BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.2 Hemodialisa
2.1.3.2 Klasifikasi IDWG
Menurut Neumann (2013) IDWG yang dapat ditoleransi oleh tubuh adalah tidak lebih dari 3% dari berat kering. Kozier (2010) mengklasifikasikan penambahan berat badan menjadi 3 kelompok, yaitu berat badan ringan, sedang, dan berat dengan kriteria sebagai berikut :
Tabel 2.1.3.2
Klasifikasi Kenaikan Berat Badan (Neuman, 2013)
Grafik Rentang Presentase Kenaikan
Ringan 2% <4%
Sedang 5% 4-6%
Berat 8% >6%
Pengukuran nilai IDWG menurut Neuman (2013) terbagi dalam 2 bagian:
1. > 3 % BB kering dikatakan meningkat
2. < 3 % BB kering dikatakan dapat ditoleransi tubuh.
Pengukuran Interdialytic Weight Gain (IDWG) diukur berdasarkan berat badan kering (dry weight) pasien dan juga dari pengukuran kondisi klinis pasien. Berat badan kering adalah berat badan tanpa kelebihan cairan yang terbentuk antara perawatan
dialisis atau berat badan terendah yang aman dicapai pasien setelah dilakukan dialisis (Linberg, 2010).
Pembatasan cairan pada pasien GGK dengan HD satu sama lain sama yaitu 600 ml dalam 24 jam, sementara kebutuhan cairan individu satu dengan yang lainnya jelas berbeda sesuai dengan luas tubuh dan kondisi fisiknya. Pengaturan asupan cairan adalah berdasarkan keluaran urin dalam 24 jam + insensible water loss (IWL) total (kehilangan yang tidak disadari) + EWL (muntah dan diare) (Le Mone, Burke & Bauldoff (2011) dalam Rahman, 2014).
2.1.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai IDWG (Linberg (2010) dalam Mustikasari dkk, 2017)
1.) Usia.
Usia adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat beberapa tahun. Semakin cukup usia, tingkat kematangan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja (Nursalam, 2010).
Kategori Umur Menurut Hurlock (2008):
1. Dewasa Awal = 18-40 tahun.
2. Dewasa madya = 41-60 tahun.
3. Dewasa lanjut = > 60 tahun.
Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Istanti (2011), tidak ada hubungan antara umur dengan IDWG (r = 0.177, p-value = 0.32). Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Hermawati, dkk (2016), terdapat hubungan antara umur dengan sellf care diet nutrisi pasien Hemodialisa di RSUD Dr. Moewardi Surakarta (p-value = 0.006). Pada Penelitian Syamsiah (2011), terdapat hubungan antara usia dengan tingkat kepatuhan pembatasan cairan pasien HD di RSPAU dr. Esnawan Antariksa Halim Perdana Kusuma Jakarta (p-value = 0.006). Penelitian Izzati dan Annisha (2016) menunjukan bahwa ada hubungan antara umur terhadap kepatuhan pasien HD di RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukit Tinggi (p-value = 0,016).
2.) Jenis Kelamin.
Jenis kelamin adalah atribut-atribut fisiologis dan anatomis yang membeda-kan laki-laki dan perempuan (Wade, 2008).
Sedangkan menurut Mubarak (2009), jenis kelamin adalah kata yang umumnya digunakan untuk membedakan seks seseorang (laki-laki atau perempuan).
Baik laki-laki maupun perempuan mempunyai faktor resiko yang sama untuk terjadi peningkatan IDWG. Selain faktor kepatuhan, air total tubuh laki-laki membentuk 60% berat
badannya, sedangkan air total tubuh dari perempuan membentuk 50% dari berat badannya. Laki-laki memiliki komposisi tubuh yang berbeda dengan perempuan dimana jaringan otot laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan yang memiliki lebih banyak jaringan lemak.
