• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA TITIK IMPAS

Dalam dokumen Untitled - Repository UNUGHA Cilacap (Halaman 162-170)

EKONOMI TEKNIK

4.8 ANALISA TITIK IMPAS

Break event point merupakan suatu titik atau keadaan dimana perusahaan didalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak menderita rugi. Penerapan analisa break event point biasanya digunakan untuk menentukan tingkat produksi agar perusahaan berada pada titik impas. Analisa break event point dapat memberikan informasi kepada pimpinan, bagaimana pola hubungan antara volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu.

Analisa titik Impas adalah salah satu analisa dalam ekonomi teknik yang sangat populer digunakan terutama pada sektor- sektor industri yang padat karya. Analisa ini akan berguna apabila seseorang akan mengambil keputusan pemilihan alternative yang cukup sensitive terhadap variable atau parameter dan bila variabel- variabel tersebut sulit sulit diestimasi, Melalui analisa titik impas seseorang akan bisa mendapatkan nilai dari parameter tersebut yang menyebabkan dua atau lebih alternatif dianggap sama baiknya, dan oleh karenanya bisa dipilih salah satu diantaranya. Nilai suatu parameter atau variabel yang menyebabkan dua atau Lbih alternatif sama baiknya disebut nilai titik impas (break even point, disingkat BEP). Apabila nantinya pengambil keputusan bisa mengestimasi besarnya nilai aktual dari variabel yang bersangkutan (lebih besar atau lebih kecil dari nilai BEP) maka akan bisa ditentukan alternatif mana yang lebih baik.

Metode titik impas ini bisa digunakan untuk melakukan analisis pada berbagai macam permasalahan, diantaranya adalah:

Menentukan nilai ROR dimana dua alternatif proyek sama baiknya. Misalkan kedua alternatif proyek tersebut sama baiknya pada ROR sebesar 12% maka titik impas dari ROR kedua alternatif tersebut adalah 12%. Bila ROR ternyatA lebih besar atau lebih kecil dari 12% maka alternatif yang satu akan lebih baik dari alteratif yang lain.

1. Menentukan tingkat produksi dari dua atau lebih fasilitas produksi yang memiliki konfi gurasi ongkos-ongkos yang berbeda sehingga pada tingkat tersebut ongkos tahunan yang terjadi adalah sama antara fasilitas yang satu dengan fasilitas yang lainnya. Misalkan dua alternatif fasilitas produksi akan mengakibatkan ongkos-ongkos tahunan yang sama pada tingkat produksi 2000 unit per tahun maka tingkat produksi 2000 unit per tahun ini disebut tingkat produksi impas. Bila ternyata perusahaan harus berproduksi pada tingkat 3000 unit per tahun atau 1500 unit per tahun maka salah satu alternatif tersebut akan lebih baik dan lainnya.

2. Melakukan analisa buat-beli. Pada tingkat produksi tertentu, biaya-biaya yang terjadi akan sama antara membeli suatu komponen atau membuatnya sendiri. Jadi, pada tingkat impas ini, pilihan untuk membuat sendiri suatu komponen atau peralatan akan sama efisiennya dengan pilihan untuk membelinya dari luar perusahaan. Bila perusahaan membutuhkan jumlah komponen yang lebih besar dari titik impas tadi maka biasanya biaya membuat akan lebih murah dari biaya membeli untuk tiap satuan komponen.

3. Menentukan berapa tahun yang dibutuhkan (atau berapa produk yang harus dihasilkan) agar perusahaan berada pada titik impas, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan sama persis dengan pendapatan-pendapatan yang diperoleh. Bila suatu alternatif proyek bisa berproduksi di atas titik impas ini maka alternatif tersebut layak dilaksanakan.

Ekonomi Teknik 145

Aplikasi analisa titik impas pada permasalahan produksi biasaaya digunakan untuk menentukan tingkat produksi yang bisa mengakibatkan perusahaarn berada pada kondisi impas. Untuk mendapatkan titik impas ini maka harus dicari fungsi-fungsi biaya maupun pendapatannya. Pada saat kedua fungsi tersebut bertemu maka total biaya sama dengan total pendapatan. Dalam melakukan analisa titik impas, sering kali fungsi biaya maupun fungsi pendapatan diasumsikan linier terhadap volume produksi.

Ada tiga komponen biaya yang dipertimbangkan dalam analisa ini, yaitu:

1. Biaya-biaya tetap (fi xed cost) yaitu biaya-biaya yang besarnya tidak dipengaruhi oleh volume produksi. Beberapa yang termasuk biaya tetap adalah biaya gedung, biaya tanah, biaya mesin dan peralatan, dan sebagainya. Dengan kata lain biaya tetap adalah biaya biaya yang selalu tetap walaupun jumlah yang diproduksi berubah-ubah sehingga biaya akan konstan pada periode waktu tertentu

2. Biaya-biaya variabel (variable cost) yaitu biaya-biaya yang besarnya tergantung (biasanya secara linier) terhadap volume produksi. Biaya-biaya yang tergolong biaya variabel diantaranya adalah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Dengan kata lain biaya variabel adalah biaya yang selalu berubah sesuai denga perubahan produksi atau penjualan.

