• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagaimanakah Kamu Bisa Adil?

Dalam dokumen e-BinaAnak 2005 - MEDIA SABDA (Halaman 156-195)

Artikel berikut ini merupakan artikel yang ditulis khusus untuk anak-anak. Anda dapat memberikan artikel ini sebagai bahan bacaan untuk murid atau anak Anda. Anda juga dapat membacakannya bagi mereka yang belum dapat membaca.

Ada banyak cara agar kamu bisa bersikap adil. Kamu bisa berbagi dan bergantian.

Kamu bisa memutuskan untuk tidak cemburu kepada seseorang. Kamu bisa

menunjukkan sikap hormat terhadap orang seandainya pun mereka lain dari dirimu.

Kamu bisa menemukan cara yang baik untuk bersikap ketika seseorang tidak adil terhadapmu.

1. Berbagi dan bergantian.

Kamu bisa bergantian main ayunan, main perosotan, atau main peralatan olahraga ketika istirahat. Kamu bisa bergantian main komputer. Kamu bisa berbagi kentang atau sekotak spidol. Kamu bisa antri naik bus atau ke kamar kecil. Orang lain pun antri, dan ada yang sudah datang duluan. Adillah kalau mereka masuk lebih dulu.

2. Putuskan untuk tidak cemburu.

Terkadang orang mempunyai hal-hal yang tidak kamu punyai. Kamu mungkin merasa cemburu dan menyesal tidak mempunyai apa yang mereka punyai atau tidak seperti mereka. Sulit memang untuk tidak cemburu. Tetapi cemburu membuatmu tidak bahagia. dan itu bisa membuat orang lain susah juga. Dalam permainan kasti, mungkin pukulan temanmu lebih tepat daripada pukulanmu.

Bagaimanakah seandainya kamu berkata kepadanya, "Tidak adil sekali bahwa pukulanku lebih sering meleset daripada pukulanmu!" Bisa-bisa ia merasa tidak enak dengan ketrampilan istimewanya itu. Sebagai gantinya, kamu bisa saja mengatakan, "Hebat betul pukulanmu! Bagaimana sih caranya?" Maka temanmu akan bangga dan kamu pun akan senang. Mungkin temanmu bahkan akan menawarkan diri untuk membantumu melatih ayunan pukulanmu.

Ingatlah, bakat orang lain mungkin berbeda dengan bakatmu, tetapi kamu pun mempunyai bakat serta ketrampilan. Bagian dari tugasmu antara lain

menemukan kemampuan-kemampuan istimewa dan minat- minatmu sendiri lalu mengembangkannya. Kalau kamu berbuat semampumu untuk tidak cemburu, mungkin saja kamu menemukan seseorang yang bisa membantumu

"menumbuhkan" bakatmu. Mungkin juga kamu temukan bahwa kamu pun bisa membantu yang lain.

3. Hormatilah semua orang.

Orang itu berbeda satu sama lain dalam banyak hal. Ada orang yang gelap warna kulitnya, ada juga yang terang. Ada orang yang berbicara bahasa Inggris, ada yang berbicara bahasa Spanyol, ada yang berbicara bahasa Vietnam, dan ada yang berbicara bahasa Perancis. Ada orang yang menjadi umat Kristiani, atau Hindu, atau Muslim, atau Budha. Ada orang yang pandai membaca atau pandai matematika. Ada juga yang tidak. Ada yang dapat melompat dan berlari

e-BinaAnak 2005

157 dengan mudah. Ada juga yang tidak.

Adalah tidak adil mengabaikan atau kejam terhadap seseorang yang berbeda darimu. Mengapa tidak ramah terhadap orang yang tidak sama sepertimu?

Maka, kamu bisa menemukan cara-cara untuk saling mempelajari dan menikmati satu sama lain.

