kondisi tak terduga akibat kondisi bawah tanah yang sangat jelek pada sebagian area pekerjaan sehingga membutuhkan penambahan jumlah tiang pancang atau perlakuan perbaikan tanah lainnya di luar apa yang telah disepakati di dalam kontrak.
6.2 Mengenai harga timpang, bukankah kontrak kegiatan konstruksi adalah mengikat. Mengapa jika terjadi perubahan volume pekerjaan, terdapat perubahan harga satuan dan jika masuk kriteria maka dianggap sebagai harga timpang padahal kontrak, BOQ dan DED sifatnya adalah mengikat?
Menanggapi pertanyaan di atas, memang benar bahwasanya isi dan ketentuan kontrak mengikat bagi kedua belah pihak yang berkontrak. Namun perlu diingat bahwa harga satuan baru akibat adanya pekerjaan perubahan merupakan hal yang wajar. Pekerjaan perubahan dapat dianggap sebagai suatu kesepakatan baru yang mana amandemen kontrak akan dibuat dan menjadi bagian tambahan dari kontrak itu sendiri. Perihal terkait besarnya volume pekerjaan perubahan dan perhitungan harga satuan baru merupakan kesepakatan antara para pihak – apakah tetap merujuk pada harga satuan yang berlaku di kontrak awal atau apakah berubah mengingat pertimbangan-pertimbangan yang ada.
Terkait harga satuan timpang, Perlem No. 9 Tahun 2018 mendefinisikan Harga Satuan Timpang sebagai harga satuan penawaran yang melebihi 110% (seratus sepuluh persen) dari harga satuan HPS, dan dinyatakan sebagai harga satuan timpang
berdasarkan hasil klarifikasi. Terdapat beberapa kondisi untuk mengevaluasi harga satuan timpang, yaitu:
1) Harga satuan yang nilainya lebih besar dari 110% dari harga satuan yang tercantum dalam HPS (Harga Perkiraan Sendiri);
2) Apabila setelah dilakukan klarifikasi ditemukan bahwa harga satuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan (misal sesuai dengan harga pasar terkini), maka harga satuan tersebut dinyatakan tidak timpang;
3) Apabila setelah dilakukan klarifikasi dan dinyatakan bahwa harga satuan tersebut sebagai harga satuan timpang, maka harga satuan timpang hanya berlaku untuk volume item tersebut sesuai daftar kuantitas dan harga.
Jika terjadi penambahan volume terhadap harga satuan timpang, maka pemberlakuan harga satuan timpang hanya terhadap penambahan volume yang dinyatakan timpang.
Dengan demikian, penyesuaian nilai pekerjaan terkait harga satuan timpang hanya berdampak pada perubahan pekerjaan.
Klarifikasi harga satuan timpang bersifat pemberitahuan kepada para pihak agar menyadari adanya nilai harga satuan penawaran yang 110% melebihi harga satuan HPS.
6.3 Apakah dimungkinkan kontak konstruksi menggunakan kontrak material by owner?
Kontrak dengan ketentuan dimana material dipasok oleh owner (material supply by owner atau SBO) merupakan hal yang wajar terjadi di dalam kontrak konstruksi. Terdapat beberapa alasan mengapa para pihak pada akhirnya sepakat untuk memasukkan ketentuan material SBO di dalam kontrak, antara lain:
(1) harga material yang cenderung tidak stabil sehingga menyulitkan proses penawaran tender;
(2) adanya keuntungan bagi owner untuk memperoleh material dengan lebih harga yang lebih bersaing;
(3) belum tuntasnya desain terkait spesifikasi material yang hendak digunakan meskipun paket pekerjaan sudah termasuk di dalam tender;
Meskipun demikian, dalam prakteknya material SBO memiliki risiko dalam manajemen rantai pasok. Dalam penelitiannya, Dei, Dharmayanti, dan Jaya (2017) mengidentifikasi 35 risiko dalam rantai pasok pekerjaan konstruksi dimana dua diantaranya terkait material SBO, yaitu keterlambatan owner dalam mensuplai material SBO dan owner mengirim material SBO yang tidak sesuai dengan spesifikasi.
Oleh karena itu, terkait material SBO ini maka owner memiliki tanggung jawab untuk:
(1) menyediakan material SBO kepada kontraktor pada saat yang dibutuhkan. Apabila owner lalai dalam menyediakan material SBO pada saat yang dibutuhkan di lapangan, maka kontraktor berhak atas klaim perpanjangan waktu dan/atau biaya tambahan.
