BAB II MEKANISME TRANSAKSI HUTANG
C. Respons Tokoh Agama Terhadap Praktik Hutang
Dengan adanya transaksi hutang piutang yang terjadi di Desa Bagik Polak Barat muncullah berbagai respons tokoh agama setempat mengenai transaki hutang piutang ini, karena 100% penduduk Desa Bagik Polak Barat beragama Islam.
Jadi, disini penulis sudah mengumpulkan berbagai respons tokoh agama mengenai praktik hutang piutang yang terjadi di Desa Bagik Polak Barat.
1. Tanggapan Tokoh Agama Terhadap Praktik Hutang Piutang yang Terjadi di Desa Bagik Polak
Pendapat pertama muncul dari ustadz Fauzan Maulat tentang praktik hutang piutang yang terjadi di Desa Bagik Polak Barat, beliau berpendapat:
“menurut saya, praktik hutang piutang yang terjadi di Desa Bagik Polak Barat ini sudah jelas hukumnya, karena kana da riba di dalam praktik hutang piutang ini, Allah SWT.
juga sudah menjelaskan di dalam Al-Qur‟an Surah Ali Imran ayat 130, di sana sudah di jelaskan bahwa kita sebagai umat muslim jangan sekali-kali untuk memakan riba, karena hukumnya sudah jelas haram. Jadi sebaiknya
64 Sirnah, Wawancara di Desa Bagik Polak Barat, 26 Maret 2022, pukul 17.12
36
kita sebagai umat muslim untuk menjauhi riba agar terhindar dari murka Allah SWT.”65
Menurut beliau praktik hutang piutang ini sudah jelas termasuk riba, yang di mana hukum riba ini adalah haram. Akan tetapi, pada zaman sekarang banyak orang yang mengabaikan hal tersebut dan tidak mematuhi syariat islam yang berlaku, mereka seakan akan menutup telinga akan hal tersebut
Pendapat selanjutnya menurut Ustadz Tomi Harlan selaku Ustadz yang mengajar di MA NW Bagik Polak, beliau berpendapat:
“menurut saya pi, praktik hutang piutang yang terjadi di Desa Bagik Polak Barat ini bukan contoh praktik hutang piutang yang di benarkan dalam islam, karena praktik yang ada di Desa Bagik Polak ini di dalamnya mengandung riba walaupun dasarnya adalah tolong menolong. Jikalau praktik hutang piutang ini memang murni untuk tolong menolong sesama manusia maka praktik ini sangat di anjurkan dalam islam dan berkah yang di dapatkan pasti sangat banyak. Tapi sangat di sayangkan, praktik hutang piutang yang terjadi disini tidak seperti yang di ajarkan dalam islam, praktik hutang piutang di sini malah bertolak belakang dengan ajaran islam, maka dari itu saya sangat menentang praktik hutang piutang yang terjadi di Desa Bagik Polak Barat.” 66
Jadi praktik hutang piutang dengan jasa rentenir yang sedang terjadi ini sudah jelas tidak di benerkan dalam hukum islam, karena sudah jelas dikatakan dalam Al-Quran Surah Al- Baqarah ayat 282.
Menurut Ustadz Fathanul Yadaen, beliau berpendapat bahwa praktik hutang piutang yang pembayarannya mendapatkan keuntungan maka hukumnya adalah riba, hal ini terjadi kepada
65 Fauzan Maulat, Wawancara di Desa Bagik Polak Barat, 12 April 2022, pukul 14.35
66 Tomi Harlan, Wawancara di Desa Bagik Polak Barat, 27 A 2022, pukul 11.37
37
masyarakat di Desa Bagik Polak Barat yang di mana pihak yang memberikan hutang mengharuskan pihak yang berhutang untuk membayar bunga pada saat pihak yang berhutang akan membayar hutangnya kepada rentenir.67
Menurut Ustadz M Nurul Fajri, beliau berpendapat bahwa praktik hutang piutang yang terjadi di Desa Bagik Polak Barat ini sah sah aja.
