• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASPEK PELAYANAN UMUM .1. Layanan Urusan Wajib Dasar

Dalam dokumen PERATURAN DAERAH KABUPATEN LIMA PULUH KOTA (Halaman 72-134)

BAB IX PENUTUP

2.4 ASPEK PELAYANAN UMUM .1. Layanan Urusan Wajib Dasar

2.4.1.1 Pendidikan

Pendidikan dalam fokus layanan urusan wajib terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, fasilitas pendidikan, pendidikan anak usia dini (PAUD), angka putus sekolah, dan angka kelulusan.

2.4.1.1.1 Pendidikan Dasar

1. Angka Partisipasi Sekolah (APS)

Angka Partisipasi Sekolah (APS) merupakan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. Angka tersebut memperhitungkan adanya perubahan penduduk, terutama usia muda. Ukuran yang banyak digunakan di sektor pendidikan seperti pertumbuhan jumlah murid yang menunjukkan perubahan jumlah murid yang mampu ditampung disetiap jenjang sekolah.

Sehingga, naiknya persentase jumlah murid tidak dapat diartikan sebagai semakin meningkatnya partisipasi sekolah semata. Namun kenaikan tersebut dapat pula dipengaruhi oleh semakin besarnya jumlah penduduk usia sekolah yang tidak diimbangi dengan ditambahnya infrastruktur sekolah serta peningkatan akses masuk sekolah sehingga partisipasi sekolah seharusnya tidak berubah atau malah semakin rendah.

Daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat dari Angka Partisipasi Sekolah (APS) pada masing-masing jenjang pendidikan. Angka Partisipasi Sekolah merupakan indikator dasar yang digunakan untuk melihat akses penduduk pada fasilitas pendidikan khususnya bagi penduduk usia sekolah.

Untuk persentase perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015 untuk anak berumur 7-12 tahun dan umur 13-15 tahun di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada Tabel 2.36 di bawah ini :

Tabel 2.36

Persentase perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Usia 7-12 Tahun dan Usia 13-15 Tahun di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

SD/MI (usia 7-12 tahun)

1. APS untuk anak laki-laki 55,24 51,42 98,14 99,26 99,29 100 2. APS untuk anak perempuan 49,91 46,10 98,78 99,25 99,98 98,54

SMP/MTs (usia 13-15)

1. APS untuk anak laki-laki 21,50 53,40 82,51 89,07 90,00 90,27 2. APS untuk anak perempuan 27,41 37,86 90,57 96,60 99,89 95,82 Sumber : Inkesra Kabupaten Lima Puluh Kota 2015/2016 (BPS, 2016)

Angka Partisipasi Sekolah SD/MI di Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 2010-2011 cukup baik. APS anak laki-laki lebih tinggi tinggi dibandingkan dengan APS anak perempuan. Tahun 2012, APS anak laki-laki maupun perempuan naik secara sangat signifikan yaitu sebesar 98,14 persen untuk APS anak laki-laki dan sebesar 98,78 persen untuk APS anak perempuan. Hal ini merupakan kerja keras pemerintah berupaya meningkatkan angka partisipasi sekolah anak usia 7-12 tahun. Sampai dengan tahun 2015, Angka Partisipasi Sekolah anak usia 7-12 tahun terus meningkat hingga mencapai 100 persen untuk APS anak laki-laki dan 98,54 persen untuk APS anak perempuan. Artinya diantara 100 orang penduduk perempuan terdapat 2 orang yang tidak/belum pernah sekolah atau tidak sekolah lagi. Mengingat usia ini merupakan usia sekolah yang menjadi sasaran program pemerintah yaitu kebijakan pendidikan dasar 9 tahun yang dimulai sejak beberapa tahun lalu, sehingga dapat dikatakan bahwa pelaksanaan program tersebut telah memberikan hasil yang sangat baik selama tahun 2012-2015 baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan. Secara rata-rata selama 6 (enam) tahun tersebut, APS anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan APS anak perempuan yaitu sebesar 83,89 persen untuk APS anak laki-laki dan 82,09 persen untuk APS anak perempuan.

Angka Partisipasi Sekolah pada jenjang SMP/MTs atau anak usia 13-15 tahun di Kabupaten Lima Puluh Kota pada Tahun 2010 masih rendah yaitu sebesar 21,50 persen untuk anak laki-laki dan sebesar 27,41 persen untuk anak perempuan. Tahun 2011, APS baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan terus mengalami kenaikan. APS selama tahun 2010-2011 sudah dapat dikatakan mencapai cukup baik. Tetapi pemerintah harus kerja keras untuk dapat menaikkkan APS tersebut.

