Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2007 Lembaran Negara Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); Keputusan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664);
Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5178); Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2017 tentang Sinkronisasi Proses Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6056); Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 3);
Lampiran Matriks Integrasi Pendanaan Prioritas Nasional, yang tercantum dalam Lampiran II dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
JOKO WIDODO
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
YASONNA H. LAOLY
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2018 NOMOR 148
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2018
TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2019
PEMERATAAN PEMBANGUNAN UNTUK PERTUMBUHAN BERKUALITAS
PENDAHULUAN
Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2019 (PKK) sebagai penjabaran dari tahun terakhir pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (MDPMN) memuat hasil penilaian terhadap capaian Prioritas Nasional PRK Tahun 2017 (PN), rancangan makroekonomi, kerangka regional. arah pembangunan, pembiayaan pembangunan, prioritas pembangunan nasional, bidang pembangunan, serta aturan pelaksanaan. Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2019 memuat tema “Pemerataan pembangunan untuk pertumbuhan kualitatif” untuk mengejar pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan nasional dalam RPJMN melalui optimalisasi penggunaan seluruh sumber daya (pemerintah dan swasta) Khusus untuk prioritas pembangunan terbesar nasional yang rinciannya adalah dijabarkan ke dalam PN, PP dan KP dengan tetap menjaga kesinambungan hierarki sasaran dan ketepatan indikator sasaran pada setiap tingkat kinerja.
Hal ini penting untuk memperdalam hakikat perencanaan dan penganggaran terpadu guna menjamin tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan, serta melakukan evaluasi dan pengendalian yang efektif terhadap pencapaian tujuan PN. Penjabaran PRK 2019 menjadi 5 (lima) PN meliputi: (1) Pembangunan Manusia melalui Penanggulangan Kemiskinan dan Peningkatan Pelayanan Dasar; (2) Mengurangi kesenjangan antar kawasan melalui penguatan hubungan dan permasalahan maritim; (3) Meningkatkan nilai tambah ekonomi dan penciptaan lapangan kerja melalui pertanian, industri, pariwisata dan jasa produktif lainnya; (4) Penguatan ketahanan sumber daya energi, pangan, dan air; dan (5) Stabilitas Keamanan Nasional dan Keberhasilan Pemilu. Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2019 disusun sebagai pedoman pelaksanaan pemerintah pusat dan daerah dalam rangka mencapai tujuan negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Di Pemerintah Pusat, RCP tahun 2019 dijadikan pedoman bagi K/L berdasarkan sinkronisasi perencanaan dan penganggaran ketika PN dijabarkan ke dalam Rencana Kerja (Renja) K/L tahun 2019 dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) K/L tahun 2019 dengan prinsip uang mengikuti program yang kemudian dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2019. Di Pemerintahan Daerah, RKP tahun 2019 dijadikan pedoman dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2019, yang kemudian dituangkan dalam Rancangan Peraturan Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Raperda APBD) tahun 2019.
PENUTUP
- Evaluasi RKP Tahun 2017
- Kerangka Ekonomi Makro .1 Perkembangan Ekonomi Terkini
- Perkiraan Ekonomi Tahun 2019
- Kebutuhan Investasi dan Sumber Pembiayaan Kebutuhan Investasi
- Arah Pengembangan Wilayah
- Arah Pengembangan Wilayah Papua
- Arah Pengembangan Wilayah Kepulauan Maluku
- Arah Pengembangan Wilayah Kepulauan Nusa Tenggara
- Arah Pengembangan Wilayah Pulau Sulawesi
- Arah Pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan
- Arah Pengembangan Wilayah Pulau Jawa dan Bali
- Arah Pengembangan Wilayah Pulau Sumatera
- Pendanaan Pembangunan
- Pagu Belanja Kementerian/Lembaga
- Dana Transfer ke Daerah dan Dana Desa
- Sumber Pendanaan Lainnya (KPBU dan PINA)
Tren inflasi harga yang diatur negara (regulated price) pada tahun 2017 cukup tinggi dan mencapai 8,70 persen (year-on-year) (Gambar 2.8). Pertumbuhan ekonomi wilayah Papua sebesar 6,41 persen pada tahun 2015, kemudian meningkat menjadi 7,81 persen pada tahun 2016, dan mengalami perlambatan yang sangat signifikan menjadi 4,47 persen pada tahun 2017. Pada tahun 2019, kontribusi wilayah Papua terhadap perekonomian nasional diperkirakan mencapai 1,94 persen, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,92 persen.
