BAB V HASIL PENELITIAN
5.2 Analisis Univariat
Responden yang diteliti adalah Ayah (Kepala Rumah Tangga), Ibu Rumah Tangga, Anak, atau Orang dewasa lain ibu rumah tangga dengan umur mulai dari 17 hingga 70 tahun, frekuensi terbanyak berada diantara 31 - 50 tahun.
Kebanyakan responden adalah sebagai ibu rumah tangga. Tingkat pendidikan yang paling banyak adalah SMA sebanyak 50 orang. Karakteristik reponden ditampilkan pada tabel berikut ini, (tabel 5.1):
37 Tabel 5.1. Distribusi Karakteristik Responden
No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Umur
a. 17 – 30 tahun b. 31 – 50 tahun c. 50 – 70 tahun
36 42 17
37,9 % 44,2 % 17,9 % 2. Jenis Kelamin
a. Perempuan b. Laki-laki
66 29
69,5 % 30,5 % 3. Status dalam keluarga
a. Ayah (kepala rumah tangga) b. Ibu rumah tangga
c. Anak
d. Orang dewasa lain
23 47 21 4
24,2 % 49,5 % 22,1 % 4,2 % 4. Pekerjaan
a. P N S b. Wiraswasta c. Petani d. I R T
e. Tidak Bekerja
11 27 2 37 18
11,6 % 28,4 % 2,1 % 38,9 % 18,9 % 5. Pendidikan
a. S1 b. D3 c. SMA d. SMP e. SD
19 1 50 13 12
20 % 1,1 % 52,6 % 13,7 % 12,6 % Sumber: Data primer 2012
Distribusi responden berdasarkan riwayat kejadian demam berdarah dengue (DBD) dalam kurun waktu setahun terakhir. Riwayat kejadian DBD pada responden diperoleh data bahwa 10 orang dari 95 responden menyatakan ada anggota keluarnya yang pernah menderita DBD, berikut tabel disitribusinya, (tabel 5.2):
Tabel 5.2 Distribusi riwayat kejadian DBD dalam keluarga
No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Ada
Tidak Ada
10 85
10,5 % 89,5 % Sumber: Data primer 2012
38 Distribusi responden berdasarkan keadaan lingkungannya (keberadaan kontainer air bersih, wadah bekas, saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan tempat sampah). Di rumah tiap responden sebagian besar terdapat kontainer air bersih, wadah bekas, saluran pembuangan air limbah baik diluar maupun didalam rumahnya, dan hanya sebagian kecil rumah yang tidak terdapat tempah sampah.
Berikut tabel distribusinya, (tabel 5.3)
Tabel 5.3 Distribusi keadaan lingkungan responden
No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Kontainer Air Bersih
a. Ada b. Tidak ada
82 13
86,3 % 13,7 % 2. Wadah Bekas
a. Ada b. Tidak ada
30 65
31,6 % 68,4 % 3. SPAL
a. Baik b. Tidak baik
70 25
73,7 % 26,3 % 4. Tempat Sampah
a. Ada b. Tidak ada
91 4
95,8 % 4,2 % Sumber: Data primer 2012
Distribusi responden berdasarkan perilaku terhadap penyakit demam berdarah dengue, yang meliputi kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, dan pelaksanaan fogging. Diantara 95 responden lebih dari 50% responden pernah menggunakan abate dan mempunyai kebiasaan menggunakan obat nyamuk, namun pelaksanaan kegiatan 3M dan pelaksanaan fogging kurang dari 50%. Berikut tabel distribusinnya, (tabel 5.4)
39
Tabel 5.4 Distribusi perilaku responden berkaitan dengan pencegahan DBD
No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Kegiatan 3M
a. Terlaksana b. Tidak terlaksana
47 48
49,5 % 50,5 % 2. Penggunaan Abate
a. Ya b. Tidak
69 26
72,6 % 26,4 % 3. Kebiasaan Menggunakan Obat Nyamuk
a. Ya b. Tidak ada
87 8
91,6 % 8,4 % 4. Pelaksanaan Fogging
a. Ya b. Tidak
31 64
32,6 % 67,4 %
Sumber: Data primer 2012
