• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 METODOLOGI

B. ANALISIS DAN TEGAKAN

1. Kecermatan sampling

Kecermatan sampling sangat dipengaruhi oleh ragam populasi yang dihadapi. Semakin besar ragam populasi, semakin rendah kecermatan sampling yang dapat diperoleh dari jumlah sampel.

Tabel 1.

Tabel penarikan sampel pada setiap stratum untuk penempatan secara proporsionaI

No Kelas Penutupan Luas (ha) X1 pada stratum

X1 X2 X3

1 2 3 4 5 6

1 Hutan Lahan Kering Primer 2 Hutan Lahan Kering Sekunder 3 Hutan Rawa Primer

4 Hutan Rawa Sekunder 5 Hutan Mangrove Primer 6 Hutan Mangrove Sekunder 7 Hutan Tanaman

8 Semak/Belukar

9 Awan

10 Savana 11 Beiukar Rawa

Exi EXI2 n1 NI Xi NIX-i Sit NiSi2 Sx-12 Sx-i

Inventarisasi SDH kebanyakan berhadapan dengan populasi yang berukuran besar dan biasanya bervariasi. Semakin besar populasinya, sampai batas tertentu semakin besar pupa variasi atau ragam populasi tersebut. Dalam menghadapi populasi yang besar dan beragam itu, kadang-kadang unrestricted random sampling tak dapat menghasilkan kercematan sampling yang memuaskan, kecuali kalau harus dilakukan dengan biaya yang lebih besar dan waktu yang lebih lama karena harus di buat sampel yang lebih banyak jumlahnya. Untuk

mengatasi keadaan seperti ini, dapat dilakukan secara sampling yang di sebut stratifikasi atau sampling berlapis (stratified sampling) dalam cara sampling, populasi yang heterogen tadi dipisah pisah menjadi beberapa kelompok yang masing- masing mempunyai ragam yang lebih kecil dibanding dengan ragam populasinya. Kelompok- kelompok tersebut selanjutnya disebut stratum atau sub populasi jumlah serta kercermatan sampling yang diinginkan.

METODOLOGI

40

2. Penyusunan Daftar Nama Pohon dan Pengelompokan Jenis Pohon

Jenis pohon yang dicatat dalam nama rokal selanjutnya dikonversikan ice dalam nama perdagangan dan nama botani, dengan menggunakan daftar nama jenis pohon (list of trees) yang dikeivarkan oieh Direktorat Bina Program, Direktorat Jenderal Kehutanan tahun 1983.

Pengelompokan jenis kayu didasarkan pada Keputusan Menteri Kehutanan Nomor. 163/

Kpts-II/2003 tanggal 26 Mei 2003, sebagai Dasar Pengenaan Iuran Kehutanan. Berdasarkan pertimbangan di atas, maka jenis-jenis kayu dikelompokan menjadi Kelompok Jenis Meranti/

Kelompok Komersial Satu, Kelompok Jenis Kayu Rimba Campuran/Kelompok Komersial Dua, Kelompok Jenis Kayu Ebony/Kelompok Indah Satu dan Kelompok Jenis Kayu Indah/Kelompok Indah Dua.

Sedangkan jenis pohon dilindungi didasarkan pada Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 54/

Kpts/Um/2/1972 tanggal 5 Pebruari 1972.

3. Perhitungan Massa Tegakan

Massa tegakan dinyatakan dalam jumlah batang dan volume kayu rata-rata per hektar. Menghitung jumlah batang dan volume kayu pada masing- masing unit contoh dengan menggunakan rumus

Harga rata-rata dan varians

Baik untuk penempatan sampel secara proporsional maupun secara optimal, harga rata- rata dan varians seluruh populasi harus dihitung sesuai bobot masing-masing stratumnya. Rumus untuk menghitung harga rata-rata untuk seluruh populasi adalah:

a. Harga rata-rata untuk seluruh populasi

b. Varian harga rata-rata untuk seluruh populasi

c. Nilai total (volume kayu) seluruh populasi

d. Varians total

Keterangan:

x1: harga rata-rata untuk tiap stratum N1: jumlah unit sampel dalam tiap stratum

N: EN': jumlah unit sampel untuk seluruh populasi

Sx2: varian harga rata-rata P: persentase

T: nilai total ST2: varian total

BAB 3

PERSIAPAN

A. SEBELUM KE LAPANGAN

1. Kelengkapan Administrasi

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Inventarisasi, perlu dipersiapkan kelengkapan administrasi antara lain surat menyurat dan anggaran.