Ketika Orang Lain Tidak Adil

Ketika seseorang tidak adil terhadapmu, kamu mungkin ingin menangis, marah, membentak, atau membalas dengan kejam. Tidak satu pun dari semuanya itu akan membantumu ataupun orang tersebut untuk belajar lebih adil satu sama lain. Berikut adalah beberapa ide yang dapat kamu terapkan ketika seseorang tidak adil

terhadapmu:

1. Bicarakanlah masalahnya dengan orang itu. Kamu bisa mengatakan, "Kurasa semua orang seharusnya mendapatkan giliran. Bagaimana menurutmu?" Atau,

"Kurasa kita masing-masing seharusnya mendapatkan bagian yang sama".

2. Mintalah tolong kepada orang dewasa, entah guru atau orangtuamu.

3. Abaikanlah apa yang telah terjadi. Kalau toh tidak terlalu mengganggu, lupakanlah.

4. Tertawakanlah. Ini bisa mengejutkan bermain orang dan membantu mereka keluar dari suasana yang tegang.

5. Ubahlah kegiatannya. Carilah sesuatu yang lain untuk dilakukan bersama-sama.

6. Pergilah ke tempat lain untuk bekerja atau bermain.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku : Character Building untuk Anak-anak Penulis : Barbara A. Lewis

Penerbit : Karisma, Batam, 2004 Halaman : 73 - 76

e-BinaAnak 2005

158

Bahan Mengajar: Keadilan: Sungguh Tidak Adil

Renungan untuk Orangtua dan Guru:

"Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri? Hai manusia, telah diberitahukan

kepadamu apa yang baik dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:6-8)

Hidup dengan memperhatikan sesama baik yang dekat maupun yang jauh adalah hal yang seharusnya kita lakukan. Seperti biasa, Yesus mengajak kita untuk memahami sebuah pengertian yang baru dan radikal tentang tanggung jawab kita terhadap

keluarga secara global. Lebih dari sekadar saling memperhatikan; kita dipanggil untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Kita tidak hanya diminta untuk sekadar membagikan sup; tetapi juga untuk ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Dengan demikian, kita akan lebih diperhitungkan dalam menyuarakan persamaan hak dan keadilan.

Yesus mengatakan bahwa perintah kedua, yaitu mengasihi sesama, sebenarnya sama dengan yang pertama. Saling mengasihi adalah salah satu cara untuk mengasihi Allah.

Dalam sudut pandang Allah, kasih bukanlah sesuatu yang gampang. Kasih Allah terwujud dalam setiap usaha, keringat, komitmen, penghargaan, kesetiaan, dan juga penyerahan. Penyerahan yang paling murni berarti meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita. Bersikap adil dan jujur satu sama lain, secara sederhana, dapat dimengerti sebagai tindakan untuk meneruskan kepada orang lain mengenai apa yang telah diberikan kepada kita masing-masing dengan limpah.

Refleksi untuk Seluruh Anggota Keluarga/Kelas SM:

Setiap kali kamu menunggu giliran untuk memukul bola, mengambil makanan, atau mandi, ketika kamu harus sabar mengantri, bukankah waktu rasanya tak kunjung berakhir? Bagaimana rasanya jika tiba-tiba seseorang yang bertubuh lebih besar darimu menyerobot antrian di depanmu? yang segera muncul dalam pikiranmu kemungkinan adalah "Ini tidak adil!" Memang tidak adil. dan seperti itulah keadilan.

Keadilan dapat terwujud jika setiap orang sepakat berlaku adil. Semua orang yang dengan sabar mengantri di belakangmu mengerti bahwa keadilan berarti menunggu giliran dengan sabar. Jika setiap orang bertindak adil, maka semua akan puas.

Tetapi keadilan bukan hanya berarti menunggu gilranmu saja. Keadilan juga memberi kepastian bahwa setiap orang memperoleh gilirannya. Sebagian orang bertubuh lebih kecil darimu. Sementara yang lain mengira bahwa karena lebih besar dan lebih kuat,

e-BinaAnak 2005

159

mereka dapat menyingkirkan orang lain di sekitarnya. Kamu tahu bahwa itu tidak benar, tetapi untuk menentang hal itu tampaknya cukup berbahaya. Tetapi bagaimana jika yang lain juga merasakan hal yang sama? Hanya perlu ada seseorang yang

mengatakan, "Hei, mari kita sama-sama berbicara agar mereka berlaku adil."