Lemak merupakan zat yang bebas air, maka makin sedikitnya lemak akan mengakibatkan makin tinggi presentase air dari berat badan seseorang. Total air tubuh akan memberikan penambahan berat badan yang meningkat lebih cepat daripada penambahan yang disebabkan oleh kalori. Terkait dengan hal tersebut, pada pasien hemodialisis penambahan berat badan diantara dua waktu dialisis pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan (Linberg, 2010).
Penelitian Hakiki dkk (2015), menunjukan bahwa jenis kelamin merupaan salah satu faktor yang berhubungan dengan kepatuhan asupan cairan dan nutrisi pada klien yang menjalani HD di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dengan nilai p-value 0,0053.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Istanti (2011), tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan IDWG (p- value = 0.775). penelitian yang dilakukan oleh Hermawati,
dkk (2016) juga menunjukan hal yang sama bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin terhadap sellf care diet nutrisi pasien Hemodialisa di RSUD Dr. Moewardi Surakarta (p-value = 0.793). Begitu juga penelitian yang dilakukan Syamsiah (2011), menunjukan tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan pembatasan cairan pasien HD di RSPAU dr. Esnawan Antariksa Halim Perdana Kusuma Jakarta (p-value = 0.382). Penelitian Izzati dan Annisha (2016) menunjukan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin terhadap kepatuhan pasien HD di RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukit Tinggi (p-value = 0,053).
3.) Tingkat Pendidikan
Menurut Notoadmojo (2014) pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Pembagian tingkat pendidikan menurut Notoatmodjo (2010) adalah:
1) Pendidikan Dasar: SD, SMP/Sederajat 2) Pendidikan Menengah: SMA/Sederajat
3) Pendidikan Tinggi: Akademik/Perguruan Tinggi
Terdapat kaitan antara tingkat pendidikan terhadap perilaku positif yang menjadi dasar pengertian atau pemahaman dan perilaku dalam diri seorang individu. Tingkat pendidikan sering dihubungkan dengan pengetahuan, dimana seseorang yang berpendidikan tinggi diasumsikan lebih mudah menyerap informasi sehingga pemberian asuhan keperawatan dapat disesuaikan dengan tingkat pendidikan yang mencerminkan tingkat kemampuan pemahaman dan kemampuan menyerap edukasi self care (Notoatmodjo, 2010).
Pengelolaan IDWG tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, namun dapat juga dihasilkan dari pengetahuan, sikap dan tindakan pasien terhadap pengelolaan diet, cairan yang diperoleh pasien dari pengalaman sendiri atau orang lain dan sumber informasi lain seperti media. Tingkat pendidikan tidak memberikan perbedaan terhadap kemampuan melakukan perawatan mandiri pasien hemodialisis. Pasien hemodialisis dapat melakukan perawatan mandiri tanpa dipengaruhi oleh tingkat pendidikan akan tetapi dipengaruhi oleh informasi yang didapat. Kurangnya pengetahuan tentang GGK terutang tentang IDWG dan pembatasan cairan karena kurangnya
informasi dari petugas kesehatan karena dengan tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah tidak memungkinkan untuk mendapatkan informasi dari sumber lain misalnya dari internet ataupun seminar (Price &
Wilson, 2012).
Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Istanti (2011), tidak ada hubungan antara pendidikan dengan IDWG (p- value = 0.753). Berbeda dengan penelitian Istanti (2011), penelitian yang dilakukan oleh Hermawati, dkk (2016), terdapat hubungan antara tingkat pendidikan terhadap sellf care diet nutrisi pasien Hemodialisa di RSUD Dr.
Moewardi Surakarta (p-value = 0.003). Sejalan dengan Hermawati, dkk (2016), penelitian Syamsiah (2011) menunjukan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan dengan tingkat kepatuhan pembatasan cairan pasien HD di RSPAU dr. Esnawan Antariksa Halim Perdana Kusuma Jakarta (p-value = 0.003).
