BAB III. KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 22
3.4 Definisi Operasional
1. Keberadaan Kontainer air/Tempat Penampungan Air Bersih
Definisi : Kontainer air/Tempat Penampungan Air Bersih adalah tempat penampungan air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari (drum, bak mandi, gentong, ember).
Alat ukur : Kuesioner dan Lembar Observasi
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada kuesioner dan dilanjutkan dengan observasi pada subjek
Hasil Ukur : 1. Ada 2. Tidak ada
25 2. Keberadaan wadah bekas (yang dapat menampung air).
Definisi : Wadah bekas yang dapat menampung air adalah tempat yang dapat menampung air sehingga tergenang, air yang bukan digunakan untuk keperluan sehari-hari (vas bunga, ban bekas, botol bekas, tempat minum burung).
Alat Ukur : Lembar Observasi
Cara ukur : Dinilai berdasarkan hasil observasi pada subjek.
Hasil Ukur : 1. Ada 2. Tidak ada
3. Kualitas Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Definisi : Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) adalah parit atau selokan yang berada di dalam dan disekitar rumah.
Alat Ukur : Lembar Observasi
Cara Ukur : Melakukan observasi pada lokasi yang menjadi subjek.
Hasil ukur : 1. Baik 2. Tidak baik 4. Keberadaan Tempat Sampah
Definisi : Tempat sampah adalah tempat untuk menampung bahan- bahan bekas/wadah bekas yang berada di dapur dan yang berada sekitar/di luar rumah.
Alat Ukur : Kuesioner dan Lembar Observasi
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada kuesioner dan dilanjutkan dengan observasi pada subjek
26 Hasil Ukur : 1. Ada
2. Tidak ada
5. Gerakan 3 M ( Menguras, Menutup, Mengubur)
Definisi : 3M yaitu (1). Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur sekurang-kuranngya seminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke dalamnya, (2). Menutup rapat- rapat tempat penampungan air dan, (3). Mengubur / menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti : kaleng-kaleng bekas, plastic dll.
Alat Ukur : Kuesioner
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban responden dalam kuesioner.
Hasil Ukur : 1. Terlaksana (jika mencapai ≥ 50 %) 2. Tidak terlaksana (jika < 50 %) 6. Kebiasaan penggunaan Abatesasi
Definisi : Abatesasi adalah pemberian larvasida atau pengendalian lokal nyamuk aedes aegypti untuk memberantas jentik nyamuk.
Alat Ukur : Kuesioner
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada kuesioner.
Hasil ukur : 1. Baik (jika nilai rata-rata ≥ 50%) 2. Kurang (jika nilai rata-rata < 50 %)
27 7. Penyemprotan/pengasapan (fogging)
Definisi : Pengasapan droplet-droplet kecil insektisida kedalam udara untuk membunuh nyamuk dewasa, peneyemprotan dilakukan II siklus dengan interval I minggu.
Alat Ukur : Kuesioner
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada kuesioner.
Hasil Ukur : 1. Terlaksana (jika mencapai ≥ 50 %) 2. Tidak terlaksana (jika < 50 %) 8. Kebiasaan menggunakan obat nyamuk
Definisi : Upaya untuk menghindari diri dari gigitan nyamuk, berupa cairan/krim antinyamuk ( mosquito replant) atau antinyamuk bakar.
Alat Ukur : Kuesioner
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek Hasil ukur : 1. Ya
2. Tidak
9. Pengetahun responden tentang DBD
Definisi : Pemahaman responden tentang demam berdarah yang meliputi pengertian, tanda dan gejala, cara penularan, pemberantasan,vektor penular dan kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).
