BAB IV LAPORAN AKTIVITAS HARIAN
4.2 Jadwal Kerja
Kerja praktik yang dilaksanakan di PTBA Unit Pelabuhan Tarahan dilaksanakan dari tanggal 17 Juli 2023 sampai dengan 25 Agustus 2023, dengan alokasi waktu kerja per minggu yaitu hari Senin sampai Jumat pukul 07.00 – 16.00 WIB dan waktu istirahat selama satu jam dari jam 12.00 – 13.00 WIB.
35
Tabel 4.1 Kegiatan Kerja Praktik
No. Bentuk Kegiatan Minggu ke-
1 2 3 4 5 6
1
Pengenalan lingkungan sekitar serta adaptasi dan interaksi awal dengan pihak perusahaan
2
Pengenalan sistem yang ada pada perusahaan (distribusi dan produksi)
3
Obesrvasi guna penerapan bidang keahlian yang dipilih
4
Pengumpulan data primer dan sekunder serta survei lapangan
5
Pembuatan dan penyusunan laporan kerja praktik
Minggu pertama pelaksanaan kerja praktik, kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Induksi bersama K3PLS terkait bahaya dan aturan yang ada di PTBA Unit Pelabuhan Tarahan.
2. Perkenalan dengan pembimbing eksternal yang menjabat sebagai asisten manajer, kemudian oleh pembimbing eksternal, peneliti diperkenalkan dengan seluruh karyawan yang ada di divisi kendali produksi serta seluruh area yang ada di gedung kendali produksi.
3. Pengenalan area pertambangan dan nama mesin-mesin yang digunakan serta mengumpulkan data bongkaran dari RCD yang sudah ada.
4. Mempelajari cara shieving dan mencicil laporan kerja praktik.
Minggu kedua pelaksanaan kerja praktik, kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
36 1. Mengumpulkan informasi tentang mesin quadrol, RCD dengan teknik wawancara kepada supervisor satuan kerja penunjang operasi terkait cara kerjanya.
2. Mencicil laporan kerja praktik sekaligus mengumpulkan data yang diperlukan.
3. Mengambil data bongkaran batu bara dari RCD 3 untuk dilakukan sizing dan mencicil laporan KP.
4. Melakukan kerja bakti di satker kendali produksi oleh seluruh karyawan dan mahasiswa yang melakukan kerja praktik yang ada di gedung satker kendali produksi dalam rangka adanya waktu luang, sehingga hal tersebut dimanfaatkan untuk hal tersebut. Tempat yang dibersihkan adalah ruang reparasi dan laboratorium. Serta peneliti juga melakukan pencicilan laporan KP ketika kerja bakti sudah selesai.
5. Melakukan senam bersama oleh seluruh karyawan dan mahasiswa yang melakukan kerja praktik di PTBA Unit Pelabuhan Tarahan serta mencicil laporan KP.
Minggu ketiga pelaksanaan kerja praktik, kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Meminta data ke satuan kerja kajian operasional dan teknik terkait data mesin RCD serta mencicil laporan KP.
2. Menghadiri safety talk rutin dan mencicil laporan KP.
3. Mencicil laporan KP, dengan spesifikasi bab V.
4. Mencicil laporan KP, dengan spesifikasi bab V.
5. Melakukan senam bersama yang dilakukan secara rutin dan mencicil laporan KP.
Minggu keempat pelaksanaan kerja praktik, kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mengambil sampel mine brand BB 47 dan BB 51 untuk dilakukan identifikasi perbedaan jumlah kalor serta melakukan pencicilan laporan KP.
2. Menghadiri safety talk yang diadakan secara rutin dan mencicil laporan KP.
37 3. Mengambil dokumentasi berbagai mine brand dan membantu pekerjaan
bagian satker kendali produksi.
4. Membantu pekerjaan satker kendali produksi.
5. Melakukan senam bersama dalam rangka perayaan ulang tahun PT Pelabuhan Bukit Prima.
Minggu kelima pelaksanaan kerja praktik, kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mengerjakan laporan KP dengan meninjau ulang kembali Bab I yang telah dikerjakan.
2. Menonton perlombaan menyanyi yang diadakan oleh perusahaan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan.
3. Melakukan perlombaan balap batu bata secara berkelompok yang diadakan oleh perusahaan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan.
4. Melakukan upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bersama seluruh karyawan PTBA Unit Pelabuhan Tarahan.
5. Melakukan senam rutin bersama dan meninjau kembali Bab II yang telah dikerjakan.
Minggu keenam pelaksanaan kerja praktik, kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mengerjakan laporan KP dengan meninjau kembali Bab III yang telah dikerjakan.
