• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kelengkapan Bangunan

Dalam dokumen perancangan kawasan pusat kesenian budaya (Halaman 119-130)

Sistem struktur pada bangunan terdapat 2 bagian yaitu, lower struktur dan upper struktur.

a. Lower struktur

Lower struktur (struktur bawah) adalah struktur yang terletak dibawah permukaan tanah, seperti sloof, pondasi garis, pondasi foot plat, pondasi sumuran, dan tiang pancang. Pada perancangan gedung

kesenian ini menggunakan pondasi garis dan foot plat dengan dimensi disesuaikan dengan beban bangunan yang ditopang.

Gambar 69. Pondasi Garis

Sumber: [https://www.google.com/pondasi+garis]

Diakses 06 April 2020.

Gambar 70. Pondasi Batu Kali dan Pondasi Foot Plat Sumber: [https://www.google.com/Pondasi+Footplat]

Diakses 06 April 2020.

b. Upper struktur

Upper struktur (struktur atas) adalah struktur yang terletak di atas lower struktur, seperti kolom, balok, ringbalk dan rangka atap. Pada perancangan gedung kesenian ini menggunakan struktur beton dan rangka atap menggunakan material baja Wide Flange (WF) dan baja ringan.

Gambar 71. Struktur Beton Bertulang Sumber: [https://www.google.com/struktur+beton]

Diakses 06 April 2020.

Gambar 72. Struktur Rangka Atap Baja WF

Sumber: [https://www.google.com/struktur+atap+baja+wf]

Diakses 06 April 2020.

Gambar 73. Struktur Rangka Atap Baja Ringan

Sumber: [https://www.google.com/struktur+rangka+atap+baja+ringan]

Diakses 06 April 2020.

2. Sistem Penghawaan

Sistem penghawaan pada bangunan terbagi menjadi 2 bagian yaitu, penghawaan alami dan penghawaan buatan.

a. Penghawaan Alami

Penghawaan alami adalah penghawaan yang bersumber dari udara luar yang masuk kedalam bangunan melalui bukaan-bukaan yang telah dibuat seperti jendela, roster dan pintu. Pada perancangan gedung kesenian ini penggunaan sistem penghawaan alami berupa jendela dan roster di pasang pada bagian bangunan yang menghadap ke arah angin.

Gambar 74. Penghawaan Alami Sumber: Analisis Penulis, 2020.

b. Penghawaan Buatan

Penghawaan buatan adalah sistem penghawaan yang dipakai jika kondisi udara di dalam ruangan tidak memungkinkan penggunaan penghawaan alami, mengingat luasan dari bangunan yang relatif besar dan tuntutan kenyamanan dari suatu ruangan, maka digunakan sistem penghawaan buatan seperti Air Conditioner (AC).

Gambar 75. Penghawaan Buatan Sumber: Analisis Penulis, 2020.

3. Sistem Pencahayaan

Sistem pencahayaan pada bangunan terbagi menjadi 2 bagian yaitu, pencahayaan alami dan pencahayaan buatan.

a. Pencahayaan Alami

Pencahayaan alami bersumber dari cahaya matahari yang masuk kedalam bangunan melalui bukaan-bukaan yang dibuat berdasarkan orientasi matahari pada lokasi perancangan. Pencahayaan alami ini akan dimaksimalkan pada bangunan guna untuk menghemat

penggunaan energi dengan cara membuat jendela dengan material yang dapat ditembus cahaya seperti material kaca atau sejenisnya.

Gambar 76. Pencahayaan Alami Sumber: Analisis Penulis, 2020.

b. Pencahayaan Buatan

Pencahayaan buatan bersumber dari energi listrik yang digunakan apabila pencahayaan alami tidak dapat menjangkau ruangan yang perlu penerangan. Adapun jenis pencahayaan yang digunakan disesuaikan dengan sifat dan macam kegiatan dalam ruangan, fungsi ruang dan warna yang diinginkan.

Gambar 77. Pencahayaan Buatan Sumber: Analisis Penulis, 2020.

4. Sistem Utilitas

Sistem utilitas pada perancangan Kawasan Pusat Kesenian Budaya di Makassar meliputi jaringan drainase, Jaringan air bersih, jaringan air kotor, jaringan listrik, jaringan sampah dan jaringan pemadam kebakaran.

1. Jaringan Drainase

Air hujan dibuang melalui drainase yang telah dibuat pada bagian sisi jalan baik di area parkir, taman dan tempat-tempat lainnya yang dianggap berpotensi adanya timbul genangan air pada saat hujan turun kemudian dialirkan menuju drainase di jalan raya. Pada bagian permukaan drainase ditutupi dengan beton atau teralis guna untuk memberikan keamanan bagi pengunjung dan sebagai fungsi estetika.