2. Waktu Pelaksanaan

Waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan inventarisasi selama 7 hari dengan rincian 4 hari pengukuran di lapangan, 1 hari pindah plot dan 2 hari pencapaian lokasi dilapangan.

3. Penentuan Jumlah Regu dan Lama Pelaksanaan

Penentuan jumlah regu berdasarkan luas areal yang disurvei dalam lama pelaksanaan kegiatan inventarisasi yaitu:

1. Luasan areal 10.000 ha s/d 100.000 ha = 1 regu s/d 3 regu

2. Luasan areal 100.000 ha s/d 300.000 ha = 3 regu s/d 5 regu

3. Luasan areal 300.000 ha s/d 500.000 ha = 5 regu s/d 8 regu

4. Luasan areal 500.000 ha s/d 1.00.000 ha = 8 regu s/d 12 regu

4. Pembiayaan per regu

Penambahan regu akan menambah biaya yang terkait komponen biaya antara lain; bahan makanan buruh, camping unit obat-obatan, atk, perlengkapan kerja lapangan, dokumentasi, label pohon, papan nama, upah buruh, asuransi tenaga teknis, uang harian di kabupaten, biaya penginapan, uang harian lapangan dan transport lokal.

5. Kelengkapan Teknis

1. Mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan dengan lokasi dan pelaksanaan kegiatan seperti aksesibilitas, keamanan, ketersediaan tenaga buruh sekitar lokasi, sarana dan prasarana.

2. Menyiapkan Tally-sheet / blanko-blanko / daftar isian untuk data-data pokok dan data- data sekunder.

3. Menyiapkan Peta Hasil interpretasi tutupan lahan dari Citra Satelit.

4. Menyiapkan peta-peta tematik seperti peta Dasar Tematik Kehutanan, peta penunjukan kawasan dan perairan, peta tanah, peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), peta iklim, peta sebaran pemanfaatan kawasan (IUPHHK-HA/HT, HTR) dan peta sebaran penggunaan kawasan (tambang, transmigrasi).

5. Menyiapkan peta kerja, menyusun rencana (desain sampling lapangan) dan jadwal kegiatan (time schedule), menyusun tim pelaksana dengan pembagian tugas.

6. Peralatan dan Perlengkapan Lapangan a. Peralatan yang diperlukan dalam

melaksanakan inventarisasi SDH adalah 1) Alat Ukur posisi / koordinat (Global

Positioning System / GPS), 2) Kompas (alat penunjuk arah), 3) Phi-band (alat ukur diameter pohon), 4) Clinometer / Haga Hypsometer (alat

ukur kemiringan / kelerengan), 5) Tali ukur (untuk jarak minimal 50

mtr),

6) Spiegel Relascope / Naga Hypsometer (alat ukur tinggi pohon),

7) Tali Plastik

b. Alat-alat tulis terdiri dari buku tally sheet, pensil, ball point, penghapus, penggaris, busur derajat, buku tulis dan lain-lain.

c. B a h a n m a k a n a n , o b a t - o b a t a n , dokumentasi, perlengkapan survey (camping unit dan personal-use), bahan untuk pembuatan tanda-tanda (yang tidak mudah rusak) di lapangan, dan perlengkapan/bahan-bahan untuk koleksi material herbarium.

B. PERENCANAAN

Ketua regu merancang plot, meliputi:

Plot sampling lapangan diletakkan pada semua kelas penutupan lahan, hai ini dimaksudkan sekaligus untuk memvalidasi data hasil interpretasi citra satelit (ground check), namun pembuatan permanen sampel plot tidak dilakukan pada tutupan lahan: perkebunan, pemukiman, tanah terbuka, tubuh air, transmigrasi, pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campuran, sawah, tambak, rawa dan lapangan udara, menentukan satu atau dua cara terbaik untuk menuju lokasi plot termasuk mengecek titik awal, azimut, dan jarak ke plot, langkah terbaik untuk menuju suatu klaster plot perlu ditunjukkan di atas peta topografi dengan skala peta terbesar yang ada dan dibantu oleh peta wilayah KPH atau lainnya sepanjang tersedia. Hal ini menyangkut titik awal terbaik (atau sepasang titik, jika tidak dapat ditentukan yang terbaik) yang dapat dikenali di lapangan (percabangan sungai/jalan atau tanda-tanda lapangan yang ada/diketahui dan tergambar di dalam peta), arah/azimut dan jarak dari titik ikat (Ti) tersebut ke plot awal random. Menjelaskan deskripsi plot nomor grid UTM (zone, easting dan northing), lokasi (Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi), fungsi hutan berdasarkan Peta Penunjukan Kawasan dan Perairan, penutupan vegetasi, IUPHHK (jika ada), perkiraan tinggi tempat, jalur aksesibilitas yang ada, penentuan “kelas kesulitan”,..., dll.)