Pertumbuhan ekonomi wilayah Kepulauan Maluku pada tahun 2015 tercatat sebesar 5,76 persen, kemudian pada tahun 2016 melambat menjadi 5,75 persen, dan pada tahun 2017 meningkat signifikan menjadi 6,65 persen. Kontribusi PDB wilayah Kepulauan Nusa Tenggara terhadap perekonomian nasional pada tahun 2015 tercatat sebesar 1,56 persen, kemudian pada tahun 2016 meningkat menjadi 1,58 persen, dan pada tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 1,56 persen. Pertumbuhan ekonomi wilayah Nusa Tenggara pada tahun 2015 tercatat sebesar 14,61 persen, kemudian pada tahun 2016 melambat menjadi 5,57 persen, dan pada tahun 2017 mengalami perlambatan yang sangat signifikan hingga mencapai 2,07 persen.
Kontribusi PDB wilayah Pulau Sulawesi terhadap perekonomian nasional tercatat sebesar 5,91 persen pada tahun 2015, kemudian meningkat menjadi 6,04 persen pada tahun 2016, dan meningkat signifikan dari tahun sebelumnya menjadi 6,11 persen pada tahun 2017. Pertumbuhan ekonomi wilayah Pulau Sulawesi tercatat sebesar 8,19 persen pada tahun 2015, kemudian melambat menjadi 7,43 persen pada tahun 2016, dan melambat menjadi 6,99 persen pada tahun 2017 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2019, kontribusi wilayah kepulauan Sulawesi terhadap perekonomian nasional diperkirakan mencapai 6,27 persen, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 7,14 persen.
Kontribusi PDB wilayah kepulauan Kalimantan terhadap perekonomian nasional pada tahun 2015 tercatat sebesar 8,16 persen, kemudian menurun menjadi 7,86 persen pada tahun 2016, dan pada tahun 2017 meningkat signifikan dari tahun sebelumnya menjadi 8,20 persen. Pertumbuhan ekonomi wilayah kepulauan Kalimantan pada tahun 2015 tercatat sebesar 1,38 persen, kemudian pada tahun 2016 meningkat menjadi 2,02 persen, dan pada tahun 2017 meningkat signifikan dari tahun sebelumnya menjadi 4,33 persen. Pada tahun 2019, kontribusi wilayah kepulauan Kalimantan terhadap perekonomian nasional diperkirakan mencapai 8,30 persen, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,41 persen.
Kontribusi PDB Pulau Jawa dan Bali terhadap perekonomian nasional tercatat sebesar 59,85 persen pada tahun 2015, kemudian meningkat menjadi 60,06 persen pada tahun 2016, dan pada tahun 2017 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya menjadi 60,05 persen. Kontribusi terbesar terhadap PDB menurut dunia usaha di pulau Jawa dan Bali ditopang oleh industri pengolahan dengan pangsa sebesar 28,20 persen pada tahun 2015, kemudian pada tahun 2016 turun menjadi 27,78 persen dan pada tahun 2017 turun dari tahun sebelumnya menjadi 27,78 persen. 27,58 persen. Pertumbuhan ekonomi wilayah Jawa dan Bali sebesar 5,49 persen pada tahun 2015, kemudian meningkat menjadi 5,62 persen pada tahun 2016 dan melambat pada tahun 2017 dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 5,61 persen.
Pada tahun 2019, kontribusi pulau Jawa dan Bali terhadap perekonomian nasional diperkirakan mencapai 59,76 persen dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,75 persen. Kontribusi PDB wilayah kepulauan Sumatera terhadap perekonomian nasional pada tahun 2015 tercatat sebesar 22,18 persen, kemudian pada tahun 2016 menurun menjadi 22,02 persen, dan pada tahun 2017 menurun dari tahun sebelumnya menjadi 21,66 persen. Pertumbuhan perekonomian wilayah Pulau Sumatera pada tahun 2015 tercatat sebesar 5,53 persen, kemudian pada tahun 2016 meningkat menjadi 4,29 persen dan pada tahun 2017 meningkat dari tahun sebelumnya menjadi 4,30 persen.
Pada tahun 2019, kontribusi wilayah kepulauan Sumatera terhadap perekonomian nasional diperkirakan mencapai 21,63 persen dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen.