• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Bivariat

Dalam dokumen Emmi Br Ginting NIM:011721006 (Halaman 64-114)

BAB V HASIL PENELITIAN

5.2 Analisis Bivariat

Analisis Bivariat dilakukan dengan uji Spearman rho untuk melihat apakah terdapat pengaruh usia, jenis kelamin, dan lamanya menjalani hemodialisa terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih. Distribusi Frekuensi Table Silang pengaruh usia, jenis kelamin, dan lamanya menjalani hemodialisa terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

5.2.1 Distribusi Frekuensi Table Silang pengaruh usia terhadap nilai IDWG.

Distribusi Frekuensi Table Silang pengaruh usia terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dapat dilihat pada Tabel 5.5

Tabel 5.5

Distribusi Frekuensi Table Silang pengaruh usia terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani

hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih

Usia %IDWG Total

p-value r

>3%

BB Kering

% <3%

BB Kering

% Jumlah %

18-40 tahun

6 75,0 2 25,0 8 100

0,000 0,507 41-60

tahun

24 72,7 9 27,3 33 100

>60 tahun

9 69,2 4 30,8 13 100

Total 39 72,2 15 27,8 54 100

Berdasarkan tabel di atas, menunjukan bahwa dari 54 responden, mayoritas berusia 41-60 tahun sebanyak 33 responden. Dari 33 responden, sebagian besar mempunyai presentase nilai IDWG > 3% BB kering sebanyak 24 responden (72,7%) dan responden yang mempunyai presentase nilai IDWG < 3% BB kering sebanyak 9 responden (27,3%). Diikuti responden yang berusia > 60 tahun sebanyak 13 responden, dimana mayoritas responden mempunyai nilai IDWG > 3% BB kering sebanyak 9 responden (69,2%) dan responden yang mempunyai nilai IDWG < 3% BB Kering sebanyak 4 responden (30,8%). Untuk responden yang berusia 18-40 tahun sebanyak 8 responden, dimana mayoritas responden mempunyai nilai

IDWG > 3% BB kering sebanyak 6 responden (75,0%) dan responden mempunyai nilai IDWG < 3% BB kering sebanyak 2 responden (25,0%).

Hasil analisa bivariat, diketahui bahwa p value 0,000 < 0,05 berarti terdapat hubungan antara usia terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih. Adapun r 0,507 menunjukan tingkat keeratan hubungan sedang.

5.2.2 Distribusi Frekuensi Table Silang Pengaruh Jenis Kelamin Terhadap Nilai IDWG.

Distribusi Frekuensi Table Silang pengaruh jenis kelamin terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dapat dilihat pada Tabel 5.6

Tabel 5.6

Distribusi Frekuensi Table Silang Pengaruh Jenis Kelamin Terhadap Nilai IDWG Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Rutin Di

RSUD Budhi Asih Jenis

Kelamin

%IDWG Total

p-value r

>3%

BB Kering

% <3%

BB Kering

% Jumlah %

Laki-laki 23 67,6 11 32,4 34 100

0,000 0,507

Perempuan 16 80,0 4 20,0 20 100

Total 39 72,2 15 27,8 54 100

Berdasarkan tabel di atas, menunjukan bahwa dari 54 responden, mayoritas mempunyai jenis kelamin laki-laki sebanyak 34 responden. Dari 34 responden tersebut, sebagian besar mempunyai presentase nilai IDWG >

3% BB kering sebanyak 23 responden (67,6%) dan responden yang mempunyai presentase nilai IDWG < 3% BB kering sebanyak 11

responden (32,4%). Untuk responden dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 20 responden, sebagian besar mempunyai nilai IDWG > 3% BB kering sebanyak 16 responden (80,0%) dan responden yang mempunyai nilai IDWG < 3% BB Kering sebanyak 4 responden (20,0%).

Hasil analisa bivariat, diketahui bahwa p value 0,041 < 0,05 berarti terdapat hubungan antara jenis kelamin terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih.

Adapun nilai r = 0,271 menunjukan tingkat keeratan hubungan lemah.

