Ketika kita memikirkan cara berdoa, kita perlu berhati-hati agar tidak menganalisa secara berlebihan apa yang merupakan kegiatan yang wajar dan spontan. Dengan mudah kita dapat menjadi seperti kelabang (binatang yang memiliki kaki sangat banyak) yang tidak mengalami kesulitan apa-apa sampai ada orang yang bertanya kepadanya bagaimana ia tahu kaki yang mana yang harus melangkah lebih dulu. Ketika kelabang itu berhenti untuk memikirkan pertanyaan itu, ia menjadi begitu bingung sehingga tak dapat melangkah lagi. Demikian juga halnya, kita tidak usah terlalu memikirkan cara berdoa sehingga akhirnya kita tidak mampu membuat percakapan sederhana dengan Bapa surgawi kita. Namun, kita dapat memperbaiki kehidupan doa kita dengan melihat pedoman Alkitab mengenai doa:
1. Kita harus berdoa secara teratur.
Terutama ini penting bagi orang yang baru mulai berdoa. Perlu sekali ada suatu struktur, suatu disiplin. Bahkan, orang yang sudah lama mempraktikkan doa harus ingat akan pentingnya kebiasaan dan bahayanya membiarkan kebiasaan itu merosot menjadi hal yang diwajibkan.
Beberapa tahun yang lalu saya menemukan peribahasa yang sangat menolong saya, "Perbuatan-perbuatan yang rutin dapat menjadi jalan menuju anugerah."
Disiplin berdoa memang dapat merosot menjadi perbuatan rutin. Tetapi hanya apabila saya mau tekun melakukan kebiasaan-kebiasaan itulah saya dapat paling sedikit secara sekali-sekali mengalami berkat, yaitu berubahnya kebiasaan itu menjadi jalan menuju anugerah.
Oleh karena itu, saya berdoa secara teratur, entah ada pengalaman yang mengejutkan ataupun tidak. Saya berdoa, entah langit turun dan kemuliaan memenuhi jiwa saya ataupun tidak. Saya berdoa karena saya percaya bahwa Tuhan itu setia dan Roh Kudus terus bekerja tanpa mempedulikan bagaimana perasaan saya. Mengembangkan kebiasaan berdoa lebih bermanfaat bagi kehidupan rohani saya dalam jangka panjang daripada menunggu dorongan hati yang sekali- kali menyuruh saya berdoa.
Alkitab memperingatkan kita agar terus-menerus berdoa. Lukas 18:1 berbunyi,
"Mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu," dan 1Tesalonika 5:17,
"Tetaplah berdoa." Bila kita membaca ayat- ayat itu mungkin kita bertanya-tanya bagaimana hal itu dapat dilakukan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kita
bergantung pada bimbingan Tuhan setiap saat. Ayat-ayat tersebut juga berarti kita mengakui bahwa setiap hembusan napas adalah pemberian dari Tuhan.
Tetaplah berdoa bukan berarti harus ada komunikasi secara sadar antara kita dengan Tuhan. Tetapi, itu berarti bahwa doa adalah disiplin dan kebiasaan, sesuatu yang sudah kita jadikan peraturan dan kita lakukan dalam hidup kita.
2. Kita harus berdoa dengan jujur.
Kita menghadap Bapa surgawi yang mengasihi kita dan yang tidak akan menolak keterusterangan kita sewaktu kita berbicara dengan- Nya. Tidak ada apa pun yang tidak boleh kita sampaikan kepada Tuhan. Tak ada satu pun pikiran kita yang tak diketahui-Nya. Jadi, kita pun harus memberitahukan hal itu kepada-Nya,
e-BinaAnak 2005
196
entah kita menyampaikannya dengan kata-kata ataupun tanpa kata-kata. Kita bebas menyampaikan apa pun yang kita pikirkan kepada-Nya. Seperti Mazmur 139:23,24 mengatakan, "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!"
3. Kita harus berdoa dengan penuh keberanian.
Ibrani 4:16 lebih merupakan permohonan yang mendesak daripada petunjuk,
"Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." Dalam bahasa Yunani kata penuh keberanian itu berarti "berbicara secara terbuka sepenuhnya". Artinya, memberi tahu secara tepat kepada Tuhan bagaimana perasaan kita mengenai diri kita sendiri dan mengenai keadaan hidup kita. Kita harus berdoa dengan sikap terbuka, bebas, dan penuh keberanian.
Doa bukanlah komunikasi satu arah. Doa meliputi juga hal mendengarkan selain hal berbicara. Kita percaya bahwa melalui Firman-Nya Tuhan berbicara kepada kita. Kita membaca Alkitab dan berusaha mendengarkan waktu Allah berbicara melalui
pembacaan itu. Kita membaca dan kemudian berdoa, lalu mambaca lagi dan berdoa lagi. Ada orang yang berdoa dan setelah itu merenungkan, berusaha memusatkan pikiran mereka pada Tuhan. Meskipun mereka tidak memberi kesaksian bahwa mereka memperoleh pesan yang dapat mereka dengar, mereka memberi kesaksian bahwa mereka memperoleh wawasan yang jelas mengenai sifat dan kehendak Allah. Allah berbicara kepada kita melalui jalan yang lain juga - buku, kesaksian, khotbah, dan nyanyian pujian. Kita perlu menjaga jangan sampai kita berbicara terlalu banyak dan mendengarkan terlalu sedikit.
Doa tidak harus selalu dengan kata-kata. Kita dapat mengangkat jiwa kita atau
mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan tanpa mengucapkan kata-kata, hanya dengan memikirkannya. Ada saat-saat yang kita tak dapat secara sadar menyusun dengan kata-kata apa yang muncul di dalam jiwa kita. Pada saat-saat demikian kita kembali pada Roma 8:26, "Kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."
Kadang-kadang, doa tertulis dapat membantu. Ada kumpulan doa-doa yang bagus sekali, misalnya Diary of Private Prayer karangan John Baille, yang sering dapat mengungkapkan secara lebih baik perasaan- perasaan dan keinginan-keinginan yang paling dalam di hati saya. Saya dapat membaca beberapa doa itu dengan diam. Atau saya dapat membacanya keras-keras, dengan menambahkan kata-kata AMIN saya sendiri. Saya membaca apa yang sebenarnya ingin saya katakan tetapi tak mampu saya ucapkan. Saya berterima kasih kepada saudara-saudara seiman yang
memberikan kata-kata untuk menyuarakan apa yang terkandung di dalam hati saya.
Tetapi, apa pun disiplin yang kita anut, apa pun metode yang kita pergunakan, hal yang paling penting adalah berdoa - secara teratur, secara jujur, dan dengan penuh
keberanian.
e-BinaAnak 2005
197 Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Pola Hidup Kristen Judul Artikel: Bagaimana Berdoa Penulis : Vernon Grounds
Penerjemah : Yayasan Penerbit Gandum Mas
Penerbit : Diterbitkan Atas Kerjasama: Penerbit Gandum Mas, Yayasan Kalam Hidup dan YAKIN
Halaman : 656 - 659
e-BinaAnak 2005
198
Bahan Mengajar: Doa: Bagai Menarik dan Menghembuskan Nafas
Refleksi untuk Guru dan Orangtua:
Berbicara, merenung, dan berserah diri kepada Sang Pencipta adalah bagaikan menarik dan menghembuskan napas. Namun, seringkali pertumbuhan kehidupan doa kita terhambat karena adanya hal-hal tak penting yang mengintimidasi. Entah dari mana kita percaya bahwa ada rumus untuk berdoa. Kita diajarkan untuk tidak berdoa begini atau begitu. Atau, kita tidak boleh meminta sesuatu sebelum kita mengampuni. Doa dibebani dengan aturan-aturan, tata cara, dan kebijakan yang membuat kita tidak mampu berdoa.
