1. Definisi
Bayi baru lahir merupakan individu yang sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma kelahiran serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterine ke kehidupan ekstrauterine.
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu dan berat badannya 2.500-4.000 gram (Dewi, 2012).
2. Penanganan bayi baru lahir
a. Pencegahan infeksi (JNPK-KR, 2013).
Sebelum menangani bayi baru lahir, penolong persalinan telah melakukan upaya pencegahan infeksi seperti berikut:
1) Cuci tangan sebelum dan sesudah bersentuhan dengan bayi.
2) Pakai sarung tangan bersih saat menangani bayi yang belum dimandikan.
3) Semua peralatan dan perlengkapan yang akan digunakan telah disterilkan. Khusus untuk bola karet penghisap lender angan dipakai untuk lebih dari satu bayi.
4) Handuk, pakaian atau kain yang akan digunaka dalam keadaan bersih (demikian juga dengan timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop).
5) Dekontaminasi dan cuci alat setelah digunakan.
b. Penilaian bayi baru lahir
Segera setelah lahir lakukan penilaian awal secara cepat dan tepat (0-30 detik) untuk membuat diagnosa dan dilakukan asuhan berikutnya, yang dinilai (Sarwono, 2011) yaitu bayi cukup bulan atau tidak, usaha
nafas terlihat dari bayi menangis keras, warna kulit sianosis atau tidak, dan gerakan aktif atau tidak. Jika bayi tidak bernafas, mengap-mengap atau lemah maka segera lakukan resistansi bayi baru lahir (JNPK-KR, 2013).
Tabel 2.9 Apgar Score Skor
0 1 2
Appearance color(warna kulit)
Biru pucat Badan merah muda, ekstremitas biru
Seluruh tubuh merah muda
Pulse (heart rate) atau
frekuensi jantung Tidak ada Lambat
<100x/menit >100x/menit
Grimace (reaksi terhadap rangsangan)
Tidak ada Merintih Menangis dengan
kuat, batuk/ bersin
Activity (tonus otot) Lumpuh Ekstremitas dalam
fleksi sedikit Gerakan aktif
Respiration (usaha
nafas) Tidak ada Lemah, tidak
teratur Menangis kuat Sumber : Saifuddin (2011)
Klasifikasi afsiksia menurut Saifuddin (2011) yaitu asfiksia ringan (apgar skor 7-10), asfiksia sedang (apgar skor 4-6), asfiksia berat (apgar skor 0-3).
c. Mempertahankan suhu bayi (Depkes RI,2012) 1) Mekanisme kehilangan panas
a) Konduksi : melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Bayi yang diletakkan di atas meja, tempat tidur atau timbangan yang dingin.
b) Konveksi : terajadi saat bayi terpapar dengan udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditemptkan dalam ruangan yang dingin, suhu udara di kamar bersalin minimal 20℃
dan tidak berangin. Tidak boleh ada pintu dan jendela yang terbuka.
c) Evaporasi : terjadi karena menguapnya cairan pada permukaan tubuh bayi lahir karena tidak segera dikeringkan. Hal yang sama dapat terjadi setelah bayi dimandikan. Karena itu bayi harus dikeringkan seluruhnya, termasuk kepala dan rambut, sesegera mungkin setelah dilahirkan menggunakan handuk hangat.
d) Radiasi : terjadi saat bayi ditempatkan dekat benda dengan temperature lebih dingin meskipun benda tersebut tidak bersentuhan langsung dengan tubuh bayi.
d. Mencegah Kehilangan Panas
Keringkan bayi segera setelah lahir untuk mencegah terjadinya evaporasi dengan menggunakan handuk atau kain (menyeka tubuh bayi juga termasuk rangsangan taktil untuk membantu memulai pernafasan), dan tidak memandikan bayi selama 6 jam setelah lahir untuk mencegah hipotermi (Depkes RI, 2012).
Inisiasi menyusui dini, berikan bayi kepada ibunya secepat mungkin, kontak dini diantara ibu dan bayi penting untuk kehangatan
mempertahankan panas yang besar pada bayi baru lahir dan ikatan batin dengan pemberian ASI (Saifuddin, 2011).
e. Pemeriksaan bayi baru lahir (Muslihatun, 2011)
Dalam waktu 24 jam, apabila bayi tidak mengalami masalah apapun, segeralah melakukan pemeriksaan fisik yang lebih lengkap. Hal penting yang harus dilakukan yaitu:
1) Periksa bayi di bawah pemancar panas dengan penerangan yang cukup, kecuali ada tanda-tanda jelas bahwa bayi sudah kepanasan.
2) Untuk kasus bayi baru lahir rujukan, minta orang tua/keluarga bayi hadir selama pemeriksaan dan sambal berbicara dengan keluarga bayi serta sebelum melepaskan pakaian bayi, perhatikan warna kulit, frekuensi nafas, postur tubuh, reaksi terhadap rangsangan dan abnomalitas yang nyata.
3) Gunakan tempat yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan.
4) Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, gunakan sarung tangan.
5) Bersikap lembut pada waktu memeriksa.
6) Lihat, dengar dan rasakan tiap-tiap detail pemeriksaan head to toe secara sistematis.
