P: Tanggal 15 Februari 2020
1. Asuhan Kehamilan
Hasil pengkajian yang dilakukan pada Ny. M pada tanggal 18 Oktober 2019, didapatkan bahwa Ny. M berusia 36 tahunG3P2002 HPHT 12 Mei 2019 dan taksiran persalinan tanggal 19 Februari 2020.
Pada kunjungan pertama, dari hasil pengkajian awal ditemukan Ny. M usia 36 tahun G3P2002 usia kehamilan 22 minggu 4 hari. Pada kehamilan ini didapatkan masalah pada Ny. M yaitu resiko tinggi hamil di usia ≥35 tahun.
Teori menurut Tukiran (2014), kehamilan di usia tua adalah kehamilan yang terdiri pada wanita berusia lebih dari atau sama dengan 35 tahun, baik primi maupun multigravida.
Pada kunjungan pertama, ibu mengatakan terdapat nyeri pinggang bagian bawah sejak 2 minggu yang lalu sekitar pada tanggal 4/10/2019.
Ibu makan 2x sehari dengan 1 porsi sedang, terdiri dari nasi (1 sendok nasi), sayur (1 mangkuk sayur), satu potong lauk ukuran sedang (ikan/
ayam), ibu mengatakan tidak ada perubahan pola makan. Kemudian dilakukan pemeriksaan didapatkan hasil KU : Baik , Kesadaran : Compos mentis, Hasil pengukuran tanda-tanda vital : TD : 110/70 mmHg, T : 36,6
148
oC, N : 78 x/m, R : 20x/m , serta hasil pengukuran berat badan saat ini 56 kg, TP : 16 februari 2020, TB : 148 cm, LILA : 25 cm Hb: 10,1 gr%
(dilakukan dipuskesmas pada tanggal 16/10/2019) pada konjungtiva tampak anemis.
Asuhan yang diberikan kepada ibu untuk memantau dan mengawasi kehamilan ibu dan untuk mengantisipasi adanya tanda kegawatdaruratan pada kehamilan. Dan memberikan KIE tentang dampak resiko tinggi kehamilan dengan usia ≥35 tahun. Sesuai dengan teori dari Rochjati (2014), penganganan ibu hamil usia ≥35 tahun adalah memberikan KIE agar melakukan perawatan yang teratur, menemukan sedini mungkin adanya penyakit dari ibu maupun kelainan atau factor resiko dari kehamilan, dan merencanakan persalinan aman agar ibu dan bayi hidup sehat.
Intervensi yang diberikan pada Ny. M agar dapat mencegah resiko yang dapat terjadi dengan memberikan konseling pada ibu mengenai pemeriksaan kehamilan di fasilitas kesehatan pada trimester III minimal 2x kunjungan, melakukan deteksi dini dengan menggunakan kartu skor untuk digunakan sebagai alat screening atau deteksi dini faktor resiko ibu hamil, melakukan senam hamil secara rutin untuk mengurangi dan mencegah timbulnya gejala-gejala yang menggangu selama kehamilan dan mengurangi ketegangan otot-otot sendi sehingga mempermudah proses kelahiran, melakukan persiapan persalinan sesuai faktor resiko ibu hamil untuk bersalin di fasilitas kesehatan atau rumah sakit dan di tolong oleh tenaga kesehatan, memberitahu keluarga untuk memberikan dukungan pada ibu, menjelaskan tanda-tanda persalinan, dan menganjurkan ibu untuk
melakukan pemeriksaan kehamilan setiap 2 minggu atau apabila ada keluhan. Penemuan kedua ibu mengeluh sakit pinggang bagian belakang.
Rasa nyeri dan pegal dibagian pinggang sebenarnya disebabkan karena pergeseran titik keseimbangan tubuh akibat beban bangan, tanpa sadar biasanya bahu akan condong kebelakang. Posisi tubuh yang salah dan dipaksakan secara menetap inilah yang menyebabkan ketegangan otot pada bagian pinggang. Spasme pada otot pinggang ini akan terus berlangsung selama kehamilan jika tidak ditangani, karena postur yang menyebabkan spasme ini mengakibatkan nyeri pada pinggang bahkan menhalar ke pinggul. Perubahan patologi ditandai dengan adanya nyeri yang bertambah saat melakukan gerakan (nyeri gerak), dan juga adanya nyeri saat dilakukan penekanan (nyeri tekan), kesalahan sikap misalnya cara duduk, cara berdiri, dan berjalan, nyeri berkurang saat digunakan untuk berbaring Prawirohardjo (2014).
Penulis memberikan asuhan untuk mengurangi rasa sakit pinggang selain dengan beraktivitas ringan dapat pula dengan melakukan aktivitas di luar rumah dengan senam hamil dan teknik relaksasi, menarik nafas dalam dari hidung dan dikeluarkan secara perlahan dari mulut (Nurhayani, 2015).