4.) Lamanya HD
Penelitian yang dilakukan oleh Hadi (2015), menunjukan ada hubungan antara lamanya menjalani HD dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik di RS PKU Muhammadiyah Unit II Yogyakarta (r =
- 0.225, p-value = 0.009). Pada Penelitian Syamsiah (2011), terdapat hubungan antara lamanya HD dengan tingkat kepatuhan pembatasan cairan pasien HD di RSPAU dr.
Esnawan Antariksa Halim Perdana Kusuma Jakarta (p- value = 0.015).
Sedangkan menurut Mustikasari dan Nooratri (2017) menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara lamanya HD terhadap kepatuhan pasien HD (IDWG) di RSUD Panembahan Senopati Bantul (p-value = 0,16).
Bayhakki (2017), hasil penelitiannya menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara lama menjalani hemodialisis dengan IDWG (r = 0,01, p-value = 0,95).
Menurut Riyanto (2011), terdapat hubungan antara waktu hemodialisa terhadap nilai IDWG pasien, dimana dapat berpengaruh kualitas hidup pasien yang menjalani HD di Unit Hemodialisa IP2K RSUP Fatmawati dengan nilai p- value = 0,000.
Kategori lamanya HD menurut Mustikasari dan Nooratri (2017), di bagi dalam 3 kategori yaitu:
1. <12 bulan 2. 12-24 bulan 3. >24 bulan
2.1.3.4 Komplikasi IDWG Berlebih
IDWG melebihi 4,8% akan meningkatkan mortalitas meskipun tidak dinyatakan besarannya. Penambahan nilai IDWG yang terlalu tinggi dapat menimbulkan efek negatif terhadap tubuh diantaranya terjadi hipotensi, kram otot, sesak nafas, mual dan muntah (Moissl et al, 2013).
Peningkatan berat badan selama periode interdialitik mengakibatkan berbagai macam komplikasi. Komplikasi ini sangat membahayakan pasien kerena pada saat periode interdialitik pasien berada dirumah tanpa pengawasan dari petugas kesehatan. Sebanyak 60%-80% pasien meninggal akibat kelebihan intake cairan dan makanan pada periode interdialitik (Istanti, 2009).
Adanya kelebihan cairan yang melebihi IDWG dapat dimanifestasikan : tekanan darah meningkat, nadi meningkat, dispnea, rales basah, batuk, edema. IDWG yang berlebihan pada pasien dapat menimbulkan masalah, diantaranya yaitu : hipertensi yang semakin berat, gangguan fungsi fisik, sesak nafas, edema pulmonal yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kegawatdaruratan hemodialisis, meningkatnya resiko dilatasi, hipertropi ventrikuler dan gagal jantung (Smeltzer & Bare, 2008).
Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Istanti (2011), ada hubungan antara masukan cairan dengan IDWG (r = 0.541, p- value = 0.000).
2.2 Kerangka Teori.
Kerangka teori dalam penelitian ini adalah:
Bagan 2.1 Kerangka Teori
Sumber: Price & Wilson, (2012), Neuman (2013), Linberg (2010) dalam Mustikasari dkk, 2017), Smeltzer & Bare (2008)
Keterangan:
Diteliti Tidak diteliti
Gagal Ginjal Kronik
Hemodialisa
Nilai IDWG (Neuman, 2013)
Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai IDWG Linberg (2010) dalam Mustikasari dkk, 2017), Smeltzer &
Bare (2008) :
1. Tingkat pendidikan 2. Kepatuhan pasien 3. Adekuasi hemodialisa.
4. Kecepatan aliran hemodialisa 5. Ultra filtrasi
6. Cairan dialisat yang digunakan 7. Usia
8. Jenis Kelamin 9. Lama Hemodialisa
30
KERANGKA KERJA PENELITIAN
Pada bab ini akan dibahas tentang beberapa konsep yang mendasari penelitian yang dibuat dalam kerangka agar mudah dipahami dalam penelitian dan kerangka kerja penelitian dan definisi yang menggambaran tentang variabel yang akan ditanyakan kepada responden.