Dengan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan APS, pada tahun 2013 APS naik secara signifikan dengan kenaikan sebesar 29,11 persen untuk APS anak laki-laki dan sebesar 52,71 persen untuk kenaikan APS anak perempuan. Angka ini merupakan nilai yang cukup besar kenaikannya dari tahun sebelumnya. Sampai tahun 2015, APS terus mengalami kenaikan dan pada tahun 2015 tercapai APS anak laki-laki sebesar 90,27 persen dan APS anak perempuan sebesar 95,82 persen. Hal ini dapat dilihat bahwa program pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan APS sudah berhasil dengan sangat baik. Secara rata-rata selama 6 (enam) tahun tersebut, APS anak perempuan lebih tinggi dari APS anak laki-laki yaitu rata-rata sebesar 71,13 persen untuk APS anak laki-laki dan rata-rata sebesar 74,69 persen untuk APS anak perempuan. Dari angka ini dapat dilihat bahwa anak perempuan lebih tinggi partisipasinya untuk sekolah dibandingkan anak laki-laki.

2. Rasio Ketersediaan Sekolah Terhadap Penduduk Usia Sekolah

Rasio ketersediaan sekolah berguna untuk mengindikasikan kemampuan menampung semua penduduk usia pendidikan dasar. Rasio ini bisa diartikan jumlah sekolah berdasarkan tingkat pendidikan per 10.000 jumlah penduduk usia pendidikan. Untuk rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah di Kabupaten Lima Puluh Kota untuk jenjang pendidikan dasar (SD/MI + SMP/MTs) dapat dilihat pada Tabel 2.37 di bawah ini:

Tabel 2.37

Rasio Ketersediaan Sekolah Terhadap Penduduk Usia Sekolah di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Jumlah penduduk usia sekolah 7-12 tahun +

usia 13-15 tahun 65.348 65.702 68.478 60.820 65.901 65.901 2. Jumlah sekolah (SD/MI + SMP/MTs) 443 444 445 448 453 453 3. Rasio ketersediaan sekolah 67,69 67,58 64,98 73,66 68,74 68,74 Sumber : Lima Puluh Kota Dalam Angka 2015 (BPS, 2015)

Dari tabel di atas, selama kurun waktu 2010-2013 rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang pendidikan dasar mengalami pasang surut. Pada tahun 2013 mengalami kenaikan tetapi tahun 2014 mengalami penurunan kembali. Hal ini bisa disebabkan pertumbuhan penduduk tidak disertai dengan peningkatan jumlah penduduk usia sekolah serta jumlah sekolah. Pada tahun 2013 merupakan rasio ketersediaan sekolah terbesar (73,66 persen) dibandingkan dengan tahun sebelum dan sesudahnya dengan perbandingan ketersediaan sekolah di Kabupaten Lima Puluh Kota adalah 1:136. Angka ini menunjukkan bahwa pada tahun 2013, 1 sekolah jenjang pendidikan dasar menampung 136 siswa. Sedangkan rasio terendah pada tahun 2012 yaitu sebesar 64,98 persen dengan perbandingan ketersediaan sekolah adalah 1:154, yang artinya bahwa 1 sekolah jenjang pendidikan dasar pada tahun 2012 menampung 154 siswa. Untuk tahun 2015, rasio ketersediaan sekolah dan angka rasio sama dengan kondisi tahun 2014.

3. Rasio Guru Terhadap Murid

Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru berdasarkan tingkat pendidikan per 10.000 jumlah murid berdasarkan tingkat pendidikan. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar juga mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran.

