BAB III PANDANGAN HUKUM EKONOMI SYARIAH
B. Analisis Terhadap Respons Tokoh Agama Mengenai
44
Jadi, jika tidak di sepakati dari awal untuk waktu pengembalian dananya, maka nanti pihak penerima hutang akan semena-mena untuk mengembalikan uang yang di hutangkan.
6. Konsekuensi Pihak Penerima Hutang
Pihak penerima hutang harus siap menerima konsekuensi apabila pihak penerima hutang ini tidak mematuhi atau melalaikan apa yang sudah mereka sepakati dari awal, seperti pihak penerima hutang tidak menepati janjinya saat melunasi hutang, maka ia harus siap menerima konsekuensi yang di berikan pihak pemberi
45
kesepakatan dinamakan akad karena tidak semua kesepakatan itu sesuai dengan syariat islam.
Akad yang di gunakan di Desa Bagik Polak Barat ialah secara lisan yang di lakukan oleh pihak pemberi hutang dan pihak penerima hutang. Jika akad yang di lakukan di anggap sah maka memenuhi rukun dan syarat sesuai dengan syariat islam yang berlaku. Rukun dan syarat akad salah satunya adalah sighat yakni ijab dan kabul, dan kedua belah pihak juga harus sama-sama mengerti tentanh hukum.
Sighat atau ijab dan kabul biasanya dilakukan secara lisan antara kedua belah pihak dan pelafalan dalam mengucapkan ijab dan kabul harus jelas dan juga harus jelas juga pengertiannya. Ijab dan kabul ini juga harus saling berhubungan satu sama lainnya dan sesuai ketika pelaksanaannya. Apabila kabul tidak sesuai dengan ijab maka tidak sah akad yang dilakukan tersebut.
Menurut pandangan tokoh agama yang ada di Desa Bagik Polak Barat ada sebagian tokoh agama yang menganggap praktik hutang piutang ini sah sah saja, namun ada sebagian tokoh agama juga menganggap praktik hutang piutang ini tidak sah. Ini disebabkan karena dasar hukum yang di gunakan dalam memandang praktik hutang piutang ini berbeda-beda.
Perbedaan pendapat para tokoh agama yang ada di Desa Bagik Polak Barat itu terletak pada proses hutang piutang ini berlangsung.
Seperti saat pengembaliannya yang tida menentu, walaupun dari awal sudah di sepakati oleh kedua belah pihak, namun tidak jarang pihak penerima hutang melalaikan kewajibannya yang telah di sepakati di awal akad. Lalu uang yang di hutangkan di lebihkan saat pengembalian juga di pandang beda-beda oleh tokoh agama setempat.
Ada yang mengatakan sah karena itu bentuk hadiah dan itu jika di jadikan bisnis juga sah sah aja karena dari awal akad sudah ada kesepakatan. Akan tetapi, ada juga yang kontra dengan hal tersebut karena itu sama aja mengandung riba di dalamnya.
Dari hasil analisis tokoh agama yang ada di Desa Bagik Polak Barat dapat di simpulkan bahwa pendapat mereka lebih tertuju kepada hubungan tolomg menolong antar manusia dalam ber muamalah. Dari beberapa respon tokoh agama tentang praktik hutang piutang ini terdapat beberapa garis besar yang dapat di simpulkan yakni akad yang
46
di gunakan dalam praktik hutang piutang itu sah, tetapi dalam praktiknya tidak di bolehkan karena melanggar syariat islam dalam kegiatan muamalah.
C. Analisis Pandangan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Respons Tokoh Agama Mengenai Praktik Hutang Piutang di Desa Bagik Polak Barat Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat
Respons tokoh agama mengenai praktik hutang piutang yang terjadi di Desa Bagik Polak Barat di landaskan berdasarkan hukum islam maupun hukum tertentu. Akan demikian, dasar hukum yang di tetapkan juga harus bisa di terpakan dalam kehidupan sehari-hari mengingat kehidupan sekarang yang makin maju dan modern. Dasar yang digunakan oleh para tokoh agama ialah sesuai dengan Al-Qur‟an dan Al-Hadits. Karena Al-Qur‟an adalah salah satu sumber hukum yang dapat digunakan oleh umat manusia di muka bumi ini.