7) Jika ditemukan faktor resiko atau masalah, carilah bantuan lebih lanjut dan dokumentasikan setiap hasil pengamatan.
f. Pemeriksaan umum pada bayi (Saifuddin, 2010)
(1)Pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi denyut jantung bayi (120-180 kali per menit), suhu tubuh (36,5℃ -37,5℃), dan pernafasan (40-60 kali per menit).
(2)Pemeriksaan antropometri meliputi berat badan (2500-4000 gram), Panjang badan (44-53 cm), lingkar kepala (31-36 cm) terbagi atas fronto-oksipito (34 cm), bregma-oksipito (32 cm), subment-oksipito (35 cm), lingkar dada (30-33 cm), lingkar lengan (>9,5 cm).
(3)Pemeriksaan Fisik BBL
Pemeriksaan fisik bayi baru lahir adalah metode yang sangat penting untuk dilakukan oleh setiap dokter atau bidan. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi fisik bayi, apakah normal ataukah ada tanda-tanda cacat serta gangguan kesehatan lainnya.
Sebagaimana diketahui, kondisi bayi baru lahir sangat lemah.
Setelah berbulan-bulan hidup dalam rahim dan bernafas lewat cairan ketuban (amnion), saat lahir bayi harus beradaptasi dengan dunia.
Organ paru-parunya juga mulai bekerja untuk mengatur sistem pernafasan. Initnya, ada banyak perubahan fisiologik yang dialami bayi. Maka itu, perlu adanya pemeriksaan fisik secara lengkap sebelum bayi dipulangkan ke rumah. Umumnya pemeriksaan fisik bayi baru lahir dilakukan sebanyak 3 kali, yakni: Pemeriksaan awal yang dilakukan sesegera mungkin setelah bayi dilahirkan, Pemeriksaan fisik lengkap dilakukan saat kondisi bayi sudah stabil, sekitar 7-24 jam ketika bayi berada dalam kamar perawatan,
Pemeriksaan tahap akhir, dilakukan sebelum bayi pulang ke rumah (Saifuddin, 2010).
a)Reflek
(1) Tahap Gerak Refleks Telapak Tangan (palmar grasp reflex) Tahapan gerak refleks telapak tangan merupakan salah satu dari seluruh refleks bayi yang paling dikenal dan merupakan salah satu yang paling awal muncul pada usia balita.
(2) Tahap Gerak Refleks Menghisap (sucking reflex)
Tahapan gerak refleks menghisap dilakukan oleh bibir yang mendapat rangsangan, misalnya sentuhan susu ibu. Rangsangan ini sebenarnya menimbulkan dua respons yang berkaitan dengan menghisap.
(3) Tahap Gerak Refleks Pencarian (search reflex)
Tahapan gerak refleks pada pencarian ini membantu bayi mendapatkan sumber makanan dan kemudian refleks menghisap membuat bayi dapat mencerna makanan.
(4) Tahap Gerak Refleks Moro (moro reflex)
Tahapan gerak refleks moro paling bermanfaat untuk mendiagnosis kematangan neurologis bayi.
(5) Tahap Gerak Refleks tidak Simetrik Leher (asymmetrical tonic neck reflex)
Tahapan gerak refleks tidak simetrik leher pada umumnya dapat dilihat pada bayi yang lahir prematur.
(6) Tahapan Gerak Refleks Simetrik Leher (symmetrical tonic neck reflex)
Tahapan gerak refleks simetrik pada leher memberikan respons yang sama dengan anggota tubuhnya.
(7) Tahap Gerak Refleks Telapak Kaki (plantar grasp reflex) Tahapan gerak refleks ini normalnya dapat dilihat pada anak mulai dari sejak lahir hingga sepanjang tahun pertama usia bayi tersebut.
(8) Tahap Gerak Refleks kedua Telapak Tangan (palmar mandibular reflex).
Tahapan gerak refleks ini dapat muncul dengan jalan menerapkan tekanan secara serentak terhadap telapak dari masing-masing tangan, sehingga akan menimbulkan semua atau salah satu dari respons berikut: mulut terbuka, mata tertutup, dan leher menekuk.
(9) Tahap Gerak Refleks Berjalan Kaki (stepping reflex)
Tahapan gerak refleks ini merupakan gerakan yang sangat penting yang dilakukan secara sadar, yaitu berjalan kaki.
(10) Tahap Gerak Refleks Berenang (swimming reflex)
Tahapan Gerak refleks ini sangat luar biasa, karena gerakannya seperti orang berenang gaya dada (Allen, 2010).
b) Pemantauan bayi baru lahir
Menurut Saifuddin (2011), tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
Pemantauan bayi pada 2 jam pertama sesudah kelahiran meliputi kemampuan menghisap bayi kuat atau lemah, bayi tampak aktif atau lunglai, dan bayi kemerahan atau biru.
Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayi, penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap ada tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan tindak lanjut, seperti bayi kecil untuk masa kehamilan atau kurang bulan, gangguan pernafasan, hipotensi, infeksi, dan cacat bawaan atau trauma lahir.
c) Skor Ballard
Gambar 2.2 Skor Ballard
G. Konsep Dasar Masa Nifas