Distribusi responden berdasarkan pengetahuannya tentang DBD, sebagain besar responden mempunyai pengetahuan yang baik tentang DBD, berikut tabel distribusi pengetahuan responden terhadap penyakit DBD, (tabel.5.5)
Tabel 5.5 Distribusi pengetahuan responden tentang DBD
No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Baik
Kurang
90 5
94,7 % 5,3 % Sumber: Data primer 2012
5.4 Analisis Bivariat
Hubungan antara keberadaan komponen faktor lingkungan (kontainer air bersih, wadah bekas, SPAL, dan tempat sampah) pada penelitian ini, juga tidak menunjukkan hubungan yang siginifikan dengan kejadian DBD, berikut tabelnya (tabel. 5.6)
40 Tabel 5.6 Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian DBD
N
o Variabel
Kejadian DBD
Nilai-p OR 95 % CI Ada Tidak Ada
n % n %
1. Kontainer Air Bersih
a. Ada b. Tidak Ada
9 1
11,0 7,7
73 12
89,0 92,3
0,720 1,479 0,172 - 12,756 2. Wadah Bekas
a. Ada b. Tidak Ada
5 5
16,7 7,7
25 60
83,3 92,3
0,185 2,40 0,638 - 9,025 3. SPAL
a. Baik b. Tidak baik
8 2
11,4 8,0
62 23
88,6 92,0
0,632 1,484 0,293 - 7,511 4. Tempat Sampah
a. Ada b. Tidak Ada
10 0
11,0 0
81 4
89,0 100
0,483 tdd* tdd*
* : tidak dapat dihitung Sumber: Data primer 2012
Adapun hubungan antara faktor perilaku dalam hal ini: kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk dan pelaksanaan foggong pada penelitian ini, juga tidak menunjukkan hubungan yang siginifikan dengan kejadian DBD, berikut tabelnya (tabel. 5.7)
Tabel 5.7 Hubungangan Faktor Perilaku dengan Kejadian DBD N
o Variabel
Kejadian DBD
Nila-p OR 95 % CI Ada tidak ada
n % n % 1. Kegiatan 3M
a. Terlaksana b. Tidak terlaksana
4 6
8,5 12,5
43 42
91,5 89,5
0,526 0,651 0,171 - 2,474 2. Penggunaan Abate
a. Ya b. Tidak
5 5
7,2 19,2
64 21
92,8 80,8
0,090 0,328 0,086 - 1,246 3. KebiasaanMenggunakan
Obat Nyamuk a. Ya b. Tidak ada
9 1
10,3 12,5
78 7
89,7 87,5
0,849 0,808 0,089 - 7,333 4. Pelaksanaan Fogging
a. Terlaksana b. Tidak terlaksana
4 6
12,9 9,4
27 58
87,1 90,6
0,599 1,432 0,373-5,497 Sumber: Data primer 2012
41 Hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan angaka kejadian DBD pada penelitian ini, tidak menunjukkan hubungan yang signifikan, berikut tabel hubungannya., (tabel 5.8)
Tabel 5.8 Hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian DBD No Tingkat
pengetahuan
Kejadian DBD
Nilai- p Ada Tidak ada
N % n %
1. Baik 10 11,1 80 88,9 0,431
2. Kurang 0 0 5 100
Sumber: Data primer 2012
42
BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Analisis Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian DBD
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia termasuk benda mati, benda hidup, nyata, atau abstrak seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen tersebut, sehingga lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap derajat kesehatan. Lingkungan dikatakan sehat apabila lingkungan tersebut tidak menimbulkan penyakit, tidak menimbulkan terjadinya gangguan kesehatan. Serta lingkungan yang dapat menyehatkan badan, nyaman, dan aman.14
Sebagai salah satu faktor yang berpangaruh terhadap terjadinya suatu penyakit sehingga lingkungan juga dapat mempengaruhi kejiadian DBD, namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan dalam hal ini menyangkut:
keberadaan kontainer air bersih, wadah bekas, saluran pembuangan air limbah dan tempat sampah tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian DBD.