5.2.3 Distribusi Frekuensi Table Silang Pengaruh Lamanya Menjalani Hemodialisa Terhadap Nilai IDWG.

Distribusi Frekuensi Table Silang pengaruh lamanya menjalani hemodialisa terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dapat dilihat pada Tabel 5.6

Tabel 5.7

Distribusi Frekuensi Table Silang Pengaruh Lamanya Menjalani Hemodialisa Terhadap Nilai IDWG Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani

Hemodialisa Rutin Di RSUD Budhi Asih Lamanya

HD

%IDWG Total

p-value r

>3%

BB Kering

% <3%

BB Kering

% Jumlah %

<12 5 71,4 2 28,6 7 100

0,000 0,809

12-24 13 76,5 4 23,5 17 100

>24 21 70,0 9 30,0 30 100

Total 39 72,2 15 27,8 54 100

Berdasarkan tabel di atas, menunjukan bahwa dari 54 responden, mayoritas lamanya menjalani hemodialisa > 24 bulan sebanyak 30 responden. Dari 30 responden tersebut, sebagian besar mempunyai presentase nilai IDWG >

3% BB kering sebanyak 21 responden (70,0%) dan responden yang

mempunyai presentase nilai IDWG < 3% BB kering sebanyak 9 responden (30,0%). Diikuti responden yang menjalani hemodialisa 12-24 bulan sebanyak 17 responden, dimana sebagian besar mempunyai nilai IDWG >

3% BB kering sebanyak 13 responden (76,5%) dan yang mempunyai nilai IDWG < 3% BB Kering sebanyak 4 responden (23,5%). Untuk responden yang menjalani hemodialisa < 12 bulan sebanyak 7 responden, sebagian besar mempunyai nilai IDWG > 3% BB kering sebanyak 5 responden (71,4%) dan responden mempunyai nilai IDWG < 3% BB kering sebanyak 2 responden (28,6%).

Hasil analisa bivariat, diketahui bahwa p value 0,000 < 0,05 berarti terdapat hubungan antara lamanya menjalani hemodialisa terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih. Adapun nilai r = 0,809 menunjukan tingkat keeratan hubungan sangat kuat.

48

Pada bab ini akan diuraikan tentang hasil penelitian yang telah diperoleh untuk membuktikan hipotesis. Hasil penelitian ini akan dibandingkan dan diperkuat oleh penelitian sebelumnya maupun konsep atau teori yang ada.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif dengan jumlah sampel 54 responden. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April 2019.

6.1. Interpretasi dan Hasil Penelitian 6.1.1. PEMBAHASAN UNIVARIAT

6.1.1.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Berdasarkan tabel 5.1 menunjukan bahwa mayoritas responden yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih terbanyak berusia 41-60 tahun (61,1%).

Hal ini kemungkinan karena sebagian besar responden berada pada usia 60 tahun kebawah, dimana menurut Sarkar, Kotanko, dan Levin (2009), usia memiliki hubungan yang terbalik dengan IDWG. Semakin bertambah usia pasien, semakin sedikit atau kecil IDWG. Hal ini disebabkan karena penurunan sensasi haus akibat bertambah usia, sehingga konsumsi cairan menurun dan berimplikasi terhadap peningkatan berat badan yang minimal.

Pengambilan data secara cross sectional juga dapat menyebabkan hasil penelitian ini menemukan IDWG yang tinggi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Bayhakki dan Hesnali (2017) dalam penelitiannya yang berjudul ” Hubungan Lama Menjalani Hemodialisis dengan Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG) Pada Pasien Hemodialisa Di RSUD Dumai”, mayoritas

responden yang menjalani HD berusia 46-59 tahun dengan presentase sebanyak 41,2%, berusia 19-39 tahun dengan presentase 32,3%, dan usia > 60 tahun sebanyak 26,5%.

Begitu juga dengan penelitian Yuliana (2015) yang berjudul

”Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Terapi Hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta”, mayoritas

responden yang melakukan HD berusia 46-55 tahun sebanyak 34%, usia 56-65 tahun sebanyak 32,6%, usia 36-45 tahun sebanyak 15,2%, usia 26-35 tahun sebanyak 8,7%, dan usia > 65 tahun sebanyak 8,5%.

