• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Dalam dokumen pemberdayaan masyarakat nelayan (Halaman 69-90)

BAB V HASIL YANG DI CAPAI

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian

Secara geografis Kabupaten Trenggalek berada diantara koordinat 111°24-112°11' Bujur Timur dan 7°53' – 8°34' Lintang Selatan. Kabupaten Trenggalek memiliki luas wilayah 126. 140 Ha, dimana 2/3 bagian luasnya merupakan tanah pegunungan, sedangkan luas laut 4 mil dari daratan adalah 711,68 km. Batas wilayah Kabupaten Trenggalek berbatasan dengan :

- Sebelah Utara : Kabupaten Tulungagung dan Ponorogo - Sebelah Timur : Kabupaten Tulungagung

- Sebelah Selatan: Samudera Indonesia

- Sebelah Barat : Kabupaten Pacitan dan Ponorogo

Gambar 5.1 Peta Kabupaten Trenggalek Sumber data : Bappeda Trenggalek 2015

Secara Demografis, Jumlah penduduk tahun 2014 sebanyak 687.477 jiwa terdiri dari 50.17 % wanita dan 49.83 % laki-laki dengan kepadatan penduduk 545 jiwa/ Km² dan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.22 % jumlah penduduk tahun 2015 sebanyak 838.721 jiwa terdiri dari 50.49 % wanita dan 49.51 % laki-laki.

Secara Administratif, Kabupaten Trenggalek terbagi menjadi 14 Kecamatan dan 157 Desa dan Kelurahan, adapun keempat belas Kecamatan tersebut terdiri dari: Kecamatan DONGKO, PANGGUL, PULE, TUGU, TRENGGALEK, BENDUNGAN, DURENAN, MUNJUNGAN, GANDUSARI, SURUH, POGALAN, KARANGAN, WATULIMO dan KAMPAK. Kabupaten Trenggalek terdiri dari 14 kecamatan, 152 desa dan 5 kelurahan, 555 dusun/lingkungan, 1.287 rukun warga dan 4.490 rukun tetangga.

Secara geografis, dari 14 kecamatan hanya 4 kecamatan yang mayoritas desanya berupa dataran, yaitu Kecamatan Trenggalek, Kecamatan Pogalan, Kecamatan Tugu dan Kecamatan Durenan.

Sedangkan 10 kecamatan lainnya mayoritas desanya berupa pegunungan.

Wilayah Kabupaten Trenggalek terdiri dari wilayah darat 126.140 Ha atau 1.261,40 km2 dan wilayah pengelolaan laut sepanjang 711,17 km2.

Wilayah darat tersebut terdiri dari sawah 12.111 Ha (9,6%) dan Tanah Kering 48.868 Ha (38,74%), Hutan Negara 60.936 Ha (48,31%), Perkebunan 1.979 Ha (1,57%), Lain-lain 2.246 Ha (1,78%). Karakteristik geografis di Kabupaten Trenggalek dapat dibagi dalam beberapa tipologi kawasan. Kawasan pegunungan terletak pada kabupaten sebelah utara dan tengah yaitu Kecamatan Bendungan, Kecamatan Pule, Kecamatan Kampak dan Kecamatan Dongko. Kawasan pesisir terletak di

Secara ekonomis struktur, masyarakatnya secara keseluruh terklasifikasi dalam kelompok masyarakat sangat miskin: 10.664, Miskin: 32.008, Hampir Miskin: 14.734 dengan jumlah total: 57.406 (Sumber: BPS Kabupaten Trenggalek)

Kabupaten Trenggalek sebagai wilayah yang berbatasan dengan laut, juga mempunyai wilayah kepulauan yang tersebar di Kawasan Selatan Kabupaten Trenggalek. Jumlah pulau yang berada di wilayah Kabupaten Trenggalek sebanyak 58 pulau, yang keseluruhannya masih belum berpenghuni. Pulau terluar dari wilayah Kabupaten Trenggalek adalah Pulau Panikan dan Pulau Sekel yang belum diketahui luasnya.

Yang sangat potensial sebagai wilayah potensi wisata bahari, yang banyak diminati turis asing. Sedangkan luas wilayah laut (Zone Ekonomi Eksklusif) ± 35.558 km2, termasuk 58 pulau kecil tidak berpenghuni.