Penemuan selanjutnya, kunjungan awal pada Ny. M di dapatkan hasil pengkajian konjungtiva tampak anemis serta pemeriksaan penunjang Hb 10,1 gr/dl. Berdasarkan teori Prawirohardjo (2014) klasifikasi Hb 10,1 gr/dl masuk dalam kategori anemia ringan. Nirwana (2011) menyatakan bahwa anemia merupakan penyakit yang sering dialami oleh ibu hamil disebabkan karena zat besi yang kurang atau karena asupan makanan yang tidak
memenuhi standard. Wanita hamil dengan anemia jika tidak diatasi akan berdampak 2 kali berisiko terjadi perdarahan. Bukan hanya perdarahan yang ditemukan pada kehamilan dengan anemia tetapi juga didapatkan bayi BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah). Idealnya anemia lebih baik diperbaiki sebelum terjadinya kehamilan.
Intervensi yang diberikan pada Ny. M agar dapat mencegah resiko yang dapat terjadi dengan memberikan konseling pada ibu mengenai kebutuhan nutrisi dengan makanan mengandung zat besi, tinggi protein, sayur, dan buah serta rutin konsumsi tablet Fe minimal 90 tablet pada masa kehamilan. Nutrisi yang seimbang dan istirahat yang cukup dapat memberikan dampak yang baik bagi wanita hamil dengan anemia (Nirwana, 2011).
Pada tanggal 27 Desember 2019 dilakukan kunjungan kedua pada Ny. M pada usia kehamilan 32 minggu 3 hari dan ibu mengatakan tidak ada keluhan. Hasil pemeriksaan pada kunjungan II didapatkan pada pemeriksaan Umum adalah Td 100/80 mmhg Nadi 79 x/i, pernapasan 20 x/i serta Hb 10.1 gr/dl. Pada pemeriksaan palpasi abdomen didapatkan Leopold I TFU 23 cm, Leopold II punggung kiri, Leopold III teraba kepala, dan leopold IV divergen.
Penulis memberikan asuhan untuk asuhan dengan Hb ibu yang masuk dalam kategori anemia ringan dianjurkan ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisi dengan makan makanan yang mengandung zat besi, tinggi protein, sayur, dan buah serta rutin konsumsi tablet Fe pada masa kehamilan. Serta dengan nutrisi yang seimbang dan istirahat yang cukup
dapat memberikan dampak yang baik bagi wanita hamil dengan anemia (Nirwana, 2011).
Kemudian pada tanggal 30 Januari 2020 dilakukan kunjungan ketiga pada Ny. M usia kehamilan 37 minggu 2 hari. Ibu mengatakan perutnya sering kencang hilang timbul. Dilakukan pemeriksaan dan didapatkan hasil Keadaan Umum: Baik, Kesadaran :Composmetis, Berat badan sekarang : 58 Kg, TD: 110/70 mmHg, T: 36,5 oC, N: 79 x/m, R : 20x/m, Hb : 9,8 gr/dl (dilakukan pemeriksaan dipuskesmas pada tanggal 01/02/2020). Pada pemeriksaan palpasi abdomen didapatkan Leopold I TFU 31 cm, Leopold II punggung kiri, Leopold III teraba kepala, dan leopold IV konvergen.
Masalah yang timbul pada kunjungan ke-3 kehamilan yaitu perutnya terasa sering kencang hilang timbul yang sering disebut his palsu atau kontraksi Braxton Hicks adalah suatu tanda persalinan tidak pasti yang ditandai dengan uterus yang berkontraksi bila dirangsang dan datangnya kontraksi tidak menentu lamanya. Tanda ini khas untuk uterus pada masa kehamilan 32 sampai 36 minggu, dan akan semakin jelas kontraksinya pada usia kehamilan minggu ke 36 (Mander,2010).
Dan Saat merasakan tanda-tanda kontraksi palsu saat sedang beraktivitas, lekaslah beristirahat. Baringkan tubuh atur nafas dalam-dalam untuk mengurangi kepanikan dan menciptakan rasa nyaman pada pikiran dan tubuh. Jika kontraksi palsu dirasakan tiba-tiba saat ibu dalam keadaan diam bahkan tidur, ubahlah posisi tubuh, bisa dengan berjalan-jalan kecil.
Minum segelas air hangat, teh, atau mengonsumsi makanan dalam porsi kecil untuk mengatasi rasa nggak nyaman saat terjadi kontraksi palsu.
Mandi air hangat selama 20-30 menit juga bisa membuat tubuh rileks saat mengalami kontraksi palsu (Mander,2010).
Pada kunjungan ini juga didapatkan hasil bahwa Hb ibu menurun dari kunjungan awal yaitu 10,1 gr/dl ,menjadi 9,8 gr/ dl (dilakukan pemeriksaan dipuskesmas pada tanggal 01/02/2020) . Akan tetapi hasil tersebut meningkat dari pemeriksaan yang saya lakukan pada tanggal 27/01/2020 dengan hasil Hb: 9,6 gr/dl.
Asuhan yang diberikan pada Ny.M pada kunjungan III ini ibu tetap dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dengan makan makanan yang mengandung zat besi, tinggi protein, sayur, dan buah serta rutin konsumsi tablet Fe pada masa kehamilan. Serta dengan nutrisi yang seimbang dan istirahat yang cukup dapat memberikan dampak yang baik bagi wanita hamil dengan anemia (Nirwana, 2011).