2. Menghadiri safety talk yang diadakan secara rutin dan meninjau kembali Bab IV yang telah dikerjakan.
3. Mengerjakan laporan KP dengan meninjau kembali Bab V yang telah dikerjakan.
4. Mengerjakan laporan KP dengan meninjau kembali Bab VI yang telah dikerjakan.
5. Melakukan senam rutin bersama, membuat power point untuk presentasi, dan melakukan presentasi hasil kerja praktik di hadapan Asisten Manajer Lab dan Kendali Kualitas berserta staf-staf nya.
38
BAB V
ANALISIS DAN INTERPRETASI
5.1 Analisis Situasi
PTBA Unit Pelabuhan Tarahan merupakan perusahaan yang memasarkan batu bara kiriman dari pertambangan batu bara yang ada di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, kemudian dipasarkan ke pasar domestik dan luar negeri. Namun, pada laporan ini hanya membahas proses sizing, yaitu mensortir ukuran batu bara yang memiliki ukuran >50 mm pada proses shieving sebelum melakukan pengiriman. Proses sizing di sini akan membandingkan rangkaian mesin RCD 3 dan 4, dimana hal yang akan dikaji adalah keefektifan mesin dalam menghancurkan batu bara menjadi bentuk yang lebih kecil sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yaitu 50 mm.
Sesuai dengan kontrak dagang PTBA Unit Pelabuhan Tarahan, presentase minimal batu bara >50 mm untuk pengiriman domestik sebesar 10% atau 90% presentase batu bara dengan ukuran yang baik yang diperbolehkan untuk dikirim. Pihak perusahaan terus melakukan pengawasan terhadap kinerja mesin untuk tetap menekan presentase batu bara >50 mm.
5.2 Perbandingan Sampel RCD 3 dan 4
Perbandingan sampel keluaran dari RCD 3 dan 4 merupakan langkah awal dalam mengidentifikasi penyebab butir batu bara bisa >50 mm. Peneliti telah mengumpulkan sampel sebanyak tujuh sampel untuk setiap rangkaian mesin RCD.
Pada RCD 3 menggunakan batu bara BB 47 dan pada RCD 4 menggunakan BB 51.
Pengambilan tujuh sampel didasarkan pada ketentuan perusahaan untuk minimal pengambilan sampel yang diakui. Berikut merupakan hasil sampel dari RCD 3 dan 4.
39
Tabel 5.1 Sampel dari RCD 3
RCD 3
Data ke-1 Data ke -2 Data ke-3
Tanggal 18 Juli
2023 Tanggal 19 Juli 2023 Tanggal 20 Juli 2023 Lokasi Stockpile 4 Lokasi Stockpile 4 Lokasi Stockpile 4 Presentase
butir tidak lolos
25%
Presentase butir tidak lolos
7%
Presentase butir tidak lolos
37%
<50 mm 24 kg <50 mm 28 kg <50 mm 19 kg
>50 mm 8 kg >50 mm 2 kg >50 mm 11 kg
Data ke-4 Data ke-5 Data ke-6
Tanggal 21 Juli
2023 Tanggal 24 Juli 2023 Tanggal 25 Juli2023 Lokasi Stockpile 4 Lokasi Stockpile 4 Lokasi Stockpile 4 Presentase
butir tidak lolos
23%
Presentase butir tidak lolos
26%
Presentase butir tidak lolos
17%
<50 mm 27 kg <50 mm 28 kg <50 mm 19 kg
>50 mm 8 kg >50 mm 10 kg >50 mm 4 kg Data ke-7
Tanggal 26 Juli 2023 Lokasi Stockpile 4 Presentase
butir tidak lolos
25%
<50 mm 27 kg
>50 mm 9 kg
40
Tabel 5.2 Sampel dari RCD 4
RCD 4
Data ke-1 Data ke -2 Data ke-3
Tanggal 18 Juli 2023 Tanggal 19 Juli 2023 Tanggal 20 Juli 2023 Lokasi Stockpile 4,
valve 4 Lokasi Stockpile 4
valve 4 Lokasi Stockpile 4 valve 4 Presentase
butir tidak lolos
27%
Presentase butir tidak lolos
4%
Presentase butir tidak lolos
5%
<50 mm 14 kg <50 mm 24 kg <50 mm 47,5 kg
>50 mm 5,2 kg >50 mm 1 kg >50 mm 2,5 kg
Data ke-4 Data ke-5 Data ke-6
Tanggal 21 Juli 2023 Tanggal 24 Juli 2023 Tanggal 25 Juli 2023 Lokasi Stockpile 4
valve 1 Lokasi Stockpile 4
valve 4 Lokasi Stockpile 4 valve 3 Presentase
butir tidak lolos
8,6%
Presentase butir tidak lolos
6,6%
Presentase butir tidak lolos
6,66%
<50 mm 42,5 kg <50 mm 28 kg <50 mm 28 kg
>50 mm 4 kg >50 mm 2 kg >50 mm 2 kg Data ke-7
Tanggal 26 Juli 2023 Lokasi Stockpile 4
valve 2 Presentase
butir tidak lolos
5%
<50 mm 57 kg
>50 mm 3 kg
41
Tabel 5.3 Rata-rata Perbandingan Sampel RCD 3 & 4
Data ke- RCD 3 RCD 4
1 25% 27%
2 7% 4%
3 37% 5%
4 23% 8,6%
5 26% 6,6%
6 17% 6,7%
7 25% 5%
x̄ 23% 9%
Dari data di atas, diketahui bahwa RCD 3 memiliki rangkaian mesin yang kurang efektif dalam menghancurkan batu bara menjadi ukuran yang lebih kecil dan tidak masuk ke dalam kriteria pengiriman domestik. Sedangkan RCD 4 lebih efektif dalam menghancurkan batu bara menjadi ukuran yang lebih kecil dan masuk ke dalam kriteria pengiriman domestik.
5.3 Data Breakdown Mesin dan Data Set Up and Adjustment
Data pada sub bab ini dan seterusnya merupakan penjabaran dari penyebab terjadinya proses sizing di RCD 3 kurang efektif. Pengumpulan data breakdown dan set up and adjustment mesin dilakukan pada RCD 3 dan 4. Breakdown merupakan kondisi saat mesin berhenti dalam proses produksi atau disebut juga kondisi idle.
Sedangkan set up and adjustment merupakan waktu awalan dan akhiran persiapan mesin [14]. Berikut merupakan data waktu breakdown dan set up and adjustment rangkaian mesin RCD di PTBA Unit Pelabuhan Tarahan dari tanggal 18 Juli – 31 Juli 2023.
Tabel 5.4 Data Waktu Breakdown dan Waktu Set Up & Adjustment RCD 3
No. Tanggal Waktu Breakdown (jam)
Waktu Set Up &
Adjustment (jam)
1 18 Juli 2023 0,3 0,0833
2 19 Juli 2023 0 0,0833
42
Tabel 5.5 Data Waktu Breakdown dan Waktu Set Up & Adjustment RCD 3 (lanjutan)
No. Tanggal Waktu Breakdown (jam)
Waktu Set Up &
Adjustment (jam)
3 20 Juli 2023 1,2 0,0833
4 21 Juli 2023 1,5 0,0833
5 22 Juli 2023 0 0,0833
6 23 Juli 2023 0 0,0833
7 24 Juli 2023 2,8 0,0833
8 25 Juli 2023 3,8 0,0833
9 26 Juli 2023 0 0,0833
10 27 Juli 2023 0,7 0,0833
11 28 Juli 2023 0 0,0833
12 29 Juli 2023 2,6 0,0833
13 30 Juli 2023 0 0,0833
14 31 Juli 2023 0 0,0833
Tabel 5.6Data Waktu Breakdown dan Waktu Set Up & Adjustment RCD 4
No. Tanggal Waktu Breakdown (jam)
Waktu Set Up &
Adjustment (jam)
1 18 Juli 2023 0 0,0833
2 19 Juli 2023 0 0,0833
3 20 Juli 2023 0 0,0833
4 21 Juli 2023 1,8 0,0833
5 22 Juli 2023 0 0,0833
6 23 Juli 2023 0 0,0833
7 24 Juli 2023 0 0,0833
8 25 Juli 2023 0 0,0833
9 26 Juli 2023 0 0,0833
10 27 Juli 2023 0 0,0833
11 28 Juli 2023 1,5 0,0833
12 29 Juli 2023 0 0,0833
43
Tabel 5.7Data Waktu Breakdown dan Waktu Set Up & Adjustment RCD 4 (lanjutan)
No. Tanggal Waktu Breakdown (jam)
Waktu Set Up &
Adjustment (jam)
13 30 Juli 2023 0 0,0833
14 31 Juli 2023 0,3 0,0833
5.4 Data Planned Downtime
Planned downtime merupakan waktu di mana mesin atau sistem funsgional tidak berfungsi dengan baik atau tidak bisa digunakan. Hal ini dapat terjadi karena adanya jadwal pemeliharaan atau maintenance, pembaruan, atau peningkatan [15]. Berikut merupakan data planned downtime pada RCD 3 dan 4 dari tanggal 18 Juli – 31 Juli 2023.
Tabel 5.8 Data Waktu Planned Downtime RCD 3
No. Tanggal Planned Downtime (jam)
1 18 Juli 2023 0
2 19 Juli 2023 0
3 20 Juli 2023 0
4 21 Juli 2023 0
5 22 Juli 2023 0
6 23 Juli 2023 0
7 24 Juli 2023 0
8 25 Juli 2023 0
9 26 Juli 2023 0
10 27 Juli 2023 0
11 28 Juli 2023 0
12 29 Juli 2023 0
13 30 Juli 2023 0
14 31 Juli 2023 0
44
Tabel 5.9 Data Waktu Planned Downtime RCD 4
No. Tanggal Planned Downtime (jam)
1 18 Juli 2023 0
2 19 Juli 2023 0
3 20 Juli 2023 0
4 21 Juli 2023 0
5 22 Juli 2023 0
6 23 Juli 2023 0
7 24 Juli 2023 0
8 25 Juli 2023 0
9 26 Juli 2023 0
10 27 Juli 2023 0
11 28 Juli 2023 0
12 29 Juli 2023 0
13 30 Juli 2023 0
14 31 Juli 2023 0
5.5 Data Produksi RCD 3 dan 4
Produksi yang terjadi di area pertambangan PTBA Unit Pelabuhan Tarahan, khususnya di RCD 3 dan 4 memerlukan beberapa data, yaitu sebagai berikut:
1. Waktu kerja mesin, merupakan total waktu yang tersedia bagi mesin RCD untuk memproduksi butir batu bara.
2. Waktu aktual produksi, merupakan waktu yang digunakan oleh mesin RCD untuk memproduksi butir batu bara.
3. Waktu siklus ideal, merupakan waktu yang ideal yang digunakan oleh mesin RCD untuk memproduksi butir batu bara.
4. Jumlah produksi kotor, merupakan berat batu bara yang diterima oleh PTBA Unit Pelabuahn Tarahan dari pertambangan di Tanjung Enim sebelum dilakukan pembongkaran.
5. Jumlah produk baik, merupakan berat batu bara dengan ukuran <50 mm setelah dilakukan proses sizing.
45 6. Jumlah produk tidak baik, merupakan berat batu bara dengan ukuran >50
mm setelah dilakukan proses sizing.
Tabel 5.10Data produksi pada RCD 3
No. Tanggal
Waktu Kerja Mesin (jam)
Waktu Aktual Produksi
(jam)
Waktu Siklus Ideal (jam)
Jumlah Produksi
Kotor (kg)
Jumlah Produk Baik
(kg)
Jumlah Produk Tidak
Baik (kg) 1 18 Juli
2023
8,8 15 9,7 20.951 20.745 205,84
2 19 Juli 2023
18,6 5,4 9,7 21.002 20.673 329,34
3 20 Juli 2023
11,3 11,5 9,7 24.002 23.782 219,56 4 21 Juli
2023
7,9 14,6 9,7 27.002 26.741 260,73
5 22 Juli 2023
6,5 17,5 9,7 23.951 23.649 301,9
6 23 Juli 2023
11 13 9,7 21.001 20.658 343,07
7 24 Juli 2023
8,3 13 9,7 18.001 17.795 205,84
8 25 Juli 2023
8,2 12,1 9,7 24.002 23.686 315,63
9 26 Juli 2023
11 13 9,7 21.001 20.809 192,12
10 27 Juli 2023
11,9 11,5 9,7 151.001 150.589 411,69 11 28 Juli
2023
13 11 9,7 21.013 20.574 439,12
12 29 Juli 2023
7,9 13,5 9,7 24.002 23.919 82,34
13 30 Juli 2023
18,8 5,3 9,7 27.001 26.823 178,4
14 31 Juli 2023
11 13 9,7 12.001 11.576 425,41
46
Tabel 5.11 Data produksi pada RCD 4
No. Tanggal
Waktu Kerja Mesin (jam)
Waktu Aktual Produksi
(jam)
Waktu Siklus Ideal (jam)
Jumlah Produksi
Kotor (kg)
Jumlah Produk Baik
(kg)
Jumlah Produk Tidak
Baik (kg) 1 18 Juli
2023
10,3 13,7 15,9 20.952 20.334 617,52 2 19 Juli
2023
17,8 6,2 15,9 18.003 17.756 247,01 3 20 Juli
2023
8,5 15,5 15,9 21.002 20.604 397,95 4 21 Juli
2023
8,8 13,4 15,9 26.952 26.513 439,13 5 22 Juli
2023
7,1 16,9 15,9 21.001 20.397 603,8 6 23 Juli
2023
12,8 11,2 15,9 24.001 23.535 466,57 7 24 Juli
2023
8,8 15,3 15,9 17.952 17.554 397,96 8 25 Juli
2023
13 11 15,9 23.952 23.348 603,8
9 26 Juli 2023
9,9 14,1 15,9 24.001 23.425 576,35 10 27 Juli
2023
14,6 9,4 15,9 26.952 26.444 507,74 11 28 Juli
2023
9,2 13,3 15,9 26.953 26.527 425,4 12 29 Juli
2023
11,7 12,3 15,9 24.001 23.384 617,52 13 30 Juli
2023
17,3 6,7 15,9 29.952 29.512 439,12 14 31 Juli
2023
14,7 9 15,9 27.002 26.535 466,58
5.6 Pengolahan Data OEE
OEE memiliki tiga hal yang harus dihitung, yaitu availability, performance rate, dan quality rate. Berikut merupakan perhitungan OEE.
47 5.6.1 Perhitungan Availability
Availability merupakan pengukuran efektivitas perawatan mesin dalam keadaan produksi sedang berlangsung. Availability merupakan perbandingan waktu operasi aktual terhadap keseluruhan total waktu [23]. Berikut merupakan perhitungan availability.
Availability = x 100%
Loading Time = Waktu Kerja Mesin – Planned Downtime Downtime = Waktu Breakdown + Waktu Set Up & Adjustment
Berdasarkan rumus di atas, dapat diketahui bahwa untuk menghitung availibility harus mengetahui nilai dari loading time dan downtime. Loading time didapat dari pengurangan waktu kerja mesin dan planned downtime. Sedangkan loading time didapat dari penjumlahan waktu breakdwon dan waktu set up & adjustment.
Perhitungan tersebut dapat dicontohkan sebagai berikut.
Availability (18 Juli) = x 100% = 96%
Tabel 5.12 Perhitungan Availibility RCD 3
Tanggal Loading Time (jam)
Downtime
(jam) Availibility %
18 Juli 2023 8,8 0,3833 96%
19 Juli 2023 18,6 0,0833 100%
20 Juli 2023 11,3 1,2833 89%
21 Juli 2023 7,9 1,5833 80%
22 Juli 2023 6,5 0,0833 99%
23 Juli 2023 11 0,0833 99%
24 Juli 2023 8,3 2,8833 65%
25 Juli 2023 8,2 3,8833 53%
26 Juli 2023 11 0,0833 99%
Loading Time – Downtime Loading Time
8,8 – 0,3833 8,8
48
Tabel 5.13 Perhitungan Availibility RCD 3 (lanjutan)
Tanggal Loading Time
(jam) Downtime
(jam) Availibility %
27 Juli 2023 11,9 0,7833 93%
28 Juli 2023 13 0,0833 99%
29 Juli 2023 7,9 2,6833 66%
30 Juli 2023 18,8 0,0833 100%
31 Juli 2023 11 0,0833 99%
Tabel 5.14 Perhitungan Availability RCD 4
Tanggal Loading Time (jam)
Downtime
(jam) Availibility %
18 Juli 2023 10,3 0,0833 96%
19 Juli 2023 17,8 0,0833 100%
20 Juli 2023 8,5 0,0833 89%
21 Juli 2023 8,8 1,8833 80%
22 Juli 2023 7,1 0,0833 99%
23 Juli 2023 12,8 0,0833 99%
24 Juli 2023 8,8 0,0833 65%
25 Juli 2023 13 0,0833 53%
26 Juli 2023 9,9 0,0833 99%
27 Juli 2023 14,6 0,0833 93%
28 Juli 2023 9,2 1,5833 99%
29 Juli 2023 11,7 0,0833 66%
30 Juli 2023 17,3 0,0833 100%
31 Juli 2023 14,7 0,0833 99%
5.6.2 Perhitungan Performance Rate
Performance rate merupakan perbandingan kualitas produk yang diihasilkan dikali dengan waktu siklus ideal terhadap waktu yang ada untuk melakukan proses produksi [23]. Berikut merupakan perhitungan performance rate.
49
Performance = x 100%
Process Amount =
Run Time = Waktu Kerja Mesin – Downtime
Berdasarkan rumus di atas, dapat diketahui bahwa performance memiliki rumus processed amount dikali dengan waktu siklus ideal kemudian dibagi dengan waktu kerja mesin. Processed amount sendiri memiliki rumus yaitu run time dibagi dengan waktu siklus ideal. Sebelumnya, nilai run time harus diketahui terlebih dahulu dengan cara waktu kerja mesin dikurang dengan downtime. Perhitungan tersebut dapat dicontohkan seperti berikut ini.
Performance (18 Juli) = x 100% = 99%
Tabel 5.15Perhitungan Performance RCD 3
Tanggal Run Time (jam)
Processed Amount
(jam)
Performance %
18 Juli 2023 8,417 0,868 96%
19 Juli 2023 18,517 1,909 100%
20 Juli 2023 10,017 1,033 89%
21 Juli 2023 6,317 0,651 80%
22 Juli 2023 6,417 1,125 99%
23 Juli 2023 10,917 0,558 99%
24 Juli 2023 5,417 0,445 65%
25 Juli 2023 4,317 1,125 53%
26 Juli 2023 10,917 1,146 99%
27 Juli 2023 11,117 1,332 93%
Processed Amount x Waktu Siklus Ideal Waktu Kerja Mesin
Run Time Waktu Siklus Ideal
0,643 x 15,9 10,3
50
Tabel 5.16Perhitungan Performance RCD 3 (lanjutan)
Tanggal Run Time (jam)
Processed Amount
(jam)
Performance %
28 Juli 2023 12,917 0,538 99%
29 Juli 2023 5,217 1,930 66%
30 Juli 2023 18,717 1,125 100%
31 Juli 2023 10,917 14,7 99%
Tabel 5.17 Perhitungan Performance RCD 4
Tanggal Run Time (jam)
Processed Amount
(jam)
Performance %
18 Juli 2023 10 0,643 99%
19 Juli 2023 18 1,114 100%
20 Juli 2023 8 0,529 99%
21 Juli 2023 7 0,435 79%
22 Juli 2023 7 0.441 99%
23 Juli 2023 13 0,800 99%
24 Juli 2023 9 0,548 99%
25 Juli 2023 13 0,812 99%
26 Juli 2023 10 0,617 99%
27 Juli 2023 15 0,913 99%
28 Juli 2023 8 0,479 83%
29 Juli 2023 12 0,731 99%
30 Juli 2023 17 1,038 100%
31 Juli 2023 14 0,900 97%
5.6.3 Perhitungan Quality Rate
Merupakan perbandingan kualitas produk yang baik, sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan terhadap jumlah produk yang akan diproses untuk mengukur keefektifan proses manufaktur [23]. Berikut merupakan rumus yang digunakan untuk menghitung quality rate.
51 Quality = x 100%
Berdasarkan rumus di atas, dapat diketahui bahwa quality didapat dari pengurangan jumlah produksi kotor dengan jumlah produk tidak baik kemudian di bagi dengan jumlah produksi kotor. Perhitungan quality dapat dicontohkan seperti berikut ini.
Quality (18 Juli)= x 100% = 99%
Tabel 5.18 Pehitungan Quality RCD 3 dan RCD 4
Tanggal Quality %
RCD 3 RCD 4
18 Juli 2023 99% 97%
19 Juli 2023 98% 99%
20 Juli 2023 99% 98%
21 Juli 2023 99% 98%
22 Juli 2023 99% 97%
23 Juli 2023 98% 98%
24 Juli 2023 99% 98%
25 Juli 2023 99% 97%
26 Juli 2023 99% 98%
27 Juli 2023 100% 98%
28 Juli 2023 98% 98%
29 Juli 2023 100% 97%
30 Juli 2023 99% 99%
31 Juli 2023 96% 98%
5.6.4 OEE (Overall Equipment Effectiveness)
Perhitungan OEE merupakan pengalian dari availability, performance, dan quality dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan mesin yang berdampak pada output berupa butir bara [23]. Berikut merupakan rumus yang digunakan untuk menghitung OEE.
Jumlah Produksi Kotor – Jumlah Produk Tidak Baik Jumlah Produksi Kotor
20.951 – 205,84 20.951
52 OEE = Availability x Performance x Quality
Tabel 5.19 Perhitungan OEE RCD 3 dan RCD 4
Tanggal RCD 3 RCD 4
A% P% Q% OEE A% P% Q% OEE
18 Juli
2023 96% 96% 99% 91% 96% 99% 97% 95%
19 Juli
2023 100% 100% 98% 98% 100% 100% 99% 98%
20 Juli
2023 89% 89% 99% 78% 89% 99% 98% 96%
21 Juli
2023 80% 80% 99% 63% 80% 79% 98% 61%
22 Juli
2023 99% 99% 99% 96% 99% 99% 97% 95%
23 Juli
2023 99% 99% 98% 97% 99% 99% 98% 97%
24 Juli
2023 65% 65% 99% 42% 65% 99% 98% 96%
25 Juli
2023 53% 53% 99% 27% 53% 99% 97% 96%
26 Juli
2023 99% 99% 99% 98% 99% 99% 98% 96%
27 Juli
2023 93% 93% 100% 87% 93% 99% 98% 97%
28 Juli
2023 99% 99% 98% 97% 99% 83% 98% 67%
29 Juli
2023 66% 66% 100% 43% 66% 99% 97% 96%
30 Juli
2023 100% 100% 99% 98% 100% 100% 99% 98%
53
Tabel 5.20 Perhitungan OEE RCD 3 dan RCD 4 (lanjutan)
Tanggal RCD 3 RCD 4
A% P% Q% OEE A% P% Q% OEE
31 Juli
2023 99% 99% 96% 95% 99% 97% 98% 93%
x̄ OEE RCD 3 79% x̄ OEE RCD 4 92%
5.7 Analisis Perhitungan OEE
Perhitungan OEE yang telah dilakukan kemudian akan mengarah ke kategori- kategori yang telah ditetapkan oleh JIPM (Japan Institute of Plant Maintenance) yang disebut standar benchmark. Standar yang telah ditetapkan oleh JIPM adalah sebagai berikut:
1. OEE 100%
Merupakan OEE kategori sempurna. Produksi dianggap sempurna karena hanya memproduksi produk tanpa cacat, bekerja dalam performa yang cepat, dan tidak ada downtime.
2. OEE 85%
Merupakan OEE kategori kelas dunia. Produksi dianggap kelas dunia dan bagi banyak perusahaan, skor ini merupakan skor minimal untuk dijadikan referensi jangka panjang.
3. OEE 60%
Merupakan OEE kategori sedang. Produksi dianggap wajar, namun terdapat banyak sekali yang harus dilakukan improvement.
4. OEE 40%
Merupakan minimal skor terendah dan dalam banyak kasus dapat dilakukan improvement dengan cara pengukuran langsung, seperti menganalisis terjadinya downtime dan menangani sumber penyebab downtime secara mendetail.
Perhitungan OEE pada RCD 3 dan 4 mendapatkan hasil yang berbeda, dengan nilai OEE RCD 3 79% dan OEE RCD 4 92%. Berdasarkan standar nilai OEE, nilai OEE pada RCD 3 masuk ke dalam kategori sedang, dimana nilai tersebut berkisar pada rentang 60% - 84%. Kategori sedang berarti produksi dianggap wajar, namun
54 terdapat banyak sekali yang harus dilakukan improvement untuk bisa menaikkan standar nilainya. Improvement yang bisa dilakukan adalah membuat simulasi pengoperasian mesin, mulai dari waktu breakdown, waktu set up & adjustment, waktu planned downtime, dan waktu kerja mesin, serta membuat gambaran ulang terkait jumlah gigi-gigi crusher yang sesuai dengan standar.
Sedangkan untuk OEE RCD 4 masuk ke dalam kategori kelas dunia, dimana nilai tersebut berkisar pada rentang 85% - 99%. Kategori kelas dunia berarti produksi dianggap kelas dunia dan merupakan nilai yang bisa dijadikan tujuan jangka panjang dalam proses produksi. Tujuan jangka panjangnya adalah menjaga konsistensi pemecahan ukuran batu bara <50 mm yang berdampak pada meningkatnya kepercayaan buyer kepada PTBA Unit Pelabuhan Tarahan.
Perbedaan nilai masing-masing RCD dapat juga dilihat pada grafik di bawah ini.
Gambar 5.1 Grafik Nilai OEE RCD 3 0%
20%
40%
60%
80%
100%
120%
18 JULI
19 JULI
20 JULI
21 JULI
22 JULI
23 JULI
24 JULI
25 JULI
26 JULI
27 JULI
28 JULI
29 JULI
30 JULI
31 JULI
NILAI OEE RCD 3 (18 Juli - 31 Juli)
A% P% Q% OEE%
55
Gambar 5.2Grafik Nilai OEE RCD 4
5.8 Analisis Sebab Akibat (Diagram Fishbone)
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, diketahui bahwa rangkaian mesin RCD 3 kurang efektif dalam memecah batu bara menjadi ukuran yang lebih kecil, yaitu <50 mm. Setelah dilakukan perhitungan, diketahui bahwa nilai OEE rangkaian mesin RCD 3 lebih rendah dari RCD 4. Dari hal tersebut, lalu tahap selanjutnya adalah mencari tahu akar penyebab terjadinya pemecahan batu bara yang masih menyisakan ukuran >50 mm dengan menggunakan diagram fishbone.
