• Tidak ada hasil yang ditemukan

150 Deskripsi : Tersedia beberapa fasilitas umum yang telah

disediakan oleh pemerintah seperti lampu penerangan jalan, tiang listrik, dan saluran drainase.

4.6. Analisis Site

151 - Ketinggian lantai bangunan dapat mencapai 8 lantai

sudah sangat baik untuk sebuah surfing community center.

Masalah : Site masih dipengaruhi regulasi garis sempadan pantai sejauh 100 meter dari titik pasang tertinggi air laut di bagian timur site yang bersebelahan dengan pantai dan regulasi garis sempadan bangunan sejauh 5 meter pada bagian barat site yang bersebelahan dengan jalan utama.

Respon :

- KDB 60% dari luas site 20.601 m2 = 12.360 m2. Sedangkan area yang dapat dibangun dengan struktur permanen dapat mencapai 12.700 m2 setelah dikurangi dengan GSP dan GSB.

- Bangunan dibuat menjadi 2-3 lantai menyesuaikan kebutuhan ruang yang tidak terlalu banyak.

- Menempatkan bangunan dengan struktur permanen pada bagian tengah sejauh 103 meter dari tepi pantai agar tidak melanggar aturan terkait garis sempadan pantai.

- Area site yang masih berada pada garis sempadan pantai dapat diolah dengan membuat gazebo menggunakan struktur non-permanen seperti bambu atau kayu.

Sumber : Analisis Penulis (2023) Gambar 4.52 Analisis Regulasi Daerah

152 2. Sensori

a. Kebisingan

Deskripsi : Menganalisis kebisingan menggunakan bantuan aplikasi sound meter dan mendapatkan data kebisingan tertinggi di sisi barat site sebesar 60 dB yang ditimbulkan oleh suara kendaraan yang melintas.

Pada sisi timur site tingkat kebisingan tergolong sedang dengan nilai 43 dB yang ditimbulkan oleh suara ombak air laut, sedangkan tingkat kebisingan terendah berada di sisi selatan dan utara site yang merupakan hutan dan sungai.

Potensi : - Berdasarkan Keputusan Menteri Negera Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996, menetapkan bahwa ambang batas kebisingan untuk kawasan rekreasi sebesar 70 dB.

- Kendaraan sebagai sumber tingkat kebisingan tinggi jarang melintas.

Masalah : Meski telah ditetapkan bahwa ambang batas kebisingan untuk kawasan rekreasi sebesar 70 dB, namun masih tetap harus diminimalisir kebisingan yang terjadi mengingat terdapat ruangan pada surfing community center yang memerlukan keheningan seperti ruang baca, ruang rapat, dan ruang kelas surfing. Kemudian suara yang ditimbulkan kendaraan juga hampir mendekati ambang batas kebisingan yaitu sebesar 60 dB.

Respon :

153 - Bangunan dibuat mundur dari jalan utama sejauh 15-25 meter agar frekuensi

kebisingan semakin jauh dan tidak dapat mencapai bangunan.

- Menambahkan buffer berupa pohon dekat dengan jalan utama agar suara dapat terminimalisir.

- Ruangan yang membutuhkan keheningan tingkat tinggi seperti ruang baca, ruang rapat, dan ruang kelas surfing. Ditempatkan pada posisi timur-laut yang menjadi zona terjauh dari jalan utama.

b. Visual

Deskripsi : - Sisi timur memiliki visual ke arah pantai atau laut.

- Sisi selatan memiliki visual ke arah hutan.

- Sisi barat memiliki visual ke arah jalan utama dan hutan.

- Sisi utara memiliki visual ke arah muara atau sungai.

Potensi : - Segala sisi site tidak terhalang oleh bangunan tinggi.

- Sisi visual terbaik terdapat pada sisi timur yang mengarah ke pantai atau laut dan sisi utara yang mengarah ke muara atau sungai.

- Visual terbaik sisi barat hanya didapatkan pada waktu sore hari untuk menikmati sunset.

Gambar 4.53 Analisis Kebisingan Sumber : Analisis Penulis (2023)

154 Masalah : Visual pada sisi selatan masih kurang menarik karena

hanya memiliki pemandangan hutan dan bangunan- bangunan resort/cottage.