Mengecek peralatan (lengkap dan berfungsi balk) Mengecek lembar tallysheet.

Melakukan proses serta langkah-langkah yang diperlukan untuk mengenumerasi plot secara efisien, termasuk dimana memperoleh tenaga kerja, kendaraan, kapal,..., bagaimana dan di mana sebaiknya logistik untuk regu lapangan disiapkan.

Bilamana regu kerja sampai di lokasi terdekat (Desa/Kecamatan), regu kerja hendaknya lapor dan minta bantuan pejabat setempat terutama mengenai pengerjaan/pendataan tenaga lapangan yang baik, bagaimana mencapai plot (dengan mencari titik markan terdekat dengan posisi plot), dimana tenda harus dipasang, cara terbaik untuk mencukupi kebutuhan regu kerja, pengamanan regu kelp, serta keterangan lain yang diperlukan.

Jangan sampai ada yang ketinggalan.

C. MENUJU LOKASI PLOT AWAL RENDOM

1. Petakan dan uraikan pada selembar kertas, titik T1 (starting point) yang telah ditentukan dalam peta dasar (Peta JOG, REPPROT, RBI, PDTK, Kawasan dan Perairan dsb) untuk memastikan posisi T1 di lapangan sebalknya dicek kebenarannya dan tentukan posisi 12 dari T1 (azimuth dan jarak datarnya). T1 diberi tanda dengan sebuah plat (seng) warna dasar kuning dan tulisan hitam dan dipasang pada pohon hidup atau pancang yang kuat, yang secara jelas menunjukkan dentitas plot (nomor plot, zone, easting, northing, arah dan jarak ke plot).

ZONE : 50 EAST : 300 NORTH : 9840

ARAH : 48°

JARAK : 1.5 KM

Gambar 3.

Contoh Pemberian Tanda dan Tulisan pada T1

PERSIAPAN

44

2. Kemudian T2 diikatkan/diukur posisi arah dan jarak pada sedikitnya 3 buah itik saksi (berupa pohon yang memiliki ciri khas) yang terdekat, juga diikatkan pada 2 atau 3

titik/objek yang jelas jika ada seperti puncak gunung, batu besar, dll.

Simpang Jalan

Klaster Arah : 63°

Jarak : 1,5 Km

T2 T1

Gambar 4.

Arah dan jarak titik ikat dan plot awal rendorn

CENTRAL POINT

Gambar 5.

Titik Saksi pada plot awal rendom

3. Rintisan dari Ti ke T2, untuk setiap 50 meter jarak datar tandai dengan sebuah pancang/

patok yang menunjukan nomor klaster, arah dan sisa jarak ke pusat klaster (T2). Beberapa penyimpangan yang terjadi di lapangan karena kondisi alam yang sangat susah, digambarkan di atas kertas dan diberi tanda yang jelas di lapangan.

4. Untuk lebih memastikan posisi Ti dan T2 harus digunakan GPS dalam menentukan posisi kedua titik tersebut, dan dicek kembali apakah sesuai dengan koordinatnya di peta referensi yang digunakan.

Catatan: Umumnya, regu kerja (9 sampai 10 orang; ketua regu, ass. ketua regu, dan 7 sampai 8 pekerja) harus dibagi dua kelompok selama perintisan. Ketua regu dan asistennya bersama dengan 3 atau 4 pekerja harus mengerjakan rintisan survai sedangkan yang rainnya mengatur tenda.

Rintisan yang dikerjakan oleh seluruh anggota regu menyebabkan kerja yang tidak efisien.