Pulau-pulau di wilayah Kabupaten Trenggalek, selengkapnya disajikan dalam table sebagai berikut :

Tabel 5.1. Nama Pulau di Kabupaten Trenggalek

No Nama Pulau Wilayah No Nama Pulau Wilayah 1. KLOMPOK KIDUL Munjungan 31 LUMBUNG Panggul

2 SASAH Munjungan 32 KARANGMALANG Panggul

3 CIGAR Munjungan 33 KUYON Panggul

4 ALES Munjungan 34 KONYELAN Panggul

5 ANAK CIGAR Munjungan 35 BANYUTARUNG Panggul 6 PANIKAN Munjungan 36 SRUWI LOR Watulimo 7

8 WATUPAYUNG Munjungan 37 SRUWI KIDUL Watulimo

9 PERCAK Munjungan 38 SEGUNUNG Watulimo

10 PERCAK WETAN Munjungan 39 KARANGPEGAT Watulimo

12 PERCAK KULON Munjungan 41 NGEMBENG Watulimo 13 KALONGAN Munjungan 42 WATULAJER Watulimo 14 KALONGAN CILIK

Munjungan 43 SRUWI Watulimo

15 KLOMPOK LOR Munjungan 44 BRENGGOLO Watulimo 16 PRENJONO Munjungan 45 SIKLOPO Watulimo 17 PRENJONO WETAN

Munjungan 46 SOSARI Watulimo

18 PRENJONO KULON

Munjungan 47 SOSARI CILIK Watulimo

19 WERU Munjungan 48 SOSARI LOR Watulimo 20 WATUPRAU Munjungan 49 SOLIMO WETAN Watulimo 21 ENDASBAJUL Munjungan 50 SOLIMO TENGAH Watulimo 22 KAPULOGO Munjungan 51 SOLIMO KULON Watulimo 23 KEMPONG Munjungan 52 SOLIMO Watulimo

24 WATUGAMPIRAN Munjungan 53 BOYOLANGU Watulimo 25 TEANG Panggul 54 TAMENGAN Watulimo 26 TEANG LOR Panggul 55 ANAKAN Watulimo 27 TEANG KIDUL Panggul 56 MBATANG Watulimo

28 GODO Panggul 57 BABATAN Watulimo

29 GODO CILIK Panggul 58 SEKEL Watulimo 30 JARAN Panggul

Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek, 2010

5.1.2. Topografi

Wilayah Kabupaten Trenggalek memiliki topografi yang bervariasi, perpaduan daratan yang landai dan perbukitan bergelombang yang curam.

Topografi Kabupaten Trenggalek terdiri dari 2/3 bagian wilayah pegunungan dan 1/3 bagian wilayah dataran rendah dengan ketinggian antara 0 sampai dengan 1.250 m di atas permukaan air laut dan dari

ketinggian tersebut 53,8% berketinggian 100 - 500 m. Sedangkan secara geologis, potensi mineral yang memiliki potensi adalah sebagai berikut:

Kabupaten Trenggalek memiliki beberapa batuan induk.

Jenis batuan induk yang ada di Kabupaten Trenggalek antara lain : - Miosenne sedimentary : di semua kecamatan

- Miosenne limostone : Kecamatan Panggul, Watulimo, Dongko dan Karangan

- Andesit : Kecamatan Munjungan, Watulimo, Pogalan dan Karangan - Liat dan Pasir (alluvium) : di semua kecamatan kecuali Dongko, Pule dan Bendungan

- Undifferentioned Vulcanik : di Kecamatan Bendungan

Struktur tanah di Kabupaten Trenggalek meliputi andosol dan latosol di bagian utara. Batuan Mediteran, grumosol dan regusol yang terletak di bagian timur. Batuan mediteran di bagian selatan dan batuan alluvial di bagian barat kabupaten. Susunan explorasi tanah terdiri dari lapisan tanah Andosol dan Latosol, Mediteran, Grumosol dan Regosol, Alluvial dan Mediteran. Lapisan tanah Alluvial terbentang di sepanjang aliran sungai di bagian wilayah timur dan merupakan lapisan tanah yang subur, luasnya berkisar antara 10 % hingga 15 % dari seluruh wilayah. Pada bagian lain, yaitu bagian selatan, barat laut dan utara, tanahnya terdiri dari lapisan Mediteran yang bercampur dengan lapisan Grumosol dan Latosol.