Masalahnya mungkin belum tentu teratasi, tetapi pasti lebih mudah diatasi. Allah senantiasa bersikap adil terhadap kita. Mungkin inilah saatnya bagi kita untuk meneruskan sikap itu kepada orang lain.

Hari 1: Apa yang Tuhan Tuntut (Ulangan 10:12-22)

Orang asing adalah mereka yang tinggal dalam sebuah komunitas tanpa memiliki status suku. Secara hukum, mereka tidak berdaya dan terus- menerus menghadapi bahaya eksploitasi.

1. Dalam kisah di atas, bagaimana Allah menunjukkan keadilan-Nya?

2. Adakah seseorang yang tinggal di antara kita atau di sekitar kita yang dapat disebut sebagai "orang asing?"

Hari 2: Yosua Bersikap Adil Terhadap Rahab (Yosua 2:1-24; 6:20-25)

Umat Israel tiba di akhir perjalanan panjangnya menuju ke Tanah Kanaan, Tanah

Perjanjian. Kota Yerikho berada di antara mereka dan lembah yang menuju ke Kanaan.

1. Apakah janji yang diberikan utusan Yosua kepada Rahab?

2. Apakah janji-janji yang kamu buat dan kamu usahakan sekeras mungkin agar ditepati?

Hari 3: Keadilan Bagi Orang-Orang yang Dikasihi Allah (Matius 5:1-12)

1. Menurut ayat-ayat ini, siapakah yang memiliki Kerajaan Surga? (Lihat Yesaya 66:2 tentang "orang yang patah semangat".)

2. Pilihlah ucapan bahagia yang paling sesuai untuk dirimu dan jelaskan mengapa itu paling sesuai untuk dirimu!

Hari 4: Keadilan Allah Adalah Bagian Kita (Matius 7:7-12)

1. Bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang lain?

e-BinaAnak 2005

160

2. Ceritakanlah bagaimana kamu ingin diperlakukan. Apakah sukar bagimu untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kamu inginkan agar orang lain perbuat padamu?

Hari 5: Pekerja-Pekerja di Kebun Anggur (Matius 20:1-16)

1. Bagaimana sang pemilik kebun anggur membenarkan tindakannya memberi upah yang sama kepada semua pekerja?

2. Terkadang keadilan sukar diterima ketika kita seolah merasa dirugikan.

Pikirkanlah tentang suatu kejadian ketika sesuatu yang "adil" justru membuatmu tidak bahagia. Mengapa?

Hari 6: Melihat Ketidakadilan (Lukas 23:33-39)

Setelah dituduh secara keji oleh para pemimpin agama Yahudi, Yesus dihukum mati dengan cara disalib.

1. Mengapa salah seorang dari kedua penjahat yang disalib bersama- Nya itu merasa bahwa Yesus telah diperlakukan secara tidak adil?

2. Diperlakukan secara tidak adil memang amat menyakitkan. Pernahkah kamu diperlakukan secara tidak adil? Pernahkah kamu memperlakukan seseorang secara tidak adil?

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku : Belajar Bersama Penulis : Janice Y. Cook

Penerjemah : Indawati Marsudi

Penerbit : Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1999 Halaman : 150 - 152

Mutiara Guru

Setiap keadilan menjadikan dunia lebih baik.

Dari Anda Untuk Anda

From: Eko K. Sitepu <eko@>

>Syalom,

>Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan banyak manfaat dari membaca

>bina anak ini, saya mau usul bagaimana kalau setiap terbitan juga

>dibuat dalam bentuk PDF supaya lebih mudah dicetak, karena saya

e-BinaAnak 2005

161

>biasanya membaca dalam bentuk cetak dan lagi lebih gampang

>disebarluaskan kepada teman-teman supaya banyak yang mendapatkan

>manfaatnya.