Gambar 5.3 Diagram fishbone 0%
20%
40%
60%
80%
100%
120%
18 JULI
19 JULI
20 JULI
21 JULI
22 JULI
23 JULI
24 JULI
25 JULI
26 JULI
27 JULI
28 JULI
29 JULI
30 JULI
31 JULI
NILAI OEE RCD 4 (18 Juli - 31 Juli)
A % P% Q% NILAI OEE
56 Berdasarkan diagram fishbone di atas, dapat dijelaskan untuk masing-masing aspek yang mengakibatkan mesin pemecah butir batu bara masih menghasilkan batu bara
>50 mm sebagai berikut:
1. Man
Hal yang menyebabkan mesin pemecah batu bara masih ada yang berukuran
>50 mm pada aspek manusia adalah operator tidak melakukan pengecekan pada saat pengoperasian alat, yang disebabkan karena operator lalai dalam melaksanakan SOP pada pengoperasian alat.
2. Machine
Hal yang menyebabkan mesin pemecah batu bara masih ada yang berukuran
>50 mm pada aspek manusia adalah gigi-gigi pada mesin quadrol crusher tidak utuh yang disebabkan oleh material non-batu bara, yaitu batu pack.
Sehingga mesin yang dikualifikasikan untuk memecah batu bara, pada saat batu pack lewat akan mengalami penurunan daya hancur karena sifat batu pack lebih keras daripada batu bara. Penyebab yang kedua yaitu mesin bekerja over time yang dapat dilihat pada tabel waktu kerja mesin, dimana mesin bekerja sampai belasan jam. Jika mesin tidak dibarengi dengan maintenance terjadwal, maka mesin akan mengalami pengausan.
3. Environment
Hal yang menyebabkan mesin pemecah batu bara masih ada yang berukuran
>50 mm pada aspek manusia adalah pemadaman listrik. Pemadaman listrik terkadang terjadi di PTBA Unit Pelabuhan Tarahan dan berdampak berhentinya produksi di area pertambangan yang disebabkan oleh perbedaan muatan kondensor dengan boiler fit pump yang kelebihan muatan sehingga berdampak pada turunnya daya pada seluruh area PTBA Unit Pelabuhan Tarahan.
4. Material
Hal yang menyebabkan mesin pemecah batu bara masih ada yang berukuran
>50 mm pada aspek manusia adalah adanya material pengotor, yaitu batu pack yang dikarenakan tidak adanya pemilahan langsung batu bara yang dikeruk langsung di area pertambangan. Batu tersebut yang menyebabkan
57 penurunan kualitas pada mesin quadrol crusher karena mesin quadrol crusher dirancang untuk menghancurkan batu bara, bukan batu pack.
5. Method
Hal yang menyebabkan mesin pemecah batu bara masih ada yang berukuran
>50 mm pada aspek manusia adalah tidak adanya screening sebelum batu bara memasuki mesin quadrol crusher yang dikarenakan untuk menghemat biaya dan waktu dalam produksi batu bara. Pemilahan tersebut dimaksudkan untuk memisahkan antara batu bara dan batu pack.
58
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan perhitungan dan analisis pada penelitian yang telah dilakukan, kesimpulan yang bisa diambil adalah:
1. Perusahaan PT Bukit Asam Unit Pelabuhan Tarahan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri pertambangan batu bara. Alur proses produksi yang terjadi pada PTBA Unit Pelabuhan Tarahan yaitu mulai dari pembongkaran batu bara dari BBR, proses sizing, blending batu bara, dan proses pengapalan.
2. Metode yang dilakukan pada penelitian adalah OEE dan diagram fishbone.
3. Berdasarkan perhitungan OEE yang telah dilakukan, nilai OEE RCD 3 adalah 79% dan nilai OEE RCD 4 adalah 92%. Menurut standar nilai OEE, nilai OEE RCD 3 termasuk dalam kategori sedang, dimana produksi dianggap wajar dan perlu untuk dilakukan banyak improvement. Sedangkan nilai OEE RCD 4 termasuk dalam kategori kelas dunia, dimana produksi dianggap kelas dunia dan merupakan nilai yang bisa dijadikan tujuan jangka panjang dalam proses produksi.
4. Berdasarkan analisis diagram fishbone, penyebab dari masing-masing aspek dapat disimpulkan menjadi berikut ini.
a. Man : Operator tidak melakukan pengecekan pada saat pengoperasian alat yang dikarenakan lalai dalam melaksanakan SOP.
b. Material : Adanya material pengotor, batu pack yang
dikarenakan tidak adanya pemilahan batu bara yang dikeruk langsung di area pertambangan.
c. Machine : Gigi-gigi pada crusher sudah tidak utuh lagi
dikarenakan adanya material lain yang masuk selain batu bara.