Ketersediaan tenaga pendidikan di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat dari rasio guru terhadap murid. Rasio guru terhadap murid selama kurun waktu 2010-2015 di Kabupaten Lima Puluh Kota untuk jenjang pendidikan dasar dapat dilihat pada Tabel 2.38 di bawah ini:

Tabel 2.38

Rasio Guru Terhadap Murid di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Jumlah murid (SD/MI + SMP/MTs) 62.977 63.048 63.194 62.807 64.247 64.447 2. Jumlah guru (SD/MI + SMP/MTs) 5.510 5.536 6.002 5.516 5.869 5.658

3. Rasio 875 878 950 878 914 877

Sumber : Lima Puluh Kota Dalam Angka 2015, (BPS, 2015)

Selama kurun waktu 2010-2015, rasio ketersediaan guru di Kabupaten Lima Puluh Kota mengalami pasang surut untuk jenjang pendidikan dasar. Rasio guru terhadap murid, tahun 2012 merupakan angka rasio terbesar yaitu sebesar 950 terhadap 10.000 jumlah murid, sedangkan rasio terendah pada tahun 2010. Jika dilihat perbandingan antara jumlah guru terhadap murid, secara rata-rata 1 (satu) orang guru melayani (mengajar) 11 murid. Hal ini suatu kajian yang harus dikaji oleh pemerintah bagaimana untuk menurunkan angka tersebut, dan yang menjadi penyebabnya adalah penerimaan tegana pengajar dari pemerintah yang masih kurang, sedangkan jumlah murud sekolah terus meningkat.

2.4.1.1.2 Pendidikan Menengah 1. Angka Partisipasi Sekolah

Angka Partisipasi Sekolah (APS) jenjang Pendidikan Menengah merupakan jumlah murid kelompok usia pendidikan menengah 16–18 tahun yang masih menempuh pendidikan per 1.000 jumlah penduduk usia pendidikan menengah.

Daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah jenjang pendidikan menengah di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat dari Angka Partisipasi Sekolah (APS). Untuk Angka Partisipasi Sekolah (APS) jenjang pendidikan menengah pada Tahun 2010-2014 di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada Tabel 2.39 di bawah ini:

Tabel 2.39

Persentase Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Usia 16-18 Tahun di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Sekolah Menengah (usia 16-18 tahun)

1. APS untuk anak laki-laki 12,09 35,11 35,01 65,64 65,52 73,21

2. APS untuk anak perempuan 14,41 31,91 44,26 73,63 85,00 88,35

Sumber : Inkesra Kabupaten Lima Puluh Kota 2015/2016 (BPS, 2016)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu 2010-2015, APS untuk anak laki-laki jenjang pendidikan menengah tertinggi pada tahun 2015 yaitu sebesar 73,21 persen dan terendah pada tahun 2010 sebesar 12,09 persen. Untuk APS anak perempuan tertinggi pada tahun 2015 yaitu sebesar 88,35 persen dan terendah pada tahun 2010 sebesar 14,41 persen. Secara rata-rata selama kurun waktu 6 (enam) tahun, APS anak perempuan lebih tinggi dari APS anak laki-laki yaitu sebesar 56,26 persen rata-rata APS anak perempuan dan sebesar 47,76 persen rata-rata APS anak laki-laki.

Hal ini dapat dilihat bahwa di Kabupaten Lima Puluh Kota selama kurun waktu 6 (enam) tahun secara rata-rata partisipasi anak perempuan lebih tinggi melanjutkan pendidikan ke tingkat pendidikan menengah dibandingkan anak laki-laki.

2. Rasio Ketersediaan Sekolah Terhadap Penduduk Usia Sekolah

Rasio ini bisa diartikan jumlah sekolah berdasarkan tingkat pendidikan per 10.000 jumlah penduduk usia pendidikan. Rasio ini mengindikasikan kemapuan untuk menampung semua penduduk usia pendidikan menengah. Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama di Kabupaten Lima Puluh Kota secara rinci dapat dilihat pada Tabel 2.40 di bawah ini:

Tabel 2.40

Rasio Ketersediaan Sekolah Terhadap Penduduk Usia Sekolah Di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Jumlah penduduk usia SD (7-12 tahun) 44.906 45.155 47.899 42.279 44.201 39.856 2. Jumlah penduduk usia SMP (13-15 tahun) 24.494 24.761 20.579 18.541 21.700 16.263

3. Jumlah SD + MI 370 369 369 371 374 374

Jumlah SD 363 362 362 364 366 366

Jumlah MI 7 7 7 7 8 8

4. Jumlah SMP + MTs 73 75 76 77 79 79

Jumlah SMP 46 48 49 48 50 50

Jumlah MTs 27 27 27 29 29 29

5. Rasio ketersediaan SD+ MI 82,39 81,72 77,04 87,75 84,61 93,84

Persentase Rasio ketersediaan SD 98,11 98,10 98,10 98.11 97,86 97.86

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Persentase Rasio ketersediaan MI 1,89 1,90 1,90 1,89 2,14 2,14 6. Rasio ketersediaan SMP+ MTs 15,11 30,29 36,93 41,53 36,41 48,58