>Salam,

>Eko K. Sitepu Redaksi:

Kami mengucap syukur untuk setiap berkat yang Sdr. Eko dan teman- teman lain dapatkan melalui e-BinaAnak ini. Terima kasih juga untuk usulan yang disampaikan kepada kami. Tapi, untuk saat ini kami belum bisa menampilkan e-BinaAnak dalam bentuk PDF. Jika Anda ingin bisa mencetak dengan tampilan yang lebih rapi, silakan Anda berkunjung ke arsip situs e-BinaAnak di:

http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/

atau Situs PEPAK di:

http://www.sabda.org/pepak/e-binaanak/

Oh iya, jika teman-teman Anda memiliki alamat email, silakan kirimkan alamat email mereka kepada kami supaya bisa kami daftarkan sebagai pelanggan e-BinaAnak. Oke?

Selamat melayani.

Dari Redaksi Untuk Anda

Melalui pemberitahuan ini kami, segenap Redaksi Publikasi YLSA (Yayasan Lembaga SABDA), mohon maaf kepada para pelanggan atas keterlambatan penerbitan beberapa publikasi I-KAN (yaitu: e-Konsel Edisi 085/2005; e-BinaAnak Edisi 224/2005; e-JEMMi Edisi 15/2005; dan e-Penulis 006/2005), yang seharusnya terbit pada minggu lalu (antara tanggal 12 - 15 April 2005).

Masalah keterlambatan ini bukan berasal dari meja Redaksi tapi karena MAIL SERVER SABDA yang ada di luar DOWN selama lebih dari satu minggu. Namun kami bersyukur, awal minggu ini mail server tersebut sudah bisa hidup kembali. Untuk semua

ketidaknyamanan ini kami mohon maaf sebesar-besarnya. Atas perhatian dan dukungan doanya, segenap Redaksi mengucapkan terima kasih kepada semua pelanggan publikasi I-KAN.

Selamat melayani,

Koordinator Publikasi YLSA (Tesa)

e-BinaAnak 2005

162

e-BinaAnak 225/April/2005: Kepedulian

Salam dari Redaksi

Salam kasih dalam penyertaan Yesus Kristus,

Pondasi dasar karakter peduli dalam diri seorang anak sebenarnya sudah ada sejak mereka masih sangat dini. Tinggal bagaimana kita membangun di atas dasar itu tembok kepedulian yang kokoh dalam diri mereka. Oleh karena itu, minggu ini kami suguhkan kepada Anda dua Artikel dan satu Tips hal-hal yang dibutuhkan untuk membangun rasa peduli yang tinggi dalam diri anak-anak didik Anda. Mungkin bahan- bahan yang kami sediakan tersebut masih kurang lengkap untuk membangun karakter peduli dalam diri anak dan murid Anda, tetapi paling tidak dapat membantu Anda untuk memulainya.

Selamat mendidik! (Dav) Tim Redaksi

"Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran."

(1Yohanes 3:18)

< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=1Yohanes+3:18 >

e-BinaAnak 2005

163

Artikel: Menumbuhkan Rasa Peduli Akan Orang Lain

Rasa peduli adalah ibarat batu bata untuk bangunan yang bernama kasih. Tanpa adanya kepedulian tidak mungkin terdapat rasa kasih pada seseorang.

Apa yang dimaksud dengan kepedulian? Kepedulian adalah kesanggupan untuk peka terhadap kebutuhan orang lain dan kesanggupan untuk turut merasakan perasaan orang lain serta menempatkan diri dalam keadaan orang lain (empati).

Peka yang dibicarakan di sini bukan dalam arti sifat orang yang perhatiannya tertuju ke dalam, kepada dirinya (self-centered) sehingga mudah tersinggung perasaannya, melainkan sifat orang yang perhatiannya tertuju keluar, kepada orang lain, yang mudah merasa iba kepada orang lain (extra-centered sensitivity).