Respons tokoh agama mengenai praktik hutang piutang ini juga berbeda-beda, maka dari itu sumber hukum yang digunakan para tokoh agama di Desa Bagik Polak Jogot Barat juga berbeda-beda. Semua tokoh agama yang ada di Desa Bagik Polak Barat menggunakan dasar hukum yang ada di Al-Quran akan tetapi ayat maupun surah yang mereka gunakan berbeda-beda, seperti yang di katakan oleh Ustadz Tomi Harlan yang menggunakan dasar hukum dari Al-Qur‟an surah Al-Baqarah ayat 282. Sedangkan Ustadz Fauzan Maulat menggunakan dasar hukum Al-Qur‟an dari surah Ali Imran ayat 130, yang di maksud dalam surah Ali Imran ayat 130 adalah untuk jangan memakan riba karena selamanya riba itu haram dan juga di jauhakan dari surga-Nya.
Pandangan Hukum Ekonomi Syariah terhadap Respons Tokoh Agama yang ada di Desa Bagik Polak Barat mengenai Praktik Hutang Piutang ini sudah sesuai dengan syariat islam yakni dalam hal tolong menolong antar sesama umat manusia apalagi yang di tolong sangat membutuhkan bantuan. Namun praktik di lapangannya langsung bisa dibilang tidak sesuai dengan syariat islam, maka hukum ekonomi syariah memandang praktik ini tidak sah atau haram karena tetap saja di dalam praktik tersebut mengandung riba walaupun ada unsur tolong menolong di dalamnya, sesuai dengan Al-Qur‟an Surah At-Taghabun ayat 17
ۙ مٌِْل َح ر ْوُكَش ُ هّاللّ َو ْۗمُكَل ْرِف ْغٌَ َو ْمُكَل ُهْفِع هضٌُّ اًنَسَح اًض ْرَق َ هّاللّ اوُضِرْقُت ْنِا
ٔ١
47
Artinya: “Jika kamu meminjamkan kepada Allah yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.”73
Maksud dari ayat di atas menjelaskan bahwa dalam melaksanakan prakTik hutang piutang, maka yang menjadi pertimbangan utama adalah baik, maslahah, memberi manfaat dan tidak saling merugikan.74
Dalam praktik hutang piutang ini tidak boleh adanya riba, jadi dalam melakukan praktik hutang piutang ini haruslah dilandasi dengan keikhlasan. Dari hal ini penulis dapat menyimpulkan bahwa dari praktik hutang piutang ini sangat membantu antar sesama umat manusia dalam bermuamalah dan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Namun, dalam praktik yang di terapkan terjadi kesalahan karena memberatkan salah satu pihak saja dan pihak lainnya mengambil keuntungan dengan nilai yang bisa di katakan cukup besar.
Akan tetapi alangkah baiknya dalam praktik hutang piutang ini proses pengembalian dananya sesuai dengan jumlah yang di pinjamkan, sehingga tidak ada pengembalian hutang dengan jumlah yang lebih dan juga memberikan hasil panen maupun pengambilan barang sebagai pengganti uang yang akan di setorkan (bunga). Dengan cara ini juga pihak penerima hutang tidak merasa di bebani oleh hutangnya dan jika cara itu di tetapkan maka praktik hutang piutang yang ada di Desa Bagik Polak Barat ini sesuai dengan syariat islam.
