BAB V ANALISIS DAN INTERPRETASI
5.8 Analisis Sebab Akibat (Diagram Fishbone)
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, diketahui bahwa rangkaian mesin RCD 3 kurang efektif dalam memecah batu bara menjadi ukuran yang lebih kecil, yaitu <50 mm. Setelah dilakukan perhitungan, diketahui bahwa nilai OEE rangkaian mesin RCD 3 lebih rendah dari RCD 4. Dari hal tersebut, lalu tahap selanjutnya adalah mencari tahu akar penyebab terjadinya pemecahan batu bara yang masih menyisakan ukuran >50 mm dengan menggunakan diagram fishbone.
Gambar 5.3 Diagram fishbone 0%
20%
40%
60%
80%
100%
120%
18 JULI
19 JULI
20 JULI
21 JULI
22 JULI
23 JULI
24 JULI
25 JULI
26 JULI
27 JULI
28 JULI
29 JULI
30 JULI
31 JULI
NILAI OEE RCD 4 (18 Juli - 31 Juli)
A % P% Q% NILAI OEE
56 Berdasarkan diagram fishbone di atas, dapat dijelaskan untuk masing-masing aspek yang mengakibatkan mesin pemecah butir batu bara masih menghasilkan batu bara
>50 mm sebagai berikut:
1. Man
Hal yang menyebabkan mesin pemecah batu bara masih ada yang berukuran
>50 mm pada aspek manusia adalah operator tidak melakukan pengecekan pada saat pengoperasian alat, yang disebabkan karena operator lalai dalam melaksanakan SOP pada pengoperasian alat.
2. Machine
Hal yang menyebabkan mesin pemecah batu bara masih ada yang berukuran
>50 mm pada aspek manusia adalah gigi-gigi pada mesin quadrol crusher tidak utuh yang disebabkan oleh material non-batu bara, yaitu batu pack.
Sehingga mesin yang dikualifikasikan untuk memecah batu bara, pada saat batu pack lewat akan mengalami penurunan daya hancur karena sifat batu pack lebih keras daripada batu bara. Penyebab yang kedua yaitu mesin bekerja over time yang dapat dilihat pada tabel waktu kerja mesin, dimana mesin bekerja sampai belasan jam. Jika mesin tidak dibarengi dengan maintenance terjadwal, maka mesin akan mengalami pengausan.
3. Environment
Hal yang menyebabkan mesin pemecah batu bara masih ada yang berukuran
>50 mm pada aspek manusia adalah pemadaman listrik. Pemadaman listrik terkadang terjadi di PTBA Unit Pelabuhan Tarahan dan berdampak berhentinya produksi di area pertambangan yang disebabkan oleh perbedaan muatan kondensor dengan boiler fit pump yang kelebihan muatan sehingga berdampak pada turunnya daya pada seluruh area PTBA Unit Pelabuhan Tarahan.
4. Material
Hal yang menyebabkan mesin pemecah batu bara masih ada yang berukuran
>50 mm pada aspek manusia adalah adanya material pengotor, yaitu batu pack yang dikarenakan tidak adanya pemilahan langsung batu bara yang dikeruk langsung di area pertambangan. Batu tersebut yang menyebabkan
57 penurunan kualitas pada mesin quadrol crusher karena mesin quadrol crusher dirancang untuk menghancurkan batu bara, bukan batu pack.
5. Method
Hal yang menyebabkan mesin pemecah batu bara masih ada yang berukuran
>50 mm pada aspek manusia adalah tidak adanya screening sebelum batu bara memasuki mesin quadrol crusher yang dikarenakan untuk menghemat biaya dan waktu dalam produksi batu bara. Pemilahan tersebut dimaksudkan untuk memisahkan antara batu bara dan batu pack.
58
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan perhitungan dan analisis pada penelitian yang telah dilakukan, kesimpulan yang bisa diambil adalah:
1. Perusahaan PT Bukit Asam Unit Pelabuhan Tarahan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri pertambangan batu bara. Alur proses produksi yang terjadi pada PTBA Unit Pelabuhan Tarahan yaitu mulai dari pembongkaran batu bara dari BBR, proses sizing, blending batu bara, dan proses pengapalan.