PERSIAPAN

46

BAB 4

PELAPORAN

A. FORMAT LAPORAN

Hasil inventarisasi disusun diatas kertas ukuran kuarto/A4 dan dijilid dengan bentuk seperti pada lampiran-1, disajikan dalam bentuk laporan dilampiri peta Vasil dengan format dan sistematika/isi laporan sebagai berikut:

PETA PEMANDANGAN KATA PENGANTAR RINGKASAN DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN SUSUNAN TIM I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang B. Maksud dan Tujuan

C. Ruang Lingkup dan Sasaran Kegiatan D. Dasar Pelaksanaan dan Sumber Dana II. METODOLOGI

A. Metode Survei B. Pelaksanaan

C. Pengolahan Data dan Analisis Tegakan III. KEADAAN UMUM WILAYAH

A. Letak dan Luas Wilayah KPH B. Keadaan Fisik

C. Topografi D. Geologi E. Tanah F. Iklim

F. Kependudukan G. Aksesibilitas

H. Bentang Alam Spesifik

IV. SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA A . Sosial Ekonomi

B . Sosial Budaya V. KEADAAN HUTAN

A . Tipe Hutan

B . Vegetasi C . Massa Tegakan D . Permudaan D . Flora

VI. PENGELOLAAN HUTAN A. Aspek Kondisi Areal B. Aspek Potensi C. Aspek Mekanis D. Aspek Sosial Ekonomi VII. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN - LAMPIRAN

B. URAIAN FORMAT LAPORAN 1. PETA PEMANDANGAN

Memuat gambar peta pemandangan dengan informasi lokasi areal KPH di dukunng dengan informasi tambahan berupa sungai dan anak sungai, batas provinsi, ibukota provinsi dan kota kabupaten.

2. KATA PENGANTAR

Memuat tentang maksud dilaksanakan inventarisasi, selain itu diuraikan dasar pelaksanaan, instansi pelaksana, pelaksana survei, tanggal pelaksana, sumber anggaran, luas, dan nama lokasi.

3. RINGKASAN

Memuat tentang dasar pelaksanaan, letak dan lokasi, dasar peta yang digunakan berupa peta kawasan dan perairan, peta penutupan, kondisi topografi, metode penarikan contoh dan studi pustaka.

4. DAFTAR ISI

Memuat daftar indeks judul bab dan sub judul dengan nomor halaman, si laporan hasil inventarisasi.

5. DAFTAR TABEL

Memuat daftar indeks yang terdaftar dalam laporan hasil inventarisasi.

6. DAFTAR GAMBAR

Memuat daftar indeks tentang gambar gambar yang terdapat laporan hasil iventarisasi.

7. DAFTAR LAMPIRAN

Memuat daftar index lampiran-lampiran baik peta maupun daiam pelaksaan inventarisasi.

8. SUSUNAN TIM

Memuat susunan tim terdiri atas pembina dan pelaksana terdiri dari ketua tim dan anggota.

9 . PENDAHULUAN

Memuat laporan secara singkat tentang latar belakang, serta maksud dan tujuan diadakaannya kegiatan inventarisasi, landasan hukumnya, lingkup kegiatan dan lokasinya serta sumber dana pembiayaaan kegiatan.

10. METODOLOGI

Memuat tentang metode survei, pelaksanaan serta pengolahan dan analisa tegakan.

11. KEADAAN UMUM WILAYAH

Memuat tentang letal dan luas areal KPH, keadaan hutan, topografi, geologi, tanah, iklim dan bentang alam spesifik berkaitan dengan areal yang diinventarisasi.

12. SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA

Memuat tentang sosial ekonomi budaya masyarakat didalam dan disekitar area yang diinventarisasi.

13. KEADAAN HUTAN

Memuat tentang tipe hutan, vegetasi, massa tegakan, permudaan dan flora dari hash kegiatan inventarisasi.

14. PENGELOLAAN HUTAN

Memuat tentang aspek kondisi areal, aspek potensi, aspek mekanis dan aspek sosial ekonomi sebagai dasar masukan dan pertimbangan bagi pimpinan dalam rangka pengelolaan areal

15. KESIMPULAN DAN SARAN

Memuat pokok- pokok hasil inventarisasi meliputi penutupan lahan areal yang diinventarisasi, fungsi areal, potensi tegakan rata-rata, sebaran jenis dan pemudaannya serta saran masukan dalam upaya peran serta masyarakat dalam membangun hutan melalui pendidikan dan pelatihan masyarakat dalam bidang kehutanan.