Alat ukur : Kueisioner
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada kuesioner
28 Hasil ukur : 1. Baik (jika nilai rata-rata ≥ 50%)
2. Kurang (jika nilai rata-rata < 50%) 12. Kejadian DBD
Definisi : Keadaan dimana responden/ anggota keluarga responden pernah terkena penyakit DBD yang didiagnosis oleh dokter, maksimal 1 tahun terakhir
Alat ukur : Kuesioner
Cara ukur : Dinilai berdasarkan jawaban subjek pada kuesioner Hasil ukur : 1. Ada
2. Tidak ada
29 3.5 . Hipotesis
1. Keberadaan Kontainer air bersih /Tempat Penampungan Air Bersih mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng kab. Gowa
2. Keberadaan wadah bekas yang dapat menampung air mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
3. Keberadaan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
4. Keberadaan tempat sampah mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec.
Bajeng Kab. Gowa
5. Kegiatan 3 M (Menguras, Menutup, Mengubur) mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
6. Kebiasaan penggunaan Abatesasi mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
7. Pelaksanan fogging mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
8. Kebiasaan menggunakan obat nyamuk mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
9. Tingkat pengetahuan terhadap DBD mempengaruhi kejadian kasus DBD di Kec. Bajeng Kab. Gowa
30 BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang akan dilaksanakan adalah penelitian analitik observasional dengan menggunakan data primer berupa kuesioner dan lembar observasi. Desain penelitian yang akan digunakan adalah studi cross sectional, yaitu studi dimana pengukuran terhadap variabel pengaruh dan terpengaruh dilakukan pada titik dan waktu yang sama. Penelitian analitik observasional ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai peran faktor lingkungan dan prilaku terhadap angka kejadian kasus penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kec. Bajeng Kab. Gowa Sehingga dengan demikian dapat ditentukan langkah-langkah perbaikan dalam hal ini pencegahan dan pengendalain faktor-faktor tersebut.
4.2. Tempat dan Waktu Penelitian a) Tempat penelitian
Penelitian akan dilakukan di daerah Kec. Bajeng Kab. Gowa b) Waktu penelitian
Penelitian ini akan di laksanakan pada bulan Januari 2012
31 4.3. Populasi dan Sampel
4.3.1 Populasi
a) Populasi target : Kepala rumah tangga/Ibu rumah tangga atau orang dewasa lain yang berdomisili di daerah Kec. Bajeng Kab. Gowa
b) Populasi terjangkau : Kepala rumah tangga/Ibu rumah tangga atau orang dewasa lain yang berdomisili di daerah Kec. Bajeng Kab. Gowa dan memenuhi kriteria inklusi.
4.3.2 Sampel
Sebagian dari populasi terjangkau yang memenuhi kriteria seleksi.
4.3.3 Besar sampel dan Rumus Sampel
Besar sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus deskriptif –kategorik,
𝑛 =Zα2 x P x Q 𝑑2 Zα2 = deviat baku alfa
P = Proporsi kategori varibel yang di teliti Q = 1- P
d = Presisi Zα2 = 1,960 P = 0,45
32 Q = 1- 0.45 = 0,553
d = 10 %
𝑛 = 1,96 2 x 0,45 x 0,553 0,12
𝑛 =3,841 x 0,2471 0,01 𝑛 = 94,95 𝑛 = 95 orang
4.3.4 Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan yaitu probability sampling khususnya two stage Cluster sampling. Probability sampling prinsipnya bahwa setiap subjek dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih dan untuk tidak terpilih sebagai sampel. Sedangkan Cluster sampling adalah proses penarikan sampel secara acak pada kelompok individu dalam populasi yang terjadi secarah alamiyah, misalnya berdasar wilayah (kodya, kecematan, kelurahan, dll).13
4.4. Kriteria Seleksi 4.4.1 Kriteria Inklusi
1. Kepala/Ibu rumah tangga atau anggota keluarga lain yang sudah berumur 16 tahun keatas yang bertempat tinggal dan tercatat sebagai penduduk di wilayah Kecematan Bajeng.
2. Kepala/Ibu rumah tangga atau anggota keluarga lain yang berdomosili minimal satu tahun keatas.
33 3. Dapat berkomunikasi dengan baik
4. Bersedia menjadi responden 4.4.2 Kriteria Eklusi
Kuesioner yang tidak terisi lengkap.
4.5. Jenis Data dan Instrumen Penelitian 4.5.1 Jenis data
1. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner oleh responden yang berada di tempat penelitian.
2. Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Kab. Gowa dan data dari puskesmas yang ada di wilayah Kec. Bajeng.