Persentase Rasio ketersediaan SMP 63,01 64,00 64,47 62,34 63,29 63,29 Persentase Rasio ketersediaan MTs 36,99 36,00 35,53 37,66 36,71 36,71 Sumber: Kabupaten Lima Puluh Kota Dalam Angka 2011 (BPS, 2011), Kabupaten Lima Puluh Kota Dalam

Angka 2012 (BPS, 2012), Lima Puluh Kota Dalam Angka 2015 (BPS, 2015), Kabupaten Lima Puluh Kota Dalam Angka 2016 (BPS, 2016)

Dari tabel di atas, selama kurun waktu 2010-2015 rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang pendidikan SD dan SMP di Kabupaten Lima Puluh Kota mengalami pasang surut. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk usia sekolah, baik SD maupun SMP. Untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), rasio ketersediaan sekolah tertinggi pada Tahun 2015 sebesar 93,84 sedangkan rasio ketersediaan sekolah terendah pada Tahun 2012 sebesar 77,04. Untuk jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), rasio ketersediaan sekolah tertinggi pada Tahun 2015 sebesar 93,84 dan rasio ketersediaan sekolah terendah pada Tahun 2010 sebesar 15,11.

3. Rasio Guru Terhadap Murid

Rasio ketersediaan guru terhadap murid adalah jumlah guru pada tingkat pendidikan dasar (SD) dan menengah pertama (SMP) per 1.000 jumlah murid. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar dan juga mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pendidikan. Rasio ketersediaan guru terhadap murid di Kabupaten Lima Puluh Kota selama kurun waktu tahun 2010-2015 dapat dilihat pada Tabel 2.41 di bawah ini:

Tabel 2.41

Rasio Guru Terhadap Murid

di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Jenjang pendidikan SD/MI

Jumlah guru 4,025 3,683 4,258 3,646 3,670 4,351

Jumlah murid 47,125 47,228 47,625 46,813 46,768 46,481

Rasio 85.41 77.98 89.41 77.88 78.47 93.61

a. Jumlah guru SD 3,955 3,612 4,173 3,566 3,580 4,261

Jumlah murid SD 46,647 46,721 47,123 46,256 46,131 45,803

Rasio 84.79 77.31 88.56 77.09 77.61 93.03

b. Jumlah guru MI 70 71 85 80 90 90

Jumlah murid MI 478 507 502 557 637 678

Rasio 146.44 140.04 169.32 143.63 141.29 132.74

2. Jenjang pendidikan SMP/MTs

Jumlah guru 1,860 1,899 1,744 1,824 1,824 1,999

Jumlah murid 15,852 15,820 15,569 15,994 17,479 18,383

Rasio 117.34 120.04 112.02 114.04 104.35 108.74

a. Jumlah Guru SMP 1,163 1,200 1,171 1,269 1,269 1,376

Jumlah murid SMP 12,216 12,121 11,931 11,491 12,510 13,304

Rasio 95.20 99.00 98.15 110.43 101.44 103.43

b. Jumlah Guru MTs 697 699 573 555 555 623

Jumlah murid MTs 3,636 3,699 3,638 4,503 4,969 5,079

Rasio 191.69 188.97 157.50 123.25 111.69 122.66

Sumber : Lima Puluh Kota Dalam Angka tahun 2015 (BPS, 2015)

Rasio ketersediaan guru terhadap murid jenjang pendidikan SD/MI dan SMP/MTs selama kurun waktu 2010-2015 terjadi pasang surut. Untuk jenjang pendidikan SMP/MTs, masih tinggi jumlah murid yang harus menjadi tanggung jawab guru dibandingkan jenjang pendidikan SD/MI.