2. Metode yang dilakukan pada penelitian adalah OEE dan diagram fishbone.
3. Berdasarkan perhitungan OEE yang telah dilakukan, nilai OEE RCD 3 adalah 79% dan nilai OEE RCD 4 adalah 92%. Menurut standar nilai OEE, nilai OEE RCD 3 termasuk dalam kategori sedang, dimana produksi dianggap wajar dan perlu untuk dilakukan banyak improvement. Sedangkan nilai OEE RCD 4 termasuk dalam kategori kelas dunia, dimana produksi dianggap kelas dunia dan merupakan nilai yang bisa dijadikan tujuan jangka panjang dalam proses produksi.
4. Berdasarkan analisis diagram fishbone, penyebab dari masing-masing aspek dapat disimpulkan menjadi berikut ini.
a. Man : Operator tidak melakukan pengecekan pada saat pengoperasian alat yang dikarenakan lalai dalam melaksanakan SOP.
b. Material : Adanya material pengotor, batu pack yang
dikarenakan tidak adanya pemilahan batu bara yang dikeruk langsung di area pertambangan.
c. Machine : Gigi-gigi pada crusher sudah tidak utuh lagi
dikarenakan adanya material lain yang masuk selain batu bara.
59 d. Method : Tidak adanya screening sebelum batu bara
memasuki mesin quadrol crusher karena untuk menghemat waktu dan biaya dalam produksi batu bara.
e. Environment : Terjadinya pemadaman listrik yang dikarenakan perbedaan muatan antara kondensor dan boiler fit pump.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang sudah ditulis, maka saran yang dapat diberikan oleh penulis yang telah melaksanakan kerja praktik di PTBA Pelabuhan Tarahan adalah sebagai berikut:
1. Sebaiknya perusahaan menerapkan metode OEE untuk dapat terus memantau keadaan mesin dan kualitas mesin, dimana hal tersebut akan berdampak meningkatnya produktivitas produksi batu bara.
2. Memperbaiki dan merevisi hal-hal yang dapat menimbulkan penurunan kualitas, seperti masih terjadinya ukuran batu bara yang masih >50 mm.
3. Mahasiswa kerja praktik selanjutnya yang akan melakukan kerja praktik di PTBA Pelabuhan Tarahan diharapkan dapat memahami proses pembongkaran batu bara sampai dengan pengapalan secara lebih mendetail.
60
DAFTAR PUSTAKA
[1] G. B. Sutra, "Perancangan PFD (Process Flow Diagram) untuk Gasifikasi Reforming Terpusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara," Universitas Telkom, Bandung, 2016.
[2] I. Fahmuddin, A. W. Harto and K. , "Produksi Gas Sintesis dari Batubara Peringkat Rendah Indonesia serta Optimasi dan Simulasi Menggunakan Aspen Hysys," Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 2022.
[3] P. N. Putinela, "Analisis Keausan Teeth Segment pada Primary Crusher (PCT001) Jalur Belt Conveyor (CRT002) di PT Bukit Asam Tbk. Unit Pelabuhan Tarahan," Universitas Lampung, Bandar Lampung, 2021.
[4] D. M. Nayak, V. K. M N, G. S. Naidu and V. Shankar, "Evaluation of OEE in a Continuous Pocess Industry on an Insulation Line in a Cable Manufacturing Unit," International Journal of Innovative Research in Science, Engineering, and Technology, 2013.
[5] Safrizal, "Pengendalian Kualitas dengan Metode Six Sigma," Jurnal Manajamen dan Keuangan Universitas Samudra, 2016.
[6] D. W. Ariani, Pengendalian Kualitas Statistik: Pendekatan Kuantitatif dalam Manajemen Kualitas, Yogyakarta: Andi, 2004.
[7] A. Nurkholiq, O. Saryono and I. Setiawan, "Analisis Pengendalian Kualitas (Quality Control) dalam Meningkatkan Kualitas Produk," Ekonologi Jurnal Ilmu Manajemen, 2019.
[8] S. Assauri, Manajemen Produksi dan Operasi, Jakarta: Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2008.
