BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.2 Analisis Bivariat
35
Tabel 4. 6 Kadar Kreatinin Pada Penderita DM tipe 2 Berdasarkan Jenis Kelamin
Karakteristik N Minimum Maximum Mean
Laki – Laki Perempuan
23 32
0,73 0,54
2,77 1,74
1,3952 0,926
Berdasarkan tabel 4.6 kadar kreatiin berdasarkan jenis kelamin laki laki sebanyak 23 dengan kadar kreatinin terendahnya 0,73 tertinggi 2,77 , dan pada perempuan dengan jumlah responden 32 dengan hasil kreatinin terendah 0,54 dan tertinggi 1,74.
dari populasi yang berdistribusi normal. Dengan demikian, Kadar Glukosa Darah Puasa (GDP) berdistribusi tidak normal maka, uji bivariat dilanjut memakai uji Korelasi Spearman.
2 Uji Korelasi Spearman
Uji ini digunakan untuk mencari hubungan atau untuk menguji signifikasi Tabel 4. 8 Hasil uji Korelasi Spearman
Variabel Koefesiensi korelasi (r)
p-value
Kadar Glukosa Puasa
Kadar Kreatinin 0.153 0.264
Berdasarkan Tabel 4.8 uji korelasi spearman ditemukan bahwa kadar glukosa darah puasa dan kadar kreatinin terhadap penderita DM tipe 2 didapatkan hasil r = 0,153 dan nilai p-value 0,264 > 0.05 hal ini menjelaskan bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar glukosa darah puasa dengan kadar kreatinin pada penderita DM tipe 2.
4.2 Pembahasan
Penelitian ini dilakukan di RSUD Budhi Asih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Kadar Glukosa Darah Puasa dengan Kadar Kreatinin pada penderita DM tipe 2 di RSUD Budhi Asih. Berdasarkan dari subjek penelitian ini terdapat beberapa karakteristik subjek penelitian yang diambil yaitu usia, jenis kelamin, dan sampel penderita DM tipe 2. Dilihat dari tabel 4.1 karakteristik berdasarkan usia ditemukan bahwa rata-rata penderita DM tipe 2 dari 55 responden ditemukan pasien dengan usia termuda 33 tahun dan usia tertuanya 76 tahun,usia yang paling banyak terkonfirmasi DM tipe 2 ialah berusia 54-60 tahun di temukan sebanyak 18 (32,7%) pasien penderita DM tipe 2, karna seiring bertambahnya usia maka akan terjadi peningkatan kadar glukosa darah serta perubahan anatomi yang menyebabkan komponen tubuh mengalami perubahan
37
sel B pakreas dan menghasilkan insulin dan hormon lain yang mempengaruhi kadar glukosa darah. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Batteng (2014) menyatakan bahwa penyebab DM tipe 2 sering terjadi ketika seorang telah memasuki usia rentan, terutama usia lebih dari 45 tahun manusia akan mengalami perubahan fisiologis yang menurun secara tiba setelah usia >45 tahun.25
Berdasarkan pada Tabel 4.2 karakteristik jenis kelamin responden perempuan lebih banyak dibanding laki laki, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Farsyi Novelia Dalawa Billy Kepel and Hamel (2013) yang menunjukkan bahwa penderita DM tipe 2 paling banyak ditemukan dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 63,5%. Di karenakan perempuan lebih beresiko terkena penyakit DM karna secara fisik perempuan memiliki peningkatan indeks massa tubuh yang lebih besar, maka dari itu perempuan lebih peduli terhadap kesehatannya dibandingkan laki laki40.
Berdasarkan Tabel 4.3 karakteristik kadar glukosa darah ditemukan bahwa rata rata kadar glukosa darah puasa penderita DM tipe 2 dari 55 dengan kadar glukosa terendah ialah 76 mg/ dL dan tertingginya 464 mg/dL Kadar glukosa darah pada penderita DM selalu tinggi, pada faktanya jika melakukan diet yang tepat, maka kadar glukosa darah akan tetap terkendali. Insulin bekerja dalam mengangkut glukosa masuk ke dalam sel dan selanjutnya diolah menjadi tenaga/energi.
Penderita DM mengalami resistensi insulin sehingga tidak semua glukosa hasil dari metabolisme dalam tubuh tidak dapat masuk ke dalam sel, yang dapat mengakibatkan terjadi penumpukan di luar sel atau di dalam pembuluh darah.