3.1 Kerangka Penelitian
Kerangka penelitian adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur dalam penelitian yang akan dilakukan (Notoatmojo,2009).
Kerangka penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Bagan 3.1 Kerangka penelitian
Variable independen Variabel dependen
Usia Dewasa:
1. Dewasa Awal 2. Dewasa Madya 3. Dewasa lanjut
Jenis Kelamin:
Laki-laki
Perempuan Lama Hemodialisa:
< 12 bulan
12-24 bulan
> 24 bulan
Nilai IDWG
> 3 % BB Kering
< 3 % BB Kering
3.2 Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional
Variabel penelitian adalah merupakan suatu subjek, atau sifat, atau atribut, atau nilai dari orang, atau kegiatan yang mempunyai bermacam-macam variasi antara satu dengan lainnya yang ditetapkan oleh peneliti dengan tujuan untuk dipelajari dan di tarik kesimpulan (Notoatmojo,2009)
3.2.1 Variabel Penelitian
a. Variabel dependen adalah variabel yang terkait dengan variabel- variabel yang lain yang berhubungan dengannya. Nilai variabel dependen ditentukan oleh variabel independen (Notoatmojo,2009).
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah inilai IDWG.
b. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi/ mempunyai hubungan dengan variabel dependen. Variabel independen bisa lebih dari satu. (Notoatmojo,2009). Variabel independen dalam penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, dan lama hemodialisa.
3.2.2 Definisi Operasional
Menurut Sugiono (2014) defenisi operasional adalah penentuan konstrak atau sifat yang akan dipelajari sehingga menjadi variabel yang dapat di ukur. Defenisi operasional menjelaskan cara tertentu yang digunakan untuk meneliti dan mengoperasikan konstrak, sehingga memungkinkan bagi peneliti yang lain untuk melakukan replikasi pengukuran dengan cara yang sama untuk mengembangkan cara pengukuran konstrak yang lebih baik.
Tabel 3.2.2 Definisi Operasional
A. Variabel dependen
NO Variabel Defenisi operasinal Alat ukur Hasil ukur Skala
1
2
3
Usia Dewasa
Jenis Kelamin
Lama Hemodialisa
usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat sekarang menjalani Hemodialisis dimana dalam penelitian ini pasien yang dijadikan objek penelitian hanya pasien dewasa saja karena pasien yang menjalani HD di RSUD Budhi Asih hanya dewasa (Nursalam, 2010).
Jenis kelamin adalah kata yang umumnya digunakan untuk membedakan seks seseorang (laki- laki atau perempuan) (Mubarak, 2009).
Lamanya pasien GGK menjalani hemodialysis di Unit Dialisis RSUD Budhi Asih Jakarta Timur
Kuesioner
Kuesioner
Medical Status
Kategori usia menurut Depkes (2009)
1. Dewasa Awal = 18–40 tahun.
2. Dewasa Madya = 41–60 tahun.
3. Dewasa Ahir =
> 60 tahun.
1. Laki-laki 2. Perempuan
1. < 12 bulan 2. 12-24 bulan 3. > 24 bulan
Ordinal
Nominal
Nominal
B. Variabel independen
1 Nilai IDWG Nilai hasil pengukuran yang dilakukan setelah dilakukan tindakan hemodialisis (Neuman, 2013).
Timbangan Berat Badan (BB)
Nilai IDWG 1. > 3 % BB Kering 2. < 3 % BB Kering
Nominal
3.3 Hipotesis Penelitian
Ha:Ada Pengaruh Usia, Jenis Kelamin, dan Lamanya Hemodialisa terhadap Nilai Interdialytic Weight Gain (IDWG) Pada Pasien Dewasa Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa di RSUD Budhi Asih.
33 4.1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan metode Analitik-korelatif kuantitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel.
