• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh lingkungan, perilaku dan pengetahuan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh lingkungan, perilaku dan pengetahuan"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sedangkan pada tahun 2004, kejadian demam berdarah dilaporkan sebanyak 2.598 orang sakit (termasuk data Sulawesi Barat). 4 Berdasarkan laporan Subdin BP3PL menunjukkan jumlah kasus demam berdarah dengue yang ditemukan di Puskesmas setempat pada tahun 2007 sebanyak 750 kasus.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Demam Berdarah Dengue

  • Definisi Penyakit Demam Berdarah Dengue
  • Etiologi Penyakit Demam Berdarah Dengue
  • Vektor Penular Penyakit Demam Berdarah Dengue
  • Patogenesis Penyakit Demam Berdarah Dengue
  • Tanda dan Gejala Penyakit Demam Berdarah Dengue
  • Cara Penularan Penyakit Demam Berdarah Dengue
  • Tatalaksana Penyakit Demam Berdarah Dengue
  • Cara-cara Pencegahan dan Penanggulangan
  • Faktor Penularan Penyakit DBD
  • Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian DBD

Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti kuat bahwa mekanisme imunopatologi berperan dalam terjadinya demam berdarah dengue (DBD) 4 DBD disebabkan oleh virus dengue yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. . Perubahan lain yang terjadi pada demam berdarah adalah gangguan hemostasis yang terdiri dari perubahan pembuluh darah, trombositopenia dan koagulopati.8. Penularan DBD terjadi karena jika nyamuk menggigit (menusuk) kulit manusia, belalai atau alat penusuk nyamuk tersebut mencari pembuluh darah kapiler.

Tidak ada terapi khusus demam berdarah dengue untuk pengobatan demam berdarah. Prinsip utamanya adalah memberikan terapi suportif dan didasarkan pada ada tidaknya perubahan fisiologis yaitu rembesan plasma dan perdarahan. Pasalnya, tubuh memiliki daya tahan yang cukup kuat terhadap infeksi, baik yang disebabkan oleh bakteri, parasit, maupun virus seperti demam berdarah.

Lingkungan dan Perilaku

  • Lingkungan
  • Perilaku

Lingkungan fisik terdiri dari benda-benda mati yang dapat dilihat, diraba, dirasakan, antara lain bangunan, jalan, jembatan, kendaraan, gunung, air, tanah. Benda mati yang dapat dilihat dan dirasakan tetapi tidak dapat disentuh (api, asap, kabut, dan lain-lain). Benda mati yang tidak dapat diraba, tidak dapat dilihat, namun dapat dirasakan (udara, angin, gas, bau, bunyi/bunyi, dan sebagainya).

Lingkungan hayati terdiri dari makhluk hidup yang bergerak, baik yang tampak maupun yang tidak tampak (manusia, hewan, biota air, amuba, virus plankton). Lingkungan sosial terdiri dari sosial ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, agama/kepercayaan, organisasi kemasyarakatan, dan lain-lain.

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 22

  • Kerangka Konsep
  • Variabel Penelitian
  • Definisi Operasional
  • Hipotesis

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kegiatan 3M dengan kejadian penyakit demam berdarah di Kecamatan Bajeng. Terdapat hubungan yang signifikan antara kegiatan pembersihan tangki air dengan kejadian DBD di Kendari (hal. Untuk kategori pembersihan tangki air ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara pembersihan tangki air dengan kejadian demam berdarah.

Untuk kategori pengurasan tempat penampungan air ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara variabel pengurasan tempat penampungan air dengan kejadian penyakit demam berdarah. Duma, Nicolas dkk (2007) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa pengetahuan mempunyai hubungan yang signifikan (p=0,042 dan OR=1,71) dengan kejadian penyakit demam berdarah di Kota Kendari.

Gambar 3.1 Kerangka konseptual variable yang diteliti Kebiasaan Penggunaan Abatesasi
Gambar 3.1 Kerangka konseptual variable yang diteliti Kebiasaan Penggunaan Abatesasi

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian

Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian observasional analitik dengan menggunakan data primer berupa angket dan lembar observasi. Desain penelitian yang akan digunakan adalah studi cross-sectional, yaitu penelitian yang pengukuran variabel-variabel yang mempengaruhi dan mempengaruhi dilakukan pada satu titik dan waktu yang sama. Penelitian observasional analitik ini bertujuan untuk memperoleh gambaran umum mengenai peranan faktor lingkungan dan perilaku terhadap kejadian kasus demam berdarah dengue (DBD) di kabupaten tersebut. Kecamatan Bajeng.

