BAB IX PENUTUP
3.1 KINERJA KEUANGAN TAHUN 2010-2015
Perkembangan kinerja keuangan pemerintah derah tidak terlepas dari batasan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana diatur dalam: (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 dan Undang- Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah; (2) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; (3) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; dan (4) Peraturan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah.
Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam sistem terintegrasi yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pertanggungjawaban dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yang langsung maupun tidak langsung mencerminkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan. Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan mentaati azas-azas pengelolaan keuangan daerah, yakni tertib, taat peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggungjawab dengan memperhatikan azaz keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Pengukuran kinerja keuangan daerah, sangat penting untuk menilai akuntabilitas pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan keuangan daerah, serta untuk memproyeksikan kemampuan keuangan daerah dimasa depan dalam rangka pelaksanaan pembangunan.
Berdasarkan ketentuan tersebut, kinerja keuangan pemerintah daerah sangat terkait dengan aspek kinerja pelaksanaan APBD dan aspek kondisi neraca daerah. Kinerja pelaksanaan APBD tidak terlepas dari struktur dan akurasi belanja, pendapatan daerah yang meliputi pendapatan asli daerah, dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. Sementara itu, neraca daerah akan mencerminkan perkembangan dari kondisi asset pemerintah daerah, kondisi kewajiban pemerintah daerah dan kondisi ekuitas dana Pemerintah Daerah.
Kinerja pelaksanaan APBD Kabupaten Lima Puluh Kota keuangan tahun 2010-2015, dijelaskan sebagai berikut :
3.1.1 Kinerja Pelaksanaan APBD A. Pendapatan Daerah
Pendapatan Daerah merupakan hak Pemerintah Daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Dengan kata lain Pendapatan Daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah yang menambah saldo anggaran lebih yang merupakan hak Pemerintah Daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Pendapatan
Daerah terdiri dari beberapa komponen, yakni Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana perimbangan dan Lain - lain Pendapatan Daerah yang Sah.
Realisasi PAD dari tahun 2010 sampai dengan 2015 berkisar antara Rp. 17 milyar sampai dengan 62 milyar, dimana terjadi peningkatan yang tajam pada tahun 2014 menjadi Rp 52 milyar dari tahun 2013 dengan pertumbuhan pada tahun 2014 mencapai 59,3%. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2014 terdapat penerimaan baru dari BLU RSUD dan Dana Kapitasi JKN di puskesmas. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa pertumbuhan PAD cukup tinggi yakni dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 29,77 persen. Dengan demikian untuk lima tahun kedepan target PAD masih dapat kita tingkatkan sesuai dengan potensi penerimaan yang ada. Namun disadari bahwa secara umum PAD belumlah berkontribusi signifikan terhadap total pendapatan daerah. Diprediksi kondisi ini disebabkan karena belum optimalnya strategi dan kebijakan yang dijalankan, serta tingginya ketergantungan penerimaan daerah terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan Pemerintah Pusat. Hal ini dapat dimengerti karena pendapatan daerah utamanya diperoleh dari pajak daerah yang bersifat closed list dan pertumbuhannya memiliki keterbatasan, sehingga rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi. Oleh karena itu, ke depan perlu dirumuskan kebijakan yang akan dapat meningkatkan PAD baik melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi.
Tabel 3.1
Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2010-2015
(dalam Rp. juta)
Sumber : Laporan keuangan Daerah Kab. Lima Puluh Kota tahun 2010-2015, data diolah kembali
Berdasarkan tabel diatas, data tahun 2010-2015, Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum mempunyai kontribusi yang cukup siginifikan terhadap APBD Kabupaten Lima Puluh Kota. Rata-rata pertumbuhan PAD selama kurun waktu 2010-2015 merupakan rata-rata pertumbuhan terbesar dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Sedangkan dana perimbangan merupakan rata-rata pertumbuhan yang terkecil yaitu sebesar 11,15 peren persen. Namun dana perimbangan merupakan kontributor utama atas pendapatan daerah Kabupaten Lima Puluh Kota.
No Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Rata-rata
Pertumbuhan (%) A. Pendapatan Asli Daerah 17.988 24.039 24.936 33.095 52.829 62.933 29,77
1 Pajak Daerah 4.194 5.142 9.683 8.310 11.663 12.105 28,17
2 Retribusi Daerah 6.696 7.652 3.358 10.656 8.211 5.353 23,55
3 Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yg dipisahkan 2.053 3.357 3.128 3.026 2.363 1.763 1,23
4 Lain-lain PAD 5.045 7.888 8.767 11.103 30.592 43.712 62,51
B. Dana Perimbangan 487.125 540.533 624.075 709.851 780.783 824.555 11,15
1 Bagi hasil pajak 26.207 24.344 27.442 24.401 18.385 16.637 (7,93)
2 Bagi Hasil Bukan Pajak 446 2.708 1.458 1.016 2.285 2.045 109,02
3 DAU 411.513 466.796 550.760 632.931 700.183 725.616 12,12
4 DAK 48.959 46.685 44.415 51.503 59.930 80.257 11,35
C. Lain-lain Pendapatan Daerah
yang Sah 78.345 129.151 110.494 145.911 170.600 250.193 29,21
1 Hibah Pemerintah RI/
Pendapatan Hibah 0 0 7.110 352 159 427 6,22
2 Bantuan Keuangan dari Propinsi
dan Pemerintah daerah Lainnya 2.485 5.443 1.975 3.691 1.835 7.320 78,17
3 Bagi Hasil Pajak dari Propinsi 17.924 22.262 21.471 23.283 31.773 38.290 17,21 4 Dana Penyesuaian/ Otonomi
Khusus 57.936 101.446 79.938 118.585 136.841 204.156 33,37
Total 583.458 693.723 759.505 888.857 1.004.220 1.137.681 14,34
Secara Diagram, rata-rata pertumbuhan pendapatan di Kabupaten Lima Puluh Kota dalam kurun waktu 2010-2015 dapat dilihat pada Diagram dibawah ini :
Diagram 3.1
Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah (dalam persen) Tahun 2011-2015
Sumber : Laporan keuangan Daerah Kab. Lima Puluh Kota tahun 2010-2015, data diolah kembali
Dana perimbangan jika dilihat secara rata-rata pertumbuhan setiap tahun, tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan. Disisi pendapatan asli daerah, tahun 2012 mengalami penurunan yang signifikan disebabkan karena penyusutan pada retribusi daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Namun pada tahun 2014 mengalami kenaikan rata- rata pertumbuhan yang sangat signifikan disebabkan kenaikan yang signifikan pada pajak daerah, dan lain-lain PAD. Pada sisi lain-lain pendapatan yang sah, mengalami fluktuatif hal ini penerimaan yang bersumber dari pendapatan tersebut mengalami fluktuatif terutama terhadap penerimaan bantuan keuangan dari propinsi dan pemerintah daerah Lainnya.
Memperhatikan tabel diatas dan Diagram diatas, kebijakan pengelolaan keuangan daerah secara garis besar akan tercermin pada kebijakan pendapatan, belanja dan pembiayaan APBD.
Pengelolaan Keuangan daerah yang baik menghasilkan keseimbangan antara optimalisasi pendapatan daerah, efisiensi dan efektivitas belanja daerah serta ketepatan dalam memanfaatkan potensi pembiayaan daerah.
Secara perbandingan antara target pendapatan dalam APBD dengan realisasi pendapatan secara rata-rata selama kurun waktu 2010-2015 terealisasi pendapatan sebesar 99,87 persen, bahkan terdapat realisasi pendapatan melebihi 100 persen yaitu pada tahun 2012 sebesar 100,42 persen dan tahun 2014 sebesar 100,38 persen. Hal ini menunjukkan kinerja pemerintah daerah untuk terus mengupayakan pendapatan semaksimal mungkin. Kondisi tersebut dapat dilihat pada Diagram di bawah ini :
Diagram 3.2
Perbandingan Target Pendapatan dalam APBD dengan Realisasi Pendapatan Tahun 2010-2015 (dalam Rp juta)
Sumber : Laporan keuangan Daerah Kab. Lima Puluh Kota tahun 2010-2015, data diolah kembali
Berdasarkan Diagram diatas bila dilihat dari dari sisi pertumbuhan selama kurun waktu 2010- 2015, terhadap target pendapatan dalam APBD secara rata-rata sebesar 14,36 persen dan rata-rata pertumbuhan realisasi pendapatan sebesar 14,34 persen. Walaupun pertumbuhan dari target pendapatan dan pertumbuhan realisasi pendapatan berfluktuatif, namun perbedaan pertumbuhan kedua-nya tidak terlalu signifikan. Pertumbuhan target pendapatan dalam APBD dengan realisasi pendapatan selama kurun 2010-2015 dapat dilihat pada Diagram dibawah ini :
Diagram 3.3
Pertumbuhan Target Pendapatan dalam APBD
dengan Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Tahun 2010-2015 (dalam persentase)
Sumber : Laporan keuangan Daerah Kab. Lima Puluh Kota tahun 2010-2015, data diolah kembali
B. Belanja Daerah
Belanja Daerah disusun berdasarkan anggaran kinerja (performance budget), yaitu belanja daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja. Kinerja mencerminkan efisiensi dan efektifitas pelayanan publik, yang berarti belanja daerah harus berorientasi pada kepentingan publik.