Mendukung hasil penelitian tersebut, menurut Hanum dkk (2015) dalam penelitiannya “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Secara Individual Tentang Pembatasan Cairan Terhadap Pengetahuan Tentang Pembatasan Cairan Dan IDWG (Inter- Dialytic Weight Gain) Pada Pasien Hemodialisis” menunjukan bahwa responden yang menjalani HD mayoritas berusia 45-60 tahun sebanyak 46,7%, usia >60 tahun sebanyak 30,0%, dan usia

<45 tahun sebanyak 23,3%.

Berdasarkan hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa responden yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih terbanyak berusia 41-60 tahun, dengan usia yang semakin lanjut diharapkan pasien yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dapat turut aktif menjaga pola makan dan aktifitas agar tidak terjadi peningkatan BB berlebih setelah menjalani hemodialisa.

6.1.1.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan tabel 5.2, distribusi frekuensi jenis kelamin responden yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih terbanyak adalah laki-laki (63,0%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yuliana (2015) yang berjudul “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Terapi Hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta“, mayoritas responden yang melakukan HD berjenis

kelamin laki-laki (63%).

Begitu juga dengan penelitian Hanum (2015), dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Secara Individual Tentang Pembatasan Cairan Terhadap Pengetahuan Tentang Pembatasan Cairan Dan IDWG (Inter-

Dialytic Weight Gain) Pada Pasien Hemodialisis RSUD Arifin Achmad Riau” menunjukan bahwa responden yang menjalani HD mayoritas adalah laki-laki dengan presentase 60,0%, dan perempuan dengan presentase 40,0%.

Bertolak belakang dengan hasil penelitian ini, menurut Hermawati (2016) dalam penelitiannya “Pengaruh Self Management Dietary Counseling Terhadap Self Care dan Status Nutrisi Pasien Hemodialisis RSUD Dr. Moewardi Surakarta”

menunjukan bahwa responden yang menjalani HD mayoritas adalah perempuan sebanyak 63,2%, dan laki-laki sebanyak 36,8%.

Berdasarkan hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa responden yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih terbanyak berjenis kelamin laki-laki, dimana secara emosi laki-laki lebih sulit mengontol emosi dibanding perempuan.

Sehingga dengan penyakit yang dialaminya diharapkan laki-laki lebih bisa mengontrol stressor yang terjadi pada dirinya.

6.1.1.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Lamanya Menjalani Hemodialisa

Berdasarkan tabel 5.3, distribusi frekuensi lamanya menjalani hemodialisa di RSUD Budhi Asih terbanyak adalah > 24 bulan (55,6%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yuliana (2015) yang berjudul ”Hubungan Dukungan Keluarga Dengan

Kepatuhan Pembatasan Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Terapi Hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta”, mayoritas responden yang melakukan HD lamanya

menjalani HD >24 bulan sebanyak 60,9%, responden yang menjalani HD 12-24 bulan sebanyak 32,6%, dan responden yang menjalani HD 6-11 bulan sebanyak 6,5%.

Begitu juga dengan penelitian Hanum (2015) yang berjudul “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Secara Individual

Tentang Pembatasan Cairan Terhadap Pengetahuan Tentang Pembatasan Cairan Dan IDWG (Inter-Dialytic Weight Gain) Pada Pasien Hemodialisis”, dalam penelitiannya menunjukan bahwa

responden yang menjalani HD lamanya mayoritas 12-60 bulan (66,7%), diikuti yang menjalani HD <12 bulan sebanyak 23,3%, dan yang menjalani HD >60 bulan sebanyak 10%.

Mendukung hasil penelitian tersebut, menurut Mustikasari dan Nooratri (2017) dalam penelitiannya “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Inter-Dialytic Weight Gain Pasien Hemodialisa Di RSUDPanembahan Senopati Bantul” menunjukan bahwa lamanya responden yang menjalani HD mayoritas > 24 bulan (68,1%).

Menurut Riyanto (2011), terdapat hubungan antara waktu hemodialisa terhadap nilai IDWG pasien, dimana dapat berpengaruh kualitas hidup pasien yang menjalani HD di Unit Hemodialisa IP2K RSUP Fatmawati dengan nilai p-value = 0,000.

Berdasarkan hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa responden yang menjalani hemodialisa rutin lamanya menjalani hemodialisa terbanyak di RSUD Budhi Asih adalah > 24 kali. Sehingga dengan pengalaman HD yang telah dijalaninya diharapkan responden lebih dapat menjaga peningkatan berat badannya dan pola makannya, serta responden tetap menjaga kebiasaan hemodialisanya sesuai jadwal.