16. DAFTAR PUSTAKA

Memuat pustaka / litelatur yang digunakan sebagai bahan pelengkap / pendukung dalam membahas hasil diinventarisasi

17. LAMPIRAN -LAMPIRAN

Berisi data penunjano antara lain peta peta, daftar potensi hasil pengolahan daftar nama pohon/jenis, serta data/informasi lainnya yang berkaitan dengan hasil inventarisasi.

PELAPORAN

48

NA TIO NAL F ORE ST INV EN TOR Y OF IND ON ESI A

PERMANENT PLOT A CRUE NUMBER OF CLUSTER

HECTAR A P LO T

RECO RD UNIT

SEKT OR D EGREES

PARTITION

CON TROL

RECO RD TYP E

PRO VINCE

LAND S YSTEM

ALTITUT LAND CA TEGORY

FORES T TYP E

STAND C OND ITIO N

YEAR OF L OGIN G

TERRAIN SLO PE

ASP EC

TREES AND POLES CREW NU MBER

MONTH YEAR

ZONE: 0.1 m

DIS TAN CE TO S ECMENT

LAR GE PAR T

SMALL P ART

6 X 6 M SQUARES

W-EN-5 12345678910111213141516171819202122232425 2009147 258 36913141516 9101112 5678 1234

Enumerator ChecketSHEET 1 OF 1

RECO RD TYP E

CO NSEC NU MBER

SPECIES C OD E

DBR

of D 0.2 m AD DAMA GE

BUT TRES HEIGHT D 2.2 m AB

BO LE HEIGHT

TREE HEIGHT GRAD E

DIVES TATI ON

TREE CLA SS

CRO WN CLA SS

CRO WN POSITI ON

READING FOR BUTTRESS D2 & AB

AZIMUT TO TREE HO RIZONT D ISTAN

CE TO TREE

5 m 5 - 19.9 cmBOLE AND TREE HEIGHTBUTTRESS AND DIAMETERS ABOVE D0 & AB 25 X 25 m 20+ cm

FOR DIS

TAN CE

HEIGH O

F BASE

PER CENT BASE

CRO

WN POINT

TO P OF TREE

FOR DIS

TAN CE

PER CENT BASE

BUT TREES

FULL BARS 1/4 BARS 1/2 BARS FULL BARS 4 BARS

0.1 Cm0.01 Cm0.1 Cm0.1 Cm0.1 Cm

0.1 Cm CR0.1 Cm0.1 Cm0.1 Cm0.1 Cm0.5 CmOWN NAME OF SPECIES11121314151617181920212223242526 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

NA TIO NAL F ORE ST INV EN TOR Y OF IND ON ESI A

PERMANENT PLOT B CRUE NUMBER OF CLUSTER

HECTAR A P LO T

RECO RD UNIT

SEKT OR D EGREES

PARTITION

CON TROL

RECO RD TYP E

NUMBER OF RECORD

DEPTH O F PEA TH

DEPTH O FRU MUS

SOIL PARAMETER

CRW NU MBER

MONTH YEAR

ZONE:

DEPTH OF SOIL (CM)

SLO PE POS ITIO N

10 M30 M50 M

DIS TAN CE TO S

EC- MENT

LAR GE PAR T

SMALL P ART

5 X 5 M SQUARES SEED LING

SAPLIN G

RAT TAN 2.9 M

RAT TAN 3 + M

BAMB OO

TEXTURE CO LOU R

STO NES

TEXTURE CO LOU R

STO NES

TEXTURE CO LOU R

STO NES

W-EN-50.1 mCmCm 12345678910111213141516171819202122232425262728293031 2009 r 1 m TREE SEEDLING r 2 m TREE SAMPLING r 5 m RATTAN 2.0 Cm r 10 m RATTAN 3+Cm

RECO RD TYP E

CO NSEC NU MBER

SPECIES C OD E

SEED LING

SAMPLIN G

RAT TAN 2.9 M STEMS

RATTAN 3+M a SINGGLE c CLUSTER r 10 m BAMBOO

RECO RD TYP E

CNSEC NU MBER

SPECIES C OD E

NO. OF CLUMBS

AZIMUT TO B AMBO O

HO R. D ISTAN CE BAMB OO

D MAX D MIN

D AVER AGE

C AVER AGE

HEIGH O F BAS E

PER CENT BAS E

CRO WN POINT

TO P OF TREE

0.1 Mm NAME OF SPECIESCOUNT1112131415161718192021NAME OF SPECIES111213141516171819 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

PELAPORAN

50

Petunjuk Teknis

Inventarisasi Sosial Budaya Masyarakat

di Dalam/Sekitar Kawasan Hutan/Kesatuan

Pengelolaan Hutan (Penyempurnaan)

Penyempurnaan Petunjuk Teknis Inventarisasi Sosial Budaya Masyarakat di dalam/sekita kawasan hutan/KPH, disusun dalam rangka menyempurnakan petunjuk teknis yang telah ada yang disusun pada tahun 2006. Tujuannya adalah untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan kegiatan di lapangan dan penyusunan laporan serta analisis hasil kegiatan sehingga dapat mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan.

