawab Ya (2) = 14x 2 = 28. Sedangkan 1 responden yang menjawab Tidak (1) = 1 x 1 = 1. Total Skor = 28 + 1 = 29. Maka penyelesaian akhir adalah 2 x 15 = 30, 1 x 15 = 15. Jadi 29 / 30 x 100 = 96,6% Kategori “Ya”.

6. Pertanyaan Keenam

101

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah responden 15 yang menjawab Ya (2) = 15 x 2 = 30. Sedangkan responden yang menjawab Tidak (1) = 0 x 1 = 0. Total Skor = 30 + 0 = 30. Maka penyelesaian akhir adalah 2 x 15 = 30, 1 x 15 = 10. Jadi 30 /30 x 100 = 100% Kategori “Ya”.

7. Pertanyaan Ketujuh

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah responden 8 yang menjawab Ya (2) = 13 x 2 = 26. Sedangkan 2 responden yang menjawab Tidak (1) = 2 x 1 = 2. Total Skor = 26 + 2 = 28. Maka penyelesaian akhir adalah 2 x 15 = 30, 1 x 15 = 15. Jadi 28 / 30 x 100 = 93,3% Kategori “Ya”.

BAB VII PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan permasalahan yang dibangun pada Sistem Pakaar Diagnosa Hama dan Penyakit Pada Tanaman Teh Dengan menggunakan Metode Forward Chaining dan Backward Chaining maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil pengujian dengan dilakukan tiga kali uji coba pada masing - masing metode forward chaining dan backward chaining dapat disimpulkan dari iterasi proses forward chaining dan backward chaining bahwa hasil masukan penyakit dari backward chaining sama dengan keluaran penyakit dari forward chaining dengan tingkat akurasi 100%

berdasarkan aturan/rule yang telah dibuat. Pada forward chaining dengan memasukan beberapa gejala yang terjadi pada tanaman teh lalu diproses dengan algoritma forward chaining, menghasilkan diagnosa penyakit pada tanaman teh berdasarkan gejala yang di inputkan oleh user. Pada backward chaining user menginputkan gejala dan diagnosa penyakit tanaman teh lalu di proses menggunakan algoritma backward chaining maka system menghasilkan evaluasi persentasi dari diagnosa penyakit dan gejala tanaman teh yang di inputkan oleh user.

7.2 Saran

Setelah melakukan evaluasi secara keseluruhan, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan saran-saran pengembangan sebagai berikut:

1. Disarankan untuk memakai metode forward chaining apabila user tidak mengetahui penyakit dari gejala yang di inputkan dan, backward chaining dapat di gunakan memastikan bahwa gejala dan penyakit tersebut memunyai tingkat kecocokan berdasarkan rule

2. Berdasarkan pengujian system pakar ini harus dilakukan update secara berkala oleh para pakar tanaman teh

3. Perlu pengkajian oleh ahli secara berkala apabila terdapat lebih dari 1 (satu) penyakit dari 1 kali input gejala sehingga bias ditetapka treatment terbaik.

102

103

4. Perlu dilakukan update secara berkala oleh ahli tanaman teh sehingga aplikasi selalu terupdate penyakit dan gejala terbaru.

104

DAFTAR PUSTAKA

AninDita Dhiaksa. (2016), Sistem pakar Diagnosa Penyakit Kulit Mneggunakan metode Forward Chaining(Studi kasus : Puskesmas kalasan Sleman Yogyakarta). SKRIPSI, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Anton Setiawan (2009), Sistem Pakar Diagnosa tanaman Padi Berbasis Web dengan Metode Forward Chaining dan Backward Chaining, ISSN- 6930, Vol 7 No 3 Hal 187-194.

Akil,Ibnu (2017). Analisa Efektifitas Metode Forward Chaining dan Backward Chaining Pada Sistem Pakar. Jurnal Pilar Nusa Mandiri Volume 13 No.1..

Bugis, N.R (2019). Sistem Pakar Diagnosis Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Kelapa Menggunakan Metode Certainty Factor Berbasis Website. JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika) Vol 3 No 1..

Hutagalun,J.E dkk (2015). Sistem Pakar Dengan Metode Backward Chaining Untuk Pengujian Transistor Di Laboratorium Elektronika . Riau Journal Of Computer Science Vol.1, 9-15 [9]

Herliana, Asti dkk (2018). Penerapan Inferensi Backward Chaining Pada Sistem Pakar Diagnosa Awal Penyakit Tulang. JURNAL INFORMATIKA, Vol.5 No.1 April 2018, pp. 50 - 60.

Ibnu Akil. (2017), Analisa Efektifitas Metode Forward Chaining dan Backward Chaining Pada Sistem Pakar, Jurnal Pilar Nusa Mandiri Volume 13 No.1 Maret 2017.

Iriani, S. 2015. “Penerapan Metode Backward Chaining Pada SIstem Pakar Diagnosa Penyakit Tulang Manusia”. IJNS: Volume.4 No.1 Pacitan : STKIP PGRI.

Muhammad Burhannudin, Suprapto, Nurul Hidayat3. (2017), Pemodelan Sistem Pakar Diagnosis Penyakit Tanaman Apel Manalagi Dengan Metode Backward Chaining Menggunakan Certainty Factor, Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, Vol. 1, No. 5, Mei 2017, hlm. 399-404.

Dokumen terkait