Kepekaan dan kepedulian membuat orang melihat keluar dari dirinya, dan menyelami perasaan dan kebutuhan orang lain, lalu menanggapi dan melakukan perbuatan yang diperlukan untuk orang lain dan dunia di sekelilingnya.

Kepekaan dan kepedulian adalah nilai yang sangat penting dipunyai seseorang. Pada nilai ini terkait banyak nilai lainnya, antara lain: kedisiplinan, kejujuran, kerendahan hati, cinta kasih, keramahan, kebaikan hati, kebijaksanaan, dan sebagainya. Kebahagiaan yang dialami seseorang sebagian besar adalah hasil kepekaan dan kepedulian orang tersebut terhadap perasaan, kesempatan, dan kebutuhan orang lain dan dunia di sekitarnya.

Untuk dapat bersikap peka dan peduli dibutuhkan tingkat kematangan kepribadian tertentu. Bagi anak kecil yang masih bersifat egosentris, yang cenderung melihat

persoalan dari sudut pandang sendiri, memang masih ditemui kesulitan. Namun, bukan berarti bahwa mereka belum perlu belajar, karena secara perlahan-lahan mereka dapat mengerti bahwa orang lain mempunyai sudut pandangnya masing- masing dan

kepentingannya masing-masing. Banyak anak sudah mulai dapat bersikap peka dan peduli terhadap orang lain sejak usia sangat dini.

Kunci yang paling penting dalam mengajar anak kepekaan dan kepedulian ialah sikap orangtua, pendidik lainnya, atau guru yang tidak cepat menyerah, tetapi bertekun dan berusaha terus, serta tidak mengharapkan hasil dalam waktu singkat. di samping itu, hal lain yang perlu disadari adalah, dan ini yang paling sukar, kepekaan dan kepedulian harus dimulai dari diri kita sendiri. Kalau kita mau anak bersikap peka dan peduli, kita pun harus bersikap demikian, jangan hanya kita menuntutnya dari anak. Seringkali sebagai orangtua, pendidik lainnya atau guru kita tidak bisa atau tidak mau

menempatkan diri di tempat anak-anak kita. di mata mereka, kita barangkali orang dewasa yang kadang-kadang tidak peduli, tidak toleran, kuatir, marah, cerewet, dan menjengkelkan.

e-BinaAnak 2005

164

Gejala dan Penyebab

Pada umumnya, banyak gejala penyakit disebabkan karena adanya suatu benda asing dalam tubuh manusia, misalnya virus atau bakteri. Namun, dalam banyak masalah anak, penyebabnya ialah justru tidak adanya sesuatu dalam diri anak-anak tersebut, yaitu tidak adanya kepekaan dan kepedulian terhadap kebutuhan orang lain. Kalau dalam diri anak ada kepekaan dan kepedulian, maka gejala egois, memberontak,

menjengkelkan, malas, dan tidak jujur dapat dihindarkan atau dikurangi. Oleh sebab itu, kepekaan dan kepedulian adalah obat pencegah dari banyak masalah anak.

Kaca Cermin dan Kaca Jendela

Banyak masalah yang dihadapi anak dan banyak ketidakbahagiaan yang dialaminya adalah akibat kecenderungannya untuk melihat pada cermin. Pada kaca cermin yang dilihatnya adalah dirinya sendiri, dan bagaimana orang-orang dan keadaan

mempengaruhi dirinya. Maka yang dipikirkannya adalah mengenai dirinya sendiri (terutama hal ini terdapat pada anak remaja) dan apa yang dapat dilakukannya untuk melawan keadaan, melawan orangtua, serta memperalat orang untuk melaksanakan keinginannya.