4. Angka Melek Huruf

Kemampuan membaca dan menulis tercermin dari angka melek huruf yang dalam hal ini didefenisikan sebagai persentase penduduk 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan atau huruf lainnya (tidak buta aksara). Kemampuan membaca dan menulis ini merupakan kemampuan minimum yang dibutuhkan oleh penduduk untuk dapat menuju hidup yang lebih sejahtera. Persentase angka melek huruf di Kabupaten Lima Puluh Kota selama kurun waktu tahun 2010-2015 dapat dilihat pada Diagram 2.12 di bawah ini :

Diagram 2.12

Angka melek huruf Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

0%

50%

100%

2010 2011 2012 2013 2014 2015 98,85 98,99 99,01 99,08 95,59 99,01

Sumber : Inkesra Kabupaten Lima Puluh Kota 2015/2016

Selama kurun waktu tahun 2010-2015 angka melek huruf tertinggi berada pada tahun 2015 dan 2012 yaitu sebesar 99,01 persen dengan kata lain ada sebesar 0,09 persen penduduk yang tidak dapat baca tulis. Sedangkan angka melek huruf terendah pada tahun 2014 yaitu sebesar 95,59 persen dengan kata lain ada sebesar 4,41 persen penduduk yang tidak dapat baca tulis. Secara rata- rata selama kurun waktu 6 (enam) tahun tersebut angka melek huruf di Kabupaten Lima Puluh Kota sebesar 98,42 persen dengan kata lain ada sebesar 1,58 persen penduduk yang tidak dapat baca tulis. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota sudah hampir dapat mengentaskan buta huruf. Adanya program dan kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam waktu 6 (enam) tahun ini sudah dapat berjalan dengan baik, namun masih perlu menjadi perhatian pemerintah terhadap pengentasan buta huruf ini.

2.4.1.1.3 Fasilitas Pendidikan

Gedung sekolah dan ruang kelas yang terawat dengan baik akan memberikan gambaran pada masyarakat tentang pelayanan pendidikan yang tertib dan beraturan. Sebaliknya gedung sekolah dan ruang kelas yang tidak terawat, rusak akan memberikan kesan bahwa mutu pendidikan yang ada didalamnya kurang baik. Berikut gambaran keadaan sekolah dan ruang kelas di Kabupaten Lima Puluh Kota yang dikelompokkan berdasarkan jenjang pendidikan:

1. Banyak Sekolah Pendidikan SD/MI

Banyak sekolah pendidikan SD/MI di Kabupaten Lima Puluh Kota selama kurun waktu tahun 2010-2015 dapat dilihat pada Tabel 2.42 di bawah ini :

Tabel 2.42

Banyak Sekolah pendidikan SD/MI Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Jumlah sekolah pendidikan SD (negeri + swasta) 363 362 362 364 366 366

2. Jumlah sekolah pendidikan MI (negeri + swasta) 7 7 7 7 8 8

Jumlah 370 369 369 371 374 374

Sumber : Lima Puluh Kota Dalam Angka 2015 (BPS, 2015)

Selama 6 (enam) tahun, banyak sekolah SD secara umum meningkat tetapi penambahan jumlah sekolah tersebut tidak terlalu banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2015 jumlah sekolah sebanyak 366 unit, penambahan sekolah baru sebanyak 2 unit dibandingkan tahun 2013 (sebanyak 364 unit). Untuk bangunan sekolah MI, pada tahun 2010-2013 tidak terjadi penambahan sekolah baru. Pada tahun 2014 terjadi penambahan 1 (satu) unit dibandingkan tahun

2013 (sebanyak 7 unit) dan untuk kondisi tahun 2015 banyak sekolah pendidikan SD/MI sama dengan data tahun 2014. Peningkatan jumlah sekolah ini disebabkan karena jumlah penduduk usia sekolah SD/MI meningkat, sehingga dibutuhkan sekolah baru.

2. Banyak Ruang Kelas SD Kondisi Bangunan Baik

Kondisi ruang kelas yang baik akan mempengaruhi terhadap kelayakan atau kenyamanan dalam proses belajar mengajar. Selama kurun waktu 2010-2014, kondisi ruang kelas jenjang pendidikan SD di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada Tabel 2.43 di bawah ini:

Tabel 2.43

Banyak Ruang Kelas Pada SD Negeri dan Swasta Menurut Kondisi di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Kondisi baik 1.859 1.747 1.418 665 540 581

2. Kondisi rusak ringan 390 455 744 2.384 1.603 1.699

3. Kondisi rusak berat 52 61 237 119 260 199

4. Jumlah 2.301 2.263 2.399 3.168 2.403 2.479

5. Persentase Kondisi Baik 80,79 77,20 59,11 20,99 22,47 23.43

Sumber : Lima Puluh Kota Dalam Angka 2015 (BPS, 2015)

Dari tabel di atas dapat lihat bahwa tahun 2013 kondisi bangunan rusak ringan merupakan angka tertinggi selama kurun waktu 2010-2015. Pada tahun 2015, dengan program dan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dalam usaha memperbaiki ruang kelas, maka pemerintah berhasil menurunankan jumlah ruang kelas yang rusak ringan yaitu sebanyak 96 unit.