Gambar 78. Jaringan Drainase Sumber: Analisis Penulis, 2020.

2. Jaringan Air Bersih

Air bersih diperoleh dari sumber PDAM, kemudian didistribusi menuju toren air pada tiap-tiap bangunan menggunakan pompa. Posisi

toren ditempatkan pada bagian atap bangunan atau tempat-tempat yang lebih tinggi agar aliran air tetap lancar.

Gambar 79. Jaringan Air Bersih Sumber: Analisis Penulis, 2020.

3. Jaringan Air Kotor

Pada bangunan yang berskala besar dan bermassa dengan jumlah pengunjung yang banyak tentunya penggunaan air cukup banyak pula sehingga harus dibuatkan penampungan air bekas berupa sumur resapan. Sumur resapan ini difungsikan juga sebagai tempat penampungan air hujan dari sekitar bangunan.

Gambar 80. Jaringan Air Kotor Sumber: Analisis Penulis, 2020.

4. Jaringan Listrik

Sumber listrik pada kawasan ini terdiri dari dua sumber, yaitu sumber listrik dari PLN dan sumber listrik dari genset yang kapasitasnya

disesuaikan dengan kebutuhan pada bangunan yang ada pada kawasan ini. Sumber listrik dari genset difungsikan untuk keadaan darurat atau sebagai sumber listrik tambahan.

Gambar 81. Jaringan Listrik Sumber: Analisis Penulis, 2020.

5. Jaringan Sampah

Limbah sampah berasal dari bangunan pada Kawasan Pusat Kesenian Budaya ini. Sampah yang dihasilkan berupa sampah basah maupun sampah kering atau sampah organik dan sampah non organik harus dibuatkan tempat sampah yang khusus berdasarkan jenis sampahnya.

Pada Kawasan Pusat Kesenian Budaya ini, tempat sampah dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu tempat sampah kertas, tempat sampah plastik dan tempat sampah organik. Sampah yang sudah terkumpul kemudian didistribusi menuju tempat sampah sementara yang berupa container, kemudian diangkut keluar menuju tempat penmbuangan akhir.

Gambar 82. Jaringan Sampah Sumber: Analisis Penulis, 2020.

6. Jaringan Pemadam Kebakaran

Bangunan pada Kawasan Pusat Kesenian Budaya ini dilengkapi dengan hydrant, sprinkler dan alarm kebakaran yang bekerja secara otomatis pada ruang-ruang khusus yang berpotensi terjadi kebakaran.

Penanganan kebakaran pada kawasan ini menggunakan sistem fire protection, yaitu alat yang digunakan sebagai usaha pencegahan atau penanggulangan kebakaran agar tidak meluas. Adapun sistem jaringan fire protection pada Kawasan Pusat Kesenian Budaya ini sebagai berikut.

Tabel 21. Jenis Alat Pemadam Kebakaran

No. Jenis Alat Fungsi Peletakan

1 2 3

1. Fire break glass alarm

(BGA)

Alarm kebakaran Menempel pada dinding bangunan tiap area

2. Fire control system (sprinkler)

Mendeteksi panas pada suhu tertentu kemudian

menyemburkan air keseluruh ruangan, air bersumber dari reservoir di atap

Dipasang pada plafon bangunan pada area publik dan semi publik

3. Portable fire extinguisher

Menanggulangi masalah kebakaran tahap awal (berupa tabung gas pemadam bewarna merah

Pada setiap area dengan jarak tiap tabung maksimal 30 meter

4. Hydrant dan selang kebakaran

Memadamkan kebakaran yang sudah terjadi dengan alat bantu air, terdapat selang kebakaran, sumber air berasal dari sumber terdekat.

Terlihat jelas, mudah terbaca, mudah dijangkau dan tidak terhalang

Sumber: Analisis Penulis, 2020

7. Jaringan Sistem Keamanan

Dalam perancangan gedung kesenian ini dilengkapi dengan CCTV (Closed Circuit Television) sebagai sistem keamanan guna untuk memantau aktifitas yang terjadi di dalam maupun diluar ruangan.

Gambar 83. CCTV (Closed Circuit Television)

Sumber: [https://www.google.com/Closed+Circuit+Television]

Diakses 06 April 2020.

Dalam dokumen perancangan kawasan pusat kesenian budaya (Halaman 119-130)

Dokumen terkait