Oleh karena itu arah pengelolaan belanja daerah harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan publik terutama masyarakat miskin dan kurang beruntung (pro-poor), pertumbuhan ekonomi (pro-growth) dan perluasan lapangan kerja (pro-job).
Selama kurun waktu tahun 2010-2015, dapat dilihat realisasi belanja terhadap anggaran di Kabupaten Lima Puluh Kota pada tabel dibawah ini :
Tabel 3.2
Proporsi Realisasi Belanja Terhadap Anggaran Belanja Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2010-2015 (dalam Rp juta)
No Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Rata-rata
Pertumbuhan (%) A. Belanja Tidak Langsung 415.313 457.078 519.140 565.341 623.184 704.597 11,17
1. Belanja Pegawai 375.581 423.673 483.398 530.596 592.594 625.444 10,78
2. Belanja Hibah 22.960 8.718 10.958 11.417 5.156 24.888 127,49
3. Belanja Bantuan Sosial 1.604 4.973 1.129 2.766 3.286 3.994 63,62
4. Bagi Hasil kpd Pemerintah Desa 471 509 446 743 728 12,05
5. Belanja Bantuan Keuangan kpd
Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 13.652 17.937 18.235 19.448 20.462 46.421 34,36
5. Belanja Tidak Terduga 1.516 1.306 4.910 669 942 3.122 43,45
B. Belanja Langsung 136.606 217.057 245.875 316.204 363.169 384.054 24,28
1. Belanja Pegawai 16.959 17.186 25.574 29.107 32.304 33.205 15,55
2. Belanja Barang Jasa 46.269 96.808 107.680 123.102 139.501 176.668 220,71
3. Belanja Modal 73.378 103.063 112.621 163.995 191.364 174.181 20,61
Total Belanja 551.919 674.135 765.014 881.545 986.353 1.088.651 14,62 Sumber : Laporan Keuangan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2010-2015
Secara rata-rata pertumbuhan realisasi anggaran Belanja selama kurun waktu tahun 2010- 2015 sebesar 14,62 persen. Pertumbuhan rata-rata untuk belanja tidak langsung sebesar 11,17 persen, dan belanja langsung sebesar 24,28%. Pada komponen belanja tidak langsung rata-rata pertumbuhan paling tinggi terdapat pada belanja hibah yaitu sebesar 127,49 persen, sedangkan pada belanja langsung rata-rata pertumbuhan paling tinggi terdapat pada belanja barang jasa yaitu sebesar 220,71 persen. Diantara semua komponen belanja rata-rata pertumbuhan paling rendah terdapat pada belanja pegawai dalam kelompok belanja tidak langsung yaitu sebesar 10,78 persen.
Diagram 3.4
Proporsi Anggaran dan Realisasi Anggaran Tahun 2010-2015 (dalam Rp juta)
Sumber : Laporan Keuangan Daerah Kab. Lima Puluh Kota tahun 2010-2015, data diolah kembali
Pada Diagram 3.4 terlihat, perbandingan anggaran dengan realisasi anggaran dapat dilihat pada Diagram 3.4. secara rata-rata perbandingan realisasi anggaran dengan anggaran rata-rata cukup besar yaitu sebesar 92,35 persen. Persentase realisasi terbesar berada pada tahun 201 yaitu sebesar 93,11 persen dan terendah pada tahun 2011 sebesar 91,07 persen.
3.1.2. Neraca daerah
Neraca Daerah merupakan salah satu laporan keuangan yang harus dibuat oleh Pemerintah Daerah. Laporan necara sangat penting bagi manajemen pemerintah daerah dan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan yang terarah dalam rangka pengelolaan sumber-sumber daya ekonomi yang
dimiliki oleh daerah secara efisien dan efektif. Neraca merupakan laporan yang menyajikan posisi keuangan pemerintah pada tanggal tertentu. Artinya posisi tentang aset, kewajiban, dan ekuitas.
Aset mencakup seluruh sumber daya yang memberikan manfaat ekonomi dan atau sosial yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh Pemerintah Daerah. Kewajiban merupakan utang yang harus diselesaikan oleh Pemerintah Daerah di masa yang akan datang. Neraca Daerah memberikan informasi mengenai posisi keuangan berupa aset, kewajiban (utang), dan ekuitas dana pada tanggal neraca tersebut dikeluarkan.