Tempat dan Waktu Penelitian

Populasi dan Sampel

  • Populasi
  • Sampel
  • Besar Sampel dan Rumus Sampel
  • Teknik Sampling

Probability sampling adalah prinsip bahwa setiap subjek dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih dan tidak dipilih sebagai sampel. Sedangkan cluster sampling adalah proses pengambilan sampel secara acak dari sekelompok individu dalam populasi yang terjadi secara alami, misalnya berdasarkan wilayah (kodya, kelurahan, kelurahan, dan sebagainya). 13.

Kriteria Seleksi

  • Kriteria inklusi
  • Kriteria Eksklusi

Dengan demikian, hasil penelitian penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara keberadaan saluran air limbah dengan kejadian penyakit demam berdarah. Untuk kategori tempat penampungan air tertutup ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara variabel tempat penampungan air tertutup dengan kejadian penyakit demam berdarah. Untuk kategori mengubur barang bekas ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara variabel kebiasaan mengubur barang bekas dengan kejadian penyakit demam berdarah.20.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Wahyu yang menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel kebiasaan menaburkan bubuk Abate di tempat penampungan air dengan terjadinya penyakit demam berdarah. Namun penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Arsunan, A dan Wahiduddin (2004) di Makassar yang menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian demam berdarah.12.

Jenis Data dan Intrumen Penelitian

  • Jenis Data
  • Instrumen Penelitian

Manajemen Data

Editing dilakukan dengan cara memeriksa kelengkapan data, mengklarifikasi dan mengolah data yang telah dikumpulkan. Pengkodean dilakukan dengan menyederhanakan data yang dikumpulkan dengan memberikan kode atau simbol tertentu. Dari data mentah muncullah kurasi data, yaitu mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga mudah dikumpulkan, disusun, dan disusun untuk penyajian dan analisis.

Analisis data

Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan signifikan antara masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.

Etika Penelitian

Namun hasil penelitian yaitu faktor lingkungan dalam hal ini wadah air bersih tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap terjadinya penyakit demam berdarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku dalam hal ini mengenai: kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, dan pelaksanaan fogging tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap terjadinya penyakit demam berdarah. Kemudian untuk penggunaan bubuk abate, hasil yang diperoleh dari penelitian ini menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kebiasaan penggunaan bubuk abate di tempat penampungan air dengan terjadinya penyakit demam berdarah.

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa kebiasaan penggunaan obat nyamuk tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap kejadian penyakit demam berdarah di Kecamatan Bajeng. Jadi pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tidak mempunyai pengaruh terhadap kejadian demam berdarah (p = 0,431 atau p value > 0,05).

HASIL PENELITIAN

Responden Penelitian

Analisis Univariat

41 Korelasi tingkat pengetahuan responden dengan kejadian demam berdarah pada penelitian ini tidak menunjukkan korelasi yang signifikan, berikut tabel korelasinya (Tabel 5.8). 44 mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prevalensi penyakit DBD pada penelitian ini, hanya saja lokasi dan jumlah respondennya berbeda. Untuk keberadaan tempat sampah pada penelitian ini ditemukan tidak adanya hubungan yang bermakna dengan terjadinya penyakit demam berdarah karena sebagian tempat sampah ada yang bertutup dan tempat sampah di luar rumah responden rutin dibakar dan tidak ada kaleng atau wadah lain yang dibakar. ditemukan di sekitar tempat sampah dan di sekitar rumah responden yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

Fathi juga menemukan bahwa pengetahuan responden tidak berpengaruh terhadap kejadian penyakit demam berdarah di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.11. Kemungkinan penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan dengan kejadian demam berdarah adalah adanya kesamaan pola pengetahuan responden dimana proporsi pengetahuan baik dan buruk.