[9] D. Diniaty, F. Hanum and M. I. Hamdy, "Analisis Pengendalian Mutu (Quality Control) CPO (Crude Palm Oil) pada PT XYZ," Jurnal Hasil Penelitian dan Karya Ilmiah dalam Bidang Teknik Industri, p. 92, 2019.
61 [10] R. R. P. Atmadja, Beberapa Pokok dari Pelaksanaan Quality Control dan
Storage Control pada Suatu Perusahaan, Bandung: Penerbit Tarsito Bandung, 1976.
[11] P. Kotler, Marketing Management Millenium Edition, Tenth Edition, United States of America: Prentice-Hall, Inc, 2000.
[12] Z. Y. Zhang, D. D. Gui, M. Sha, J. Liu and Y. H. Wang, Raman Chemical Feature Extraction for Quality Control of Dairy Products, J. Dairy Sci., 2019.
[13] A. Ismail, "Merk Dagang (Brand) dan Spesifikasi Batu Bara PT Bukit Asam Tbk," in Keputusan Direksi PT Bukit Asam Tbk, Tanjung Enim, 2022.
[14] T. Wireman, "Total Productive Maintenance," in Total Productive Maintenance, United States of America, Industrial Press Inc., 2004, pp. 1-2.
[15] A. P. Chan and A. P. Chan, "Key Perfomance Indicators for Measuring Construction Success," An International Journal, pp. 203-221, 2004.
[16] J. Alhilman, F. T. Atmaji and N. Athari, Software Application for Maintenance System: A Combination of Maintenance Methods in Printing Industry, Melaka, Malaysia: 5th International Confrence on Information and Communication Technology (ICoIC7), 2017.
[17] F. Saleem, S. Nisar, M. A. Khan, S. Z. Khan and M. A. Sheikh, "Overall Equipment Effectiveness of Tyre Curing Press: A Case Study," Journal of Quality in Maintenance Engineering, vol. 23, pp. 39-56, 2017.
[18] C. W. Kang and P. Kvam, Basic Statistical Tools for Improving Quality, Hoboken, New Jersey: A John Willy & Sons, Inc., 2012.
[19] N. R. Tague, The Quality Toolbox Second Edition, Milwaukee, Wisconsin:
American Society for Quality, 2005.
[20] S. Prayoga, "Rotary Car Dumper pada Processing Machinery and Equipment," Universitas Lampung, Bandar Lampung, 2020.
62 [21] L. D. Pratama, "Analisis Penerapan Total Productive Maintenance dengan
Menggunakan Overall Equipment Effectiveness (OEE) dan SIx Big Losses sebagai Rekomendasi Perbaikan Maintenance (Studi Kasus: CV Arsila Bakery)," Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2018.
[22] C. G. Fahrenholz, L. J. Smith, K. Tucker and D. Warner, "Plan B: A Practical Approach to Downtime Planning in Medical Practices," The American Health Information Management Association, 2009.
[23] Hermanto, "Pengukuran Nilaai Overall Equipment Effectiveness pada Divisi Painting di PT. AIM," Jurnal Metris, no. 1 November 2016, pp. 97-106, 2016.
63
LAMPIRAN
Lampiran A. Alur Kerja Praktik
Lampiran A berisi alur kerja praktik yang dilakukan oleh peneliti selama melakukan kerja praktik di PTBA Unit Pelabuhan Tarahan.
Berikut merupakan penjelasan dari diagram alir dalam alur penelitian:
1. Mulai
Kerja praktik dilakukan di PTBA Unit Pelabuhan Tarahan.
64 2. Perkenalan kepada Satuan Kerja Kendali Produksi
Bersama pembimbing eksternal, peneliti diperkenalkan kepada seluruh karyawan serta ruangan-ruangan yang ada di satker kendali produksi.
3. Observasi Area Pertambangan
Peneliti melakukan observasi area pertambangan untuk mengetahaui situasi, kondisi yang terjadi pada pertambangan PTBA Unit Pelabuhan Tarahan.
4. Kajian literatur
Peneliti melakukan pengumpulan informasi dari literatur berupa jurnal, buku, dan website untuk membantu dalam menyelesaikan permasalahan dari penelitian yang dilakukan.
