4. Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah
1.2.5 Angka Kemiskinan
besar dari pada perolehan upah institusional. Dan dalam hal ini kelebihan pekerja terserap ke sektor jasa dan industri yang menigkat terus-menerus sejalan dengan pertamabahan out put dan perluasan usahanya.
1. Luas tempat bangunan tempat tinggal kurang dari 8m per orang 2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bamboo/kayu murahan 3. Jenis dinding tempat tinggal dari bamboo/tembok tanpa diplaster 4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar
5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik
6. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan
7. Bahan bakar memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah
8. Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam dalam 1 kali seminggu 9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun
10. Hanya sanggup makan sebanyak satu atau dua kali dalam sehari 11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan dipuskesmas/poliklinik 12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas
lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000; per bulan.
13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga tidak sekolah/SD/tidak tamat SD
14. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan minimal Rp.500.000 seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, hewan ternak, atau barang modal lainnya.
Menurut Mudrajat Kuncoro, penyebab kemiskinan (dipandang dari segi ekonomi) disebabkan karena tiga hal yaitu:50 1. Secara mikro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan
pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Penduduk miskin hanya memiliki sumber daya alam dalam jumlah terbatas dan kualitasnya rendah.
2. Kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti produktivitasnya rendah, yang pada gilirannya upahnya rendah. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini dikarenakan rendahnya pendidikan, nasib yang kurang beruntung, adanya diskriminasi atau karena keturunan.
3. Kemiskinan ini bermuara pada teori lingkaran setan kemiskinan (vicious cirle of poverty). Adanya keterbelakangan ketidaksempurnaan pasar, dan kurangnya modal akan menyebabkan rendahnya produktivitas mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka terima. Dan hal tersebut akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi.
Rendahnya investasi akan berakibat pada keterbelakangan, dan seterusnya. Logika ini dikemukakan oleh Nurkse ditahun 1953.
50Mudrajat Kuncoro, Ek onomi Pembangunan; Teori, Masalah, dan Kebijak an, (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2003), 131.
Ia mengatakan bahwa “a poor country is poor because it is poor” (Negara itu miskin karena dia miskin).
Selain penyebab kemiskinan dipandang secara ekonomi, penyebab kemiskinan juga dilihat dari segi sosial. Adapun hal tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Rendahnya akses pendidikan. Pada Negara terbelakan, pendidikan masyarakat masih rendah sehingga tingkat produktivitasnya rendah dan akhirnya berdampak pada rendahnya penghasilan yang menyebabkan terjadinya proses kemiskinan.
b. Rendahnya akses fasilitas kesehatan. Fasilitas kesehatan Negara tebelakang masih sedikit dan kualitasnya tertinggal dari Negara maju.
Pada masyarakat yang berkorelasi positif antara kemiskinan dengan dengan akses kesehatan, diperlukan cara keluar dari rendahnya akses masyarakat miskin terhadap fasilitas kesehatan dengan melakukan proteksi terhadap masyarakat miskin melalui program seperti jamkesmas.
Adapun ukuran kemiskinan secara sederhana dan yang umum digunakan dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
1. Kemiskinan Absolut
Seseorang termasuk golongan miskin absolut hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan dan tidak cukup untuk menentukan kebutuhan dasar hidupnya.Konsep ini dimaksudkan untuk menentukan
tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik terhadap makanan, pakaian, dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup.
Kesulitan utama dalam konsep kemiskinan absolut adalah menentukan komposisi dan tingkat kebutuhan minimum karena kedua hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adat kebiasaan saja, tetapi juga iklim, tingkat kemajuan suatu negara, dan faktor-faktor ekonomi lainnya.Walaupun demikian, untuk dapat hidup layak, seseorang membutuhkan barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan fisik dan sosial.
2. Kemiskinan Relatif
Seseorang termasuk golongan miskin relatif apabila telah dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan keadaan masyarakat sekitarnya. Berdasarkan konsep ini, garis kemiskinan mengalami perubahan apabila tingkat hidup masyarakat berubah sehingga kemiskinan ini bersifat dinamis atau akan selalu ada. Oleh karena itu, kemiskinan dapat dilihat dari aspek ketimpangan sosial yang berarti semakin besar ketimpangan antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah, maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan selalu miskin.
3. Kemiskinan Kultural
Seseorang termasuk golongan miskin kultural apabila sikap orang atau sekelompok masyarakat tersebut tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya atau dengan kata lain seseorang tersebut miskin karena sikapnya sendiri yaitu pemalas dan tidak mau memperbaiki kondisinya.
Dari jenisnya, ada dua macam kemiskinan yakni kemiskinan subjektif dan kemiskinan objektif kemiskinan objektif juga dibagi dua macam yaitu kemiskinan mutlak dan kemiskinan relatif.Kemiskinan subjektif adalah yang berlaku secara individual. Kemiskinan jenis ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepemilikan sejumlah harta maupun dengan kemampuan mengeluarkan uang untuk mencukupi kebutuhan. Kemiskinan subjektif itu berhubungan dengan perasaan.
Kemiskinan subjektif tidak dapat diukur dan hanya bias dirasakan oleh yang bersangkutan saja. Sedangkan kemiskinan objektif adalah kemiskinan yang dapat dianalisi kerena ia merupakan gejala sosial yang nyata terlihat. Kemiskinan objektif berhubungan dengan pandangan orang banyak.Maksudnya adalah seseorang dikatakan miskin karena orang-orang melihatnya memang dalam keadaan tidak berpunya.51
Dengan sedikit definisi kemiskinan ini, membagi kemiskinan menjadi dua macam yaitu kemiskinan mutlak dan kemiskinan relatif.
Kemiskinan mutlak adalah jika pendapatannya berada di bawah garis
51Suherman Rosyidi, Pengantar Teori Ek onomi;Pendek atan k epada Ek onomi Mik ro&Mak ro, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), 146.
kemiskinan.Garis kemiskinan untuk Indonesia, menurut definisi Badan Pusat Statistik adalah sejumlah uang yang dapat dipakai untuk membeli 21.000 kalori setara dengan beras sehari per orang.
1.2.6 Hubungan PDRB perkapita, PAD, Jumlah Tenaga Kerja dan Angka