Pengambilan data dilakukan dengan pendekatan Cross Sectional (Hidayat, 2008).
4.2. Populasi dan Sampel 4.2.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah pasien yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih. Pada penelitian ini semua anggota populasi menjadi subjek penelitian. Semua populasi yang digunakan sebagai sumber data penelitian dinamakan sampel. Populasi penelitian ini sebanyak 54 pasien. Populasi awalnya adalah 58 pasien, tetapi pada perjalanannya terdapat 4 sampel yang meninggal dunia, jadi dalam penelitian ini hanya menggunakan 54 sampel responden pada ruang Hemodialisa RSUD Budhi Asih.
4.2.2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik nonprobability yaitu sampel jenuh atau sering disebut total sampling. Sampel pada penelitian ini sebanyak 54 responden.
4.2.2.1. Kriteria Inklusi dalam penelitian ini adalah:
a. Pasien yang menjalani HD rutin di RSUD Budhi Asih b. Pasien yang menjalani hemodialisa saat dilakukan
penelitian.
c. Pasien yang berusia > 18 tahun
d. Pasien yang setuju menjadi responden penelitian 4.2.2.2. Kriteria Ekslusi dalam penelitian ini adalah:
Pasien yang tidak setuju menjadi responden penelitian
4.3. Tempat dan Waktu Penelitian 4.3.1. Tempat
Penelitian ini dilakukan di ruang HD RSUD Budhi Asih.
4.3.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada April 2019.
4.4. Alat Pengumpulan Data
Menurut Notoatmojo (2010), setelah data terkumpul maka langkah yang dilakukan selanjutnya adalah pengolahan data. Pada umumnya langkah- langkah pengolahan yaitu:
4.4.1. Editing (Penyuntingan Data)
Hasil wawancara atau angket yang diperoleh atau dikumpulkan melalui kuesioner perlu di sunting (edit) terlebih dahulu. Secara umum editing adalah merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir alat kuesioner.
4.4.2. Coding
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting selanjutnya dilakukan pengkodean atau coding yaitu mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Untuk usia: 18-40 tahun coding “1”, 41-60 tahun coding “2”, >60 tahun coding 3.
Jenis kelamin: laki-laki coding “1”, perempuan coding “2”.
Lamanya hemoialisa: <12 bulan coding “1”, 12-24 bulan coding
“2”, >24 bulan coding “3”. Nilai IDWG: IDWG >3% BB kering coding“1” dan IDWG <3% BB keringcoding 2.
4.4.3. Data Entry/processing
Memasukan data yaitu jawaban dari masing-masing responden dalam bentuk kode (angka atau huruf) dimasukan kedalam program komputer dengan menggunakan program SPSS tippe 16.
4.4.4. Cleaning
Cleaning atau pembersihan data disetiap sumber data atau responden selesai dimasukan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya, kemudian dilakukan pembentukan atau korelasi.
Proses ini disebut pembersihan data (data cleaning).
4.4.5. Scoring
Instrumen atau alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dengan pertanyaan terbuka.
4.5. Instrumen Penelitian
Pada penelitian ini digunakan statistik analitik, dan Pengujian secara korelatif dilakukan melalui pengolahan data menggunakan program komputer SPP tipe 16. Uji coba kuisioner tidak dilakukan peneliti dikarenakan kuesioner yang digunakan sudah baku. Kuisioner dalam penelitian ini berisi tentang: Umur, jenis Kelamin, Lamanya HD, dan Nilai IDWG.
4.6. Metode Pengumpulan Data
Prosedur yang telah dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
4.6.1. Setelah proposal yang diajukan mendapat persetujuan dari koordinator dan pembimbing dari dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Binawan, dilakukan dengan membawa surat permohonan dari institusi yang diajukan kepada RSUD Budhi Asih.
4.6.2. Setelah mendapatkan izin dari Direktur Rumah Sakit Budhi Asih, peneliti menyerahkan surat kepada kepala ruangan HD di ruang HD RSUD Budhi Asih.