(2) memastikan material SBO yang disediakan untuk pekerjaan telah memenuhi spesifikasi yang ditetapkan di dalam kontrak.
Sebaliknya, terkait material SBO ini kontraktor dapat:
(1) memberikan harga penawaran berupa pemasangan atau pelaksanaan pekerjaan dan material bantu.
(2) memastikan material SBO yang diterima dari owner telah memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.
(3) bertanggung jawab atas penggunaan material SBO di lapangan sebagaimana mestinya.
Perihal material SBO ini juga dapat ditemukan dalam FIDIC Red Book (2017) Klausul 2.6 tentang employer-supplied materials and/or employer’s equipment. Dengan demikian, kontrak konstruksi memungkinkan bagi owner untuk dapat memasok material dan juga peralatan yang sekiranya diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan.
6.4 Apa yang dimaksud HSPK/HSD yang dimunculkan setiap tahun?
Menurut buku Pelatihan Pengendali Biaya Pekerjaan (2005):
• Harga Satuan Dasar (HSD) adalah harga dari masing- masing upah, bahan dan alat yang dipakai sebagai dasar perhitungan analisa harga satuan pekerjaan yang dipakai sebagai dasar perhitungan RAB Harga Satuan Pekerjaan (HSP).
• Harga Satuan Pekerjaan (HSP) adalah suatu harga dari masing-masing jenis pekerjaan (pay item) yang diperoleh dari analisa harga satuan dasar (HSD) yang dipakai sebagai dasar perhitungan RAB Harga Satuan Pokok Kegiatan (HSPK).
• Harga Satuan Pokok Kegiatan (HSPK) adalah suatu harga dari jenis kegiatan untuk menyelesaikan dan berfungsinya suatu bangunan.
Berdasarkan pengertian diatas, maka HSD merupakan unit terkecil dalam perhitungan RAB sedangkan HSPK merupakan unit terbesarnya. HSD dihimpun dari berbagai sumber seperti
harga pasar dan buku harga satuan yang terbit berkala. HSP disusun berdasarkan analisa harga satuan dari setiap jenis kegiatan, sedangkan HSPK telah memperhitungkan volume dari tiap jenis kegiatan tersebut.
HSD dan HSPK diterbitkan secara berkala untuk digunakan dalam rangka penyusunan anggaran pemerintah di awal tahun. Selain itu, masing-masing propinsi dapat menerbitkan sendiri HSD dan HSPK. Karena sifatnya yang merupakan perkiraan harga (terutama terkait koefisien yang digunakan tidak bersifat mutlak), maka dasar perhitungan ini dapat berubah menyesuaikan dengan metode pelaksanaan yang akan diterapkan untuk masing-masing proyek konstruksi.
6.5 Sebagai seorang wakil pemilik proyek, apakah saya dapat menginstruksikan (instruction) kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan tambahan sebelum persetujuan atas klaim finansialnya?
Secara umum, wakil pemilik proyek disini dapat diartikan sebagai Engineer (dalam FIDIC) atau konsultan MK. Menurut banyak FSKK, konsultan MK memiliki wewenang untuk memerintahkan pekerjaan tambah kepada kontraktor. Dengan demikian, selagi konsultan MK memerintahkan pekerjaan tambah sesuai dengan prosedur dalam kontrak, maka hal itu dapat dilakukan.
Sebagai contoh, FIDIC Red Book (2017) memuat beberapa ketentuan yang menegaskan kewenangan konsultan MK dalam memberikan perintah perubahan pekerjaan (baik tambah atau
kurang) kepada kontraktor. Sub-klausul 3.5 terkait Instruksi Insinyur dijelaskan bahwa apabila sebuah instruksi insinyur merupakan sebuah perubahan pekerjaan, maka sub-klausul 13.3.1 [Perubahan Pekerjaan berdasarkan Instruksi] menjadi berlaku.