6.1.1.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Gambaran Nilai IDWG

Berdasarkan tabel 5.4, distribusi frekuensi nilai IDWG responden yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih terbanyak adalah >3% BB Kering (72,2%), dan nilai IDWG responden < 3% BB Kering sebanyak 27,8%.

Pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa lama sering kali mengalami kegagalan menjalani diet, pengaturan cairan, dan pengobatan. Dilaporkan lebih dari 50%

pasien yang menjalani terapi hemodialisa tidak patuh dalam pembatasan cairan (Bannet et al (2008) dalam Shapperd, 2011).

Pembatasan cairan sering kali sulit dilakukan oleh pasien, terutama jika mereka mengkonsumsi obat-obatan yang membuat membrane mukosa kering seperti diuretik, sehingga menyebabkan rasa haus dan pasien berusaha untuk minum. Dalam kondisi normal, manusia tidak dapat bertahan lebih lama tanpa asupan cairan dibandingkan makanan (Potter & Perry, 2008).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Mustikasari dan Nooratri (2017) “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Inter-Dialytic Weight Gain Pasien Hemodialisa Di RSUD Panembahan Senopati Bantul”, mayoritas responden yang

melakukan HD mayoritas responden menunjukan nilai IDWG >3%

BB Kering (58,9%) dan responden yang mempunyai nilai IDWG

<3% BB Kering dengan presentase 31,1%.

Begitu juga dengan penelitian Octaviani, dkk (2017), dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Intervensi Self Care Management Terhadap Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG) Pada Pasien Hemodialisa di RSUD Ambarawa” menunjukan bahwa responden yang menjalani HD mayoritas nilai IDWG >3% BB Kering sebanyak 66,7% dan responden yang mempunyai nilai IDWG <3% BB Kering sebanyak 33,3%.

Mendukung hasil penelitian tersebut, menurut Shoumah, dkk (2017) dalam penelitiannya “Hubungan Depresi dengan Inter- Dialytic Weight Gain (IDWG) Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Di RSUD Kota Semarang”

menunjukan bahwa nilai IDWG pasien >3% BB Kering (62,1%) dan nilai IDWG pasien <3% BB Kering sebanyak 27,9%.

Berdasarkan hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa responden yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih terbanyak mengalami peningkatan IDWG >3% BB Kering. Sehingga dengan peningkata nilai IDWG >3% BB Kering

diharapkan pasien lebih berhati-hati dalam menjaga pola makan dan mematuhi jadwal hemodialisa serta meminum obat yang diberikan dokter tepat waktu dan dosis.

6.1.2. PEMBAHASAN BIVARIAT

Berdasarkan tabel 5.5, 5.6 dan 5.7, tentang hasil penelitian terkait pengaruh usia, jenis kelamin, dan lamanya menjalani hemodialisa terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih adalah:

6.2.1.1 Pengaruh Usia Terhadap Nilai IDWG

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa nilai p-value usia dalam penelitian ini adalah 0,000 < 0,05 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,507. Dengan demikian ada pengaruh usia terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dengan tingkat keeratan hubungan sedang.

Semakin cukup usia, tingkat kematangan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja sehingga dapat berpengaruh terhadap nilai IDWG pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin (Nursalam, 2010). Dengan bertambah usia pasien, semakin kecil nilai IDWG, hal ini disebabkan karena penurunan sensasi haus (Bayhakki dan Husnelli).

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian

Syamsiah (2011) “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Pasien CKD yang Menjalani Hemodialida di RSPAU Dr Esnawan Antariksa 49 Halim Perdana Kusuma Jakarta”, terdapat hubungan antara usia

dengan nilai IDWG dengan nilai p-value = 0.006.

Penelitian Izzati dan Annisha (2016) “Faktor- faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien yang menjalani hemodialysis di ruang hemmodialisa di RSYD Dr. Achmad Mochtar Bukit Tinggi” juga menunjukan bahwa terdapat hubungan antara usia dengan nilai IDWG pasien HD di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukit Tinggi dengan nilai p-value = 0,016.

Menurut Hermawati, dkk (2016) dalam penelitiannya “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self

Care Diet Nutrisi Pasien Hemodialisa Di RSUD DR.