73 Q.S At-Taghabun [64] : 17, Dapartemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahan
74 Ahmad Hendra Rofiullah, “Pandangan Hukum Islam Terhadap Praktik Qard (Hutang Piutang)”, Jurnal Pengembangan Ekonomi Syariah, Vol.3, No.2, Agustus 2021, hlm. 39
48 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan permasalahan yang telah penulis bahas serta yang telah penulis paparkan dalam penulisan skripsi ini tentang Respons Tokoh Agama Terhadap Praktik Hutang Piutang Dalam Perspektif Hukum Ekonomi Syariah yang ada di Desa Bagik Polak Barat, maka dapat di simpulkan sebagai berikut:
1. Praktik Hutang Piutang yang terjadi di Desa Bagik Polak Barat ini terjadi karena banyak masyarakat yang membutuhkan dana darurat entah itu untuk kebutuhan anak sekolah maupun kebutuhan bertahan hidup lainnya sehingga mereka meminjam uang kepada pihak pemberi hutang (rentenir). Lalu setelah mendapatkan pinjaman, pihak penerima hutang melakukan akad berupa ijab kabul bersama pihak pemberi hutang untuk menyepakatkan berapa bulan hutang itu akan di lunaskan. Jika pihak penerima hutang melalaikan perjanjian tersebut maka pihak pemberi hutang akan mengambil hasil panen maupun barang pihak penerima hutang untuk menutupi hutang yang belum di bayarkan sesuai dengan kesepakatan di awal.
2. Pandangan para tokoh agama yang ada di Desa Bagik Polak Barat mengenai praktik hutang piutang ini terbagi menjadi 2 pendapat, yakni pendapat pertama mengatakan praktik hutang piutang ini sah sah saja karena di dalam akad yang terjadi antara pemberi hutang dengan penerima hutang di landasi dengan suka sama suka atau keikhlasan dari kedua belah pihak. Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan praktik hutang piutang yang terjadi di Desa Bagik Polak Barat ini hukumnya haram atau tidak di perbolehkan karena praktik ini sebenarnya mengandung asas tolong menolong namun pada kenyataannya praktik ini di dalamnya ada unsur riba dan memberatkan satu belah pihak saja yaitu pihak penerima hutang.
3. Pandangan Hukum Ekonomi Syariah terhadap Respons Tokoh Agama yang ada di Desa Bagik Polak Barat mengenai Praktik Hutang Piutang ini sudah sesuai dengan syariat islam yakni dalam hal tolong menolong antar sesama umat manusia apalagi yang di
49
tolong sangat membutuhkan bantuan. Namun praktik di lapangannya langsung bisa dibilang tidak sesuai dengan syariat islam, maka hukum ekonomi syariah memandang praktik ini tidak sah atau haram karena tetap saja di dalam praktik tersebut mengandung riba walaupun ada unsur tolong menolong di dalamnya.
B. Saran
Setelah menyelesaikan tugas skripsi ini, maka penulis mencoba mengemukakan saran-saran yang berguna bagi diri sendiri dan bagi umat secara umum.
1. Dengan di susunnya skripsi ini penulis mengharapakan bagi seluruh umat islam untuk selalu menebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran di bumi ini.
2. Dalam praktik hutang piutang ini hendaklah kita semua menjalankannya sesuai dengan syariat islam yang ada yang harus di landaskan sesuai dengan Al-Quran dan Al-Hadits. Begitupun dengan hal tolong menolong anatar sesama umat yang masih terjaga dengan sangat baik.
3. Penulis juga berharap untuk semua tokoh agama yang ada di Desa Bagik Polak Barat untuk selalu membantu menyebarkan pengetahuan agama yang lebih luas lagi kepada masyarakat agar masyarakat Desa Bagik Polak Barat lebih memperoleh pengetahuan agama dengan luas agar tidak melakukan kesalahan yang melanggar syariat islam dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
50
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Aziz, Ramdansyah, “Esensi Utang Dalam Konsep Ekonomi Islam”, Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 4, Nomor 1, Juni 2016.