“menurut saya, itu termasuk ke dalam sifat tolong menolong antar sesama manusia, itu juga termasuk ke dalam amalan yang sangat mulia jika membantu orang dalam kesulitan. Menghutangkan uang kepada orang yang membutuhkan dan ada timbal balik yang di dapatkan itu sangat wajar, selagi pihak yang berhutang dan yang di hutangkan sama sama ikhlas dan rela. Jadi, tidak ada salahnya jika kita mengharapkan keuntungan saat meminjamkan uang kepada orang yang membutuhkan asalkan tidak ada rasa berat di salah satu pihak.” 68
2. Dasar Hukum yang di Gunakan
a.
Dasar hukum yang di gunakan oleh Ustadz Tomi Harlan adalah QS. Al baqarah 282ْبُتْكٌَْل َو ُۗه ْوُبُتْكاَف ىًّمَسُّم ٍلَجَا ىٗٓهلِا ٍنٌَْدِب ْمُتْنٌَاَدَت اَذِا ا ْٗٓوُنَمها َنٌِْذَّلا اَهٌَُّاٗٓهٌ
ْأٌَ َلَ َو ُِۖل ْدَعْلاِب ٌۢ بِتاَك ْمُكَنٌَّْب ْۚبُتْكٌَْلَف ُ هّاللّ ُهَمَّلَع اَمَك َبُتْكٌَّ ْنَا بِتاَك َب
َناَك ْنِاَف ۗاً ـٌَْش ُهْنِم ْسَخْبٌَ َلَ َو ٗهَّبَر َ هّاللّ ِقَّتٌَْل َو ُّقَحْلا ِهٌَْلَع ْيِذَّلا ِلِلْمٌُْل َو ْنَا ُعٌْ ِطَت ْسٌَ َلَ ْوَا اًفٌِْعَض ْوَا اًهٌِْفَس ُّق َحْلا ِهٌَْلَع ْيِذَّلا ْلِلْمٌُْلَف َوُه َّلِمٌُّ
ِنٌَْلُجَر اَن ْوُكٌَ ْمَّل ْنِاَف ْۚمُكِلاَجِّر ْنِم ِنٌَْدٌِْهَش ا ْوُدِهْشَتْسا َو ِۗلْدَعْلاِب ٗهٌُِّل َو َرِّكَذُتَف اَمُهى هد ْحِا َّل ِضَت ْنَا ِءا َۤدَهُّشلا َنِم َن ْوَض ْرَت ْنَّمِم ِن هتَاَرْما َّو لُجَرَف هر ْخُ ْلَا اَمُهى هد ْحِا ْنَا ا ْٗٓوُمَ ـْسَت َلَ َو ۗ ا ْوُعُد اَم اَذِا ُءا َۤدَهُّشلا َبْأٌَ َلَ َو ۗى
ِةَداَهَّشلِل ُم َوْقَا َو ِ هّاللّ َدْنِع ُطَسْقَا ْمُكِل هذ ۗ هِل َجَا ىٗٓهلِا ا ًرٌِْبَك ْوَا اًرٌِْغَص ُه ْوُبُتْكَت ِضا َح ًة َرا َجِت َن ْوُكَت ْنَا ٗٓ َّلَِا ا ْٗٓوُباَت ْرَت َّلََا ٗٓى هن ْدَا َو َسٌَْلَف ْمُكَنٌَْب اَهَن ْوُرٌِْدُت ًة َر
َلَ َّو بِتاَك َّرۤاَضٌُ َلَ َو ُۖ ْمُت ْعٌَاَبَت اَذِا ا ْٗٓوُدِهْشَا َو ۗاَه ْوُبُتْكَت َّلََا حاَنُج ْمُكٌَْلَع
67 Fathanul Yadaen, Wawancara di Desa Bagik Polak Barat, 5 Fenruari 2022, pukul 10.11
68 M Nurul Fajri, Wawancara di Desa Bagik Polak Barat, 2 Februari 2022, pukul 14.39
38
دٌِْهَش
ۗ ُ هّاللّ ُمُكُمِّلَعٌُ َو ۗ َ هّاللّ اوُقَّتا َو ۗ ْمُكِب ٌۢ ق ْوُسُف ٗهَّنِاَف ا ْوُلَعْفَت ْنِا َو ۗە ُ هّاللّ َو
مٌِْلَع ٍء ًَْش ِّلُكِب
ٕ٨ٕ
Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.
(Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan
39
pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”69
b. Landasan dasar hukum yang Ustadz Fauzan berikan ialah terdapat di QS. Ali Imran ayat 130:
ْمُكَّلَعَل َ هّاللّ اوُقَّتا َّوُۖ ًةَفَع هضُّم اًفاَعْضَا ا ٗٓو هبِّرلا اوُلُكْأَت َلَ ا ْوُنَمها َنٌِْذَّلا اَهٌَُّاٗٓهٌ
َۚن ْوُحِلْفُت
ٖٔٓ
Artinya:“pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.”70
Yang dimaksud Riba di sini ialah Riba nasi'ah. Menurut sebagian besar ulama bahwa Riba nasi'ah itu selamanya haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.
c.
Adapun dalil yang menguatkan pendapat dari Ustadz M Nurul Fajri adalah QS. Al-Maidah ayat 2َرْهَّشلا َلَ َو ِ هّاللّ َرِ ىۤاَعَش ا ْوُّلِحُت َلَ ا ْوُنَمها َنٌِْذَّلا اَهٌَُّاٗٓهٌ
ًلَ ْضَف َن ْوُغَتْبٌَ َماَرَحْلا َتٌَْبْلا َنٌِّْم ۤها ٗٓ َلَ َو َدِ ىۤ َلََقْلا َلَ َو َيْدَهْلا َلَ َو َماَرَحْلا ٍم ْوَق ُنهاَنَش ْمُكَّنَم ِر ْجٌَ َلَ َوۗ ا ْوُداَطْصاَف ْمُتْلَلَح اَذِا َوۗ اًنا َوْض ِر َو ْمِهِّبَّر ْنِّم
69 Q.S Al-Baqarah [2] : 282, Dapaertemen Agama RI, Al-Quran dan…,
70 Q.S Ali Imran [3] : 130, Dapaertemen Agama RI, Al-Quran dan…,
40
ِماَرَحْلا ِدِجْسَمْلا ِنَع ْمُك ْوُّدَص ْنَا ِّرِبْلا ىَلَع ا ْوُن َواَعَت َو ۘا ْوُدَتْعَت ْنَا
ُدٌِْدَش َ هّاللّ َّنِاۗ َ هّاللّ اوُقَّتا َوُۖ ِنا َوْدُعْلا َو ِمْثِ ْلَا ىَلَع ا ْوُن َواَعَت َلَ َو ُۖى هوْقَّتلا َو ِباَقِعْلا
ٕ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu.
dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”71
Maksud dari ayat di atas sesuai dengan pandangan Ustadz M Nurul Fajri ialah para pemberi hutang (rentenir) memberikan hutang kepada orang yang membutuhkan hanya semata-mata ingin menolong orang yang membutuhkan bantuannya dan sebagai salah satu jalan penerima hutang membantu pemberi hutang (rentenir) mengembangkan usahanya dalam bidang ini, karena harus ada timbal balik yang di dapat walupun tujuan awalnya hanya untuk saling tolong menolong sesama manusia.72
71 Q.S Al-Maidah [5] : 2, Dapaertemen Agama RI, Al-Quran dan…,
72 M Nurul Fajri, Wawancara di Desa Bagik Polak Barat, 2 Februari 2022, pukul 14.40
41