Respon :

Pada sisi bangunan sebelah timur dilakukan pengurangan/pemotongan bentuk agar terdapat sisi bangunan yang menghadap ke arah Timur-laut dan Tenggara.

Hal ini bertujuan agar lebih banyak ruang-ruang pada bangunan nantinya memiliki visual ke arah pantai dan sungai/muara karena bagian ini lah yang memiliki nilai visual tinggi.

3. Iklim Mikro a. Sun Path

Deskripsi : Matahari mengorbit di atas site mulai dari pukul 06.20 WIB hingga pukul 18.45 WIB dengan optimal dan suhu tertinggi mencapai 30O C pada siang hari pukul 13.00 WIB.

Potensi : - Pada sisi barat laut terdapat pohon kelapa yang cukup padat sehingga menjadikan area ini sebagai tempat yang paling maksimal peneduhnya.

- Matahari yang mengorbit secara optimal pada site dari sisi timur ke sisi barat dapat dimanfaatkan untuk menikmati sunrise dan sunset.

Masalah : - Matahari pada sore hari merupakan matahari yang terpanas dan menyebabkan temperatur menjadi naik.

Gambar 4.54 Analisis Visual Sumber : Analisis Penulis (2023)

155 - Tidak terdapat pembayangan pada sisi barat site, baik

itu berupa bangunan tinggi atau pohon yang tinggi.

- Titik terpanas berada di tengah site dikarenakan area ini tidak adanya peneduh.

Respon :

- Massa bangunan di sisi utara diperpendek dengan cara memutar setengah massa bangunan dengan sudut 60o sehingga bangunan menghadap ke arah tenggara, hal ini juga bertujuan agar massa bangunan mendapat pembayangan dari massa yang diputar.

- Pada bangunan lantai satu, massa bangunan ditarik kebelakang agar terbentuk sebuah selasar yang menjadi pembayangan sinar matahari, kemudian teras ditutup lagi dengan menggunakan roster agar pembayangan lebih maksimal.

- Pada bangunan lantai dua, massa bangunan juga ditarik kebelakang agar tersedia teras/balkon sebagai tempat menanam tanaman yang dapat menjadi buffer sinar matahari.

- Penataan ruang luar dengan menanam pohon dekat dengan bangunan agar sinar matahari dapat terhalang masuk ke dalam bangunan.

- Bangunan menyediakan cafe/bar outdoor pada sisi selatan dan berada di lantai dua sebagai tempat bersantai dengan tujuan merespon sunrise dan sunset.

Pemilihan cafe/bar pada area ini karena pandangannya langsung menghadap ke arah timur dan barat tanpa adanya penghalang.

Gambar 4.55 Analisis Sun Path Sumber : Analisis Penulis (2023)

156 b. Wind Path

Deskripsi : Data yang didapatkan

menggunakan bantuan aplikasi angin, sumber arah angin berasal dari arah barat-utara menuju timur-selatan dengan kecepatan angin sebesar 11 km/h dan angin ini merupakan angin darat (biru) yang dimulai dari sore hari hingga malam hari serta berhembus dari darat mengarah ke laut. Sedangkan angin laut (merah) merupakan kebalikan dari angin darat, dimulai dari pagi hari hingga siang hari dengan sumber arah angin berasal dari timur-selatan menuju barat dengan rata-rata kecepatan angin sebesar 10 km/h.

Potensi : Pada sisi barat-utara atau barat laut yang merupakan sumber angin darat (sore-malam) tidak terdapat bangunan yang dapat memecah angin, demikian pula dengan sisi timur yang menjadi sumber angin laut (pagi- siang) tidak adanya penghalang angin sehingga penghawaan pada site dapat optimal bergerak.

Masalah : Sumber arah angin darat menuju laut tidak dapat dipastikan setiap saat selalu berasal dari barat laut, terkadang sumber arah angin darat dapat berasal dari barat ataupun tenggara.

Respon :

157 - Pembelokan massa bangunan pada sun path juga bermanfaat pada respon

terhadap arah datangnya angin dari arah barat laut, hal ini dikarenakan sisi bangunan yang menghadap ke arah barat laut semakin panjang dan udara yang masuk lebih maksimal.