Tabel 5.2 Distribusi riwayat kejadian DBD dalam keluarga
Tabel 5.2 Distribusi riwayat kejadian DBD dalam keluarga

Analisis Bivariat

PEMBAHASAN

Analisis Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian DBD

  • Kontainer Air Bersih
  • Wadah Bekas
  • SPAL
  • Tempat Sampah

Yudhastuti, R juga menyatakan bahwa terdapat hubungan antara jumlah wadah dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypty (p = 0,004), semakin banyak wadah yang dijadikan tempat perkembangbiakan maka semakin besar pula kemungkinan bertambahnya populasi nyamuk dan akibatnya meningkatkan risiko penyakit demam berdarah, hasil tersebut diperoleh dari penelitian yang dilakukan di Surabaya.17 Azizah juga menemukan bahwa keberadaan pembuluh darah merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit demam berdarah, risiko terjadinya penyakit demam berdarah pada mereka yang memiliki > 3 pembuluh darah adalah lebih tinggi pada mereka yang memiliki pembuluh darah <3 (OR: 6.75, CI. Hasil ini tidak sesuai dengan teori bahwa tempat perkembangbiakan yang terbukti berhubungan dengan kejadian demam berdarah disebabkan oleh adanya tempat berkembang biak yang berarti keberadaan komunitas nyamuk Ae. Puskesmas .19 6.1.4 Tempat Sampah.

Namun berbeda dengan penelitian Wahyu di Semarang mengenai tempat, ditemukan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel kebiasaan membuang sampah di tempat dan membakarnya dengan prevalensi penyakit demam berdarah dengue di wilayah kerja. Puskesmas Cepiring Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal pada tahun 2009. Faktor lingkungan secara umum dengan terjadinya penyakit demam berdarah Pada penelitian ini tidak ditemukan hubungan yang bermakna karena sebagian besar lingkungan responden dalam kondisi baik sehingga kemungkinan berkembangnya penyakit Aedes aegypti -nyamuk sebagai vektor penularan penyakit ini bisa diminimalisir.

Analisis Hubungan Faktor Perilaku dengan Kejadian DBD

  • Kegiatan 3M
  • Penggunaan Abate
  • Kebiasaan Menggunakan Obat Nyamuk
  • Pelaksanaan Fogging

Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyu yang menemukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara perubahan kebiasaan penggunaan lotion pengusir nyamuk dengan kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Puskesmas Cepiring. Penelitian pengaruh lingkungan, perilaku dan pengetahuan masyarakat terhadap kejadian demam berdarah dengue di kabupaten tersebut. Berdasarkan hasil analisis univariat pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: tingkat pengetahuan responden tentang penyakit demam berdarah sebesar 90% baik, dengan kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit demam berdarah menjadi cukup baik. Namun. Perilaku responden mengenai pencegahan DBD masih perlu ditingkatkan.

Bagi instansi pemerintah khususnya di Kecamatan Bajeng, upaya preventif tetap diperlukan untuk mencegah terjadinya wabah penyakit demam berdarah, meskipun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara lingkungan dan perilaku terhadap angka kejadian penyakit demam berdarah di wilayah Kecamatan Bajeng. wabah yang terjadi beberapa tahun lalu tidak terulang kembali, dengan selalu menghimbau kepada instansi terkait (Puskesmas dan pemerintah daerah) untuk terus memperhatikan frekuensi fogging serta menjaga kesehatan lingkungan dan perilaku hidup sehat. PENGARUH LINGKUNGAN DAN PERILAKU TERHADAP KEJADIAN DEMAM BERDARAH DI KECAMATAN BAJENG KABUPATEN GOWA.

Analisis Hubungan Faktor Pengetahuan dengan Kejadian DBD

Keterbatasan Penelitian

Mengingat keterbatasan penelitian ini, maka hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan pada setting dan tempat yang berbeda. Metode pengambilan sampel didasarkan pada teknik pengambilan sampel pada Bab IV yang seharusnya menggunakan teknik pengambilan sampel probabilitas khususnya pengambilan sampel cluster dua tahap, namun ternyata karena pertimbangan efektifitas dan efisiensi waktu maka peneliti menerapkan metode pengambilan sampel secara purposive yaitu pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Peneliti mengambil sampel berdasarkan asumsi bahwa responden yang disurvei mempunyai informasi yang cukup yang diperlukan untuk penelitian. Metode ini diharapkan dapat memudahkan peneliti mencapai tujuan penelitiannya, namun purposive sampling belum tentu mewakili seluruh variasi yang ada.

Keterbatasan peneliti dalam melakukan survei langsung pada tempat-tempat yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes, khususnya tempat penampungan air yang digunakan responden disebabkan oleh keengganan responden.