Dengan masing-masing nilai p sebagai berikut: p = 0,720 (p > 0,05), p = 0,185 (p
> 0,05), p = 0,632 (p > 0,05), p = 0,483 (p > 0,05).
6.1.1 Kontainer Air Bersih
Keberadaan kontainer sangat berperan dalam kepadatan vektor nyamuk Aedes, karena semakin banyak kontainer akan semakin banyak tempat perindukan dan akan semakin padat populasi nyamuk Aedes. Semakin padat populasi nyamuk Aedes, maka semakin tinggi pula risiko terinfeksi virus DBD dengan waktu penyebaran lebih cepat sehingga jumlah kasus penyakit DBD cepat meningkat
43 yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya KLB penyakit DBD. Disamping itu, letak, macam, bahan, warna, bentuk volume dan penutup kontainer serta asal air yang tersimpan dalam kontainer sangat mempengaruhi nyamuk Aedes betina untuk menentukan pilihan tempat bertelurnya.9
Keberadaan kontainer air bersih di rumah, menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Fathi, dkk, menemukan adanya hubungan yang bermakna antara keberadaan kontainer dengan KLB penyakit DBD di Kota Mataram (p < 0,05) dengan risiko relatif (RR)= 2,96.11. Yudhastuti,R juga menyatakan adanya hubungan antara jumlah kontainer dengan keberadaan jentink nyamuk aedes aegypty (p = 0,004), dengan semakin banyaknya kontainer sebagai breeding place maka semakin potensial untuk pertambahan populasi nyamuk dan nantinya akan menambah resiko terjadinya penyakit DBD, hasil tersebut diperolehnya dari penelitian yang dilakuakn di Surabaya.17 Azizah juga menemukan bahwanya keberadaan kontainer merupakan faktor risiko untuk terjadinya DBD, besar risiko kejadian DBD yang mempunyai kontainer >3 lebih besar dibandingkan dengan yang mempunyai kontainer < 3 (OR : 6,75, CI 95% : 2,15 - 21,22).18
Namun hasil penelitian ini, yakni faktor lingkungan dalam hal ini kontainer air bersih tidak mempunyai hubungan yang siginifikan terhadap kejadian DBD. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh karena keberadaan kontainer air di rumah responden sebagian besarnya dari lembar observasi ditemukan rata-rata jumlah kontainernya hanya 1 kontainer saja bahkan ada yang tidak menggunakan kontainer air bersih, sehingga kemungkinan untuk berkembangnya jentik nyamuk lebih sedikit dan akhirnya juga tidak memiliki
44 pengaruh yang signifikan terhadap kejadian DBD pada penelitian ini, selain itu lokasi dan jumlah responden pun berbeda.
6.1.2 Wadah Bekas
Keberadaan wadah bekas di sekitar rumah dapat menampung air seperti botol-botol bekas, kaleng-kelang bekas dan vas bunga yang medium pertumbuhannya menggunakan air adalah potensi besar tempat perkembangbiakan nyamuk, tempat lain yang berpotensi adalah tempat air minum burung. Jentik nyamuk juga dapat berkembangbiak di lura rumah seperti di tampungan air yang ada di dalam drum, dan ban bekas.8
Namun dari hasil penelitian ini, tidak didapatkan pengaruh antara keberadaan wadah bekas dengan kejadian DBD, dikarenakan tingginya kesadaran masyarakat akan bahaya DBD dengan rajin membuang dan mengubur wadah- wadah bekas yang dapat menjadi sarang perkembang biakan nyamuk. Dari hasil observasi, disekitar sebagian besar responden tidak ditemukan adanya wadah bekas.