- Bangunan diberikan ventilasi udara yang mengelilingi bangunan agar udara dapat masuk dari segala arah, bukaan ventilasinya berbentuk jalusi yang diadaptasi dari bentuk jendela rumah adat Nias Selatan.

- Untuk memasukkan udara kedalam bangunan, dilakukan permainan vegetasi pada penataan luar bangunan dengan cara mengatur jarak vegetasi terhadap bukaan dan memilih jenis tanaman yang memiliki ketinggian tertentu agar udara dapat di arahkan ke dalam bangunan.

c. Curah Hujan, Kelembaban, dan Temperatur

Deskripsi : Wilayah ini mempunyai 11 bulan basah (bulan dengan curah hujan > 100 mm), 1 bulan lembab (bulan dengan curah hujan 60 - 100 mm), dan tidak ada bulan kering (bulan dengan curah hujan < 60 mm) dikarenakan Kabupaten Nias Selatan relatif lembab dan basah.

Kelembaban udara sebesar 88% dan temperatur udara sebesar 25O C - 30O C.

Sumber : Analisis Penulis (2023) Gambar 4.56 Analisis Wind Path

158 Potensi : Temperatur yang didapatkan pada site masih

dikategorikan sebagai temperatur yang nyaman terhadap ruangan.

Masalah : - Curah hujan yang tinggi membuat bangunan tidak dapat menggunakan atap datar yang dapat menimbulkan kebocoran.

- Kelembaban udara yang relatif lembab ditambah dengan posisi site yang berdekatan dengan laut, dapat membuat material seperti aluminium, plat besi, dan sejenisnya menjadi rusak atau korosi/karat.

Respon :

- Atap bangunan dibuat memiliki kemiringan minimal 30O untuk merespon curah hujan yang tinggi.

- Bentuk atap bangunan diadaptasi dari lingkungan sekitar, dimana atap bangunan utama merupakan adaptasi dari bentuk atap rumah adat Nias Selatan sedangkan atap cafe/bar outdoor diadaptasi dari bentuk papan selancar.

- Penggunaan material yang cepat mengalami korosi diminimalisir dan di ganti dengan penggunaan material bambu atau kayu.

- Apabila tetap dibutuhkan material seperti aluminium dan plat besi yang mengalami korosi, maka material tersebut harus dilapisi cat anti karat agar lebih tahan lama.

Gambar 4.57 Analisis Curah Hujan & Kelmbaban Sumber : Analisis Penulis (2023)

159 4. Culture

Deskripsi : Kabupaten Nias Selatan memiliki identitas sebagai suku Nias yang memiliki banyak ragam budaya diantaranya lompat batu, tari perang, megalitikum, hingga rumah adat Nias Selatan.

Potensi : Kabupaten Nias Selatan memiliki banyak budaya yang dapat ditransformasikan atau diadaptasikan ke dalam bentuk bangunan.

Masalah : Bangunan sekitar site masih belum ada yang mengaptasikan nilai budaya ke dalam bentuk bangunannya yang mengandung filosofi tersendiri dan jika ada itu hanya menjadi tempelan pada bangunan seperti ornamen ataupun bentuk atap.

Respon :

- Massa bangunan dibuat menjadi dua lantai karena mengadaptasi dari filosofi rumah adat Nias Selatan. Bangunan lantai satu dipergunakan sebagai area servis atau utilitas bangunan, untuk lantai dua sebagai area kegiatan utama manusia, dan atap yang menjulang tinggi sebagai bentuk penghormatan kepada tuhan.

- Terdapat satu massa bangunan yang diadaptasikan dari budaya lompat batu ciri khas budaya Nias Selatan, dimana bentuknya berbentuk trapesium menggambarkan sebuah batu untuk lompatan. Nantinya massa bangunan ini

Gambar 4.58 Analisis Culture Sumber : Analisis Penulis (2023)

160 sebagai area tempat latihan surfing indoor karena memerlukan struktur bentangan lebar tanpa adanya kolom.