Aset daerah merupakan aset yang memberikan informasi tentang sumber daya ekonomi yang dimiliki dan dikuasai pemerintah daerah, memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi pemerintah daerah maupun masyarakat di masa mendatang sebagai akibat dari peristiwa masa lalu, serta dapat diukur dalam uang. Kinerja Neraca Daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota selama kurun waktu Tahun 2010-2015 seperti yang diperihatkan pada Tabel 3.3.
Tabel 3.3
Rata-rata Pertumbuhan Neraca Daerah
Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015 (dalam Rp juta)
No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Rata-rata
Pertumbuhan (%) A ASET
a. ASET LANCAR 59,039 81,435 71,557 78,969 101,666 149,277 22.35
1 Kas 48,518 65,056 58,490 65,756 80,867 129,221
2 Piutang 4,561 3,061 243 157 8,245 6,501
3 Persediaan 5,960 13,318 12,824 13,056 12,554 13,555
b. Investasi Jangka
Panjang 11,059 11,011 10,794 9,876 12,333 17,126 10.57
1 Investasi Non
Permanen Lainnya 737 737 737 831 760 760
2 Penyisihan Investasi Non Permanen lainnya
(223) (240) (245)
3 Penyertaan Modal
Pemerintah Daerah 10,322 10,274 10,057 9,268 11,813 16,611
c. ASET TETAP 1,235,413 1,327,559 1,465,301 1,641,073 1,864,835 1,233,688 1.92
1 Tanah 64,625 64,626 66,418 70,794 74,165 124,495
2 Peralatan dan Mesin 119,717 144,830 170,973 201,452 250,165 295,596 3 Gedung dan
Bangunan 507,727 521,435 568,891 602,758 676,542 701,481
4 Jalan, Irigasi dan
Jaringan 517,135 562,429 618,332 712,291 798,636 926,287
5 Aset Tetap Lainnya 16,774 19,820 25,664 44,430 57,389 68,635
6 Konstruksi dalam
Pengerjaan 9,435 14,419 15,023 9,348 7,938 8,029
7 Akumulasi Penyusutan Aset Tetap
(890,835)
c. ASET LAINNYA 2,543 2,645 3.148 4,647 7,612 17,874 53.58
JUMLAH ASET
DAERAH 1,308,054 1,422,650 1,550,800 1,734,565 1,986,446 1,417,965
B KEWAJIBAN 4,453 1,534 588 841 3,591 5,052
a. KEWAJIBAN JANGKA
PENDEK 4,453 1,534 588 841 3,591 5,052 56.70
1 Utang Perhitungan
Fihak Ketiga 169 106 240 243 124 171
2 Dana Titipan pada
Fihak Ketiga 1,220 1,140 310 201
3 Pendapatan diterima
dimuka 68
4 Utang Jangka Pendek
Lainnya 3,064 288 38 397 3,467 4,813
C EKUITAS DANA 1,303,602 1,421,116 1,550,211 1,733,725 1,982,855 1,412,912 3.11 JUMLAH KEWAJIBAN
DAN EKUITAS DANA 1,308,055 1,422,650 1,550,799 1,734,566 1,986,446 1,417,964 3.10 Sumber : Laporan Keuangan Daerah Kab. Lima Puluh Kota tahun 2010-2015
Dari tabel diatas terlihat selama periode 2010-2015, perkembangan jumlah aset Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota mengalami peningkatan yaitu dari 1.308.054 juta pada tahun 2010 menjadi 1.417.796 juta pada tahun 2015 dengan pertumbuhan rata-rata 3.10 % pertahun. Aset tersebut terdiri atas aset lancar (Kas, piutang, dan Persedian), Investasi jangka panjang (Investasi Non Permanen dan Investasi Permanen), Aset Tetap (Tanah, Peralatan dan Mesin, Gedung dan Bangunan, Jaringan,Irigasi dan Jalan, Aset Tetap Lainnya, dan Konstruksi dalam Pengerjaan), Aset Lainnya (tagihan penjualan angsuran, aset tetap tak berwujud, tuntutan perbendaharaan, tuntutan penggantian kerugian daerah, kemitraan dengan pihak ketiga, dan aset lainnya), dan semuanya dipergunakan untuk menunjang penyelenggaraan pemerintah daerah.