Keadaan ini akan meningkatkan kadar glukosa darah. Dari penelitian ini, peneliti mendapati tingginya kadar glukosa darah puasa pada penderita diabetes melitus dengan hiperglikemi, hal ini disebabkan kurang sadarnya penderita DM untuk menjaga pola hidup sehat, minum obat secara teratur, menjalani hidup yang sehat, olahraga secara teratur serta konsumsi makanan yang dianjurkan dan hindari makanan yang tidak dianjurkan. 25
Berdasarkan Tabel 4.4 karakteristik kadar kreatinin pada penderita Dm tipe 2 ditemukan bahwa rata rata kadar kreatinin pada penderita Dm dari 55 responden ditemukan kadar kreatinin terendahnya 0,54 mg/ dL dan tertingginya ialah 2,77
mg/dL. Kadar kreatinin yang tinggi menunjukan sudah bahaw fungsi ginjal mulai menurun yang akan menuju ke gagal ginjal selain itu juga kadar kreatinin yang tinggi disebabkan karena penderita DM Tipe 2 telah mengalami komplikasi gagal ginjal. Seiring bertambahnya usia seseorang juga akan disertai oleh turunnya fungsi ginjal. Hal tersebut terjadi karena pada usia 40 tahun ke atas akan mengalami proses hilangnya beberapa nefron, yang menyebabkan filtrasi kreatinin tidak sempurna sehingga mengakibatkan kadar kreatinin dalam darah meningkat. Dan semakin bertambahnya usia disertai dengan penyakit kronis seperti DM, ginjal cenderung akan mengalami kerusakan akibat dari kadar gula darah yang tinggi dan fungsi ginjal tidak dapat dipulihkan kembali sehingga banyak penderita DM mengalami komplikasi gagal ginjal.6
Berdasarkan Tabel 4.6 kadar kreatinin serum pada penderita DM tipe 2 berdasarkan jenis kelamin hasil penelitian diperoleh kadar kreatinin tinggi lebih banyak dijumpai pada penderita DM tipe 2 berjenis kelamin laki laki dikarenakan kreatinin dipengaruhi oleh perubahan massa otot, aktifitas fisik yang berlebihan pada laki-laki sehingga menyebabkan kadar kreatinin lebih tinggi daripada wanita.
Penelitian ini sejalan dengan Study Of Renal Function Parameters in Type 2 Diabetic Patients, diperoleh hasil penelitian menunjukkan kadar kreatinin lebih tinggi pada laki-laki yaitu berjumlah 25 orang dari 40 responden. Shresta menyatakan hal ini terjadi karena perbedaan massa otot laki-laki dan perempuan sehingga mempengaruhi dari kadar kreatinin6.
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.8 menggunakan uji Korelasi Spearman kadar glukosa darah dengan kadar kreatinin diperoleh hasil r = 0,153 dan nilai p-value 0,264 bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar glukosa puasa dengan kadar kreatinin pada penderita DM tipe 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Santi Damayanti dkk tahun (2021) menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kadar gula darah dengan kadar kreatinin pada pederita DM tipe 2 dengan uji korelasi spearman diperoleh hasil p > 0,05 ( p= 0.982 ) nilai korelasi r
= 0,002. Kadar gula darah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti aktifitas fisik, diet, obat, dan stress dan kemas. Peningkatan kadar kreatinin serum pada pasien DM dimulai dengan adanya mikroalbumiuria atau proteinuria dan
39
perjalanan pasien DM merupakan suatu kompleks yang berkelanjutan.
Kompleksitas tertentu biasanya terjadi 10 sampai 15 tahun setelah onset DM.
