• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arah Pengembangan Wilayah Pulau Jawa dan Bali

Dalam dokumen RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2019 (Halaman 76-79)

PEMERATAAN PEMBANGUNAN UNTUK PERTUMBUHAN BERKUALITAS

BAB 7 PENUTUP

2.3 Arah Pengembangan Wilayah

2.3.6 Arah Pengembangan Wilayah Pulau Jawa dan Bali

melalui industrialisasi. Pembangunan KEK MBTK bisa menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Pulau Kalimantan karena terwujudnya penciptaan nilai tambah dari berbagai komoditi unggulan di lokasinya, Kalimantan Timur, hingga wilayah sekitarnya.

Pengembangan perkotaan di wilayah Pulau Kalimantan diarahkan melalui pembentukan kawasan perkotaan metropolitan Banjarbakula dalam rangka membangun koridor wilayah yang kuat untuk mempercepat pembangunan di wilayah Pulau Kalimantan bagian selatan, mengurangi urbanisasi dari luar Jawa ke Pulau Jawa, serta memperkuat orientasi ke dalam (backward linkage) dari pulau-pulau terluar di kawasan perbatasan. Selain itu, dilakukan optimalisasi empat kota sedang di luar Jawa yaitu: kota Bontang, kota Singkawang, kota Tarakan, dan kota Palangkaraya. Kota baru direncanakan untuk dibangun pada tahun 2019 di Kalimantan yaitu kota Banjar Baru dengan tema sebagai, “Kota Aerotopolis”

sebelumnya menjadi 13.936 ribu jiwa, begitu juga dengan tingkat kemiskinan yang turun dari tahun sebelumnya menjadi 9,12 persen.

Jumlah pengangguran di wilayah Pulau Jawa dan Bali pada tahun 2015 tercatat sebanyak 4.571 ribu jiwa dengan TPT 6,27 persen, kemudian tahun 2016 jumlah pengangguran berkurang menjadi 4.434 ribu jiwa dengan TPT turun menjadi 6,02 persen, dan tahun 2017 jumlah pengangguran bertambah dari tahun sebelumnya menjadi 4.468 ribu jiwa, namun TPT turun dari tahun sebelumnya menjadi 5,85 persen.

Sasaran pembangunan wilayah Pulau Jawa dan Bali tahun 2019.

Pada tahun 2019 kontribusi wilayah Pulau Jawa dan Bali terhadap perekonomian nasional diperkirakan dapat mencapai 59,76 persen, dengan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 5,75 persen. Sementara itu untuk tingkat kemiskinan, diperkirakan 7,90 persen, dengan TPT 5,47 persen (Gambar 2.22).

Wilayah Pulau Jawa dan Bali merupakan penggerak perekonomian nasional dan juga sebagai pusat dari kegiatan industri nasional serta penghubung antara kegiatan pertanian dengan nonpertanian. Dari sektor pertanian, salah satu potensi terbesar di wilayah Pulau Jawa adalah kondisi tanahnya yang sangat cocok untuk produksi pangan, terutama padi sehingga diarahkan untuk mewujudkan lumbung pangan nasional yang berkelanjutan. Sedangkan dari sektor industri pengolahan, wilayah Pulau Jawa telah dilengkapi dengan ketersediaan dan kualitas infrastruktur serta SDM yang lebih memadai. Potensi lain yang dimiliki adalah posisinya secara geografis maupun ekonomis sebagai hub perdagangan domestik maupun internasional. Strategi pengembangan wilayah Pulau Jawa selain diharapkan mengarah pada menjaga lahan pertanian, juga pada peningkatan keterhubungan (linkages) antara kegiatan pertanian, industri pengolahan maupun kreatif, serta perdagangan dan jasa yang berwawasan lingkungan.

Sumbangan terhadap peningkatan pertumbuhan sektor jasa didorong melalui pengembangan kawasan megapolitan dan metropolitan yang didukung pemantapan jaringan transportasi yang terpadu untuk meningkatkan keterkaitan antarwilayah dan efisiensi ekonomi. Peningkatan sektor jasa didorong pula dengan mewujudkan pusat pariwisata berdaya saing internasional berbasis cagar budaya dan ilmu pengetahuan, bahari, ekowisata, serta berbagai penyelenggaraan pertemuan, konferensi, dan pameran. Pengembangan infrastruktur dalam RKP 2019 diarahkan pada upaya penurunan kesenjangan, khususnya kesenjangan antara wilayah utara dan selatan Jawa.

Salah satu pendorong sektor jasa dengan perwujudan pusat pariwisata berdaya saing internasional adalah melalui pembangunan KEK Tanjung Lesung. KEK Tanjung Lesung sudah diresmikan beroperasi sejak tahun 2015 sebagai destinasi yang dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan investasi. Pembangunan KEK Tanjung Lesung diharapkan menjadi pendorong perekonomian di Provinsi Banten dan Banten bagian Selatan sehingga dapat mengurangi kesenjangan di wilayah tersebut. Sebagai KEK Pariwisata, diharapkan KEK Tanjung Lesung dapat memberikan dampak positif yang lebih luas terhadap sektor- sektor lainnya serta penciptaan lapangan kerja yang inklusif.