4.6.3. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari kuesioner tentang umur, jenis kelamin, lamanya menjalani HD, dan interpretasi nilai IDWG. Peneliti
memberikan penjelasan kepada responden tentang tujuan dan prosedur penelitian, serta persetujan responden dilanjutkan dengan pengisian kuesioner oleh responden dan dibantu peneliti. Kuesioner berbentuk lembar pengisian jawaban terkait umur, jenis kelamin.
Untuk pertanyaan lamanya HD dilihat dari medical status pasien, sedangkan nilai IDWG di hitung dengan mengukur berat badan pre HD saat sekarang dan melihat pada status berat badan post HD periode sebelumnya.
4.7. Etika Peneltian
Etika penelitian adalah masalah yang sangat penting dalam penelitian Menurut Hidayat (2008), etika penelitian meliputi:
4.7.1 Lembar persetujuan responden (informed consent)
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan tujuan agar responden bersedia, maka responden diberikan sebuah lembar pernyataan yang telah disiapkan oleh peneliti dan oleh kemudian untuk ditandatangani oleh responden penelitian.
4.7.2 Tanpa nama (Anominity)
Untuk menjaga kerahasiaan responden penelitian tidak mencantumkan nama responden peneliti baik di alat ukur (kuesioner) maupun lembar penyajian hasil penelitian. Adapun yang dicantumkan dalam lembar kuesioner adalah: tanggal pengisian, inisial responden, nomer responden dalam pengisian kuisioner,
pertanyaan terkait: umur, jenis kelamin, lamanya hemodialisa dan nilai IDWG pasien.
4.7.3 Kerahasiaan
Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan pada hasil penelitian.
4.8. Analisa data
Analisa data merupakan proses pengolahan data untuk dapat melihat bagaimana menginterprestasikan data, kemudian menganalisis dari data yang sudah ada pada tahap hasil pengolahan data. Pada penelitian ini data yang disajikan untuk dianalisa adalah analisis univariat.
4.8.1 Analisa Univariat
Hasil berupa distribusi frekuensi dan presentase. Rumus yang digunakan untuk pengolahan data univariat dalam bentuk presentasi (Budiarto, 2010) pada data adalah:
100
Keterangan:
f = jumlah atau frekuensi responden
N = Nilai maksimal penelitian atau jumlah responden 4.8.2 Analisa Bivariat
Analisa bivariat yaitu untuk mengetahui kemaknaan dan besarnya hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen yang menggunakan uji Spearman rank (rho) dengan besar kemaknaan adalah p
< 0,05. Jika nilai p 0,05 dianggap hubungan signifikan atau bermakna. Jika nilai p > 0,05 dianggap hubungan tidak signifikan atau tidak bermakna (Notoadmodjo, 2009).
r
s= 1 −
( ² )Keputusan hasil uji Spearman rank (rho) adalah jika rshitung >rs tabel, maka Ho ditolak. Jika rshitung <rstabel maka Ho diterima.
Pedoman Interprestasi Koefisien Korelasi menurut Sugiyono (2012)
Interval Korelasi HubunganVariabel
0,00–0,199 Sangat rendah
0,20–0,399 Rendah
0,40–0,599 Sedang
0,60–0,799 Kuat
0,80–1,000 Sangat kuat
Angka keeratan nilai korelasi menunjukkan keeratan hubungan antara dua variabel yang diuji. Jika angka korelasi mendekati 1, maka korelasi dua variabel akan semakin kuat, sedangkan jika korelasi makin mendekati 0 maka korelasi dua variabel semakin lemah. Tanda negative (-) dan positif (+) pada nilai korelasi menyatakan sifat hubungan. Jika nilai korelasi bertanda negative (-), berarti hubungan antara kedua tabel bersifat berlawanan arah. Sedangkan tanda positif (+), berarti hubungan antara kedua tabel bersifat searah.