Hasil ini tidak sejalan dengan teori bahwa tempat perindukan yang terbukti berhubungan dengan kejadian DBD disebabkan karena adanya tempat perindukan menjadikan adanya nyamuk Ae. aegypti yang menjadi penyebab DBD. Tempat perindukan yang positif ditemukan adanya jentik nyamuk Ae. aegypti adalah di bak mandi, vas bunga, bal WC, tempayan, dan barang bekas kaleng,ban bekas dll). Nyamuk Ae. aegypti betina bertelur dan menetaskannya di atas permukaan air. Nyamuk penyebab demam berdarah ini berkembang biak pada genangan air, terutama yang kotor. Karena itu, penyebaran wabah dengue dipengaruhi oleh ada
45 tidaknya nyamuk Ae. aegypti yang dipengaruhi lagi oleh ada tidaknya genangan air yang kotor dalam hal ini wadah bekas.8
6.1.3 SPAL
Memiliki saluran pembuangan air limbah dan saluran air hujan, merupakan salah satu komponen dari rumah yang sehat. Limbah cair yang disebut air kotor dari air bekas rumah tangga bekas cucian, dapur, kamar mandi, dan wastafel perlu dibuat saluran yang tertutup agar tidak bau, tidak menjadi sarang nyamuk, dan serangga lain dan tidak mencemari tanah sumber air minum. Tidak menimbulkan bau dan pemandangan yang kotor.14
Saluran pembuangan air limbah, yang secara umum di daerah pengambilan sampel, kondisi salurannya dalam keadaan baik, yakni air yang mengalir lancar dan tidak berbau sehingga air tidak tergenang yang dapat menjadi sarang untuk perkembangbiakan nyamuk. Sehingga hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini menyatakan tidak ada hubungan yang bermaksa anatara keberadaan saluran pembuangan air limbah dengan kejadian DBD.
Berbeda dengan hasil penelitian Rini pada tahun 2010 di Kab. Pati mendapatkan bahwa ada hubungan antara membersihkan selokan/saluran air dengan keberadaan jentik dengan Contingency Coefficient (CC) sebesar 0,324.
Hal ini dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang rendah antara membersihkan selokan/saluran air dengan keberadaan jentik di wilayah kerja Puskesmas Gabus.19 6.1.4 Tempat Sampah
Salah satu ciri lingkungan yang sehat adalah tersedianya bak sampah atau tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Sampah dikelola
46 dengan baik dan tidak ada sampah yang berserakan. Tempat sampah yang memenuhi syarat kesehatan yakni: kedap air, tertutup, dan tidak berceceran, selalu dibersihkan dan diangkut secara berkala dan tidak lebih dari satu hari.14
Untuk keberadaan tempat sampah pada penelitian ini diperoleh tidak ada hubungan yang bermakna dengan kejadian DBD karena beberapa tempat sampah telah mempunyai tutup dan tempat sampah yang ada diluar rumah responden pun rutin di bakar dan tidak ditemukannya kaleng-kaleng, atau wadah bekas lainnya di sekitar tempat sampah dan sekitar rumah responden, yang memungkinkan untuk tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Namun berbeda dengan penelitian Wahyu di Semarang tentang tempat memperoleh hasil bahwa ada hubungan yang bermakna antara variabel kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan membakarnya dengan kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Puskesmas Cepiring Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal tahun 2009. Nilai Odd Ratio (OR) = 2,538 (95% CI = 1,023- 6,298), menunjukkan bahwa responden yang tidak membuang sampah pada tempatnya dan membakarnya mempunyai risiko 2,538 kali lebih besar menderita DBD dari pada responden yang membuang sampah pada tempatnya dan membakarnya.20
Secara umum untuk faktor lingkungan dengan kejadian DBD pada studi ini tidak didapatkan adanya hubungan yang bermakna, oleh karena sebagain besar lingkungan responden dalam kondisi yang baik, sehingga kemungkinan untuk berkembangnya nyamuk aedes aegypty sebagai vector penular penyakit ini dapat di minimalisir.