Ady Cahyadi, Mengelola Hutang Dalam Perspektif Islam, Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. 4, Nomor 1, April 2014.
Alfi Amalia, “Konsep Hutang Piutang Dalam Al-Quran (Studi Perbandingan Tafsir Al-Quran Al'azim Karya Ibnu Katsir Dan Tafsir Al Misbah Karya Muhammad Quraish Shihab)”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam, Vol. 3, No. 6, Agustus 2020.
Burhan Bungin, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya, 2004.
Evi Ratnasari, Praktik Hutang Piutang Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus Desa Giri Kelopo Mulyo), (Skripsi, IAIN Metro, Metro, 2019).
Gatot Supramono, Perjanjian Utang Piutang. Jakarta: Kencana, 2013.
Ghufron A, Mas‟adi, Fiqh Muamalah Kontekstual. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002.
Husein Umar, Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta:
Rajawali Pers, 2011.
Imam Mustafa, Fiqih Muamalah Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016.
Ismail Nawawi, Fikih Muamalah Klasik dan Kontemporer. Bogor:
Penerbit Ghalia Indonesia, 2012.
Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian Skripsi, Tesis, Disertas, dan Karya Ilmiah. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2012.
Khumedi Ja‟far, Hukum Perdata Islam di Indonesia. Bandar Lampung:
Permatanet Publishing, 2016.
51
Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014.
M Taufik Hidayatullah, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Hutang Piutang Bersyarat Pada Masyarakat Dusun Duria Desa Rempek Kecamatan Gangga Kabupaten Lomok Utara”. Skripsi Universitas Islam Negeri Mataram (2020)
M. Burhan Burngin, Metodelogi Penelitian Sosial dan Ekonomi. Jakarta:
Kencana, 2013.
M.Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002.
Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah. Jakarta: Prenadamedia, 2013
Mohamad Nur Yasin, Politik Hukum Ekonomi Syariah Di Indonesia.
Malang: UIN Maliki Press, 2018.
Muh Rizki Nopiandi, “Wanprestasi Dalam Perjanjian Hutang Piutang Hewan Ternak Perspektif Hukum Ekonomi Syariah (Studi Kasus Desa Mamben Baru Kecamatan Wanasaba). Skripsi Universitas Islam Negeri Mataram (2020)
Muhamad Kholid, Prinsip-Prinsip Hukum Ekonomi Syariah Dalam Undang-Undang Tentang Perbankan Syariah. Jurnal Hukum Ekonomi Syariah dan Perbankan Syariah, Vol. 20, No. 2, Desember 2018.
Neni Sri Imaniyati, Perbankan Syariah dalam Persfektif Ilmu Ekonomi.
Bandung : Mandar Maju, 2013.
Nurhayati Husain, Praktik Hutang Piutang Pedagang Masyarakat Muslim Perspektif Hukum Ekonomi Islam (Studi Kasus Pedagang Muslim Pasar Karombasan Kota Manado), (Skripsi, IAIN Manado, Manado, 2020)
52
Saiman, Sekertaris Desa Bagik Polak Barat, Wawancara, Bagik Polak Barat, 5 Februari 2022.
Sanawiah, Ariyadi, Fiqih Muamalah; Menggagas Pemahaman Fiqih Kontemporer, Yogyakarta: K-Media, 2021.
Santi, “Praktik Utang Piutang Bahan Bakar Untuk Nelayan (Studi Kasus Desa Poja Kecamatan Sape Kabupaten Bima). Skripsi Universitas Islam Negeri Mataram (2020)
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Syariah. Jakarta: Kencana Pernadamedia Group, 2014.
53
LAMPIRAN-LAMPIRAN
54
Lampiran 1: Dokumentasi dengan Tokoh Agama Setempat
55
Lampiran 2:Dokumentasi dengan Pihak Penerima Hutang
56
Lampiran 3: Dokumentasi dengan Pihak Pemberi Hutang
Lampiran 4 Surat Izin Penelitian
57