Investasi jangka panjang dan aset tetap selama periode 2010-2015 mengalami peningkatan dalam rangka memperbesar peranan belanja modal. Ekuitas dana selama periode 2010-2015 mengalami peningkatan yaitu dari 1.303.602 juta pada tahun 2010 meningkat menjadi 1.412.912 juta pada tahun 2015 dengan pertumbuhan 3.11 % pertahun. Ekuitas dana terdiri dari (ekuitas dana lancar dan ekuitas dana investasi).
Kewajiban baik jangka pendek maupun jangka panjang memberikan informasi tentang utang pemerintah daerah kepada pihak ketiga atau klaim pihak ketiga kepada pemerintah daerah.
Kewajiban timbul timbul karena konsekwensi pelaksanaan tugas atau tanggung jawab untuk bertindak di masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa datang.
Kewajiban pemerintah daerah kabupaten Lima Puluh Kota pada umumnya adalah kewajiban jangka pendek dan terbesar adalah kewajiban dalam bentuk utang jangka pendek lainnya. Secara rata-rata pertumbuhan kewajiban jangka pendek sebesar 56,70 persen. Dimana dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan kewajiban jangka pendek naik secara signifikan. Tingginya pertumbuhan kewajiban jangka pendek ini adalah dari utang jangka pendek lainnya, ini disebabkan karena pada akhir tahun anggaran bendahara pengeluaran dan bendaharan penerimaan belum menyetorkan uang yang masih ada di kas pada masing-masing bendahara ke kas daerah pada tahun 2014 dan 2015.
Selanjutnya untuk mengetahui tingkat kualitas pengelolaan keuangan daerah dapat diketahui berdasarkan analisis ratio atau memperbandingkan antara kelompok / elemen laporan keuangan yang satu dengan dengan kelompok yang lain. Beberapa rasio yang dapat diterapkan disektor publik adalah rasio lancar (Current Ratio), rasio kas (Cash Ratio), rasio cepat (Quick Ratio), rasio total hutang terhadap aset dan rasio hutang terhadap modal.
Rasio lancar (Current Ratio) merupakan rasio standar yang digunakan untuk menilai kesehatan pemerintah. Rasio ini menunjukan apakah pemerintah daerah memiliki aset yang cukup untuk melunasi kewajiban yang jatuh tempo. Tetapi kas rasio lebih menunjukan kemampuan riil berdasarkan kas yang dimiliki. Kualitas pengelolaan keuangan pemerintah daerah dikategorikan baik apabila nilai rasio lebih dari satu. Sedangkan rasio total hutang terhadap total aset dan rasio total hutang terhadap ekuitas dana, sama-sama menunjukan kemampuan pemerintah daerah dalam melunasi seluruh kewajibannya seandainya seluruh aset atau aset bersih digunakan.
Tabel 3.4
Analisis Rasio Keuangan
Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2010-2015
No. Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015
RASIO LIKUIDITAS
1 Rasio lancar (Current Ratio) 13,26 53,09 121,70 93,90 28,31 29,55
2 Rasio cepat (Quick Ratio) 11,92 44,40 99,89 78,37 24,82 26,87
RASIO SOLVABILITAS
3 Rasio total hutang terhadap total aset 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
4 Rasio hutang terhadap modal 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Sumber : Laporan Keuangan Daerah Kab. Lima Puluh Kota tahun 2010-2015
Dari tabel 3.4 memperlihatkan beberapa rasio yang memperlihatkan kualitas pengelolaan keuangan daerah. Rasio likuiditas terdiri dari rasio lancar (Current Ratio) dan rasio cepat (Quick Ratio) memperlihatkan kemampuan keuangan pemerintah dalam membayar kewajiban jangka pendek.
Rasio lancar pada tahun 2015 sebesar 29,55 artinya Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota mempunyai kemampuan membayar kewajiban jangka pendek sebanyak 29 kali. Jika dilihat dari rasio lancar pada tahun 2015 sebesar 26,87 ini berarti kemampuan Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset yang lebih likuid sangat baik.
Rasio solvabilitas yang diukur dengan rasio total hutang terhadap total aset memperlihatkan kemampuan keuangan pemerintah daerah dalam membayar kewajiban baik itu kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang dengan total aset yang dimiliki. Pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2015 dimana rasio ini hanya 0,00 ini berarti kemampuan pemerintah sangat baik sekali. Kalau dilihat dari rasio hutang terhadap modal pada tahun 2015 yang juga 0,00 berarti kemampuan keuangan pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota sangat baik. Dengan demikian Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota tidak perlu tergantung modal dari pihak luar.