Selain dalam pelaksanaan kegiatan dilapangan, perubahan-perubahan yang dilakukan anara lain uraian dalam daftar pertanyaan (kuisioner) untuk responden dan analisa hasil dimana pada petunjuk teknis terdahulu menggunakan metode SWOT yang menurut pelaksana sulit difahami, sedangkan saat ini menggunakan metode kualititatif dan kualitatif yang lebih praktis dan dapat mengenani sasaran.

Kepada semua pihak yang telah memberikan sumbagan tenaga dan fikiran guna menyempurnakan petunjuk teknis ini diucapkan terimakasih.

KATA PENGANTAR

A. LATAR BELAKANG

Sumber daya hutan merupakan kekayaan alam yang sangat berharga, sehingga harus dikelola secara bijaksana agar lestari dan dapat bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia terutama yang berada di dalam/sekitar kawasan hutan.

Pengelolaan kawasan hutan idealnya tidak dapat dipisahkan dari permasalahan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat yang berada di dalam/sekitar kawasan hutan. Sejak jaman kerajaan dan jaman penjajahan masyarakat Indonesia dengan arif dan bijaksana mengurus dan menjaga kawasan hutan, hal ini karena kawasan hutan merupakan sumber mata pencaharian guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Permasalahan utama yang dihadapi dalam mengelola sumberdaya hutan salah satunya adalah permasalahan sosial-ekonomi, budaya masyarakat desa di dalam/sekitar hutan seperti: perambahan kawasan, peladangan berpindah, klaim okupasi berupa desa/pemukiman, klaim sebagai lahan adat dan sebagainya.

Untuk mengelola hutan tanpa mengabaikan hak-hak masyarakat di sekitarnya, maka pengelolaan sumberdaya hutan sebaiknya dilakukan dengan partisipasi aktif masyarakat di dalam/sekitar kawasan hutan. Masyarakat harus secara aktif ikut serta dalam perencanaan, pengelolaan dan pengawasan kawasan hutan, yang selanjutnya dapat ikut serta menikmati hasilnya.

Keberhasilan dalam mengatasi permasalahan sosial ekonomi, dan budaya masyarakat merupakan salah satu indikasi keberhasilan pengelolaan sumberdaya hutan lestari.

Oleh sebab itu dalam rangka merumuskan perencanaan dan kebijakan pengelolaan sumberdaya hutan, terutama untuk areal KPH Model, perlu dilakukan kegiatan inventarisasi pemukiman masyarakat di dalam/sekitar kawasan

hutan beserta sosial ekonomi, budaya dan kelembagaan desa.

Data dan informasi hasil kegiatan inventarisasi sosial budaya dapat dijadikan sebagai dasar perencanaan pembangunan kehutanan berbasis masyarakat. Namun disadari bahwa masyarakat seringkali kurang respon, masa bodoh atau menolak secara tidak langsung atas program yang datang dari luar, karena pada umumnya mereka tidak mengetahui apa tujuan dan apa yang ingin dicapai oleh program tersebut. Oleh karena itu, validitas data/informasi yang diperoreh melalui kegiatan inventarisasi sosial budaya akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan fasilitator, metoda inventarisasi yang digunakan, serta keterwakilan wakil-wakil kelompok masyarakat pedesaan yang dipilihnya. Selain itu, perilaku dan sikap orang luar yang datang sebagai fasilitator sangatlah rawan, karena itu harus rileks dan tidak tergesa- gesa, mampu menunjukkan rasa hormat, berperan sebagai fasilitator dan memiliki kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri (Robert Chambers, 1992).