Tujuan kita adalah untuk mengangkat sebagian dari kaca cermin anak- anak kita dan menggantinya dengan kaca jendela. Melalui kaca jendela, yang mereka lihat bukanlah dirinya sendiri, melainkan orang lain dan kebutuhan orang lain. Setiap orang

mempunyai daya untuk mengubah kaca cerminnya menjadi kaca jendela. Mengubah kaca cermin menjadi kaca jendela adalah langkah penting untuk dapat bersikap peka dan peduli.

Orang yang perhatiannya tertuju kepada orang lain (extra centered) akan bersikap:

1. Lebih sadar akan kepentingan dan kebutuhan orang lain.

2. Berkurang perhatiannya akan kepentingan diri sendiri. Karena perhatiannya tertuju pada orang lain, ia dapat melihat kebutuhan orang lain. Tetapi juga, ia bisa membandingkan orang lain dengan dirinya dan dapat menyadari

perbedaannya. Karena ia dapat melihat dirinya dengan lebih baik, ia lebih menghargai kekhususan dirinya.

3. Berkurang kecenderungan untuk ikut-ikutan dengan orang lain dan kurang bergantung pada persetujuan teman sekelompok.

4. Bertambah kesadaran akan keunikan diri sendiri dan karenanya rasa yakin dirinya berkembang.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku : Ajarlah Mereka Melakukan Penulis : Andar Ismail

Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1998 Halaman : 186 - 188

e-BinaAnak 2005

165

Bahan Mengajar: Peduli - Apakah Artinya?

Artikel berikut ini sebenarnya ditujukan untuk anak-anak (pra Remaja atau Remaja).

Oleh karena itu, bahasa yang dipakai cukup sederhana untuk dipahami oleh mereka.

Namun demikian, guru SM dapat juga menggunakannya untuk mengajar anak atau murid yang lebih kecil dengan cara menyampaikannya dengan bahasa yang dimengerti anak-anak dan disertai contoh-contoh praktis. Dalam Bahan Mengajar ini Anda dapat menemukan cara-cara praktis untuk melatih dan membangun karakter peduli dalam diri anak. Selamat mengajar!

Suatu hari, seekor burung dara besar yang bergabung terbang ke jendela rumah kami.

Ia jatuh dan tidak bergerak. Tiba-tiba saja turun seekor burung dara lainnya ke dekat burung pertama yang jatuh tadi. Burung dara yang kedua mulai bersuara dan

mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia temani burung yang pertama tadi selama kira- kira dua puluh menit, membujuknya. Lalu, burung dara yang besar itu bangkit berdiri.

Suara burung yang lebih kecil itu berubah nyaring seolah- olah menegur. Ia melompat- lompat dan terus bersuara nyaring hingga burung dara yang besar akhirnya

mengibaskan sayapnya dan terbang bersama pasangannya itu. Dengan menemani serta menolong pasangannya, burung dara yang kedua tampaknya menunjukkan bahwa ia peduli terhadap pasangannya itu.

Peduli adalah soal bagaimana kita memperlakukan sesama kita. Menunjukkan

kepedulian, bersikap baik hati, mau berbagi, menolong, dan memberi adalah cara-cara kita untuk menunjukkan bahwa kita peduli. Kalau kamu membagi cokelatmu dengan adikmu atau menolong ayahmu membersihkan dapur, kamu menunjukkan bahwa kamu peduli.

Kalau kamu memungut kertas-kertas bekas yang berserakan di lantai ruang kelasmu, kamu menunjukkan kepada gurumu bahwa kamu peduli. Kamu tunjukkan kepada nenekmu bahwa kamu peduli kalau kamu pindah duduk di lantai agar nenekmu bisa duduk di kursimu. Kamu tunjukkan kepada para tetanggamu bahwa kamu peduli kalau kamu antarkan surat kabar mereka ke depan pintu atau membersihkan salju dari depan rumah mereka.

Setiap harinya, ada ratusan cara yang bisa kamu pakai untuk menunjukkan bahwa kamu peduli. dan salah satu hal yang paling menyenangkan soal peduli kepada sesama adalah bahwa kemungkinan besar mereka pun akan membalasnya dengan kebaikan.