Ketika murid-murid berkata, "Ajar kami berdoa," Yesus mengajarkan kepada mereka sebuah doa yang bebas dari aturan-aturan tertentu. dan doa-Nya mengajarkan kepada kita bahwa Allah tidak sekadar memperhatikan kata-kata doa kita tetapi juga keluhan- keluhan kita yang tak terucapkan, bahwa Allah peduli terhadap kehidupan dan
kebutuhan kita sehari-hari, dan bahwa kita diberi hak untuk datang kepada Allah tanpa takut dan dengan pengharapan. Kita tidak memerlukan imam besar atau altar khusus untuk datang kepada Allah: Allah ada dalam jangkauan kita.
Saya yakin salah satu alasan mengapa Allah senang kepada Daud adalah karena ia begitu jujur dalam doa-doanya. Ia tidak takut mengekspresikan rasa marah, iri, jengkel, rendah hati, sikap kekanak-kanakan atau kata-kata puitis kepada Allah. Dengan kata lain, ia dapat berkomunikasi dengan Allah apa adanya. Daud juga menyadari betapa benar perlunya berdiam diri dalam doa. Karena jika Anda meminta, tentunya Anda perlu mendengarkan jawaban atas permintaan Anda.
Refleksi untuk Seluruh Anggota SM/Keluarga:
Para pengikut Yesus meminta agar Dia mengajar mereka berdoa. Mereka tidak tahu bagaiamana harus berdoa, sebab mereka selalu bergantung pada seseorang yang mereka anggap lebih layak untuk berdoa bagi mereka. Mereka takut salah dalam berdoa. Maka Yesus mengajar mereka berdoa, "Allah akan selalu mendengar segala doamu. Allah layak dimuliakan dan ditinggikan." Satu hal yang paling menonjol
mengenai doa adalah bahwa kita harus terus berdoa.
Ada banyak cara untuk berdoa. Kita dapat berdiri, duduk, menundukkan kepala,
menutup mata, bertelut, mengangkat tangan, saling berpandangan, berseru, menyanyi, sambil berlari atau berdiam diri. yang paling penting kita harus datang kepada Allah apa adanya. Allah ingin kita jujur dengan setiap perkataan, pertanyaan, dan kebutuhan yang kita naikkan. Allah senantiasa bersama kita.
e-BinaAnak 2005
199 Hari 1: Berdoa Dengan Jujur: Doa Bapa Kami Matius 6:1-13
1. Apa perbedaan antara doa yang jujur dan doa yang munafik?
2. Kapan dan di mana kamu saling berdoa? Mengapa?
Hari 2: Terus Mengetuk Lukas 11:1-13
1. Menurut Yesus, mengapa orang dalam kisah di atas akhirnya bangun dari tidurnya dan memberikan apa yang diperlukan tetangganya?
2. Terkadang kita berdoa untuk seseorang atau sesuatu begitu lama, bahkan bertahun-tahun, dan lama kelamaan kita pun mulai menyerah dan berhenti melakukannya. Ceritakanlah tentang sebuah doa yang sudah kamu doakan begitu lama, dan perbaharuilah komitmenmu untuk terus mendoakan hal itu.
Hari 3: Doa yang Tekun Lukas 18:1-8
1. Mengapa sang hakim akhirnya mengabulkan permintaan janda itu?
2. Janda itu tahu bahwa ia benar. Adakah kamu mengetahui sesuatu yang tidak adil sedang terjadi di lingkungan atau sekolahmu? Komitmen doa apa yang akan kamu buat?
Hari 4: Kesombongan dan Kata-Kata Kosong Lukas 18:9-14
1. Mengapa orang-orang Farisi menganggap diri mereka lebih baik dari pemungut cukai? Mengapa Yesus tidak membenarkan hal itu?
2. Apakah kalimat yang akan kamu gunakan untuk menggambarkan dirimu di hadapan Allah?
Hari 5: Berdoa Dalam Roh Roma 8:26-27
1. Bagaimana Roh membantu kita dalam berdoa?
2. Apakah kamu merasa tidak yakin akan bagaimana dan apa yang harus didoakan? Berlatihlah untuk berdiam diri beberapa saat setelah kamu