• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis dan Pembahasan

Dalam dokumen pemberdayaan masyarakat nelayan (Halaman 90-106)

BAB V HASIL YANG DI CAPAI

5.2. Analisis dan Pembahasan

Berdasarkan data yang telah dapat di himpun di atas, maka ada dapat dilakukan analisis dan pembahasan sebagai berikut:

1. Perubahan Momentum Otonomi Daerah.

Sejak diundangkannya UU nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, sebenarnya momentum pemberdayaan masyarakat nelayan oleh pemerintah Kabupaten Trenggalek di Jawa Timur sudah tidak seperti sebelumnya. Hal ini ini karena kewenangan pemerintah daerah terhadap hasil

Undang-undang ini tepi laut, langsung menjadi kewenangan pemerintah Propinsi dalam pengelolaan termasuk eksplorasi dan eksploitasinya.

Berbeda dengan Undang-Undang nomor 22 Tahun 1999, yang merupakan momentum yang sangat strategis bagi daerah untuk menunjukkan kinerja dalam memberikan pelayanan pada publik masyarakat Daerah setempat, serta dalam upaya meningkatkan kemampuan pemerintah daerah bersama masyarakatnya untuk ikut berperan serta dalam kompetisi di era globalisasi saat ini. Perspektif Otonomi Daerah pasca reformasi, memiliki momentum yang strategis karena, makna otonomi daerah pasca krisis moneter tahun 1999 jelas berbeda maknanya dalam sistem pemerintahan di Republik Indonesia.

Dalam perpesktif pemerintahan sebelum krisis moneter (otonomi daerah di masa Orde Baru), makna otonomi daerah adalah dalam makna ketika pemerintah pusat dengan rantai birokrasinya tidak mampu menjangkau berbagai aspek pemerintahan dan pembangunan di daerah.

Sehingga sebenarnya otonomi adalah bagian dari sisa pemerintahan dan pembangunan pemerintah pusat (negara) yang dianggap tidak menguntungkan pemerintah pusat dan tidak bisa dijangkau oleh pemerintah pusat di serahkan ke daerah, sehingga otonomi lebih bermakna sebagai sisa pemerintahan dan pembangunan oleh pemerintah pusat yang dianggap tidak menguntungkan kekuasaan pusat.

Sedangkan perspektif otonomi pasca Reformasi adalah sebagai bagian dari proses keterpurukan pemerintah pusat yang mengalami krisis keuangan untuk mendukung pemerintahan dan pembangunan. Sehingga pemerintah daerah diberkan keleluasaan untuk menjalankan pemerintahan dan pembangunan serta diberikan kesempatan kepada masyarakat daerah setempat untuk secara lebih leluasa memilih para pemimpinnya untuk

wewenangnya dalam berbagai aspek pemerintahan dan pembangunan di daerah.

Dalam perspektif otonomi ini, pemerintah pusat lebih berperan sebagai pembina dan pengawas pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan karena hanya lima hal yang menjadi kewenangan pemerintah pusat yaitu, Politik, Pertahanan Keamanan, Hukum, Agama dan Hubungan Luar Negeri. Semua aspek pemerintahan dan pembangunan berdasarkan Undang-undang Otonomi daerah tersebut, di serahkan kewenangannya kepada daerah setempat.

Hal ini sangat penting menjadi perhatian karena sebenarnya globalisasi bermakna pula lokal ke global ataupun sebaliknya pengaruh global ke masyarakat lokal. Interaksi lokal global tersebut, bila disikapi dengan bijak selain merupakan tantangan juga merupakan kesempatan emas bagi produk-produk lokal untuk dapat bersaing dalam pasar global, karena pengaruh perkembangan teknologi informasi dan transportasi memungkinkan efisiensi usaha perdagangan dan industri untuk lebih mendekatkan pada sumber bahan baku yang pada umumnya berada di daerah.

1.

Pemerintah daerah sebagai vocal point (Rianto, 1990), kegiatan pemerintahan dan pembangunan di Indonesia, dengan adanya kewenangan yang lebih luas bagi pemerintah daerah, memungkinkan pemerintah daerah yang langsung berhadapan dengan masyarakat daerah setempat, untuk dapat mengapresiasi keinginan dan kebutuhan masyarakat daerah setempat.

