• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Hasil Penelitian

Dalam dokumen UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR (Halaman 61-69)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Hasil Penelitian

B. Analisis Hasil Penelitian

47

sebesar 39.33, nilai maksimum sebesar 107.00, mean sebesar 87.4252 dan nilai standar deviasi sebesar 22.04290. Deskriptif Data c. Manajemen Laba (Y)

Analisis Statistik Deskriptif pada variabel Manajemen Laba sebanyak 44 sampel penelitian menunjukkan bahwa nilai minimum sebesar -0.08, nilai maksimum sebesar 0.01, nilai mean sebesar - 0.0117 dan nilai standar deviasi sebesar 0.01586.

2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas dalam penelitian ini dideteksi dengan diagram histogram dan uji statistik menggunakan kolmogrov-smirnov dengan pendekatan monte carlo untuk menguji apakah nilai residual berdistribusi dengan normal atau tidak. Berikut hasil uji normalitas dengan menggunakan SPSS:

Gambar 4.1 Grafik Histogram

1) Uji Normalitas dengan menggunakan diagram histogram menunjukkan hasil bahwa garis melengkung keatas membentuk seperti gunung dan terlihat sempurna dengan kaki yang simetris.

2) Uji statistik dengan menggunakan kolmogrov-smirnov dengan pendekatan monte carlo diatas menunjukkan nilai K-S sebesar 0.164 dengan signifikansi 0.169, maka dapat diambil kesimpulan bahwa model regresi telah memenuhi asumsi normalitas karena tingkat signifikansinya diatas 0.05 (sig 0.169 > 0.05).

b. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat nilai variance inflayion factor (VIF).

Jika terjadi hubungan linear yang sempurna atau pasti diantara beberapa atau semua variabel bebas dari semua model regresi maka dikatakan terjadi multikolonieritas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi multikolonieritas. Berikut hasil uji multikolonieritas dengan menggunakan SPSS:

Tabel 4.2 Uji Multikolonieritas Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

Collinearity Statistics B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) -.017 .016

dewan_komisaris .000 .000 -.183 .997 1.003

komite_audit .000 .000 .331 .997 1.003

a. Dependent Variable: manajemen_laba

49

Berdasarkan tabel 4.2 hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan uji multikolonieritas menunjukkan nilai tolerance semua variabel lebih besar dari 0.01 serta nilai VIF semua variabel independen lebih kecil dari 10 maka, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolonieritas.

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ditemukan adanya korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan periode t-1 (sebelumnya). Uji autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson. Berikut hasil uji autokorelasi dengan menggunakan SPSS:

Tabel 4.3 Uji Autokorelasi Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin- Watson

1 .388a .150 .109 .01497 1.201

a. Predictors: (Constant), komite_audit, dewan_komisaris b. Dependent Variable: manajemen_laba

Berdasarkan tabel 4.3 hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa uji autokorelasi didapatkan dari nilai Durbin-Watson sebesar 1.201. Karena nilai DW berada diantar -2 sampai +2, sehingga dapat disimpulkan bahwa didalam penelitian ini tidak mengandung autokorelasi.

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variabel dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain berbeda maka disebut heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan uji glejser. Model regresi yang baik adalah model regresi yang tidak terjadi heteroskedastisitas. Berikut hasil uji heteroskedastisitas dengan menggunakan SPSS:

Tabel 4.4 Uji Heteroskedastisitas Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -.017 .016 -1.077 .288

dewan_komisaris .000 .000 -.183 -1.272 .211

komite_audit .000 .000 .331 2.294 .027

a. Dependent Variable: manajemen_laba

Berdasarkan tabel 4.4 hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa uji heteroskedastisitas dengan menggunakan uji glejser menunjukkan hasil bahwa tidak ada satupun variabel independen signifikan secra statistic mempengaruhi variabel independen. Hal ini terlihat bahwa nilai sig > dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas.

51

3. Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi berganda bertujuan untuk mengetahui hubungan linear antar dua variabel atau lebih. Dimana satu sebagai variabel dependen (terikat) dan variabel lainnya sebagai variabel independen (bebas). Berikut hasil analisis regresi berganda dengan menggunakan SPSS.