KAJIAN AL-QURAN

Kisah Nyamuk dalam Al-Quran

53 Orang-orang kafir dan orang-orang Yahudi pun berkata: "Apakah maksud Allah membuat perumpamaan ini?". 21. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahawa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka berkata: Apakah yang dimaksudkan Allah dengan perumpamaan ini? Terdapat beberapa spesies nyamuk malaria yang biasanya hidup di dalam air yang keruh, yang boleh menyebabkan seseorang itu dijangkiti malaria dan menyebabkan penyakit yang bersarang dalam badannya terus membiak.

Anehnya, nyamuk ini hanya mengumpulkan darah manusia pada malam hari, seiring dengan waktu masuknya mikrofilaria ke dalam darah.21. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan Tuhan mereka itu benar adanya.

Lingkungan dan perilaku

Keajaiban atau kekuatan apa yang mampu menyelaraskan gerak-gerik makhluk yang relatif lemah ini, yang menurut prasangka orang-orang kafir, Yahudi, dan atheis, sia-sia jika dijadikan perumpamaan? Memang benar ada banyak orang dan kerajaan di muka bumi ini, namun rata-rata mereka tidak mengetahui hal ini. Menurut Dr. Yusuf Qordhowi dalam bukunya “Islam, Agama Ramah Lingkungan”; Menjaga lingkungan hidup termasuk dalam lima kemaslahatan yang menjadi landasan kelestarian kehidupan manusia yang menjadi tujuan syariat, yaitu: 23.

Dalam Islam, perkara membunuh jiwa adalah dosa yang besar23 (QS 5:32 Barangsiapa membunuh seorang manusia dan menyebabkan kerusakan di muka bumi, maka seolah-olah dia telah membunuh seluruh umat manusia. Dan barang siapa yang memelihara nyawa manusia, maka seolah-olah dia telah membunuh manusia. melestarikan kehidupan manusia secara keseluruhan”)22. Misalnya: penghematan air dan pencegahan pencemaran sumber air merupakan upaya menjaga ketersediaan air bersih bagi generasi muda.

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

Fathi., Soedjajdi K., dan Chatarina U.W., Peran faktor lingkungan dan perilaku dalam penularan demam berdarah di kota Mataram. Hubungan kondisi lingkungan, wadah dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik Aedes di daerah endemis DBD di Surabaya. Hubungan Perilaku Kesehatan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Ceripng Kecamatan Ceriping Kabupaten Kendal Tahun 2009.

Nyamuk demam berdarah hinggap dan beristirahat di tempat gelap, genangan air yang tidak menempel dengan tanah, dan pada pakaian yang digantung. Adakah kaleng bekas, ban bekas, vas bunga atau sejenisnya di sekitar rumah Anda yang bisa menampung air saat musim hujan?

Gambar

Gambar 2.1  Konsep Status Kesehatan menurut H.L Blum .........................    19  Gambar 3.1  Kerangka Konseptual Variabel yang Diteliti ..........................
Tabel 1.1 Jumlah kasus DBD di Puskesmas Kabupaten Gowa tahun 2007
Gambar 3.1 Kerangka konseptual variable yang diteliti Kebiasaan Penggunaan Abatesasi
Tabel 5.2 Distribusi riwayat kejadian DBD dalam keluarga
+5

Referensi

Dokumen terkait

(2) persentase tingkat ketercapaian kemampuan literasi sains siswa kelas VIII F materi indera pendengaran dan sistem sonar pada makhluk hidup setelah diberikan soal

Hasil pada kelompok eksperimen, terkait dengan tingkat pengetahuan dalam HIV dan AIDS pada IRT, terjadi peningkatan rata-rata skor pengetahuan setelah diberikan

Keadaan ini didukung oleh pendapat Notoatmodjo (2003) Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek

Salah satu faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan, antara lain usia, pendidikan, pekerjaan dan informasi, seseorang yang mempunyai sumber informasi

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa masih rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap upaya pencegahan DBD, yang akhirnya berpengaruh pada sikap dan perilaku

Ada peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku kader PKK di Kelurahan Sesetan mengenai pencegahan DBD sebelum dan setelah diberikan pemicuan masalah demam

Peningkatan pengetahuan membuktikan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari seseorang yang menangkap informasi dengan penginderaan terhadap suatu objek, dimana pada penelitian

Kurangnya manajemen pengetahuan dan perilaku kerja inovatif pada karyawan usaha mikro dan kecil dikhawatirkan bisa berdampak negatif terhadap tingkat kinerja bisnis, terutama pada