3. Biaya total (total cost) adalah jumlah dari biaya-biaya tetap dan biaya-biaya variabel. Bila digambar dalam grafi k maka biaya- biaya tersebut terlihat seperti Gambar 4.17.

Bila dimisalkan X adalah volume produk yang dibuat, dan c adalah ongkos variabel yang terlibat dalam pembuatan satu buah produk maka ongkos variabel untuk membuat X buah produk adalah

VC = cX (4.21)

(a)

(b)

(c)

Gambar 4.17. Grafi k ongkos produksi, terdiri dan (a) ongkos tetap (FC), (b) ongkos variabel (VC), dan (c) ongkos total (TC).

Ekonomi Teknik 147

Menentukan BEP

a. Pendekatan matematis BEP = Fixed cost

= ………….unit Sales Price/unit – variable cost/unit

b. Pendekatan grafi k

Gambar 6.1. Grafi k ongkos produksi, terdiri dan (a) ongkos tetap (FC), (b) ongkos variabel (VC), dan (c) ongkos total (TC).

ongkos-ongkos variabel maka berlaku hubungan TC = FC + VC

= FC + cX (4.22)

dimana

TC = ongkos total untuk membuat X produk FC = ongkos tetap

VC = ongkos variabel untuk membuat X produk c = ongkos variabel untuk membuat satu produk.

Dalam analisa titik impas selalu diasumsikan bahwa total pendapatan (total revenue) diperoleh dari penjualan semua produk yang diproduksi. Bila harga satu buah produk adalah p maka harga X buah produk akan menjadi total pendapatan, atau:

TR = pX (4.23)

dimana

TR = total pendapatan dan penjualan X buah produk p = harga jual per satuan produk.

Titik impas akan diperoleh apabiLa total ongkos-ongkos yang terlibat persis sama dengan total pendapatan, atau

TR = TC (4.24)

atau

pX = FC + cX (4.25)

X (4.26) dimana X dalam hal ini adalah volume produksi yang menyebabkan perusahaan berada pada titik impas (BEP). Tentu saja perusahaan akan mendapat untung apabila bisa berproduksi di atas X (melampaui titik impas). Hal ini ditunjukkan seperti pada Gambar 4.18.

Gambar 4.18 Diagram Titik Impas Pada Permasalahan Produksi

Contoh 4-8

PT. ABC Indonesia merencanakan mebuat sejenis sabun mandi untuk kelas menengah. Ongkos total untuk pembuatan 10.000 sabun per bulan Rp. 25 juta dan ongkos total untuk pembuatan 15.000 sabun per bulan adalah Rp 30 juta. Asumsikan bahwa ongkos-ongkos variabel berhubungan secara proporsional dengan jumlah sabun yang diproduksi. Hatunglah

a. Ongkos variabel per unit dan ongkos tetapnya

b. Bila PT. ABC Indonesia menjual sabun tersebut seharga Rp 6000 per unit, berapakah yang harus diproduksi per bulan agar perusahaan tersebut berada pada kondisi impas?

Ekonomi Teknik 149

c. Bila perusahaan memproduksi 12.000 sabun per bulan, apakah perusahaan untung atau rugi ? Dan berapa keuntungan atau kerugiannya ?

Solusi

a. Ongkos variabel per unit adalah

C =

30

= Rp 1000 per unit.

Sedangkan ongkos tetapnya bisa dihitung berdasarkan persamaan 10.22 Untuk X = 10.000 berlaku,

TC = FC + cX

25 jute = FC + 1.000 (Rp/unit) x 10.000 (urit) FC = Rp 15 juta.

atau, dengan X = 15.000 diperoleh TC =FC+cX

30 juta = FC + 1.000 (Rp/unit) x 15.000 (unit) FC = Rp 15 juta.

b. Bila p = Rp 6.000 per unit maka jumlah yang harus diproduksi per bulan agar mencapai titik impas adalah:

X = 3.000 unit per bulan

Jadi, volume produksi sebesar perusahaan 3.000 unit perbulan menyebabkan perusahaan berada pada titik impas.

c. Bila X = 12.000 unit per bulan maka total penjualan adalah:

TR = pX

= Rp 6.000/unit x 12.000 unit

= Rp. 72 juta per bulan

dan total ongkos yang terjadi adalah:

TC = FC+cX

= Rp 15 juta + Rp 1000/unit x 12.000 unit

= Rp. 27 juta per bulan

Jadi, perusahaan berada dalam kondisi untung karena dengan memproduksi 12.000 unit per bulan maka total penjualan akan lebih tinggi dari total ongkosnya. Besarnya keuntungan adalah Rp.

72 juta - Rp. 27 juta = Rp. 45 juta per bulan.

-oo0oo-

Dalam dokumen Untitled - Repository UNUGHA Cilacap (Halaman 162-170)