Sehingga layanan yang diberikan oleh Pemerinta Daerah, benar-benar secara optimal sesuai dengan kondisi masyarakat daerah setempat, local wisdom dapat diberdayakan secara maksimal, karena aspirasi dapat ditampung secara langsung oleh pemerintah setempat, mengingat pendeknya jalur informasi

kultur masyarakat daerah setempat dengan pemerintah daerah yang telah memiliki wewenang yang cukup untuk memberikan layanan yang masksimal bagi masyarakat daerahnya.

Sehingga terkait dengan Undang-undang tentang pemerintahan daerah yang baru tersebut, pemerintah daerah dalam upaya eksploitasi serta budidaya hasil ikan tangkap minapolitan harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, menyangkut ketersediaan sumber daya yang ada sebagai bahan baku produksi yang sangat potensial di lingkungan laut, berikut segala isinya.

2. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, berbasis diversifikasi usaha masyarakat Nelayan.

Usaha masyarakat nelayan yang pada umumnya di lingkaran masyarakat miskin, maka usaha masyarakat nelayan tersebut dapat dikelompokkan dalam Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), yaitu merupakan usaha yang tidak memiliki sekala yang besar, keberadaannya terbatas hanya di daerah setempat, sehingga basis usahanya pada umumnya menjadi domain pemerintah daerah. Usaha pengolahan masyarakat nelayan dalam kelompol ini secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut:

 Usaha Mikro Berdasarkan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM (Usaha Menengah Kecil dan Mikro) adalah usaha produktif milik orang perorangan dan / atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

 Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak

kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

 Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

Kriteria Usaha Mikro menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Pasal 6, Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memiliki kriteria sebagai berikut :

1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50 juta tidak temasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300 juta.

Ciri-ciri Usaha Mikro, yaitu:

1. Jenis barang usahanya tidak tetap, dapat berganti pada periode tertentu;

2. Tempat usahanya tidak selalu menetap, dapat berubah sewaktu-waktu;

3. Belum melaksanakan administrasi keuangan yang sederhana dan tidak memisahkan antara keuangan keluarga dengan keuangan usaha; Sumber daya manusia (pengusaha) belum memiliki jiwa enterpreuner yang memadai;

4. Tingkat pendidikan rata-rata relatif rendah;

5. Pada umumnya belum akses ke perbankan, namun sebagian dari mereka sudah akses ke lembaga keuangan non bank;

6. Umumnya tidak mempunyai izin usaha atau prasyaratan legalitas lainnya termasuk Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Berdasarkan kriteria tersebut, maka sebenarnya mayoritas masyarakat di daerah yang tidak tertampung pada lingkungan usaha swasta maupun pada instansi pemerintah, merupakan pengusaha mikro, kecil dan menengah yang mayoritas berada di daerah, dan usahanya belum mendapatkan koneksasi dengan pemerintah secara formal dan belum memberikan sumbangan yang signifikan pada peningkatan PAD untuk menunjang pemerintahan dan pembangunan di daerah.

3. Pemberdayaan Masyarakat Nelayan dalam Rangka Peningkatan PAD

Usaha masyarakat nelayan yang pada umumnya merupakan UMKM sebagaimana kriteria tersebut di atas, maka dapat dikatakan sebagai usaha yang belum memberikan sumbangan yang signifikan terhadap pendapatan negara maupun pendapatan asli daerah. Oleh karena itu, sebenarnya pemerintah daerah dengan memberikan pembinaan terhadap usaha masyarakat nelayan ini, selain memberikan dapat peningkatan ekonomi pengusaha Mikro, Kecil dan Menengah pada umumnya, sebenarnya dengan memberikan pembinaan serta pemberian fasilitas sarana dan prasarana terhadap usaha pengolahan ikan oleh masyarakat nelayan ini, dapat dikaitkan dalam upaya peningkatan pendapatan asli daerah dan dapat secara signifikan membantu peningkatan pendapatan daerah setempat. Hal ini karena sumber daya bahan baku yang digunakan untuk usaha produktifnya diperoleh dari laut di sekitar masyarakat nelayan tersebut tinggal. Sehingga sebenarnya usaha pengolahan ikan tangkap bagi masyarakat nelayan tersebut, merupakan usaha yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi usaha yang besar berbasis pada masyarakat setempat, sehingga pertumbuhan ekonomi yang dicapai akan sangat dirasakan oleh masyarakat nelayan tersebut.