4.5.2 Instrumen penelitian
1. Kuesioner yang disusun kemudian diisi sendiri oleh responden (self-rated quisioner)
2. Lembar Observasi
4.6 Manajemen Data (editing, coding, tabulating, transfering)
Data yang dikumpulkan kemudian diolah menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS). Tahap-tahap pengelolahan data adalah sebagai berikut:
a. Editing
Editing bertujuan untuk meneliti kembali jawaban menjadi lengkap. Editing dilakukan di lapangan sehingga bila terjadi kekurangan atau ketidaksengajaan
34 kesalahan pengisian dapat segera dilengkapi atau disempurnakan. Editing dilakukan dengan cara memeriksa kelengkapan data, memperjelas serta melakukan pengolahan terhadap data yang dikumpulkan.
b. Coding
Coding yaitu memberikan kode angka pada atribut variabel agar lebih mudah dalam analisa data. Coding dilakukan dengan cara menyederhanakan data yang terkumpul dengan cara memberi kode atau simbol tertentu.
c. Tabulating
Pada tahapan ini data dihitung, melakukan tabulasi untuk masing-masing variabel. Dari data mentah dilakukan penyesuaian data yang merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisis.
d. Transfering
Tranfering data yaitu memindahkan data dalam media tertentu pada master tabel. data yang telah diolah disajikan dalam bentuk tabel dan dijelaskan bentuk narasi (uraian)
4.7 Analisis data
a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing variabel, baik variabel bebas, variabel terikat dan karakteristik responden.
35 b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara masing-masing variable bebas dengan variabel terikat. Dasar pengambilan hipotesis penelitian berdasarkan pada tingkat signifikan (nilai p), yaitu:
1) Jika nilai p ≥ 0,05 maka hipotesis penelitian ditolak.
2) Jika nilai p < 0,05 maka hipotesis penelitian diterima
4.8. Etika Penelitian
1. Sebelum melakukan penelitian, maka peneliti akan mengajukan surat permohonan izin kepada insitusi yang terkait.
2. Meminta persetujuan kepada subjek dengan terlebih dahulu memberikan penjelasan lisan sebelum meminta persetujuan tertulis.
3. Setiap subjek akan dijamin kerahasiannya atas informasi yang diberikan
36
BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1 Responden Penelitian
Penelitian ini dilakukan terhadap 95 responden yang terdiri dari Ayah (Kepala Rumah Tangga), Ibu Rumah Tangga, Anak, atau Orang dewasa lain dalam Rumah tangga tersebut yang bermukim di Desa Panciro, Kec. Bajeng, Kab.Gowa.
Observasi lingkungan dan perilaku keluarga dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner terstruktur mengenai riwayat kejadian DBD dalam keluarga, pengetahuan tentang DBD, kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, pelaksanaan fogging/penyemprotan dan keberadaan kontainer air bersih, wadah bekas, serta dengan melakukan pengamatan langsung terhadap saluran pembuangan air limbah, dan tempat sampah.
5.2. Analisis Univariat
Responden yang diteliti adalah Ayah (Kepala Rumah Tangga), Ibu Rumah Tangga, Anak, atau Orang dewasa lain ibu rumah tangga dengan umur mulai dari 17 hingga 70 tahun, frekuensi terbanyak berada diantara 31 - 50 tahun.