Moewardi Surakarta”, usia juga dapat berpengaruh terhadap sellf care diet nutrisi pasien Hemodialisa dimana hal tersebut dapat berpengaruh terhadap nilai IDWG pasien dengan nilai p-value = 0.006.

Kesimpulan peneliti ini adalah ada pengaruh usia terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dengan nilai p-value 0,000 <0,05.

6.2.1.2 Pengaruh Jenis Kelamin Terhadap Nilai IDWG

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa nilai p-value jenis kelamin dalam penelitian ini adalah 0,041 <

0,05 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,271. Dengan demikian ada pengaruh jenis kelamin terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dengan keeratan hubungan rendah.

Dalam penelitian Lindberg (2010) yang berjudul

Eccesive Fluid Overload Among Haemodialysis Patient :

Prevalence, Individual Characteristic And Self Regulation Fluid Intake”, laki-laki dan perempuan mempunyai faktor

resiko yang sama untuk terjadi peningkatan IDWG. Selain faktor kepatuhan, air total tubuh laki-laki membentuk 60%

berat badannya, sedangkan air total tubuh dari perempuan membentuk 50% dari berat badannya. Terkait dengan hal tersebut, pada pasien hemodialisis penambahan berat badan diantara dua waktu dialisis pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Izzati dan Annisha (2016) “Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien yang menjalani hemodialysis di ruang hemmodialisa di RSYD Dr. AAchmad Mochtar Bukit Tinggi“ menunjukan bahwa ada hubungan antara

jenis kelamin terhadap kepatuhan pasien HD di RSUD Dr.

Achmad Mochtar Bukit Tinggi dengan nilai p-value = 0,005.

Bertolak belakang dengan hasil penelitian ini yang mengatakan terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan IDWG, Istanti (2011) “Hubungan Antara Masukan Cairan dengan Interdialytic Weight Gains (IDWG) Pada Pasien Chronic Kidney Disease Di Unit Hemodiaalisa RS PKU Muhammadyah Yogyakarta”, tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan IDWG dengan nilai p-value = 0.775.

Penelitian yang dilakukan oleh Hermawati, dkk (2016)“Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self Care Diet Nutrisi Pasien Hemodialisa Di RSUD DR. Moewardi Surakarta“ juga menunjukan hal yang sama, bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin terhadap sellf care diet nutrisi pasien Hemodialisa yang dapat berpengaruh terhadap nilai IDWG di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan nilai p-value = 0.793.

Begitu juga penelitian yang dilakukan Syamsiah (2011) “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Pasien CKD yang Menjalani Hemodialida di RSPAU Dr Esnawan Antariksa 49 Halim Perdana Kusuma Jakarta”, menunjukan tidak terdapat hubungan antara jenis

kelamin dengan tingkat kepatuhan pembatasan cairan pasien HD di RSPAU dr. Esnawan Antariksa Halim Perdana Kusuma Jakarta dengan nilai p-value = 0.382.

Kesimpulan peneliti ini adalah ada pengaruh jenis kelamin terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dengan nilai p-value 0,041 <0,05.

6.2.1.3 Pengaruh Lamanya HD Terhadap Nilai IDWG

Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa nilai p-value lamanya HD dalam penelitian ini adalah 0,000 <

0,05 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,809. Dengan demikian terdapat pengaruh lamanya HD terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dengan keeratan hubungan sangat kuat.

Penelitian ini didukung oleh Hadi dkk (2015)

“Faktor-faktor yang mempengaruhi self care diet nutrisi pasien hemodialisa di RSUD Dr. Moewardi Surakarta”,

menunjukan ada hubungan antara lamanya menjalani HD dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang dapat berpengaruh terhadap IDWG di RS PKU Muhammadiyah Unit II Yogyakarta dengan nilai p-value = 0.009.

Pada Penelitian Syamsiah (2011)“Faktor-Faktor

yang Berhubungan dengan Kepatuhan Pasien CKD yang Menjalani Hemodialida di RSPAU Dr Esnawan Antariksa 49 Halim Perdana Kusuma Jakarta”, terdapat hubungan

antara lamanya HD dengan nilai IDWG pasien HD di RSPAU dr. Esnawan Antariksa Halim Perdana Kusuma Jakarta dengan nilai p-value = 0.015.