Kamu mungkin berkata, "Tidak juga. Saya meminjamkan sepeda saya kepada teman saya, tetapi ia malah membengkokkan bempernya, bahkan tanpa minta maaf!"

Memang benar bahwa orang tidak selalu memperlakukanmu dengan cara yang sama pedulinya seperti kamu memperlakukan mereka. Tetapi dengan berjalannya waktu kamu akan menemukan bahwa teman-temanmu, keluargamu, dan guru-gurumu

e-BinaAnak 2005

166

biasanya akan menghargai perbuatan- perbuatan baikmu dan membalasnya dengan kebaikan pula.

Umpamakanlah kamu melemparkan sebuah bola pantai ke laut. Bolanya akan kembali kepadamu, seberapa keras atau jauh pun kamu melemparkannya. Gelombang akan terus menghempas pantainya, dan tahu- tahu bolamu pun kembali ke pantai.

Perkataan dan perbuatan baik adalah demikian, kamu melontarkannya, tiba-tiba

seseorang mengucapkan atau melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa ia peduli kepadamu. Sikap peduli menjadikan dunia lebih baik bagi semua orang.

Bagaimana Kamu Bisa Menunjukkan Bahwa Kamu Peduli

Ada banyak cara agar kamu bisa menunjukkan bahwa kamu peduli. Empat cara penting adalah lewat perkataanmu, perbuatanmu, pemikiranmu, dan pemberianmu.

1. Perkataan yang mengungkapkan bahwa kamu peduli.

Kamu bisa mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama, bahkan kepada orang-orang yang tidak terlalu kamu sukai. Mungkin kamu bertanya-tanya,

"Untuk apa saya mengucapkan sesuatu yang baik kepada seseorang yang tidak saya sukai?" Seringkali, kita menyangka bahwa kita tidak suka kepada

seseorang, namun yang sesungguhnya tidak kita sukai adalah perbuatannya atau sesuatu tentang dirinya. Kebanyakan orang ingin disukai. Kalau kamu bisa menemukan kata yang baik untuk diucapkan, mungkin kamu tidak akan

menyangka akibatnya. Mungkin saja, ia membalasnya dengan perkataan yang baik pula.

Terkadang, perkataan yang paling baik adalah perkataan yang tidak kamu ucapkan. Janganlah menjelekkan orang di belakang mereka. Janganlah

menyebarkan gosip atau cerita buruk, seandainya pun kamu anggap itu benar.

Renungkanlah bagaimana perasaanmu sendiri seandainya orang mengatakan hal-hal yang buruk tentangmu.

2. Perbuatan yang mengungkapkan bahwa kamu peduli.

Kamu bisa membantu dan berbagi. Mungkin kamu bisa membereskan tempat tidur adikmu. Mungkin kamu bisa membantu seseorang yang bergumul dengan PR-nya. Kalau kamu memberi makan hewan peliharaan temannya sementara ia berlibur dengan keluarganya, kamu menunjukkan bahwa kamu peduli terhadap temanmu sekaligus hewan peliharaannya. Membagi popcorn, mainan, dan waktumu juga menunjukkan bahwa kamu peduli.

3. Pemikiran yang mengungkapkan bahwa kamu peduli.

Memikirkan hal-hal baik tentang sesama bisa menolong mereka, sebab mungkin saja mereka merasakan pemikiran-pemikiran baik yang kamu pikirkan tentang mereka. dan pemikiran yang mengungkapkan bahwa kamu peduli bisa menuntun kepada perbuatan yang mengungkapkan bahwa kamu peduli: Seringkali kamu melakukan apa yang kamu pikirkan. Pemikiran yang baik tentang orang lain juga bisa membantumu. Ketika kamu memikirkan hal-hal yang baik tentang

Dalam dokumen e-BinaAnak 2005 - MEDIA SABDA (Halaman 156-195)

Dokumen terkait