Kebanyakan responden adalah sebagai ibu rumah tangga. Tingkat pendidikan yang paling banyak adalah SMA sebanyak 50 orang. Karakteristik reponden ditampilkan pada tabel berikut ini, (tabel 5.1):
37 Tabel 5.1. Distribusi Karakteristik Responden
No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Umur
a. 17 – 30 tahun b. 31 – 50 tahun c. 50 – 70 tahun
36 42 17
37,9 % 44,2 % 17,9 % 2. Jenis Kelamin
a. Perempuan b. Laki-laki
66 29
69,5 % 30,5 % 3. Status dalam keluarga
a. Ayah (kepala rumah tangga) b. Ibu rumah tangga
c. Anak
d. Orang dewasa lain
23 47 21 4
24,2 % 49,5 % 22,1 % 4,2 % 4. Pekerjaan
a. P N S b. Wiraswasta c. Petani d. I R T
e. Tidak Bekerja
11 27 2 37 18
11,6 % 28,4 % 2,1 % 38,9 % 18,9 % 5. Pendidikan
a. S1 b. D3 c. SMA d. SMP e. SD
19 1 50 13 12
20 % 1,1 % 52,6 % 13,7 % 12,6 % Sumber: Data primer 2012
Distribusi responden berdasarkan riwayat kejadian demam berdarah dengue (DBD) dalam kurun waktu setahun terakhir. Riwayat kejadian DBD pada responden diperoleh data bahwa 10 orang dari 95 responden menyatakan ada anggota keluarnya yang pernah menderita DBD, berikut tabel disitribusinya, (tabel 5.2):
Tabel 5.2 Distribusi riwayat kejadian DBD dalam keluarga
No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Ada
Tidak Ada
10 85
10,5 % 89,5 % Sumber: Data primer 2012
38 Distribusi responden berdasarkan keadaan lingkungannya (keberadaan kontainer air bersih, wadah bekas, saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan tempat sampah). Di rumah tiap responden sebagian besar terdapat kontainer air bersih, wadah bekas, saluran pembuangan air limbah baik diluar maupun didalam rumahnya, dan hanya sebagian kecil rumah yang tidak terdapat tempah sampah.
Berikut tabel distribusinya, (tabel 5.3)
Tabel 5.3 Distribusi keadaan lingkungan responden
No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Kontainer Air Bersih
a. Ada b. Tidak ada
82 13
86,3 % 13,7 % 2. Wadah Bekas
a. Ada b. Tidak ada
30 65
31,6 % 68,4 % 3. SPAL
a. Baik b. Tidak baik
70 25
73,7 % 26,3 % 4. Tempat Sampah
a. Ada b. Tidak ada
91 4
95,8 % 4,2 % Sumber: Data primer 2012
Distribusi responden berdasarkan perilaku terhadap penyakit demam berdarah dengue, yang meliputi kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, dan pelaksanaan fogging. Diantara 95 responden lebih dari 50% responden pernah menggunakan abate dan mempunyai kebiasaan menggunakan obat nyamuk, namun pelaksanaan kegiatan 3M dan pelaksanaan fogging kurang dari 50%. Berikut tabel distribusinnya, (tabel 5.4)
39
Tabel 5.4 Distribusi perilaku responden berkaitan dengan pencegahan DBD
No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Kegiatan 3M
a. Terlaksana b. Tidak terlaksana
47 48
49,5 % 50,5 % 2. Penggunaan Abate
a. Ya b. Tidak
69 26
72,6 % 26,4 % 3. Kebiasaan Menggunakan Obat Nyamuk
a. Ya b. Tidak ada
87 8
91,6 % 8,4 % 4. Pelaksanaan Fogging
a. Ya b. Tidak
31 64
32,6 % 67,4 %
Sumber: Data primer 2012
Distribusi responden berdasarkan pengetahuannya tentang DBD, sebagain besar responden mempunyai pengetahuan yang baik tentang DBD, berikut tabel distribusi pengetahuan responden terhadap penyakit DBD, (tabel.5.5)
Tabel 5.5 Distribusi pengetahuan responden tentang DBD
No Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Baik
Kurang
90 5
94,7 % 5,3 % Sumber: Data primer 2012
5.4 Analisis Bivariat
Hubungan antara keberadaan komponen faktor lingkungan (kontainer air bersih, wadah bekas, SPAL, dan tempat sampah) pada penelitian ini, juga tidak menunjukkan hubungan yang siginifikan dengan kejadian DBD, berikut tabelnya (tabel. 5.6)
40 Tabel 5.6 Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian DBD
N
o Variabel
Kejadian DBD
Nilai-p OR 95 % CI Ada Tidak Ada
n % n %
1. Kontainer Air Bersih
a. Ada b. Tidak Ada
9 1
11,0 7,7
73 12
89,0 92,3
0,720 1,479 0,172 - 12,756 2. Wadah Bekas
a. Ada b. Tidak Ada
5 5
16,7 7,7
25 60
83,3 92,3
0,185 2,40 0,638 - 9,025 3. SPAL
a. Baik b. Tidak baik
8 2
11,4 8,0
62 23
88,6 92,0
0,632 1,484 0,293 - 7,511 4. Tempat Sampah
a. Ada b. Tidak Ada
10 0
11,0 0
81 4
89,0 100
0,483 tdd* tdd*
* : tidak dapat dihitung Sumber: Data primer 2012
Adapun hubungan antara faktor perilaku dalam hal ini: kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk dan pelaksanaan foggong pada penelitian ini, juga tidak menunjukkan hubungan yang siginifikan dengan kejadian DBD, berikut tabelnya (tabel. 5.7)
Tabel 5.7 Hubungangan Faktor Perilaku dengan Kejadian DBD N
o Variabel
Kejadian DBD
Nila-p OR 95 % CI Ada tidak ada
n % n % 1. Kegiatan 3M
a. Terlaksana b. Tidak terlaksana
4 6
8,5 12,5
43 42
91,5 89,5
0,526 0,651 0,171 - 2,474 2. Penggunaan Abate
a. Ya b. Tidak
5 5
7,2 19,2
64 21
92,8 80,8
0,090 0,328 0,086 - 1,246 3. KebiasaanMenggunakan
Obat Nyamuk a. Ya b. Tidak ada
9 1
10,3 12,5
78 7
89,7 87,5
0,849 0,808 0,089 - 7,333 4. Pelaksanaan Fogging
a. Terlaksana b. Tidak terlaksana
4 6
12,9 9,4
27 58
87,1 90,6
0,599 1,432 0,373-5,497 Sumber: Data primer 2012
41 Hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan angaka kejadian DBD pada penelitian ini, tidak menunjukkan hubungan yang signifikan, berikut tabel hubungannya., (tabel 5.8)
Tabel 5.8 Hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian DBD No Tingkat
pengetahuan
Kejadian DBD
Nilai- p Ada Tidak ada
N % n %
1. Baik 10 11,1 80 88,9 0,431
2. Kurang 0 0 5 100
Sumber: Data primer 2012
42
BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Analisis Hubungan Faktor Lingkungan dengan Kejadian DBD
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia termasuk benda mati, benda hidup, nyata, atau abstrak seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen tersebut, sehingga lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap derajat kesehatan. Lingkungan dikatakan sehat apabila lingkungan tersebut tidak menimbulkan penyakit, tidak menimbulkan terjadinya gangguan kesehatan. Serta lingkungan yang dapat menyehatkan badan, nyaman, dan aman.14
Sebagai salah satu faktor yang berpangaruh terhadap terjadinya suatu penyakit sehingga lingkungan juga dapat mempengaruhi kejiadian DBD, namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan dalam hal ini menyangkut:
keberadaan kontainer air bersih, wadah bekas, saluran pembuangan air limbah dan tempat sampah tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian DBD.
Dengan masing-masing nilai p sebagai berikut: p = 0,720 (p > 0,05), p = 0,185 (p
> 0,05), p = 0,632 (p > 0,05), p = 0,483 (p > 0,05).