Penelitian yang dilakukan oleh Bayhakki (2017) dalam penelitiannya yang berjudul ” Hubungan Lama

Menjalani Hemodialisis dengan Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG) Pada Pasien Hemodialisa Di RSUD Dumai”, menunjukan bahwa terdapat hubungan antara

lama menjalani hemodialisis dengan IDWG dengan nilai p-value = 0,009.

Bertolak belakang dengan hasil penelitian ini, Mustikasari dan Nooratri (2017) “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Interdialytic Weight Gain Pasien Hemodialisa di RSUD Panembahan Senopati Bantul“ juga menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara lamanya HD terhadap kepatuhan pasien HD (IDWG) di RSUD Panembahan Senopati Bantul dengan nilai p-value = 0,16.

Kesimpulan peneliti ini adalah terdapat pengaruh lamanya HD terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dengan nilai 0,000 < 0,05.

6.2. Keterbatasan Penelitian

Dalam penyusunan laporan hasil penelitian ini, peneliti mengalami keterbatasan penelitian saat pengambilan data penelitian yang awalnya direncanakan dengan 58 responden penelitian pada akhirnya hanya menggunakan 54 terdapat 4 responden yang meinggal dunia.

6.3. Implikasi Terhadap Pelayanan Keperawatan, Pendidikan dan Penelitian

6.3.1 Pelayanan Keperawatan

Perlunya memberikan pemahaman terhadap semua pasien yang menjalani hemodialisa bahwa dalam menjalani proses perawatan hemodialisa pasien harus patuh terhadap saran perawat atau dokter termasuk patuh menjalani diet, patuh minum obat, dan patuh control rutin sesuai jadwal yang ditentukan.

6.3.2 Pendidikan Keperawatan

Penelitian ini dapat memberikan referensi baru terkait hasil penelitiaan tentang pentingnya menjaga keseimbangan cairan pasien yang menjalani hemodialisa dilihat dari nilai IDWG pasien.

Sehingga sebagai seorang perawat yang professional harus selalu memperbaharui informasi tentang apa saja yang harus diperhatikan dalam perawatan pasien yang menjalani hemodialisa.

6.3.3 Penelitian

Penelitian ini dapat menjadi acuan atau referensi bagi peneliti selanjutnya tentang perawatan pasien yang menjalani hemodialisa.

62

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab akhir ini, akan diuraikan kesimpulan dari pembahasan dan saran berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan.

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

7.1.1 Usia pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih Jakarta mayoritas adalah 41-60 tahun (61,1%).

7.1.2 Jenis Kelamin pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih Jakarta mayoritas adalah laki-laki (63,0%).

7.1.3 Lamanya pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih Jakarta mayoritas adalah > 24 bulan (55,6%)

7.1.4 Nilai IDWG pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih Jakarta myoritas adalah >3% BB Kering (72,2%).

7.1.5 Terdapat Pengaruh antara usia terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih Jakarta dengan nilai p-value = 0,000 dan r = 0,507.

7.1.6 Terdapat Pengaruh antara jenis kelamin terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di

RSUD Budhi Asih Jakarta dengan nilai p-value = 0,041 dan r = 0,271.

7.1.7 Terdapat Pengaruh antara lamanya HD terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih Jakarta dengan nilai p-value = 0,000 dan r = 0,809.

7.2 Saran

7.2.1. Saran Bagi Responden

7.2.1.1 Diharapkan responden selalu memperbaharui informasi yang didapatnya tentang penyakit Gagal Ginjal Kronik dan apa saja yang perlu diperhatikan oleh pasien yang menjalani terapi hemodialisa.

7.2.1.2 Responden turut aktif dalam menjaga gaya hidup dan pola makan yang sehat terutama memperhatikan asupan cairan yang masuk dalam tubuh dan yang keluar.

7.2.1.3 Responden patuh dalam menjalankan terapi, mematuhi diet dan patuh dalam memeriksakan kesehatannya.

7.2.2. Saran Bagi Keperawatan

Perlunya memberikan pemahaman terhadap pasien tentang bahayanya apabila BB pasien tidak terkontrol ataupun pasien tidak patuh dalam menjalani HD secara rutin.

Dalam dokumen Emmi Br Ginting NIM:011721006 (Halaman 64-114)

Dokumen terkait