Selain itu, pasien dapat berkembang menjadi gagal ginjal. Gagal ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor keturunan, pola makan, dan penyakit seperti tekanan darah tinggi dan gula darah tinggi, serta kadar gula darah yang tidak terkontrol. Hipertensi merupakan penyebab utama overfiltrasi dan peningkatan ketidakteraturan hemodinamik, dan kerusakan glomerulus, terutama perkembangan nefropati diabetik.9 DM disebabkan oleh gangguan hormon insulin. Karena kekurangan insulin maka glukosa tidak bisa di ubah menjadi glikogen yang mengakibatkan kadar gula darah meningkat. Sehingga organ ginjal tidak mampu menahan hiperglikemi ini, karena ambang batas gula darah adalah 180mg/dL sehingga jika terjadi hiperglikemi maka ginjal tidak dapat memfilter dan menyaring sejumlah glukosa dalam darah. Sehubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria.10
BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang penelitian “ Hubungan Kadar Glukosa Darah Puasa Dengan Kadar Kreatinin Pada Penderita DM Tipe 2 di RSUD Budhi Asih”
1 Didapatkan hasil rata rata kadar glukosa darah sebesar 157,42 dalam penilaian standar deviasi 65,647 dengan kadar glukosa darah terendah 76 dan tertiggi 464 dari 55 penderita DM tipe 2
2 Didapatkan hasil rata rata kadar kreatinin serum sebesar 1,1224 dalam peniaian standar deviasinya ialah 0,45636 dengan kadar kreatinin terendahnya 0,54 dan yang tertingginya ialah 2,77 dari 55 penderita DM tipe 2
3 Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar glukosa darah puasa dengan kadar kreatinin pada penderita Diabetes Melitus tipe 2, yakni nilai yaitu p-value 0,264.
5.2 Saran
1 Penelitian ini disarankan menjadi referensi dalam pengembangan ilmu dibidang laboratorium medis.
2 Saran Untuk institus RSUD Budhi Asih diharapkan dapat melengkapi dengan menyamakan data antara data hasil pemeriksaan labartorium di rekam medis dan di instalasi laboratarium .
3 Disarankan untuk peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan penambahan jumlah responden.
41
DAFTAR PUSTAKA
1. Infodatin-2020-Diabetes-Melitus (2). 2020.
2. Jend J, Subroto G, Bandung N. Gambaran Kadar Ureum Kreatinin Pada Penderita Diabetes Tipe-2 Di Rumah Sakit Otika Medika Serang Banten Ela Melani MS , 2 Ledy Anggita Kartikasari Program Studi Analis Kesehatan , Politeknik Piksi Ganesha Jurnal Infokes- Politeknik Piksi Ganesha 12 orang. 2020;12–22.
3. Nugroho rositta H. Determinan Tingkat Keparahan Pada pasien penderita Diabetes Mellitus. 2019;3(2).
4. Fandinata SS, Darmawan R. Pengaruh Kepatuhan Minum Obat Oral Anti Diabetik Terhadap Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II. 2020;10(1):23–31.
5. Meidikayanti W, Wahyuni CU, Timur J, Pamekasan K. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Diabetes Melitus Tipe 2 DI Puskesmas Pademawu The Correlation between Family Support with Quality of Life Diabetes Mellitus Type 2 in Pademawu.
2017;(August):240–52.
6. Jirna IN. Gambaran Kadar Kreatini Serum Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 DI Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.
2017;5(6):107–17.
7. Lestari DD, Purwanto DS. Gambaran Kadar Glukosa Darah Puasa Pada Mahasiswa Angkatan 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Dengan Indeks Massa Tubuh. 2011;991–6.
8. Istiqlal RF, Fitrianingsih E. Hubungan Lama Diagnosa Diabetes Melitus Terhadap Kadar Ureum Dan Kreatinin Di Puskemas Rensing. Media Med Lab Sci. 2018;64–71.
9. Damayanti S, Nekada CDY, Wijihastuti W. Hubungan Usia , Jenis kelamin dan Kadar Gula Darah Sewaktu Dengan Kadar Kreatinin Serum Pada Pasien Diabetes Mellitus Di RSUD Prambanan Sleman Yogyakarta diabetic Asia Tenggara pada tahun 2015 komplikasi diabetes yang diakibatkan komplikasi ( Kemenkes Rep. 2021;28–35.
10. Syahlani A, Anggun N. Hubungan Diabetes Melitus Dengan Kadar Ureum Kreatinin Di Poliklinik Geriatri RSUD Ulin Banjarmasin. 2016;7(2):20–31.
11. Dewi W, Widya K. Pengaruh usia, stres, dan diet tinggi karbohidrat Terhadap kadar glukosa darah. J Ilm Rekam Medis dan Inform Kesehat.
2018;8(1):2086–628.
12. M.E. “L’homme propose, mais dieu dispose.” Notes Queries. 1883;s6- VIII(184):7.
13. Yanti. Jurnal Keperawatan & Kebidanan Jurnal Keperawatan & Kebidanan.
J Keperawatan. 2021;13(1):213–26.
14. Rahmasari. Efektivitas momordica carantia (pare) terhadap penurunan kadar glukosa darah. J Ilm Rekam Medis dan Inform Kesehat.
2019;9(1):57–64.
