BAB III PEMBAHASAN
2. Analisis Fiqh Muamalah Terhadap Perubahan Tarif
Hukum Islam merupakan aturan yang memiliki tujuan untuk meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat yaitu dengan jalan untuk kemanfaatan dan mencegah kemudharatan yang tidak memiliki kegunaan sama sekali bagi manusia. Dalam sebuah agama tentu adanya sumber yang menjadi rujukan dan panutan seluruh umat. Agama islam merupakan agama yang memiliki 2 sumber pedoman dengan tujuan untuk mendapatkan kehidupan yang layak di dunia dan akhirat antara lain ialah Al-Qur‟an dan Hadist. Dalam hal ini bidang ekonomi tentu menjadi kebutuhan umat yang dapat menuntun agar manusia tetap berada dijalan yang lurus (shirat al mustaqim).
Dalam hal ini dasar hukum ujrah terdapat dalam Al-Qur‟an sebagai berikut:
1. Qur‟an Surah Az-Zukhruf ayat 32:
ْعَب اَنْعَف َز َﻭ ۚ اَيْنُّدلٱ ِة ٰوَيَحْلٱ ىِف ْمُهَخَشيِعَّم مُهَنْيَب اَنْمَسَق ُنْحَن ۚ َﻚِّب َز َجَمْح َز َﻥوُمِسْقَي ْمُهَأ َﻕ ْوَف ْمُهَض
ٌسْيَخ َﻚِّب َز ُجَمْح َز َﻭ ۗ اًّي ِسْخُس اًضْعَب مُهُضْعَب َر ِخَّخَيِّل ٍج َٰج َزَﺩ ٍضْعَب َﻥوُعَمْجَي اَّمِّم
Artinya:
55
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan kehidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari pada apa yang mereka kumpulkan”.(QS. Az-Zukhruf:32)40
Dari ayat di atas telah ditegaskan bahwa Allah SWT telah membagi-bagi sarana penghidupan manusia dalam kehidupan dunia karena mereka tidak dapat melakukannya sendiri selain Allah SWT, dan Allah telah menjanjikan sebagian dari mereka dalam harta benda, ilmu, kekuatan, dan lainnya sehingga mereka bisa saling menolong satu sama lain dalam memenuhi kehidupannya.
a. Rukun dan Syarat Ujrah (upah)
Menurut Hanafiyah, rukum ujrah hanya satu, yaitu Ijab dan Qabul, artinya peryataan kedua belah pihak yang menyetujui adanya transaksi upah mengupah. Sedangkan menurut jumhur ulama, rukun dan syarat ujrah ada 4 yaitu:
1) Aqid, yaitu mu‟jir (orang yang memberi upah) dan musta‟jir (orang yang menerima upah),
2) Sighat, yaitu ijab dan qabul, 3) Ujrah (uang sewa atau upah), dan
40 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur‟an Al-Karim dan Terjemahnya (PT. Madina Raihan Makmur, Bandung:1987), hlm 491.
56
4) Manfaat, baik manfaat dari suatu barang yang di sewakan atau jasa dan tenaga dari orang yang bekerja.
Praktek ujrah yang di terapkan di terminal mandalika telah sesuai dengan rukun dan syarat-syarat ujrah tersebut. Namun ada satu hal yang menjanggal dalam praktek tersebut adalah adanya tindakan menaikkan sepihak tarif angkutan umum tersebut yang dilakukan oleh agen bus. Hal tersebut sangat dilarang oleh islam karena sama saja menghalalkan segala cara untuk mencari keuntungan dari sesama manusia tanpa menghiruakan apa imbas dari perbuatan tersebut. Allah SWT sangat melarang perbuatan demikian, sebagaimana yang di firmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur‟an Surah An-Nisa‟ ayat:29, yang berbunyi:
ٍﺽﺍ َسَح ْنَع ًة َزاَجِح َﻥوُكَح ْﻥَأ َّلَِإ ِلِﻁاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَلﺍ َوْمَأ ﺍوُلُكْأَح َلَ ﺍوُنَمآ َنيِرَّلﺍ اَهُّيَأ اَي َلَ َﻭ ۚ ْمُكْنِم
اًمي ِح َز ْمُكِب َﻥاَك َ َّاللَّ َّﻥِإ ۚ ْمُكَسُفْنَأ ﺍوُلُخْقَح
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.
Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang”.41
41 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur‟an Al-Karim dan Terjemahnya (PT. Madina Raihan Makmur, Bandung:1987), hlm 83.
57
Jelas dari isi kandungan ayat di atas menegaskan bahwa Allah SWT memperingati setiap umat manusia untuk tidak berlaku dzolim terhadap sesama dan tidak mengambil dan memakan harta orang lain dengan jalan yang tidak benar (bathil) karena akan merugikan orang lain.
Praktek menaikkan sepihak tarif angkutan umum yang terjadi di terminal Mandalika Mataram tersebut sangat merugikan masyarakat dari segi finansial terlebih saat situasi pandemi ini, masyarakat merasa bahwa tindakan tersebut merugikan mereka sebagai yang memiliki ekonomi kelas menengah ke bawah, mereka juga merasa bahwa para agen bus tidak memikirkan kepentingan penumpang, mereka lebih memikirkan seberapa besar keuntungan yang di dapatkan dari hasil menaikkan tarif secara sepihak tersebut, hal itulah yang menjadi titik ketidak adilan agen bus terhadap penumpang. Padahal Allah SWT telah memerintahkan untuk tidak dzolim dan berlaku adil terhadap sesama agar memiliki kehidupan yang rukum dan selamat dunia wal akhirat. Sebagaimana yang di firmankan oleh Allah SWT dalam QS.
An-Nahl/16 ayat 90, yang berbunyi:
ِسَكْنُمْلﺍ َﻭ ِءاَشْحَفْلﺍ ِنَع ٰىَهْنَي َﻭ ٰىَب ْسُقْلﺍ ﻱِذ ِءاَخيِإ َﻭ ِﻥاَسْحِ ْلْﺍ َﻭ ِﻝْدَعْلاِب ُسُمْأَي َ َّاللَّ َّﻥِإ ﻥﻭ ُسَّكَرَح ْمُكَّلَعَل ْمُكُظِعَي ۚ ِيْغَبْلﺍ َﻭ
58 Artinya:
“Sesungguhnya Allah SWT menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan, dia memberi pengajaran kepada kamu agar kamu dapat mengambil pelajarang”(QS. An-Nahl:90)42
Ayat diatas menegaskan bahwa Allah SWT menyuruh manusia untuk berlaku adil dan insaf serta berjalan imbang tidak melampaui batas dan tidak juga melebihinya dan Allah menyuruh manusia berbuat ihsan, yang dimana ihsan itu adalah berbuat baik kepada mahluk-Nya.
Martabat ihsan yang paling tinggi adalah berbuat kebajikan terhadap orang yang berbuat buruk kepada kita.43
Jika dikaitkan dengan rumusan masalah di atas, maka penulis mengatakan bahwa jauh dan dekatnya jarak yang ditempuh sudah di atur oleh dinas perhubungan setempat dan hal itu menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kegiatan transportasi, dari menaikkan penumpang dari terminal asal sampai ke tempat yang dituju oleh penumpang tersebut. Sedangkan peran hukum ekonomi syariah itu sendiri sangatlah penting, karena dalam pelaksanaannya pemberlakuan tarif sesuai dengan tujuan dari syariah sendiri yaitu untuk menjaga jiwa dan menjaga kemurnian harta.
42 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur‟an Al-Karim dan Terjemahnya (PT. Madina Raihan Makmur, Bandung:1987), hlm 277.
43 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur‟an Al-Karim dan Terjemahnya (PT. Madina Raihan Makmur, Bandung:1987) 40283
59
Syariat Islam sudah tersusun secara komprehensif dan sistematis, oleh karena itu dalam setiap pensyari‟atannya sebisa mungkin mengurangi kemufsadatan atau didalam Kaidah Fiqhiyah dikatakan:
ِدِساَفَمْلﺍ ُء ْزَدىَلَع ٌﻡَّدَقُم ِحِلاَصَمْلﺍ ِبْلَج
Artinya:
“Meraih kemaslahatan dan menolak kemufsadatan”.44
Kemaslahatan dilihat dari pandangan syariah terbagi menjadi tiga, yaitu ada yang wajib melaksanakannya, ada yang sunnah untuk melaksanakannya, dan ada yang mubah dalam melaksanakannya.
Begitu pula dengan kemafsadatan dalam pelaksanaannya ada yang haram dan ada yang makruh. Apabila di antara yang maslahat itu banyak dan salah satunya harus dilaksanakan pada saat yang bersamaan maka lebih baik memilih yang paling maslahat untuk dilaksanakan.
Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam QS. Az-Zumar/39 ayat 55 yang berbunyi:45
44 Dzuli, Kaidah-Kaidah Fikih: Kaidah-Kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah Yang Praktis, Cet.2, (Jakarta: Kencana, 2006), 76.
45 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur‟an Al-Karim dan Terjemahnya (PT. Madina Raihan Makmur, Bandung:1987), hlm 462.
60
۟ﺍ ٓوُعِبَّحٱ َﻭ َلَ ْمُخنَأ َﻭ ًتَخْغَب ُﺏﺍَرَعْلٱ ُمُكَيِحْأَي ﻥَأ ِلْبَق نِّم مُكِّب َّز نِّم مُكْيَلِإ َﻝ ِصنُأ ٓاَم َنَسْحَأ
َﻥﻭ ُسُعْشَح
Artinya:
“Dan ikutilah hukum sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu”.(QS.Az-Zumar:39)
Ayat di atas menegaskan kepada hamba-hambanya yang senantiasa tersesat dalam kehidupan yang fana bahwa Allah SWT menyuruh mereka untuk bertaubat dan kembali ke jalan Allah SWT karena Allah akan menerima taubat mereka selain dosa syirik, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.46
Bersadasarkan pada dalil-dalil di atas, maka dapat disimpulkan bahwa upah dalam istilah islam bersifat lebih dalam dan kerohanian yaitu imbalan yang diterima seseorang atas pekerjaannya dalam bentuk materi didunia. Keadilan dan kelayakan pemberian upah terhadap seseorang merupakan hal yang esensial agar tercapainya pahala di akhirat kelak. Pemberian upah atau bayaran sebagai imbalan atas sesuatu yang telah dikerjakan sering menjadi perbincangan hingga menjadi persoalan yang masih perlu dikaji secara detail dan dicari solusinya.47 Oleh karena itu dalam pemberian upah harus memenuhi
46 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur‟an Al-Karim dan Terjemahnya (PT. Madina Raihan Makmur, Bandung:1987) 96.
47Fitri Handayani Ningsih, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Sistem Pembayaran Upah Pada Karyawan, Institut Agama Islam Negeri Salatiga, 2018, h. 65
61
beberapa prinsip sebagaimana yang dijelaskan dalam hukum muamalat, yaitu:
a. Muamalah harus dilaksanakan dengan dasar ridho dan asas saling rela tanpa mengandung unsur paksaan.
b. Muamalah dilaksanakan dengan dasar pertimbangan yang mendatangkan manfaat dan terhindar dari kemudharatan dalam kehidupan masyarakat.
c. Muamalah dilaksanakan dengan memelihara nilai-nilai keadilan dan menghindari dari unsur penganiayaan.48
Upah harus diberikan secara adil dan tidak merugikan satu pihak. Adil secara bahasa mengandung dua arti yaitu tidak berat sebelah dan sepatutnya, kemudian tidak sewenang-wenang.49
Jadi jika dipandang dari kacamata konsep ujrah atau dalam Hukum Ekonomi Syariah pemberlakuan tarif angkutan umum di terminal mataram tidak bertentangan dengan hukum ekonomi syariah atau hukumnya adalah boleh (mubah), karena dalam menentukan suatu kebijakan itu tidak melihat dari satu aspek saja melainkan melihat dari beberapa aspek dengan menggali kaidah-kaidah fiqh sehingga menghasilkan kekuatan hukum yang kuat.
48Siti Maesaroh, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Upah Kerja Buruh, Universitas Islam Raden Intan Lampung, 2019, h. 55
49Ibnu taimiyah, juz II, h. 470.
62 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
1. Jadi dapat disimpulkan bahwa yang menjadi Faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya perubahan tarif angkutan umum di terminal Mandalika adalah Perintah dari Pemerintah Daerah, Naiknya bahan bakar minyak (BBM), Biaya Operasional Naik dan Hari Libur.
2. Analisis Fiqh Muamalah terhadap perubahan tarif angkutan umum di terminal Mandalika.
Upah yang di praktekkan di terminal Mandalika Mataram tidak bertentangan dengan konsep ujrah dalam hukum ekonomi syariah artinya boleh (mubah). Akan tetapi penentuan tarif batas atas dan batas bawah tersebut yang menjadi kendala dalam penentuan tarif. Agen bus harus bersikap adil dalam menentukan tarif, adil dalam artian tidak berat sebelah sehingga kedua belah pihak tidak ada yang merasa di rugikan. Dalam menentukan suatu kebijakan itu tidak melihat dari satu aspek saja melainkan melihat dari beberapa aspek dengan menggali kaidah-kaidah fiqh sehingga menghasilkan kekuatan hukum yang kuat.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis mengenai pembahasan tentang Analisis Fiqh Muamalah Terhadap Perubahan Tarif Angkutan Umum Di Terminal Mandalika Mataram, penulis memberikan saran-saran sebagai berikut:
63
1. Seyogianya kondektur bus dalam menentukan tarif harus sesuai dengan kebutuhan penumpang karena tidak semua penumpang mempunyai penghasilan tinggi dan tidak semua penumpang bus memiliki karakter ekonomi yang sama. Walaupun dengan menetapkan tarif angkutan umum sesuai dengan yang kondektur bus inginkan bertujuan untuk mengambil keuntungan akan tetapi harus berpedoman pada Peraturan Gubernur setempat dan melihat kondisi ekonomi penumpang.
64
DAFTAR PUSTAKA
Adesy Fordeby, Ekonomi Dan Bisnis Islam(Seri Konsep Dan Aplikasi Ekonomi Dan Bisnis Islam), Rajawali Pers, Jakarta: 2016.
Al-Qazwiniy Abdullah, Abu Yazid Bin Muhammad, Sunan Ibnu Majah Jilid II, Dar al- Fikr, Beirut, 2004, h. 20
Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial: Format-Format Kuantitatif Dan Kualitatif, (Surabaya: Airlangga University Press, 2001), hal 129
Creswell, J.W. (2010).Research Design: Pendekatankualitatif, kuantitatif, danmixed. Yogjakarta: PT PustakaPelajar.
Departemen Agama RI, al-Qur‟an dan Terjemahannya: Juz 1-30, Jakarta: PT. Kumudasmoro Grafindo Semarang, 1994.
Desjardins Joe Dan Hartman Laura, Etika Bisnis, Erlangga, 2008.
Hasan Ali M,BerbagaiMacamTransaksiDalam Islam, (Jakarta: PT.
Grafindo Persada, 2003). hlm.18
Haroen Nasrun, Fiqih Muamalah, Gaya Media Pratama, Jakarta, 2000, h. 228
Hadist Riwayat. Ibnu Majah, Dishahihkan Al Albani.
Iska Syukri, Sistem Perbankan Syariah Di Indonesia Dalam Perspektif FikihEkonomicet.Ke-1(Yogyakarta: Fajar Media Press, 2012), hlm. 183
65
Lexy Moloung, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002), hal 3
Muslich Wardi Ahmad, Fiqh Muamalat, Amzah, Jakarta: 2010
Miro Fidel, Perencanaan Transpotasi Untuk Mahasiswa, Perencanaan Praktisi, Erlangga, Jakarta, 2005
Pasal 2 Peraturan Gubernur NTB No. 03 Tahun 2015 Tentang Peraturan Tarif Atas Dan Batas Bawah Angkutan Penumpang Antar Kota Dalam Provinsi Bus Umum Kelas EkonomiDi Provinsi NTB.
Suhendi Hendi, Fiqh Muamalah, Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 2002.
Sabiq Sayyid, Fiqh Muamalah Jilid 3,(Beirut:Dar al-Kitab Al- Araby,1983), hlm. 177.
Salim Abbas, Manajemen Transportasi, Raja Grafindo, Jakarta, 2006.
Suhendi Hendi, Fiqh Muamalah, Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 2002
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2015.
hlm.64
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R & D.
Bandung: 2017
UU No. 14 Tahun 1992 pasal 42 hal. 185 Tentang Tarif Angkutan Umum.
66
Wahbahaz-Zuhaili, Fiqh Islam waAdilatuhu, (Damaskus: DarulFikr, 2007), hlm. 652
67 Lampiran 1
DOKUMENTASI WAWANCARA Gambar 1
Wawancara dengan agen bus Surya Kencana jurusan Mataram-Bima di terminal Mandalika Mataram tanggal, 16 September 2021.
68 Gambar 2
Gambar terminal Mandalika Mataram, 16 September 2021.
69 Gambar 3
Gambar loket pembelian tiket angkutan umum terminal Mandalika Mataram, 17 September 2021.
70 Gambar 4
Gambar aktivitas penumpang angkutan umum dan anggota Dinas Perhubungan di terminal Mandalika Mataram, 18 September 2021.
Lampiran 2
71
SURAT KETERANGAN PLAGIASI
Lampiran 3