Lapisan tanah ini sifatnya kurang daya serapnya terhadap air sehingga menyebabkan lapisan tanah ini kurang subur.

5.1.3. Potensi Pariwisata Kabupaten Trenggalek

Dalam periode tahun 2006-2009 jumlah obyek wisata yang layak jual di Kabupaten Trenggalek sebanyak tujuh obyek wisata, terdiri dari obyek pariwisata pantai, pemandian/kolam renang dan goa, yaitu Pantai

Trenggalek, empat obyek wisata di Kecamatan Watulimo yaitu Goa Lawa, Pantai Damas, Pantai Prigi, Pantai Pasir Putih Karanggongso serta Pemandian Tapan.

Jenis Wisata dan Lokasi Kecamatan

1. Upacara Larung Sembonyo Wisata Budaya di Watulimo 2. Prasasti Kamulan Wisata Budaya di Durenan

3. Tradisi Tiban Wisata Budaya, di hamper semua wilayah Trenggalek 4. Jaranan Turonggo Yakso Wisata Budaya di Dongko

5. Tradisi Baritan Wisata Budaya di Dongko

6. Bersih Dam Bagong Wisata Budaya Kec. Trenggalek, di Trenggalek

5.1.4. Potensi Pertambangan

Kabupaten Trenggalek sebenarnya memiliki kekayaan tambang yang tersebar di beberapa lokasi tetapi belum dikembangkan secara optimal. Potensi tambang terbesar di Kabupaten Trenggalek adalah marmer sebesar 666 juta ton yang tersebar di Kecamatan Panggul sebesar 250 juta ton, Kecamatan Dongko sebesar 152 juta ton, Kecamatan Pule sebesar 105 juta ton, Kecamatan Karangan sebesar 56 juta ton dan Kecamatan Suruh sebesar 45 juta ton. Selain marmer, potensi tambang lainnya adalah andesit diorite sebesar 460 juta ton yang tersebar di seluruh kecamatan kecuali Kecamatan Pogalan.

5.1.5. Potensi Perikanan

Daerah pesisir di lingkungan Kabupaten Trenggalek terdiri dari tiga wilayah Administratif di tiga (3) Kecamatan, yaitu: Kecamatan Watulimo (Pantai Prigi), Kecamatan Munjungan dan Kecamatan Panggul.

Diantara ketiga wilayah Kecamatan tersebut, Trenggalek memiliki pelabuhan ikan terbesar setelah Cilacap di pantai selatan pulau Jawa,

Pengembangan potensi perikanan mulai direalisasikan dengan pembangunan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) di Pantai Prigi dengan harapan bisa mengentaskan kemiskinan para nelayan setempat.

PPN di pesisir Pantai Prigi kedepannya akan dikembangkan jadi Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) yang didukung dengan pengembangan Jalan Lintas selatan (JLS).

Jumlah rumah tangga perikanan pada tahun 2014 tercatat 5.384 rumah tangga terdiri dari 3.812 rumah tangga perikanan laut dan 1.572 rumah tangga perikanan darat. Rumah tangga perikanan laut terdapat pada 3 kecamatan yaitu Panggul, Munjungan dan Watulimo. Untuk Produksi ikan darat tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 12,95 persen dari tahun sebelumnya, dimana produksi ikan lele menempati urutan pertama produksi terbesar yaitu 1.627,71 ton, disusul gurameh 114,93 ton diurutan kedua. Berdasarkan kondisi wilayah Kabupaten Trenggalek yang berada di pesisir selatan Jawa Timur dengan daerah pantainya maka Kabupaten Trenggalek berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan minapolitan baik berbasis perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Potensi perikanan budidaya yang dapat dikembangkan di Kabupaten Trenggalek adalah budidaya ikan nila dan ikan lele di Desa Sumurup Kecamatan Bendungan sebagai pusat kegiatan minapolitan serta budidaya ikan lele di Desa Sambirejo Kecamatan Trenggalek sebagai kawasan hinterland.