40
HASIL PENELITIAN
Setelah pengambilan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada responden, selanjutnya yaitu melakukan tahapan pengolahan data. Pengolahan data diambil dari 54 sampel responden pada ruang Hemodialisa RSUD Budhi Asih. Selanjutnya data yang telah diambil dilakukan analisis dengan menggunakan program SPSS tipe 16. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April 2019.
5.1. Analisis Univariat
Analisa univariat dalam penelitian ini akan menggambarkan distribusi frekuensi: usia, jenis kelamin, dan lamanya menjalani hemodialisa dan nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih.
5.1.1. Distribusi Frekuensi Usia
Distribusi frekuensi usia dalam penelitian ini adalah seperti dalam tabel 5.1
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Usia
Di Ruang Hemdialisa RSUD Budhi Asih
Usia Frekuensi Presentase (%)
18-40 tahun 8 14,8
41-60 tahun 33 61,1
>60 tahun 13 24,1
Total 54 100 %
Berdasarkan tabel di atas, distribusi frekuensi usia responden terbanyak adalah 41-60 tahun sebanyak 33 responden dengan presentase 61,1%, diikuti usia >60 tahun sebanyak 13 responden dengan presentase 24,1%, dan usia 18-40 tahun sebanyak 8 responden dengan presentase 14,8%.
5.1.2. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin
Distribusi frekuensi jenis kelamin dalam penelitian ini adalah seperti dalam tabel 5.2
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Di Ruang Hemdialisa RSUD Budhi Asih
Jenis Kelamin Frekuensi Presentase (%)
Laki-laki 34 63,0
Perempuan 20 37,0
Total 54 100 %
Berdasarkan tabel di atas, distribusi frekuensi jenis kelamin responden terbanyak adalah laki-laki sebanyak 34 responden dengan presentase 63,0%, dan jenis kelamin perempuan sebanyak 20 responden dengan presentase 37,0%.
5.1.3. Distribusi Frekuensi Lamanya Menjalani Hemodialisa
Distribusi frekuensi lamanya menjalani hemodialisa dalam penelitian ini adalah seperti dalam tabel 5.3
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Lamanya Menjalani Hemodialisa Di Ruang Hemdialisa RSUD Budhi Asih
Lamanya HD Frekuensi Presentase (%)
< 12 bulan 7 13,0
12-24 bulan 17 31,5
>24 bulan 30 55,5
Total 54 100%
Berdasarkan tabel di atas, distribusi frekuensi lamanya menjalani hemodialisa responden terbanyak adalah > 24 bulan sebanyak 30 responden dengan presentase 55,5%, diikuti 12-24 bulan sebanyak 17 responden dengan presentase 31,5%, dan minoritas <12 bulan sebanyak 7 responden dengan presentase13,0%.
5.1.4. Distribusi Frekuensi Nilai IDWG
Distribusi frekuensi nilai IDWG dalam penelitian ini adalah seperti dalam tabel 5.4
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Nilai IDWG Hemodialisa Di Ruang Hemdialisa RSUD Budhi Asih
Nilai IDWG Frekuensi Presentase (%)
>3% BB Kering 39 72,2
<3% BB Kering 15 27,8
Total 54 100 %
Berdasarkan tabel di atas, distribusi frekuensi nilai IDWG responden terbanyak adalah >3% BB Kering sebanyak 39 responden dengan presentase 72,2%, dan nilai IDWG responden <
3% BB Kering sebanyak 15 responden dengan presentase 27,8%.
5.2. Analisis Bivariat
Analisis Bivariat dilakukan dengan uji Spearman rho untuk melihat apakah terdapat pengaruh usia, jenis kelamin, dan lamanya menjalani hemodialisa terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih. Distribusi Frekuensi Table Silang pengaruh usia, jenis kelamin, dan lamanya menjalani hemodialisa terhadap nilai IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Budhi Asih dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.