Kondisi ruang kelas kondisi baik, selama kurun waktu 2010-2015 persentase tertinggi pada tahun 2010 yaitu sebesar 80,79 persen dan terendah pada tahun 2013 (sebesar 20,99 persen), sedangkan pada tahun 2014 kondisi ruang kelas sebesar 22,47 persen dan tahun 2015 sebesar 23,43 persen.

3. Banyak Sekolah Pendidikan SMP/MTs

Selama kurun waktu 2010-2015, banyak sekolah SMP/MTs di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada Tabel 2.44 di bawah ini:

Tabel 2.44

Banyak Sekolah pendidikan SMP/MTs di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Jumlah SMP (negeri + swasta) 46 48 49 48 50 50

2. Jumlah MTs (negeri + swasta) 27 27 27 29 29 29

Jumlah SMP+MTs 37 75 76 77 79 79

Sumber : Lima Puluh Kota Dalam Angka 2015 (BPS, 2015)

Dari tabel di atas, dapat dilihat jumlah sekolah SMP dan MTS terjadi peningkatan. Pada tahun 2014, jumlah sekolah SMP sebanyak 50 unit dan meningkat sebanyak 2 unit dibandingkan tahun 2013 (sebanyak 48 unit) sedangkan jenjang pendidikan MTs tahun 2014 tidak mengalami peningkatan dibandingkatan tahun 2013. Peningkatan jumlah sekolah SMP ini merupakan perhatian pemerintah daerah terhadap pemenuhan wajib belajar 9 tahun.

4. Banyak Ruang Kelas SMP Kondisi Bangunan Baik

Selama kurun waktu 2010-2015, banyak ruang kelas SMP menurut kondisi di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada Tabel 2.45 di bawah ini :

Tabel 2.45

Banyak Ruang Kelas Pada SMP Negeri dan Swasta Menurut Kondisi di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. SMP (Negeri + Swasta)

1. Kondisi baik 325 302 236 147 155 185

2. Kondisi rusak ringan 97 93 107 535 390 367

3. Kondisi rusak berat 49 51 21 11 9 18

4. Jumlah 471 446 364 693 554 570

5. Persentase kondisi baik 69,00 67,71 64,84 21,21 27,98 32.45

Sumber : Lima Puluh Kota Dalam Angka 2015 (BPS, 2015)

Dari tabel di atas, untuk jenjang pendidikan SMP, kondisi ruang kelas keadaan baik terendah pada tahun 2013 sebesar 21,21 persen dan tertinggi pada tahun 2010 sebesar 69,00 persen. Pada tahun 2014 kondisi ruang kelas keadaan baik meningkat dibandingkan tahun 2013 sebesar 6,77 persen. Pada tahun 2015 kedaan ruang kelas dalam kondisi baik meningkat dibandingkan tahun 2014 yaitu sebanyak 30 ruang.

2.4.1.1.4 Pendidikan Sekolah Taman Kanak-kanak

Banyak sekolah, murid, guru dan kelas sekolah Taman Kanak-kanak selama kurun waktu 2010-2014 di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada Tabel 2.46. Jumlah sekolah tidak mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan pada tahun 2013 hanya sebanyak 2 unit dan tahun 2014 kondisinya sama dengan tahun 2013, sedangkan secara rata-rata untuk jumlah kelas meningkat. Peningkatan ini merupakan program pemerintah dalam meningkatkan pendidikan anak usia dini. Dari sisi tenaga pengajar, jumlah guru masih didominasi oleh guru bukan PNS. Secara umum banyak sekolah, murid dan kelas sekolah Taman kanak-kanak tahun 2010-2015 di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.46

Banyak Sekolah, Murid, Guru dan Kelas Sekolah Taman Kanak-kanak di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Banyak sekolah 214 216 213 215 215 231

2. Banyak murid 6.380 6.236 6.955 6.614 6.614 6.614

3. - Banyak guru PNS 108 178 162 162 162 115

- Banyak guru bukan PNS 464 516 512 512 512 340

4. Banyak kelas 360 381 417 423 423 441

Sumber: Lima Puluh Kota Dalam Angka 2015 (BPS, 2015) , Lima Puluh Kota Dalam Angka 2016 (BPS, 2016)

Dari tabel di atas, dikatahui guru non PNS lebih besar dari guru PNS. Hal ini mengindikasikan kebutuhan penambahan jumlah PNS untuk tenaga pendidik.