Tabel 4.5 Analisis Regresi Berganda Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -.017 .016 -1.077 .288

dewan_komisaris .000 .000 -.183 -1.272 .211

komite_audit .000 .000 .331 2.294 .027

a. Dependent Variable: manajemen_laba

Berdasarkan tabel 4.5 hasil penelitian yang telah dilakukan, dihasilkan persamaan yaitu: DA = 0.288 + 0.000 + 0.000 Adapun interpretasi dari persamaan regresi linear berganda tersebut adalah:

a. Konstanta (α)

Ini berarti bahwa jika variabel karakteristik dewan komisaris (X1) dan komite audit (X2) tidak mengalami perubahan, maka nilai manajemen laba (Y) sebesar -0.017..

b. Variabel Karakteristik Dewan Komisaris (X1) terhadap Manajemen Laba (Y)

Nilai koefisien leverage karakteristik dewan komisaris sebesar 0.000 bertanda positif. Artinya setiap penambahan dewan komisaris sebesar 1 point, maka manajemen laba (Y) mengalami peningkatan

sebesar 0.000. Dengan Asumsi tidak ada penambahan (Konstan) nilai komite audit.

c. Variabel Komite Audit (X2) terhadap Discretionary Accruals (Y)

Nilai leverage untuk komite audit sebesar 0.000 bertanda positif. Artinya setiap penambahan komite audit sebesar 1 point, maka manajemen laba (Y) mengalami peningkatan sebesar 0.000. Dengan asumsi bahwa tidak ada penambahan (konstan) nilai karakteristik dewan komisaris.

4. Uji Hipotesis

a. Koefisien Determinan (𝑅2)

Koefisien determinan digunakan (𝑅2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan modal dalam menerangkan variasi variabel dependen. Penelitian ini menggunakan adjused 𝑅2 berkisaran antara nol dan satu. Jika nilai adjused 𝑅2 semakin mendekati angka satu, maka semakin baik kemampuan model dalam menjelaskan variabel dependen. Berikut hasil analisis koefisien determinan dengan menggunakan SPSS:

Tabel 4.6 Koefisien Determinan (𝑹𝟐) Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .388a .150 .109 .01497

a. Predictors: (Constant), komite_audit, dewan_komisaris b. Dependent Variable: manajemen_laba

53

Berdasarkan tabel 4.6 hasil penelitian yang telah dilakukan, Koefisien Determinan menunjukkan bahwa nilai koefisien determinan (𝑅2) sebesar 0.154, artinya pengaruh yang diberikan oleh kombinasi variabel karakteristik dewan komisaris (X1) dan Komite Audit (X2) sebesar 0.154 atau 15.4% dan sisanya 84.6% dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian.

b. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik T)

Uji parsial yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen tarhadap variabel dependen. Jika nilai signifikansi α < 0.05, maka dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen secara individual dan jika sebaliknya nilai signifikansi α > 0.05 maka tidak terjadi pengaruh yang signifikan dengan nilai t tabel = 1,684.

Berikut uji statistik t dengan menggunakan SPSS:

Tabel 4.7 Uji Statistik T Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -.017 .016 -1.077 .288

dewan_komisaris .000 .000 -.183 -1.272 .211

komite_audit .000 .000 .331 2.294 .027

a. Dependent Variable: manajemen_laba

1) Signifikansi Karakteristik Dewan Komisaris (X1) Terhadap Manajemen Laba (Y)

Dewan komisaris menunjukkan koefisien beta sebesar 0.000 pada tingkat singnifikansi 0.211 sehingga tingkat signifikansinya yaitu 0.211 > 0.05 sedangkan nilai t hitung < t tabel atau -1.272 < 1,684. Hal ini menunjukkan bahwa dewan komisaris berpengaruh negatif namun tidak signifikan. Dapat disimpulkan bahwa karakteristik dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap manajemen laba sehingga Hipotesis H1 ditolak.

2) Signifikansi Komite Audit (X2) Terhadap Manajemen Laba (Y) Komite audit menunjukkan koefisien beta sebesar 0.000 pada tingkat signifikansi 0.027 sehingga tingkat signifikansinya yaitu 0.027 < 0.05 sedangkan nilai t hitung > 1,684. Hal ini menunjukkan bahwa komite audit berpengaruh positif dan signifikan. Dapat disimpulkan bahwa komite audit memiliki pengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba sehingga Hipotesis H2 diterima.

Dalam dokumen UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR (Halaman 61-69)

Dokumen terkait