47 6.2 Analisis Hubungan Faktor Perilaku dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku dalam hal ini menyangkut: kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, dan pelaksaanaan fogging tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian DBD. Dengan masing-masing nilai p sebagai berikut: p = 0,526( p > 0,05), p = 0,849 (p > 0,05), p = 0,599 (p > 0,05).
6.2.1 Kegiatan 3M
Dari hasil penelitian ini, diperoleh hasil bahwasanya tidak ada hubungan yang bermakna antara kegiatan 3M dengan kejadian DBD di kec.Bajeng. Berbeda dengan Duma, Nicolas dkk., yang menyebutkan bahwa aktifitas pembersihan tempat penampungan air (breeding place) merupakan upaya yang sangat berperan dalam mencegah penyakit DBD. Ada hubungan bermakna antara kegiatan membersihkan tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Kota Kendari (p
= 0,003 dan OR = 11,532. Dengan kata lain breeding place yang tidak dibersihkan secara teratur memberi resiko serangan DBD sampai 11, 5 kali dibandingkan dengan breeding place yang dibersihkan dengan teratur.15
Penelitian yang dilakukan oleh Laksmono dkk pada tahun 2008 di Semarang mendapatkan bahwa praktek PSN 3M Plus responden di tempat penampungan air tersebut sebagian besar memiliki jentik yang kurang padat, dan seluruh responden yang berpraktik baik juga memiliki jentik yang kurang padat.
Hal ini logis diterima, oleh karena bila seseorang melakukan praktek PSN 3M Plus, maka kemungkinan adanya jentik berkurang. 21
48 Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyu tahun 2009 di Kendal yang mencoba mnganalisis 3M secara rinci. Untuk kategori membersihkan tempat penampungan air didapatkan ada hubungan yang bermakna antara membersihkan tempat penampungan air dengan kejadian DBD. Untuk kategori menutup tempat penampungan air didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara variabel menutup tempat penampungan air dengan kejadian DBD. Untuk kategori menguras tempat penampungna didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara variabel menguras tempat penampungan air dengan kejadian DBD. Untuk kategori mengubur barang bekas didapatkan ada hubungan yang bermakna antara variabel kebiasaan mengubur barang-barang bekas dengan kejadian DBD.20
6.2.2 Penggunaan Abate
Kemudian untuk penggunaan bubuk abate, hasil yang diperoleh dari penelitian ini menyatakan bahwasanya tidak pengaruh yang bermakna antara kebiasaan menggunakan bubuk abate pada tempat penampungan air dengan kejadian DBD. Hal ini sejalan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyu didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara variabel kebiasaan menabur bubuk Abate pada tempat penampungan air dengan kejadian DBD. 20 6.2.3 Kebiasaan Menggunakan Obat Nyamuk
Menurut WHO, penolak serangga merupakan sarana perlindungan diri terhadap nyamuk dan serangga yang umum digunakan. Benda ini secara garis besarnya dibagi menjadi dua kategori, penolak alami dan kimiawi. Minyak esensial dan ekstrak tanaman merupakan bahan pokok penolak alami. Penolak
49 serangga kimiawi dapat memberikan perlindungan terhadap nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus, dan spesies Anopheles selama beberapa jam.6
Dari penelitian ini, diperoleh bahwasanya kebiasaan menggunakan obat nyamuk tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dengan kejadian DBD di Kec.Bajeng. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyu yang mendapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara variabel kebiasaan memakai lotion anti nyamuk dengan kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Puskesmas Cepiring.