- Terdapat juga atap yang diadaptasikan dari bentuk papan surfing mengingat bangunan ini difungsikan sebagai surfing community center dan terletak di kawasan jantung komunitas selancar sehingga harus memiliki penanda, atap ini terdapat pada area cafe/bar outdoor pada sisi selatan bangunan.

5. Architectural Pattern

Deskripsi : - Material penutup atap bangunan sekitar didominasi oleh atap metal.

- Penggunaan material dinding bangunan didominasi oleh bata dan terdapat juga penggunaan dinding kayu.

- Ornamen Nias Selatan sebagai estetika bangunan.

Potensi : - Material yang digunakan pada bangunan sekitar merupakan material lokal yang mudah didapatkan.

- Penggunaan ornamen ciri khas Nias Selatan sudah diterapkan pada bangunan sekitar site.

Masalah : - Penerapan warna yang digunakan antara satu bangunan dengan bangunan lainnya sangat kontras sehingga menimbulkan kawasan yang tidak kontekstual.

- Pemilihan material atap (atap metal) yang tidak tepat mengingat site berada di kawasan tepi pantai yang dapat membuat korosi terjadi.

Respon :

161 - Bangunan menggunakan material dengan warna soft dan monocrome agar tidak

menambah kekontrasan pada kawasan sekitar.

- Bangunan menggunakan sun shading dengan ornamen Nias Selatan yang telah di transformasikan agar tidak sekedar menjadi sebuah tempelan pada bangunan.

Ornamen yang adaptasi adalah ornamen Nio’ndrofi yang berbentuk bintang namun terlihat seperti bunga, yang melambangkan sebuah kekayaan dan karakter yang baik. Alasan pemilihan ornamen ini diantara ornamen lainnya dikarenakan untuk menunjukkan bahwa Nias Selatan kaya akan peselancar lokal dan punya karakter baik.

- Material untuk penutup atap tidak menggunakan atap metal untuk menghindari korosi dikarenakan posisi bangunan yang dekat dengan laut, maka material penutup atap diganti dengan material atap genteng, atap bitumen, dan atap sirap.

- Material lainnya pada bangunan dimaksimalkan menggunakan material lokal yang mudah didapatkan di sekitar site, seperti dinding bata, kolom beton, kisi- kisi roster, tiang bambu, kusen kayu, dan lainnya.

6. Utilitas

Deskripsi : Tersedia beberapa fasilitas umum yang telah disediakan oleh pemerintah seperti lampu penerangan jalan, tiang listrik, dan saluran drainase.

Gambar 4.59 Analisis Architectural Pattern Sumber : Analisis Penulis (2023)

162 Potensi : - Tersedia sumber arus listrik yang berdekatan dengan

site.

- Site berdekatan dengan muara memudahkan dalam pembuangan limbah air kotor.

Masalah : - Saluran drainase sudah tidak berfungsi dengan baik dikarenakan banyak sampah dan rumput.

- Lampu penerangan jalan sudah tidak berfungsi.

Respon :

- Menambahkan massa bangunan khusus untuk kelistrikan pada bagian utara site karena berdekatan dengan sumber aliran listrik. Penambahan satu massa khusus kelistrikan dan terpisah dengan bangunan utama sebagai salah satu bentuk antisipasi kebakaran.

- Penampungan limbah air kotor atau septictank diletakkan berdekatan langsung dengan muara pada bagian utara site agar memudahkan dalam penyaluran akhir.

- Memfungsikan kembali saluran drainase yang sudah tersedia dengan cara membersihkan dan menutup dengan beton agar dapat digunakan juga sebagai pedestrian pejalan kaki.

Gambar 4.60 Analisis Utilitas Sumber : Analisis Penulis (2023)

2

1 3 4

163 - Menambahkan penerangan yang diletakkan pada pagar bangunan sebagai

pengganti penerangan jalan umum yang telah rusak.

7. Sirkulasi

Deskripsi : - Terdapat akses kendaraan bermotor berukuran lebar 5 meter pada sisi barat site dengan sirkulasi dua arah yang dapat dilalui oleh kendaraan jenis sepeda motor hingga bus ukuran medium.

- Akses untuk pejalan kaki menuju site dapat dilalui dari sisi barat site yang tergabung dengan akses kendaraan dan melalui sisi utara site dengan fasilitas jembatan penyebrangan yang telah disediakan pemerintah.