Tabel 5.2. DATA PERIKANAN TANGKAP DI TRENGGALEK

Berdasarkan tabel hasil perikanan tangkap di lingkungan Kabupaten Trenggalek tersebut, sebagai daerah yang memiliki pantai pelabuhan nusantara maka sebenarnya Kabupaten Trenggalek memiliki potensi yang sangat besar dari bidang perikanan, untuk dapat dijadikan sebagai pengungkit perkembangan perekonomian di lingkungan Kabupaten Trenggalek. Hal ini karena pantai Prigi sebagai pantai pelabuhan nusantara, banyak kapal-kapal penangkap ikan yang melewati wilayah administrasi pelabuhan Kabupaten Trenggalek. Peran serta hasil penangkapan ikan untuk dapat memberikan manfaat yang optimal bagi peningkatan ekonomi masyarakat dapat memberikan multiplier efek yang sangat luas, bagi perekonomian itu sendiri, maupun bagi kesejahteraan dan peningkatan gizi masyarakat melalui hasil pengolahan ikan tangkap di lingkungan Kabupaten Trenggalek.

Di sisi lain dari beberapa sektor pendukung penunjang perekonomian pemerintah Kabupaten Trenggalek, sektor perikanan belum menunjukkan pengaruh yang signifikan dari sektor perikanan ini, hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.3. Sektor Penunjang Perekonomian Kab. Trenggalek

No. Sektor/Bidang Prosentase

1. Pertanian 39,35%

2. Pertambangan dan Penggalian 1,98

3. Industri Pengolahan 5,23%

4. Listrik, Gas dan Air Bersih 0,56%

5. Konstruksi/Bangunan 2,66%

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 28,96% %

7. Pengangkutan dan Komunikasi 3,21

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 3,69%

9. Jasa-jasa 15,30% %

Sumber : Bappeda Trenggalek, 2014

5.1.6. Pengembangan Diversifikasi Pengolahan Ikan Tangkap.

Laut selatan Jawa Timur menyimpan hasil laut yang sangat melimpah. Di antara puncak pegunungan yang mengepung Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, ratusan juta rupiah mengalir setiap hari. Rangkaian pantai sekitar Pantai Prigi kira-kira sekitar 3 km ke arah timur dari Pantai Prigi, juga terdapat Pantai Karanggongso, pantai yang terkenal dengan pasir putihnya sepanjang 1,5 km.

Priyono, kapten kapal yang tiba di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi, (Kompas, Rabu, 29//2013), mengatakan, dirinya baru saja membawa satu ton ikan tuna yang dicari di laut selama dalam dua hari terakhir. "Saat ini sedang musim ikan tuna.

Ikannya banyak sekali. Pokoknya melimpah ruah. Kita sampai kewalahan menjaringnya, sampai tangan saya bengkak dan pecah," ungkapnya.

Dia mengaku, saat musim ikan sekarang penghasilannya per bulan bisa mencapai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. "Itu sudah bersih, saya mendapat hasil dua kali lipat," ujarnya. Kondisi tersebut didukung dengan gelombang laut yang cukup tenang dan bisa melaut hingga 137 mil dari bibir pantai dengan kedalaman laut mencapai 4.000 meter. Hasil

penelitian (Nurjayanti, http://karya-

ilmiah.um.ac.id/index.php/sejarah/article/view/20878/0) menunjukkan bahwa teknologi penangkapan ikan yang digunakan oleh nelayan Pantai Prigi semakin modern masyarakat Pantai Prigi mulai meninggalkan alat-alat tangkap tradisional dan

berubah menjadi nelayan modern. Penggunaan teknologi yang semakin

hasil tangkapan Nelayan harus lebih kreatif lagi dalam mengolah ikan hasil tangkapan ketika produksi melimpah. Sehingga pengolahan ikan pasca tangkap harus diterapkan teknologi baru yang dapat menjamin keuntungan yang berkelanjutan dan lebih optimal dengan menggunakan teknologi pengalengan terhadap ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan tersebut, dengan adanya modernisasi alat tangkap.