Sub-klausul 13.3.1 menjelaskan secara rinci prosedur perubahan pekerjaan berdasarkan instruksi insinyur/konsultan MK. Disini Engineer/konsultan MK harus memberikan sebuah pemberitahuan tertulis kepada kontraktor dan selanjutnya, kontraktor dalam kurun waktu 28 hari (atau kurun waktu lain yang disepakati bersama) setelah menerima instruksi engineer, akan menyerahkan laporan detail yang mencakup:
a. Sebuah deskripsi perubahan pekerjaan yang dilaksanakan atau akan dilaksanakan, termasuk detail sumber daya dan metode yang diadopsi atau akan diadopsi oleh kontraktor;
b. Sebuah program skedul pelaksanaan dan proposal kontraktor untuk modifikasi apapun yang dibutuhkan (jika ada) terhadap program sesuai dengan sub-klausul 8.3 [Program] dan terhadap waktu penyelesaian; dan c. Proposal kontraktor untuk penyesuaian Nilai Kontrak
dengan menilai besarnya perubahan pekerjaan sesuai dengan klausul 12 [Pengukuran dan Valuasi], dilengkapi dengan dokumen pendukung.
Selanjutnya, engineer akan mempertimbangkan sub-klausul 3.7 [Persetujuan atau Penentuan] untuk menyetujui atau menentukan:
(i) Perpanjangan waktu, jika ada; dan/atau (ii) Penyesuaian Nilai Kontrak.
6.6 Apa yang dimaksud dengan FIDIC Golden Principles?
FIDIC Golden Principles pertama kali diperkenalkan pada tahun 2019 yang merujuk pada prinsip-prinsip utama kontrak FIDIC yang membuat alokasi risiko/imbalan menjadi adil dan seimbang.
Pada hakekatnya, FIDIC Golden Principles ini memformulasikan inti kontrak-kontrak FIDIC pada sebuah tingkatan konseptual yang memudahkan pemahaman dan keberterimaan konsep ini kepada banyak orang.
FIDIC Golden Principles diformulasikan oleh sebuah gugus tugas khusus (TG15) yang dibentuk oleh FIDIC untuk mengidentifikasi apa saja prinsip-prinsip kontrak dari setiap format standar kontrak konstruksi FIDIC yang dianggap tidak bisa diganggu gugat dan sakral. Dengan adanya FIDIC Golden Principles ini akan memudahkan para praktisi untuk menilai apakah suatu kontrak telah disusun sesuai dengan standar FIDIC atau tidak. Hal ini dikarenakan pada prakteknya, selalu terdapat asas kebebasan berkontrak sehingga meskipun para pihak mengadopsi FSKK FIDIC, berbagai modifikasi yang dilakukan dapat menyebabkan kontrak tersebut tidak lagi mencerminkan prinsip utama kontrak FIDIC. Dengan kata lain, FIDIC Golden Principles dapat pula digunakan untuk mencegah atau setidaknya membatasi penyalahgunaan kontrak FIDIC.
Terdapat lima Golden Principles yang diuraikan FIDIC (2019) yaitu:
GP1: Tugas, hak, kewajiban, peran dan tanggung jawab semua Peserta Kontrak secara umum harus seperti yang tersirat dalam Syarat-Syarat Umum, dan sesuai dengan persyaratan proyek.
GP2: Syarat-Syarat Khusus harus disusun dengan jelas dan tanpa arti lain (tidak ambigu).
GP3: Syarat-Syarat Khusus tidak boleh mengubah keseimbangan alokasi risiko/imbalan yang diatur dalam Syarat-Syarat Umum.
GP4: Semua periode waktu yang ditentukan di dalam Kontrak bagi Kontrak Peserta untuk melakukan kewajibannya harus merupakan durasi yang wajar (reasonable duration).
GP5: Kecuali jika ada konflik dengan hukum yang mengatur Kontrak, semua perselisihan formal harus dirujuk ke Dewan Penghindaran/Ajudikasi Sengketa (atau Dewan Ajudikasi Sengketa, jika ada) untuk keputusan yang mengikat sementara sebagai sebuah kondisi preseden untuk arbitrase.
Dengan diterbitkannya FIDIC Golden Principles ini, maka para pihak diharapkan untuk melakukan modifikasi kontrak FIDIC sesuai dengan batasan sehingga tidak melanggar Golden Principles ini agar kontrak tetap dapat dianggap sebagai kontrak yang berpedoman pada FIDIC. Sebaliknya, merupakan sebuah hal menyesatkan dan tidak tepat untuk merujuk pada penggunaan suatu kontrak yang tidak mematuhi Golden Principles ini sebagai
“kontrak FIDIC”.