Potensi : Kepadatan lalu lintas kendaraan tergolong rendah sehingga tidak pernah menimbulkan kemacetan.

Masalah : - Belum tersedia pedestrian bagi pejalan kaki sehingga para pejalan kaki masih menggunakan bahu jalan untuk melintas.

- Akses pejalan kaki menuju site dapat dilalui dari dua sisi site, yaitu sisi barat melalui jalan utama dan sisi utara melalui jembatan penyeberangan orang.

Respon :

Gambar 4.61 Analisis Sirkulasi Site Sumber : Analisis Penulis (2023)

164 - Membuat sirkulasi kendaraan secara linear atau satu arah dengan pintu masuk

dan keluar berbeda akan tetapi sama-sama terletak di sebelah barat site.

- Untuk sirkulasi kendaraan servis dibuat berbeda dengan kendaraan pengunjung yang terletak di sebelah utara site.

- Menyediakan parkir khusus difabel yang terletak di depan bangunan dan berdekatan dengan ramp difabel.

- Massa bangunan sebelah selatan diperpendek dan difungsikan sebagai lahan parkiran bagi tamu.

- Mengambil sebagian site di sisi barat selebar 3 meter untuk dijadikan sebagai pedestrian pejalan kaki agar lebih safety.

- Sebagai respon terhadap akses pejalan kaki dari dua sisi, maka bangunan dibuat memiliki dua buah entrance bangunan yaitu pada sisi selatan dan utara bangunan.

8. Fitur Fisik Alami a. Kontur dan Jenis Tanah

Deskripsi : - Tanah tidak memiliki kontur, akan tetapi memiliki elevasi turun dari jalan utama setinggi 30 cm.

- Tekstur dari tanah memiliki kondisi tanah keras, padat, dan berpasir.

Potensi : - Posisi site masih lebih tinggi dari tepi pantai setinggi 80 cm sehingga memungkinkan dilakukan permainan terhadap kontur site agar lebih dinamis.

- Kondisi tanah yang memiliki tekstur keras, padat, dan berpasir mampu mendukung struktur bangunan bertingkat rendah.

Masalah : Site yang memiliki elevasi lebih rendah dari jalan utama membuat air masuk ke dalam site dan menyebabkan banjir, selain itu posisi bangunan yang lebih rendah dapat menghilangkan kesan kemegahan dari sebuah bangunan.

165

Respon :

- Untuk mengejar perbedaan elevasi site maka dilakukan metode cut & fill pada site sehingga mengurangi tanah timbunan dari luar site.

- Bangunan memiliki ketinggian hingga 2-3 lantai dan menggunakan pondasi jenis footplat.

b. Vegetasi

Deskripsi : Tanaman pada site terdiri dari pohon kelapa (mendominasi), akasia, pisang, cempaka, waru, dan puring. Selebihnya site di tumbuhi ilalang dan rumput liar.

Potensi : Terdapat beberapa tanaman yang dapat mendukung tema tropis pada perancangan Surfing Community Center ini.

Masalah : Tanaman yang sudah tersedia pada site masih belum tertata sesuai dengan konsep perancangan.

Respon :

Gambar 4. 62 Analisis Kontur & Jenis Tanah Sumber : Analisis Penulis (2023)

166 - Mengatur ulang penataan tanaman sesuai dengan fungsinya seperti tanaman

peneduh, pengarah, hias, dan penutup tanah serta sesuai dengan tema tropis.

- Tanaman peneduh menggunakan pohon akasia, waru, tanjung, dan kiara payung.

- Tanaman pengarah menggunakan tanaman palem raja, cemara norfolk, dan pucuk merah.

- Tanaman hias menggunakan tanaman kamboja, palem pandan bali, cemara udang, sikas, anggrek, dan kalatea latea.

Akasia Tanjung Waru Kiara Payung

Gambar 4.63 Analisis Vegetasi Sumber : Analisis Penulis (2023)

Palem Raja Norfolk Pucuk Merah

167 - Tanaman penutup tanah menggunakan rumput gajah mini dan rumput jepang.

Dokumen terkait