Industri diversifikasi pengolahan ikan tangkap tersebut, sangat penting bagi upaya peningkatan kesejahteraan dan pemerataan ekonomi hasil ikan tangkap di Pantai Prigi, sebagai pelabuhan ikan terbesar setelah Cilacap di Jawa Barat, Pantai Jawa Selatan. Dengan harapan konsumsi ikan dengan berbagai olahannya di lingkungan masyarakat Kabupaten Trenggalek semakin meningkat, termasuk kebutuhan gizi makanan dari ikan tangkap di wilayah laut Kabupaten Trenggalek.

Beberapa waktu akhir-akhir ini telah dikembangkan diversifikasi usaha berbasis ikan tangkap di Prigi bagi kalangan pedagang kaki lima di lingkungan pantai Wisata Prigi, kendala pada modal yang diperlukan juga untuk pembangunan sarana prasarana. Selain itu yang telah berkembang selama ini adalah produk tepung ikan. Diperlukan kreativitas dan inovasi produk hasil ikan tangkap ini, agar hasil dan manfaatnya bisa dirasakan secara lebih luas bagi masyarakat Prigi dan Watulimo khususnya serta masyarakat di lingkungan Kabupaten Trenggalek pada umumnya.

Beberapa aspek yang masih perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan ikan tangkap dapat dikemukakan sebagai berikut:

a . Sarana dan Prasarana Pemberdayaan

Secara khusus prasarana pendukung untuk pemberdayaan masyarakat nelayan lingkungan Kabupaten Trenggalek, baik untuk

Kecamatan Panggul, belum ada. Untuk upaya pemberdayaan tersebut, dalam upaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan, payung hukum yang digunakan dalam pemberdayaan masyarakat dengan usaha sekala mikro, kecil dan menengah (UMKM) adalah Program Trengginas melalui peraturan Bupati nomor:074/120/401.001/2015, dimana sektor perikanan tidak terangkum.

Mengingat hasil ikan tangkap di Prigi dari segi waktu dapat dibagi 2 yaitu musim panen dan musim paceklik, maka perlu ada sarana dan prasarana agar keberadaan ikan segar dapat berlangsung selama 1 tahun, sehingga tidak ada hambatan dalam usaha pengolahan ikan tangkap yang terpengaruh oleh ke dua musim tersebut. Oleh karena itu pemerintah hendaknya dapat menyediakan sarana maupun prasarana berupa tempat penyimpanan ikan yang dapat berlangsung lama untuk mengatasi hadirnya musim paceklik panen ikan tangkap tersebut yaitu dengan menyediakan Cold Storage. Cold storage ini seperti yang dikatakan oleh informan Bambang ( FGD, 4/5/2015): “Dapat menjadi media penyimpanan ikan selama musim paceklik, sehingga para nelayan dapat menitipkan ikannya di Cold Storage tersebut dan dapat dimanfaatkan kembali selama musim paceklik tiba”. Dengan adanya sarana penyimpanan ikan segar tersebut, maka para nelayan dan keluarganya dapat terus beraktivitas ekonomis dari ikan hasil tangkap yang diperoleh selama musim panen.

Selain Cold Storage prasana yang sangat diperlukan oleh masyaraka nelayan adalah tersediannya es secara berkecukupan

pabrik es di lingkungan pantai Prigi, sangat dibutuhkan untuk dapat menunjang para nelayan saat menangkap ikan di laut dengan hasil ikan yang relative bagus baik mulai dari pengapalan di laut sampai pada saat pendaratan ikan di pantai.

Hal ini penting untuk dapatnya menjaga mutu ikan hasil tangkap tersebut, sehingga memiliki harga jual yang bagus bagi nelayan itu sendiri. Sesuai dengan informasi dari saudara Bambang (FGD, 4/5/2015) dikatakan bahwa:

“Selama ini ketersediaan es di lingkungan pantai Prigi sangat kurang, kapal Tunda yang relative besar yang melaut untuk menangkap ikan rata- rata 5 kapal sehari, butuh sekitar 20 ton es. Sampai saat ini masih sangat kekurangan dan masih mengandalkan es dari luar daerah sehingga harga es masih termasuk tinggi sampai di tangan nelayan”.