6.1.1 Kontainer Air Bersih
Keberadaan kontainer sangat berperan dalam kepadatan vektor nyamuk Aedes, karena semakin banyak kontainer akan semakin banyak tempat perindukan dan akan semakin padat populasi nyamuk Aedes. Semakin padat populasi nyamuk Aedes, maka semakin tinggi pula risiko terinfeksi virus DBD dengan waktu penyebaran lebih cepat sehingga jumlah kasus penyakit DBD cepat meningkat
43 yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya KLB penyakit DBD. Disamping itu, letak, macam, bahan, warna, bentuk volume dan penutup kontainer serta asal air yang tersimpan dalam kontainer sangat mempengaruhi nyamuk Aedes betina untuk menentukan pilihan tempat bertelurnya.9
Keberadaan kontainer air bersih di rumah, menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Fathi, dkk, menemukan adanya hubungan yang bermakna antara keberadaan kontainer dengan KLB penyakit DBD di Kota Mataram (p < 0,05) dengan risiko relatif (RR)= 2,96.11. Yudhastuti,R juga menyatakan adanya hubungan antara jumlah kontainer dengan keberadaan jentink nyamuk aedes aegypty (p = 0,004), dengan semakin banyaknya kontainer sebagai breeding place maka semakin potensial untuk pertambahan populasi nyamuk dan nantinya akan menambah resiko terjadinya penyakit DBD, hasil tersebut diperolehnya dari penelitian yang dilakuakn di Surabaya.17 Azizah juga menemukan bahwanya keberadaan kontainer merupakan faktor risiko untuk terjadinya DBD, besar risiko kejadian DBD yang mempunyai kontainer >3 lebih besar dibandingkan dengan yang mempunyai kontainer < 3 (OR : 6,75, CI 95% : 2,15 - 21,22).18
Namun hasil penelitian ini, yakni faktor lingkungan dalam hal ini kontainer air bersih tidak mempunyai hubungan yang siginifikan terhadap kejadian DBD. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh karena keberadaan kontainer air di rumah responden sebagian besarnya dari lembar observasi ditemukan rata-rata jumlah kontainernya hanya 1 kontainer saja bahkan ada yang tidak menggunakan kontainer air bersih, sehingga kemungkinan untuk berkembangnya jentik nyamuk lebih sedikit dan akhirnya juga tidak memiliki
44 pengaruh yang signifikan terhadap kejadian DBD pada penelitian ini, selain itu lokasi dan jumlah responden pun berbeda.
6.1.2 Wadah Bekas
Keberadaan wadah bekas di sekitar rumah dapat menampung air seperti botol-botol bekas, kaleng-kelang bekas dan vas bunga yang medium pertumbuhannya menggunakan air adalah potensi besar tempat perkembangbiakan nyamuk, tempat lain yang berpotensi adalah tempat air minum burung. Jentik nyamuk juga dapat berkembangbiak di lura rumah seperti di tampungan air yang ada di dalam drum, dan ban bekas.8
Namun dari hasil penelitian ini, tidak didapatkan pengaruh antara keberadaan wadah bekas dengan kejadian DBD, dikarenakan tingginya kesadaran masyarakat akan bahaya DBD dengan rajin membuang dan mengubur wadah- wadah bekas yang dapat menjadi sarang perkembang biakan nyamuk. Dari hasil observasi, disekitar sebagian besar responden tidak ditemukan adanya wadah bekas.
Hasil ini tidak sejalan dengan teori bahwa tempat perindukan yang terbukti berhubungan dengan kejadian DBD disebabkan karena adanya tempat perindukan menjadikan adanya nyamuk Ae. aegypti yang menjadi penyebab DBD. Tempat perindukan yang positif ditemukan adanya jentik nyamuk Ae. aegypti adalah di bak mandi, vas bunga, bal WC, tempayan, dan barang bekas kaleng,ban bekas dll). Nyamuk Ae. aegypti betina bertelur dan menetaskannya di atas permukaan air. Nyamuk penyebab demam berdarah ini berkembang biak pada genangan air, terutama yang kotor. Karena itu, penyebaran wabah dengue dipengaruhi oleh ada
45 tidaknya nyamuk Ae. aegypti yang dipengaruhi lagi oleh ada tidaknya genangan air yang kotor dalam hal ini wadah bekas.8
6.1.3 SPAL
Memiliki saluran pembuangan air limbah dan saluran air hujan, merupakan salah satu komponen dari rumah yang sehat. Limbah cair yang disebut air kotor dari air bekas rumah tangga bekas cucian, dapur, kamar mandi, dan wastafel perlu dibuat saluran yang tertutup agar tidak bau, tidak menjadi sarang nyamuk, dan serangga lain dan tidak mencemari tanah sumber air minum. Tidak menimbulkan bau dan pemandangan yang kotor.14
Saluran pembuangan air limbah, yang secara umum di daerah pengambilan sampel, kondisi salurannya dalam keadaan baik, yakni air yang mengalir lancar dan tidak berbau sehingga air tidak tergenang yang dapat menjadi sarang untuk perkembangbiakan nyamuk. Sehingga hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini menyatakan tidak ada hubungan yang bermaksa anatara keberadaan saluran pembuangan air limbah dengan kejadian DBD.