6.2.4 Pelaksanaan Fogging
Dalam penelitian ini, fogging tidak berpengaruh terhadap angka kejadian kasus DBD, hal ini disebabkan karena peran tindakan pengasapan yang sangat kurang di lokasi peneiltian, hal ini dapat dilihat dari distribusi pelaksanaan foging berdasarkan jawaban dari responden. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian peranan faktor lingkungan dan perilaku terhadap kejadaian demam bedarah dengue di Mataram, hasil penelitain tersebut menyebutkan bahwa fogging tidak berperan terhadap terjadinya KLB DBD di Mataram dikarenakan pelaksanan fogging yang tidak maksimal.11
50 6.3 Analisis hubungan pengetahuan dengan kejadian DBD
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak m emiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian DBD. Pada penelitian ini sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik tentang DBD, namun sebagain besar pula tidak pernah ada anggota keluarganya yang pernah menderita DBD, hanya sebagian kecil yang dalam anggota keluarnya pernah sakit DBD. Sehinga dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tidak memiliki pengaruh terhadap angka kejadian DBD (p = 0,431 atau nilai p > 0,05)
Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fathi, dkk (2005). Fathi juga menemukan bahwa pengetahuan responden tidak berpengaruh terhadap kejadian DBD di Kota Mataram Nusa tenggara Barat.11
Namun, penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Arsunan, A dan Wahiduddin (2004) di Makassar, mendapatkan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian DBD.12
Duma, Nicolas dkk (2007), yang dalam penelitiannya yang juga menyatakan bahwa pengetahuan berhubungan secara bermakna (p = 0,042 dan OR = 1,71) dengan kejadian DBD di Kota Kendari.
Hasil penelitian Anton (2008) di Medan juga menyatakan bahwa tingkat pengetahuan tentang PSN tidak berhubungan dengan kejadian DBD, p > 0,05, dengan OR = 0,696.17
Kemungkinan yang menyebabkan dalam penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna dengan kejadian DBD adalah adanya kesamaan pola pengetahuan responden dimana proporsi pengetahuan baik dan kurang tidak
51 berbeda secara nyata. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh tingkat pendidikan responden yang cenderung berada pada kisaran yang sama yaitu setingkat SMA.
6.4 Keterbatasan Penelitian
Mengingat keterbatasan dari penelitian ini, sehingga hasil penelitian ini tidak dapat digeneralkan pada kondisi dan tempat yang berbeda. Penelitian tentang pengaruh lingkungan, perilaku, dan pengetahuan masyarakat terhadap angka kejadian demam berdarah dengue di Kec. Bajeng, Kab. Gowa tentunya mempunyai keterbatasan dalam memperoleh data yang lebih akurat, antara lain:
1. Metode sampling berdasarkan teknik sampling yang ada di Bab IV, seharusnya menggunakan teknik probability sampling khususnya two stage cluster sampling, namun nyatanya karena pertimbangan efektifitas dan efisiensi waktu maka peneliti menerapkan metode purposive sampling, yakni peneliti mengambil sampel berdasarkan anggapan bahwa responden yang diteliti memiliki informasi yang diperlukan untuk penelitiannya. Dengan metode tersebut diharapkan peneliti dapat memenuhi tujuan penelitiannya, akan tetapi dengan purposive sampling ini belum tentu mewakili semua variasi yang ada.
2. Keterbatasan peneliti untuk melakukan survey secara langsung pada tempat-tempat yang berpotensi sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes, terutama tempat penampungan air yang digunakan oleh responden, disebabkan responden yang tidak bersedia.