Hal ini terasa masih sangat memberatkan para nelayan dalam biaya operasionalnya untuk menangkap ikan, yang berakibat pada minimnya ketersediaan es di kapal penangkap ikan. Sehingga ikan yang ditangkap sering kali kualitasnya (dari aspek kesegaran ikan) kurang baik. Ujung-ujungnya sampai di darat, harga ikan tidak lagi tinggi dan seringkali masuk ke ranah pabrik tepung ikan yang telah tersedia di pantai, dengan harga jual yang kurang menguntungkan bagi nelayan.

Di sisi lain, masih menurut saudara Bambang (FGD, 4/5/2015) sistem lelang di Pantai Prigi masih dalam kekuasaan para bakul ikan, sehingga masihbanyak terjadi sistem lelang yang tidak fair dan berada dalam kekuasaan para bakul ikan. Hegemoni bakul ikan tersebut, sangat terkait dengan kemiskinan yang dialami oleh para nelayan, di mana kebanyakan para nelayan tersebut di musim paceklik menggantungkan hidupnya pada para bakul ikan.

nelayan, harga ikan pun sudah berada dalam kendali para bakul pemasok modal para nelayan tersebut. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh saudara Bambang (FGD, 5/5/2015) sebagai berikut:

“Para bakul itu merupakan orang-orang yang memiliki modal dan jaringan dengan pembeli yang luas, biasanya mereka juga mau berbaik hati dengan para nelayan pada saat musim paceklik (umumnya pada musim angin dan hujan) para nelayan tidak melaut, sehingga hidup dan penghidupannya dari hasil tangkap ikan sudah tidak ada lagi. Dengan demikian untuk menyambung hidupnya mereka hutang kepada para bakul tersebut, yang selanjutnya pada saat musim panen (melaut) hasil ikan tangkap tersebut digunakan untuk mengembalikan hutangya”.

Kondisi demikian mendorong terjadinya lelang ikan yang tidak fair, berada di bawah tekanan para bakul ikan di lingkungan pantai Prigi. Dalam kondisi seperti ini, keterbukaan dalam proses lelang atau yang sering disebut dengan lelang murni, sangat diperlukan intervensi dari pihak perum pelabuhan perikanan di Prigi untuk dapat lebih memberdayakan pada nelayan tersebut, sebagai ujung tombak perolehan ikan hasil tangkap di Prigi.

Seperti yang dikemukakan oleh Sdr. Bambang (FGD 4/5/2015), : ”Pengembangan 76irri76 lelang murni tersebut, perlu mendapatkan penanganan dari pemerintah, menyangkut regulasi prosesnya dan hal ini dimungkinkan mengingat proses lelang yang terjadi di pantai sendang biru Malang bisa di laksanakan”. Dari hasil pengamatan peneliti, proses lelang di lingkungan TPPI di Pantai Prigi, dapat dikatakan berjalan normal sesuai dengan yang

dari proses lelang tersebut, banyak dikeluhkan oleh para nelayan, di mana banyak dari mereka tidak dapat melelang secara mandiri hasil ikan tangkapnya karena semua sudah menjadi bagian dari proses produksi yang telah dikuasai oleh bakul/pedagang ikan di lingkungan pantai Prigi tersebut. Nelayan dalam hal ini, hanyalah buruh dari proses perikanan tangkap yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, baik sebagai buruh tangkap dari pemiliki kapal maupun buruh dari para bakul yang telah menginvestasikan dananya sebagai ganti hutang yang telah diberikan oleh para pemilik modal tersebut di saat paceklik (tidak melaut), bagi nelayan.

Dalam upaya penyelenggaraan lelang murni tersebut, pemerintah Kabupaten Trenggalek hendaknya menerbitkan peraturan tentang lelang perikanan tangkap di Prigi, guna terwujudnya harga ikan tangkap yang sesuai dengan kondisi yang situasi pasar yang netral dan dapat memberikan harga yang maksimal bagi ikan hasil tangkap para nelayan, sehingga ada nilai tambah yang baik bagi kesejahteraan para nelayan.

b. Pemanfaatan Potensi Hasil Ikan Tangkap di Prigi.