5. Identifikasi Masalah
Peneliti melakukan identifikasi masalah sesuai dengan yang terjadi pada saat observasi area pertambangan dan juga kajian literatur yang sudah didapat. Bagian ini juga nantinya akan menjelaskan permasalahan yang terjadi pada divisi kendali kualitas PTBA Unit Pelabuhan Tarahan.
6. Pengumpulan Data
a. Data primer : berupa data pengamatan langsung atau observasi lapangan untuk mengetahui presentase batu bara dengan ukuran >50 mm yang didapatkan dari RCD 3 dan 4.
b. Data sekunder : berupa data yang didapat dari perusahaan, seperti data waktu breakdown, waktu set up &
adjustment, waktu planned downtime, waktu kerja mesin, waktu aktual mesin, waktu siklus ideal, jumlah produksi kotor, jumlah produk baik, jumlah produk tidak baik.
7. Pengolahan Data
Data yang ada diolah menggunakan software Ms. Excel untuk menghitung availability, performance rate, quality rate, dan OEE. Selain itu juga menggunakan website draw.io untuk membuat diagram fishbone.
8. Analisa Hasil OEE dan Diagram Fishbone
65 Perhitungan OEE yang telah dilakukan selanjutnya akan dilakukan analisa OEE untuk mengetahui besarnya presentase nilai keefektifan mesin. Setelah itu dilakukan analisa fishbone untuk mengetahui akar masalah yang menyebabkan butir batu bara memiliki ukuran >50 mm.
9. Kesimpulan dan Saran
Pengolahan data dan analisa yang telah dilakukan selanjutnya akan dilakukan ditarik kesimpulan yang telah didapat dan memberikan saran kepada perusahaan, peneliti, dan mahasiswa selanjutnya yang akan melakukan penelitian.
10. Selesai
Kerja praktik di PTBA Unit Pelabuhan Tarahan selesai dilakukan.
66 Lampiran B. Surat Balasan Penerimaan Kerja Praktik
Lampiran A berisi surat balasan dari proposal dan surat pengantar yang telah diajukan kepada PTBA Pelabuhan Tarahan.
67 Lampiran C. Daftar Hadir Kegiatan Kerja Praktik
Lampiran C berisi tentang jumlah hari dan kegiatan yang peneliti lakukan selama melakukan kerja praktik.
68 Lampiran D. Lembar Bimbingan Kerja Praktik Dosen Pembimbing
Lampiran D berisi tentang lembar bimbingan dengan dosen pembimbing yang membantu mengoreksi laporan peneliti dan memberikan saran.
69 Lampiran E. Berita Acara Seminar Kerja Praktik
Lampiran E berisi tentang detail seminar kerja praktik yang peneliti lakukan, mulai dari tempat dan tanggal sampai dengan nilai yang diperoleh oleh peneliti.
Lampiran F. Formulir Penilaian Pembimbing Eksternal
Lampiran F berisi tentang penilaian yang diberikan oleh pembimbing eksternal yang ada di perusahaan kepada peneliti, dimana penilaian yang diberikan terdiri dari empat kriteria. Kriteria-kriteria tersebut yaitu sikap dan perilaku selama kerja
70 praktik, pemahaman mengenai tugas selama kerja praktik, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kesesuaian laporan dengan pelaksanaan kerja praktik.
71 Lampiran G. Formulir Penilaian Pembimbing Internal
Lampiran G berisi tentang penilaian dari dosen pembimbing kepada peneliti terhadap kerja praktik yang telah peneliti laksanakan. Penilaian terdiri atas empat kriteria, yaitu sikap dan perilaku selama bimbingan, pemahaman mengenai pelaksanaan kerja praktik, kemampuan menganalisis permasalahan, dan penyajian bukti pelaksanaan kerja praktik.
72 Lampiran H. Formulir Penilaian Seminar Kerja Praktik
Lampiran H berisi tentang penilaian kepada peneliti terhadap seminar kerja praktik yang dilakukan. Penilaian terdiri atas empat kriteria, yaitu penguasaan materi, penggunaan bahasa dan cara penyampaian, penggunaan waktu presentasi, dan kemampuan dan ketepatan menjawab pertanyaan.