2.4.1.1.5 Angka Putus Sekolah

1. Angka Putus Sekolah SD/MI, SMP/MTs

Angka putus sekolah merupakan proporsi anak menurut kelompok usia sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang tidak menamatkan suatu jenjang pendidikan tertentu. Adapun kelompok umur yang dimaksud adalah kelompok umur 7-12 tahun, 13-15 tahun dan 16-18 tahun.

Selama kurun waktu 2010-2015, angka putus sekolah SD/MI, SMP/MTS, Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada Tabel 2.47 di bawah ini:

Tabel 2.47

Persentase Angka Putus Sekolah Kabupaten Lima Puluh Kota di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Angka putus sekolah SD/MI 0,45 0,36 0,07 0,07 0,07 0,08

2. Angka putus sekolah SMP/MTs 0,60 0,79 0,18 0,18 0,15 0,77

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Lima Puluh Kota

Dari tabel di atas, persentase angka putus sekolah untuk jenjang pendidikan SD/MI sebesar 0,08 persen yang merupakan angka tertinggi dalam kurun waktu 2010-2015 dan jenjang pendidikan SMP/MTs sebesar 0,77 persen.

2. Banyaknya Anak Umur 7- 15 Tahun Yang Tidak Sekolah

Selama kurun waktu 2010-2015 di Kabupaten Lima Puluh Kota, anak yang putus sekolah atau yang tidak sekolah pada tahun 2011 berada pada posisi terendah dan tertinggi pada tahun 2010.

Secara rata-rata anak putus sekolah jenis kelamin laki-laki masih tinggi dibandingkan anak perempuan. Pada tahun 2014, persentase anak putus sekolah jenis kelamin laki-laki sebesar 71,91 persen dan anak perempuan sebesar 28,09 persen. Secara umum banyak anak umur 7 tahun sampai dengan 15 tahun yang tidak sekolah selama kurun waktu 2010-2015 di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada Tabel 2.48 di bawah ini :

Tabel 2.48

Banyak Anak Umur 7-15 Tahun Yang Tidak Sekolah di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Orang % Orang % Orang % Orang % Orang % Orang %

1. Laki-laki 2.086 65,76 738 65,38 1.896 69,10 1.788 64,71 1.513 71,91 1.685 53,70 2. Perempuan 1.086 34,24 383 34,17 848 30,90 975 35,29 591 28,09 1.453 46,30

3. Jumlah 3.172 1.121 2.744 2.763 2.104 3.138

Sumber : Lima Puluh Kota Dalam Angka tahun 2015 (BPS, 2015)

2.4.1.1.6 Angka Kelulusan

1. Angka Kelulusan SD/MI, SMP/MTs

Angka kelulusan merupakan salah satu indikator atau tolak ukur tingkat keberhasilan sekolah dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar. Selama kurun waktu 2010-2015, angka kelulusan sd/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada Tabel 2.49 di bawah ini:

Tabel 2.49

Persentase Anak Lulus Sekolah SD/MI, SMP/MTs di Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015

No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Angka kelulusan SD/MI 99,19 99,60 100,00 100,00 100,00 100

2. Angka kelulusan SMP/MTS 88,99 85,12 95,85 100,00 99,92 99.98

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Lima Puluh Kota

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa persentase anak lulus sekolah tahun 2014 pada jenjang SD/MI berada pada tingkat tertinggi yaitu sebesar 100 persen. Sedangkan jenjang pendidikan SMP/MTs berada pada posisi kedua sebesar 99,98 persen. Secara rata-rata angka kelulusan pada setiap jenjang pendidikan sudah dapat dikatakan sangat baik yaitu secara rata-rata diatas 85 persen.

sedangkan untuk tahun 2015, persentase anak lulus sekolah sekolah SD/MI, SMP/MTs naik

Dalam dokumen PERATURAN DAERAH KABUPATEN LIMA PULUH KOTA (Halaman 72-134)

Dokumen terkait