15. Nugroho S. Pencegahan Dan Pengendalian Diabetes Melitus Melalui Olahraga. Medikora. 2015.
16. Sipayung R, Siregar FA, Nurmaini. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 pada Perempuan Usia Lanjut di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Bulan Medan Tahun 2017. J Muara Sains, Teknol Kedokteran, dan Ilmu Kesehat. 2017;2(1):78–86.
17. Murtiningsih MK, Pandelaki K, Sedli BP. Gaya Hidup sebagai Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2. e-CliniC. 2021;9(2):328.
18. Lathifah NL. Hubungan Durasi Penyakit dan Kadar Gula Darah Dengan Keluhan Subyektif Penderita Diabetes Melitus. J Berk Epidemiol [Internet].
2017;5(2):231–9. Available from: https://e-
journal.unair.ac.id/JBE/article/view/4781
19. Lestari L, Zulkarnain Z, Sijid SA. Diabetes Melitus: Review etiologi, patofisiologi, gejala, penyebab, cara pemeriksaan, cara pengobatan dan cara pencegahan. Pros Semin Nas Biol [Internet]. 2021;7(1):237–41. Available from: http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/psb/article/view/24229 20. Bhatt H, Saklani S, Upadhayay K. Anti-oxidant and anti-diabetic activities
of ethanolic extract of Primula Denticulata Flowers. Indones J Pharm.
2016;27(2):74–9.
43
21. Yuhelma, Hasneli I Y, Annis N F. Identifikasi dan Analisis Komplikasi Makrovaskuler dan Mikrovaskuler pada Pasien Diabetes Mellitus. J Online Mhs. 2015;2(1):569–79.
22. Khairani. Hari Diabetes Sedunia Tahun 2018. Pus Data dan Inf Kementrian Kesehat RI. 2019;1–8.
23. Dra.Mimin Kusmiyati MS. Praktikum kimia farmasi. 1375.
24. Susiwati S. Perbedaan Kadar Glukosa Darah Puasa Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Plasma NaF Berdasrkan Waktu Pemeriksaan DI RSUD dr. M.
Yunus Provinsi Bengkulu Tahun 2017. J Nurs Public Heal. 2018;6(1):82–7.
25. Bazar HBOB, Selatan SKML, Bazar HBOB, Hospital SKM, Selatan L.
Desember 2021. 2021;1:471–82.
26. Purwaningsih I, Supriyanto. Jurnal Laboratorium. J Lab Khatulistiwa.
2017;1(1):89–83.
27. Studi P, Dokter P, Kedoketeran F, Riau U, Kedoketeran F, Riau U. Tes Toleransi Glukosa Oral ( TTGO ) Pasca Pemberian Suspensi Kedelai Dibanding Suspensi Tempe pada Tikus ( Rattus norvegicus Galur Wistar ) Diabetik. :1–7.
28. Amran P, Rahman. Ensiklopedia Keperawatan Edisi Bahasa Indonesia. J Media Anal Kesehat [Internet]. 2008;9(2):149–55. Available from:
https://doi.org/10.32382/mak.v9i2.686
29. Vifta R, Wilantika W, Advistasari YD. Studi In Vitro Pontesi Antioksidan Dan Aktifitas Antidiabetes Fraksi Etil Asetat Buah Parijoto (Medinilla speciosa B.). J Tumbuh Obat Indones. 2019;12(2):93–102.
30. Subiyono, Martsiningsih MA, Gabrela D. Gambaran kadar glukosa darah metode GOD-PAP (Glucose Oxsidase – Peroxidase Aminoantypirin) sampel serum dan plasma EDTA (Ethylen Diamin Terta Acetat). J Teknol Lab [Internet]. 2016;5(1):45–8. Available from:
https://www.teknolabjournal.com/index.php/Jtl/article/view/77
31. Mengko. R. Perbedaan Kadar Glukosa Darah Tanpa Dan Dengan Hapusan Kapas Kering Metode POCT (Point-Of-Care-Testing). J Univ Muhammadiyah Semarang [Internet]. 2013;2030(September):661–5.
Available from:
https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn12012010/article/view/2955.
diakses pada 28 Maret 2021.
32. Arjani I. Gambaran Kadar Ureum Dan Kreatinin Serum Pada Pasien Gagal Ginjal Kronis (Ggk) Yang Menjalani Terapi Hemodialisis Di Rsud Sanjiwani Gianyar. Meditory J Med Lab. 2017;4(2):145–53.
33. Pendidikan P, Spesialis D, Klinik P, Sakit R, Sadikin H. Pemeriksaan Fungsi Ginjal. 2016;43(2):148–54.
34. Loho IKA, Rambert GI, Wowor MF. Gambaran kadar ureum pada pasien penyakit ginjal kronik stadium 5 non dialisis. J e-Biomedik. 2016;4(2):2–7.
35. Bayar S. Analisis Perbandingan Hasil Pemeriksaan Kreatinin Darah Dengan Deproteinisasi Dan Nondeproteinissi Metode Jaffe Reaction.
2018;1.
36. Aisyah Putri Azhar, Miratul khasanah GS. Pengembangan Sensor Kreatinin Melalui Elektroda Hanging Mercury Drop Dengan Molecularly Imprinted Poianlin.
37. Ningsih SA, Rusmini H, Purwaningrum R, Zulfian Z. Hubungan Kadar Kreatinin dengan Durasi Pengobatan HD pada Penderita Gagal Ginjal Kronik. J Ilm Kesehat Sandi Husada. 2021;10(1):202–7.
38. Tuaputimain S, Lestari E, Sukeksi A. Perbedaan Kadar Dan Sesudah Aktivitas Fisik. 2020;4:47–51.
39. Maps RSUD Budhi Asih [Internet]. Available from:
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.halodoc.co m%2Frumah-sakit%2Fnama%2Frsud-budhi-
asih&psig=AOvVaw1BVe7lV87WPLgzRZ7_IWhs&ust=16327647491250 00&source=images&cd=vfe&ved=0CAkQjRxqFwoTCKDLn9yXn_MCFQ AAAAAdAAAAABAD
40. komariah k rahayu. hubungan usia, jenis kelamin dan indeks massa tubuh dengan kadar glukosa darah puasa pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di klinik pratama rawat jalan, depok jawa barat. 2020;(Dm):41–50.
45
Lampiran
Lampiran 1 Surat Izin Keluar Peneitian univ.Binawan
Gambar 5. 1 Surat Izin keluar penelitian univ.Binawan
Lampiran 2 Surat Izin Penelitian
Gambar 5. 2 Surat Izin Penelitian
47
Lampiran 3 Ethical Clearance
Gambar 5. 3 Surat Ethical Clearance
Lampiran 4 Dokumentasi
Gambar 5. 4 ALAT ABX PENTRA 400
Gambar 5. 5 Alat Sentrifuge
Gambar 5. 6 Alat Pengambilan Darah
49
Lampiran 5 Rekapitulasi Data Exel
Tabel 5. 1 REKAPITULASI DATA EXEL
No
Inisial
Nama Usia
Jenis Kelamin
Kadar Glukosa
Darah Puasa Kadar Kreatinin
1 AA 54 Perempuan 281 0.69
2 M 49 Perempuan 177 0.99
3 R 74 Perempuan 161 1.66
4 AY 68 Laki- Laki 183 1.48
5 MJ 62 Laki- Laki 198 0.94
6 MR 54 Perempuan 200 1.42
7 MS 57 Laki- Laki 319 1.02
8 S 58 Perempuan 249 1.42
9 SA 56 Perempuan 196 1.74
10 SK 60 Perempuan 117 1.28
11 F 66 Perempuan 178 0.66
12 M 33 Perempuan 105 0.73
13 N 48 Perempuan 191 0.78
14 M 61 Perempuan 229 0.73
15 I 75 Laki- Laki 148 2.35
16 TA 46 Laki- Laki 111 1.01
17 M.M.B 76 Laki- Laki 215 2.77
18 S 64 Perempuan 108 0.77
19 MR 62 Laki- Laki 106 1.38
20 H 55 Perempuan 111 0.71
21 S 75 Laki- Laki 142 1.91
22 K 58 Perempuan 197 1.36
23 E 60 Laki- Laki 204 1.78
24 R 73 Laki- Laki 105 1.15
25 T 58 Perempuan 157 0.85
26 R 61 Perempuan 116 1.29
27 AH 43 Laki- Laki 149 1.11
28 ZK 74 Laki- Laki 171 1.47
29 SL 50 Perempuan 156 0.74
30 EL 56 Laki- Laki 101 0.92
31 MA 70 Laki- Laki 130 1.74
32 MA 69 Laki- Laki 148 1.33
33 N 55 Perempuan 148 1.19
34 H 53 Laki- Laki 100 1.03
35 K 65 Perempuan 125 0.64
36 B 64 Perempuan 87 0.63
37 R 76 Laki- Laki 92 1.23
38 ES 56 Perempuan 114 0.79
39 S 56 Perempuan 187 0.58
40 B 64 Laki- Laki 142 1.17
41 GS 65 Laki- Laki 101 1.65
42 IF 72 Perempuan 89 0.91
43 MR 54 Laki- Laki 76 1.18
44 R 76 Laki- Laki 464 1.54
51
45 I 66 Perempuan 144 0.77
46 Z 65 Perempuan 112 1.06
47 SP 65 Perempuan 158 0.62
48 M 54 Perempuan 96 0.68
49 NW 66 Perempuan 130 0.98
50 S 52 Perempuan 207 0.69
51 A 51 Laki- Laki 192 1.20
52 NT 59 Perempuan 146 0.85
53 K 47 Perempuan 106 0.89
54 SS 55 Perempuan 169 0.54
55 DJ 44 Laki- Laki 114 0.73
Lampiran 6 Hasil SPSS 1.Univariat
Usia
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 33-39 1 1,8 1,8 1,8
40-46 3 5,5 5,5 7,3
47-53 7 12,7 12,7 20,0
54-60 18 32,7 32,7 52,7
61-67 14 25,5 25,5 78,2
68-76 12 21,8 21,8 100,0
Total 55 100,0 100,0
Jenis kelamin
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Perempuan 32 58.2 58.2 58.2
Laki –Laki 23 41.8 41.8 100.0
Total 55 100.0 100.0
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Kadar Glukosa puasa 55 157,42 65,647 76 464
Kadar Kreatinin 55 1,1224 0,45636 0,54 2,77
53
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
kreatinin2 3 ,73 1,11 ,9500 ,19698
kreatinin3 7 ,69 1,20 ,9029 ,18218
kreatinin4 18 ,54 1,78 1,0556 ,38319
kreatinin5 16 ,62 1,65 ,9431 ,31694
kreatinin6 12 ,91 2,77 1,6283 ,51912
kreatinin1 1 ,73 ,73 ,7300 .
Valid N (listwise) 1
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
kratinin laki laki 23 ,73 2,77 1,3952 ,47858
kreatinin perempuan 32 ,54 1,74 ,9263 ,32450
Valid N (listwise) 23
2. Bivariat
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Kadar Glukosa
puasa Kadar Kreatinin
N 55 55
Normal Parametersa,b Mean 157,42 1,1224
Std. Deviation 65,647 0,45636
Most Extreme Differences Absolute 0,124 0,107
Positive 0,116 0,107
Negative -0,124 -0,101
Test Statistic 0,124 0,107
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,036c 0,170c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
Correlations
Kadar Glukosapuas
a
Kadar Kreatinin Spearman's
rho
Kadar Glukosapuasa
Correlation Coefficient
1.000 0.153
Sig. (2-tailed) . 0.264
N 55 55
Kadar Kreatinin Correlation Coefficient
0.153 1.000
Sig. (2-tailed) 0.264 .
N 55 55
55
Lampiran 7 Lembar Bimbingan
Nama : Nur Amalia Insani NIM : 061811050
Kegiatan : Proposal Bimbingan
No Tanggal Deskripsi TTD
1.
Senin 24 januari
2022
1) Gambar di bab 2 di cantumkan sitasi nya
2) Penulisan medik di ganti dengan medis .
3) Revisi pada daftar pustaka di rapihkan
4) Revisi pada bagian definisi oprasional spasi belum 1,5
5) Dan tambahkan daftar isi 2
Jum’at 4 febuari
2022
1) Revisi di bagian daftar isi sub dan sub bab nya saja yang dimasukan 2) Dan penulisan di rapihkan 3) Dan membuat ppt
3
Senin ,7 Febuari
2022
1) Propsal tugas akhir menggunakan huruf kapital
2) Nama pada cover menggunakan huruf kapital
3) Tambahkan lampiran 4) Konsistensi penulisan
5) Daftar pustaka dirapihkan dan diedit kembali
6) Membuat CV
8 februari 2022
ACC sidang proposal
Tugas Akhir 19 mei
2022
Pembahasan terkait pengolahan data dan revisi penulisan
Pembahasan bab IV
Konsisteni penulisan 28 mei
2022
Revisi bab IV
Dan revisi di bagaian pembahasan
17 juni 2022
Pembuatan manuscript
Konsisteni penulisan 27 juni
2022
Revisi manuscript
Bimbingan tugas akhir
57
59