Dalam perspektif ekonomi politik, peningkatan ekonomi masyarakat nelayan berbasis pada komunitas masyarakat nelayan dari hasil ikan tangkap yang diolah dalam berbagai produk, selain akan memberikan dampak peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat juga memberikan dampak politis bagi penilaian keberhasilan kepala daerah dalam memajukan kesejahteraan masyarakat daerahnya. Sehingga pembinaan masyarakat nelayan yang mayoritas berada di lingkungan pesisir tersebut, akan terjadi timbal balik keuntungan PAD dan legitimasi kepala daerah setempat dalam meningkatkan roda pemerintahan dan pembangunan di daerahnya. Sehingga pembinaan usaha masyarakat nelayan ini, juga memberikan dampak yang positip bagi eksistensi pemerintah daerah dalam pemerintahan dan pembangunan serta laju pertumbuhan ekonomi masyarakat daerah tersebut.

Pertumbuhan ekonomi masyarakat, dengan memberikan pembinaan dan pemberdayaan ekonominya selain dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat setempat, juga dapat memicu pertumbuhan ekonomi. Namun hal yang perlu di kritisi tentang eksistensi usaha pengolahan ikan tangkap masyarakat nelayan, sebenarnya banyak pula yang terkait dengan usaha besar, yang berfungsi sebagai detailer pemasaran maupun produksi lanjutan dari produk-produk industri besar yang ingin menjangkau pasar kelas bawah dengan masss produknya yang dipasarkan pada masyarakat grass root, sehingga pembenahan dan pembinaan perlu dilakukan untuk menghindari adanya upaya penghindaran pajak dengan UMKM yang banyak digeluti oleh masyarakat nelayan, yang di ciptakan oleh usaha perdaganan kelas menengah atas tersebut. Dengan demikian maka secara tidak langsung pembinaan dan pemberdayaan UMKM masyarakat nelayan, sebenarnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah, dari UMKM masyarakat nelayan tersebut.

Perkembangan teknologi informasi dan teknologi saat ini telah memberikan dampak yang luar biasa terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat pada umumnya. Begitu pula terhadap usaha industri dan perdagangan, perkembangan tersebut telah memungkinkan upaya pendekatan usaha industri di daerah yang berkaitan dengan bahan baku industri. Hal ini lebih menguntungkan karena berbagai usaha industrialisasi memungkinkan pengolahan bahan baku menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah ekonomis terhadap barang tersebut semata, akan tetapi memiliki nilai tambah jangka waktu ekonomis barang hasil industri tersebut. Sehingga hal ini sangat mungkin bila usaha-usaha di daerah yang jauh dari pasar di kembangkan sebagai pusat industri yang menghasilkan barang-barang hasil industri di daerah yang kemudian mampu dipasarkan dalam jangkuan pasar yang lebih luas dan jangka waktu yang lebih lama, sebagai dampak dari pengaruh perkembangan teknologi informasi dan transportasi tersebut.

Dengan adanya momentum Otonomi daerah tersebut, berikut perkembangan lokal global dan dampak perkembangan teknologi informasi dan transportasi telah memberikan kesempatan yang luas bagi daerah untuk memberikan peluang yang sebesar-besarnya dalam upaya pembinaan usaha kecil masyarakat nelayan, berbasis pada sumber daya bahan baku yang potensial berada di daerah tersebut. Sehingga sebenarnya program Trengginas Galang Ekonomi di Kabupaten Trenggalek tersebut, dalam upaya pemberdayaan usaha masyarakat nelayan yang berbasis potensi hasil ikan tangkap minapolitandi daerah merupakan langkah strategis guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah setempat berbasis pada usaha yang dimiliki oleh masyarakat daerah setempat.

Program pemberdayaan usaha pengolahan ikan tangkap masyarakat nelayan, dalam upaya percepatan pertumbuhan ekonomi kerakyatan sangat

ini karena usaha pengolahan ikan di lingkungan masyarakat nelayan pada umumnya merupakan pelaku ekonomi langsung yang umumnya secara kuantitas dilakukan oleh masyarakat daerah. Di samping itu, program pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah masyarakat nelayan ini , memiliki sasaran yang jelas yaitu, masyarakat pengusaha nelayan daerah setempat, sehingga keberdayaan ekonomi masyarakat nelayan setempat tersebut, akan memberikan dampak pertumbuhan ekonomis yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat daerah setempat, dan yang lebih penting dari semua itu adalah meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) setempat.

Usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat nelayan di Kabupaten Trenggalek, sudah seharusnya pola atau model pemberdayaannya mengedepankan tata kelola kepemerintahan yang baik, agar dapat memberikan hasil yang optimal bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat nelayan itu sendiri dan percepatan pertumbuhan ekonomi yang relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan. Adapun pola atau model yang sangat relevan untuk program pemberdayaan masyarakat nelayan tersebut sesuai dengan teori yang mutakhir adalah dengan melibatkan secara proporsional 3 pilar Good Governance agar terwujud pertumbuhan ekonomi dan sosial yang inklusif, progresif, komprehensif, berkepribadian dan berkeadilan, bagi pelaku ekonomi masyarakat nelayan pengolah hasil ikan tangkap di pantai Prigi, Munjungan dan Panggul serta sekitarnya.

5. Potensi Sumber Daya Laut Selatan Kabupaten Trenggalek.

Laut Selatan Kabupaten Trenggalek merupakan sumber daya alam yang memiliki potensi yang sangat besar dalam upaya memajukan kesejahteraan umum serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Pantai Prigi sebagai pelabuhan Nusantara terbesar di Jawa Timur Selatan, seharusnya

Kabupaten Trenggalek. Hal ini karena laut selatan Kabupaten Trenggalek, memiliki luas yang tidak terbatas dan selama ini sesuai dengan data yang ada tiap tahun menghasil ratusan ribu ton ikan yang dihasilkan dari hasil ikan tangkap yang dilabuhkan di Pantai Prigi, Hal ini belum termasuk yang diperoleh di lingkungan Pantai Munjungan dan Pantai Panggul yang mana, para nelayan juga telah banyak menghasilkan ikan tangkap dari kedua wilayah tersebut, sekalipun tidak sebesar yang dihasilkan dari Pantai Prigi, sebagai pelabuhan Nusantara.

Dari data yang ada, selama 1 tahun menunjukkan bahwa hasil ikan tangkap tersebut sangat potensial untuk menunjang keberlanjutan menunjang ketersediaan pangan nasional. Potensi sumber daya alam yang besar tersebut, sampai saat ini masih belum maksimal pemanfaataan bagi upaya menunjang ketersediaan pangan nasional karena hasil penangkapan ikan belum diolah baik secara intensif maupun diversifikatif sehingga belum menunjukkan hasil yang optimal, bagi usaha memajukan kesejahteraan masyarakat nelayan di wilayah tersebut. Good Governance dan Community Based Development aplikasinya belum optimal sehingga Model pemberdayaan yang dilaksanakan sekarang tidak secara komprehensif dapat mengembangkan pemberdayaan masyarakat secara optimal. Program pemberdayaan masyarakat nelayan berbasis ikan tangkap dalam upaya percepatan pertumbuhan ekonomi kerakyatan sangat memiliki dimensi strategis bagi memajukan kesejahteraan umum, hal ini karena nelayan dapat menjadi pelaku ekonomi langsung yang umumnya dilakukan oleh masyarakat daerah.

Oleh karena itu sudah seharusnya pola atau model pemberdayaannya mengedepankan tata kelola kepemerintahan yang baik, agar dapat memberikan hasil yang optimal bagi kepentingan kesejahteraan

tujuan yang telah ditetapkan. Adapun pola atau model yang sangat relevan untuk program pemberdayaan masyarakat nelayan, seharusnya masuk program prioritas pemberdayaan masyarakat Kabupaten Trenggalek yang tertuang dalam program “Trengginas Galang Ekonomi” sesuai dengan teori yang mutakhir adalah melibatkan secara proporsional 3 pilar Good Governance agar terwujud pertumbuhan ekonomi dan sosial yang inklusif, progresif, komprehensif, berkepribadian dan berkeadilan, bagi pelaku ekonomi khususnya masyarakat nelayan dan UMKM pada umumnya.

1. Kebijakan.

Adapun kebijakan yang ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Trenggalek agar pembinaan masyarakat nelayan tidak terbatas pada kerangka teoritis saja dan terkendali dan terkoordinir dengan baik, seharusnya mengaktifkan yang benar tiga pilar Good Governance sehingga pemberdayaan masyarakat nelayan dapat mencapai sasaran yang diinginkan, untuk itu perlu perhatian sebagai berikut :