Berbeda dengan hasil penelitian Rini pada tahun 2010 di Kab. Pati mendapatkan bahwa ada hubungan antara membersihkan selokan/saluran air dengan keberadaan jentik dengan Contingency Coefficient (CC) sebesar 0,324.
Hal ini dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang rendah antara membersihkan selokan/saluran air dengan keberadaan jentik di wilayah kerja Puskesmas Gabus.19 6.1.4 Tempat Sampah
Salah satu ciri lingkungan yang sehat adalah tersedianya bak sampah atau tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Sampah dikelola
46 dengan baik dan tidak ada sampah yang berserakan. Tempat sampah yang memenuhi syarat kesehatan yakni: kedap air, tertutup, dan tidak berceceran, selalu dibersihkan dan diangkut secara berkala dan tidak lebih dari satu hari.14
Untuk keberadaan tempat sampah pada penelitian ini diperoleh tidak ada hubungan yang bermakna dengan kejadian DBD karena beberapa tempat sampah telah mempunyai tutup dan tempat sampah yang ada diluar rumah responden pun rutin di bakar dan tidak ditemukannya kaleng-kaleng, atau wadah bekas lainnya di sekitar tempat sampah dan sekitar rumah responden, yang memungkinkan untuk tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Namun berbeda dengan penelitian Wahyu di Semarang tentang tempat memperoleh hasil bahwa ada hubungan yang bermakna antara variabel kebiasaan membuang sampah pada tempatnya dan membakarnya dengan kejadian Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Puskesmas Cepiring Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal tahun 2009. Nilai Odd Ratio (OR) = 2,538 (95% CI = 1,023- 6,298), menunjukkan bahwa responden yang tidak membuang sampah pada tempatnya dan membakarnya mempunyai risiko 2,538 kali lebih besar menderita DBD dari pada responden yang membuang sampah pada tempatnya dan membakarnya.20
Secara umum untuk faktor lingkungan dengan kejadian DBD pada studi ini tidak didapatkan adanya hubungan yang bermakna, oleh karena sebagain besar lingkungan responden dalam kondisi yang baik, sehingga kemungkinan untuk berkembangnya nyamuk aedes aegypty sebagai vector penular penyakit ini dapat di minimalisir.
47 6.2 Analisis Hubungan Faktor Perilaku dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku dalam hal ini menyangkut: kegiatan 3M, penggunaan abate, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, dan pelaksaanaan fogging tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian DBD. Dengan masing-masing nilai p sebagai berikut: p = 0,526( p > 0,05), p = 0,849 (p > 0,05), p = 0,599 (p > 0,05).
6.2.1 Kegiatan 3M
Dari hasil penelitian ini, diperoleh hasil bahwasanya tidak ada hubungan yang bermakna antara kegiatan 3M dengan kejadian DBD di kec.Bajeng. Berbeda dengan Duma, Nicolas dkk., yang menyebutkan bahwa aktifitas pembersihan tempat penampungan air (breeding place) merupakan upaya yang sangat berperan dalam mencegah penyakit DBD. Ada hubungan bermakna antara kegiatan membersihkan tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Kota Kendari (p
= 0,003 dan OR = 11,532. Dengan kata lain breeding place yang tidak dibersihkan secara teratur memberi resiko serangan DBD sampai 11, 5 kali dibandingkan dengan breeding place yang dibersihkan dengan teratur.15
Penelitian yang dilakukan oleh Laksmono dkk pada tahun 2008 di Semarang mendapatkan bahwa praktek PSN 3M Plus responden di tempat penampungan air tersebut sebagian besar memiliki jentik yang kurang padat, dan seluruh responden yang berpraktik baik juga memiliki jentik yang kurang padat.
Hal ini logis diterima, oleh karena bila seseorang melakukan praktek PSN 3M Plus, maka kemungkinan adanya jentik berkurang. 21