Pengembangan perkotaan di wilayah Pulau Jawa diarahkan melalui peningkatan efisiensi pengelolaan empat kawasan metropolitan yaitu: kawasan perkotaan metropolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur (Jabodetabekpunjur), kawasan perkotaan metropolitan Cekungan Bandung, kawasan perkotaan metropolitan Kedungsepur, dan kawasan perkotaan metropolitan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan (Gerbangkertasusila).

Berdasarkan Perpres Nomor 54 Tahun 2008 mengenai kebijakan penataan ruang kawasan Jabodetabekpunjur adalah mewujudkan keterpaduan penyelenggaraan penataan ruang

kawasan dalam rangka keseimbangan antara pengembangan ekonomi dan pelestarian lingkungan hidup. Strategi untuk mencapai kebijakan tersebut, yaitu: (1) mendorong terselenggaranya pengembangan kawasan yang berdasar atas keterpaduan antardaerah sebagai satu kesatuan wilayah perencanaan; (2) mendorong terselenggaranya pembangunan kawasan yang dapat menjamin tetap berlangsungnya konservasi air dan tanah, menjamin tersedianya air tanah dan air permukaan, serta menanggulangi banjir dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan yang berkelanjutan dalam pengelolaan kawasan; dan (3) mendorong pengembangan perekonomian wilayah yang produktif, efektif, dan efisien berdasarkan karakteristik wilayah bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat dan pembangunan yang berkelanjutan.

Berdasarkan Perpres Nomor 78 Tahun 2017 mengenai kebijakan penataan ruang kawasan perkotaan Kedungsepur melalui pengembangan dan pemantapan sistem kota secara hierarkis dan terintegrasi dalam bentuk perkotaan inti dan perkotaan di sekitarnya sesuai dengan fungsi dan perannya. Strategi yang perlu dilakukan untuk mencapai hal tersebut, antara lain: (1) mengembangkan kota Semarang sebagai pusat perdagangan dan jasa, industri agro, dan pariwisata, berskala internasional, nasional, dan regional, serta mendorong perkotaan sekitarnya yang berada dalam kawasan perkotaan Kedungsepur untuk mendukung kegiatan perkotaan inti; (2) meningkatkan keterkaitan kawasan perkotaan inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya dengan kawasan perdesaan untuk mendorong berkembangnya potensi sektor pertanian dan industri agro; (3) meningkatkan keterkaitan kawasan perkotaan inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya untuk mendorong berkembangnya sektor perdagangan dan jasa serta sektor industri; (4) meningkatkan keterkaitan kawasan perkotaan inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya untuk mendorong pengembangan kerja sama promosi budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif antarwilayah dalam kawasan perkotaan Kedungsepur; (5) mempertahankan fungsi pusat kegiatan yang sudah ada secara optimal; (6) mengendalikan pusat kegiatan yang berkembang tidak sesuai dengan fungsi dan panduan rancang perkotaan; dan (7) mendorong berfungsinya pusat kegiatan baru di kawasan perkotaan Kedungsepur. Satu kota baru publik yang akan dikembangkan adalah kota baru Maja yang saat ini berada pada tahapan penyusunan dokumen teknis.

Sementara itu, pengembangan perkotaan di wilayah Bali diarahkan melalui peningkatan peran dan efisiensi pengelolaan pembangunan di kawasan metropolitan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita) dalam rangka mempercepat perannya sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan keberlangsungan lingkungan.

Berdasarkan Perpres Nomor 45 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, kebijakan penataan ruang kawasan perkotaan Sarbagita melalui pengembangan keterpaduan sistem pusat-pusat kegiatan yang mendukung fungsi kawasan sebagai pusat kegiatan ekonomi nasional berbasis kegiatan pariwisata yang bertaraf internasional. Strategi untuk mewujudkan hal tersebut, antara lain:

(1) menetapkan kawasan perkotaan inti sebagai pusat kegiatan utama kawasan perkotaan Sarbagita yang didukung kawasan perkotaan di sekitarnya yang memiliki fungsi khusus pusat-pusat kegiatan pariwisata dan kegiatan lainnya yang berhierarki dan interdependen;

(2) meningkatkan keterkaitan antara kawasan perkotaan inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya melalui keterpaduan sistem transportasi dan sistem prasarana; (3) meningkatkan keterkaitan kawasan perkotaan Sarbagita dengan PKN lainnya di Indonesia dan antarnegara;

dan (4) mengembangkan kelembagaan lintas wilayah sebagai wadah koordinasi pelaksanaan pembangunan kawasan perkotaan Sarbagita berbasis kegiatan pariwisata. Adapun tema pengembangan kota baru Maja akan didorong pengembangan kota berorientasi transit yang mandiri sehingga tidak bergantung kepada DKI Jakarta.

Gambar 2.22

Sasaran Pembangunan di Wilayah Pulau Jawa dan Bali Tahun 2019

Dalam dokumen RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2019 (Halaman 76-79)