a. Pemerintah, dalam hali sebagai fasilitator dan pelayan proses percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat Trenggalek, agar terwujud iklim yang sehat bagi usaha dan pengembangan ekonomi masyarakat. Berbagai langkah yang telah dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek antara lain adalah dengan memberikan fasilitas tempat sentra pengolahan ikan di Bengkorok Kecamatan Watulimo, bagi masyarakat nelayan yang melakukan usaha pengolahan ikan di wilayah tersebut. Sampai saat ini yang telah berhasil di relokasi pengolah ikan tersebut adalah pemindangan ikan, dengan sistem produksi yang lebih ramah terhadap lingkungan serta tidak mengganggu masyarakat sekitar

b.Lembaga Keuangan, harus sebagai stimulator dan inisiator penggerak ekonomi kerakyatan yang mampu menumbuhkan proses produktif masyarakat, serta pola manajemen yang memasarkan hasil-hasil produksinya. Sampai saat ini, lembaga keuangan daerah yang diharapkan dapat memberikan dukungan dalam pengelolaan usaha berbasis pada pengolahan ikan hasil tangkap yaitu, BUMDES, Bank Jwalita BUMD Kabupaten Trenggalek, serta bank pada umumnya yaitu BNI, Bank Jatim dan lain-lain perbangkan serta bank perkreditan rakyat dan simpan pinjam Koperasi yang ada di wilayah tersebut.

c . Masyarakat Pelaku Ekonomi masyarakat nelayan, sebagai social fabric yang bertumpu pada pengembangan sosial budaya yang produktif, dari masyarakat setempat yang akan dapat mewujudkan budaya kerja yang produktif di lingkungan masyarakat nelayan Kabupaten Trenggalek, sesuai dengan slogan atau motto sebagai berikut: “sayek saeko proyo rebut cukup bebarengan nyambut gawe” (Bappeda, Tgalek, 2013). Adapun usaha pengolahan ikan tangkap oleh masyarakat nelayan di lingkungan Kabupaten Trenggalek yang telah berkembang dengan baik untuk UMKM antara lain, Pemindangan Ikan dan Pengasapan/Ikan Bakar yang telah menjadi fenomena di lingkungan masyarakat pantai Prigi, Panggul dan Munjungan. Bahkan ikan bakar/ikan asap ini, telah menjadi trade mark oleh-oleh wisata pantai Prigi.

2 . Strategi.

Pemberdayaan masyarakat atau yang disebut dengan Society Empowering, merupakan paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia. Pemberdayaan ini, dapat dalam bentuk pendidikan dan latihan,

maupun di luar sekolah atau pada masyarakat setempat. Pendekatan pemberdayaan ini, secara teoritis yang paling relevan adalah pemberdayaan yang berbasis pada komunitas masyarakat setempat.

Pemberdayaan masyarakat nelayan berbasis pada diversifikasi pengolahan ikan tangkap, diharapkan bisa memunculkan inovasi baru dalam pengolahan ikan tangkap di lingkungan Kabupaten Trenggalek.

Inovasi pengolahan baik dalam bentuk intensifikasi usaha maupun diversifikasi usaha pengolahan ikan, diharapkan dapat menimbulkan persaigan yang sehat diantara para pengolah ikan di lingkungan masyarakat nelayan, karena memungkinkan persaingan yang sehat dan tidak terjadi kejenuhan pada salah satu bidang usaha pengolahan ikan tertentu. Namun berbagai hasil ikan tangkap tersebut, dapat diolah dalam berbagai versi, yang dapat memenuhi kebutuhan pasar yang beraneka macam, baik dari aspke jenis maupun segmentasi pasar konsumen hasil pengolahan ikan tangkap tersebut.

Adapun strategi pembangunan atau pemberdayaan diversifikasi usaha masyarakat nelayan yang paling relevan adalah pembangunan berbasis pada kondisi sosial budaya masyarakat ini di sebut sebagai “Community Based Development”. Dengan berlakunya sistem pemerintahan yang desentralistis, dan demokratis saat ini, merupakan peluang untuk merevitalisasi Community Based Development dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di daerah terutama di perdesaan. Sehingga peningkatan ekonomi wilayah dan kesejahteraan masyarakat nelayan, dapat dirasakan oleh seluruh komponen masyarakat yang menjadi sasaran pengembangan di Kabupaten Trenggalek.