52 BAB VII
KAJIAN AL-QURAN
7.1. Kisah Nyamuk dalam Al-Qur’an
Allah swt membuat sejumlah perumpamaan bagi manusia. Di antara perwujudan kasih sayang Allah swt adalah bahwa Dia telah menjadikan perumpamaan-perumpaan itu tidak asing lagi bagi setiap orang dengan berbagai tingkat kecerdasannya, serta mudah dipahami dan dicerna. Seperti itulah Allah SWT memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya kepada umat manusia.21
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu” (QS.2:26)22
Begitupun dengan nyamuk, Allah swt menjadikan nyamuk sebagai salah satu perumpamaan dalam Al-Qur‟an, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang berakal. Kekuasaan Allah tersirat pada wujud kecil dari nyamuk, makhluk ciptaan Allah swt. Nyamuk juga bermanfaat bagi manusia sebagai bahan acuan yang mengandung hikmah bagi perkembangan ilmu pengetahuan manusia, namun atas izin Allah pula, nyamuk dapat membuat manusia tak berdaya.21
Berikut Allah swt, mengisahkan nyamuk dalam al-quran:
Pada masa turunnya Al-Quran manusia belum banyak memahami makna berbagai perumpamaan. Pada masa itu, ilmu pengetahuan masih sangat jauh dari jangakauan nalar (pemahaman) mereka, terutama bagi masyarakat yang hidup di jazirah Arabia. Oleh karena itu, ketika mendengar sebuah ayat tenyang nyamuk,
53 orang-orang kafir dan kaum Yahudi pun berkata, “apa maksud Allah menjadikan ini sebagai perumpamaan?”.21
Akan tetapi Allah swt Yang Maha Mengetahui berkehendak menjadikan sebuah ayat (tanda kekuasaan-Nya) yang memuat perumpamaan tersebut. Sebuah ayat yang mampu menyebabkan zaman terus bergerak, mengantarkan manusia pada sesuatu yang amat menakjubkan dan berada di luar batas kemampuan rasio manusia, dan juga agar orang-orang beriman semakin meyakini bahwa semua itu benar-benar berasal dari Tuhan mereka. 21Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya Allah tiada seham membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka mengatakan, Apakah maksud Allah menjadikan ini perumpamaan? Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan peumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”. (QS.2:26)22
Kalau saja manusia menyusuri perjalanan ilmu pengetahuan dan mengikuti langkah-langkahnya yang acapkali mengejutkan, lalu menemukan banyak hal yang menakjubkan yang berkaitan dengan nyamuk ini, niscaya pada saat itu, mereka akan mengetahui hakikat kekuasaan Tuhan tersebut. Termasuk pula mukijizat Al-Quran yang berhubungan erat dengan ilmu pengetahuan—
54 sebuah mukjizat yang akan senantiasa menjadi lampu penerang umat manusia dari generasi ke generasi, yang dengannnya pula Allah swt akan member petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.21
Memang, jenis nyamuk yang berhasil dikenali manusia berkat ilmu kedokteran modern, baru sedikit jumlahnya. Namun demikian, darinya dapat diungkap satu jenis penyakit membahayakkan yang telah dikenal banyak orang diseluruh muka bumi ini, yakni penyakit Malaria yang ditularkan melalui nyamuk Anopheles, dan penyakit Demam berdarah dengue (DBD) yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti.21
Nyamuk menyengat kulit manusia dengan menggunakan sebuah belalai yang sangat lembut, untuk kemudian menyedot nutrisi makanan yang terkandung dalam darah. Terdapat beberapa jenis nyamuk malaria yang biasa hidup di air keruh, yang dapat menyebabkan seseorang terjangkit penyakit malaria serta mengakibatkan penyakit yang bersarang dalam tubuhnya itu terus berkembang biak.21
Ada pula nyamuk jenis lain yang membawa salah satu penyakit paling berbahaya yang pernha menjangkit manusia. Nyamuk ini telah menyebabkan munculnya berbagai jenis wabah yang menimpa manusia di berbagai kawasan di bumi ini. Setiap kali ditemukan penyakit ini di suatu tempat, niscaya akan dijumpai pula nyamuk jenis ini disitu. Nyamuk tersebut bernama Female culex pipiens.21
Kuman penyakit yang dibawa nyamuk ini akan hidup dalam getah bening yang terdapat dalam tubuh manusia. Di waktu malam, kuman penyakit yang