Pemberdayaan para nelayan menjadi sangat penting, mengingat kinerja mereka yang merupakan ujung tombak dari proses produksi perikanan tangkap di lingkungan daerah pesisir. Hasil tangkap ikan di laut, sangat tergantung dari hasil ikan tangkap yang diperoleh para nelayan saat melaut. Oleh karena itu, kesejahteraan mereka berikut dengan keluarganya yang di darat perlu mendapatkan perhatian yang baik dari pihak pemerintah, masyarakat itu sendiri maupun berbagai pihak lainnya yang hidup dan

Pemberdayaan dapat dimulai dari kalangan para nelayan itu sendiri, dan hal ini sudah dimungkinkan di lingkungan Pantai Prigi, karena masyarakat nelayan di sana telah membentuk organisasi sendiri yaitu Asosiasi Juru Mudi Purse Saine. Menurut Muhammad Mahmud, (FGD, 4/5/2015): “Para pekerja nelayan dalam penangkapan ikan di lingkungan pelabuhan Prigi, telah ada kesadaran dari para nelayan untuk berorganisasi.” Hal ini menunjukkan bahwa dalam kerangka program pemberdayaan masyarakat, sebenarnya sudah ada kesiapan dari masyarakat untuk dapat berkembang dan beraktivitas bagi kepentingan kesejahteraan mereka. Kesadaran masyarakat komunitas para nelayan ini, yang tergabung dalam asosiasi tersebut, tentunya dapat menjadi partner bagi pemerintah dalam upaya pemberdayaan mereka. Untuk dapat mengkaji dan memahami aspirasi dan kebutuhan masyarakat nelayan telah ada asosiasi yang dapat menjadi sumber informasi dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan mereka untuk dalam kerangka program pemberdayaan masyarakat nelayan setempat. Berbagai upaya yang diharapkan dari asosiasi tersebut, untuk dapat memberikan nilai manfaat yang lebih tinggi serta dapat mengangkat nilai tambah dari ikan hasil tangkap antar lain adalah sebagai berikut:

1. Pentingnya membangun kesadaran masyarakat di lingkungan Kabupaten Trenggalek khususnya akan baiknya mengkonsumsi hasil ikan laut, karena kandungan Omega 3 yang kurang dimiliki oleh makanan lain selain hasil ikan tangkap dari laut.

Kesadaran masyarakat akan konsumsi ikan ini, akan sangat berpengaruh terhadap penyerapan pasar akan ikan laut,

ekonomis yang lebih tinggi dari pada yang telah berkembang selama ini.

2. Pentingnya sarana dan prasaran pemerintah agar hasil ikan tangkap (seperti yang telah disampaikan di atas) dapat terjaga kualitasnya, sehingga memiliki nilai ekonomis yang tetap tinggi karena kualitasnya yang terjaga dengan baik mulai dari kapal sampai di daratan. Dalam hal ini ketersediaan es curah baik untuk yang di kapal ikan tangkap, sampai pada penyimpanan di daratan sangat berguna untuk menjaga kualitas hasil ikan tangkap tersebut dalam jangka waktu yang lebih lama.

3. Selama ini, karena kurangnya ketersediaan Es sebagai pengawet ikan hasil tangkap, banyak ikan yang rusak ketiga sampai di daratan, sehingga kuran memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia.

Sehingga kemudian dalam waktu yang tidak lama, ikan hasil tangkap tersebut, di serap oleh pabrik tepung ikan. Itupun dengan harga yang rendah, yaitu tidak lebih dari Rp. 2000, per kilogramnya. Sehingga jerih payah yang telah dilakukan para nelayan di lain, kurang memberikan nilai tambah secara ekonomis maupun untuk kepentingan konsumsi bagi manusia akan pentingnya Omega 3 dari hasil ikan tangkap di laut tersebut.

4. Sisi lain dari kurangnya nilai manfaat tambahan bagi kesejahteraan para nelayan, dari ikan hasil tangkapan mereka adalah karena ikan hasil tangkap mereka sebenarnya telah menjadi bagian produksi dari pemilik modal atau kapal.

Dalam dokumen pemberdayaan masyarakat nelayan (Halaman 69-90)

Dokumen terkait