Seiring dengan Otonomi Daerah saat ini, strategi

di manfaatkan sebagai momentum strategis yang harus diisi dengan upaya pengembangan kapasitas masyarakat daerah yang sesuai dengan kompetensi dan potensinya sendiri. Sebagaimana telah dikemukan di atas, teori yang paling menjanjikan dalam pengembangan Usaha berbasis masyarakat Nelayan tersebut adalah: “Pembangunan yang berbasis komunitas masyarakat setempat (Community Based Development). Hal ini karena model pembangunan ini lebih respect terhadap mekanisme socio-culturally compatible. Kompatibilitas sosio cultural ini, dianggap lebih fleksibel struktur dan prosedurnya dalam menyesuaikan dengan variasi local. Sehingga dapat dihindari desain struktur dan mekanisme secara teknokratis, tanpa upaya untuk memahami social fabric dari suatu wilayah tertentu dan tanpa upaya untuk menyesuaikan dengan konteks social budaya daerah yang ada.

Dengan model pengembangan berbasis budaya setempat ini, pembangunan yang berlangsung, seharusnya akan lebih terjamin adanya dukungan potensi dan kompetensi serta sumber daya masyarakat nelayan, dengan harapan manajemen Pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Trenggalek dapat lebih:

1. Mengambil prakarsa dan proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat nelayan di Trenggalek sendiri.

2. Dapat lebih difokuskan untuk peningkatan kemampuan masyarakat nelayan di Trenggalek untuk mengelola dan memobilisasikan sumber- sumber yang terdapat dikomunitas untuk memenuhi kebutuhan mereka, di mana mereka memiliki potensi ekonomi yang tinggi.

3. Kegiatan pemerintahan dan pembangunan di tingkat Kabupaten Trenggalek menjadi lebih fleksibel untuk menyesuaikan dengan kondisi local dan keinginan masyarakat nelayan itu sendiri.

4. Dapat dikembangkan terjadinya kolaborasi antara birokrasi dengan komunitas- komunitas usaha tertentu berbasis pengolahan ikan di Kabupaten Trenggalek secara lebih efektif.

5. Dapat mengarah kesuatu jaringan (networking) antara birokrat, Lembaga Ekonomi Masyarakat dan Perbankan, maupun satuan-satuan organisasi tradisional yang mandiri, menjadi suatu bagian yang integral dan komprehensif dalam proses pemerintahan dan pembangunan bagi masyarakat nelayan yang mayoritas masih miskin. (Adaptasi pendekatan Korten, 1986).

Berdasarkan analisis tersebut, dapat dikemukakan temuan model pemberdayaan yang terjadi selama ini di Kabupaten Trenggalek untuk masyarakat nelayan sebagai berikut

POLA INTERAKSI TIGA PILAR PEMBERDAYAAN USAHA NELAYAN

DI KABUPATEN TRENGGALEK

PEMERINTAH

MASYARAKAT/ LEMABAGA

PELAKU EKONONOMI KEUANGAN/BANK

Gambar 5.2. Temuan Model Pemberdayaan UMKM (mencakup Masyarakat nelayan)

Adapun model yang diuji coba sebagaimana telah direkomendasikan pada tahun pertama untuk pemberdayaan masyarakat nelayan berbasis Pengolahan Ikan Tangkap yang dikembangkan dapat disampaikan sebagai berikut:

5.3. Model yang diujicobakan pada tahun kedua dalam penelitian pemberdayaan Masyarakat nelayan berbasis pengolahan ikan tangkap di Trenggalek

~BAB VI~

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

6.1.1. Walaupun momentum otonomi daerah khususnya untuk masyarakat pesisir telah berkurang, sejak di undangkannya UU nomor 23 tahun 2014, namun upaya pemberdayaan masyarakat nelayan berbasis pada diversifikasi usaha pengolahan ikan tangkap di lingkungan pesisir Kabupaten Trenggalek, teap menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Khususnya dinas yang menangangi adalah dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek.

6.1.2. Upaya pengembangan ekonomi masyarakat nelayan dengan usaha dalam sekala Mikro, Kecil dan Menengah, dalam bentuk diversifkasi usaha pengolahan ikan tangkap, memerlukan inovasi dan kreativitas serta pengenalan teknologi baru, agar terwujud diversifikasi usaha yang semakin berkembangan dan secara prospektif dapat bersaing secara positip karena usaha yang dikembangkan tidak saling bertubrukan antara usaha pengolahan yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu pembinaan berorientasi pada kemandirian, inklusif dan tepat sasaran kelompok usaha ini, sangat memerlukan strategi pemberdayaan yang berbasis pada masyarakat nelayan setempat, agar mampu bersaing dengan patner bisnis lain, baik pada tingkat regional, nasional maupun internasional.

Dalam dokumen pemberdayaan masyarakat nelayan (Halaman 90-106)

Dokumen terkait