Metoda inventarisasi menggunakan gabungan antara kualitatif dan kuantitatif, tujuannya adalah untuk meminimalkan bias dan mempertajam data dan informasi yang dikumpulkan sehingga mempermudah analisa data guna lebih memantapkan hasil inventarisasi sebagaimana yang diharapkan.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud disusunnya petunjuk teknis inventarisasi sosial budaya masyarakat adalah:

1. Memberikan arahan teknis pelaksanaan Inventarisasi Sosial Budaya Masyarakat di dalam/sekitar kawasan hutan/KPH sampai pada tingkat lapangan.

2. Menyempurnakan Petunjuk teknis yang telah ada disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan terkini.

BAB 1

PENDAHULUAN

3. Menyamakan persepsi tentang pelaksanaan inventarisasi sosial budaya masyarakat di dalam/sekitar kawasan hutan/KPH.

4. Menyempurnakan petunjuk teknis yang sudah ada sebelumnya (tahun 2006).

Adapun tujuan dari Inventarisasi Sosial Budaya ini adalah untuk menyamakan persepsi para pelaksana di lapangan dan memenuhi kebutuhan data dan informasi yang dibutuhkan.

C. PENGERTIAN

Istilah-istilah yang perlu diketahui dalam Petunjuk Teknis ini adalah sebagai berikut.

1. Sejarah desa adalah sejarah masyarakat yang bermukim bdi suatu lokasi tertentu berdasarkan penelusuran masyarakat sendiri.

2. Hutan masyarakat adalah hutan yang secara administratif dimiliki oleh sekelompok masyarakat ataupun inividual dan pada umumnya terletak di luar kawasan hutan dan termasuk ke dalam suatu wilayah desa.

3. Institusi/lembaga/pranata adalah organisasi- organisasi yang berisi manusia-manusia yang para anggotanya sama-sama punya komitmen tertentu.

Institusi adalah entitas-entitas luas atau berskala besar yang dimaksudkan untuk melayani kepentingan tertentu atau mengatasi masalah-masalah sosial tertentu. Bentuknya bisa berupa organisasi, kelompok sosial kemasyarakatan atau praktek tertentu yang berulangulang yang menuntut komitmen anggota. Di dalamnya ada aturanaturan baku yang menyangkut prosedur dan bentuk- bentuk artikulasi hubungan dan kepentingan, baik secara formal (berdasarkan peraturan hukum yang diundangkan) atau informasl, yaitu berdasarkan pada norma-norma sosial yang ada atau melalui tradisi tertentu.

4. Pemangku kepentingan (stakeholder) adalah kelompok dalam masyarakat yang

sangat berpengaruh atau dipengaruhi oleh persoalannya.

5. Kekuatan (power) adalah kemampuan untuk memenangkan kepentingannya dengan menggunakan kekuatan ekonomi dan keuangan, politik, fisik dan daya paksa, informsi dan komunikasi yang dimiliki.

6. Kepentingan (interest) adalah mengindikasikan tinggi rendahnya dampak yang mungkin timbul dari situasi atau proyek terhadap kepentingan para pemangku kepentingan.

7. Legitimasi/keabsahan adalah pengakuan dari pihak lain atas status, respect/penghargaan, dan klaim (yang bisa diaplikasikan pada situasi tertentu) yang ada pada suatu pemangku kepentingan.

D. RUANG LINGKUP KEGIATAN Tahapan kegiatan inventarisasi sosial budaya masyarakat di dalam/sekitar kawasan hutan/

KPH adalah tahap persiapan, inventarisasi/survei lapangan, analisis dan penyusunan laporan.

1. Persiapan

Tahap persiapan meliputi penetapan lokasi kegiatan, yaitu desa yang berada di sekitar (di dalam atau di luar) KPH yan telah ditetapkan secara resmi oleh kementerian kehutanan dan ditentukan secara sengaja (purposive sampling). Penentuan lokasi tersebut mempetimbangkan bahwa keberadaan desa di sekitar KPH tersebut berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap adanya KPH atau sebaliknya, KPH yang telah ditunjuk tersebut mempengaruhi secara langsung atau tidak langsung terhadap eksistensi desa tersebut.

Dengan mempertimbangkan interaksi tersebut maka bisa bersifat saling menguntungkan, atau salah satu yang dirugikan atau diuntungkan.

Informasi adanya keberadaan desa tersebut dapat dilakukan dua tahap yaitu berdasarkan informasi BPKH setempat yang di overlaykan dan di analisa dengan analisa hasil penafsiran citra landsat.

PENDAHULUAN

56

Dokumen terkait